Melihatmu terluka sama saja dengan menyadarkan ku jika aku telah gagal menjaga dan melindungi mu. 🍁

 

***

 

Jovan membuka pintu rumahnya. Sepi. Ia melangkah masuk dan menemukan selembar kertas di atas meja. Jovan mengambilnya, ia menghela napas panjang membaca kalimat yang tertera di sana.

 

Merogoh saku celana nya, menghubungi seseorang.

 

"Ke rumah kaga lo? Bonyok ke Singapura seminggu." ucap Jovan saat sambungan terhubung.

 

"Lo aja yang kerumah. Gue lagi sibuk." 

 

Jovan berdecak, "Sibuk apa sih, lo nyet?! Sok penting banget hidup lo." 

 

Reza mencebik kesal, "Audy mogok makan. Gue lagi usaha ngrayu dia biar mau makan. Lo aja yang kesini."

 

Jovan mengernyit. Setahunya, Audy bukan tipikal ngambekan. Bahkan lebih bisa di bilang kalau dia itu simple. Gak banyak omong apalagi neka-neko. Jika dia sampai mogok makan, sudah di pastikan permintaan nya kali ini pastilah berat.

 

"Minta apa emang? Jangan pelit-pelit mangkanya sama adek sendiri."

 

Terdengar helaan napas panjang, kening Jovan semakin terlipat. Ada apa sebenarnya? 

 

"Audy minta buat balik ngampus lagi. Gue gak izinin karna dia masih belom bisa nyesuain diri sama laki-laki. Dia ngambek soal itu." Jawab Reza lesu. 

 

Jovan mengangguk paham, ya karena Ia sendiri pun mengerti keadaan Audy. Bahkan dengan orang terdekat nya, Audy masih sering kali menghindar bahkan tidak jarang dia refleks memukul mereka yang mencoba mendekati nya. Audy benci laki-laki. Selain Reza dan orang terdekat nya. Audy menganggap mereka seperti Binatang yang menakutkan dan melihat laki-laki seolah mereka adalah kotoran menjijikan.

 

Ya, mental Audy seburuk itu.

 

"Gue paham. Malem gue kesana, Ntar coba gue kasih pengertian ke dia." balas Jovan membuka pintu kulkas, mengambil sebotol air mineral lalu meminum nya sembari masih bertelfonan .

 

"Keh sip. Jangan ngaret."

 

"Banyak maunya lo!" Reza terkekeh pelan sebelum memutuskan panggilan mereka.

 

Jovan berlalu menuju kamar nya. Melemparkan tubuhnya ke ranjang. Menutup kedua matanya menggunakan sebelah tangan. Pikirannya berkelana. Ia tersenyum kecil mengingat perdebatan antara dirinya dengan Nara.

 

Ah, dengan mengingat cewek galak itu saja membuat Jovan sedikit melupakan kesepiannya. Well, Jovan malas mengakui ini, hanya saja.. Seorang Nara Sidzkia sedari dulu memang telah memiliki ruang tersendiri dalam hidup nya. Hingga hanya mengingat nya saja membuat Jovan merasa tenang. 

 

*

 

Nara berdecak malas saat Aqila merengek lapar dan mengajaknya keluar untuk mencari makanan. Mereka malas berkendara hingga membuat mereka memutuskan untuk naik taksi menuju tempat langganan mereka. Aqila menarik tangan Nara memasuki kedai soto ayam favorit mereka berempat. Nara tidak protes, ia manut saja mengikuti ke mana arah Aqila membawanya pergi.

 

Mereka duduk di meja pojok. Pelayan menghampiri meja mereka.

 

"Kayak biasanya neng?" tanya mang Tono yang sudah hapal dengan mereka. Aqila mengangguk semangat.

 

"Iya mang. Es teh manis nya sedikit aja ya gula nya." mang Tono mengangguk paham.

 

"Siap neng. Mamang otw ya." mereka terkekeh, Aqila mengacungkan jempolnya.

 

"Gak pake lama ya mang, udah laper soalnya.." ucap Aqila nyengir. Nara mengeleng kan kepalanya melihat tingkah Aqila yang masih petakilan seperti biasanya. Well, memang nya sejak kapan Aqila bisa berubah?

 

Aqila menyengol lengan Nara yang sibuk dengan ponselnya. Nara menaikkan sebelah alisnya.

 

"Gue denger-denger Arial hospital mau ganti CEO loh, lo tau siapa gak,?" Nara mengangguk. Meletakkan ponselnya memfokuskan atensi nya pada Aqila. Ia sedikit tertarik dengan bahasan Aqila. 

 

"Gue denger sih, gitu. Cuma gue juga belom tau siapa."

 

Aqila menopang pipi. 

 

"Ada yang bilang, kalo yang gantiin itu kalo gak salah pewaris nya. Tahun ini dia udah di kasih kepercayaan buat nerusin usaha keluarga mereka, Denger-denger sih, dia juga cuma anak tunggal. Dia pasti kaya."

 

Nara terlihat melamun.

 

"Dan yang paling pentig, pewaris tunggal mereka itu cowok, lo tau bagian paling heboh nya?" Nara mengerjap, kemudian mengeleng.

 

"Dia satu universitas sama kita. Anak FHU. Keren gak tuh, "

 

Serasa dejavu, Nara menegang. Ingatanynya terulang pada percakapan singkat nya dengan Jovan. Saat Jovan mengatakan sampai bertemu kembali kemarin. 

 

Uh.. Apakah berita ini akan menjadi awal buruk untuk Nara? 

 

Aqila mengernyit melihat Nara menegang. Aqila mencubit pipi kiri Nara membuat sang empunya mengaduh. 

 

"Lo apaan sih! Sakit nyuk!" sentak Nara galak. 

 

Aqila berdecih, "Lo yang kenapa jadi kayak mannequin gini, tampang lo tegang banget anjir." 

 

Nara menghela napas, menatap Aqila lurus. 

 

"Lo inget ucapan Jovan kemaren?" Aqila mengerutkan dahi. 

 

"Yang mana?" 

 

"Siapa pemilik Arial hospital?" tanya Nara balik. 

 

Aqila mengerjap. Ia ingat sekarang. 

 

"Jadi, pewaris tunggal Arion Corp itu Jovan? Gue hampir gak percaya ini," jawab Aqila mengeleng kan kepalanya. 

 

Nara menutup wajah dengan kedua tangannya. 

 

"Gue bener-bener berharap di pindah tugasin. Gak ikhlas gue kerja sama dia." gumam Nara lesu. 

 

**

 

Nara dan Aqila berjalan santai menuju taman kota. Ia berniat menenangkan diri sebelum harus menghadapi esok hari. 

 

Saat mereka hendak menyeberang, Di pertengahan jalan sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi. Mereka yang sebelumnya tidak melihat adanya kendaraan melintas terpekik kaget. Sebelum sempat menghindar, Nara lebih dulu jatuh terserempet. Pengendara itu tidak berhenti dan semakin menambah laju kecepatan nya. 

 

"Dasar gak tanggung jawab! Punya otak gak sih?! " pekik Aqila melihat Motor itu semakin menjauh. 

 

Nara meringis saat sikunya luka. Aqila berjongkok melihat kondisi Nara. 

 

"Lo gak pa-pa Ra? Astaga, siku lo berdarah. Sialan emang itu orang." gerutu Aqila menarik siku Nara untuk mengecek lukanya. Nara mengeleng kan kepala. 

 

"Gue gak pa-pa kok, cuma luka ringan." jawab nya meringis. 

 

Aqila berdecak. "Ringan pale lo! Dalem ini mah, kena trotoar ya tadi?" 

 

Sebuah mobil sport berhenti di samping mereka. Mereka mengernyit melihat seseorang yang turun dari mobil mewah itu. 

 

"Ngapain kalian lesehan di pingir jalan, mau ngemis ya?" suara bariton membuat mereka berdua menoleh, Nara meliriknya sinis. 

 

"Lo buta apa katarak? Lo gak liat Nara luka heh?" jawab Aqila melotot. 

 

Jovan menekuk sebelah kakinya, menarik lengan Nara untuk melihat lukanya. Seketika rahang nya mengetat. Jovan tidak suka melihat orang yang di sayanginya terluka, ia berdecih. 

 

"Gue cari lo, meski harus keujung dunia." gumamnya pelan. 

 

Aqila mengernyit, "Ngomong apa lo tadi?" Jovan meliriknya sekilas, beralih mengendong Nara membawanya ke kursi taman tanpa menjawab pertanyaan Aqila. 

 

"Turunin gue!" pekik Nara kesal. Ia merutuki tanganya yang sakit. Jika ia dalam kondisi sehat, sudah di pastikan Nara akan menjambaknya karena lancang terhadapnya.

 

Aqila membututinya. Jovan berhenti, menoleh kebelakang. 

 

"Ambilin P3K di mobil. Sekalian kunci kalo udah." Aqila berdecak, tak urung berbalik untuk mengambil kotak obat yang di minta Jovan. 

 

Jovan meletakkan Nara dengan hati-hati. Nara masih memberengut. Aqila menyerahkan kotak obat permintaan Jovan. Jovan menerima nya, menuangkan anti septik pada kapas dan mengoleskan pada siku Nara. Nara meringis. 

 

"Gue gak pa-pa. Ini cuma luka ringan." Jovan tidak mendengarkan. Ia Melirik Nara datar. 

 

"Jangan tunjukin luka lo sama dokter kalo gak mau di obatin." 

 

Nara kembali diam. Memperhatikan Jovan yang telaten mengoleskan salep pada lukanya. Aqila tersenyum tipis. Apakah ia harus mendukung Nara dengan Jovan? Atau melarang nya? 

 

"Gue gak tau kalo Lo juga punya sisi kayak gini." Jovan mendengkus. 

 

"Apa melakukan hal baik harus di perlihatkan sama semua orang?" Nara tidak menjawab, ia tersenyum samar. 

 

"Gue anter kalian pulang." itu pernyataan dan bukan pertanyaan. Nara meliriknya sekilas. 

 

"Kita bisa naik taksi. Lo gak perlu repot." Jovan yang sedang membereskan kotak obatnya mendonggak. Menatap Nara lurus. 

 

"Gue gak butuh pendapat lo. Apalagi alasan lo." Jovan berdiri. 

 

"Mau jalan sendiri atau gue gendong lagi? Pilihannya cuma dua." Nara mendengkus. Aqila membantu Nara berdiri. 

 

"Udahlah Ra, jangan sekarang kalo mau jual mahal. Di pending dulu, biar lo bisa cepet istirahat." Nara melotot kesal. Berjalan menuju mobil Jovan. 

 

Dalam perjalanan mereka saling diam. Aqila bisa melihat kecangungan di antara mereka. Sesampainya di apartemen Nara, Jovan melihat Nara yang kesusahan membuka sea belt dan membantunya. 

 

"Makasih." ucapnya membuka pintu mobil. Sebelum menutup pintu, Jovan memangilnya. Nara diam menaikkan sebelah alisnya. 

 

"Lain kali, Jangan bikin gue kalap. Gue gak suka liat lo luka." ucapnya sebelum menarik pintu dan berlalu meninggalkan mereka. 

 

Nara berkedip dua kali. Apa maksudnya?

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

722 543 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 897 15
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11