Masa lalu biarlah menjadi pembelajaran. Jika baik, itu akan menjadi kenangan. Jika buruk, itu akan menjadi pengalaman.🍁

 

***

 

Acara Talk show pun di Mulai. MC mengatakan topik kali ini mengenai kesadaran manusia dalam hidup bersosialisasi. Jajaran MABA baru juga para dosen di setiap fakultas turut hadir menjadi saksi aksi perdebatan mereka.

 

MC mengatakan jika maraknya kekerasan juga tindak asusila di kalangan masyarakat dari tahun ke tahun semakin meningkat. MC tersebut melihat Nara, bertanya apakah mereka sang korban juga sang pelaku cenderung memiliki gangguan kejiwaan.

 

"Maraknya kasus tindak kekerasan juga asusila yang semakin meningkat, apakah dari masing-masing mereka memiliki kemungkinan penyakit kejiwaan?" tanya sang MC. Nara mengangguk.

 

"Hampir 80% setiap orang memiliki neurosis, yang biasa mereka sebut sebagai penyakit jiwa ringan. Dan itu hampir di miliki setiap orang." MC mengangguk paham. Ia berganti melihat Jovan.

 

"Bagaimana pandangan anda tentang hal ini?"

 

Jovan melirik Nara sekilas. 

 

"Banyaknya kasus yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, mungkin lebih banyak dari mereka yang menganggap suatu tindakan yang mereka lakukan bukanlah hal salah. Namun beberapa memiliki dampak negatif pada sang korban. Dan kemungkinan yang terjadi pun bisa bermacam-macam. " 

 

"Bedanya, dari sesuatu yang mereka alami cenderung memicu tekanan emosional seseorang. Hal itu berpengaruh besar bagi keduanya." balas Nara tersenyum paksa. 

 

"Jadi menurut anda bagian mana dari mereka yang terlihat menakutkan?" tanya sang MC pada Jovan. 

 

Di lain tempat, Aqila turun dari taksi. Ia terlambat datang ke acara talk show Nara. Sopir taksi yang di tumpangi nya mengeluh jika uang yang di bayar kan Aqila kurang. Aqila terlihat mengecek tas dan menepuk kepalanya. Ia melupakan dompet nya. Ah, tadi ia menaruhnya di mana ya? 

 

"Aduh pak, Gimana ya.. Dompet saya ketinggalan di rumah. Saya cuma punya segitu," ucap Aqila meminta maaf. 

 

"Wah neng, terus gimana, saya juga lagi kejar setoran neng.." jawab sang supir taksi. Aqila menggigit kuku. 

 

 

Apakah ia harus menelfon Nara? Ah lupakan! Nara sedang ada acara. Lalu dia harus bagaimana?! 

 

Aqila bingung sendiri. 

 

Reza yang kebetulan lewat di depannya berhenti. Menstandarkan motor besarnya, lalu turun menghampiri Aqila yang terlihat bingung. Reza Melirik Aqila yang masih sibuk menggigit kukunya. 

 

"Maaf pak, ada apa ya?" tanya Reza pada sopir taksi. 

 

"Neng ini bayarnya kurang, tapi saya juga lagi kejar setoran." Aqila mendonggak melihat Reza mengeluarkan satu lembar seratus ribuan membayar kan kurangan Aqila. 

 

"Apa segini cukup pak?" sopir taksi itu mengangguk berucap terimakasih kemudian berlalu pergi. 

 

Reza melirik Aqila yang masih tak berkedip melihatnya. Reza menjulurkan tangannya, menyentil pelan kening Aqila membuat sang empunya mengaduh. 

 

"Aw.. Sakit bego!" ringisnya mengelus bekas jitakan Reza. Aqila melotot kesal. Tampang imutnya tidak mendukung saat ia mencoba marah, sorot matanya yang lugu juga wajahnya yang terlihat semakin imut saat memberengut kesal lah yang Reza lihat. 

 

Reza terkekeh pelan. Menarik kepala Aqila mendekat, lalu mengecupnya singkat. 

 

"Udah gak sakit kan? Lain kali, jadi cewek jangan kasar kalo ngomong, gak baik." ucap Reza mengelus sisi kepala Aqila kemudian berlalu pergi. 

 

Aqila berkedip dua kali. 

 

Reza mencium nya heh? 

 

Reza mencium Aqila! Astaga, kata mutiara apa yang cocok untuk spesies jenis dia.. Aqila memejam kan mata. 

 

"Dasar cowok setan!" 

 

Aqila duduk di kursi paling belakang. Menyaksikan perdebatan Nara dan Jovan dengan perasaan dongkol. Aqila memusatkan pandangannya saat Jovan mulai menyuarakan pendapat nya. 

 

"Luka juga tindak anarkis seseorang terjadi umum nya karna banyak dari mereka lemah pemantauan juga faktor ruang lingkup yang mendukung. Bahkan tidak sedikit dari mereka (sang pelaku) terbukti memiliki gangguan jiwa dan akhirnya bebas dari masa tahanan dan hanya mendapat rehabilitasi_" Nara memotong ucapan Jovan. 

 

"Jadi menurutmu sang korban juga salah?" tanya Nara. 

 

"Saya tidak mengatakan begitu, hanya saja beberapa dari mereka terkadang memang seperti itu." jawab Jovan santai. 

 

Para penonton berseru heboh melihat debat mereka yang semakin memanas. 

 

"Kondisi dimana mereka mengalami tekanan pada diri sendiri, umumnya itu terjadi pada kedua belah pihak. Baik sang pelaku maupun sang korban, saya meyakini masing masing dari mereka akan ada beberapa masalah yang timbul. Karena luka emosional yang mendalam selalu memiliki cara untuk membuat orang jatuh sakit dan terpuruk."

 

Aqila mengangguk senang dengan jawaban Nara. 

 

"Hajar terus, Ra. Libas pokoknya.. " gumam nya menyemangati. Debat mereka semakin terasa panas. 

 

"Ada beberapa korban yang memiliki penyakit serius perihal kejadian kekerasan yang mereka alami. Ada yang mengaku menderita gegar otak akibat sering di pukul. Dan Yah, itu berdampak besar bagi kehidupan mereka selanjutnya." Nara mengangguk. 

 

" Mengenai kesimpulan yang saya dapat. Saya menjadi tertarik satu hal, mereka pasien kanker atau pasien cacat selalu mendapatkan simpati dan empati. Sedangkan pasien sakit jiwa selalu di anggap aneh, bahkan tak sedikit menganggap mereka seperti serangga menjijikan. Padahal setiap orang memiliki kemungkinan menderita penyakit jiwa kapan saja. Namun mereka malah bersikap seolah itu tidak akan terjadi pada mereka. Well, bukankah itu lucu? " balas Nara tersenyum paksa. Jovan melihat Nara dengan pandangan tertarik. 

 

"Wah, sepertinya anda harus lebih berhati-hati dengan perkataan anda pada seorang psikiater. " ucap MC pada Jovan. Jovan tersenyum kecil, mengangguk melihat mereka para jajaran penonton. 

 

"Saya kalah. Saya bukan seorang psikiater yang dapat menganalisis psikis antara mereka sang pelaku maupun sang korban. Saya hanya mengatakan berdasarkan yang terlihat, untuk itu saya minta maaf." Jovan mengedipkan sebelah matanya pada Nara, Nara yang melihat itu melirik Jovan tidak suka. 

 

MC bertepuk tangan, melihat perdebatan panas mereka membuat para hadirin turut merasakan bagaimana menjadi pelaku atau pun sang korban. 

 

Nara tersenyum menatap sang MC. Lalu berganti melihat mereka para hadirin yang menyaksikan. 

 

"Kejahatan, kekerasan ataupun tindak pidana lainnya.. Kita bukan jaksa disini. Saya seorang psikiater, ketertarikan ku terletak pada satu hal. Merawat rasa sakit juga bekas luka yang di derita pasien. Bagaimana kita bisa menghibur dan mengembalikan semangat untuk mereka melanjutkan hidupnya. Kita tidak bisa memutar waktu ataupun mengembalikan keadaan, untuk itu.. Masa lalu biarlah menjadi pembelajaran. Jika baik, itu akan menjadi kenangan. Jika buruk, itu akan menjadi pengalaman. " ucap Nara menutup perdebatan mereka. 

 

Penonton bertepuk tangan. Mereka undur diri. Acara selanjutnya adalah sambutan dari pemilik yayasan untuk menjelaskan mengenai pengenalan dari masing-masing program fakultas yang ada di universitas mereka. 

 

Aqila tersenyum senang karna Nara berhasil menang. Ia menghampiri Nara yang terlihat kesal. Aqila merangkul pundak nya. 

 

"Keren.. Ra, mantul pokoknya. Eh, tapi kenapa muka lo kesel gitu? " Nara melirik Aqila sekilas. 

 

"Eneg gue harus berhadapan sama makhluk jenis dia. Narsisnya setengah gila." gerutu Nara. Aqila berkedip. 

 

"Bentar, Dia yang lo maksud itu, Jovan kan?" Nara mengangguk malas.

 

Sesampainya di depan stand minuman, Nara mengambil sebotol air mineral lalu meneguknya hingga setengah. Aqila tersenyum geli. 

 

"Segitu hausnya lo debat sama dia." Nara menghela napas panjang. 

 

"Gue gak kuat sama sikap Narsisnya. Amit-amit deh, gue berharap banget gak bakal ketemu dia lagi." 

 

Suara berat di belakangnya membuat mereka berdua menoleh. 

 

"Kita satu kampus, kemungkinan gak bakal ketemu itu kecil banget. Ya kan, La?" tanya Jovan pada Aqila. Aqila mengaruk kepalanya, "Iya juga sih," 

 

Nara mendengkus, "Gue udah medical training. Gak akan ke kampus lagi kalo bukan urusan penting. Kalo Lo lupa." ucap Nara mengingatkan. 

 

Jovan tersenyum kecil. 

 

"Ah gue lupa tentang itu, tapi lo juga gak lupa kan siapa pemilik rumah sakit tempat lo kerja?" kening nya berkerut. Setahunya, pemilik Arial hospital itu kalau tidak salah.. Mph, siapa ya.. Ah iya, David Arion. 

 

What the hell! 

 

Nara membulatkan mata. Nama belakang mereka sama. Jangan bilang..

 

"Yeah, Seperti yang ada di pikiran lo," Jovan mengacak rambut Nara pelan. 

 

"See you next, Nara Sidzkia." ucapnya melengang pergi. Memasukkan kedua tanganya pada saku celana sembari tersenyum geli. 

 

Nara melongo, Berkedip dua kali.

 

Nara Menghela napas panjang, ia yakin ini akan menjadi awal yang berat untuk kelanjutan hidupnya. 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

725 536 9
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

700 520 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

876 557 9
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

600 459 8