Chapter 1 || Nara Sidzkia πŸƒ

Luka emosional sering kali membuat seseorang terpuruk dan takut melanjutkan hidupnya.

***

Terlihat seseorang tengah berdecih seraya menggigit buah apel di tangan kirinya. Ia merasa jengah dengan pemberitaan maraknya pemerkosaan juga tindak kekerasan rumah tangga dalam suatu program televisi yang ia saksikan. Tanganya bergerak mengambil remote dan memencet tombol power. 

 

Semua itu membuatnya muak.

 

Ralat. Lebih tepatnya, Semua hal berbau laki-laki membuatnya muak. Terkecuali Orang tuanya dan Bayu tentunya. Iya Bayu, sahabat lelaki nya sejak kecil. 

 

Namanya Nara Sidzkia, 24 tahun, seorang psikiater muda mahasiswi Fly high university. Ini adalah tahun pertamanya menjalani medical training. Gadis itu memejam kan matanya lelah. Sudah dua hari ini ia di sibukkan dengan pasien paranoid akut. 

 

Ya bagaimana tidak, coba bayangkan saat istrinya memberi tahu jika dia sedang hamil dengan gamblangnya ia menyebutkan jika tidak mungkin istrinya hamil, apalagi mereka hanya melakukan hal itu tiga kali selama sebulan terakhir. Bahkan ia dengan rasa curiga nya menuduh jika sang istri mungkin memiliki hubungan gelap dengan lelaki lain di belakang nya. Sungguh ironis.

 

"Nara! Ra! Buka pintu woy!!" suara teriakan menyadarkan Nara dari pikiran mengenai pasiennya. Namanya Aqila, salah satu sahabat dekatnya sejak kecil, selain Bayu dan Kinan. Sudah di pastikan kehadiran si berisik itu pasti akan merecokinya.

 

Dengan malas, Nara membuka pintu apartemen nya. Menyorot sang sahabat dengan pandangan malas.

 

"Gue mau nginep. Papa mama lagi ke bogor buat nengokin nenek, boleh ya?" pinta Aqila memohon. Nara berdecak, menyingkir untuk memberi jalan Aqila masuk.

 

"Gue lagi baek. Buruan!" Aqila nyengir. 

 

"Lo emang terbaek, Ra. Cium dulu sini.. " ucap Aqila mengulurkan kedua tanganya. Nara menepisnya. 

 

"Jangan bikin gue jijik. Mau gue usir lo!" sentaknya galak. Aqila manyun, Dengan cepat masuk mendahului sang empunya rumah.

 

"Galak banget sih, pantesan gak laku-laku." gerutunya sebal. 

 

Nara menarik rambut panjang nya hingga Aqila berhenti.

 

"Kalo masih banyak bacot, gue tendang juga lo lama-lama." Aqila meringis. Tersenyum manis di hadapan Nara.

 

"Lo gak bakalan tega ngusir gue yang imut nan mengemaskan ini, ya kan Ra? '' ucap Aqila mengedipkan mata berkali-kali. Nara mencebik geli. Mendorong kening Aqila menjauh.

 

"Geli gue liat tampang idiot lo. Jauh-jauh sana." Aqila tertawa, berlalu membuka kulkas mengambil segelas air putih dan meminumnya hingga setengah.

 

Aqila menghampiri Nara yang tengah membaca sebuah Novel. Duduk di sebelahnya dengan mengambil alih apel di sebelah tangan kiri Nara. Nara berdecak, tak ubah membiarkan Aqila bertindak sesuka nya. Dia dalam mode malas ribut.

 

"Gue suka heran, lo sering baca Novel romantis, tapi kenapa gak ada keinginan buat pacaran lagi setelah sekian lama. Gue jadi curiga.. Lo gak belok kan, Ra?" Nara mengulurkan tangannya, menjitak kepala Aqila membuat sang empunya mengaduh.

 

"Jangan ngomong aneh-aneh. Gue cuma males jalin hubungan. '' 

Bosan! Selalu itu dan tidak ada jawaban yang lain. Sejak terakhir kali Nara menjalin hubungan yang membuatnya sakit hati. Nara selalu menjawab malas menjalin hubungan, jika di tanyai perihal pacaran. Tapi kasusnya beda sama lo 

 

Aqila menghela napas, menatap Nara intens. 

 

"Udah Dua tahun Ra.. Sampe kapan lo mau kayak gini terus?" Nara tidak menjawab. Berusaha menulikan telinganya.

 

Aqila meletakkan apelnya di atas meja, meraih lengan Nara membuat posisi mereka berhadapan. Nara berdecak, menatap Novel di tangannya.

 

"Kinan yang gue kira gak mau nikah, bahkan sekarang dia udah punya baby. Sedangkan lo, orang yang selalu dukung Kinan buat sembuh dari masa lalunya, kenapa malah sekarang lo yang stuck? Demi Tuhan Ra.. Gue gak rela lo terbelengu masa lalu kayak gini."

 

"Plis, Jangan bahas ini lagi." ucap Nara dingin. Melempar Novel nya kasar. Berlalu menuju kamarnya.

 

Aqila mendesah lelah. Menatap punggung Nara menjauh. 

 

Satu hal yang terbesit di pikiran nya. jika Kinan saja bisa, Kenapa dia yang sudah paham mengenai kondisinya sendiri tidak mau berubah?

 

*

Nara melirik Aqila yang tengah sibuk dengan bubur ayamnya. Pagi ini dia tidak ada jadwal. Mereka sarapan dalam diam. Dering ponsel di atas meja membuat perhatian keduanya teralihkan.

 

"Siapa, Ra?" Nara menggeser tombol hijau, berucap Kinan tanpa mengeluarkan suara. Aqila membulatkan bibir, kembali melanjutkan sarapanya.

 

"Kenapa Kin?" bukan suara Kinan yang ia dengar, melainkan suara tangis anak kecil memenuhi pendengaran nya. Nara tersenyum geli, membayangkan Kinan tengah di repotkan dengan Baby Twins nya.

 

Ah.. Apa memiliki Baby terasa menyenangkan?

 

Senyum di bibir Nara lenyap saat suara Kinan mengalun di indra pendengaran nya, wajahnya berubah masam.

 

"Gantiin gue di acara talk show department university, Ra. Kali ini aja, gue lagi repot sama si kembar." pinta Kinan memohon. Nara berdecak.

 

"Bisa gak kalo mau minta tolong itu biasain pake kalimat Tolong atau Please gitu? Kebiasaan!" gerutu Nara meminum segelas air putih. Kinan mencebik.

 

"Banyak maunya lo.." Nara mendengkus.

 

"Tau diri dong!" 

 

Aqila terkekeh, tidak ada yang berubah. Meski Kinan sudah menikah dan memiliki Baby, hubungan persahabatan mereka tetap terjaga hingga sekarang. Yah, perdebatan kecil mereka tak akan pernah hilang meski mereka telah beranjak dewasa. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka yang mendarah daging.

 

"Tolongin gue Ra, gue udah terlanjur janji buat acara itu, lo tau sendiri kan, Sir Jimmy ngajuin Gue buat acara itu, lagian ini bukan publik kok, cuma antar fakultas buat pembukaan MABA baru." Nara menghembuskan napas panjang

 

"Lain kali gue gak mau lagi. Ini yang pertama dan yang terakhir."

 

"Siap 86! Tangkyuuu Ante Nara, makin cinta gue sama lo." seru Kinan senang. Nara berdecak.

 

"Ada maunya aja, manis banget. Ya udah gue tutup. Si kembar rewel tuh," Kinan tertawa pelan, "Oke, mereka baru bangun tidur jadi rewel. Thanks ya. Bye Ante galak." ucapnya sebelum memutuskan panggilan sepihak.

 

"Gue rasa dia gak punya kaca." gumam nya kesal. Aqila melihat nya.

 

"Jam berapa acaranya?"

 

Nara memicing, "Jangan bilang lo udah tau mengenai ini?" Aqila nyengir.

 

"Lo yang paling tau kalo gue males buat acara begituan. Gue udah nolak semalem." Nara meliriknya sinis.

 

"Kambing sih, emang lo!"

 

**

Sesampainya di kampus. Nara langsung di sambut oleh Tiffany selaku penata rias untuk acara hari ini, Tiffany mengiringnya menuju ruang tata rias.

 

"Syukur lo bisa, gue udah was-was karna Kinan gak bisa hadir." curhat Tiffany. Nara tersenyum simpul.

 

"Kebetulan gue lagi sengang, jadi bisa gantiin Kinan. Si kembar lagi rewel katanya." Tiffany tersenyum maklum. 

 

 

Well, Siapa yang menyangka seorang Kinan Leteshia yang dulunya membenci laki-laki, sekarang telah menikah bahkan memiliki baby twins? Di umurnya yang masih terbilang muda, pastinya merepotkan harus mengurus dua anak sekaligus. Oke, lupakan tentang Kinan. 

 

Mereka sampai di depan ruang tata rias. Tiffany membuka pintu, Menyuruh Nara untuk beras. Nara mengernyit melihat seseorang yang tidak asing baginya sudah duduk manis dengan beberapa kertas di tangannya. Tiffany menarik tangan nya menjauh.

 

"Dia lawan debat gue?" Tiffany mengangguk. 

 

"Hm. Namanya Jovan Arion, lulusan kedokteran tahun lalu. Kalo gak salah.. S2 ini dia ambil bisnis." jelas Tiffany.

 

"Gue gak peduli dia fakultas mana, yang jadi masalahnya, topik kali ini bukannya mengangkat tentang kesadaran manusia dalam hidup bersosial? Terus kenapa ada dia?"

 

Mereka menoleh serentak saat sebuah suara berat memutus pembicaraan mereka. Melihat Jovan menghampiri Nara, Tiffany segera pamit untuk mengurusi beberapa hal yang harus ia selesaikan. 

 

"Gue udah dapet gelar doctor. Itu artinya, dalam hal sosialisasi gue udah cukup buat standar masyarakat. Dan lo.. Gue kira Kinan yang bakal jadi lawan gue, tapi kenapa jadi lo? " Nara mendengkus.

 

"Lo kecewa karna gue bukan Kinan?"

 

Jovan mengendik. "Sedikit."

 

What the hell! Ini penghinaan!! 

 

Jelas-jelas Jovan menganggap nya tidak kompeten seperti Kinan? Well, itu sedikit menyentil egonya. 

 

Nara meliriknya sinis, ''Wah, sombong sekali. Well, kita liat aja nanti. "balas Nara berlalu menuju kursi riasnya. Meski perkataan nya terdengar biasa saja. Namun dalam hati ia terus mengumpat kesal.

 

 

 

***

Jadilah Reader yang baik Dan dukung penulis dengan Klik tanda πŸ‘ jika anda menyukai karya saya😊. Terima kasih dan selamat membaca😊..

Next >>
How do you feel about this chapter?
0 1 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

876 557 9
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 768 13
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

590 461 14