Menyampirkan helaian rambut yang mengusik, sibuk menerawang. Matanya berputar-putar mengelilingi tempat ia berpijak. Kembali menghela napas merasakan sayatan tak kasat mata yang semakin menjengkelkan. Masih sama. Sakitnya seolah sudah sedekat nadi dengan gadis yang kini menekan dadanya kuat-kuat.

 

Moana, merindukan ketenangannya. 

 

10 tahun lalu, rasa-rasanya semua masih tampak baik-baik. Ketika ia berteriak riang saat kaki-kaki kecilnya menapaki lantai rumah. Ketika ayah tak berhenti mengganggunya sambil berkata "anak manis ayah jangan ngambek dong." Ketika sang ibu berceloteh dongeng-dongeng indah sambil membiarkan anak gadisnya memilin rambut miliknya. Ketika sang abang mengomeli dirinya yang kotor akibat bermain tanah.

 

Ketika ...

 

Ketika Moana, masih gadis kecil yang manja.

 

Waktu dan takdir. Dua kata keramat yang dengan kurang ajarnya merenggut sabit di wajah Moana. Dua kata yang sudah Moana bunuh kalau-kalau mereka berani menampakkan wajah. 

 

Dua kata yang ...

 

Takkan bisa Moana kendalikan.

 

Sekali lagi, gadis itu menutup mata. Perlahan membiarkan tangis tak berisak itu mengalir.

 

Laut di depannya tak berkutik. Ombak-ombak seakan melambat dan membelai lembut kaki si gadis yang tengah memukul brutal dadanya.

 

Moana terkekeh pedih merasakan dirinya dibawa maju oleh air biru. "Sepuluh tahun lalu, aku berjalan beriringan. Sepuluh tahun kemudian, aku diseret sendirian."

 

Kejadian sepuluh tahun lalu, terlalu menyakitkan. Hari itu, Moana sedang asik tertawa melihat istana pasir abangnya tersapu ombak. Tertawa nyaring menyaksikan wajah cemberut sang kakak lelaki. Sampai ketika kedua matanya menghadap ke depan, tepat ketika gulungan ombak besar menerjang. Bahkan sebelum kehilangan kesadaran, Moana dapat melihat jelas wajah panik abangnya yang berusaha mengenggam tangan mungil sang adik.

 

Setelahnya, ia kehilangan segalanya. Tidak ada yang disisakan. Moana sendiri. Merengkuh tubuhnya sendiri saat dilihatnya tumpukan mayat manusia berserakan bak sampah. Menghirup napas sendiri saat yang lain dipaksa berhenti. Meraung sendiri saat matanya menangkap dua jasad yang berpegangan tangan erat, ayah dan ibunya. 

 

Serpihan memori itu terngiang, membuat tangis diamnya perlahan beralih menjadi raungan.

 

"Mo ga boleh ngeluh, ya kan Yah?" Anak berumur 7 tahun itu cemberut. "Kalau kalian ga mau ngomong, Mo marah loh!"

 

"Katanya Bunda ga suka liat Mo nangis. T-tapi Mo takut sendiri,Bunda!"

How do you feel about this chapter?
0 0 1 0 0 0
 
Save story

Page 1 of 0 (0 Comment)

Recommended Stories

Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

584 452 8
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

276 221 3
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

468 378 6
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

711 537 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

846 535 9
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 833 8