"Selamat ulang tahun kami ucapkan, selamat panjang umur kita ‘kan doakan. Selamat sejahtera sehat sentosa. Selamat panjang umur dan bahagia." Aku memejamkan mata, membuat harapan. Lalu meniup lilin ulang tahun berangka 17 yang disambut gemuruh tepuk tangan.

Hari ini usiaku bertambah satu. Tujuh belas tahun sudah aku menjadi makhluk Bumi. Dari yang lahir hanya berbobot dua setengah kilogram dan tinggi empat puluh enam sentimeter, kini sudah tumbuh dan berkembang. Memiliki bobot lima puluh lima kilogram dan tinggi seratus enam puluh sentimeter yang kalau diingat-ingat, merupakan sebuah pencapaian besar, ya.

"Potong kuenya, dong!" pekik seseorang, membuatku terkekeh kecil. Dari sifat tidak tahu malu dan suara cemprengnya, aku bisa mengenal siapa itu. Sarah. Salah satu teman sekelasku yang terhitung akrab denganku. Dan gara-gara ucapan Sarah, seisi ruangan kembali bernyanyi, namun dengan beda lirik.

"Potong kuenya, potong kuenya, potong kuenya sekarang juga. Sekarang juga, sekarang juga!" Kue black forest berbentuk bundar dengan hiasan beberapa buah ceri di atasnya kupotong menggunakan pisau plastik menjadi delapan bagian sama besar. Dengan pelan, kemudian aku mengambil salah satu bagian.

"Kue pertama, Amanda bakal kasih ke ... Mama!"

Mama adalah orang pertama yang aku sayangi sedunia-akhirat! Aku menyayangi mama lebih dari apapun, sekalipun diriku sendiri. Tidak peduli orang bilang love yourself first atau kamulah orang pertama yang harus kamu sayang. Kata mereka, semua orang bisa meninggalkan kita, tapi tidak dengan diri kita sendiri. Tapi bagiku, mama tidak akan mungkin melakukan itu.

Mama memang tidak dua puluh empat jam di sampingku. Sebagai wanita karier, tidak heran, mama sangat sibuk. Kesehariannya di kantor, berangkat bersamaan denganku dan baru pulang pukul 8 malam. Itupun kalau tidak ada tugas tambahan yang membuatnya lembur.

Namun, di balik semua kesibukannya, mama tidak pernah lupa akan kewajibannya. Beliau dengan senang meluangkan waktunya buatku. Mama sering mengajakku jalan-jalan di akhir pekan. Mama juga tidak pernah mengabaikan pesanku meskipun di kantor banyak sekali pekerjaan. Mama selalu bersedia mendengarkan ceritaku meskipun beliau lelah.

 "Kue kedua, Amanda bakal kasih buat ... Papa!"

Papa. Di usia senjanya, beliau sibuk menuntaskan tugas-tugasnya di luar kota. Aku jarang melihat Papa di rumah. Paling, beliau pulang sekitar sebulan sekali. Khusus hari ini saja, beliau ambil cuti untuk turut memeriahkan pesta hari ulang tahunku. Katanya sesekali lah.

Memang, seumur-umur, aku belum pernah meminta dirayakan. Meskipun papa dan mama selalu menawarkan, aku selalu menolak. Aku tidak mau merepotkan kedua orangtuaku. Biarlah, tabungan mereka digunakan untuk keperluan lain.

Aku meminta dirayakan khusus tahun ini saja. Sebab menurutku, umur tujuh belas itu spesial. Bukan saja buatku, mungkin bagi semua orang juga sama. Menjadi tujuh belas tahun itu tandanya kamu sudah legal menjadi Warga Negara Indonesia. Memiliki KTP, memiliki Surat Izin Mengemudi, dan memiliki dokumen atau surat penting lainnya. Akhirnya aku bebas berkendara di jalan raya tanpa takut tertilang.

Orang-orang banyak menyebutnya sweet seventeen.

Awalnya, aku pun hanya berniat mengundang orang-orang dekatku saja, seperti sahabat, pacar, dan teman sekelas. Tapi, kata papa dan mama, undang saja semuanya. Teman organisasi, teman dekat sewaktu SD, teman dekat sewaktu SMP, supaya ramai.

Hitung-hitung reuni juga katanya. Bisa bercipika-cipiki ria dengan teman-teman yang lumayan lama tidak berjumpa, lalu berdandan cantik, dan mendapat banyak kado serta ucapan. Di malam ini, aku rasa, bulan menggantung di angkasa sana, tengah memancarkan sinar terbaiknya.

*

Aku merebahkan tubuh. Acara sweet seventeen yang baru selesai pukul dua belas malam, membuatku baru selesai bersih-bersih sekitar pukul satu. Harus melepas dress yang panjang menjutai dan aksesoris yang neka-neko. Belum lagi menghapus make up, bagian paling menyebalkan dalam setiap acara yang butuh berdandan tebal. Pegal seketika menjalari sekujur badan. Terlebih kakiku yang tadi kupaksa memakai high heels. Di dalam sana, ia seperti meraung, membalaskan dendamnya.

Drtt...!

Aku yang tengah mengamati langit-langit kamar, menoleh ketika ponsel yang kutaruh di atas nakas bergetar. Nama seseorang muncul di sana. Aldi, pacarku. Kami sudah berpacaran sejak kelas satu. Orang-orang boleh bilang kami ini hanya cinta monyet. Tapi, bagiku tidak. Tidak sama sekali. Kami tidak bermain-main dengan hubungan kami.

"Hai Amanda Latasya Nirmala!" sapa Aldi berapi-api saat aku menerima panggilan videonya. Wajahnya sesaat memenuhi layar ponselku.

"Hai juga Aldi Dwi Oktaviansyah! " sapaku balik. Aku melambaikan tangan yang dibalas lambaian tangannya.

"Cape ya Man?"

"Hmm ... lumayan," jawabku setengah bergumam, "kamu udah sampai di rumah?"

"Udah dari setengah jam yang lalu."

"Baguslah."

"Man, kamu udah buka kado dari aku?"

"Aku belum buka kado-kadonya. Banyak banget." Aku melirik ke arah meja yang ada di seberang kananku. Di sana, tergeletak puluhan kado dalam berbagai bentuk dan warna. Ada yang kubus atau balok, yang kutahu pasti di dalamnya dilapisi kardus. Ada juga yang berbentuk absurd. Pastilah itu jenis kado yang langsung dibungkus.

"Buka dong punyaku."

"Besok aja lah, mager."

"Lah, sekarang," paksa Aldi. Wajah manisnya menyusut.

"Iya deh iya, bawel,” ujarku, menghembus nafas pelan.

Aku menaruh ponselku dalam keadaan masih terhubung panggilan video dengan Aldi. Beranjak dari ranjang, berjalan terseok-seok ke arah meja, lalu mencari kotak berbungkus kertas kado merah muda dengan gambar ice bear kesukaanku. Tadi, Aldi yang memberikannya secara langsung kepadaku, makanya aku bisa hafal bentukannya di luar kepala.

Aku merobeknya pelan-pelan. Sebuah bingkai yang di dalamnya ada sketsa wajahku yang berjejer dengan Aldi terpampang di sana. Dibubuhi kalimat, selamat ulang tahun, princess!-from Aldi dilengkapi tanda tangan dan tanggal dibuatnya yang membuatku tersenyum tipis.

It's too cute, kagumku dalam hati.

Aldi. Mungkin, bagi orang-orang di luar sana, dia bukan orang yang hebat. Tapi bagiku, dia benar-benar berbeda dari laki-laki kebanyakan. Aldi tidak pernah mau pegang-pegang tanganku. Katanya, "Nanti, pasti ada saatnya." Dia juga tidak memanggilku dengan julukan seperti sayang, bebeb, honey, atau sebagainya. Dia hanya memanggilku Amanda. Itu saja. Dan yang membuatku semakin takjub padanya, dia selalu mengedepankan pendidikan. Bahkan, aku sering tidak diindahkan dengan alasan belajar.

Namun, justru karena itu aku merasa beruntung memiliki Aldi. Aku jadi termotivasi untuk belajar. Kalau Aldi belajar, kenapa aku harus bermalas-malasan? Sejak bersama Aldi, nilai akademisku naik. Itulah sebab mengapa papa dan mama mengizinkanku berpacaran dengan Aldi. Sejauh dia tidak macam-macam dan membawa pengaruh positif, tidak mengapa. Meskipun, orang lain banyak yang bilang kami tidak cocok. Tapi, kenapa juga aku harus mendengarkan omongan orang lain? Bukankah lebih baik dinikmati saja? Toh, pasal suka tidak suka itu suatu hal yang wajar.

Aku menyingkirkan kado-kadoku, kemudian menaruh bingkai itu di meja sebelah tengah, supaya enak dilihat. Kemudian aku kembali ke ranjang, kembali berkomunikasi dengan Aldi.

"Udah diliat?" tanyanya.

Aku mengangguk, menampilkan senyum cerah matahari terbit. "Udah."

"Gimana? Suka?"

"Suka banget," seruku.

"Syukurlah kalau kamu suka."

"Eh, aku nggak bayar kan?" tanyaku membuat Aldi terkekeh di seberang sana.

"Ya enggak lah," tegasnya. Aldi memang punya bisnis kecil-kecilan dari minat dan bakatnya itu. Dia berjualan sketsa wajah, vektor, dan sebagainya yang dibanderol dengan harga seukuran kantong pelajar.

"Oh iya, adik sepupumu lagi menginap di rumahmu, kah?"

Aku mengerutkan alis, "Maksudnya?"

"Itu, tadi ada anak cewek yang ngelambaiin tangan ke kamera ponselmu. Adik sepupumu kan?" tanya Aldi. Mata teduhnya menatapku penuh sungguh. Melihat keseriusan Aldi, bulu kudukku meremang. Mataku menyisir ke arah sekeliling untuk memastikan. Dari ujung sampai ujung lagi, tidak kudapati siapapun di ruangan ini selain aku.

"Di, jangan bercanda deh. Gak ada siapa-siapa selain aku di sini."

"Aku nggak bercanda Man," ujar Aldi, "seriusan tadi ada anak cewek."

"Nih kalo kamu nggak percaya," aku mengganti mode kamera menjadi kamera belakang, kemudian mengarahkan ponselku memutari ruangan, "nggak ada siapa-siapa kan?" tanyaku memastikan.

Aku melihat raut muka Aldi berubah. "Seriusan kamu nggak liat apa-apa Man?" Dia bertanya balik, "di depanmu, jelas-jelas ada anak cewek duduk membelakangi kamu."

*

Aku bangun dengan kondisi tubuh tidak fit. Mataku berkantung, dahiku terasa berdenyut, dan kepalaku seperti memikul seekor gajah. Berat sekali. Semalam, aku tidak tidur dengan nyenyak. Apalagi, setelah aku dikirimi sebuah foto tangkapan layar oleh Aldi.

Benar, dia tidak berdusta. Di hadapanku, ada seorang anak perempuan duduk membelakangiku. Rambutnya acak-acakan dan tergerai begitu saja. Bajunya lusuh dan terdapat bercak-bercak yang tidak begitu jelas. Kemudian aku buru-buru mematikan panggilan, memilih untuk tidur saja.

Entah salah dengar atau tidak, semalam aku juga berkali-kali mendengar ada suara ketukan di pintu kamarku. Tok tok, tok tok, tok tok, sebanyak kurang lebih sepuluh kali. Aku memilih untuk mengabaikan ketukan itu meskipun benar-benar mengganggu waktu tidurku.

Yang jelas, aku sudah ketakutan setengah mati gara-gara foto kiriman Aldi.

Aku berjalan lesu menuruni tangga, disambut mama dan papa. Mereka sudah rapi dengan seragamnya, padahal jam masih menunjukkan pukul setengah enam.

"Pagi anak Mama yang paling cantik sedunia!" sapa mama, mengecup pipiku singkat, "Kok lesu banget? Itu juga kantung mata kamu tebel banget. Kecapean ya?" tebak mama.

"Pagi juga Ma," aku menyapa balik, "iya nih Ma. Soalnya Amanda baru bisa tidur jam setengah tiga," itu pun tidur-tiduran, lanjutku dalam hati.

"Aduh, atau kamu mau libur saja Man? Nanti Mama buatkan surat izin. Daripada kamu berangkat sekolah gak semangat gitu," tawar mama yang kutolak mentah-mentah.

"Gak usah Ma. Manda mau tetep sekolah aja." Tidak lucu kan kalau aku bolos sekolah dengan alasan sakit padahal baru saja semalam mengadakan pesta ulang tahun? Apa kata teman-temanku nanti? Lagipula, aku tidak mempunyai ide apapun untuk melakukan aktivitas di rumah seharian. Kejadian semalam yang masih terngiang pun seakan menuntutku untuk tetap berangkat sekolah hari ini.

Aku menarik kursi lalu duduk berhadap-hadapan dengan papa. "Pa, Papa berangkat ke Bandung kapan?" tanyaku.

"Habis ini," jawab papa singkat.

"Kok nggak besok Pa? Kan Papa baru pulang kemaren, masa hari ini udah balik lagi," rayuku.

"Nggak bisa, Amanda," tegas papa, "Papa ada proyek besar."

Aku menghela nafas berat, "Padahal aku kangen berat sama Papa."

Seringkali, aku berfikir papa gila kerja. Hidupnya hanya dipenuhi kata kerja saja. Kalau tidak kerja, beliau bisa kehilangan hidup. Mungkin, begitu ibaratnya. Padahal, aku ingin seperti yang lain. Bisa jalan-jalan setiap Minggu dengan keluarga, menonton film di bioskop, makan di luar, dan melakukan keseruan lain bersama keluarga.

Aku benar-benar iri. Meskipun, bukan bermaksud sombong, aku ini terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga yang terbilang mampu. Tetapi, bukankah kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang?

"Papa kerja buat Amanda juga, Sayang," kata mama menengahi, "Manda juga masih bisa video call sama Papa kan?" lanjut mama menenangkan. Aku mengangguk saja, pura-pura menyetujui. Padahal, hatiku berkata lain.

Memang betul, aku masih bisa video call dengan papa. Tapi, tentu saja tidak bisa 24 jam, tidak seperti kalau papa di rumah. Aku bisa melihat beliau setiap waktu kalau aku ingin. Kalau video call, itu pun tergantung dengan koneksi jaringan. Kalau sinyalnya buruk, wajah dan suara papa jadi tidak jelas. Dan akhirnya, lebih memilih untuk memutuskan sambungan.

"Udah jangan dipikirin, yuk Manda makan dulu," pinta mama. Aku mengambil piring dan seporsi nasi. Pagi ini, mama memasak sop, ikan lele, dan tempe goreng. Tidak lupa sambal merah. Makanan kesukaanku.

"Hari ini Mama masak spesial buat Manda," ucap mama, seperti menyadari perubahan ekspresiku, "gimana, enak?"

Aku menyuapi sesendok nasi ke mulutku. Ah. Seperti biasanya, masakan mama memang selalu enak. Beliau seperti tidak pernah salah resep. Takaran bumbu-bumbunya selalu pas. Sayangnya, bakat beliau tidak menurun kepadaku. Seumur-umur, aku hanya bisa masak mie saja.

"Enak banget, Ma."

"Syukurlah kalau kamu suka."

Kelak nanti aku dewasa, aku ingin seperti mama. Kalau ditanya definisi wanita sempurna idaman suami, maka, mama lah jawabannya. Cantik, iya. Pintar, tentu. Bisa memasak, itu poin unggulannya.

"Oh iya, Mama mau bicara serius sama Manda. Ini demi kebaikan kita semua." Nada bicara mama berubah serius.

"Iya?"

"Mama dan Papa sudah memikirkan hal ini matang-matang," Bola mata mama melirik ke arah papa, "kami memutuskan akan bercerai."

Aku tercenung, menghentikan kunyahanku usai mendengar perkataan mama. Seketika aku kehilangan selera makan, padahal baru beberapa detik lalu aku sangat bersemangat.

"Mama bercanda?" tanyaku, menatap kedua mata mama. Tidak kudapati kata bercanda dalam iris matanya.

Mama menggenggam dan mengelus-elus punggung tanganku, "Mama ngga bercanda, Sayang. Maafkan Mama dan Papa, tapi, ini keputusan terbaik."

Seperti ada irisan bawang yang diletakkan di ujung mataku. Panas dan perih sekali rasanya, membuat aku tidak tahan membendung air mataku. Dadaku mendadak sesak. Seperti ada belati yang ditancapkan berulang kali di sana.

Inikah hadiah ulang tahun dari papa dan mama buatku?

*

Sepanjang pelajaran, aku menjadi tidak fokus dan sampai kena tegur berkali-kali oleh Bu Lia, guru Bahasa Inggris yang kebetulan kebagian mengajar jam pelajaran kedua sampai ketiga. Bagaimana tidak, aku terus-terusan kepikiran pertanyaan mama.

"Manda pilih ikut Mama atau Papa?"

Bagaimana bisa aku memilih salah satu di antara mereka? Sedangkan mereka adalah kebahagiaan yang sempurna. Yang apabila hanya ada salah satu, mereka hanyalah kebahagiaan yang rumpang.

Papa, meskipun aku bilang beliau gila kerja, namun, aku selalu ingat hari-hari di mana masa kecilku terisi oleh cerita-cerita serta banyolannya. Aku tidak lupa, sebelum papa diterima di perusahaan besar yang sekarang menaungi beliau, papa sering menggendongku sambil menyanyikan lagu-lagu anak seperti Balonku, Pelangi, dan lain-lain. Dadaku bergetar perih. Mengingat peristiwa yang lalu, membuatku rindu masa kecilku.

*

"Lo lagi ada pikiran ya, Man?" kejut Nala, teman sebangkuku, membuyarkan lamunanku.

"E-eh," aku tergagap, "iya, Nal."

"Kenapa? Cerita lah. Curhat sini."

"Bokap nyokap gue mau cerai, Nal." Nala terkesiap, "Serius lo, Man?"

"Gue serius, Nal. Gimana ga sedih coba? Padahal baru semalem gue sweet seventeen terus pagi-paginya dapet kabar kalo orangtua gue mau cerai."

Nala mengusap-usap pundakku, "Sabar ya Man. Mungkin, udah jalan terbaik dari Tuhan. Gue tau lo pasti kuat kok. Semangat!" ujar Nala. Secercah senyum terbit di wajahnya.

"Makasih Nal," sahutku, "btw, gue ke toilet dulu ya," pamitku kemudian.

Nala menyetujui.

Aku berjalan membelah lautan manusia. Kantin pada saat jam istirahat memang selalu penuh. Ditambah lagi riuh murid-murid berebut saus atau kecap, juga berebut antrean. Biasanya, aku di kantin bersama Aldi. Tetapi, hari ini Aldi tidak berangkat. Kata Bunaya, teman sebangku Aldi, anak itu tidak masuk karena demam tinggi.

Toilet perempuan terletak tidak jauh dari kantin. Hanya butuh waktu kurang dari tiga menit saja untuk sampai di sana. Masuk ke toilet, aku disambut cermin besar yang terbentang dari ujung kanan hingga ujung kiri.

Tumben sepi banget, batinku. Hanya terdengar bunyi flush yang datang dari beberapa toilet.

Toilet perempuan terbagi menjadi lima bilik. Bilik pertama sampai keempat, tertutup semua. Menandakan ada orang di dalamnya. Mau tidak mau, aku kebagian toilet 5 yang letaknya paling ujung.

Sret ... sret .... Belum saja aku masuk toilet, indera pendengaranku menangkap bunyi aneh yang terdengar seperti seseorang sedang menggaruk-garuk dinding. Makin lama, suaranya makin kencang, dan berhasil membuat bulu romaku keseluruhan berdiri tegak. Aku menggaruk tengkukku yang sebenarnya tidak gatal, kemudian memberanikan diri menoleh.

"Hai Manda," sapa suara nyaring yang datang dari mulut penuh darah. Sesosok gadis cilik berusia sepantaran 5 tahun, bermuka hampir tidak bisa kukenali karena hancur, menunjukkan senyum lebar, yang melebihi orang normal bisa tersenyum. Baju putihnya yang ia kenakan lusuh, penuh dengan bercak darah. Lengannya bergaris-garis seperti disilet. Dan satu hal yang membuatku sadar dia tidak berasal dari alamku, dia terbang. Kakinya tidak menapak.

"Kenapa kau masih hidup?" tanya gadis kecil itu sembari membalikkan tubuhnya, menghadap cermin, mengawasiku dari sana, "Kenapa aku mati?" tanyanya lagi. Punggungnya, rambut acak-acakannya yang tergerai begitu saja.

Aku mengenalinya. Dia. Persis seperti di foto yang Aldi kirimkan semalam.

"Apakah aku tidak layak hidup?" Darah mengalir dengan derasnya melewati bola gadis itu, membuat pikiranku menggila. Aku ingin berteriak sekeras mungkin dan lari sejauh-jauhnya. Sayangnya, tubuhku membeku di tempat.

"TIDAK ADIL!" pekiknya, melengking. Suaranya bak menghancurkan gendang telingaku, menciptakan bunyi ngiing ngiing di dalam sana. Sekujur badanku bergetar hebat, terlebih saat kepalanya berputar seratus delapan puluh derajat, menatapku penuh kebencian. Jantungku seakan menghentikan detaknya.

"AKU MAU KAMU MATI."

“AAAA!” Keajaiban menghampiriku tepat waktu. Di saat bersamaan, langsung saja aku lari terbirit-birit, meninggalkan toilet perempuan yang kosong. Ya. Aku sadar, dari awal, toilet ini lengang. Hanya ada aku di dalamnya.

Beberapa murid yang melihatku berlarian seperti orang gila, menatapku heran. Aku tidak peduli, yang penting aku lari sejauh-jauhnya.

Aku tiba di hadapan Nala dalam keadaan pucat pasi. Tanganku dingin seperti mayit. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhku, membuat Nala menatapku bingung.

"Lo kenapa Man?"

"Gu-gu-gue liat Nal, gue li-li-liat!" sahutku terbata-bata, menyerupai orang tidak waras. Nafasku terengah-engah. Jantungku berpacu cepat, melebihi tempo normal.

"Liat apa maksud lo Man?" tanya Nala lagi dengan nada lebih rendah, namun tetap tenang.

"Anak cewek berlumuran darah."

*

Jam pelajaran hari ini telah berakhir. Suara bel pulang yang menjadi idaman para murid berbunyi juga. Usai berdoa, seisi kelas cepat-cepat membubarkan diri. Hari ini aku benar-benar sial! Sial sesial-sialnya aku bersekolah di sini. Gara-gara kejadian itu, perutku jadi sakit menahan kencing. Sebelum akhirnya, aku menyerah. Aku kembali ke toilet, meskipun bukan toilet yang tadi aku gunakan. Bedanya, saat itu aku ditemani Nala yang sebenarnya uring-uringan karena mendengar ceritaku yang di luar logis.

Aku dan Nala melangkah gontai menyusuri lorong penghubung menuju kelas Aldi, kelas XII IPA 2. Rencananya, sore ini aku, Nala, Bunaya, dan satu lagi teman Aldi, Sam, akan menjenguk Aldi.

Sesampainya di tujuan kami, badan jangkung keduanya langsung menyambut penuh semangat. Kami berempat dengan gencar langsung memesan go-car yang beralamatkan alamat rumah Aldi. Perjalanan ditempuh sekitar dua puluh lima menit, cukup lama untuk hitungan rumah Aldi yang terbilang lumayan dekat dari sekolah. Patut saja, jalanan sore ini padat merayap karena hujan deras.

Di tengah-tengah perjalanan, kami sempat minta turun di sebuah toko buah untuk membeli parsel.

Tok, tok, tok...! Tok, tok, tok ...!

Aku mengetuk pintu rumah Aldi yang bercat cokelat kayu cukup keras. "Eh Tante," sapaku ketika pintu dibuka dan menampakkan wajah Tante Sisil, ibu Aldi, "kami mau nengok Aldi. Aldi di dalem nggak ya?"

"Wah ada Amanda sama temen-temen. Aldi ada di dalem tuh, lagi nonton TV. Masuk ayo masuk," ajak Tante Sisil.

Kami berempat melepas alas kaki, kemudian berjalan mengekori Tante Sisil.

Aku sudah berkali-kali menginjakkan kaki di rumah ini. Pertama kali, sewaktu aku dan Aldi baru satu minggu berganti status menjadi pacaran. Aldi mengenalkanku kepada Tante Sisil. Beliau menyambutku dengan baik, bahkan mendukungku sepenuhnya dengan Aldi. Tante Sisil itu sudah seperti ibu kedua buatku.

Kami sampai di ruang keluarga milik Aldi dan menemukan Aldi di sana. Sedang duduk santai menyaksikan kartun di televisi. Benar-benar seperti anak kecil. "Aldi, ini ada Amanda sama temen-temenmu," tegur Tante Sisil membuat Aldi menoleh, "sebentar ya Tante buatkan minum dulu."

Aku melambaikan tangan ke arah Aldi yang dibalas senyum hangat. Lantas, bergegas menghampirinya. Sebelum itu, aku menaruh parsel buah yang tadi sudah dibeli di atas meja ruang keluarga Aldi.

"Kok kamu gak bilang ke aku sih, kalo kamu sakit?" tanyaku setengah menodong sambil mendudukkan pantatku di samping Aldi.

"Maaf Man. Ponselku gak aku charge semaleman." Aldi menggaruk tengkuknya.

Aku mengohkan saja. “Udah minum obat?”

Cowok yang sekarang berpenampilan santai dengan kaos hitam dan celana biru pendek itu mengangguk pelan. “Udah.”

"Eh btw, lu tumben sakit. Kenapa lu? Kecapean gara-gara pulang malem?" sela Sam.

"Iya kayanya," jawab Aldi singkat. Dari gaya bicaranya, aku dapat menangkap ketidakjujuran dalam ucapannya. Bisa jadi, dia shock gara-gara kejadian semalam, pikirku. Hanya saja cowok itu berusaha untuk menyembunyikannya dan terlihat seperti tidak ada sesuatu.

Sebenarnya, aku ingin bercerita soal perceraian mama dan papa kepada Aldi. Tetapi, melihat kondisinya, aku pikir, lebih baik aku cerita besok lagi saja.

"Cepet sembuh dong lu. Bangku gue sepi banget kalo ga ada lu," ujar Bunaya, membuat Aldi terkekeh.

"Iya, iya. Besok gue udah bisa berangkat kok." Meskipun bibirnya pucat begitu, bagiku senyum dan tawa Aldi tetap menyenangkan seperti hari-hari sebelumnya. Terserahlah kalian mau menganggapku budak cinta alias bucin atau apa.

Tante Sisil kembali dengan membawa nampan berisikan lima gelas es sirup jeruk. Kemudian, menyajikannya satu persatu di hadapan kami dengan Aldi sebagai pengecualian. Sehingga tersisa satu gelas lagi di atas nampan. Barangkali, untuk Tante Sisil sendiri. Biasanya, Tante Sisil ikut bercengkerama saat ada teman-teman Aldi datang berkunjung. Beliau biasanya penasaran dengan bagaimana sifat anaknya di luar rumah.

"Loh temen kalian yang satu lagi mana?" tanya Tante Sisil memandang wajah kami bergiliran, membuat kami saling menatap kebingungan.

"Temen yang mana, Tante?" tanya Bunaya.

"Tadi kan kalian dateng berlima, toh? Tiga cewek sama dua cowok. Cewek yang satu lagi mana? Kok cuma dua?"

"Tante, kami cuma dateng berempat," tandas Sam. Kemudian yang terdengar hanya bunyi cicak. Enam orang di dalam ruangan tidak ada lagi yang berani angkat suara.

*

Aku menghabiskan waktu sekitar dua jam di rumah Aldi dan baru sampai di rumah sekitar pukul 7 malam. Sesampainya di rumah, aku memilih untuk mengganti pakaian terlebih dulu. Meskipun gerah, aku mengurung niatku untuk mandi.

Mengingat rumah sepi, tidak ada orang kecuali aku. Mama tadi mengirimiku pesan, katanya beliau lembur. Tugas dadakan dari pak bos. Habislah malam ini aku sendirian. Harus mati-matian aku melawan rasa takut dan hawa tidak enak yang tidak lagi bisa ditolerir.

Mengingat runtutan peristiwa semalam sampai tadi sore yang membuat bulu kudukku merinding dengan refleks.

Hampir semua lampu di rumah ini kunyalakan. Ditambah televisi yang kusetel dengan volume lumayan kencang. Kemudian, ponsel, tak ketinggalan kunyalakan suara notifikasi. Aku bisa bilang diriku sekarang benar-benar tidak waras. Tapi aku tidak peduli.

Bip...!

Satu notifikasi bertengger di layar ponselku. Papa. Tumben sekali papa mengirimiku pesan terlebih dulu. Biasanya, harus aku yang memulai percakapan.

[Manda...?]

[Iya Pa?]

[Papa boleh minta waktu sebentar?]

[Iya. Gimana Pa?]

Satu panggilan suara masuk ke ponselku.

Papa.

"Halo Pa?"

"Kamu lagi di mana Manda?" tanya papa. Dari nada bicaranya, beliau terdengar khawatir.

"Di rumah."

"Cepat keluar dari rumah itu. Keluar Manda, sebelum terjadi apa-apa sama kamu!" desak papa. Aku bisa mendengar deru nafas beliau di seberang sana.

"Tapi kenapa Pa?"

"Mama kamu itu udah nggak waras, Manda! Itulah kenapa Papa lebih milih buat cerai sama Mama.

"Manda, kamu ikutlah dengan Papa. Percaya sama Papa. Kamu akan aman sama Papa. Jangan sesekali kamu memilih Mama dan tinggal di rumah itu!"

Bat! Masih dengan telepon menempel di telinga, aku bisa dengan jelas mendengar suara lampu putus. Arahnya dari dapur. Aku mengedarkan pandanganku sambil terus siaga. Dan mendapati lampu dapur tidak lagi berfungsi, membuat ruangan itu gelap.

"Kenapa Manda harus memilih Papa?"

"Dengerin Papa. Setiap malam, setiap kali Papa pulang ke rumah, Papa sering dengar Mama kamu berbicara sendiri. Awalnya, Papa pikir, Mama kamu hanya berhalusinasi atau mungkin, dia sedang bermimpi.

"Tetapi, itu terjadi setiap malam, Manda. Sampai Papa tau, Mama kamu bukan sedang halusinasi atau bermimpi. Mama kamu sedang berbicara dengan seseorang, yang bukan dari alam kita.

"Setiap Papa pulang, Papa selalu menguping pembicaraan Mama dengan makhluk itu. Yang Papa dapat, makhluk itu adalah anak Mama. Jauh, sebelum Mama kamu menikah dengan Papa. Dia anak hasil hubungan di luar pernikahan, kemudian mati karena diaborsi oleh Mamamu sendiri.

"Dan dia, anak itu, berniat membalaskan dendamnya," aku mendengar Papa menghela nafas panjang, "pada awalnya, dia ingin membunuh Mama. Tetapi, Mama memberikan dia penawaran."

Bat! Aku mendengar lagi suara lampu putus. Kali ini tidak hanya satu. Semuanya. Seisi rumah ini. Terkecuali satu. Ruang keluarga ini, tempat di mana sekarang aku berada.

"Yakni menjadikan kamu sebagai pengganti Mama. Di saat umur kamu tepat tujuh belas." Seketika tubuhku bergemetar hebat. Apalagi, samar-samar aku melihat sosok itu. Berkelebatan, mondar-mandir di area dapur. "Manda? Kamu masih di sana kan?" Papa memanggil-manggil di seberang sana, "Manda. Sekarang kamu keluar dari rumah itu. Papa mohon. Papa nggak mau terjadi apa-apa sama Manda. Papa sayang sama Manda." Nada bicara papa sudah mulai tidak karuan. Beliau terus-terusan menyerukan namaku.

“Manda, jawab Papa.”

Bat! Televisi yang ada di depanku mati dengan sendirinya. Lantas menyala lagi, namun tidak menampilkan apa-apa di sana. Hanya gambar buram, dengan suara gemerisik yang membuatku tambah tidak tenang.

"Papa, Manda takut ...." Aku berbicara lirih. Hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutku sekarang. Untuk sekadar melangkahkan kaki dari kursi saja aku tidak ada keberanian, bagaimana bisa aku ke luar dari rumah ini? Walau jarak antara ruang keluarga dengan ruang tamu di mana pintu rumah berada terbilang dekat.

Aku memilih untuk memejamkan mata. Aku menjambak rambutku, mengacaknya tidak karuan. Air mata mulai membasahi wajahku. Aku sudah takut setengah mati! Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang! Ditambah mendengar penuturan papa, membuatku gila. Mama.

Bagaimana bisa? Seseorang yang aku sayangi lebih dari aku menyayangi diriku sendiri? Seseorang yang selalu mendengarkan keluh kesahku? Seseorang yang selalu meluangkan waktunya buatku? Seseorang yang mengerti aku lebih dari aku mengerti diriku sendiri?

Ya. Benar. Sekarang aku tau. Orang-orang benar. Kau memang harus menyayangi dirimu sendiri terlebih dahulu. Karena bahkan, orang yang sangat kau percayapun bisa mengkhianatimu. Karena bahkan, orang yang menjadi pondasimu pun bisa menghancurkanmu pelan-pelan.

"Manda, Manda...." Aku mendengar suara nyaring berbisik tepat di sebelah telingaku.

Dia di sana. Dengan seringai tajamnya. Di sampingku. Makhluk itu. Anak perempuan itu. Dengan muka hancurnya yang sama sekali tidak ingin aku lihat, "Ikutlah denganku."

"AAAAAAA!" 

How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Page 1 of 0 (0 Comment)

Recommended Stories

Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

469 379 6
Anne

Anne's Tansy

By murphy

855 543 9
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

278 223 3
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

713 538 8
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

436 323 6
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 761 13