Tangan kurus berhiaskan kuteks pada setiap kukunya itu menyilang tanggal hari ini kemudian bergerak mundur. Sang pemilik melakukan hal serupa pada tanggal lain, tetapi dengan bentuk berbeda; lingkaran, sebelum tersenyum saat mempercantiknya dengan balon.

Sudah mau tambah tua saja, pikirnya sambil menjauh dari kalender yang terduduk manis di nakas. Terlepas dari menantikan berbagai makanan yang turut menghadiri ulang tahunnya, Tasha sebenarnya belum siap jika harus bertambah dewasa. Kalau saja bisa memilih, dia ingin sekali tidak bertumbuh.

Akan tetapi, begitulah kehidupan yang dijalani, selalu mengambil langkah ke depan tanpa bergerak mundur hingga akhirnya berhenti. Kenyataan itu membuatnya terus berusaha untuk menikmati apa pun yang terjadi.

“Kak Romeo nanti ngasih apa, ya? Biasanya, kan, dia pa—”

Gumaman cewek itu tiba-tiba diinterupsi oleh dering ponsel yang berhasil mengukir senyumannya saat melihat nama sang penelepon. Tanpa pikir panjang, dia segera menerima panggilan tersebut dan bertanya, “Kenapa, Kak?”

“Ticha di mana sekarang?”

“Di kamar, kenapa?”

Tasha mengempaskan tubuhnya ke kasur kemudian menarik bingkai foto yang berdiri kokoh di meja belajar. Cewek itu lantas tertegun mengingat bahwa gambar tersebut diambil ketika Romeo meledakkan tangisnya akibat sebuah es krim 7 tahun silam. Benar-benar menyebalkan.

“Jalan, yuk! Aku bosan dari tadi main game doang. Prepare, gih, sebentar lagi aku ke rumah.”

“Kebiasaan, kan, mendadak mulu!”

Tanpa melepas ponsel yang digenggam tangan kiri, Tasha pun melompat dari tempat tidur untuk mengambil baju di lemari. Dia tidak henti menggumam karena ini bukanlah pertama kalinya Romeo mengajak pergi secara mendadak. Memang, sih, cowok itu memberi tahu sebelum datang. Namun, tetap saja menjengkelkan.

Omong-omong, Tasha jadi ingat dengan kejadian yang membuatnya kesal hingga sekarang. Bulan lalu, dia yang ingin memetik bunga tidur tiba-tiba ditelepon dan diajak pergi oleh seorang pengganggu. Yah … kelihatannya tidak ada yang salah, sih, tetapi saat itu Romeo baru berpamitan pulang setelah menjemputnya dari sekolah. Please, deh, memangnya siapa orang waras yang pernah melakukan hal serupa?

“Pakai kaus sama bomber itu, Cha!” Makhluk di seberang sana tiba-tiba berteriak seolah tahu bahwa dirinya sedang mencari pakaian. “Oh, iya, ada yang aku kirim ke rumah kamu, kayaknya sudah sam—”

Tasha langsung melempar bomber yang baru dia temukan saat mendengar bel berbunyi sebelum Romeo menuntaskan kalimat. Bukannya meminta maaf karena telah menyebabkan cewek itu pergi dari kamar sambil mengomel, lawan bicaranya malah tertawa kecil.

“Mau siap-siap saja ribet banget. Memangnya Kak Romeo ngirim apa, sih? Padahal, kan, bisa sekalian pas ke rumah.”

“Rahasia, lah!”

Tasha mendelik karena jengkel dengan jawaban yang terasa sangat nyata itu kemudian membuka pintu. “Pagi menjelang saiang, Ticha-ku. Kenapa masih belum siap, sih?”

Aliran darahnya sontak mendidih hingga meluap ke ubun-ubun setelah pendengaran dihantam oleh pertanyaan tersebut. Oh, astaga, yang benar saja! Memangnya dia bisa mengganti pakaian dalam waktu tak sampai 5 menit? Sambil menerima telepon pula. Alih-alih menuturkan penyesalan, Romeo justru terbahak seolah dirinya merupakan lelucon.

Tasha membuang napas lalu menyuruh Romeo untuk menunggunya bersiap. Dia melotot untuk yang kedua kali saat cowok itu nyaris mengikuti ke kamar dengan wajah tak berdosa. Menurutnya, tidak ada yang lebih menyebalkan dibanding makhluk halus di luar sana. Sungguh.

Cewek itu kembali menghampiri Romeo dengan riasan tipis yang membuat wajahnya terlihat semakin manis setelah memakan waktu tidak lebih dari 15 menit. Sambil mencibir pada sosok di depan mata, Tasha segera mengambil sneakers putih dari rak sepatu kemudian mengenakannya.

Hayuk, Cha! Lama banget, sih,” sindir Romeo tanpa menurunkan kedua tangan yang menyilang di dada. “Kayak siput.”

Tasha semakin mencibir tanpa tertarik menanggapi. Please, deh, dia lelah kalau setiap hari harus beradu mulut dengan penghuni Pluto yang bahkan lebih cerewet daripada seorang cewek. Apa mungkin saat dilahirkan jiwa Romeo salah memasuki raga, ya? Sepertinya begitu, sih.

“Malah diam, dasar ngambekan.”

“Dih, siapa yang ngambek? Lagian Kak Romeo,” Tasha mengambil ponsel dari sling bag-nya kemudian berkaca pada layar yang tidak menyala, “bawel banget.”

“Bawel gini juga Ticha sayang.”

Romeo menghampiri ninja hitam di depan gerbang diikuti dirinya yang tertawa kecil setelah mengunci pintu. Tasha tidak tahu cowok itu akan mengajak pergi ke mana, tetapi dia berharap hari ini bisa menjadi Minggu yang menyenangkan seperti biasanya.

Mereka akhirnya tiba di dalam PvJ Mall setelah menempuh perjalanan selama setengah jam. Tasha terus saja membuang napas kesal saat Romeo menuntunnya ke berbagai tempat. Apakah kalian pernah melihat manusia yang baru meninggalkan hutan setelah sekian lama dari serial televisi? Nah, begitulah penampakan sosok yang sedang menariknya sekarang.

Terkadang dia malu jika pergi bersama cowok itu, pasalnya Romeo selalu saja mengundang mulut untuk menggerutu. Beruntung, loh, dia sempat mengenakan masker dan tidak perlu bingung bagaimana harus menyembunyikan wajah.

“Lihat, deh! Bagus, ‘kan? Nambahin baju couple kita, Cha,” ucap Romeo sambil menunjukkan sweater bertema USA padanya.

“Sudah punya yang mirip kayak gini, ngapain beli lagi?”

Cowok itu merengut saat dirinya bertolak pinggang. “Beda, lah! Itu hoodie, bukan sweater.”

“Sama saja, Pea! Ngabisin duit saja.”

“Jangan pelit sama diri sendiri, Cha, rezeki enggak bakal berhenti mengalir kalau ada usaha. Kita diam juga enggak tahunya bisa dikasih duit, kok.”

Tasha mendelik sebelum membiarkan Romeo melakukan apa pun tanpa menduga bahwa keputusannya adalah kesalahan besar. Bagaimana tidak? Cowok itu membeli beberapa setelan dari berbagai tempat, bahkan bando bertelinga kelinci yang sedang mereka kenakan pun berhasil merampok isi kartu debit.

Mentang-mentang punya penghasilan sendiri, pemborosannya enggak tanggung lagi, sindirnya sambil mengikuti Romeo yang mulai terlihat lelah. Saat asyik memerhatikan cowok di depannya memindah tas belanjaan ke tangan kanan, wajah Tasha yang diselimuti kejengkelan tiba-tiba dipotret sembarangan.

“Kak Romeo nyebelin banget, ih,” rengeknya sambil mengentakkan kaki yang dilindungi celana pendek tanpa berhenti melangkah. “Hapus, Kak!”

“Makanya jangan cemberut gitu, dong,” titah Romeo sebelum membawa tubuhnya ke dalam rangkulan. “Ticha capek, ‘kan? Mau makan di mana?”

“Restoran Thailand kayak biasa.”

“Dasar pencinta Thailand.”

Cewek itu tertawa kecil lalu menjulurkan lidah karena sindiran tersebut. “Jangan cemberut lagi, ya.”

“Iya, tapi jangan beliin sesuatu buat aku sesuka Kak Romeo lagi, ngerti?”

Tasha tersenyum kemudian mengambil sebagian barang bawaan Romeo ketika cowok itu tiba-tiba sibuk dengan ponsel selepas mengangguki ucapannya. Setiba di Suan Thai, dia pun memesan menu yang biasa mereka nikmati. Ini anak dari tadi main HP ngelihat apa, sih? Bikin penasaran saja, pikirnya sambil terus memerhatikan sosok tampan yang tak kunjung membuang pandangan dari layar.

Tatkala tangannya baru terangkat untuk menarik kesadaran Romeo, cowok berambut pirang itu malah memanggil dan berujar, “Aku dapat info lomba gitu. Coba lihat, deh.”

Tasha mengerutkan dahi lalu meraih gawai yang diserahkan padanya. Perlahan dia menggeser satu per satu poster yang terpampang untuk melihat informasi lain terkait lomba dalam unggahan tersebut. Ketika melihat bagian kategori pemenang serta hadiah, matanya lantas semringah.

“Berkesempatan buat diterbitin.”

“Mau ikut? Kamu, kan, suka nulis, tuh. Kenapa enggak coba?”

Cewek itu memberi gerakan tunggu dengan tangan kirinya sebelum membaca syarat dan ketentuan lomba tersebut. Semua poin di sana nyaris membuat Tasha kelebihan percaya diri kalau saja tidak ada sosok tema yang mengakibatkan senyum di wajahnya tertunduk kecewa.

“Kenapa harus cinta, sih?” keluhnya sambil mengembalikan ponsel pada sang pemilik dengan perasaan Nano Nano yang tidak senikmat permen. “Malas ikut, ah ....”

“Lah, pea, kenapa?”

“Temanya nyebelin, ih .... Aku enggak suka bikin kayak gitu, pernah pacaran juga enggak.”

“Bukannya kalau mau jadi penulis harus bisa semuanya, ya?”

Tasha semakin mengekspresikan kepasrahannya setelah mendengar pertanyaan yang sangat tepat sasaran itu. “Sudah, ikut saja, aku bantu sebisanya. Lagian, cinta enggak harus selalu soal pacaran, ‘kan?”

“Iya, sih, tapi Kak Romeo, kan, tahu sendiri kalau orang Indonesia itu otak bucin semua.”

“Terus? Kamu mau ikutan ngebucin juga, gitu?” tanya Romeo sambil tersenyum miring bermaksud meremehkannya.

Tasha yang merasa terbunuh dengan itu sontak mengerucutkan bibir penuhnya kemudian menelungkupkan wajah. Yang diucapkan Romeo sangatlah benar, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa pemenang akan ditentukan oleh minat pasar. Yah … meskipun dalam e-flyer yang beredar keputusan ada di tangan juri, sih.

Zaman sekarang, memangnya siapa yang tidak memikirkan uang? Sekalipun ada, tetap saja akan kalah dengan mayoritas penggila harta. Oh, ayolah, di dunia ini seluruh manusia pasti berlomba meraup keuntungan, loh.

Kamis, 04 Juli 2019

Halo~ ketemu lagi sama saya wkwk

Terima kasih banyak buat kalian yang sudah mau baca cerita ini, apalagi kalau sampai kasih like, komen, rate^^

Mohon dukungannya, ya~

Previous <<
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

alodiaaloevera
2019-07-04 14:01:35

Lanjuttttt :)
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

456 351 4
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 877 15
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

711 525 9
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

584 452 8
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

432 320 6
Anne

Anne's Tansy

By murphy

845 534 9