Vivian tersenyum sempurna menatap rumah sewaannya. Rumah bertingkat bergaya kuno ala Belanda yang berdiri diseberang jalan raya sepi. Ia tampak menyukainya.

"Bagus' kan ya? Aku senang sekali bisa menemukan rumah ini!" Pujinya puas.

Vino, pacarnya, malah berpikiran buruk tentang rumah ini. Ia memegang bahu Vivian, "Vi.."

Gadis itu menoleh, "Apa?"

"Kamu yakin mau tinggal disini? Jangan tersinggung, Sayang, tapi ini seperti rumah hantu bagiku dan kamu harus tahu bahwa setahun yang lalu ada yang meninggal disini."

"Karena orangnya ceroboh, itu saja. Aku suka tempat ini, bergaya kuno dan terlihat nyaman."

"Kenapa kamu tidak tinggal bersama pamanmu saja?"

"Aku ingin menuntaskan tugas kuliah akhirku dengan tenang."

"Entahlah.." Vino berpikir. Jeda sejenak, lalu melanjutkan, "Tapi perasaanku tidak enak mengenai rumah ini, bisakah aku yang mencarikan rumah untukmu?"

"Tidak!" kesal Vivian, "Aku sudah membayarnya!"
 
"Vi, kamu bisa tinggal dirumahku. Lalu tidur dikamarku, denganku..." Vino tersenyum licik.

Vivian meliriknya tajam.

"Ya," Vino mengerti tatapan itu. Ia menjelaskan maksudnya, "Kalau kamu tidak mau tidur denganku, kamu bisa tidur di kamarku dan aku tidur diluar."

"Itu seperti sama saja bagiku," gumam Vivian.

"Kenapa sih tidak mau?"

"Aku bisa menyusahkan ibumu."

"Halah, biasanya juga suka nyusahin aku gitu loh.."

Vivian keberatan dengan sindiran itu, "Apa katamu?"

"Maksudku, ibu menyukaimu.." ralat Vino mengelus rambut panjang pacarnya itu. Ia menghela napas, setelah itu melanjutkan, "Dengan begitu kamu bisa lebih akrab dengan mertuamu."

Gadis itu memandang rumah sewaannya, "Tidak, aku suka tempat ini, plus.. dekat tempat kuliah.."

"Vi?"

"Aku tetap disini."

"Vivi?"

"Aku tidak perlu membersihkannya lagi, Bukan?"

"Pokoknya aku melarangmu tinggal disini!" tegas Vino, "Ayo pulang!"

"Kamu melarangku?" heran Vivian keberatan dengan nada suara yang sedikit memaksa itu, "Bapak bukan, ibu bukan, kita memang pasangan tapi bukan berarti kamu bisa mengontrolku penuh."

Vino membalasnya dengan sindiran, "Belum menikah saja sulit diatur, nanti menikah gimana ya?"

"Maksudku, Vino, jangan ngeselin!" Pinta Vivian sedikit merasa bersalah dengan ucapan sadisnya barusan. Ia menambahkan, "Aku ingin menyelesaikan tugasku.. aku tak mau dirumah paman, dirumahmu, atau dimanapun.."

"Tapi aku peduli denganmu," kata Vino dengan suara melembut. Lalu menatap rumah mengerikan lagi, "Aku takut kau seperti penghuni sebelumnya."
 
Vivian mendekatkan wajahnya pada Vino, "Vino sayang.."

Vino terdiam merasakan hembusan napas hangat kekasihnya. Ia selalu terbuai dengan pesona gadis pujaannya itu. Walaupun ia tahu kalau ini caranya untuk memenangkan perdebatan, tapi dia selalu bertekuk lutut pada paras cantiknya.

Mata mereka saling bertatapan. Wajah mereka begitu dekat. Dekat, bahkan Vino mulai melingkarkan kedua tangannya di pinggang Vivian.

Beberapa orang yang lewat melirik mereka.

Vivian tertawa lirih. Lalu melepaskan diri dari Vino. "Tentu saja aku tidak akan menciummu didepan umum, atau dimanapun juga.."

"Ya.. aku sudah terbiasa harus merayumu berjam-jam dulu untuk mendapatkan satu ciuman," bisik Vino tersenyum

"Sekarang kembalilah bekerja, Chef Vino." pinta Vivian mengeluarkan kunci rumah dari tasnya.
 
Vino masih belum rela, "Vivi.."

Vivian mengancam, "Aku akan berteriak kamu akan merampokku jika kamu tidak cepat pergi!" mendorong Vino agar kembali ke mobilnya.

"Apa sih, kasar amat.."

"Cepatlah, kamu bisa dipecat lagi.."

"Tapi kamu ini lucu, perampok?" tawa Vino menggelegar. "tak ada perampok setampan aku, Vivian Maharani."

"Benarkah Tuan Vino Bachtiar?"

Vino menatap kekasihnya sembari tersenyum lebar, "Karena itulah kau mencintaiku."

Sial, kesal Vivian dalam hati. Kesal karena benar.

Vino tertawa melihat ekspresi masam sang kekasih. Ia pun menyambar lengannya lalu mencium keningnya sekilas, "Kamu sangat manis, aku sangat mencintaimu.."
 
"Mulutmu itu penjilat, Vin.. Jangan selingkuh, itu saja!" pesan Vivian berjalan menjauhi Vino. Lalu membuka pintu rumah barunya.

Vino terkejut, "Selingkuh?"

"Hati-hati dengan anak atasan," kata Vivian menahan tawa. "Lagi.."

"Maksudmu anak laki-laki kelas 4 SD? kamu khawatir aku selingkuh dengannya."

Vivian masuk ke dalam rumah, "Sampai jumpa, Pacarku!"

"Boleh aku menginap malam ini?"

Pintu langsung ditutup dan dikunci.

°°°°°°°°°°°


Vivian tinggal dengan tenang di rumah kuno itu. Hampir seluruh perabotan, lukisan, bahkan ranjang bergaya ala peninggalan Belanda. Sebenarnya ia sedikit tidak nyaman dengan kondisi ini selama beberapa hari. Akan tetapi karena suasana yang sunyi senyap membuatnya betah.

"Baiklah, asalkan tenang dan biayanya tidak mahal," tegasnya pada diri sendiri ketika menata ulang perabotan di kamar sempitnya.

Di pagi hari ketujuh, ia berjalan menuju sebuah ruangan disamping dapur. Ada sebuah pintu usang dengan kedua sisi temboknya tertempel cermin seukuran seluruh tubuh. Ia tidak sadar dan tidak mengerti mengapa, tapi perasaannya menyuruh kakinya untuk membuka ruangan itu. Padahal sebelumnya, dia ogah mendekatinya.

Tapi kemudian terdengar suara mendesis bagai sekumpulan ular mendekat. Dia sontak mundur karena kakinya terasa dingin oleh angin liar yang keluar dari bawah pintu. Debu-debu juga bertebaran ikut terhempas.

"Aneh," katanya langsung kabur.

Di hari ke delapan, ia mendengar suara jeritan seorang wanita tepat di malam hari dan ketika ia melihat jam dinding:

00.00 W.I.B

Di hari ke sembilan, ia mendengar nyanyian yang asing di telinganya, mungkin bukan dari band masa kini dan terdengar seperti curahan hati yang disenandungkan.
 
..Kau bagai lantunan lagu yang tidak bisa menghilang dari otakku, bagai udara yang selalu kuhirup, kau adalah jiwaku...

Nyanyian aneh tersebut sering muncul ketika kesunyian merajai hati Vivian. Selalu. Ia yakin suara wanita itu berasal dari bawah tanah karena terdengar menggelegar.

Ia pernah melihat sosok wanita di bayangan cermin jumbo yang berada di dapur. Ia merasa sangat tertekan. Entah karena takut pada situasi seperti ini atau karena tugas kuliah yang ribet.
 
Hari kesebelas..

...Dalam sepi, engkau datang, beriku kekuatan 'tuk bertahan, kau percaya.. aku ada, kau yang aku inginkan selamanyaa.. kau adalah hatiku, kau belahan jiwaku...

Mencintaimu sampai mati, pikir Vivian mengganti channel radio di mobil Vino.

...I can't forget you when you're gone.. You're like a song.. that goes around in my head.. and now I regret, it's been so long, Oh.. what went wrong? Could it be something I said? time make it go faster.. or just rewind..

Like a song, pikir Vivian mematikan radio dengan cemas.
 
"Vi?" heran Vino melambatkan laju mobilnya. Ia menatap Vivian dalam-dalam, "Kamu kenapa?"

"Aku benci mengatakannya, Vin," gumam Vivian pusing, "Kurasa rumah itu memang tidak beres."

"Terjadi bukan?" kesal Vino.

"Tidak, Vin," gumam Vivian, "Hanya teror. Aku memang mendengarnya selama beberapa hari."

"Dan.." Vino sedikit kesal, "Kamu baru memberitahuku sekarang?"

"Aku tahu kamu akan marah dan memaksaku pergi dari rumah itu."

Vino mengangguk, "Sayang, aku memang harus memaksamu pindah sekarang.."
 
Vivian malah membentaknya, "Inilah aku benci berbicara denganmu!"

Ada yang tidak beres, pikir Vino. Ia terdiam sejenak, "Vi, kamu tidak sedang PMS'kan?"

"Maaf," pinta Vivian menghela napas sambil berpikir, kenapa aku membentaknya?

Vino menghentikan mobilnya tepat di depan rumah kuno sewaan Vivian. Dia mendongak karena hari mendadak mendung, "Aku tidak suka rumah ini."

"I love you," gumam Vivian langsung keluar mobil.

Saking lirihnya pernyataannya, Vino nyaris tidak mendengarnya. Ia khawatir, keluar dari mobil seraya melepaskan jaketnya. Kemudian menyampirkannya padang sang kekasih, "Kamu tidak keberatan kutemani?"

"Keberatan," jawab Vivian.

"Tega sekali kamu mengusirku ketika hendak hujan begini?"

Vivian mendekati pintu rumahnya, "Baiklah," kemudian menatap langit mendung. Lalu menyuruh kekasihnya itu masuk, "Kamu yakin tidak dimarahi ibumu?"

Kekasihnya tertawa terbahak-bahak, "Kamu kira aku anak 10 tahun?"

Vivian membuka pintu dan masuk. Aroma parfum khasnya mulai tercium. Wangi sekali. Tidak terlalu menyengat.

"Aku suka aromamu, Vi, menggoda," gumam Vino tersenyum lebar.

Vivian menuju ke dapur, Vino terus mengekor. Ia terlihat kagum dengan dekorasi yang lebih bagus dari tempatnya bekerja. Tapi sedikit menakutkan kala melihat lukisan gotik di tembok.

"Aku heran kamu tidak membuang lukisan seperti itu." gumamnya.

Mereka sampai di dapur.

Ketika Vivian hendak menyiapkan secangkir minuman hangat, Vino mendahului. Dia berkata dengan lembut, "Biar aku saja, Sayang, terakhir kamu membuatkan sesuatu, itu seperti racun."

"Maaf ya, kalau bertamu itu yang sopan.."

"Loh, aku ini pacar yang jujur."

"Jangan kira minuman dan makananku selalu tidak enak!"

"Udah udah, ngalah aja, aku ini Chef asli, kamu cuma mahasiswi abal-abal. Kamu mau apa untuk malam ini, Burger? Omelet? kamu punya udang tidak?"

Vivian mulai menutup jendela dapur yang terbuka karena rintik hujan sudah turun. Dalam sekejab saja menjadi semakin deras. Ia sedikit cemas, "Mobilmu diguyur hujan, Vin, harusnya tadi teduhin di toko depan yang kosong itu."

"Itu'kan hanya air," jawab Vino sedikit keras karena suaranya kalah dengan bunyi petir. Akan tetapi semenit kemudian, ia mulai merasakan bulu di tengkuknya merinding tanpa sebab.

"Vi?" Panggilnya.

"Aku di depan meja dapur, sampingmu, sedang melihatmu.."

Vino memastikan belakangnya tidak ada sesuatu. Padahal barusan dia yakin ada yang melewatinya, terasa seperti angin kecil. Ia berbisik pada Vivian, "Kamu merasakan sesuatu?"

"Apa?"

"Aku merasa seseorang melewatiku," kata Vino menidurkan bulu tengkuknya, "Aku tidak pernah merinding sebelumnya."
 
Vivian pun berjalan menuju meja makan, "Merinding kenapa sih? Takut petir ya?"

"Ah lupakan, ayo makan dulu!" Ucap sang kekasih sembari menghidangkan omelet yang aromanya sangat harum di atas meja. Padahal bahan-bahan yang dipakai hanyalah bumbu dapur sederhana. Tapi menciumnya saja sudah membuat perut keroncongan.

"Kamu harus membayar makanan ini loh, mahal ini dari seorang juru masak profesional," godanya sambil mencium kening Vivian.

Gadis itu melingkarkan kedua tangannya ke bahu Vino dengan tatapan menarik, sangat menarik. Ia tersenyum menggoda dengan bibir tipis nan merah alami itu, "Dengan uang?"

Vino mulai mendekap erat pinggang Vivian. Ia bisa mencium aroma lembut dari permukaan lehernya, tidak pernah berubah, "Dengan tidur denganku."

Vivian tertawa, "Kalau aku tidak mau?"

"Harus mau dong."

"Tidak."

"Aku'kan ingin menghangatkan malam yang dingin ini.."

"Dasar mesum.." sindir Vivian menjulurkan lidahnya.

Akan tetapi tindakannya malah dibalas Vino dengan sebuah ciuman panas. Pria ini tampaknya tidak sanggup menahan diri melihat godaan tersebut.

Bulu tengkuk Vivian seketika berdiri saat merasakan hembusan napas sang kekasih. Kehangatan menerpa seluruh kulit wajahnya. Tapi dia tetap berusaha menyadarkan, "Vin..Vin.."

Vino melepaskannya seraya tertawa lirih, "Iya..aku tahu. No lengket-lengket sebelum menikah."

"Jorok banget ucapanmu."

"Tapi aku serius loh tadi, aku merasa kamu dalam bahaya. Tidur berdua saja. Pikiranmu itu yang kotor ..." Goda vino memencet hidung gadisnya dengan gemas.
 
"Kamu bisa aja, Dasar. Aku julurin lidah saja, kamu sudah tidak tahan begitu.. terus mau tidur denganku?"

Vino merasa ngilu dengan nada bicara Vivian yang manja, "Sudahlah, jangan membuatku membayangkannya. Cepat makan saja.."

"Kamu memang pandai masak dan manis," puji Vivian duduk di kursi seaya melirik Chef Vino, "Tak heran anak majikanmu jatuh cinta padamu, jatuh nafsu mungkin."

Ia mulai memakan omeletnya.

Vino menggeleng. Ia duduk di hadapan Vivian, "Selalu anak majikan... tapi jarang sekali kamu memujiku, apalagi saat PMS. Makasih loh.."

"Aku tidak PMS!" tegas Vivian berdiri.

"Biasanya kalau PMS bilangnya gitu."

Dengan pipi memerah, Vivian meninggalkan Vino, "Emm..aku ingin menunjukkan sesuatu, sebentar."

Vino mengangguk, "Jangan lama-lama! Aku kangen ini."

"Apaan sih!" Kesal Vivian dengan gombalan tersebut

Awalnya Vino hanya tertawa lirih. Namun, dia mulai mendengar suara nyanyian setelah kekasihnya itu pergi beberapa menit. Suaranya seperti seorang wanita yang tengah bersedih sekaligus marah, dengan lirik berbunyi:

..kau hidupku, cintaku, seluruh jiwaku..

Ia melirik ke pintu misterius yang pernah didatangi Vivian. Telinganya yakin suara itu berasal dari dalam sana. Ia mendengar suara petir menyambar di luar, terlihat cahaya kilat mengerikan di balik jendela, angin keluar dari bawah pintu, suara nyanyian terus berkumandang.

"Halo?" Serunya memastikan tidak ada penyusup.

Nyanyian itu diulang-ulang, dan semakin lama semakin tak tentu arah datangnya, seolah ada dimanapun.

Apa mungkin ada ruang bawah tanah?, Pikir Vino mulai ngeri. Dia berseru lagi, "Siapa!"

Tanpa sengaja ia melirik cermin sebelah kiri pintu yang terpampang jelas di hadapannya. Ia menatap dirinya lama. Entah mengapa ia merasa aneh, perasaannya buruk.

Kenapa begini? Dimana Vivian?, Pikirnya melotot. Ia tak mampu mengeluarkan satu katapun di hadapan cermin berpinggiran penuh ukiran aneh itu. Dia ingin menoleh, tapi pandangannya tetap lurus. Bibirnya hanya terkatup rapat.

Tiba-tiba petir menyambar keras mengagetkannya. Ia yakin telah melihat sosok wanita muda bergaun biru tersenyum di bayangan cerminnya sendiri. Jelas itu bukan wajahnya. Ia menggeleng. Lalu menatap bayangannya kembali yang langsung normal.

"Sial," umpatnya berusaha mengendalikan rasa takutnya. Dia menggumam pelan, "Siapa atau apa barusan itu tadi! Tidak mungkin.. apa halusinasi ku saja?"

Petir menyambar kembali.
 
Terdengar jeritan Vivian dari kamarnya, "AAAAHHHHH!! VINOOO!!!"

Vino terkejut. Ia panik mendatangi sumber suara, "VIVI!"

Ketika ia pergi, kedua cermin besar tadi langsung retak diikuti dengan pecahnya halilintar yang menggelegar.

"Vivian?" teriak Vino berdebar-debar. Ia tampaknya lebih takut pada suara jeritan sang kekasih ketimbang sosok wanita yang jelas bukan manusia tadi.

Dia membuka pintu kamar Vivian, "Vivi?!! ADA APA!!"

"Vino!" jerit Vivian pucat sembari berlari ke arah sang pacar, "Aku melihatnya! Dia, dia tadi nyata!"
 
Vino mendekapnya. Ia cemas dengan darah yang membasahi tangan kanan Vivian dan lantai di samping tempat tidur, "Kamu berdarah?"

"Aku tak tahu," kata Vivian linglung. Ia takut, begitu ketakutan. Ia melihat darah di tangannya sendiri dengan ekspresi tak percaya, "Aku tak tahu. Kenapa ini? Siapa wanita itu tadi! Ada penyusup? Atau.. itu beneran.. hantu!"

Vino curiga. Ia melihat pisau berlumuran darah di atas meja kecil, "Vi.. kita harus pergi dari sini.. ini akan lebih buruk."

"Maaf, kamu.. kamu benar ternyata," ucap Vivian terbata-bata. Ia terus berdoa dalam hati agar diselamatkan dari gangguan arwah gentayangan yang sangat yakin bersamanya barusan.

Tetapi ketika mereka berbalik hendak melarikan diri, dengan secepat kilat dan tanpa diduga sebelumnya, pintu langsung tertutup rapat. Gedoran pintu terdengar keras.

Mereka mundur selangkah demi selangkah.

Jendela.., pikir Vino mengedarkan pandangannya untuk segera melarikan diri dari 'sesuatu' ini.

Tapi aura tidak enak mulai menyebar disekitarnya. Perasaannya buruk sekali. Namun ia tak mau menunjukkannya karena hanya akan membuat suasana hati Vivian semakin takut.

"Tenang," bisiknya.

"Hantu?"

"Aku tidak tahu, Vi.."

Lampu menjadi padam, jendela terbuka, serambi putih melambai-lambai terhempas angin. Cahaya perak petir terlihat mengerikan di luar sana. Gemuruh memperparah keadaan.

"Kita bisa keluar lewat jendela itu! Ayo!" Ajak Vino.

Tapi saat mereka mendekat, jendelanya menutup keras dan terkunci rapat. Vino mati-matian membukanya. Beribu umpatan dia lontarkan dengan wajah masih tidak mau mempercayai bahwa memang ada aktifitas paranormal disini.

Tidak mungkin.. tapi benar terjadi!, Pikirnya.

"Vin, kamu pikir hantu itu menutup pintu dan jendela?" tanya Vivian, "Aku melihat wanita itu. Ku kira aku hanya melihat bayangannya di cermin tadi.. tapi ternyata dia disini.."

"Vi, aku memang melihat sesuatu yang aneh tadi, seorang wanita bergaun biru," kata Vino mendekati sebuah laci dan mencari sesuatu, "Kamu punya linggis kecil?"

"Dia nyata, Vin."

Vino terus tidak menemukan apapun yang bisa dijadikan alat penghancur. Alhasil dia mulai frustasi dan hanya menjejak jendela kaca berkali-kali. Anehnya kaca itu seolah berlapis-lapis.

"Apa-apaan ini!" Bentaknya.

Tiba-tiba angin berhembus ke arah Vivian dari pintu. Ia merasa ada seseorang melewatinya. Ia pernah merasakannya, di rumah ini, tapi tak pernah sedekat ini.

Pipi kanannya ditampar oleh sesuatu.

"Ah!" teriaknya.

Ketika ia berpaling, giliran pipi kirinya terkena imbas.

"Ahh.." teriaknya kembali.
 
Vino berbalik menghampiri Vivian dengan panik, "Vi? Vivian? Ada apa, Sayang? Kamu kenapa? Kenapa dengan pipimu?"

Sekarang sesuatu menjambak rambut Vivian. Lalu pipinya ditampar kembali. "Ahhh.."

Vino langsung mendekap Vivian, "Tunjukkan dirimu! Jangan sakiti Vivian!"

Vivian menyembunyikan wajahnya di dada Vino dengan panik. Ia pernah diteror, tapi tak pernah secara fisik seperti ini, "Vino..ayo kita segera pergi!"

"Wanita sialan! tunjukkan dirimu!" teriak Vino semakin marah seraya nembelai rambut Vivian.

Beberapa menit tak ada kejadian berarti hingga mereka berpikir ini berakhir.

"Vi.. kamu punya kunci cadangan kamar ini? Vivian?" tanya Vino melepaskan tubuh Vivian.

"Vivian!" Panggilnya lagi lebih keras.

Wajah gadis itu menjadi datar nan pucat, tatapanya kosong. Ketakutan yang sebelumnya terpancar hilang, ia seolah tengah tidur dengan mata terbuka, seolah tengah menjadi jiwa yang hampa.

"Sayang? Vivian? Sayang, kamu kenapa? Sayang?" Tanya Vino menggoyangkan tubuh kekasihnya, "Vi!"

Angin kencang langsung menerpa tubuh Vivian kembali sampai membuatnya terguncang. Tapi kali ini, hembusan itu membiat matanya berubah merah. Lalu menatap sang kekasih dengan murka.

Vino sangat tidak suka pemandangan ini, "Vi? VIVI!"

Ini bukan Vivian! bukan! raut wajah berubah, pikir Vino berusaha menyadarkan gadis itu.

Tapi Vivian segera mendorong tubuh Vino sampai dia tersungkur di lantai. Kemudian menyunggingkan senyuman kecil.

"Vivian?" Heran Vino panik dengan kondisi sang kekasih, "Kesurupan? Tidak mungkin! VIVI!"

Senyuman Vivian berubah menjadi seringaian jahat.

Angin berhembus kepada Vino hingga membuatnya menabrak keras dengan pintu. Ia tersungkur kesakitan. Rasanya seperti tertabrak mobilnya sendiri. Entah mengapa dadanya sakit sekali, ia merasa memang ditabrak mobil.

"Apa yang terjadi? Vi? Vivian? Vivian!" Kejutnya mulai tidak bisa berpikir jernih. Apalagi melihat sang kekasih mengambil pisau di atas lantai tadi.

Gadis itu berjalan pelan mendekati Vino.

"Hei.." bisiknya tertawa lirih. Suaranya seperti desisan aneh yang mengundang kegerian.
 
Petir terus menyambar-nyambar. Bahkan anehnya bisa sampai memecahkan kaca jendela. Padahal Vino sudah mati-matian menjejaknya namun tidak retak sedikitpun.

"APA-APAAN INI!" Bentak vino

Kalimat yang pertama muncul di pikirannya adalah pasti hantu di tubuh Vivian ingin membunuhnya. Tapi pendapat itu salah besar, karena gadis itu tersenyum puas pada sang kekasih. Lalu mundur, "Ucapkan selamat.."

Vino berdiri. Ia berjalan mendekat, "Hei.. maksudnya apa itu.."

Hantu di tubuh Vivian melanjutkan, "Tinggal.." lalu memegang gagang pisau dengan dua tangan. Ia berteriak, mengangkat pisau, bersiap ingin bunuh diri.

Lalu artinya jtu akan membunuh Vivian juga!, Pikir Vino panik bukan main.

Petir menyambar hingga masuk ke jendela yang terbuka. Saking hebatnya, raga Vivian terjatuh. Entah kebetulan atau tidak, Vino mulai merasa petir seakan ingin menyambar hantu itu.
 
Kesempatan, ucapnya dalam hati. Dia langsung menarik lengan Vivian. Dia berseru, "Vi, sadarlah!"

Vivian berdiri dengan brutal, ia melirik tajam pria dihadapannya. Tatapan iblis. Ia tersenyum, mengancamnya dengan pisau tadi, "Sakiti aku, kau akan menyakitinya juga, ayo, bunuh aku, Sayang!"

Vino sangat bersyukur petir telah membantunya tadi. "Keluar dari Vivian!" bentaknya menghindari hujaman demi hujaman pisau yang diarahkan padanya.

Vivian tertawa keras.

"Siapa kau, Hantu sialan!" Bentak Vino. Ia menggoyangkan tubuh Vivian, "Bangun! Vivian! Sadarlah, Vivian!"

Tapi pisaunya berhasil menyayat lengannya. Darah keluar deras. Vivian tersenyum lebar, "Aku ingin kau membunuhnya, itu akan lebih baik.. cepat bunuh aku, Sayang..."

Vino merintih kesakitan. Sakit sekali. Sayatan itu begitu nyeri dan darah tidak hentinya berhenti. Ia menunduk, darahnya membasahi lantai. Anehnya, darah itu meresap pada sela-sela lantai keramik.

Mustahil!, Pikir Vino. Ia melirik tajam mata merah Vivian. "Keluar dari tubuh Vivian! kau wanita sialan! apa maumu!" menyambar lengan lain Vivian. Pisau akhirnya terlepas. Kini ia menggoyangkannya lebih keras. Tubuh gadis ini terasa sedikit lentur.

"Lepaskan Vivian!" Bentak Vino tidak tahan melihat tubuh kekasihnya semakin aneh.

"Semua orang yang tinggal disini harus mati, seperti aku, apalagi bagi seseorang yang memiliki cinta."
 
Petir menyambar untuk kesekian kalinya.

Vivian menendang kaki Vino, "Bunuh aku..."

"Sial, Vi!" umpat Vino tidak tahan. Ia mendorong Vivian ke tembok agar bisa mengendalikan raganya. Lalu berseru keras, "Bangunlah!"

Vivian mendorong balik tubuh Vino, "Atau aku yang membunuhmu."

"Oh, tidak bisa lagi!" Bentak Vino tersenyum pula, "Tidak ada tuan yang baik hati lagi!"

Ia menahan serangan Vivian sambil berusaha mencengkeram dagunya agar bisa mendengarnya berteriak, "KELUAR DARI TUBUH KEKASIHKU!"

Hantu di dalam tubuh Vivian menggila.

"Keluar!" bentak Vino tidak mau kalah menahan serangan tidak wajar kekasihnya, "Keluar! keluar!"

Petir kembali terdengar

Vino menyeretnya mendekati jendela, "Keluar dari Vivian! Jangan pernah mengambilnya dariku! Aku tidak peduli kau siapa! Vivian milikku!"

Vivian merontah-rontah seolah ada pertarungan di dalam raga itu. Ia memejamkan mata sesaat, sebelum membuka matanya yang kemerahan. Lalu menendang bagian tubuh Vino yang paling rahasia sampai pria itu melepaskannya, kemudian langsung menaiki tempat tidur.

Dia mengambil sebuah gunting yang tersimpan di bawah bantal, "Aku akan membunuh wanita ini, lalu kau.. wahai kekasihku!"
 
Vino masih mengumpat dalam kesakitan. Lalu menyusul Vivian, "Jangan! jangan! VIVIAN!"

Vivian menodongkan gunting tajam ke arah perutnya, "Matilah!"

Vino memegangi tangan sang gadis hingga keduanya layaknya terkapar di atas ranjang. Ia berteriak, "TIDAKK!" Seraya memandangi wajah Vivian dari atas memang sangat cantik, meskipun saat ini ada sesuatu di dalam tubuhnya, namun ia terpesona pada helai demi helai rambut yang terurai di sekitarnya.

"Vi.." panggilnya lembut. "Vivian? Bangunlah sayang, ini aku VINO! Sayang, tolong jangan seperti ini. Jangan biarkan dia merasukimu.. kita akan menikah.. sayang!"

Vivian merasakan gejolak batin. Raut wajahnya tampak melawan. Bibirnya yang tampak retak berusaha melafalkan nama orang yang dia cintai itu, "Vin..Vi.."
 
Ia menatap Vino dengan mata merahnya, lalu memaksakan diri untuk membebaskan tangannya. Ia memberontak, berteriak menggila sangat kencang, kakinya seperti sedang di rantai. Lalu membisikkan kalimat aneh.

Vino tak memahaminya sama sekali.

"Jika kau tidak membunuhku, kaulah.. yang akan mati.." bentak Vivian kembali kerasukan seutuhnya. Dia berhasil melepaskan tangannya dan langsung menusuk bahu kiri Vino dengan cepat, "Mati!"

Kilat dan petir menyambar.

Vino menyingkir dari tubuh Vivian. Ia memegangi bahunya yang mengucurkan darah. Saking sakitnya, urat-urat di kepalanya ikut bergetar.

"Sayang, Vivian!" Teriaknya sedih.
 
Tubuh Vivian tergeletak di atas ranjang dengan mata merahnya. Ada yang bertarung di dalamnya, seperti ada jeritan demi jeritan di dalam jiwa yang asli untuk kembali..

Petir menyambar, lebih keras dan cahaya kilatnya sampai ke dalam jendela.

Vivian berteriak. Sesuatu keluar dari tubuhnya, sesuatu mirip sekumpulan debu putih dan menghilang seketika.

Vino tak bisa melihatnya lagi. Ia mendekatinya sambil memohon dengan tatapan mata sedih, "Vivian? bangun.. kumohon. Lihat, kamu melukaiku loh, Sayang.."

Beberapa saat kemudian, Vivian membuka matanya dan mata berwarna hitam kecoklatan itu telah kembali, "Vin?"
 
Vino terbaring disebelahnya. Ia membelai kening Vivian. Tersenyum, "Vivian? Ini kamu?"

"Aku merasa ingin muntah, mual sekali," gumam Vivian memegangi perutnya.

Vino tersenyum, "Tidurlah, aku akan panggil dokter dan.. pengusir syetan atau semacamnya," dia buru-buru turun ranjang mencari ponsel milik kekasihnya.

Kelopak mata Vivian mulai berat. Dia merasa seperti sudah mengantuk sekali. Bahkan tidak butuh banyak waktu, dia tahu-tahu terlelap. Padahal dia ingin memastikan keadaan Vino.

"Vivian?"
 

°°°°°°°

Keesokkan harinya...

Vivian terbangun dengan posisi tubuh sudah benar di atas ranjang. Ia merasa hangat. Ada rasa nyeri sedikit di tangannya.

Vino tengah duduk di sampingnya sambil meminum teh. Dia bertelanjang dada dengan bahu sudsh di di perban. Ia melihat Vino tengah duduk di sampingnya sembari meminum secangkir teh dan membaca sebuah koran bekas.

"Vin?" Panggilnya.

Vino meletakkan cangkirnya. Ia tersenyum padanya, "Selamat pagi, Vi. Tidurmu nyenyak sekali, dokter cerewet bahkan tidak bisa membangunkanmu."

"Kenapa dengan.."

"Semalam kamu mungkin kerasukan," potong Vino serius, "Kamu merasakannya?"

Vivian memaksakan diri untuk duduk, "Ya, aku merasa entahlah.. sulit kujelaskan.. aku seperti ditahan.. dan aku tidak bisa bernapas.."

"Dengarkan aku, Vi. Polisi membongkar ruangan di dapurmu itu, mereka menemukan tali yang menggantung bersimbah darah disana dan secarik kertas... seperti nyanyian.." jelas Vino, jeda sesaat, lalu melanjutkan, "Mereka berkata wanita itu sudah dimakamkan puluhan tahun lalu, tapi mereka tidak menyangka jika ternyata nona Greta, wanita itu, mati bunuh diri. Itu saja yang kutahu.."

"Apa yang terjadi saat aku kerasukan?"

"Kamu memukulku, kamu menendangku, menyayatku dengan pisau, kamu... memukul daerah paling berbahaya.. adikku.." sahut Vino tersenyum, "Dan terakhir menusukku dengan gunting."

Vivian tertegun, "Kenapa aku selalu ingin membunuhmu?"

Vino tertawa, "Kamu harus melahirkan anak kita dahulu sebelum berakhir di rumah ini... kamu bisa membayar perlakuanmu kemarin dengan menikahiku."

"Bisa-bisanya menggombal di saat seperti ini," kesal Vivian.

"Aku bercanda, Sayangku. Sebaiknya bereskan barangmu karena aku yang akan mencari rumah baru untukmu. Aku tidak akan membiarkan kamu berada di tempat mengerikan seperti ini. Siapa tahu dia datang lagi.. aku jadi paranoid,  sejak semalam, ada penjagaan di luar rumah ini."

"Dia ingin membunuh kita."

"Ku dengar dari pendeta, ia bunuh diri karena alasan cinta. Kisahnya panjang sekali.. dulu dia dilukai suaminya. Kemudian membunuhnya lalu berakhir di gantungan tali."

"Itu.."

"Sejak saat itu dia menghantui para penghuni yang sedang jatuh cinta. Dia tidak terima ada pasangan bahagia di rumahnya, sedangkan dia merasakan patah hati di dalam keabadian.

"Kasihan, waktu itu aku melihatnya seperti sosok wanita yang dipenuhi amarah."

"Hantu itu paling benci dengan gadis muda sepertimu karena mengingatkannya pada kenangan pahit itu."

"Begitu ya, aku beruntung bisa bertahan tanpa terbunuh selama seminggu."

"Sebenarnya dia menunggu untuk merasukimu saat aku juga ada disini.."

"Kenapa?"

"Sudah jelas, agar kita sama-sama mati."

"Jahat sekali!"

"Pendeta yang menceritakan ini padaku, sebenarnya pemilik terakhir rumah ini sudah mati, Sayang, artinya yang menyewakan ini padamu itu sudah tidak ada. Sudah kuduga, jangan pernah percaya rumah tua!"

"Tidak mungkin!"

"Dulu juga pernah ada yang sepertimu dan syukurnya selamat.  Pendeta dan pihak lainnya sepakat tempat ini akan diruntuhkan. Walaupun dia mengatakan tempat ini sudah 'bersih',  aku masih tidak percaya hal-hal semacam pengusiran syetan, jadi lebih baik hari ini, kita pergi."

"Ya, benar."

"I love you.."

"I love you too."

"Kau lihat, bahkan setan pun tidak akan bisa memisahkan Vino dan Vivian."

Vivian masih bergidik setelah mendengar semua itu. Ia langsung turun ranjang seraya berkata, "Ayo pergi sekarang! Jangan berhenti sambil minum teh.. aku akan pesan taksi saja ya, bahumu pasti sakit banget, tidak mungkin nyetir.."

"Tidak masalah kok, Vi," kata Vino mulai memakai pakaiannya. Dia menyentuh bahunya, "lukanya tidak dalam."

"Tetap saja.." tegas Vivian mulai membuka kopernya, memasukkan seluruh pakaian di lemari. Dia melirik kekasihnya, "Kamu sudah dapat tempat'kan?"

"Belumlah, aku memang bilang aku yang cari, tapi untuk sementara ke apartemenku saja. Selamanya disitu juga tidak masalah, jangan khawatir aku jarang pulang kesitu'kan. Jadi jangan melihatku seperti aku akan melakukan tindakan plus-plus padamu."

°°°°°°°°

 

How do you feel about this chapter?
1 0 0 0 0 0
 
Save story

Page 1 of 0 (0 Comment)

Recommended Stories

Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

467 377 6
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

685 507 8
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 830 8
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 753 13
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

710 536 8
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

575 449 14