ada satu hal yang paling menyakitkan diantara yang kukira paling menyakitkan,

seseoang yang kukira benar kulupa nyatanya tidak sepenuhnya bisa kulupa,

dia datang sekalipun untuk bertanya soal tarawih semalam lewat pesan,

ketika ku diamkan pesannya, aku justru merasa bersalah entah karena alasan apa.

aku membalasnya dan rasanya tidak ingin dengan kalimat singkat,

namun itu seolah peraturan yang mau tidak mau harus kulakukan, karena itu peraturanku untuk bisa lupa.

dan nyatanya Tuhan tidak benar-benar memberitahunya bagaimana caraku untuk bisa lupa dia,

bahkan untuk tetap memandang depan disaat kudengar seseorang memanggil Dayat di belakangku,

berusaha untuk tidak cemburu disaat temanku bercerita tentangnya dengan penuh kebahagiaan, seolah Dayat memang hanya baik padanya.

huh, tidak,

ini bukan awalan yang tepat setelah sekian lama aku menghilang,

seolah kau memang hanya perlu membaca tulisan menyedihkanku tanpa tahu siapa Dayat dalam versiku,

aku bahkan tidak berniat untuk menceritakannya lebih detail, kau pasti akan ikut jatuh cinta padanya secara perlahan.

 

—rifkhod

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Page 1 of 0 (0 Comment)