aku selalu berpura-pura tak melihat karena tak selalu berani menyapa, dimanapun dan dalam keadaan apapun. 

aku selalu berpura-pura tak melihat karena tak selalu berani menjawab sapaannya, selalu ada efek yang membuatku terasa hampir mati, detak jantung yang berlebihan membuatku tak nyaman.

di saat tak ada orang yang hanya ada aku dan Dayat, aku memilih diam dengan menyibukkan diri dengan ponsel atau hal lain, hal itu mungkin membuatku tampak tak peduli apalagi tertarik padanya.

di saat ada orang selain aku dan Dayat, aku lebih memilih untuk bergabung dengan mereka dan tentu saja begitu. jika Dayat datang untuk ikut bergabung perbincangan, aku kembali memilih diam dengan menahan detak jantung dan wajah panikku, aku takut dia mengetahui apa yang sebenarnya kurasakan tentangnya, meski kenyataannya dia tak akan pernah tahu karena aku yang tak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa aku menyukainya.

dan untuk kali pertamanya aku masih bertahan menyukai seseorang dengan diam, selama lebih dari tiga tahun, tanpa bosan melengkungkan senyum ketika bertemu dengannya dan ketika dia berlalu meninggalkan. dia tak melihatku namun tetap membuat bibirku melengkung, senang, hanya karena melihat wajahnya, sekalipun itu hanya sekilas.

mungkin jatuh cinta mengajarkan manusia menjadi orang paling bodoh di dunia, melakukan apa-apa yang mereka anggap menjijikkan namun tetap bahagia, seperti ketika berkali-kali melewati dirinya dengan berpura-pura tak tahu namun berharap dia menatap ke arahku. ini hal bodoh yang berkali-kali kulakukan, tanpa bosan.

dan Selasa siang, tepatnya pukul 9. 50 menit—mungkin lebih, atau kurang. aku kembali melihatnya setelah lama tak kulihat wajahnya, diacara pernikahan seseorang dengan perempuan yang dia panggil mamah. aku berharap orang tuamu dan orang tuaku nanti menjadi besan, seperti dua belah keluarga yang saat ini resmi menjadi besan.

 

—rifkhod

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Page 1 of 0 (0 Comment)