Hamburg merupakan kota terbesar kedua di Jerman dan dianggap sebagai salah satu kota terindah di negeri itu menjadi salah satu tempat yang Byan kunjungi. Selama tiga bulan, Byan diberi tugas untuk meliput tempat-tempat indah di benua Eropa yang tentu saja dikenal memiliki negara-negara dengan kota-kota yang indah.

Byan memiliki profesi sebagai fotografer di suatu perusahaan terbesar di luar negeri. Sebenarnya Byan hanya berangkat sendiri, hanya saja karena Byan memiliki teman sesama fotografer di kota tersebut, teman-temannya dengan suka rela menyambut kedatangan Byan di bandara. Mereka juga membantu Byan mencari apartemen untuknya.

Entah mengapa kondisi tubuh Byan tiba-tiba drop. Mungkin karena dia terlalu lelah dengan perjalanannya dan kota ini adalah tempat terakhir yang ia kunjungi. Byan ingin sekali segera mendapatkan apartemen itu, tubuhnya benar-benar menjadi lemah dan akhirnya Byan tumbang. Ia tidak bisa menopang tubuhnya lagi, semua saraf di tubuhnya terasa melemah. Tentu saja melihat keadaan Byan yang mendadak lemah itu, membuat teman-temannya panik. Seorang pria tegap tiba-tiba datang dengan wajah heran, ia segera menolong Byan dan menggendongnya ke taksi.

“Byan, kita lebih baik ke rumah sakit dulu, masalah apartemenmu sudah kami dapatkan,” ucap salah satu temannya.

“Tidak, kita langsung ke apartemen saja,” ucap Byan lemas, matanya pun tidak sanggup terbuka lagi. Untuk bicara saja ia susah. Tapi, memang. Byan tidak suka dengan rumah sakit, ia bisa mengatasi masalah kesehatannya sendiri selagi itu tidak terlalu parah, itulah prinsipnya.

Untung saja apartemen yang akan Byan tinggali tidak terlalu jauh. Jadi mereka bisa segera memulihkan keadaan Byan.

“Terima kasih, Tuan. Kami sangat beruntung bertemu denganmu, sungguh kami sangat khawatir dengan keadaannya,” ucap salah seorang teman Byan dengan formal ketika mereka telah sampai di apartemen Byan.

“Tidak masalah,”ucap pria itu.

“Maaf, bisakah Tuan menjaganya di sini sebentar saja? Kami ada keperluan.”

“Baiklah.”

Byan tidak lama kemudian sadar, dia melihat seorang pria yang tengah terlelap di sampingnya. Sontak Byan terkejut dan menghindar dari pria itu. Tentu saja akibat guncangan yang Byan timbulkan itu membuat pria itu terbangun.

“Syukurlah, kau sudah sadar, Nona,” ucap pria  itu tersenyum.

“Cepat pergi dari sini, atau kubunuh kau!” ancam Byan.

“Tenanglah, Nona. Aku akan pergi, tapi teman-temanmu belum kembali. Mereka memintaku untuk menjagamu sampai mereka kembali.”

“Aku bilang pergi. Apa kau tuli, hah?”

“Baiklah, Nona. Semoga kau lekas pulih.”

“Aku tidak butuh doa darimu.”

Pria itu pergi sambil menggelengkan kepalanya, ia heran dengan sifat Byan yang kurang sopan itu. Bahkan pria tersebut sempat berpikir bahwa mental Byan saat ini sedang terganggu. Sedangkan Byan yang sudah berkeringat dingin karena kehadiran pria itu berusaha mengatur jalan pernapasannya. Ia mengambil obat penenang yang ia letakkan di saku tasnya.

“Byan, akhirnya kau sudah sadar. Tapi, ke mana perginya pria yang..”

“Apa kalian tidak ingat aku anti dengan pria? Apa kalian sengaja, hah?” Baru saja Byan meredakan emosinya, kini amarahnya kembali membuncah.

“Maaf, tadi kami sangat panik dan pria itu dengan suka rela membantu kami untuk menolongmu sampai di sini.”

“Kalau begitu, tinggalkan saja aku di sana! Kalian ini benar-benar ingin aku mati secara perlahan tapi menyakitkan.”

“Tapi..”

“Sudahlah, Rose. Biarkan dia menenangkan dirinya dulu!” ucap salah seorang teman yang lain.

“Maaf, Byan.”

Setelah Byan merasa sedikit tenang, ia meraih kopernya dan memakai kembali jaket beserta syalnya. Ia akan pergi dari sana secara diam-diam. Dia tidak ingin bersama teman-temannya lagi, bisa-bisa ia gila dan tidak dapat menyelesaikan tugasnya yang hampir selesai itu. Dia akan memilih tinggal di apartemen lain sesuai dengan pilihannya sendiri. Byan berusaha untuk lari walaupun kondisi tubuhnya belum sepenuhnya stabil.

Byan menunggu di sebuah halte bus dan berniat mencari apartemen yang jauh dari teman-temannya itu. Ia duduk di bangku halte, dan di papan pengumuman rute selanjutnya akan tiba sekitar seperempat jam lagi. Nada dering ponselnya membuat Byan keluar dari lamunan panjangnya yang tidak jelas. Ia yakin itu adalah panggilan dari teman-temannya itu, ia pun langsung melepas baterai ponselnya. Ia sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun, masih ada rasa kesal tersimpan di dalam hatinya.

Byan yang menunduk memandang sepatunya tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan sepasang sepatu lain di depannya. Dilihat dari ukuran dan model sepatunya, sosok yang berada di depannya itu adalah seorang pria. Byan mulai merasa cemas, ia berdoa semoga saja pria itu tidak membuatnya kesal dan hanya menunggu bus selanjutnya sama seperti dirinya. Namun, entah mengapa pria itu tidak pergi juga dari hadapannya. Tentu saja Byan mendongak, memastikan sosok pria yang kemungkinan akan membuatnya kesal lagi.

Waktu seakan berhenti bergerak untuk Byan. Matanya yang membelalak, mulutnya yang bungkam, dan seketika hening seperti tidak ada pergerakan sedikitpun di sekitarnya. Sosok yang berada di depannya itu mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya. Pria itu tersenyum, ternyata ia tidak salah orang, dia menemukan orang yang tepat. Mata Byan yang tadinya membelalak, seketika meredup dan wajahnya menjadi pucat pasi. Tangannya yang gemetaran disembunyikannya di belakang, ia berusaha mengontrol emosinya.

Jangan sekarang, kumohon…

“Byan,” ucap pria itu.

Byan tidak memandang pria itu lagi, ia mengalihkan pandangannya. Ia tidak akan peduli pada pria itu, sedikit pun tidak akan. Pria yang sudah lama ia buang jauh-jauh dari pikirannya. Pria yang membuatnya merasa sangat bersalah seumur hidupnya.

Perlahan pria itu mengulurkan tangannya menyentuh Byan, untuk memastikan apakah semua yang ia lihatnya adalah kenyataan atau hanya ilusi semata. Dengan cepat Byan menepis tangan itu.

“Kita bertemu lagi,” ucap Byan dengan sangat sinis, “tapi akan kupastikan pertemuan ini tidak akan terulang kembali.”

Byan beranjak dari tempat duduknya. Namun, dengan sigap pria itu memegang tangan Byan dengan sangat erat. Kumohon, jangan sekarang… Walaupun Byan memberontak, Yudha tidak akan melepaskannya sebelum Byan mendengar semua penjelasannya.

“Lepaskan aku!” ucap Byan memberontak.

Yudha melihat tubuh Byan yang tidak berhenti bergetar, apa dia sebenci ini padaku? “Byan, lupakan semua itu, kumohon jangan diingat lagi. Aku mengerti, tapi jangan buat dirimu tidak pantas berada di dekatku. Jangan buat diriku sakit, aku merasa kau membuat dirimu sebagai peran antagonis dalam kehidupan ini. Sudahilah semua ini,” ucap pria itu memohon.

Dengan sangat riang Byan berlari menuju taman sekolah, ia akan bertemu dengan sahabatnya, Yudha. Ia ingin bercerita tentang boneka baru pemberian Ayahnya. Namun, Byan melihat Niko dan teman-temannya sedang mengerumuni Yudha. Tentu saja hal itu membuat Byan penasaran dan menghampiri mereka.

“Byan itu..”

“Ada apa denganku?” Byan bertanya langsung pada Niko dengan memotong perkataannya.

“Akhirnya kau datang juga. Mulai saat ini, jangan dekati Yudha lagi, jauhi dia! Kau tidak pantas berteman dengannya,” ucap Niko sambil menarik Byan menjauh dari Yudha, ia tidak ingin Yudha terjangkit virus Byan yang sangat dibenci semua orang itu. Entah virus apa itu sebenarnya.

“Kenapa? Apa salahku?”

“Ayah Yudha meninggal gara-gara Ayahmu. Ayahmu telah membunuh Ayahnya dan anak seorang pembunuh harus dijauhi, karena kami tidak mau tertular dengan virus pembunuh itu.”

“Ayahku bukan pembunuh, kalian semua bohong. Kalian hanya ingin mengadu domba Yudha dengan aku!” ucap Byan dengan suara yang sangat keras. Ia memandang Yudha yang bungkam dan menunduk tanpa melihatnya sedikitpun. Tentu saja hal itu membuat Byan sangat sedih, ia difitnah dan sahabatnya itu bungkam, tidak membelanya sedikitpun.

Disaat hari pemakaman Ayah Yudha, Byan datang untuk meminta maaf kepadaYudha. Wajah Byan terlihat sangat pucat dan matanya yang bengkak juga sembap. Namun, Niko yang kebetulan sedang berada di upacara pemakaman tidak mengizinkan Byan mendekati Yudha justru Byan mendapatkan sebuah bentakan dan makian dari Niko. Byan, yang tetap bersikukuh dengan niatnya mengancam akan membunuh Niko jika ia tidak mengizinkannya. Niko yang tidak mau bernasib sama dengan Ayahnya Yudha memilih berlari tunggang langgang menjauh dari Byan.

“Yudha, maaf. Mereka benar, Ayahku adalah seorang pembunuh. Sekarang Ibuku pun habis ditangannya. Mulai sekarang kita tidak perlu bertemu lagi. Anggap saja kita tidak saling mengenal!” ucap Byan sangat lirih.

Byan berusaha tersenyum lebar di hadapan Yudha. Ia menyembunyikan tangannya yang gemetaran di belakang. Ia tidak dapat menahan bendungan air mata dan emosinya lagi. Tidak perlu menunggu lama, Byan langsung berlari menjauh dan menangis tersedu meninggalkan Yudha yang diam terpaku. Rasa yang sangat bersalah dan takut sedang menghukumnya saat ini.

“Seharusnya kau menuruti perintahku. Apa kau ingin dibunuh juga, seperti pria itu membunuh Ayahmu, hah!” ancam Byan. Ia menunduk, tangannya mengepal.

“Jika kau ingin, lakukan saja. Asalkan kau jangan menjauhiku lagi,” ucap Yudha meletakkan tangan Byan di dadanya, “Bunuh aku tepat di sini!” lanjutnya dengan lembut. Apa ini sebenarnya? Selain terlihat ingin mempertahankan Byan ia juga terlihat sedikit menggombali Byan.

“Baiklah, jika itu yang kau mau. Aku akan melakukannya dengan senang hati,” ucap Byan parau, ia berbalik dan memukul dada bidang Yudha dengan keras. Air matanya mengalir deras. Ia berhalusinasi kalau di tangannya tengah ada sebilah pisau tajam yang akan ia gunakan untuk menikam Yudha. Byan terus saja meracau dengan suaranya yang parau. Ia benar-benar tidak ingin melihat wajah itu lagi. Wajah yang selalu mengasihaninya, wajah yang membuat ia merasa sangat muak dengan kehidupannya yang sangat menyakitkan.

Kenapa belum mati juga?

Ia sudah tidak tahan dengan semua penderitaan yang timbulkan masa lalu untuknya. Ia ingin merasa tentram dalam kehidupan ini tanpa merasakan sakit sedikitpun. Ia tidak ingin merasakan obat-obatan yang banyak lagi, ia tidak ingin mendengar ocehan psikiater tentang kelainan Post Traumatic Stress Disorder yang ia miliki lagi. Ia tidak ingin terpenjara dalam rasa sakit yang tidak tertahankan lagi.

Byan menyenderkan kepalanya di dada Yudha dengan tangan kanannya yang masih memukuli dada Yudha sedangkan tangan kirinya menopang dahinya tepat di tengah-tengah kepala dan dada Yudha. Perlahan Yudha memeluk dan menenangkan Byan. Ia tidak tahan mendengar tangisan Byan, justru tangisan itu membuat hatinya semakin sakit.

“Aku tidak pantas berada di dekatmu,” lirih Byan. Karena kelainan jiwa yang kumiliki.

“Siapa bilang? Aku bahkan merasa kau lebih pantas berada di dekatku,” balas Yudha.

“Tapi..” Kau tidak tahu sekarang aku ini seorang wanita gila.

“Yang bersalah adalah Ayahmu, sedangkan kau sama sekali tidak bersalah.”

Bukan itu, “Jangan bilang pria itu sebagai Ayahku lagi! Dialah yang telah membunuh Ibuku.”

“Baiklah.”

Byan kembali duduk di halte bus.

“Jadi, kau tidak akan menjauhiku lagi?” kembali Yudha menanyakan perihal itu.

“Akan kucoba,” ucap Byan sembari menutup matanya. Ia berusaha meyakinkan dirinya dengan keputusannya itu. Pada kenyataannya, Byan masih begitu berat untuk dapat berada di sisi Yudha karena kelainan PTSD-nya. Ia berusaha menerima Yudha karena rasa bersalahnya akan kesalahan Ayahnya di masa lalu, ia tidak ingin membuat pria itu merasa sedih.

“Terima kasih. Oh iya, kau ingin ke mana?”

“Aku ingin mencari apartemen.”

“Kalau begitu ikut aku! Di sebelah apartemenku ada apartemen kosong. Apakah kau mau?” tawar Yudha.

“Hmm..,” ucap Byan sembari mengangguk pasti. Berhasil, ia bisa menjauh dari teman-temannya yang membuatnya kesal itu. Tapi ada firasat buruk yang ia rasakan, ia takut saat-saat ia akan menghadapi Yudha dengan kelainannya itu. Ini saja ia menahan emosi dengan sekuat tenaga.

“Ayo!” Yudha membawa Byan memasuki bus yang kebetulan sudah datang. Sontak Byan terkejut dengan perlakuan Yudha, karena itu ia memukul kepala pria itu. Ini belum seberapa. Sampai kapan aku harus menahan emosi?

Ketika mereka telah sampai di apartemen, tanpa aba-aba sedikit pun dari Byan Yudha langsung membantunya beres-beres. Apartemen itu sudah tampak berabu di setiap sudutnya. Wajar saja tempat itu terlihat kusam, apartemen itu sudah satu tahun ditinggalkan. Pemilik apartemen juga sepertinya sudah tidak peduli, pemiliknya hanya akan membersihkannya jika ada orang yang memesan tempat tersebut.

 “Terima kasih, kau telah membantuku sampai sejauh ini,” ucap Byan yang juga sudah selesai beres-beres.

“Haha, hal itu tidak masalah untukku. Aku bahkan sangat senang jika aku bisa membantumu, Byan.”

 “Apa kau masih ingat. Jika kita makan kue kau pasti ingin kuenya dihiasi krim, ‘kan? Daaan… ini untukmu,” ucap Yudha memberikan sepotong kue yang sudah dihiasi dengan krim.

Mendadak Byan berteriak histeris, ternyata dampak dia menahan emosinya tadi membuatnya meledak. Wajahnya memerah, dia seperti tengah dirasuki iblis. “Keluar!” ia kembali teringat akan traumanya, ia bukan melihat Yudha melainkan mendiang Ayah yang hendak memukulnya.

“Byan?”

Byan meraih vas bunga yang ada di meja dan memecahkannya lalu menodongkannya pada Yudha. Yudha yang khawatir akhirnya menyerah dan memilih keluar apartemen itu.

Setelah Yudha pergi, dengan tertatih-tatih Byan mencari obat penenangnya sebelum ia mencelakai diriya nanti. Dosis obat penenang yang biasa ia konsumsi tidak mampu meredakan emosinya, tanpa pikir panjang Byan mengkonsumsi obat itu tiga kali dari biasanya.

Namun, karena terlalu banyak pil yang ia minum, tubuhnya melemah dan ambruk. Kesadarannya hilang. Ia menyesal sudah menahan emosinya dari Yudha, seharusnya ia langsung pergi tadi. Tapi sudah terlambat, mungkin dia akan ditemukan mati menggenaskan di apartemen itu.

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

yurriansan
2019-03-07 13:05:27

Ceritamu menarik. Ayo dilanjutkan. Semangat.
Ada masukan sdikit ukmu. Bbrp kta mungkin prlu di italic. Misl: sst.
Oh ya, kmu boleh jga ksh saran buat tulisanku. Judulnya:When He Gone. Salam

Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

710 536 8
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 830 8
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

275 220 3
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

456 351 4
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

575 449 14
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

467 377 6