Suara pekikan dari dalam rumah membuat seorang gadis kecil yang memasuki pekarangan rumah tersebut terkejut. Suara gaduh apa yang terjadi di dalam rumahnya? Apa mungkin seorang pencuri? Tapi, tidak mungkin. Di dalam rumah itu ada pahlawan supernya, tidak mungkin ada pencuri yang berani dengan Ayahnya.

 

Gadis itu pun langsung memasuki rumahnya tanpa rasa takut dan cemas sedikit pun. Apa yang perlu ia takutkan? Pahlawan supernya sudah menunggu di dalam rumah. Dia tidak perlu cemas sedikit pun. Jika ada bahaya, pahlawannya itu tidak akan tinggal diam, ia akan langsung memusnahkannya.


“Ayah, Byan pulang,” ucap gadis kecil itu. Ketika ia pulang ia selalu mengucapkannya agar sang pahlawan menghampirinya dan mengajaknya bermain. Tapi, sepertinya untuk hari ini tidak. Justru Ibunyalah yang datang, lalu ke mana Ayah?


“Byan pergi ke rumah Tante Indah dulu, ya. Nanti Ibu jemput,” ucap Ibunya.


“Ayah?”


“Oh, Ayah sedang istirahat di kamar. Ayo, Ibu sudah pesankan taksi untuk kalian.”


“Ya sudah, ayo Dian,” ucap Byan kecil sambil menggandeng Dian menuju taksi yang akan mengantar mereka ke rumah Tante Indah.


Ketika mereka telah sampai tujuan, ternyata Tante Indah sudah menunggu mereka di gerbang. Caca, sepupu mereka juga berada di sana sambil melambaikan tangan ke arah mereka. Setiap kali datang, mereka selalu mendapat sambutan hangat dari Tante Indah dan Caca.


Namun, tanpa Byan duga, Byan sudah menunggu orangtuanya sangat lama. Dia bingung apa yang terjadi dengan mereka. Setiap kali Byan bertanya pada Tantenya, selalu dijawab bahwa mereka sedang bekerja ke luar kota dalam waktu yang sangat lama. Jika, memang hal itu benar mengapa mereka tidak sekali pun menghubunginya? itulah pertanyaan yang selalu menghantui pikiran Byan hingga sekarang.

 

Baginya, sesibuk apa pun orang tua pasti akan menghubungi anaknya, setidaknya sekali saja.
Sehingga muncul di pikiran Byan untuk menemui orang tuanya ke rumah dengan berpura-pura pergi ke sekolah. Ongkos yang ia tabung selama ini sudah mencukupi untuk biayanya, bahkan lebih dari cukup. Ia tidak bisa tinggal diam dengan semua ini. Anak mana yang tidak rindu dan khawatir dengan keadaan kedua orang tuanya.


Namun, seketika ia sampai di rumah, timbul rasa penyesalan dari dalam lubuk hatinya. Mengapa ia tidak tahu dengan kondisi orang tuanya yang tidak disangka-sangka? Keluarga itu begitu buruk dan hancur sama seperti hatinya yang kini berkeping melihat di depan mata kepalanya sendiri sebuah bentuk penyiksaan dari seorang pria yang telah ia bangga-banggakan selama ini.


Ternyata, selama tiga tahun terakhir ini Ibunya telah menahan rasa sakit dari sebuah penyiksaan yang begitu keji dari Ayahnya. Peristiwa yang terjadi di depannya itu benar-benar membuatnya bungkam dan bergemetar. Tangannya yang sedari tadi mengepal, matanya yang membendung air mata, tubuhnya yang bergetar sangat hebat membuatnya sangat muak.


“Ayah!” Byan berteriak. Amarahnya sudah tidak terkendali lagi. Ia menghampiri Ibunya dan berusaha menghalangi pria itu.


“Byan?” Sebuah tatapan sendu ia dapat dari Ayahnya, pahlawan supernya. Tatapan sendu yang dulu membuatnya tersenyum kini membuatnya sangat muak. Ayahnya dengan perlahan mendekati Byan dan tangannya yang perlahan ingin mengapai sosok mungil yang sangat ia rindukan.


Byan menghempaskan tangan pria itu darinya,“Jangan coba-coba menyentuhku dengan tangan kotor itu! Jangan sentuh siapa pun di sini! Apa ini yang kau lakukan padanya selama ini, hah?” ia terdiam sejenak, napasnya yang menderu dan detak jantungnya menjadi tidak terkendali, “Selama ini kau hanya memperlihatkan topeng busukmu itu padaku. Selama tiga tahun ini kau menyiksa Ibuku seperti binatang, sialan! Aku tidak menyangka memiliki Ayah sebejat dirimu.” Kata-kata kasar itu dengan leluasanya lolos dari mulut Byan. Sosok yang dulu sangat ia hormati dengan entengnya pupus dari kamus kehidupannya.


Sebuah tamparan mendarat di pipinya, tamparan yang tidak pernah ia dapatkan dari seorang Ayah yang ia cintai. Ayah yang dulu ia cintai ternyata sosok seorang iblis yang laknat. Di luar perkiraan, Byan yang dikenal sebagai anak yang sopan kini meludahi Ayahnya sendiri. Sungguh, hal itu telah membuat Ayahnya sangat murka.


Kini bukan hanya Ibunya saja, ia juga di siksa seperti seekor binatang oleh Ayahnya. Perlakuan yang tidak berperikemanusiaan itu sungguh membuat Byan menyesal telah terlahir dari keluarga yang berantakan. Keluarga yang selama ini ia banggakan hanyalah sebuah tipuan belaka, semua itu hanyalah permainan yang dibuat menjadi nyata di matanya.


“Byan.” Sebuah sahutan membuat Byan terkejut dan keluar dari lamunan yang membuat ia harus mengalami terapi selama bertahun-tahun.


“Kak Caca?” ucapnya lirih. Ternyata tanpa ia sadari selama ia melamun kondisinya juga mulai berantakan. Matanya yang sembap, hidungnya yang merah dan juga rambutnya yang sudah acak-acakan.


“Byan, apa kau ada masalah?”


“Tidak, aku cuma pusing sama.. emm.. skripsi. Kakak tahu sendiri kan, kalo mahasiswa berhadapan sama skripsi itu gimana, hehe..” Byan berusaha menutupi lukanya dengan senyuman pahit. Luka itu begitu dalam, walaupun telah diobati dengan sebaik mungkin tetap saja meninggalkan bekas.
Caca yang sebenarnya tahu yang Byan pikirkan, menatapnya nanar. Byan tidak akan bisa menyembunyikan kesedihannya dari Caca. Caca tahu bagaimana Byan yang menderita karena insiden itu. Ia tahu bagaimana kondisi Byan saat ia depresi, karena Caca selalu berada di sampingnya selama perawatan itu berlangsung.


***


Wisuda adalah momen yang sangat membahagiakan bagi para mahasiswa wisudawan. Namun, lain halnya dengan Byan. Disaat wisudawan lainnya tengah asyik mengabadikan momen dengan para sahabat dan keluarga, ia hanya duduk termenung di bangku taman kampus. Hari itu hanya sebagai hari kelulusan baginya, tidak lebih. Bimo yang kebetulan lewat, melihat Byan yang sedang melamun itu. Sebenarnya Bimo sudah tidak bertingkah lagi selama sebulan terakhir ini, tapi ketika ia melihat Byan yang sendirian, batinnya memberontak mengatakan bahwa dia harus menghibur Byan.


“Mm… hai!” ucapnya sedikit ragu-ragu. “Kau tidak bergabung dengan yang lainnya?”


“Tidak.” Byan menjawabnya dengan cepat, singkat dan jelas. Baru kali ini Byan mau berbicara dengannya. Tampaknya ia sedang tidak sesinis biasanya. Ya, ia benar-benar sudah tidak peduli dengan siapa pun dulu untuk saat ini, dia tidak memiliki semangat sedikit pun.


“Mengapa?” tanya Bimo. Kali ini Byan hanya menjawab dengan sebuah gelengan. Tatapannya tetap mengarah ke depan, sedikit pun ia tidak mengalihkan pandangannya. Ia tetap terfokus pada pikiran tersembunyinya.


“Byan, kau ingin tahu kebenaran tentang gosip di kampus kita yang menyangkut diriku itu?” Bimo menunggu jawaban Byan dengan sangat sabar, namun Byan tetap diam dengan pandangan yang kosong, entah ke mana jiwanya berkelana saat ini.


“Apa yang mereka katakan itu memang benar, tapi tidak sepenuhnya benar sih. Haha..” Ia tetap gagal mengaihkan perhatian Byan, “Ehem, awalnya aku hanya ingin berkenalan denganmu saja. Pertama kali aku bertegur sapa denganmu, kau tidak menyahutku. Justru aku mendapatkan tatapan yang belum pernah aku lihat. Bukan tatapan benci, tapi.. hahaha, maaf sebelumnya. Sejak hari itu aku selalu mengejarmu dan tanpa kau ketahui aku mencari semua informasi tentangmu. Aku penasaran dengan tatapan yang penuh rahasiamu itu.”


Ia memandang Byan sebentar,  benar-benar tidak ada respon, jika dalam ekspektasi Byan akan marah besar karena Bimo dengan seenaknya mengulik kehidupan pribadinya. “Yah, bukannya aku membanggakan diri bahwa aku seorang calon psikolog dan sok tahu dengan perasaanmu tentang insiden itu. Oh maaf, aku tidak akan memberitahu siapa pun, aku bisa menjaga rahasia yang kuketahui itu. Tapi, mungkinkah sorot matamu yang penuh rahasia itu ada kaitannya dengan…,”


“Dia bukan Ayahku!” ucap Byan memotong perkataan panjang Bimo yang belum selesai itu.


“Maaf, jika aku terlalu mencampuri urusan pribadimu. Tapi, aku menyukaimu. Setelah mengetahui hal itu aku terpukau dengan sifatmu yang tegar dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan masa lalumu. Kau yang tidak peduli dengan apa yang orang-orang katakan tentangmu, aku sangat menyukainya. Hhh… mungkin pernyataanku ini terdengar sangat konyol bagimu. Setidaknya, simpanlah kata-kataku ini dalam memorimu.”


Ia berdeham mengatur suaranya akan terdengar sebijak mungkin, “Masa itu memang sangatlah sulit, tapi lebih baik jika kau tetap setegar ini dan jangan buang air matamu. Lupakan hal itu, anggap itu hanyalah sebuah mimpi buruk yang nantinya akan hilang ketika kau bangun. Aku yakin suatu saat nanti kau akan menjadi sosok Byan yang di cintai oleh siapapun.”


Bimo menghela napas berat, susah sekali untuk mengalihkan perhatian wanita itu. “Maaf, aku sok bijak. Sampai jumpa, semoga suatu saat nanti aku dapat melihat senyum lebarmu….dengan sahabatku.”
Walau bagaimana pun juga ia tetap tidak bisa menyembunyikan kalau ia mendekati Byan karena sahabatnya, “Yudha menunggumu, Byan.”


Sungguh perkataan Bimo itu terdengar sangat konyol, pernyataan yang tidak jelas arahnya. Tapi mengapa Byan terharu dengan ucapannya yang sangat konyol itu? Dan Yudha, dia mengenal pria itu? Oh, sesempit itukah dunia ini? Nama yang sudah lama ia hapus dari sejarah hidupnya kembali lagi melalui ucapan Bimo yang ternyata sahabat pria itu sendiri. Byan berjalan menjauhi Bimo, ia tidak ingin mendengar ucapan dari mulutnya lagi, ucapan itu bisa saja meracuni mood Byan lagi.


Tanpa Byan sadari sebuah ucapan terima kasih meluncur dari bibirnya dengan pelan. Bimo dapat mendengarnya, setidaknya ia telah menyampaikan semua yang mengganjal di pikirannya dan menyampaikan kata-kata yang pernah ia dengar dari sahabatnya itu, Yudha.

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

yurriansan
2019-03-07 13:05:27

Ceritamu menarik. Ayo dilanjutkan. Semangat.
Ada masukan sdikit ukmu. Bbrp kta mungkin prlu di italic. Misl: sst.
Oh ya, kmu boleh jga ksh saran buat tulisanku. Judulnya:When He Gone. Salam

Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 884 15
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

713 538 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

855 543 9
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 761 13
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

469 379 6