01. DIA BAGAIKAN SEBUAH SENI

Entah apa yang terjadi pada diriku, hatiku, pikiranku, hidupku dan duniaku. Semuanya serasa menjauh dan menakutiku. Aku seperti berada disebuah perahu kecil tanpa dayung terombang ambing ombak laut yang luas dipenuhi jajaran dinding tebing yang curam dan terjal. Aku mencoba untuk mengepakkan tangan pada air secepat mungkin agar aku bisa menjauh dari tebing itu. Namun kuatnya arus justru membuatku semakin mendekat tebing itu dan bertubrukan. Aku hanya memejamkan mataku menahan rasa sakit karena benturan yang mengenai tubuhku dan percikan air.
Sakit sungguh sakit namun aku tidak bisa berkata apapun dan pada siapapun, tidak ada yang menemaniku, kenyataannya aku hanya seorang diri.

Aku pasrah hanya bisa mengikuti kemana arus air membawaku pergi dan aku hanya bisa menengadahkan kepala melihat ke atas langit yang cerah dan begitu luas. Aku berkata pada-Nya "Apakah aku akan selamat dari kejadian ini atau aku akan berakhir menemui-Mu? ". Aku tidak menyerah pada keadaan tapi aku pasrah, pasrah karena tidak ada yang bisa kulakukan. Arus air itu terlalu kuat untukku lawan. Hanya waktu yang bisa melabuhkanku entah di pesisir mana. Kini yang bisa kulakukan hanyalah melihat 2 warna itu yang sedang mengiringi perjalananku, perjalanan yang telah membuatku seolah tidak peduli lagi ketika aku harus terbentur, tertabrak dan dijatuhi apapun itu. Ya... Aku membiarkan diriku hanyut sampai air ini benar-benar lelah membawaku.

Aku benar-benar menyedihkan dan memprihatinkan. Sungguh malu ketika orang memandangku. Aku tak berani menunjukkan wajahku dan sungguh ingin menutup mataku dalam-dalam. Memang benar ketika dulu aku dekat dengannya, aku merasakan dunia ini hanya milik kita berdua. Tapi setelah itu aku satu-satunya orang yang ingin menjauh dari dunia ini,  bahkan terbesit dalam pikiranku berharap semua orang tak mengenalku. Aku lenyap dari dunia ini.

Ini semua karenanya, karenanya yang telah membuatku bahagia, karenanya yang telah memberiku warna, dan karenanya aku merasa seperti orang yang penting. Padahal hanya karena sebuah kalimat yang diucapkannya. Kalimat yang mungkin seperti angin berhembus yang tak sengaja menyentuh dan mengetukku.  Namun sentuhannya yang lembut memberikan bekas yang tidak bisa aku lupakan bahkan sampai saat ini, disaat aku mendengar namanya atau ketika aku sedang berpikir.

Ya, sejauh apapun aku mencoba melupakan semuanya, hal itu selalu saja gagal. Justru semakin dilupakan aku semakin mengingatnya dengan sangat jelas bagai lukisan kanvas yang tidak bisa kuhapus tapi tak berani kurobek apalgi dibakar. Tidak hanya ucapannya yang telah memberikan sentuhan lembut yang tidak bisa kulupakan tapi rasa sakit juga yang membekas di hati dan tidak bisa hilang. Namun aku tidak mampu membohongi perasaanku kepadanya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dan katakan jika aku bertemu dengannya, karena aku sangat membencinya. Tapi ketika mata ini tak menangkap kehadirannya, ternyata aku sangat merindukannya. Akupun tidak mengerti perasaanku ini. “Apakah aku begitu mencintainya?”. Entahlah, aku terperangkap hingga tak mampu membedakan ketulusan hati seseorang yang sebenarnya. Aku berharap Tuhan memberikanku kesempatan untuk menghapus semua ingatan tentang dirinya baik wajah maupun namanya.

Kamu mau menjadi pacarku?” ucapnya tanpa basa basi di depan temanku dan sontak membuat ku kaget.

“Hah?" Aku terkejut.  "Apa yang kau katakan?!” ucapku tidak menghiraukannya karena aku pikir itu hanya sebuah gurauan.

Itulah momen yang benar-benar telah membuatku terjebak. Jujur jantungku berdebar ketika ia mengucapkan hal itu. Sosok yang belum kumiliki tapi ucapannya membuat hatiku tidak ingin membagikannya pada orang lain.

Aku sempat tertegun mendengar ucapannya, karena sebenarnya aku menyukainya namun aku meragukan hal itu. Entah apa yang membuatku ragu tapi aku tidak yakin dengan ucapannya.

Tidak butuh lama dia mengucapkannya. Hanya 4 bulan setelah aku benar-benar mengantongi status mahasiswi. Aku tak percaya dia menyukaiku. Bagaimana tidak?  Setahuku Dia termasuk mahasiswa yang pandai bergaul dan pastinya bergurau, karena itu dia dikenal mahasiswa dari jurusan lainnya dan tidak jarang pula banyak wanita yang menyukainya dan mengejarnya bahkan sampai mengekor kemanapun ia pergi meski tidak sebanyak pangeran kampus yang kukenal namanya namun tidak pernah sekalipun ku lihat wajahnya. Ketenarnannya itulah yang menjadi bahan pertimbangan dalam pikiranku, “Apakah dia serius atau hanya bercanda denganku?”. Selain itu pula melihat tingkah temanku saat detik-detik kejadian itu hanya bersikap biasa-biasa saja seperti tidak sedang terjadi sesuatu yang luar biasa, berbeda sekali ketika kakak seniorku menyatakan cintanya padaku. Mungkin apa yang ada dipikiranku ketika itu sama seperti temanku hanya sebatas gurauan semata. namun begitu, tetap saja kata-katanya telah merasuk dalam pikiran dan hatiku.

Karena aku masih penasaran, keesokan harinya aku mencoba mendekatinya dengan sikap seperti biasa seolah tidka trejadi apapun. Jika dia memang benar-benar menyukaiku mungkin kejadian kemarin akan terulang kembali. Memang benar sikapnya terkadang menggodaku, namun aku terkejut sekali ketika aku mendengar dia sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita yang tidak lain adalah temanku.

"Oh my God” hanya kata itu yang mewakili perasaanku saat itu sekaligus aku langsung membuat bendungan di mataku agar air itu tidak tumpah ruah dihadapannya. Tapi volume air yang banyak mulai mengikis kuat bendungan itu dan akhirnya menghancurkannya. Aku tidak percaya dengan semua ini, seperti itukah dirinya berani mempermainkan perasaanku. Hatiku sangat sakit seketika dan pikiranku menjadi tidak teratur sampai aku tidak bisa berpikir jernih, aku tidak kuasa menahan semuanya. Bahkan ketika mata ini terpejam, dalam penglihatan gelapku dan pikiranku yang penuh kenangan hanya ada dia dan rasa sakit yang terbayang bahkan malampun menjadi mimpi buruk yang mungkin akan kualami dalam waktu lama. Bodohnya diriku meski aku tahu tentang dirinya dan sudah menyiapkan tameng tapi tetap saja senjatanya terlalu kuat untuk ku tangkis.

Seperti sebelumnya, di lain sisi aku tidak menanggapinya meskipun aku menyukainya karena aku tidak tahu apa itu sungguhan atau hanya gurauan tapi dilain sisi juga aku ingin sekali mengatakan "Ya aku juga mencintaimu" tapi aku takut itu hanya permainannya. Aku bingung dan menjadi terombang-ambing dalam pikiranku dan hatiku yang tidak menentu dan menyatu. Sesekali aku melihat kearahnya jika pelajaran sedang berlangsung, dikantin ataupun tidak sengaja berpas-pasan di taman jika aku sedang berkumpul teman-temanku. Disaat itu aku menoleh kearahnya secara tidak sengaja ataupun disengaja, disaat itupula dia juga sedang melihat kearahku tersenyum, aku langsung buru-buru memutar kepalaku bukan bermasksud untuk menghindari senyumannya tapi untuk memastikan apa ada orang lain dibelakangku atau dekat denganku. Jika tidak berarti senyuman itu untukku, sayangnya ketika aku menoleh kembali senyuman itu menjadi kenangan.

Aku tidak pernah mengerti dengan pikirannya, tidak hanya ketika aku sedang melihat kearahnya, beberapa temanku mengatakan jika dia sering memperhatikan diriku. Jika memang ia masih mencintaiku mengapa ia tidak mengatakan hal itu kepadaku, apakah ia masih takut, trauma ataupun semacamnya jika ia melakukan hal itu untuk kedua kalinya. Aku juga merasakan jika aku memang menyukainya, tapi rasa takut dan marahku lebih besar karena kejadian itu. Apa ia akan menyerah begitu saja? Entahlah aku kesal karena ia tak kunjung untuk mengatakannya, apa harus aku dulu yang memulainya. Arrrggghhh… tidak mungkin. Setahun, dua tahun semua itu telah berlalu tapi masih saja terjadi padaku dan dirinya, kita berdua masih saling memperhatikan satu sama lain. Bahkan aku sampai tidak sanggup untuk menerima cinta dari seorang lelaki yang tulus mencintaiku.

Sejenak aku berpikir mungkin aku adalah tipe wanita yang terlalu perasa yang mudah terjebak dalam kisah drama cinta romantis, meski kenyataannya ini tidak ada nuansa romansa tapi aku merasa ini adalah kisah drama cinta triller dan horror. Bayangan membuat seisi otakku digentayangi oleh wajahnya dengan senjata andalan tatapan pennuh gairah jika dirinya ingin memiliki tapi ia tidak penah mengatakan hal itu meski aku terus menunggu, aku memang terlalu berharap kepadanya sampai aku membenci diriku sendiri yang tidak berani mengatakannya lebi dahulu. Dipikir lagi pasti akan sulit karena ia seperti gula selalu ada semut yang menggerumutinya. Semenjak itu aku pasrah dan mengikuti alur kehidupan normal, aku mulai menyibukkan diriku dengan berbagai macam kegiatan kemahasiswaan atau ikut komunitas apapun agar aku tidak terus memikirkannya. Meksi alasan kuat yang sebenanrnya adalah aku ingin melarikan diri darinya.

Sampai tidak terasa aku benar-benar mengiklaskan rasa ini dan menyimpan dalam brankas memori yang kukubur sampai palung hatiku yang paling gelap. Kini waktu telah berlalu, jauhnya jarak diantara kita yang telah terpisahkan beberapa tahun pun setidaknya bisa membuatku melupakan semuanya namun ternyata aku telah salah, aku tidak mampu melunturkan apapun yang berhubungan dengannya dan menghilangkan bekas luka ini. Bahkan aku masih ingat secara utuh. Tempat kejadian, waktu, dan keadaan dengan sangat jelas. Tidak hanya itu, secara tidak sengaja jika sedang berpikir aku seperti terhipnotis, aku tiba-tiba dibawa masuk kedalam lamunanku beberapa tahun lalu, aku kembali tersesat dalam memori masa lalu disaat aku dikhianati, setidaknya seperti itu kesan terakhir yang diberikan padanya. Kenangan pahit yang tidak mampu aku hilangkan tapi tidak ku ingkari bahwa aku masih merindukannya, bahkan terkadang aku sering bertanya pada hatiku, apakah dia masih memikirkanku atau sudah memiliki orang lain di hatinya.

Aku tidak ingin seperti ini terus menerus. Terperangkap dalam masa lalu di masa sekarang ini. Padahal aku tahu dan yakin, masa depan yang sangat jelas kesulitannya di depan mataku harus tetap kujalani dan itu tidak bisa kulakukan jika aku terus memikirkannya.

Aku mencoba move on dan mendapatkan teman yang banyak agar bisa mengalihkan perhatian atau mungkin saja aku bisa mendapatkan pengganti hatiku yang baru. Ternyata aku mengulangi hal itu lagi, aku tetap tidak bisa menerima cinta yang lain karena semua yang kulihat hanyalah dirinya. Punggung pria di masa lalu itu yang selalu menghalangi pandanganku dan tidak mengizinkanku membuka pintu hatiku.

Aku mulai merasa letih dengan kehidupanku tapi aku tidak bisa berbuat apapun, lari sejauh apapun dari masalah yang kuhadapi, tetap saja aku tidak bisa menghindarinya dengan mudah. Aku mencoba melawannya semampuku justru rasa rindu yang tumbuh dan tumbuh lagi. dan itu yang ku takutkan, aku takut jika aku tidak bisa memanjat dan menggapainya.

Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 1
 
Save story

Qarina_Jussap
2019-04-20 07:28:44

@yurriansan Iya memnag sedihhh... Aku menulis ni diatas rasa sakit hatiku πŸ˜†... Eaaaaa
Mention


yurriansan
2019-04-19 22:01:43

Qirani, Qarina? ahh ini cerita tentang kamu kah? agaknya ini sedih2 gtu ya, aku baca. sukses ya..
mampir juga ke storyku yang baru ya..

Mention


Qarina_Jussap
2019-04-12 20:46:21

Hahhhh... Masa πŸ˜… sebelumnya aku publish di sweekkk... Mirip banget yaaaaaa πŸ˜„
Mention


renicaryadi
2019-04-12 20:15:55

Kak ceritanya mirip sih hahaha.
Btw good luck ya. Bahasanya puitis banget. Quote-worthy :)))

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 854 15
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 729 13
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

427 329 4
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

248 199 3
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

655 487 8
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

445 362 6