Waktu menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh lima ketika Lisa Bourguet memberi tahu Puggy Dr. Larenz Stevans menunggu di kantornya. Tiga menit kemudian, ahli entamologi forensik itu telah memulai ceramahnya tentang daur hidup serangga, khususnya lalat. 
"Silakan duduk, Miss Puggy. Ada banyak hal yang perlu saya sampaikan kepada Anda."
"Apakah serangga yang kami kirim dalam keadaan baik, le Docteur?"
"Tidak cacat sama sekali. Apakah Anda ingin mendengar semuanya secara lengkap?"
"Tanpa terkecuali, tentu saja, le Docteur."
Pria berusia awal lima puluh yang kurus dan berjanggut kemerahan itu mengangguk sekilas lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Baiklah. Pertama-tama, menurut pengamatan saya kedua korban Anda dibunuh pada siang hari. Atau, setidaknya tubuhnya terkena sinar matahari selama beberapa jam sebelum dikuburkan. Saya menemukan Larvisposition di dekat Sarcophaga bullata."
Puggy berdehem dan menggeser duduknya. "Le Docteur, tolong jelaskan dengan bahasa yang dapat saya pahami."
"Itu adalah spesies lalat daging. Ada kepompong Sarcophaga bullata yang kosong dan masih utuh dari kedua tubuh mayat itu. Sarcophagidae ini tidak terlalu aktif setelah matahari terbenam. Jika Anda menjatuhkan mayat di samping mereka, mungkin mereka akan melahirkan larva. Tapi mereka tidak begitu aktif di malam hari."
Dahi Puggy mengerut. "Melahirkan larva?"
Dr. Larenz mengangguk. "Serangga menggunakan larviposition atau oviposisi. Ada yang bertelur, ada juga yang melahirkan larva. Sarcophagidae termasuk kelompok yang melahirkan larva. Ini adalah strategi yang membuat mereka bisa mendahului spesies belatung lainnya, juga menyediakan perlindungan dari pemangsa telur."
"Lalu, mengapa tidak semua serangga melahirkan larva lebih dulu?"
"Ada kelemahannya, Miss Puggy. Para betina tidak dapat melahirkan larva sebanyak telur. Ini adalah sebuah pilihan."
"Hidup memang penuh pilihan."
"Begitulah." Dr. Larenz menghela napas. Kemudian, "Omong-omong, saya juga menduga bahwa kedua mayat ditinggalkan di luar, setidaknya untuk beberapa saat. Sarcophagidae ini tidak berani masuk ke dalam bangunan seperti kelompok serangga lainnya."
"Itu berarti, kedua korban dibunuh di tempat lain dan di bawa ke tempat kejadian menggunakan mobil." Puggy berhipotesis. "Jika diperhatikan dari letak lokasi penguburan, mereka pasti datang dan pergi melalui pintu keluar. Bien sûr."

"Apa pun caranya, saya menduga mereka dibunuh di siang hari, dibiarkan di udara terbuka dan di permukaan tanah sebelum dikuburkan."
"Bagaimana dengan spesies lainnya?"
"Lalat Blow flies biasanya tiba dalam hitungan menit setelah kematian bersama temannya, lalat daging. Jean mengumpulkan sedikitnya dua jenis Blow flies. Black blowfly dan--"
"Mungkin kita sebaiknya menggunakan nama umumnya, le Docteur. Saya bukan mahasiswa entomologi." Puggy menyela dengan tidak sabar.
"Ah, saya minta maaf. Begini, Miss Puggy. Dari contoh yang saya terima, saya menemukan larva instar pertama, kedua, ketiga, serta kepompong yang masih utuh dan kosong dari paling sedikit dua spesies Blow Flies."
"Ya?"
"Seperti halnya manusia, lalat dewasa sangat berhati-hati dalam memilih tempat yang cocok untuk membesarkan larva mudanya. Mayat adalah lingkungan yang sempurna. Terlindungi dan menyediakan banyak makanan. Sehingga Blow flies dan lalat daging akan tiba beberapa menit setelah kematian. Lalat betina akan segera bertelur, atau untuk sejenak menyantap cairan yang merembes keluar dari mayat itu." Dr. Larenz menjelaskan dengan sabar.
Puggy menanggapi dengan anggukan kecil.
Dr. Larenz melanjutkan, "Jika ada luka pada mayat, mereka akan segera menggerogotinya dari situ. Jika tidak ada, mereka akan menggunakan berbagai lubang di tubuh manusia. Mata, telinga, hidung, mulut, anus. Blow flies bertelur sangat banyak, sehingga benar-benar dapat sampai menutupi lubang alami tubuh manusia dan bagian yang luka."

"Lalu, apa yang terjadi berikutnya?"​​​

"Anda bergairah sekali, Miss Puggy." Suara Dr. Larenz terdengar sangat senang. "Saat telur sudah menetas, maka belatunglah yang mengambil peran berikutnya. Babak kedua. Belatung juga sangat hebat. Di bagian depan binatang itu terdapat mulut dengan sepasang pengait yang digunakan untuk makan dan sebagai indera penciuman. Telur-telur yang dihasilkan pada saat yang bersamaan akan menetas pada saat bersamaan pula, dan belatung menjadi dewasa bersama-sama, juga makan bersama-sama. Karena itulah, kita bisa menemukan kumpulan belatung dalam jumlah yang sangat banyak di sekeliling mayat."
"Luar biasa. Benar-benar efisien."
"Belatung tumbuh dewasa dengan sangat cepat. Namun, setelah mencapai ukuran maksimal mereka akan mengalami perubahan prilaku yang cukup dtamatis. Mereka akan berhenti makan dan mencari tempat yang lebih kering. Biasanya menjauh dari mayat."
"Babak ketiga."
Dr. Larenz mengangguk. "Larva itu bersembunyi di lubang tanah dan kulit luarnya mengeras serta membentuk cangkang untuk berlindung, yang dinamakan kepompong. Belatung ini akan hidup di di dalam cangkangnya sampai sel-sel tubuhnya tersusun kembali. Kemudian muncul sebagai lalat dewasa. Itulah sebabnya cangkang kepompong yang kosong sangat penting artinya bagi kami."
"Saya mengerti."
"Anda masih ingat lalat daging?"
"Sarcophagidae yang melahirkan larva?"
"Ingatan Anda benar-benar luar biasa. Lalat ini biasanya memakan waktu antara enam belas sampai dua puluh empat hari untuk menjadi dewasa, dengan suhu sekitar dua puluh enam derajat celcius."
"Suhu taman itu sempurna."
"Benar. Saya juga menemukan larva Muscidae, belatung yang berasal dari lalat rumah dan keluarganya. Biasanya spesies ini baru muncul lima sampai tujuh hari setelah kematian. Mereka menunggu sampai muncul apa yang kami namakan sebagai tahap kesegaran terakhir, atau pembengkakan awal. Selain itu, saya juga menemukan belatung dari Cheese Skipper."

"Maaf?"
"Belatung Chesse skipper adalah belatung yang bisa meloncat." Dr. Larenz membuat gerakan tangan, tidak ingin melanjutkan pembahasan itu. "Serangga yang cukup berguna untuk menentukan PMI* adalah lalat tentara hitam. Mereka biasanya baru muncul dua puluh hari setelah kematian, bahkan pada mayat yang telah dikuburkan."
"Anda menemukannya juga?"
"Begitulah."
"Eh bien. Jadi, bagaimana hipotesis Anda, le Docteur?"

"Sekitar tiga sampai empat minggu."
"Untuk keduanya?"
"Menurut informasi yang disampaikan kepada saya, jarak sampai ke dasar lubang satu meter lebih, dan satu meter sampai ke bagian atas mayat di sebelah bawah. Kita telah mendiskusikan produksi larva pra-penguburan oleh lalat daging. Itu menjelaskan kepompong yang ditemukan pada mayat kedua. Ada kepompong yang berisi lalat yang telah tumbuh dewasa, dan ada yang dalam tahap perkembangan. Mereka pasti terperangkap tanah saat mencoba keluar."
"Mon Dieu! Demi Tuhan."
"Saya menemukan beberapa lalat peti mati dalam contoh tanah yang diambil dari atas mayat kedua, dan beberapa larva pada mayatnya. Semua spesies ini biasanya bersembunyi di dalam mayat untuk bertelur. Gangguan tanah di kuburan dan adanya mayat di atas pasti telah mempermudahnya masuk."
"Bagaimana dengan contoh tanahnya?"
"Sangat berguna. Saya tidak ingin menceritakan bagaimana serangga itu memakan belatung dan bahan yang membusuk. Tapi saya menemukan satu ekor yang berguna untuk PMI. Saat memproses tanah itu, saya menemukan tungau yang mendukung hipotesis saya bahwa kematian itu sudah minimum tiga minggu lamanya."
"Semuanya cocok."
"Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan."
"Silakan, le Docteur."


*Post-mortem interval: waktu yang berlalu sejak seseorang meninggal


Dr. Larenz tampak menimbang-nimbang setiap kata yang hendak diucapkannya dengan hati-hati. "Saya tahu ini bukanlah berita baru. Bertambahnya kematian yang berhubungan dengan narkotika selama beberapa tahun terakhir ini, mengarahkan para ahli forensik termasuk ahli entamologi untuk melakukan pengujian obat dalam serangga pemakan bangkai."
Alis Puggy naik. "Dan Anda juga menguji kandungan narkoba dalam belatung itu?"
"Saya mendapat hasil yang lebih baik dari kepompongnya. Mungkin karena karena waktu makannya lebih lama daripada larvanya. Kami juga memeriksa exuviae dan frass dari kumbang."
"Maaf?"
"Kulit kumbang yang telah tanggal dan kotorannya. Kami menemukan kadar narkoba yang sangat tinggi pada kepompong lalat. Mungkin karena pemilihan makanannya. Kumbang lebih suka makan yang kering, lalat lebih suka makan jaringan lunak. Saya menduga kandungan narkoba yang paling besar terdapat di jaringan lunak itu."
"Apa saja yang Anda temukan?"
Dr. Larenz mendesah. "Inilah yang sulit dipercaya. Saya menemukan heroin, morfin, kokain, metamfetamina, amitriptilin, nortripilin. Akhir-akhir ini kami tengah meneliti 3,4 metilenadioksimetamfetamina."
"Dan nama awamnya?"
"Umumnya dikenal sebagai ekstasi. Kami menumukan obat induk dan metabolitnya."
"Saya ingin mendengar lengkapnya."
"Metode pengujiannya mirip dengan yang digunakan untuk contoh patologi umum. Tetapi, kita harus memecahkan matriks protein yang keras dalam kepompong serangga dan kulitnya, supaya racunnya dapat dipisahkan. Kemudian, kita hancurkan cangkangnya menggunakan asam atau basa kuat. Setelah itu, dengan penyesuaian pH, bisa digunakan teknik penyaringan obat yang biasa. Terakhir, kita melakukan ekstraksi dengan basa yang diikuti dengan kromatografi cair dan spektrometri massa."
"Dan hasilnya?"
"Selain narkotika, kepompong yang diambil dari kedua korban mengandung royhpnol dan dua jenis metabolitnya. Asnorfluinitrazepam dan 7-aminofl unitrazepam. Dengan kadar obat induk jauh lebih besar daripda metabolitnya."
"Yang berarti asupan narkobanya terjadi belum lama ini, bukan dikonsumsi secara kronis?"

"Persis sekali."

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 3 0 0 0
 
Save story

RizzalRr
2019-04-21 16:03:53

Buka tinlit ada reviwe ttg puggy. Langsung meluncur deh. Wkwk.
Mention


Zein
2019-04-21 15:46:54

Wow. Seri keduanya udah tayang.
Mention


CandraSenja
2019-04-21 15:27:12

Mantul banget.
Mention


AnitaUtami
2019-04-21 15:15:32

Kereeeeèeeen abis. Mantap babget forensiknya.
Mention


RezaNV
2019-04-21 15:08:58

@SusanSwansh oke oke. Aku selalu setia menunggumu. Eh up ceritanya. Hehe
Mention


SusanSwansh
2019-04-11 18:17:38

@RezaNV sabar ya Kak. Hehe. Lg riset belum selesai.
Mention


RezaNV
2019-04-08 18:25:07

@SusanSwansh San kapan up lagi next chapternya? Saya udah tunggu lho.
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:47:36

@RezaNV mkasih Kak Eza. Btw maaf belum up lagi. Sibuk banget di duta. Hehe
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:45:59

@sinister hehe. Ini bukan horor kok Sob. Ini pschclgycal thriller.
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:45:02

@SusZie wow. Lanjut lagi ya baca mind boxnya. Dan ikuti terus bloody mary nya
Mention


Page 1 of 12 (116 Comments)

Recommended Stories

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

359 279 4
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

605 444 9
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

357 299 6
Anne

Anne's Tansy

By murphy

601 370 9
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

202 163 3
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

599 462 7