Hotel Vista Palace, Côte d'Azur.
Pukul 09:57 pagi.

Kamar nomor 911 di Hotel Vista Palace yang terletak di Requebrune, menyajikan pemandangan spektakuler dari Tanjung Martin dan Monaco. Sebagai tambahan dari dua kamar tidur dan dua kamar mandi, hotel mewah itu juga di dilengkapi dengan sebuah kolam renang pribadi. Di kursi malas di dekat kolam renang, Ellie Wiesel tengah bersantai menikmati indahnya pagi. Cuaca hari itu sangat menyenangkan. Matahari membasuh awan-awan seputih kapas di cakrawala dengan cahayanya, dan membanjiri jalan-jalan dengan sinar keperakan. 
"Mademoiselle, ada seorang wanita ingin bertemu Anda."
Terusik dengan gangguan itu, Ellie meletakan edisi terbaru dari majalah InStyle dan menaungi wajah dengan tangannya. Kemudian dia menoleh ke arah si pelayan.
"Mademoiselle, seorang wanita ingin bertemu Anda. Apakah Anda ingin saya mengizinkannya masuk?"
"Saya rasa begitu," kata Ellie lembut. 
"Oui, Mademoiselle." Si pelayan mengangguk lalu keluar.
Sementara menunggu, Ellie kembali sibuk dengan majalahnya.
"Sholem alechem.
Ellie seketika menoleh. "Aleichem sholem." Dia menyahut dengan aksen ibunya, Hongaria. "Rozsa, kaukah itu?"
"Ya. Ini aku. Rozsa sahabat lamamu," sahutnya, sambil merentangkan tangan. Dalam beberapa detik mereka telah berpelukan. 
"Aku rindu sekali Budapest," ujar Ellie, "bagaimana kabar yang lainnya?"
"Sangat baik. Berkat dirimu." Rozsa menepuk-nepuk bahu Ellie, penuh rasa bangga.
Gadis berambut cokelat tua yang mengenakan stelan linen kuning itu membimbing temannya ke kursi. "Duduklah. Katakan, mengapa kau berada di Prancis?"
"Manashe mendapat pekerjaan di Monaco. Kami tinggal di Prancis bersama bibi Ketty untuk menghemat biaya hidup." 
"Aku ucapkan selamat untuk Manashe. Aku tahu, kakakmu itu memang luar biasa." Ellie tersenyum. Sinar matahari menerpa wajahnya yang tampak lebih hidup dengan stelan berwarna cerah--menonjolkan rambut dan matanya dan mencerahkan wajahnya yang berwarna madu.
Rozsa tiba-tiba tampak murung. Tangannya yang kurus dan pucat bergerak-gerak tak tentu arah.  "Masalahnya adalah Martha. Dia ... oh, aku tidak tahu bagaimana mengatakannya." 
"Apakah dia membuat ulah lagi?"
Gadis berwajah muram itu ragu-ragu. "Martha ... dia mengaku padaku kalau mungkin dia telah melakukan pembunuhan--dua pembunuhan."

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 1 0 0 0
 
Save story

RizzalRr
2019-04-21 16:03:53

Buka tinlit ada reviwe ttg puggy. Langsung meluncur deh. Wkwk.
Mention


Zein
2019-04-21 15:46:54

Wow. Seri keduanya udah tayang.
Mention


CandraSenja
2019-04-21 15:27:12

Mantul banget.
Mention


AnitaUtami
2019-04-21 15:15:32

Kereeeeèeeen abis. Mantap babget forensiknya.
Mention


RezaNV
2019-04-21 15:08:58

@SusanSwansh oke oke. Aku selalu setia menunggumu. Eh up ceritanya. Hehe
Mention


SusanSwansh
2019-04-11 18:17:38

@RezaNV sabar ya Kak. Hehe. Lg riset belum selesai.
Mention


RezaNV
2019-04-08 18:25:07

@SusanSwansh San kapan up lagi next chapternya? Saya udah tunggu lho.
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:47:36

@RezaNV mkasih Kak Eza. Btw maaf belum up lagi. Sibuk banget di duta. Hehe
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:45:59

@sinister hehe. Ini bukan horor kok Sob. Ini pschclgycal thriller.
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:45:02

@SusZie wow. Lanjut lagi ya baca mind boxnya. Dan ikuti terus bloody mary nya
Mention


Page 1 of 12 (116 Comments)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

599 462 7
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

566 425 6
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

450 353 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 784 14
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

4K+ 1K+ 9
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

933 663 13