University Hospital Pitiè-Salpêtrier.
Pukul 08:00 pagi.

Ruang autopsi itu seperti ruang autopsi pada umumnyw. Berwarna putih, dingin, dan beraroma tidak menyenangkan. Yang berbeda hanyalah, di tengah-tengah ruangan itu terdapat tirai berwarna hijau untuk memisahkan sudut satu dengan sudut yang lainnya. Ada dua meja dari baja nirkarat di ruangan itu. Yang masing-masing di atasnya terdapat kantong mayat berwarna kuning tua. 
"Miss Puggy, Anda yakin ingin ikut serta mengautopsi?" tanya Dr. Michael, sambil membuka ritsleting kantong mayat di meja pertama, lalu menutupnya kembali.
"Saya yakin sekali. Bien sûr," sahut Puggy, yang masih bersusah payah mengenakan kacamata autopsi mirip kacamata renang berukuran besar. "Meski saya merasa benar-benar tolol berpakaian seperti ini." Dia menunjuk kacamata yang kebesaran di wajahnya. 

Selain Puggy Humphry, ada lima orang lain dalam ruangan itu, yang masing-masing menenakan mantel autopsi berbeda-beda warna. Merah muda milik Lisa Bourguet, ahli odontologi. Hijau adalah LaManche, ahli radiologi. Jean dan Julien Maxime menggunakan warna merah, dan Dr. Michael menggunakan warna kuning muda. 

 

Maxime bersaudara bekerja satu meja di sudut sebelah kiri, menangani korban kedua. Sedangkan korban pertama yang hanya berupa tulang-belulang dengan sisa daging busuk dan jaringan otot, menjadi bagian Dr. Michael serta Puggy. 
"Siapa yang membutuhkan jasa radiolog?" tanya LaManche, menawarkan diri.
"Kami akan melakukan pembedahan terlebih dahulu," ujar Jean, "kau ikutlah dengan Dokter Michael. Tulang-belulang itu perlu dipanaskan sebelum siap diidentifikasi."
"Bagaimana dengan jasa tukang gigi?" sahut Lisa.
"Kau ikut dengan kami," jawab Julien, "mayat yang akan kami identifikasi belum terlalu busuk. Mungkin kau bisa memberikan sedikit gambaran kasar wajah korban dari struktur gigi dan rahangnya."
Wanita muda berambut pirang itu mengangguk, bangga. "Untuk itulah saya berada di sini."

 

Tirai yang memisahkan kedua sudut ditutup. Lampu-lampu berpenerangan tinggi dinyalakan. Sambil menahan mual yang bergejolak di perut masing-masing, keenam orang itu mulai bekerja. Dr. Michael membuka ritsleting kantong mayat yang ada di hadapannya, lalu menarik kain yang membungkus tulang-belulang dan sisa-sisa daging mayat itu dengan cekatan. Berikutnya dia membuka tutup sebuah kotak, mengeluarkan bantalan kapas, dan mulai memeriksa tengkorak, sambil sesekali membersihkan sisa tanah yang menempel. Di sampingnya, LaManche memotret beberapa kali menggunakan kamera Polaroid. 
"Jean benar. Sepertinya kita harus mengirim tulang-belulang ini untuk

pemotretan sinar-X terlebih dahulu, sebelum dapat mulai mengidentifikasi."
LaManche mengangguk. "Waktunya tukang foto beraksi." Ditutupnya ritsleting kantong mayat itu, dan bergegas dia mendorong kereta ke ruang radiologi.
"Sebenarnya, walaupun sudah memutih, tulang-belulang korban masih mengandung cukup banyak jaringan otot sehingga masih dapat dilakukan autopsi penuh," kata Dr. Michael, sambil mengamati foto polaroid di tangannya. "Hanya saja, semua ahli patologi yang kami miliki tidak dalam keadaan sedang mengaggur. 
Puggy melipat tangan di dada. "Beberpa agen Pugno saya di Prancis, pagi ini melaporkan setidaknya ada lebih dari lima orang dilaporkan keluarganya hilang dalam dua minggu terakhir ini." Puggy diam sejenak. Kemudian, "Menurut Inspektur Veraldy, jika korban bukan pelacur les Tuileries, kemungkinan besar mereka komplotan gembong narkoba yang meresahkan akhir-akhir ini. Tetapi .... "
"Ya?"
"Saya rasa bukan keduanya."
Dr. Michael mengernyitkan dahi. "Saya ingin mendengar hipotesis Anda."
"Ini tindak kriminal yang mengerikan, le Docteur," ujar Puggy, "motifnya mungkin perampokan atau yang lainnya. Tapi, korban tidak mungkin pelacur les Tuileries atau komplotan gembong narkoba. Tak mungkin. Pelacur-pelacur murahan yang memperlihatkan celana dalamnya saat ada kendaraan yang melintas itu, tahu dengan baik setiap sudut taman ini. Mereka tidak akan mau berkencan di tempat kejadian. Terlalu dekat dengan pintu keluar. Dan mengenai komplotan gembong narkoba, saya rasa mereka tidak terlalu bodoh untuk  mengambil resiko ketahuan dengan membuang mayat di taman yang tengah direnovasi."
"Dengan kata lain, si pelaku sengaja mengubur kedua mayat itu di situ, supaya ditemukan oleh tukang kebun yang sedang merapikan taman bagian belakang tepat padw waktu yang trlah diperkirakan?"
Puggy menjentikan jarinya. "Bukankah cara korban dikubur mencolok sekali? Mereka dimasukan ke dalam lubang dangkal di bawah sebuah pohon, kemudian ditutupi dahan dan dedaunan. Dalam dua sampai tiga hari, bau busuk dari mayat itu akan menarik lalat dan serangga. Saat mayat-mayatnya telah dalam kondisi tidak mungkin dikenali lagi, barulah tukang kebun itu menemukannya."
Sesuatu tiba-tiba melintas dibenak Dr. Michael. "Saya baru ingat," katanya, "suhu tanah tempat korban kedua dikuburkan lebih panas dari tanah di sekitarnya, sehingga mempercepat proses pembusukan." Dr. Michael menatap perempuan bertampang ironis di hadapannya dengan kekaguman yang tulus. "Tes DNA akan selesai dalam beberapa jam lagi. Kita akan segera mengetahui profil biologis korban secara utuh. Selain itu, uji entomologi paling lambat selesai dilakukan siang ini, dan akan dikirim paling lambat pukul tiga belas nanti. Setelah kita mengantongi identitas korban, selanjutnya adalah giliran Anda untuk mencari dan menenggelamkan pelaku ke dasar samudera, Miss Puggy!"

Puggy mengangguk sekilas. "Saat ini, Inspektur Veraldy sedang menginterogasi satu persatu tukang kebun yang bekerja untuk merenovasi taman. Karena ada indikasi keterlibatan mereka."
LaManche masuk mendorong kereta berisi tulang-belulang, kemudian menyerahkan hasil sinar-X pada Dr. Michael. "Apa semuanya bagus, Dokter?" tanya lelaki berusia dua puluh empat tahun itu. "Saya tidak yakin harus menggunakan pengaturan apa pada semua benda di dalam kantong itu. Jadi saya memotret beberapa kali dari sudut yang berbeda."
"Semuanya bagus," sahut Dr. Michael yang tengah mengamati beberapa foto di kotak cahaya.
Dalam sinar-X bagian rahang tampak ketiga puluh dua gigi telah tumbuh, akarnya masih terlihat sempurna. Bahkan bagian mahkotanya masih utuh.
"Tidak ada perbaikan atau hilangnya gigi," sambung Dr. Michael, "Miss Puggy, tolong catat dalam lembaran formulir kasus."
"Oui, le Docteur."
Dr. Michael mengganti foto yang lain. Foto tulang kaki, pinggul, rusuk. Kemudian, "Tulang-belulang korban dalam keadaan baik sekali."

Setelah selesai dengan sinar-X, Dr. Michael berjalan ke meja mayat, mengeluarkan kerangka manusia beraroma menyengat di dalamnya. Pertama-tama dia memeriksa bagian kepala. "Celah di dasar tengkorak terlihat sudah menyatu. Ini bukan mayat anak remaja."
Puggy segera mencatat. 
Selanjutnya, Dr. Michael mempelajari tulang rusuk dan permukaan bagian depan selangkangan, pubicsymphyses. "Tulang rusuknya memiliki lekukan yang dalam tempat terhubungnya otot ke tulang dada. Gerigis yang bergelombang tampak dipermukaan pubic symphyseal, dan bisa dilihat tonjolan tulang kecil di sepanjang sisi luar tulangnya. Ujung setiap tulang belikat tampak menyatu. Bagian atas setiap bilah tulang paha terlihat sedikit terpisah. Artinya, korban ini berusia sekitar dua puluh sampai dua puluh delapan tahun saat tewas."
"Bagaimana dengan jenis kelaminnya?" tanya LaManche.
"Hm. Pinggul yang lebar dan pendek dengan daerah kemaluan yang feminin, dia pasti seorang wanita."
"Seorang wanita berusia antara dua puluh sampai dua puluh sampai dua puluh delapan?" Puggy mengulangi dengan tanya.
"Tepat. Lihat ini, Miss Puggy," Dr. Michael mengacungkan jari telunjuknya. "Bagian tengah wajah ini tampak klasik. Terutama bagian hidungnya: tulang penghubung yang tinggi antara kedua mata, bagian bawah dan tulang belakang yang sangat jelas."
"Artinya?"
Dr. Michael tidak langsung menjawab. Dia tengah mengukur bagian yang akan dianalisisnya secara statistik, lalu memasukkan data ke komputer, dan menjalankan persamaan regresi. "Miss Puggy, ini benar-benar mengejutkan. Tetapi, dari apa yang saya lihat dan pelajari, kemungkinan besar korban bukanlah orang Prancis. Dugaan Anda benar. Korban bukanlah pelacur murahan les Tuileries."
"Bagaimana dengan penyebab kematiannya?" LaManche memotong. 
Dr. Michael yang tengah membungkuk, memeriksa setiap tulang melalui kaca pembesar, mengangkat wajahnya. "Saya tidak menemukan apa pun yang menunjukkan penyebab kematian korban. Tidak ada luka akibat benda tumpul, tidak ada lubang tembakan. Tidak ada luka tusukan, juga tidak ada retakan yang menunjukkan tanda-tanda bekas pencekikan. Satu-satunya kerusakan yang saya lihat, disebabkan oleh binatang yang memakan sisa-sisa tubuhnya."
"Hm. Bukankah kasus ini mirip kasus pembunuhan Pedro Wiesel dua tahun lalu, Dokter?"

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 4 0 0 0
 
Save story

RizzalRr
2019-04-21 16:03:53

Buka tinlit ada reviwe ttg puggy. Langsung meluncur deh. Wkwk.
Mention


Zein
2019-04-21 15:46:54

Wow. Seri keduanya udah tayang.
Mention


CandraSenja
2019-04-21 15:27:12

Mantul banget.
Mention


AnitaUtami
2019-04-21 15:15:32

Kereeeeèeeen abis. Mantap babget forensiknya.
Mention


RezaNV
2019-04-21 15:08:58

@SusanSwansh oke oke. Aku selalu setia menunggumu. Eh up ceritanya. Hehe
Mention


SusanSwansh
2019-04-11 18:17:38

@RezaNV sabar ya Kak. Hehe. Lg riset belum selesai.
Mention


RezaNV
2019-04-08 18:25:07

@SusanSwansh San kapan up lagi next chapternya? Saya udah tunggu lho.
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:47:36

@RezaNV mkasih Kak Eza. Btw maaf belum up lagi. Sibuk banget di duta. Hehe
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:45:59

@sinister hehe. Ini bukan horor kok Sob. Ini pschclgycal thriller.
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:45:02

@SusZie wow. Lanjut lagi ya baca mind boxnya. Dan ikuti terus bloody mary nya
Mention


Page 1 of 12 (116 Comments)

Recommended Stories

Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

631 464 9
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

373 282 6
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

492 385 14
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

382 296 4
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

5K+ 1K+ 9
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 11