Range Rover Puggy meluncur penuh percaya diri membelah keramaian lalu lintas di Place Vendôme. Cuaca malam itu sangat menyenangkan. Bulan membasuh awan-awan di cakrawala dengan cahayanya, dan membanjiri jalan-jalan dengan sinar keperakan. Saat mobil Puggy sampai di persimpangan di Rue de Rivoli, lampu lalu lintas menyala merah. Dia mengurangi kecepatan, dan berhenti. Pada saat itulah ponsel genggamnya berdering.
"Anda di mana, Miss Puggy?" suara pria di ujung sambungan terdengar resah.
"Lampu merah Rivoli. Saya terjebak lampu merah."
"Kami sudah siap menggali. Sebaiknya Anda bergegas."
"Saya mengerti."

Begitu lampu menyala hijau, Puggy cepat-cepat menekan pedal gas, menyebrangi persimpangan, dan meluncur ke Rue Castiglione. Setengah menit kemudian, setelah melewati bundaran pusat Jardines des Tuileries, dia berhenti di lapangan persegi yang dikelilingi pepohonan, dan melompat turun.
"Saya minta maaf sedikit terlambat," kata Puggy, saat dia mendekati beberapa orang yang mengenakan sarung tangan dan masker, di dekat lingkaran garis polisi.
Seorang pria berusia kira-kira enam puluh satu menghampirinya. "Kami sangat menunggu kedatangan Anda, Miss Puggy." Dr. Michael mengulurkan tangannya untuk berjabat. "Akhirnya Anda datang." Pria berkepala botak yang mengenakan kaca mata terlalu tebal itu, membimbing Puggy seperti membimbing anak kecil. 

"Jadi, kita langsung menggali mayat itu, Dokter?" tanya Puggy.
"Kami akan membersihkan di sekitarnya, kemudian akan menyiapkan petak-petak untuk gambar dan pengukuran." Dr. Michael Zalweska menjelaskan. "Sesudah selesai mengumpulkan contoh dipermukaan tanah, saya akan membuka kuburan itu. Kemudian kami akan menggali selapis demi selapis. Meskipun sepertinya penggalian seperti itu tidak akan dibutuhkan pada kasus ini. Kalau ada orang menggali lubang, menjatuhkan mayat, dan menutupinya, kemungkinan tidak akan ada lapisan tanah yang terlalu banyak. Tetapi, saya akan menjaga satu sisi agar tetap bersih. Sehingga saya akan mendapat profil korban saat saya turun ke lubang kuburan itu. Bukan hanya itu, dengan cara ini, saya juga akan dapat melihat apakah ada bekas-bekas alat penggali di dalam tanah. Kemudian, saya akan mengbil contoh tanahnya. Kadang-kadang, tanah dari dalam kuburan bisa dicocokan dengan kotoran yang ditemukan di kaus kaki tersangka yang lupa di cuci."  Meskipun usia Dr. Michael sudah lebih dari enam puluh, tetapi kondisi fisiknya masih prima. Suaranya pun masih penuh kekuatan usia muda.
"Miss Puggy lebih tahu soal itu, Dokter." Sebuah suara menyela. "Jangan lupa, Miss Puggy adalah detektif swasta terbaik di Eropa."
"Anda terlalu berlebihan, Inspektur Leonardo Veraldy," sahut Puggy yang mengenali suara teman lamanya itu. "Senang bertemu dengan Anda, Sir." Dia menepuk-nepuk bahu pria berambut keparakan yang pendek dan gemuk mirip anjing pug itu, dengan sikap bersahabat.
Wajah bulat inspektur polisi itu memerah. "Saya merasa sangat beruntung mengetahui Anda berada di Paris, saat kami mendapat laporan ada mayat di Les Tuileries. Saya akan menceritakan kronologinya nanti. Kita tidak bisa menunda lebih lama untuk mulai menggali." Dia menyerahkan masker dan sarung tangan elastis kepada Puggy.


Di bawah cahaya lampu sorot, kerumunan lalat terbang secara bersaaman ketika Puggy, Inspektur Veraldy, Dr. Michael, dan dua orang ahli patologi forensik mendekat. Dr. Michael melambai-lambaikan tangan untuk mengusir mereka, tetapi lalat-lalat itu segera kembali lagi.
"Waktunya bekerja," ujarnya. Dia berjongkok dengan bertumpu ditumitnya, meneliti permukaan tanah di sekitar kuburan itu, lalu melambaikan tangan ke arah lelaki berambut kemerahan yang tengah membongkar tasnya. "Tolong catat semua hal yang kita temukan."
"Baik, Dokter." Julien Maxime, si ahli patologi forensik itu menyahut tanpa menoleh.
"Jean Maxime, kau sudah siap dengan kantong ziplock dan pinsetmu?"
"Sudah, Dokter." Saudara kembar si ahli patologi forensik itu mengacungkan kedua benda yang dimaksud si ahli antropologi forensik senior.
"Bagaimana dengan Anda, Miss Puggy?"

Puggy mengangguk sambil mengangkat kameranya.
"Bagus. Anda, Inspektur?
Inspektur Veraldy menunjuk lurus ke arah seekor anjing polisi yang samar-samar terlihat diikat di pohon beberapa puluh yard dari mereka. "Saya tidak mau mengambil resiko. Dia pejantan sejati. Sedikit sulit diperintah."


Dr. Michael mengangguk. Kemudian dia memberi isyarat tangan untuk yang lainnya siap di posisi masing-masing. Serangga berlompatan menerpa wajah dan lengan Dr. Michael, mendengung dan terbang karena merasa terganggu saat pria itu mengangkat dahan-dahan pohon brich, yang menyembunyikan lokasi kuburan. "Jean, tugasmu."
Lelaki berusia akhir tiga puluh itu mengangguk sekilas lalu mulai bekerja. Dengan cekatan seorang profesional, Jean mengambil contoh serangga yang ditemuinya, kemudian memasukannya ke dalam kantong ziplock berwarna bening. "Miss Puggy, tolong dipotret."
"Oui, Sir."

 

Setelah Jean selesai mengambil contoh serangga di permukaan, Dr. Michael sedikit demi sedikit mulai menggali tanah yang mengeluarkan aroma busuk itu menggunakan sekop kecil. Tidak berapa lama kemudian, tampak wajah manusia menatap mereka. Inspektur Veraldy membungkuk, namun seketika mundur lagi dengan perasaan ngeri. Yang dilihatnya bukan lagi sebuah wajah. Melainkan tengkorak dengan sisa-sisa daging yang telah rontok oleh serangga pemakan bangkai. Kuburan itu cukup dangkal sehingga serangga bisa masuk ke dasarnya, melalui mayat di atas sebagai perantara. Luka yang terbuka juga memacu terbentuknya kolonisasi. Bagian tengkorak dan dada dipenuhi dipenuhi gerombolan belatung terbesar yang pernah dilihat kelima orang itu. Wajahnya sudah tidak mampu dikenali, sehingga mereka tidak mampu memperkirakan usia maupun negara asalnya. 
"Saya akan segera kembali." Inspektur Veraldy berlari ke pohon untuk muntah.
"Jadi, memang mayat manusia?" tanya Julien.
"Ya. Mungkin sudah beberapa minggu," sahut Puggy. "Syukurlah taman ini sedang ditutup untuk umum."
"Saya akan membantu Dr. Michael menggali, dan mengambil contoh belatung, juga pemangsa lainnya yang tersisa," ujar Jean, "Julie, bantu aku buatkan catatan."
"Baik, Bos!"
"Menurut hipotesis Anda, apa jenis kelamin korban, le Docteur?" tanya Puggy.
"Saya belum dapat memastikan. Kondisi korban terlalu rusak untuk dapat  diidentifikasi saat ini."
"Kemungkinan besar wanita," sahut Jean, yang tengah memasukan seekor belatung ke dalam kantong ziplock menggunakan pinset. "Saya menemukan beberapa helai rambut yang terlalu panjang untuk ukuran pria. Tapi kita belum dapat memastikannya."
"Tubuh korban hampir habis dimakan  kawanan belatung dan teman-temannya," Julien menambahkan, "sialnya lagi, dia ditelanjangi."
"Korban pemerkosaan, mungkin?" usul Inspektur Veraldy yang telah kembali. Dia tampak mengenakan masker baru yang diberinya minyak wangi.
"Mungkin juga pelacur yang dibunuh pacarnya karena cemburu buta," sahut Dr. Michael, "jangan lupa, taman ini sarang pelacur murahan."

Bau busuk semakin menusuk hidung saat si kembar Maxime dan Dr. Michael menggali lebih dalam. Dengan hati-hati, ketiga lelaki berbeda usia itu mengayak setiap partikel kotoran, mengambil contoh tanah, mengais sisa daging busuk, kemudian memindahkan mayat ke kantong berwarna kuning tua. Puggy merekam semua itu dengan kamera video, dan mengambil foto menggunakan ponsel genggamnya. Ketika mayat telah dipindahkan, dengan terkejut kelima orang itu menemukan sosok mayat lagi. Dia tergeletak di lubang berukuran satu meter lebih. Sedikit terkubur tanah, namun posisinya tampak jelas. Wajahnya menghadap ke bawah, lengan terlipat di perut, dengan sudut dua puluh derjat dari mayat di atasnya.

Kedalaman memberikan keuntungan. Walaupun mayat di atas telah meranggas, mayat yang di bawah masih mengandung cukup banyak daging dan isi perut meski berupa cairan kental.
"Sudah berapa lama dia di sini?" tanya Puggy setelah mayat kedua diangkat dan dipindahkan.
Dr. Michael mengangkat bahu. "Entahlah. Mayat itu dibaringkan miring. Dengan bahu kanan di bawah permukaan tanah. Tidak heran kalau sebagian wajahnya telah habis dimangsa hewan pemakan bangkai."
Inspektur Veraldy meninju udara kosong.  "Bangsat itu tidak meninggalkan jejaknya sama sekali. Dia bahkan tidak membiarkan sehelai benang melekat di tubuh korban."
"Begitulah,"  Sahut Dr. Michel dengan sangat menyesal. "Korban telah ditelanjangi sebelum dimasukan ke dalam lubang. Semua barang yang bisa menjadi barang pengenal diambil pelaku. Walaupun kami telah mengamati dengan sangat teliti, posisi tubuh atau apa pun yang kami teliti di dalam lubang kuburan itu, tidak menunjukan tanda apakah kedua korban dikuburkan secara bersamaan, atau mayat yang di atas dikuburkan beberapa saat setelah mayat yang di bawahnya." 


Waktu menunjukan hampir pukul dua belas malak saat Dr. Michael membanting pintu mobil van pengangkut dan menguncinya.
"Nah, sekarang semuanya sudah beres," ujarnya, sambil mengelap tangannya dengan sapu tangan. Ratusan pembuluh darah kecil menonjol dan menyatu di pipinya, membuat wajahnya sedikit membiru. Dia menoleh ke arah Puggy dan Inspektur Veraldy. "Kita bertemu di rumah sakit pukul delapan.
"Saya serahkan urusan identifikasi forensik kepada Anda, Dokter," sahut Inspektur Veraldy, "sedangkan untuk investigasi lapangan, biar kami dari kepolisian yang melakukannya."
Puggy mengangkat tangan untuk menyela. "Eh bien, saya yang ikut Anda, le Docteur. Saya belum punya cukup bahan untuk memulai penyelidikan."
"Mayatnya akan menginap di University Hospital Pitié-Salpêtriér." Setelah memberitahu di mana mayat itu akan menginap, Dr. Michael dan Maxime bersaudara melompat ke dalam van. Sedetik kemudian van itu telah pergi.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 1 0 1 0 0
 
Save story

RizzalRr
2019-04-21 16:03:53

Buka tinlit ada reviwe ttg puggy. Langsung meluncur deh. Wkwk.
Mention


Zein
2019-04-21 15:46:54

Wow. Seri keduanya udah tayang.
Mention


CandraSenja
2019-04-21 15:27:12

Mantul banget.
Mention


AnitaUtami
2019-04-21 15:15:32

Kereeeeèeeen abis. Mantap babget forensiknya.
Mention


RezaNV
2019-04-21 15:08:58

@SusanSwansh oke oke. Aku selalu setia menunggumu. Eh up ceritanya. Hehe
Mention


SusanSwansh
2019-04-11 18:17:38

@RezaNV sabar ya Kak. Hehe. Lg riset belum selesai.
Mention


RezaNV
2019-04-08 18:25:07

@SusanSwansh San kapan up lagi next chapternya? Saya udah tunggu lho.
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:47:36

@RezaNV mkasih Kak Eza. Btw maaf belum up lagi. Sibuk banget di duta. Hehe
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:45:59

@sinister hehe. Ini bukan horor kok Sob. Ini pschclgycal thriller.
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:45:02

@SusZie wow. Lanjut lagi ya baca mind boxnya. Dan ikuti terus bloody mary nya
Mention


Page 1 of 12 (116 Comments)

Recommended Stories

Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

605 444 9
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

468 364 14
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

359 279 4
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

357 299 6
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 646 8
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

933 663 13