Hotel Ritz, Paris.
Pukul 20:00 malam.


Kalimat pertama dalam buku harian Flora Elshlyn berbunyi:

Dear diary. Malam ini aku akan bertemu lelaki yang akan menikah denganku. 

Pernyataan singkat itu membuat Puggy Humphry terbahak-bahak. "Demi Tuhan, Mon ami. Sejak kapan kau bersedia menikah?" perempuan berwajah cekung bulan sabit itu melipat kakinya ke atas tempat tidur.

"Pierre menelpon minta bertemu. Dia  melamarku," sahut Flora yang tengah menata rambutnya di meja rias seberang tempat tidur. Kemudian dia menambahkan dengan bangga, "kami akan menikah dan hidup bahagia selamanya."

Mata kelabu Puggy yang sekeras baja melebar, ingin tahu. "Dia melamarmu lewat telepon?" 

Flora berdehem. "Er, sebenarnya hanya mengatakan ingin bertemu. Tetapi, untuk apa dia mendadak ingin bertemu, kalau bukan untuk melamarku?"

Bibir tipis Puggy membentuk huruf "O" kecil. Lalu dia berkata dengan nada mengejek, "Mungkin untuk memberitahu dia telah bosan main cinta dengamu, dan ingin memutuskan hubungan." Sudut-sudut mulut Puggy naik seolah dia akan tersenyum, tapi gerakan itu lenyap secepat timbulnya.

Flora menoleh, menatap temannya dengan tajam. Matanya yang berwarna hijau kenari berkilat-kilat marah. "Terkutuk kau, Puggy!"

Yang dimaki mengangkat sebelah alisnya dengan geli, lalu bergumam, "Kau mencintainya sedalam itu?" 

"Ya. Sedalam itu. Bahkan lebih dalam lagi."

"Apa yang kau lakukan untuk mencintai seseorang?"

Flora mengerutkan dahi, kemarahannya sirna mendengar pertanyaan tak terduga itu. Apakah otaknya baik-baik saja? "Aku akan melakukan apa pun untuk membuatnya bahagia."

"Puh! Seharusnya kau tidak perlu melakukan apa pun. Hanya mencintai saja." 

Flora mendengus. "Apa maksudmu?"

"Kau beruntung. Aku juga ingin mencintai."

Mendengar jawaban itu Flora merasa lidahnya seakan tiba-tiba menempel di langit-langit mulutnya. Dia sedang mempermainkanku, batinnya.Tapi yang dia katakan adalah, "Benarkah?"

"Tidak, tentu saja."

Flora menarik napas panjang-panjang, lalu mengembuskan napas lewat mulutnya. "Dasar setan tua! Aku tidak mengerti, bagaimana kau bisa hidup tanpa cinta, tanpa pernikahan?"

Puggy mengibaskan tangannya. "Kau terlalu vous eprouvez trop d'emotion, Mon ami. Terlalu emosional." Lalu, "Cinta yang kau agung-agungkan itu, tidak lebih dari emosi sesaat. Pada akhirnya, cepat atau lambat, kau pun akan bosan juga. Aku bertaruh satu juta franc kalau kau dapat bertahan."

Flora menyeringai. "Kau akan kehilangan satu juta franc-mu, Sobat." Dia meraih surat kabar yang tergeletak di sofa di samping meja rias, dan melemparnya ke Puggy. "Langit pun meramalkan pernikahanku. Maksudku, cinta sejatiku."

Puggy menguap. Dengan malas dia membolak-balik halaman surat kabar Le Figaro itu,  mencari kolom astrologi asuhan Fullcanely. "Leo," bacanya kemudian, "bulan baru menerangi kehidupan asmara anda. Anda berada dalam siklus lunar. Berikan perhatian pada suatu kejadian yang menggairahkan hidup anda, terutama yang berhubungan dengan orang yang berbintang Virgo.  Hari ini akan anda kenang selama hidup anda." 

Flora menjentikan jarinya. "Bintang Pierre Virgo. Semuanya cocok." Wajahnya yang berbentuk hati merona merah. "Kau kalah, Puggy! Kau telah ditakdirkan kalah dari pertama."

"Kau ini benar-benar  bodoh sekali, Mon ami," sahut temannya, sambil melipat surak kabar dengan bunyi gemerisik. "Astrologi itu tidak lebih dari omong kosong pembual tak laku. Dia menipu orang-orang berhati lemah dengan harapan palsu. Termasuk dirimu."

"Aku tidak peduli." Flora berkeras. "Sekalipun yang kau katakan benar, itu tak akan mengubah apa pun. Kami saling mencintai. Itulah kebenarannya."

Otot rahang Puggy mengeras. "Kau menggambarkan cinta dengan sesuatu yang bukan itu, Mon ami. Cinta bukanlah ini dan itu. Melainkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang selalu lain."

"Aku akan tetap menikah dengan Pierre."

"Kau kira kau akan tahan hidup dengan orang asing?  Sebelum dirimu, yang lain juga begitu. Seminggu, sebulan, setahun ... akhirnya mereka menyesal. Dan kau pun akan menyesal. Kau tidak percaya, mau menunggu? Baiklah, kita tunggu."

"Kau terlau sinis dengan persoalan cinta. Itu yang kutahu."

Pembuluh darah di dahi Puggy mencuat keluar. "Puh! Cintamu itu, akan menjadi keputusasaan dilidahmu, dan kehampaan di jantungmu, Mon ami! Di malam hari dia akan menjadi kesengsaraan yang menikam jiwa, dan di siang hari dia akan membekukan mataharimu! Kau akan merasakan itu, aku bersumpah padamu!" dia mengacung-acungkan jari untuk menegaskan setiap perkataannya. 

Di atas meja, tangan Flora mengepal sedemikian kerasnya hingga buku-buku jarinya menjadi putih. "Kau akan dibakar di neraka, Puggy! Lidah dan matamu akan berkubang dalam lumpur. Kusarankan kau menyerah saja. Jangan mengikuti permainan yang akan membuatmu kalah." Dia memiringkan sedikit kepalanya lalu menambahkan dengan penekanan khusus. "Apalagi kau tidak tahu apa-apa soal berjudi."

Puggy menatap mata temannya tanpa berkedip. Mata itu, tempat kebahagiaan dan keputusasaan berkecamuk dalam pertempuran abadi yang tak kunjung usai, menantangnya dengan penuh percaya diri. "Kau mengambil resiko kehilangan kewarasan, kehormatan, dan harga diri, demi cinta butamu itu, Mon ami. Sadarlah!"

Flora mengangkat bahu dan merentangkan tangannya. "Hm. Mengapa kau tidak enyah saja dari sini, Puggy?" suaranya terdengar rendah dan datar. Lelah berdebat.

Salah satu alis Puggy terangkat, membuat kerutan menghiasi dahinya. "Jadi, kau tetap tak ingin ikut denganku?"

"Pergi menggali mayat dan membatalkan kencanku?"

"Itu lebih baik. Kalau kau mengerti maksudku ."

"Mungkin. Tapi aku tak peduli."

Puggy berdiri. "Dengar, Mon ami. Pierremu itu orang asing. Kau tidak tahu apa-apa mengenai dia. Nama belakangnya kau pun tidak tahu. Yang kau tahu namanya Pierre. Hanya itu." Dia berjalan ke arah pintu, kemudian, "Aku pernah mencinta, Mon ami. Dia seorang inspektur polisi di Prancis. Umurnya sepuluh tahun lebih tua dariku. Saat tragedi Mei 1968, dia tewas dalam suatu bentrokan. Mayatnya hancur terinjak-injak hingga sulit dikenali. Aku menjadi gila selama berbulan-bulan. Berlari dari satu teman ke teman lainnya dan berteriak, 'Aku ingin mati! Aku ingin mati!' kepada mereka. Kau paham? Aku orang Swiss. Kami tidak memikirkan cinta tanpa memikirkan kematian. Cinta dan kematian: dua hal paling sederhana yang dianugrahkan Tuhan pada manusia. Kau bertanya apakah aku memahami cinta, bukan? Ya. Aku memahaminya. Karena aku memahami kematian." Pintu di belakang Puggy tertutup, bersama sebuah seringai kemenangan.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 11 12 0 0 0
 
Save story

RizzalRr
2019-04-21 16:03:53

Buka tinlit ada reviwe ttg puggy. Langsung meluncur deh. Wkwk.
Mention


Zein
2019-04-21 15:46:54

Wow. Seri keduanya udah tayang.
Mention


CandraSenja
2019-04-21 15:27:12

Mantul banget.
Mention


AnitaUtami
2019-04-21 15:15:32

Kereeeeèeeen abis. Mantap babget forensiknya.
Mention


RezaNV
2019-04-21 15:08:58

@SusanSwansh oke oke. Aku selalu setia menunggumu. Eh up ceritanya. Hehe
Mention


SusanSwansh
2019-04-11 18:17:38

@RezaNV sabar ya Kak. Hehe. Lg riset belum selesai.
Mention


RezaNV
2019-04-08 18:25:07

@SusanSwansh San kapan up lagi next chapternya? Saya udah tunggu lho.
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:47:36

@RezaNV mkasih Kak Eza. Btw maaf belum up lagi. Sibuk banget di duta. Hehe
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:45:59

@sinister hehe. Ini bukan horor kok Sob. Ini pschclgycal thriller.
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:45:02

@SusZie wow. Lanjut lagi ya baca mind boxnya. Dan ikuti terus bloody mary nya
Mention


Page 1 of 12 (116 Comments)

Recommended Stories

Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

354 269 6
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

605 444 9
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

202 163 3
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

599 462 7
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

357 299 6
Anne

Anne's Tansy

By murphy

601 370 9