Baginya, membunuh adalah ekspresi cinta termanis, bukti kasih sayang, dan … hasrat terluhur. Karena itu, satu pembunuhan tak pernah cukup! Dia pertama kali melakukan pembunuhan di usianya yang ke lima belas tahun. Hari itu, sepuluh menit sebelum pukul dua belas siang langit menurunkan hujan salju yang lebat, yang segera menyelimuti kota. Salju yang lembut mengubah jalan-jalan yang sudah membeku menjadi berwarna kelabu. Angin Desember sedingin es memukul-mukul ranting dan jendela, dan menghalau penduduk Székesfehérvár bergegas pulang ke rumah masing-masing.


Di jalanan Oskola u. seorang laki-laki kurus yang mengenakan jas hujan plastik warna hijau berjalan tergesa-gesa di tengah arus orang banyak. Jalannya cepat, tapi tidak seperti pejalan kaki lainnya yang bergegas untuk melarikan diri dari hawa dingin. Kepalanya terangkat tinggi, dan tampaknya dia tidak mempedulikan beberapa orang lewat yang menabraknya.

Ketika lelaki itu sampai di persimpangan, lampu penyeberangan berganti menjadi merah. Dia pun berhenti bersama orang banyak yang tidak sabar. Tidak berapa jauh dari tempatnya berdiri, tampak seorang gadis berambut cokelat kemerahan berjalan tergesa-gesa sambil merapatkan tubuh pada kekasihnya untuk mengusir hawa dingin. Saat dia memeperhatikan gadis itu membelok di ujung jalan, saat itulah dia merasakan seseorang mendorong panggungnya. Dorongan yang tiba-tiba dan cukup keras ini mengguncangkan tubuhnya. Rupanya ada pemabuk yang kehilangan kesabaran dengan lampu penyebrangan.

Laki-laki berjas hujan hijau itu mulai menoleh untuk melihat siapa yang mendorongnya, tetapi dia merasa heran karena lututnya mendadak lemas dan menekuk. Perlahan-lahan, di luar kemauannya, tubuhnya roboh ke trotoar. Rasa sakit di punggungnya mulai meluas hingga ke dada, menyebabkan dia menjadi sulit bernapas. Dia sadar bahwa orang banyak terus berjalan melangkahi wajahanya, seakan-akan digerakkan oleh kehidupan di dunia mereka sendiri. Pipinya mulai terasa beku karena menempel ke trotoar yang dingin. Dia tahu bahwa dia tidak boleh berbaring di situ. Dia mencoba membuka mulutnya untuk minta tolong, namun yang keluar justru cairan berwarna merah yang hangat membanjiri salju. Dia tertegun melihat darahnya sendiri mengalir di trotoar menuju ke saluran pembuangan air. Rasa sakit di dadanya kini semakin menyiksa. Dia memejamkan mata karena lelah terus-menerus melihat langit putih yang menyilaukan. Kabut dingin dan udara lembap menyelimuti tubuuhnya. Kini salju yang turun sudah berubah menjadi hujan air es, tetapi lelaki itu sudah tidak merasakan apa-apa lagi.

Sejak pembunuhan pertama yang dilakukannya sepuluh tahun lalu, membunuh jadi candu terkuat yang memberikan kepuasan luar dalam pada dirinya. Karena ada sesuatu dalam perbuatan merenggut nyawa itu yang membuat dia merasa dirinya seperti Tuhan. Itu adalah awal dari segalanya. Bukankah ketika diri manusia lenyap, hancur, yang tersisa hanyalah cinta tanpa batas? Cinta yang murni itu sendiri? Bukankah hanya dengan cara membebaskan diri yang telah cukup lama menderita untuk dialihkan menjadi cinta sajalah yang merupakan bentuk ekspresi cinta termanis? Karena ketika seseorang tersadar bahwa keberadaannya adalah beban yang terlalu berat, dia akan berkata: aku ingin mati, lebih baik aku mati.

Kematian adalah pembebasan diri dari segala bentuk penderitaan, keputusasaan, juga beban yang terlalu berat. Dia telah membuktikan hal itu. Ayahnya yang dibunuhnya untuk pertama kali, kini tidak perlu lagi menanggung penderitaan dari sakitnya yang tidak mungkin dapat disembuhkan, juga kekecewaan yang mendalam atas pengkhianatan istrinya. Ya, dia membunuh ayahnya untuk membuktikan pengabdian dan rasa cintanya. Dia membunuh ayahnya karena jijik terhadap ibunya yang tak setia, yang telah berani main serong dengan lelaki lain dan ayahnya selalu memafkannya. Dia jijik, dan itu lebih buruk lagi. Orang yang membangkitkan kebencian masihlah manusia, tapi tidak bagi orang yang membangkitkan rasa jijik. Kebencian menyiratkan kemanusiaan: ada aturan, alasan, tema, keselarasan. Tetapi, rasa jijik hanya mempunyai satu kesimpulan: kebobrokan.

Pembunuhan kedua yang dia lakukan adalah pada kekasihnya sendiri, Yankel. Sore itu, senja menyapu kota Székesfehérvár seperti tangan seorang perusak: begitu tiba-tiba, tanpa peringatan. Menyapu atap merah rumah-rumah, menyapu aspal jalanan yang berkilauan, menyapu anjing-anjing yang gelisah dan waspada. Di taman MR-kertdesign, dia mendekati pintu penumpang depan sebuah limusin hitam yang terparkir sembarangan. Yankel mencondongkan tubuhnya ke samping untuk membuka pintu mobil itu. Dia berhenti di luar, meneguk dari sebotol unicum—minuman nasional Hongaria—yang dibawanya. Setelah mengusap mulutnya, dia masuk ke mobil, duduk di samping Yankel, kemudian menutup pintu.
“Aku minta maaf mendadak minta bertemu,” ujarnya. “Ada sesuatu hal serisus yang ingin aku bicarakan denganmu.” Dia meneguk unicumnya lagi dan memberikan botol yang yang satunya itu kepada Yankel. “Mari minum untuk cinta kita. Hari yang kita nanti-nantikan sudah semakin dekat.”
“Apa kau berhasil mendapat restu ibumu untuk menikah denganku?” tanya Yankel saat mereka bersulang.
“Tidak, Yankel. Ibuku sangat keras kepala. Tetapi, aku tahu cara bagaimana kita bisa bersama-sama.”
Unicum itu terasa asin, tetapi Yankel tidak peduli. “Apa kau bermaksud mengajakku kawin lari?”
“Tentu saja tidak. Orang Yahudi baik-baik tidak mungkin melakukan kejahatan seperti itu. Tuhan mengusir Adam dari surga karena dia melanggar larangan-Nya. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi pada kita karena aku sangat mencintaimu. Katakan padaku, Yankel, apakah kau benar-benar mencintaiku?”
“Aku pun sangat mencintaimu. Amat sangat mencintaimu. Dengan apa pun, bahkan nyawaku.”
“Mari bersulang lagi.”
Yankel meneguk lagi minuman itu, lalu dia dapat merasakan minuman itu menghangatkan darahnya. Kehangatan pada tenggorokan berubah dengan cepat menjadi panas yang meresahkan. Sambil mengendurkan dasi kupu-kupunya, dia merasakan seperti ada pasir yang tidak menyenangkan di dalam tenggorokannya. Dia menaruh minumuannya di dasbor. “Mungkin aku sudah cukup minumnya,” katanya, lemah. “Sekarang, katakan padaku, apa rencana besarmu itu?”
“Cinta. Manusia selalu menggambarkan cinta dengan sesuatu yang bukan itu. Cinta bukanlah ini dan itu, melainkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang selalu lain.

“Ya,” kata Yankel, yang merasa demam ketika dia melonggarkan dasinya lebih lebar. “Dan kau tak perlu cemas, rasa cintaku padamu akan ikut bersamaku sampai ke kuburku.”
Dia terdiam lama. “Aku percaya pada kesungguhan cintamu.”
Tiba-tiba Yankel merasa berkeringat.
“Apa kau baik-baik saja, Yankel? Kau tampak pucat.”
Tenggorokan Yankel membengkak tiba-tiba. Dia jatuh ke depan di tempat kemudi, sambil mencengkeram lehernya dan merasakan muntahnya pada kerongkongannya yang menyempit dan panas bagai kantong api. Ada rasa sakit luar biasa yang menyerang batang lehernya. Dari tenggorokannya, keluar suara jeritan yang tidak cukup keras untuk terdengar dari luar mobil.
“Apa kau masih ingin mendengar rencana hebatku?”
Dengan tak percaya, Yankel menoleh melihat kekasihnya yang duduk di sampingnya dengan tenang, menatap lurus ke depan melewati kaca depan. Yankel menatapnya dengan tidak mengerti.
“Aku memang sangat mencintaimu, Yankel. Tetapi, mengingat keadaanmu, ini adalah yang terbaik untuk dirimu. Sekarang kau bebas dari beban penderitaanmu, bebas dari rasa malu karena ketidakmampuanmu meyakinkan ibuku, dan bebas untuk mencintaiku seutuhnya. Aku memasukan bubuk kacang ke dalam minumanmu. Itu sudah lebih dari cukup untuk memicu alergimu yang mematikan. Dan sekarang, pengasin dalam unicum itu sedang bereaksi. Dalam waktu kurang dari dua menit kau akan mati. Ya, kau akan mati membawa cintamu—cinta kita berdua.”

Pandangan mata Yankel mengabur, dan dia tersengal-sengal mencari udara. Ketakutan, kekecewaan, dan kemarahan tampak jelas di wajahnya. Tubuh Yankel telah pernah menderita berbagai macam rasa sakit, namun panas yang membakar tenggorokannya sekarang, terasa asing sekali baginya. Begitu dalam dan menyedihkan. Bukan sakit pada dagingnya ... tetapi lebih ke jiwanya. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, dia mencoba untuk menyergap kekasihnya, tetapi tubuhnya yang menjadi kaku tak lagi dapat bergerak. Yankel mencoba mengangkat tinjunya yang terkepal untuk membunyikan klakson, tetapi dia terpeleset, bergulung ke arah tempat duduk, tergeletak di samping kekasih hatinya sambil memegangi lehernya. Senja telah berlalu dan malam luruh bersama jutaan bintang. Yankel terus berusaha membuka matanya, mencoba untuk melihat. Tetapi, air matanya yang tiba-tiba mengalir begitu saja membuat pandangan matanya mengabur. Beberapa detik kemudian dia tak dapat lagi melihat, meskipun dapat merasakan otak yang kehilangan zat asam itu bergantung pada sisa-sia dari pandangan matanya yang terakhir. Ketika dunianya perlahan-lahan menjadi hitam, Yankel samar-samar masih mendengar suara daun yang saling bergesekan tertiup angin di taman itu.
“Inilah rencanaku, Yankel. Membunuhmu. Aku sangat mencintaimu, dan semua orang yang kucintai, harus mati ditanganku. Kau tahu mengapa? Karena aku menginginkan cinta yang abadi. Dan abadi berarti kematian.” Beberapa menit kemudian dia keluar dari mobil, masuk ke bagian belakang, membersihkan bukti, dan pergi untuk membuat alibi.

Pada pukul tujuh malam harinya, dua orang polisi menemuinya untuk dimintai keterangan. Mereka menanyakan beberapa pertanyaan, menekan, memancingnya lengah, dan berhipotesis. Tetapi sia-sia. Dengan ketenangan, pengalaman, kecerdasaan, dan kepandaiannya mengatur emosi, bahkan, mesin pendeteksi kebohongan pun tak akan mampu mendeteksi kebohongannya—tidak akan ada yang mampu. Dia adalah pemain sandiwara—seorang aktris yang terbiasa memainkan macam-macam peran, mendramatisasi diri sendiri, dan otaknya sangat cerdas.

Dia tumbuh dari sebuah keluarga terpandang di Székesfehérvár. Ayahnya seorang dokter spesialis penyakit dalam dan ibunya ibu rumah tangga yang sempurna. Dia memiliki seorang kakak perempuan berambut cokelat kemerahan, kulit Hongaria yang kenyal, sepasang mata cokelat tua, dahi tinggi yang mulus, dan bibir yang indah. Selain kakak, perempuan dia juga memiliki seorang kakak laki-laki bernama Pedro. Dia memiliki wajah yang tampan, rambut ikal, mata cokelat, dan senyum yang memikat. Sebagai kakak tertua, Pedro adalah panutan yang baik untuk kedua adiknya. Di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, dia telah mampu mendatangkan rasa hormat pada nama keluarga itu. Guru-gurunya memberinya gelar Illui, yang berarti cerdas dan bijaksana. Pedro hafal seluruh isi Talmud di luar kepala, berikut tafsir-tafsirnya, juga tafsir atas tafsirnya. Dia belum lagi genap berumur sembilan belas tahun ketika meraih Simcha, gelar Rabbi. Pedro alah kebanggaan penduduk kota itu, dan mereka meramalkannya akan menjadi Gaon dari Vilna yang baru. Lalu … sesuatu yang tak terduga terjadi. Pedro memutuskan untuk mempelajari Zohar dan buku-buku lain tentang Kabbalah. Selama satu tahun dia tidak pernah meninggalkan rumah, memaksakan kesendirian paripurna terhadap dirinya sendiri. Pedro makan sendiri, berdoa sendiri, dan mnolak dikunjungi siapa pun juga termasuk orang tuanya. Ibunya meninggalkan makanan untuknya di sebuah meja kecil dekat pintu kamarnya. Esok harinya dia kerap menemukan piring yang tak tersentuh di tempat yang sama. Dalam masa mengasingkan diri itu, tak seorang pun pernah melihatnya. Lalu pada suatu malam di bulan Elul—bulan pertobatan—Pedro keluar dari kamarnya menuju sinagoge, tempat di mana orang-orang beriman mengingat dosa-dosa mereka, memukuli dada, dan memohon ampun Tuhan. Ketika orang-orang melihat Pedro, kesunyian tiba-tiba melingkupi ruangan—begitu hening, begitu mencekam, sehingga dinding-dinding sinagoge itu seaakan-akan retak karenanya.

“Katakan pada yang lain, aku ingin bicara Sabtu ini,” ujar Pedro, lalu dia berbalik dan pergi.
Dia dan ayahnya yang juga tengah berdoa di sinagoge waktu itu hanya menatap Pedro dengan tidak mengerti. Kemudian, ketika mereka pulang, ayahnya pun segera mengetuk pintu kamar Pedro. Tanpa sepengetahuan siapa pun, dia menguping pembicaraan ayah dan kakannya dari lubang kunci.
“Katakan Pedro, apa yang sebenarnya terjadi?” ujar ayahnya.
“Tuhan menjadi Tuhan karena Dia berperan sebagai ikatan antara benda dan mahluk hidup, antara hati dan jiwa, antara kebaikan dan kejahatan, antara masa silam dan masa depan. Menyerupai Tuhan berarti menyempurnakan ikatan kita sendiri, memperluasnya, membuatnya lebih nyata, lebih berguna, lebih memancar. Tetapi, itu semua hanya bagian kecil dari diri Tuhan. Karena, bagian terbesar dari Tuhan adalah keabadian.”
“Pedro, apa yang terjadi padamu, Nak?”
“Aku baik-baik saja. Ayah, kuminta kau dan yang lainnya jangan datang ke sinagoge hari Sabtu ini.”
Sabtu itu, dengan diam-diam dia menyelinap pergi ke sinagoge. Rasa pesanaran yang timbul dari mendengar percakapan ayahnya dan Pedro semalam mendrongnya berbuat nekat. Saat itu pagi hari, antara waktu pembacaan doa Shaharrit dan doa Musaph, tepat setelah membaca Tuarat. Pedro naik ke mimbar dengan ketenangan yang mengagumkan. Dia mengambil Sidrah minggu itu sebagai pembuka kemudian masuk ke isi Talmud. Khotbahnya sempurna tiada cacat-cela dan berdampak besar. Kutipan Pedro dari Talmud, dari kitab Ezekiel, dari Zohar, dari Sefer Hayetzira yang merupakan kitab penciptaan dunia susul-menyusul mengarah pada: penggarisbawahan kekuatan manusia yang membuat Al-Masih patuh. Bahwa manusia bukanlah apa yang dia lakukan, melainkan apa yang dia inginkan. Bahkan manusia mampu menaklukan langit, bumi, dan maut, jika dia mau meruntuhkan diding yang memenjarakannya. Manusia itu lebih penting dari Tuhan yang hanya sekedar ikatan dan keabadian.
“Kalian tidak menolak kematian tetapi kalian menolak keabadian!” seru Pedro. “Kalian hanya memahami yang terbatas, yang cepat pudar, yang tergilas hukum waktu. Apa kalian ingin tahu siapa itu Tuhan? Tuhan adalah kelemahaan orang-orang kuat dan kekuataan orang-orang lemah. Dan manusia, dia adalah kekuataan Tuhan juga kelemahaan-Nya.”


Semua kejadian-kejadian itu telah lama berlalu, dan kini dia telah meninggalkan Székesfehérvár, telah jauh dari Hongaria. Namun begitu, di mana pun dia berada, di Prancis maupun di Hongaria, dia selalu percaya pada kekuatan cinta. Karena dia tahu dengan baik, bahwa salah satu sisi cinta Tuhan tersembunyi dalam kejahatan. Dan malam ini, berdiri di bawah cahaya bulan yang pucat di balkon kamar tidurnya, dia tersenyum memikirkan nikmatnya bercinta dengan kematian.

“Mon ami, waktunya bercinta denganmu telah tiba.”

Next >>
How do you feel about this chapter?
1 23 47 4 1 1
 
Save story

RizzalRr
2019-04-21 16:03:53

Buka tinlit ada reviwe ttg puggy. Langsung meluncur deh. Wkwk.
Mention


Zein
2019-04-21 15:46:54

Wow. Seri keduanya udah tayang.
Mention


CandraSenja
2019-04-21 15:27:12

Mantul banget.
Mention


AnitaUtami
2019-04-21 15:15:32

Kereeeeèeeen abis. Mantap babget forensiknya.
Mention


RezaNV
2019-04-21 15:08:58

@SusanSwansh oke oke. Aku selalu setia menunggumu. Eh up ceritanya. Hehe
Mention


SusanSwansh
2019-04-11 18:17:38

@RezaNV sabar ya Kak. Hehe. Lg riset belum selesai.
Mention


RezaNV
2019-04-08 18:25:07

@SusanSwansh San kapan up lagi next chapternya? Saya udah tunggu lho.
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:47:36

@RezaNV mkasih Kak Eza. Btw maaf belum up lagi. Sibuk banget di duta. Hehe
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:45:59

@sinister hehe. Ini bukan horor kok Sob. Ini pschclgycal thriller.
Mention


SusanSwansh
2019-04-08 05:45:02

@SusZie wow. Lanjut lagi ya baca mind boxnya. Dan ikuti terus bloody mary nya
Mention


Page 1 of 12 (116 Comments)

Recommended Stories

Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

598 448 7
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

219 176 3
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

618 475 7
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 11
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

5K+ 1K+ 9
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

492 385 14