.....

Langit yang mendung di atas sana berhasil membuat Jeong-Min betah berlama-lama berada di rooftop sekolah, bahkan sejak jam pelajaran pertama berlangsung hingga sekarang sudah memasuki jam istirahat. Ya, gadis itu membolos lagi.

Di tangannya masih terdapat sebatang rokok yang panjangnya tinggal setengah. Itu adalah rokok kedua yang sudah ia isap hari ini. Teman setianya di kala ia sedang jenuh.

“Kau di sini ternyata.”

Jeong-Min langsung menoleh saat mendengar suara seorang pemuda dari arah belakangnya. Terkejut, pastinya. Gadis berhidung bangir itu langsung mendengus saat melihat seorang Oh Sehun kini sedang berjalan menghampirinya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Sehun, lalu mendudukkan diri di sebelah Jeong-Min.

Jeong-Min bergeming. Sama sekali tak ada niatan untuk menjawab pertanyaan Sehun tersebut.

“Kau tadi membolos, ya?”

Jeong-Min tetap bergeming.

“Hei, aku sudah tahu namamu. Lee Jeong-Min, ‘kan?”

Jeong-Min langsung mengernyit. Sedikit bingung, dari mana Sehun bisa tahu namanya. Padahal, dia tidak pernah memakai papan nama di bajunya. Apa mungkin Sehun membuka buku absen kelas?

“Semalam, aku menelepon Jong-In.” Dan, Jeong-Min langsung mendesah mendengar itu. “Dan, aku bertanya siapa namamu padanya. Kau tidak marah, ‘kan?” lanjut Sehun.

Jeong-Min tak mengindahkan ucapan Sehun. Gadis itu malah kembali mengisap rokok yang masih ada di tangannya.

“K-kau merokok?” kaget Sehun. Dia tadi tidak melihat kalau ada rokok di tangan Jeong-Min. Tanpa berpikir panjang, pemuda itu langsung mengambil rokok yang masih diisap oleh Jeong-Min tersebut.

“Yak! Apa yang kau lakukan, hah?!” amuk Jeong-Min.

“Rokok tidak baik untuk kesehatan,” ucap Sehun, lalu mengisap rokok yang diambilnya itu. Dahinya berkerut, lalu dia terbatuk-batuk saat asap yang dihasilkan dari rokok tersebut melewati rongga hidungnya.

“Terus, kenapa malah kau isap kalau tidak baik untuk kesehatan?” tanya Jeong-Min sambil menatap Sehun tajam.

“Kau membelinya pakai uang, ‘kan? Kalau tidak dihabiskan, itu namanya pemborosan. Membuang-buang uang,” jawab Sehun santai. Padahal, ia tidak suka merokok. Ini adalah pertama kalinya ia mencicipi benda tersebut. Dan menurutnya, rokok sama sekali tidak ada rasa nikmatnya.

Jeong-Min mendesah. “Pengganggu.”

“Hei! Kau itu perempuan. Tak seharusnya merokok.”

“Memangnya kenapa kalau aku merokok, hah? Apa itu mengganggumu? Apa merokok bisa membuatku masuk penjara?” cerocos Jeong-Min.

Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Iya, merokok bisa membuatmu masuk penjara, jika rokok yang kau isap itu adalah hasil curian,” ujarnya, lalu tertawa miring.

Jeong-Min yang mendengarnya mendesah. Menurutnya, candaan Sehun sama sekali tidak ada lucu-lucunya. “Kenapa kau ke sini?” tanya Jeong-Min kemudian.

“Ingin saja,” jawab Sehun. Pemuda itu senyum-senyum sendiri melihat wajah Jeong-Min dari samping. Cantik, batinnya. Keningnya lalu berkerut saat melihat gadis di sampingnya itu terus menatap pemandangan di bawah sana, di mana para murid seperti dirinya banyak berkumpul di sana.

“Sehun-ssi,” panggil Jeong-Min.

“Ya?” sahut Sehun.

“Menurutmu, apa mereka semua bahagia?” tanya Jeong-Min.

“Ha?”

“Mereka.” Jeong-Min menunjuk sekumpulan murid perempuan yang sedang tertawa bersama. “Apa mereka bahagia? Mereka kelihatan seperti tidak memiliki beban sama sekali.”

Sehun tertawa miring. “Kau tahu, manusia adalah makhluk yang paling pandai dalam hal menyembunyikan masalah.”

Jeong-Min yang mendengarnya tersenyum. “Ya, kau benar. Manusia memang sangat pandai menyembunyikan masalah.”

“Sepertinya kau tidak mempunyai teman selain Jong-In, ya?” tebak Sehun.

Jeong-Min mendesah. Itu memang benar. Dia tidak mempunyai teman selain Jong-In. Jeong-Min terlalu malas untuk sekadar mencari teman. Baginya, mereka semua hanya mementingkan dirinya sendiri. “Ne,” jawabnya.

“Kenapa kau tidak mencari teman? Ya ... agar kau tidak kesepian, seperti sekarang misalnya.”

“Tidak penting.”

Teman? Bukankah itu sejenis benalu?

“Benarkah?”

“Ya. Buat apa memiliki banyak teman, jika tidak ada yang tulus. Hanya melihat dari segi materi yang kumiliki saja. Layaknya sebuah benalu.”

“Ya, kau benar. Oh, ya, bagaimana acara kencanmu bersama Yifan malam itu? Apakah menarik?”

“Biasa saja.”

“Um ... kalau begitu, kapan-kapan, bagaimana kalau kita berdua pergi berkencan?” usul Sehun.

Jeong-Min langsung menatap Sehun sinis. “Berkencan? Memangnya kita sepasang kekasih?”

“Ng ... bukan, sih. Tapi ... bagaimana kalau hari ini kita jadi sepasang kekasih? Apa kau mau?”

Jeong-Min yang mendengarnya lantas tertawa, “Hahaha.” Ia lalu berubah datar. “Apa kau gila?”

“Tentu saja tidak. Aku tampan,” elak Sehun.

“Maka dari itu, pergilah berkencan dengan gadis yang cantik dan tidak buruk sepertiku.”

Deg! Sehun tertegun. Dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Padahal, ucapannya tadi hanyalah sebuah candaan saja. Tapi, kenapa sekarang terasa menyesakkan saat Jeong-Min menolak ajakannya?

“Memangnya kau buruk, ya?” tanya Sehun sambil menatap gadis di sampingnya itu dalam.

“Menurutmu?” Jeong-Min sebenarnya paling malas jika ada yang bertanya seperti itu padanya. Apakah mereka tidak bisa menilainya sendiri? Bukankah semuanya sudah tampak jelas jika dilihat dari tingkah lakunya selama ini?

“Ya ... kau memang buruk. Sangat buruk malah. Yang pertama, kau suka membolos. Yang kedua, kau ternyata perokok. Dan yang ketiga, kau ternyata tidak pernah bersosialisasi. Kau tidak mempunyai teman.”

“Punya. Aku mempunyai teman. Dia adalah Jong-In.”

Sehun tertawa miris. Tak seharusnya Jeong-Min hanya memiliki satu teman saja. “Jong-In? Hanya Jong-In, ‘kan? Tsk, kau tak seharusnya seperti itu.”

“Apa maksudmu?” Jeong-Min mengerutkan dahinya tak paham.

Sehun menghela napas panjang. “Aku bisa melihat ada banyak masalah dalam dirimu. Aku tahu, kalau kau hanya menceritakannya pada Jong-In, yang mana adalah satu-satunya teman yang kau miliki saat ini.”

“Memangnya kenapa? Sejauh ini, Jong-In adalah pendengar yang baik. Dia selalu ada untukku.”

“Ya, aku tahu itu. Maksudku, apa kau tidak merasa membutuhkan teman lagi, agar bukan hanya jong-In  saja yang kau bebani untuk menyelesaikan masalahmu itu? Sepertinya, kau selalu bergantung kepada Jong-In.”

Jeong-Min terdiam. Mencoba mencerna ucapan Sehun tersebut. Ya, Sehun benar. Selama ini, dia selalu bergantung kepada Jong-In. Setiap ada masalahnya, pasti selalu Jong-In yang ia hubungi. “Selama ini, Jong-In baik-baik saja setiap aku bercerita padanya mengenai masalahku. Dia selalu bisa memberi masukan.”

“Ya, aku juga tahu kalau itu, Jeong-Min~ssi. Masalahnya, apa kau juga tahu apa yang dia rasakan selama ini? Apa selama ini hidupnya tak memiliki masalah? Kau tidak tahu, ‘kan, karena selama ini kau terus yang selalu menceritakan masalahmu padanya.”

Jeong-Min terdiam. Selama ini, dia selalu membuat Jong-In repot. Dia tidak pernah memberikan Jong-In waktu untuk menikmati dunianya sendiri. “Apa yang harus kulakukan?” ucapnya lirih, namun masih bisa didengar jelas oleh Sehun.

“Yang harus kau lakukan sekarang adalah ...,” Sehun bangkit dari duduknya dan meraih tangan Jeong-Min. “..., kita ke kelas. Bel pergantian jam sepertinya sudah berbunyi sedari tadi.”

Shireo,” tolak Jeong-Min.

“Jeong-Min~ssi! Sekali-kali, buatlah kedua orangtuamu senang. Berbuatlah sesuatu yang berguna.”

“Tapi–”

“Ayo! Cepatlah!”

Akhirnya, dengan sangat terpaksa, Jeong-Min pun berdiri. Meskipun dalam hatinya sama sekali tak ada niatan untuk ikut belajar di kelas.

 

~bad~

 

Dari rooftop sampai di depan kelasnya, Sehun terus menggandeng tangan Jeong-Min. Seakan-akan, ia tak ingin gadis itu pergi. Pergi membolos maksudnya. Namun, telat. Guru yang bertugas mengajar di kelas mereka sekarang ternyata sudah lebih dulu stay di sana. Keduanya telat. Dan, mungkin saja akan mendapatkan hukuman.

“Permisi, Seonsaengnim,” ujar Sehun sembari melangkah memasuki kelas, diikuti oleh Jeong-Min di belakangnya.

“Dari mana saja kalian, hah? Kenapa baru masuk?” tanya guru itu sambil menatap keduanya tajam.

“Ng ... kami habis ... habis ... dari ruang guru, Saem. Ada urusan tadi. Makanya terlambat masuk,” alibi Sehun.

“Alasan.” Guru itu lalu beralih pada Jeong-Min yang sedari tadi hanya diam saja. “Kau yang bernama Lee Jeong-Min, ‘kan?” tanyanya.

Ne, Saem,” jawab Jeong-Min.

“Kau tadi membolos, ‘kan?”

Ne, Saem.”

Guru itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Oh, ya. Perkenalkan, saya guru Olahraga baru kalian.”

“Ya?” Jeong-Min terkesiap. Dia tidak tahu kalau sekarang adalah jadwal pelajaran Olahraga di kelasnya. Pelajaran yang sangat tidak ia sukai.

“Nama saya Kim Junmyeon. Panggil saja Suho Saem. Arasseo?”

Jeong-Min dan Sehun mengangguk paham. “Ne, Saem.”

“Kalau begitu, kalian silakan ganti pakaian.”

Sehun kemudian beralih kepada teman-temannya. Mereka sudah pada berganti pakaian. Ia dan Jeong-Min pun melangkah menuju loker yang ada di bagian belakang ruang kelas tersebut. Setelah itu, keduanya menuju ruang ganti –tentunya di ruangan yang berbeda.

 

~bad~

 

To : Lee Sae Jong

Hari ini, Jeong-Min membolos dua mata pelajaran.

 

~bad~

 

Jeong-Min dan Sehun beserta teman-temannya kini sudah berkumpul di lapangan basket indoor. Pelajaran hari ini adalah basket.

Jeong-Min terlihat sama sekali tak bersemangat. Biasanya, dia akan membolos pelajaran yang kebanyakan praktek ini. Tetapi kali ini, tak ada celah baginya untuk membolos. Mau alasan sakit, tapi dia tampak baik-baik saja. Ya, walaupun sebenarnya dia tengah sakit. Mau alasan ke toilet, sepertinya tidak memungkinkan. Guru itu sepertinya sudah tahu tentang kelakuan Jeong-Min selama ini. Buktinya, dia tahu kalau Jeong-Min tadi membolos.

“Oke, sebelum memulai pemanasan, silakan terlebih dahulu kalian lari keliling lapangan basket ini sebanyak lima kali putaran,” Suho Seonsaengnim memberi arahan.

Jeong-Min langsung membulatkan matanya. Apa? Lima kali? batinnya tak percaya. Apa aku bisa? Satu putaran saja aku tak yakin bisa melaluinya.

Ne!” sahut murid-murid.

Mereka pun mulai berlari. Ada yang cepat, ada pula yang santai.

Jeong-Min memilih berlari dengan kecepatan lambat, serta di urutan paling terakhir –ah tidak, ternyata di belakangnya masih ada Sehun yang ikut memperlambat kecepatan larinya. Beruntung, Suho Seonsaengnim tidak memperhatikan mereka.

Lima kali ... lima kali ....

Sedari tadi Jeong-Min terus menggumamkan kalimat itu. Dia harus kuat. Dia tidak boleh terlihat lemah. Apalagi dia sudah dicap sebagai bad girl. Tidak mungkin, ‘kan, seorang bad girl pingsan hanya karena lari keliling lapangan basket? Mungkin, jika itu adalah Jeong-Min.

“Hei, Jeong-Min~ssi,” sapa Sehun, sambil mencoba menyamakan langkah kaki Jeong-Min. “Apa kau belum makan, hah? Kenapa kau begitu lambat?”

Jeong-Min hanya diam saja. Dia mulai merasa lelah. Padahal, ini baru putaran yang kedua, dan kecepatan larinya juga sangat lambat.

Di seberang sana, tampak Soo-Kyo dengan ekspresi kesalnya melihat ke arah Jeong-Min. Dia masih kesal dengan kejadian semalam. Dan sekarang, dia melihat saudara tirinya itu bisa dengan mudahnya didekati oleh Sehun. Dia yang merasa lebih baik daripada Jeong-Min saja rasanya sulit untuk mendekati pemuda tersebut.

“Yak, Jeong-Min~ssi!” panggil Sehun sekali lagi.

Jeong-Min akhirnya menoleh. Dia menatap Sehun yang masih berlari di sebelahnya sinis. “Oh Sehun, tidak bisakah kau diam? Kenapa kau begitu banyak bicara? Apa kau seorang perempuan yang sedang menyamar sebagai seorang laki-laki, hah?” cerocosnya kesal.

Sehun berhenti mengoceh. Aku laki-laki tulen, batinnya. Dia bukan seorang perempuan seperti yang dikatakan oleh Jeong-Min tadi. Dia hanya ingin lebih dekat dengan gadis itu. “Mianhae,” ucap Sehun pelan.

Jeong-Min akhirnya berhenti berlari. Dia sudah tidak kuat lagi. Sehun yang dari tadi berlari di sebelahnya juga ikut berhenti. “Kenapa kau berhenti?” tanya Sehun.

Jeong-Min tak menjawab. Dadanya mulai terasa sakit. Ini yang tidak dia sukai dari pelajaran ini. Dia bisa pingsan hanya dengan berlari saja.

“Yak, Jeong-Min~ssi,” panggil Sehun. Dia lalu menatap wajah Jeong-Min yang kelihatan pucat. “Kau sakit? Wajahmu pucat.”

Jeong-Min menggeleng pelan. Pandangan di hadapannya mulai terlihat samar di matanya. Dan pada akhirnya, gadis itu pingsan.

 

~bad~

 

To : Lee Sae Jong

Anak Anda, Lee Jeong-Min, pingsan saat pelajaran Olahraga.

 

~bad~

 

Pemuda berperawakan tinggi itu tersenyum saat melihat gadis yang tengah terbaring di ranjang mulai membuka kedua kelopak matanya. Helaan napas lega terdengar keluar dari mulut dan hidungnya. Pemuda tersebut menatap wajah gadis itu dengan mata berbinar. Ada perasaan lega di dalam hatinya. “Jeong-Min~ssi,” panggilnya.

Jeong-Min mengerjap-ngerjapkan kedua matanya perlahan. Objek pertama kali yang ia lihat saat sadar dari pingsannya adalah seorang pemuda yang bernama Oh Sehun. Gadis itu lalu mengedarkan pandangannya ke samping kanan dan kirinya, hanya terlihat sebuah tirai berwarna kuning muda yang digunakan sebagai partisi. Ia menghela napas lega, karena ini bukan bangsal di rumah sakit, melainkan ruang kesehatan yang ada di sekolahnya. Ia tahu, karena ia sering masuk ke sini untuk sekadar menghindar dari mata pelajaran yang tidak ia sukai.

Jeong-Min mencoba bangun, meskipun tubuhnya masih terasa lemas. Ia kemudian menatap Sehun lekat-lekat. Seakan-akan pemuda itu tengah punya utang padanya. “Kau yang membawaku kemari?” tanyanya.

Sehun mengangguk. “Iya,” jawabnya.

“Terima kasih.” Jeong-Min menundukkan kepalanya. Ia kira, sudah tidak ada lagi yang peduli padanya di sekolah ini. Ia kira, ia akan dibiarkan pingsan di lapangan basket tadi. Ck, Jeong-Min terlalu berburuk sangka. Padahal, tidak ada seseorang di dunia ini yang akan. Kecuali, kalau seseorang tersebut tidak berotak.

“Sama-sama,” balas Sehun sembari tersenyum simpul. “Ng ... kau ... baik-baik saja, ‘kan?” tanyanya kemudian. Rasa khawatirnya muncul lagi saat melihat wajah pucat Jeong-Min.

Jeong-Min menegakkan kepalanya, lalu menatap ke arah Sehun. “Ya, aku baik-baik saja,” jawabnya bohong. Padahal, ia sama sekali tidak baik-baik saja.

“Tapi ... wajahmu kelihatan pucat.”

Jeong-Min menggeleng, mencoba meyakinkan Sehun bahwa ia baik-baik saja. “Gwaenchanha.”

“Kenapa kau bisa pingsan? Apa kau tadi pagi belum sarapan?”

Jeong-Min menggeleng lagi. “Sudah,” jawabnya, tentu saja bohong. Gadis itu tidak pernah lagi sarapan di rumah semenjak kepergian ibunya beberapa tahun yang lalu. Ia hanya sarapan di luar dengan sebungkus roti, itu pun kalau ia ingin.

Sehun menatap Jeong-Min iba. Ia bisa melihat kalau gadis itu sebenarnya sangat membutuhkan kasih sayang. Kau pasti tidak baik-baik saja, batinnya.

“Kenapa kau terus menatapku?” selidik Jeong-Min. Sehun terus menatapnya sedari tadi. Dan, ia merasa risi karena itu.

“T-tidak. Kau cantik. Jadi sayang kalau tidak dilihat,” sahut Sehun salah tingkah.

Jeong-Min yang mendengarnya mendengus. Tidak mengerti, kenapa ia bisa bertemu dengan pemuda seperti Sehun. “Semua perempuan itu cantik.”

Sehun tersenyum. Ia senang melihat Jeong-Min yang mulai banyak bicara padanya. Tidak hanya diam saja seperti kemarin.

“Apa kau akan tetap berada di sini? Kau tidak ingin berganti pakaian dan kembali ke kelas?” Jeong-Min melihat Sehun yang masih mengenakan pakaian olahraga. Padahal, ia tidak tahu, apakah jam olahraga sudah habis atau belum.

Sehun mengangguk. “Aku akan menemanimu di sini,” ucapnya yakin. Masalah pelajaran, ia tidak peduli. Pemuda tampan itu bisa menyuruh ayahnya untuk mencarikan guru les privat untuknya, kalau ada mata pelajaran yang tidak ia pahami.

“Aku ingin pulang. Bisakah kau mengantarku pulang?” pinta Jeong-Min. Daripada berada di dalam ruangan ini bersama Sehun, ia lebih memilih pulang dan tidur. Dan pastinya, Sehun tidak akan bersamanya nanti –setelah ia berada di rumah.

“Bukankah kau mempunyai teman yang akan selalu ada untukmu? Si Jong-In. Kenapa kau malah menyuruhku?”

Jeong-Min mendengus. Kenapa Sehun bisa berkata seperti itu? Jika pemuda itu tidak ingin mengantarkannya, harusnya langsung bilang saja, to the point, tanpa menyangkutpautkan nama Jong-In di dalamnya. Jong-In sibuk di jam-jam seperti ini. “Jong-In sibuk,” kata Jeong-Min dingin.

“Oh.”

“Ya sudah kalau kau tidak mau mengantarku pulang. Aku bisa sendiri.” Jeong-Min lalu turun dari ranjang, tentunya dengan kondisi tubuh yang masih lemah. Kepalanya juga masih terasa pusing. Namun, ia memaksanya, daripada menyuruh Sehun yang dari tadi belum menjawab mau atau tidak. Ia tetap melangkah, meskipun sedikit terseok-seok.

“Eits!” Sehun langsung menghadang jalan Jeong-Min. “Aku akan mengantarmu,” ucapnya kemudian. Ia lalu memapah tubuh Jeong-Min, membantunya berjalan.

Baru saja sampai koridor, seluruh pasang mata pada menatap ke arah Jeong-Min dan juga Sehun. Tak lama kemudian, bisik-bisik mulai terdengar. Tatapan mereka pun terlihat sinis, tanda tak suka melihat Jeong-Min yang bisa jalan berdua dengan pemuda setampan Sehun. 

“Hei, Jeong-Min~ssi. Kenapa mereka menatap kita seperti itu?” Sehun berbisik kepada Jeong-Min. Bagi seorang pemuda seperti Sehun yang sering ditatap dengan tatapan kagum, rasanya jadi aneh ditatap sinis seperti itu. Padahal, tatapan itu jelas ditujukan untuk Jeong-Min.

“Sepertinya mereka iri padaku,” jawab Jeong-Min dengan nada berbisik juga.

“Iri?” Sehun mengerutkan dahinya bingung.

“Sudahlah. Aku sedang malas membahasnya. Aku ingin pulang.”

Sesampainya di dalam kelas, Jeong-Min hanya mengambil tasnya saja, lalu ia dan Sehun berjalan menuju tempat parkir. Sehun mengantar Jeong-Min pulang ke rumahnya dengan menggunakan mobilnya.

 

~bad~

 

“Oh, ya, kau tadi belum menjawab pertanyaanku,” ujar Sehun saat dalam perjalanan menuju rumah Jeong-Min.

“Pertanyaan yang mana?” tanya Jeong-Min.

“Pertanyaan yang tadi, waktu kita di koridor,” jawab Sehun, tanpa mengalihkan pandangan matanya dari jalanan di depan sana. “Yang waktu kau bilang mereka iri padamu. Aku ingin tahu, kenapa mereka iri padamu?”

Jeong-Min mendesah. “Kau tadi tidak bertanya hal itu padaku.” Meskipun Jeong-Min tadi kondisi tubuhnya lemas, namun ia sama sekali belum lupa terhadap apa yang dikatakan oleh Sehun tadi saat di koridor. Pemuda itu tadi tidak menanyakan tentang apa yang baru saja ditanyakan itu.

“Benarkah?”

“Hmm.”

“Terus, kenapa mereka bisa iri padamu?” tanya Sehun.

“Karena aku bisa dekat denganmu dengan mudahnya.”

“Apa?!” Sehun terperangah. Detik berikutnya, dia tersenyum lebar.

“Kenapa?” tanya Jeong-Min curiga karena melihat Sehun yang tiba-tiba tersenyum lebar.

Aniya. Aku hanya ... bahagia,” jawab Sehun.

Jeong-Min mendesah. Ia lalu menutup kedua matanya. Kepalanya masih terasa pusing. Tidur sembari menunggu sampai rumah mungkin adalah pilihan yang terbaik untuk saat ini. Lagi pula, ia tadi sudah memberitahu Sehun alamat rumahnya. “Kalau sudah sampai, tolong kau bangunkan aku.”

Ne.” Sehun kembali fokus pada jalanan. Membiarkan gadis di sampingnya itu tidur. Ia tahu kalau Jeong-Min masih sakit. Bisa dilihat dari wajahnya yang masih tampak pucat. Pemuda itu menyunggingkan senyum tipis. Menurutnya, Jeong-Min adalah gadis yang menarik.

 

~bad~

 

Sehun terpaksa menggendong tubuh Jeong-Min begitu sudah tiba di rumah gadis itu. Ia tidak tega jika harus membangunkannya. Dengan sedikit kesusahan, Sehun mencoba menekan bel yang terpasang di gerbang rumah Jeong-Min. Dan, tak lama kemudian, pintu gerbang pun terbuka. Tapi, bukan pembantu di rumah tersebut yang muncul, melainkan Lee Sae Jong, ayah Jeong-Min.

Annyeong hasimnika, Ajeossi!” sapa Sehun sambil membungkukkan badannya beberapa derajat.

“A-ah, ne,” sahut Tuan Lee. Ia lalu melihat anaknya yang berada digendongan Sehun. “Silakan masuk.”

Ne, Ajeossi.” Sehun lalu melangkah masuk ke rumah tersebut, dan kemudian langsung membawa Jeong-Min ke kamar gadis itu. Tentunya tanpa ditanya macam-macam oleh Tuan Lee. Ya, karena beliau sudah tahu kalau Jeong-Min tadi pingsan.

Sehun menidurkan Jeong-Min ke atas ranjang dengan perlahan. Ia tidak ingin membuat gadis itu terbangun. Pemuda itu tersenyum menatap gadis yang tengah tertidur itu. Menurutnya, Jeong-Min sangat cantik. Mungkin, jika aku menikah dengannya, kami akan menjadi pasangan yang sempurna. Jeong-Min sangat cantik, sementara aku sangat tampan, batin Sehun percaya diri. Tuan Lee yang melihatnya hanya diam saja.

Sehun lalu pamit kepada Tuan Lee, “Kalau begitu, saya pamit dulu, Ajeossi. Permisi.”

“Tunggu!” Namun tiba-tiba saja Tuan Lee menahan lengan Sehun. “Terima kasih,” ujar Tuan Lee sambil tersenyum.

Sehun balas tersenyum. “Ne, Ajeossi,” ucapnya, lalu melangkah pergi dari sana.

Tuan Lee menatap punggung Sehun yang mulai menjauh itu dengan tenang. Ia merasa, kalau Sehun adalah sosok yang bisa menjaga Jeong-Min dengan baik. Ia bisa melihatnya dari gerak-gerik Sehun tadi, saat menggendong Jeong-Min, dan saat menidurkan putrinya tersebut ke atas ranjang. Sepertinya Sehun tertarik kepada anaknya itu.

Setelah itu, Tuan Lee berjalan mendekati Jeong-Min. Menatap anak kandungnya itu dalam diam. Tak lama kemudian, tangannya terulur untuk membelai surai kecokelatan gadis yang masih enggan untuk membuka matanya tersebut. Lalu, kedua sudut bibirnya terangkat naik. Tuan Lee tersenyum.

 

~bad~

 

Jeong-Min menatap dalam diam pemandangan di luar jendela kamarnya. Hari sudah gelap, waktunya bagi para murid seperti dirinya belajar. Namun, bagi gadis itu, belajar bukanlah kewajibannya. Biar dia menjadi pandai pun, tetap, ia dicap buruk oleh para teman-temannya di sekolah. Ah, ralat. Ia tidak memiliki teman selain Jong-In.

“Hh!” Jeong-Min mendesah. Rasa bosan sudah mulai melandanya. Ya, ia suka keluyuran. Baik malam, maupun siang. Baginya, semua waktu itu sama saja. Gadis itu kemudian melangkah menuju meja belajar. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di sana.

Jeong-Min ingin menelepon Jong-In. Ia ingin membicarakan sesuatu dengan pemuda itu.

“Ya, Jeong-Min~a! Ada apa?” sahut Jong-In to the point. Pemuda itu sudah sangat tahu, kalau Jeong-Min tiba-tiba saja meneleponnya, pasti ada sesuatu.

“Kau ada di mana sekarang? Apa kau sibuk?” tanya Jeong-Min.

“Aku ada di rumah sekarang,” jawab Jong-In. “Kenapa? Apa kau merindukanku?”

“Tidak. Apa kau sibuk?”

“Tentu saja tidak. Kenapa? Apa kau ingin pergi?”

“Ya. Tolong jemput aku di rumah sekarang.”

“Ya. Aku akan sampai di rumahmu sekitar lima menit lagi.”

“Baiklah ....”

Jeong-Min lalu mengakhiri panggilannya. Ia kemudian mengambil beberapa benda yang akan dibawanya pergi, seperti dompet, sweter, dan lain-lain. Setelah itu, ia melangkah keluar dari kamarnya.

 

~bad~

 

Jeong-Min menyuruh Jong-In agar membawanya ke sebuah bar, dan Jong-In manut-manut saja. Mereka memang biasa pergi ke tempat tersebut. Sekadar untuk melepas penat dan melupakan masalah untuk sementara. Meskipun begitu, Jong-In sangat tahu tentang keadaan Jeong-Min. Pemuda itu akan memarahi Jeong-Min jika ketahuan banyak meminum soju.

Sebenarnya, Jong-In ingin melarang Jeong-Min agar tidak lagi melakukan pola hidup buruk. Namun, karena sifat Jeong-Min yang agak keras kepala dan suka marah, membuat Jong-In mengurungkan niatnya tersebut.

Jeong-Min menatap sendu gelas yang masih terisi oleh soju di hadapannya. Di sebelahnya, Jong-In tampak tengah menggoda seorang wanita seksi. “Yak, Jong-In~a!” panggil Jeong-Min kemudian. Ia mendengus saat melihat teman dekatnya itu sedang mengeluarkan rayuan-rayuan yang menurut Jeong-Min sangat menggelikan.

Jong-In tidak menyahut. Suara musik yang berdentum dengan keras membuat panggilan Jeong-Min tak terdengar. Pemuda itu masih asyik dengan kegiatannya.

“Jong-In~a!” panggil Jeong-Min lagi.

Plak!

Plus memukul bahu pemuda itu agar menyahut.

“Hah?” Jong-In pun akhirnya menoleh.

“Apa kau tahu tujuanku mengajakmu kemari? Yang jelas, bukan untuk menggoda wanita itu,” ucap Jeong-Min sedikit kesal.

“Hah?” Jong-In menatap wajah Jeong-Min dengan tatapan bingung.

“Jong-In~a,” Jeong-Min memanggil Jong-In dengan nada lirih. “Boleh aku bertanya sesuatu padamu?” tanyanya kemudian.

Jong-In mengangguk, “Tentu saja boleh.”

Jeong-Min menghela napas panjang. Tatapan matanya menyiratkan kesedihan. Gadis itu menatap mata Jong-In dalam. “Apa selama ini ... aku membebanimu?” tanyanya.

“Ya?” Jong-In tersentak. “Kau ini bicara apa, hah? Tentu saja tidak,” jawabnya.

“Benarkah?” Jeong-Min sedikit ragu dengan jawaban Jong-In. Menurutnya, selama ini ia sangat merepotkan Jong-In. Kenapa-kenapa selalu Jong-In. Jika ada masalahnya, selalu Jong-In yang ia hubungi.

“Yak, Jeong-Min~a ... kau tahu, kau itu sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Dulu, aku sangat ingin memiliki seorang adik perempuan. Namun, semenjak ada dirimu, keinginan itu perlahan mulai sirna. Kau tahu kenapa? Karena aku sudah menemukannya. Yaitu dirimu, Jeong-Min~a.” Jong-In tersenyum. Ia lalu mengelus pucuk kepala Jeong-Min sayang. “Ya ... meskipun kau tidak pernah memanggilku oppa.”

Jeong-Min menatap Jong-In dalam. Ia terenyuh. Jong-In memang seorang kakak yang bertanggung jawab.

“Kalau begitu,” Jong-In mengangkat gelasnya ke hadapan Jeong-Min, “mari bersulang.”

Jeong-Min pun melakukan hal yang sama dengan Jong-In. Keduanya bersulang. Dan, senyum pun tersungging di kedua bibir mereka.

Jeong-Min lalu meminum soju di gelasnya. Dan, ia langsung membulatkan matanya saat tak sengaja melihat seorang pria yang melangkah memasuki bar tersebut. Terkejut, sudah pasti. Beruntung, dia tidak memuncratkan soju yang masih ada di dalam mulutnya. Apa yang pria itu lakukan di sini? Jeong-Min membatin sembari mengerutkan dahinya curiga. Oh, sepertinya Jeong-Min mulai lupa. Ini bar. Siapa pun boleh datang kemari, asalkan sudah cukup umur.

Pria itu juga mengerutkan dahinya saat tak sengaja melihat Jeong-Min. Lalu, ia mendesah. “Hh, kenapa bisa ada anak sekolah di tempat ini?” pria itu bergumam. Ia kemudian berjalan mendekati Jeong-Min.

Jeong-Min terus menatap pergerakan pria tersebut. Ia sekarang merasa biasa saja. Tanpa adanya rasa takut, karena ketahuan pergi ke bar oleh gurunya. Ya, pria itu adalah Suho, guru olahraganya yang baru.

Suho geleng-geleng kepala begitu tiba di dekat Jeong-Min. Kedua tangannya dilipat di depan dada. “Apa yang kau lakukan di sini, Jeong-Min~ssi?” tanyanya.

Jeong-Min mendesah. Guru barunya itu sepertinya sudah hafal dengan namanya. Padahal, dia baru bertemu dengannya tadi. “Memangnya kenapa Seonsaengnim bertanya hal itu padaku? Bukankah Seonsaengnim sudah tahu tanpa bertanya lagi?” sahut Jeong-Min santai.

Tidak sopan, batin Suho. Benar kata teman-teman gurunya di SMA Cheonsa, bahwa Jeong-Min adalah seorang murid yang berperilaku kurang baik.

Jong-In yang masih berada di tempatnya malah mengabaikan hal tersebut. Pemuda itu malah asyik menggoda wanita seksi tadi.

Suho manggut-manggut. Pertanyaannya tadi dengan jawaban yang dilontarkan oleh Jeong-Min memang benar. Dia sudah tahu tempat ini untuk apa.  “Ya, kau benar. Tapi, bukankah tempat ini untuk orang dewasa saja? Kenapa ada remaja seusiamu bisa berada di sini?”

“Memangnya kenapa? Apa tidak boleh? Seonsaengnim juga kenapa bisa datang ke tempat ini? Bukankah seorang guru itu seharusnya memberikan contoh yang baik bagi muridnya?” balas Jeong-Min berani.

Suho yang melihatnya geleng-geleng kepala. Selama ia menjadi guru, baru kali ini ia menjumpai seorang murid yang attitude-nya tidak baik seperti Jeong-Min. Apa anak ini tidak pernah dididik oleh orangtuanya? batinnya heran.

“Eh, Jeong-Min~ssi?” Seorang pemuda tiba-tiba saja ada di sebelah Jeong-Min saat gadis itu tengah berdebat dengan Suho.

Jeong-Min menoleh, dan langsung terkejut saat melihat pemuda itu di sana. Itu Yifan, berdiri dengan tak lupa menunjukkan senyum lebarnya kepada Jeong-Min.

“Kau ternyata juga kemari. Pasti dengan Jong-In, ya. Di mana dia?” ujar Yifan basa-basi.

Jeong-Min mendesah. Kenapa dia bisa bertemu dengan Yifan di sini? Pasti pemuda itu nanti akan dekat-dekat dengannya. Ah, tidak bisakah dia merasakan kebebasan malam ini tanpa adanya pengganggu? Sepertinya tidak. “Itu, Jong-In.” Jeong-Min menunjuk Jong-In yang sedang menari bersama seorang gadis di sana. Pertanyaannya, sejak kapan Jong-In pindah dari posisi duduknya?

Yifan mengikuti arah tunjuk Jeong-Min. Dan, dia langsung menyipitkan matanya saat tak sengaja melihat seorang pemuda yang sepertinya ia kenal. “Yak, Oh Sehun! Apa yang kau lakukan di situ, hah?!”

Mwo? Oh Sehun?” Jeong-Min terkejut. Dia lalu mengikuti arah pandang Yifan. Dan benar saja, di sana ia melihat seorang Oh Sehun sedang duduk di sofa ditemani dua orang wanita seksi di sampingnya, serta dua botol soju di hadapannya.

Suho juga tak kalah terkejutnya. Ia tak menyangka bahwa selain Jeong-Min, ternyata masih ada lagi muridnya yang ada di tempat hiburan malam ini. Pria itu kemudian mengumpat. Rencana me-refreshing-kan kepalanya malam ini sepertinya bakalan batal karena harus mengurusi dua orang anak didiknya yang bermasalah itu. Ia lalu berjalan mendekat ke arah Sehun.

Jeong-Min yang berada di tempatnya langsung mendekati Jong-In dan menarik lengan pemuda itu untuk pergi dari sana. Ia terlalu malas jika nanti harus berurusan dengan Suho. Bisa panjang urusannya.

“Yah … kenapa malah pergi?” kata Yifan saat melihat Jeong-Min dan Jong-In berjalan keluar. “Padahal, aku ingin mengobrol dengan Jeong-Min lagi.”

 

~bad~

 

Pada akhirnya, Jeong-Min hanya duduk-duduk menikmati pemandangan malam dan embusan angin musim semi di pinggir Sungai Han bersama Jong-In. Ya, lebih baik berada di ini daripada harus berurusan dengan Suho. Ya, malam ini ia berhasil menghindar, tetapi tidak tahu besok atau hari-hari setelahnya.

“Jadi, itu tadi gurumu?” tanya Jong-In.

“Ya, lebih tepatnya guru olahraga,” jawab Jeong-Min.

“Masih muda, ya. Sepertinya dia masih lajang.”

“Mungkin. Aku juga tidak tahu.”

“Kau tak ingin pulang? Sekarang.”

Jeong-Min menggeleng. “Nanti. Ini masih belum terlalu malam. Orang-orang di rumah pasti belum tidur. Aku terlalu malas jika harus mendapat ocehan dari mereka.”

“Ya, ya, ya, kau memang selalu seperti itu.”

Wae? Apa kau ada janji dengan orang lain sekarang?”

Aniya. Aku kira kau bosan berada di sini.”

Jeong-Min mendesah. “Aku lebih bosan jika harus berada di rumah.” Baginya, rumah hanyalah tempat ia untuk tidur dan membersihkan diri, bukan tempat untuk berkumpul bersama keluarga. Karena sekarang, ia merasa tidak memiliki keluarga. Mereka tidak ada yang berpihak padanya.

 

~bad~

 

To : Lee Sae Jong

Malam ini, aku melihat anak Anda pergi ke bar.

 

.

.

.

TBC

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Page 1 of 0 (0 Comment)

Recommended Stories

Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

417 310 6
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

692 511 9
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

564 439 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 865 15
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

5K+ 1K+ 9