Jeong-Min membuka kelopak matanya perlahan. Objek pertama yang ia lihat adalah tirai jendela kamarnya yang masih tertutup. Padahal, cahaya matahari sudah mulai memasuki kamarnya melalui celah-celah jendela. Ini sudah pagi, tapi belum ada seorang pun yang membukakan tirai jendela untuknya.

Tak terasa air mata Jeong-Min meleleh. Ia sedih. Dulu, waktu ibunya masih hidup, beliau selalu membangunkannya di pagi hari dan membuka tirai jendela kamarnya. Namun, sekarang sangat berbeda dengan dulu. Tak ada lagi sapaan selamat pagi, tak ada lagi pukulan agar bangun dari tidur, tak ada lagi seorang wanita tua yang dengan senang hati membuka tirai jendela kamarnya. Semuanya telah berubah sekarang, dan Jeong-Min sangat merindukan masa-masa itu.

Jeong-Min lalu bangkit dari tidurnya. Menghapus air matanya kasar dan segera beranjak menuju kamar mandi. Ia sedikit lega, karena semalam Jong-In tidak membawanya ke rumah sakit dan malah membawanya pulang. Ia pasti sudah menyusun strategi untuk kabur sekarang seandainya Jong-In semalam membawanya ke rumah sakit.

 

~bad~

 

Jeong-Min terlihat keluar dari kamarnya dengan seragam sekolah yang sudah lengkap. Sama seperti hari-hari biasanya, tak ada senyum atau pun ekspresi bahagia di wajahnya. Gadis itu kemudian berjalan menuju dapur, hanya sekadar untuk minum.

Gadis cantik itu melirik sekilas ke arah meja makan. Di sana, dia melihat ayah, ibu, dan saudara tirinya tengah sarapan bersama. Tanpa adanya dirinya. Dan, pemandangan seperti itu sudah biasa Jeong-Min lihat setiap pagi. Ada perasaan sedih dalam diri Jeong-Min. Harusnya yang ada di sana adalah ayah, ibu, dan dirinya, bukan Choi Shin-Young atau pun Lee Soo-Kyo.

Jeong-Min langsung menaruh gelas yang sudah kosong ke atas meja begitu dia menghabiskan air minumnya. Ia lalu melangkah pergi dari sana.

“Jeong-Min~a! Kau tak ingin sarapan dahulu?”

Langkah Jeong-Min pun terhenti saat dia mendengar suara ayahnya menginterupsi. Tanpa berbalik, gadis itu menyahut dengan dingin, “Tidak. Aku masih kenyang.” Dia lalu melanjutkan langkahnya kembali. Tidak berniat untuk bergabung bersama keluarganya.

Keluarga? Bahkan mereka tidak ada yang peduli padaku.

Jeong-Min menghela napas panjang begitu dia keluar dari gerbang rumahnya. Seperti biasa, dia harus menunggu bus yang lewat di halte yang terletak tak jauh dari rumahnya. Dia tidak seperti Soo-Kyo yang setiap hari diantar oleh sopir pribadi keluarganya. Ingat! Jeong-Min bukanlah anak manja. Dia tidak pernah meminta fasilitas lebih kepada ayahnya. Jeong-Min kemudian melangkahkan kedua kakinya menuju halte tersebut.

 

~bad~

 

Jeong-Min

Kaki mungil ini terus kugunakan untuk melangkah, karena memang itulah fungsinya yang sesungguhnya. Bukan menuju kelasku berada, bukan. Melainkan menuju perpustakaan.

Bel masuk baru saja berbunyi. Namun, seperti biasa, aku sedang tidak tertarik untuk mengikuti pelajaran di jam pertama, yaitu Olahraga. Pelajaran yang harus berlari-lari keliling lapangan terlebih dahulu sebelum masuk ke pelajaran inti. Hh! Aku lemah. Aku tidak ingin pingsan hanya gara-gara berlari-lari keliling lapangan. Sebab, kalau aku pingsan, tak ada yang peduli padaku.

Aku lalu memasuki ruangan yang dipenuhi oleh banyak buku tersebut. Tempat yang tenang dan mungkin saja bisa membuat kepala menjadi rileks. Aku berjalan menuju tempat buku-buku novel berada. Membaca judulnya satu persatu, dan akhirnya aku mengambil sebuah novel yang dilihat dari judul sepertinya menarik. Sebuah novel dengan judul The Courage to be Disliked karangan Ichiro Kushimi dan Fumitake Koga.

Aku kemudian membawa novel tersebut ke tempat duduk yang telah disediakan. Membaca buku sebenarnya bukan termasuk hobiku. Saat ini, aku sedang merindukan eomma. Dulu, eomma sering membacakanku sebuah buku. Membaca buku mampu mengobati rasa rinduku padanya, walaupun hanya sedikit.

Eomma ... aku sangat merindukanmu.

Beberapa jam telah berlalu. Aku mendengar bel tanda istirahat berbunyi. Kenapa waktu begitu cepat berlalu? Padahal, aku masih ingin berada di sini. Sebenarnya, aku bisa saja membolos pelajaran selanjutnya. Namun, pelajaran selanjutnya adalah Matematika, pelajaran yang sangat eomma sukai dulu sewaktu masih muda.

Eomma sangat melarangku membolos pada saat pelajaran Matematika. Ck, aku rindu padanya. Maka dari itu, selama ini, aku tidak pernah sekali pun membolos pada saat pelajaran tersebut sedang berlangsung.

Aku kemudian bergegas pergi dari sini. Melangkahkan lagi kaki mungil ini menuju seorang wanita penjaga perpustakaan. Aku belum menyelesaikan novel yang baru saja kubaca. Baru sampai setengahnya. Makanya, aku ingin meminjamnya untuk aku baca lagi di rumah atau di mana pun aku ingin.

Pluk

Aku meletakkan novel tersebut ke atas meja tepat di depan penjaga perpustakaan itu. “Aku ingin meminjamnya,” ucapku.

Penjaga perpustakaan itu mengambil novelnya. Lalu, ia menulis sesuatu di sebuah buku agenda. “Kau membolos lagi, Jeong-Min~ssi?” tanyanya tanpa menatap ke arahku. Tsk, bahkan dia tahu namaku. Padahal, aku sama sekali tidak tahu namanya.

“Ya, seperti biasanya,” jawabku santai.

Wanita itu menggeleng-gelengkan kepala Mungkin saja dia heran melihat kelakuanku selama ini. Dia lalu memberikan novel itu kepadaku. “Besok lusa, kau harus mengembalikannya.”

Ne.” Aku lalu melangkah pergi dari sana.

 

~bad~

 

Gadis bersurai kecokelatan itu berjalan dengan santai menuju kelasnya, 2-1. Ekspresi wajahnya datar dan terkesan dingin. Pandangannya lurus ke depan. Seluruh pasang mata yang melihatnya mulai membisik-bisikkan sesuatu yang terdengar tidak jelas. Namun, gadis itu terlihat mengabaikannya. Terlalu malas rasanya untuk mengacuhkan hal tersebut. Tak ada untungnya baginya.

Begitu sampai di kelasnya, gadis itu langsung melangkah menuju bangku yang terletak di urutan paling belakang.

Bugh!

Namun, dia langsung melempar novel yang dibawanya ke atas meja saat melihat ada seorang murid laki-laki yang menempati bangkunya tengah menelungkupkan kepala di atas meja. “Neo! Hanbal mulleoseola!” seru gadis itu, Jeong-Min. (Kau! Minggirlah!)

Sontak saja murid laki-laki itu terkejut, dan langsung menegakkan kepalanya.

Neo ...,” lanjut Jeong-Min.

Murid laki-laki itu mengerjapkan kedua matanya saat melihat Jeong-Min yang sedang berdiri di depannya. Jari telunjuknya kemudian terangkat, menunjuk Jeong-Min yang menatapnya dingin. “Kau, ‘kan, yang semalam ....”

“Oh Sehun!” Jeong-Min meninggikan volume suaranya. Sontak saja seluruh pasang mata yang ada di dalam kelas tersebut langsung menatap ke arahnya, termasuk Soo-Kyo. Gadis itu heran, dari mana Jeong-Min bisa tahu nama murid laki-laki tersebut. Padahal, murid laki-laki tersebut adalah anak baru dan tidak memakai papan nama di seragamnya.

“K-kau tahu namaku? Woah ...,” murid laki-laki yang bernama Oh Sehun itu berdecak kagum.

Brak!

Jeong-Min menggebrak meja di depannya, dan itu mampu membuat Sehun terlonjak kaget. “Aku bilang minggir! Pergi dari bangkuku sekarang juga!” usir Jeong-Min. Tidak boleh ada yang menempati bangkunya, sekalipun dia tidak hadir di kelas.

“Jadi, ini bangkumu?”

“Menurutmu?”

“Baiklah, aku akan pindah tempat duduk.” Sehun lalu bangkit dari duduknya. “Ekhem, salam kenal. Namamu?” Pemuda itu mengulurkan tangannya ke hadapan Jeong-Min. Namun, Jeong-Min langsung menepisnya.

Jeong-Min lalu mendudukkan diri ke bangku miliknya begitu Sehun sudah pindah tempat duduk tepat di sampingnya. Dia kemudian menelungkupkan kepala ke atas meja. Mengabaikan bunyi bel yang baru saja berbunyi, serta beberapa pasang mata yang menatap ke arahnya dengan tatapan sinis, termasuk Soo-Kyo yang duduk di bangku paling depan.

“Hei, siapa namamu?” Sehun sedari tadi terus mencolek lengan Jeong-Min, berharap gadis itu tak bergeming. Sungguh, Sehun sangat ingin tahu nama gadis tersebut. Tidak ada papan nama yang tertempel di dadanya.

Sampai akhirnya, Jeong-Min baru bangun saat Yunho Seonsaengnim datang memasuki kelas mereka untuk mengajar Matematika.

Jeong-Min menatap sinis ke arah Sehun. Pemuda itu telah mengganggunya. Sehun yang ditatap hanya nyengir lebar.

“Hari ini saya akan mengadakan ulangan harian.” Yunho Seonsaengnim tiba-tiba saja berujar. Yang mana mampu membuat seluruh isi kelas jadi pada mengeluh. Kecuali Jeong-Min. Gadis itu kelihatan biasa saja.

Yunho Seonsaengnim kemudian membagikan kertas yang berisi soal-soal Matematika kepada seluruh murid yang ada di kelas tersebut. “Kerjakan dengan benar.”

Ne!” sahut para murid.

Jeong-Min mulai membaca soal-soal Matematika tersebut. Ekspresi wajahnya masih tetap datar. Tangannya kemudian bergerak untuk mengambil pulpen dari dalam tas, lalu mulai mencorat-coret lembar jawaban yang ada di belakang soal tersebut.

Dua puluh menit kemudian, Jeong-Min telah selesai mengerjakan soal-soal Matematika tersebut. Gadis itu menggeletakkan lembar kertas itu ke atas meja. Membiarkannya terbuka, tanpa khawatir ada yang menyonteknya.

Sehun yang duduk di sebelah Jeong-Min mengerutkan dahinya heran. Pemuda itu lalu mencondongkan tubuhnya ke samping, mendekati Jeong-Min. “Kau sudah selesai?” tanyanya tak percaya. Jumlah soalnya ada lima belas nomor, dan Jeong-Min bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu dua puluh menit saja.

“Ya,” jawab Jeong-Min singkat. Pandangan matanya terus lurus ke depan, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sehun.

“Um ... bisa kau ajari aku soal nomor empat?” pinta Sehun dengan nada pelan.

Jeong-Min yang mendengarnya mendengus, lalu dengan malas dia mengambil jawaban miliknya dari atas meja. “Aku adalah orang yang paling malas jika harus mengajari orang lain tentang Matematika,” ujarnya. Gadis itu kemudian menatap wajah Sehun datar.

“Lalu?” tanya Sehun tak paham.

Tanpa menjawab, Jeong-Min menyerahkan kertas jawabannya tadi kepada Sehun.

“Jadi kau menyuruhku menyontek jawabanmu?” tanya Sehun memastikan. Masih dengan volume suara yang pelan, takut dimarahi oleh Yunho Seonsaengnim.

“Ya,” jawab Jeong-Min.

Sehun tersenyum lebar. “Terima kasih,” ucapnya, lalu mulai menyalin jawaban Jeong-Min.

 

~bad~

 

Jeong-Min terlihat tengah duduk di kursi belajarnya. Di tangannya terdapat sebuah novel yang ia pinjam dari perpustakaan tadi siang. Ini mungkin sesuatu yang sangat langka. Seorang Lee Jeong-Min berada di rumah saat jam menunjukkan pukul 21.23 waktu setempat. Tidak seperti biasanya.

Drrrttt … drrrttt ….

Ponsel yang tergeletak di atas meja bergetar beberapa kali. Tanda ada sebuah panggilan yang masuk. Dengan malas, Jeong-Min mengambil ponsel tersebut untuk melihat siapa gerangan yang mengganggu kegiatan membacanya.

“Jeong-Min~a! Kau di mana?” ucap suara di seberang telepon.

“Di rumah. Kenapa?” sahut Jeong-Min.

“Um ... tidak kenapa-kenapa. Aku hanya rindu padamu.”

Jeong-Min berdecih. “Dasar, Jong-In hitam playboy cap tikus.”

“Apa? Playboy cap tikus? Yak, Lee Jeong-Min! Aku bukan playboy!”

“Bukan playboy? Benarkah? Lalu apa? Tukang selingkuh?”

“Ya ... Jeong-Min~a ... kau jangan membongkar aibku, oke? Itu adalah rahasia.”

Jeong-Min mendesah. Dia tak habis pikir, kenapa bisa punya teman dekat seperti Jong-In yang notabene merupakan pemuda yang suka tebar pesona dan playboy. “Aku kasihan dengan gadis itu. Siapa namanya? Oh Hye Ra? Mau saja digoda olehmu. Tsk, kalau aku jadi dia, mungkin aku akan langsung bilang end saat tahu kalau kau sedang jalan dengan gadis lain.”

“Hei! Kau tahu, itu karena dia sangat mencintaiku. Itu mungkin pertama kalinya dia memiliki kekasih yang tampan sepertiku,” kata Jong-In percaya diri.

Jeong-Min memutar bola matanya malas. Tingkat kepercayaan diri Jong-In sudah berada di titik paling tinggi. “Terserah kau saja. Aku sibuk. Annyeong!”

“Yak, Jeong-Min–”

Tut tut tut

Jeong-Min langsung mengakhiri panggilan Jong-In secara sepihak. Jika sudah seperti itu, pemuda berkulit tan tersebut akan terus memuji-muji dirinya sendiri. Dan, hal itu membuat Jeong-Min bosan mendengarnya. Gadis itu kemudian melanjutkan kegiatan membacanya yang sempat tertunda tadi.

Ceklek

Tanpa mengetuk pintu atau pun memberi salam terlebih dahulu, Soo-Kyo tiba-tiba saja memasuki kamar Jeong-Min. Di tangannya terdapat selembar kertas yang sepertinya adalah hasil ulangan ‘mendadak’ Matematika tadi siang. Sontak saja Jeong-Min terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu.

Soo-Kyo berjalan menghampiri Jeong-Min dengan wajah dinginnya. Sama sekali tidak ada senyum yang mengembang di kedua bibirnya.

Pluk

Gadis itu kemudian meletakkan kertas yang dibawanya tersebut ke atas meja.

“Apa ini?” tanya Jeong-Min sambil meraih kertas itu. Di permukaan kertas tersebut terdapat angka “98” yang ditulis dengan jelas menggunakan tinta berwarna hitam. Senyum kecil pun mengembang di sudut bibir Jeong-Min. “Hanya 98? Yah ... padahal aku sangat ingin mendapatkan nilai sempurna. Tsk.”

Soo-Kyo yang mendengar ucapan Jeong-Min pun mendesah. Ada perasaan iri di dalam hatinya. Ya, itu karena nilai yang diperoleh Jeong-Min ternyata lebih besar daripada nilainya. Meskipun hanya terpaut tiga angka saja.

“Oh, ya, Soo-Kyo~ssi. Kau mendapat nilai berapa? Jangan bilang kalau nilaimu lebih tinggi daripada nilaiku. Secara, kau, ‘kan, setiap hari belajar. Tidak seperti aku, yang suka keluyuran,” tanya Jeong-Min, mencoba memanas-manasi Soo-Kyo. Gadis itu sangat tahu, kalau saat ini saudara tirinya itu sangat membencinya. Itu karena nilai Matematika-nya selalu lebih tinggi daripada nilai Matematika Soo-Kyo.

“Bukan urusanmu,” jawab Soo-Kyo dingin, lalu melangkah pergi.

“Tunggu!” tahan Jeong-Min.

Langkah kaki Soo-Kyo pun terhenti. Gadis itu lalu berbalik, dan menatap Jeong-Min datar. “Mwo?” tanyanya.

“Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu,” jawab Jeong-Min. Dia lalu mengambil ponselnya. Gadis itu menyeringai samar. Di kepalanya sudah ada bayangan bahwa sebentar lagi akan ada seseorang yang marah-marah padanya. Jeong-Min kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Soo-Kyo.

“Ini mungkin akan membuatmu emosi. Sebenarnya niatku baik. Aku hanya ingin agar kau tidak mengharapkan cinta dari seorang Wu Yifan lagi. Tapi, jika kau marah padaku gara-gara ini,” Jeong-Min mengangkat bahu, “aku tak masalah. Itu hakmu.” Jeong-Min menyeringai licik.

Soo-Kyo hanya diam saja. Dalam hati, dia sebenarnya sedikit penasaran dengan maksud ucapan Jeong-Min tersebut. Apalagi ada nama Wu Yifan disebut, yang mana merupakan mantan kekasihnya.

Jeong-Min tampak menggeser-geser layar ponselnya. Dan, tak lama kemudian sebuah rekaman suara pun mulai terdengar.

“Yak, Jeong-Min~ssi. Apa kau tahu, kenapa aku dulu bisa mengakhiri hubunganku dengan Soo-Kyo?”

Deg! Soo-Kyo tertegun. Dia tidak mengerti, kenapa bisa ada suara Wu Yifan di ponsel Jeong-Min.

“Tidak.”

“Itu karena aku menyukaimu.”

Dan, kali ini Soo-Kyo langsung menatap Jeong-Min tajam. Iris matanya menyorotkan rasa kebencian.

“Tsk, tapi maaf, aku tidak menyukaimu.”

“Ya, aku tahu itu. Aku bisa melihatnya. Kau selalu tak acuh saat aku bertamu ke rumahmu. Kau tak pernah memandang ke arahku. Padahal, aku selalu memandangmu.”

“Kenapa kau bisa menyukaiku? Aku buruk. Sangat buruk malahan.”

“Tidak. Menurutku kau tidak buruk. Keburukanmu hanyalah kover belaka. Aku tahu, kalau kau itu sebenarnya adalah gadis yang baik. Dan, satu lagi. Kau cantik.”

“Ck, kau terlalu jujur.”

“Ya, aku memang selalu jujur.”

“Tapi, kenapa kau tidak jujur pada Soo-Kyo kalau kau menyukaiku?” 

“Aku hanya tak ingin Soo-Kyo membencimu.”

Rekaman suara itu berakhir. Jeong-Min tersenyum. Dia merasa bangga kepada dirinya sendiri. Kenapa dia bisa memiliki ide yang sangat brilian? Dia bisa melihat wajah Soo-Kyo yang memerah karena menahan amarah.

“Kau ... buruk,” Soo-Kyo berucap tajam.

“Ya ... aku tahu, aku memang buruk. Tetapi, kau bisa mendengarnya, ‘kan, apa yang dikatakan oleh mantan kekasihmu itu tadi? Keburukanku itu hanyalah kover belaka,” balas Jeong-Min. Dia lalu mendesah. “Ini belum seberapa. Aku masih punya yang lain lagi.”

Kening Soo-Kyo berkerut. “Apa?”

“Sebenarnya, aku ingin menunjukkannya padamu. Tapi ... aku khawatir kalau kau nanti tidak bisa tidur karena terus memikirkannya. Bagaimana? Apa kau tetap ingin melihatnya?” tanya Jeong-Min.

“Ya! Aku ingin melihatnya. Cepat! Tunjukkan padaku,” jawab Soo-Kyo tak sabar.

“Sebentar. Tapi ... aku tidak yakin kalau kau tidak akan menyesal setelah melihatnya.”

“Cepatlah!” ucap Soo-Kyo tak sabaran.

Jeong-Min menyeringai. Sepertinya yang ini akan jauh lebih menarik, batinnya. Dia sangat ingin melihat ekspresi Soo-Kyo setelah ia perlihatkan sesuatu tersebut. Gadis itu kemudian menggeser-geser kembali layar ponselnya. “Sepertinya kau sangat tak sabaran, ya? Hh!”

“Cepat!” Soo-Kyo sudah tak sabar untuk segera melihatnya. Namun, dia sedikit khawatir. Jangan sampai apa yang dikatakan Jeong-Min tadi menjadi kenyataan. Dia akan menyesal jika melihatnya.

Jeong-Min kemudian memberikan ponselnya kepada Soo-Kyo, tentunya setelah apa yang dicarinya di ponsel itu ketemu. Dia tersenyum. “Jangan terkejut,” pesannya.

Soo-Kyo meraih ponsel Jeong-Min. Kedua matanya langsung membulat saat melihat apa yang tampak pada layar ponsel itu. Dan kemudian ....

Prang!

Soo-Kyo membanting ponsel Jeong-Min tanpa berpikir panjang. Napasnya naik-turun menahan amarah. Dan, jangan lupakan wajahnya yang memerah.

“Yak, Lee Soo-Kyo! Apa yang kau lakukan, hah? Kenapa kau membanting ponselku?!” protes Jeong-Min tak terima ponselnya dibanting. Dia lalu mengambil ponselnya tersebut. Bibirnya langsung cemberut saat dilihatnya layar persegi panjang yang masih menyala dan menampilkan sebuah foto dirinya dan Wu Yifan yang sedang berciuman itu kini retak.

Neo ... MICHYEOSSEO!” teriak Soo-Kyo emosi.

“Ya, aku memang gila,” sahut Jeong-Min sambil meratapi ponsel hadiah dari Jong-In saat ulang tahunnya yang ke-15 tahun itu.

“Aku sangat membencimu, Lee Jeong-Min,” ucap Soo-Kyo penuh penekanan. Dia lalu melenggang pergi dari sana.

Jeong-Min yang masih berada di tempatnya menyeringai puas. Ia senang karena berhasil membuat Soo-Kyo marah. Ya, meskipun ia harus rela melihat ponselnya yang kini retak.

 

~bad~

 

Seorang pemuda tampak tengah duduk-duduk di balkon rumahnya sambil sesekali menyesap teh hangat yang ada di depannya. Ekspresi wajahnya datar. Sama seperti malam-malam biasanya, ia selalu sendiri. Rumahnya kelihatan sepi, hanya ada beberapa maid saja di dalamnya.

Drrrttt ... drrrttt ....

Ponsel yang ada di atas meja bergetar. Tanda ada sebuah pesan yang masuk. Tanpa pikir panjang, pemuda itu langsung meraih benda persegi panjang itu.

 

From : Lee Sae Jong

Saya minta tolong padamu. Tolong awasi anak saya. Namanya Lee Jeong-Min.

Sebelumnya, saya sangat berterima kasih padamu jika kau bersedia melakukannya untuk saya.

 

Pemuda itu tersenyum. “Lee Jeong-Min, ya ...,” gumamnya.

 

To : Oh Sae Jong

Dengan senang hati.

 

~bad~

 

Di saat Jeong-Min bisa tersenyum puas karena bisa membuat Soo-Kyo marah, lain halnya dengan Soo-Kyo yang harus menelan pil pahit karena perbuatan Jeong-Min. Gadis itu kini mengamuk di dalam kamarnya. 

Beruntung, ayah dan ibunya sedang tidak ada di rumah. Jadi, tidak ada yang menegurnya. Dan, Jeong-Min tidak mendapat amukan dari ibu tirinya itu karena sudah membuat anak kesayangannya menangis. Tapi, tidak tahu kalau besok. Mungkin Soo-Kyo akan mengadu kepada ibu tirinya tersebut, atau malah kepada ibu kandungnya.

“Arrggghhhh ...!” Soo-Kyo menggeram kesal. Tak lupa, ia juga membuat kamarnya sendiri menjadi berantakan. “KENAPA, HAH? KENAPA SELALU JEONG-MIN?!”

Di kamarnya, Jeong-Min tersenyum puas. Ia bisa mendengar teriakan Soo-Kyo dengan jelas, karena kebetulan kamarnya memang terletak tepat di sebelah kamar Soo-Kyo. Ia senang, karena berhasil membuat Soo-Kyo menjadi seperti itu. Ya, meskipun harus mengorbankan bibirnya.

.

.

.

TBC

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Page 1 of 0 (0 Comment)

Recommended Stories

Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 807 8
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

439 340 4
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

699 531 8
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

692 511 9
Anne

Anne's Tansy

By murphy

800 517 9
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11