Pagi itu, seluruh penjuru lantai satu SMA Harapan Bangsa rasanya dipenuhi dengan suara-suara protes dari siswa-siswi kelas X. Sebenarnya masalahnya wajar saja, untuk standar sekolah favorit seperti SMA Harapan Bangsa, calon siswa mereka itu masih harus mengikuti Tes Kemampuan Dasar pada masa MOS untuk melihat potensi setiap siswa. Pada hari ketiga setelah masuk sekolah, Byanca mendengar bahwa siang nanti akan diadakan tes tersebut. Ia terkejut bukan main ketika mendengar berita tersebut.

                "Apa?! Gimana bisa ada tes dadakan kayak gitu? Aduuuh… gimana, nih? Ya, ampun… gue beneran  panik sekarang. Nanti kalo gue nggak bisa ngerjain gimana coba," ujar Byanca dengan setengah terkejut setengah frustrasi.

                "Yeah… gue juga sependapat sama lo. Kayaknya semuanya juga panik begitu denger informasi ini. Bahkan, menurut desas-desus yang gue denger, siswa yang nggak lolos tes bisa aja gak diterima sebagai murid di sekolah ini," ucap Jasmine, nadanya terdengar seperti berusaha untuk menghebohkan keadaan.

                "Aduuuh… gimana, dong? Kalo gue nggak lolos tes berarti gue bakal berhenti sekolah selama setahun? Kayak nggak naik kelas, dong. Kok bisa ada beginian segala, sih," gerutu Sheryl tak kalah hebohnya ketika menanggapi perkataan Jasmine tadi.

                "Ya, Tuhanku… sampai segitunya, ya?" Elsha mulai mengacak rambutnya dengan frustasi.

 

                Hari itu adalah hari ketiga sejak peserta didik baru masuk sekolah. Byanca sudah mengenal hampir semua teman sekelasnya, bahkan ia telah mempunyai teman sepermainannya sendiri. Akhir-akhir ini, Byanca hampir selalu berjalan-jalan bersama Jasmine, Sheryl, dan Elsha. Bersama dengan ketiga teman barunya itu, Byanca berharap perkembangan dirinya akan semakin maksimal.

                Di siang hari yang panas dan meresahkan, bunyi bel istirahat kedua membuyarkan isi kantin sekolah. Siswa kelas X segera meninggalkan kantin dengan tergesa-gesa, mereka segera berhamburan menuju kelasnya masing-masing. Mungkin, mereka tidak ingin melewatkan hal sekecil apapun dalam mengerjakan Tes Kemampuan Dasar itu, karena semuanya berpikir bahwa datang terlambat saja dapat menciptakan first impression yang buruk bagi pengawas tes mereka. Begitu juga dengan Byanca, Sheryl, Elsha, dan Jasmine—yang berlari bersama menuju ruang kelas X IPA 1.

                Semua siswa di ruangan X IPA 1 langsung bungkam ketika seorang guru wanita memasuki ruangan tersebut. Wanita tersebut mungkin berusia empat puluhan, blazer panjang berwarna hitam yang berkesan tegas membalut tubuh kurusnya. Suara langkah kakinya yang berasal dari sepatu boots kulit itu membuatnya mendapatkan perhatian total dari seluruh murid dengan mudahnya.

                "Ehem… jadi, selamat siang semuanya. Kalian semua sepertinya sudah mendengar bahwa siang ini kalian akan mengerjakan Tes Kemampuan Dasar. Kegiatan ini adalah rutinitas tahunan sekolah, jadi saya harap kalian tidak akan bereaksi berlebihan ketika mendengar informasi ini," ucapnya dengan tegas. Auranya saat berbicara itu seakan-akan dapat membuat seisi kelas membisu. "Baiklah. Siapkan alat tulis kalian di meja, saya akan membagikan soal dan lembar jawabannya," wanita tersebut segera beranjak dari meja guru sambil membawa dua amplop coklat besar di kedua tangannya.

            Dengan cekatan, guru tersebut membagikan soal dan lembar jawaban kepada setiap siswa di kelas tersebut. Segera setelah semua murid mendapatkan soalnya, suasana langsung hening seketika. Terkadang terdengar suara pensil yang mencoret-coret kertas soal dengan frustrasi, suara seorang siswi yang mendesah pasrah, dan suara-suara kecil lainnya. Byanca sendiri, ia sama tidak mengertinya dengan mereka semua.

Jika gen H (batang tinggi) dominan terhadap gen h (batang pendek). Gen M (rasa manis) dominan terhadap gen m (rasa masam). Maka persilangan yang menghasilkan keturunan varietas unggul adalah….

Hhmm x hhmm

hhMM x hhmm

hhmm x HHmm

Hhmm x hhMm

Hei, soal macam apa ini? Bahkan kayaknya Albert Einstein pun nggak bakal mampu nyelesain soal hmhm nggak jelas ini, pikir Byanca sambil menggerutu. Ia menaruh pensilnya dengan kasar karena keputusasaan. Ah… biarin ajalah. Yang penting gue udah berusaha sebisanya. Hasil sebagai urusan akhir gue serahkan sepenuhnya kepada Yang Mahakuasa, pikir Byanca dengan pasrah. Ia melakukan teknik silang indah seperti yang biasa dilakukannya saat SMP dulu ketika ia sudah pasrah pada suatu soal pilihan ganda.

                Bunyi bel pulang sekolah berdering lama sekali setelah semua murid memperlihatkan penampilan putus asa mereka masing-masing. Begitu bel berdering, semua siswa langsung bersorak gembira. Bahkan ada yang sampai loncat-loncat seperti orang yang baru saja bebas dari penjara selama belasan tahun.

                "Hei hei!!! Tolong semuanya tenang dulu. Mrs. Ellen akan mengambil lembar jawaban kalian, kemudian kertas soal semuanya disalurkan ke depan. Tetap jaga ketenangan!" seru wanita yang ternyata bernama Mrs. Ellen itu. Kelas menjadi jauh lebih tenang setelah seruan tegas guru tersebut, meskipun tidak bisa dikatakan benar-benar hening. Guru tersebut berjalan sambil mengambil lembar jawaban dari setiap siswa, kemudian mempersilahkan semua murid untuk segera keluar setelah kewajibannya terselesaikan.

 

                "Hei, Byanca. Gimana tadi? Kamu bisa ngerjainnya? By the way, soalnya keren-keren, lhoo!" ujar Sheryl dengan penuh canda.

                "Hahaha… gimana nggak keren coba? Gue pikir ilmuwan pengubah sejarah peradaban manusia aja belum tentu bisa jawab pertanyaan-pertanyaan, tuh," imbuh Byanca. Setidaknya untuk saat ini, ia benar-benar tidak terlalu peduli dengan hasil tesnya itu.

                "Gue, sih mana bisa ngerjain soal-soal begituan? Kalo suruh ngerjain soal bahasa, verbal, dan kausal, sih gue ahlinya. Tapi kalo urusannya sama Biologi, Fisika… gue tinggal lempar dadu aja," ucap Elsha sambil tertawa menyenangkan.

                Mereka pun menuju ke parkiran sekolah bersama setelah keluar dari kelas perwalian mereka. Keempat gadis itu mengendarai kendaraan mereka masing-masing sambil berjalan bersama, kemudian akhirnya berpisah di persimpangan jalan pada ujung gang sekolah.

                Saat ini, mereka mungkin tak pernah memikirkan… apa yang akan terjadi jika mereka harus berpisah nanti. Karena pada masa ini, masa bagi mereka untuk dapat bersenang-senang dan mempererat hubungan. Karena masa muda adalah suatu masa kehidupan yang paling berharga bagi setiap orang, suatu masa di mana setiap mimpi dan harapan berusaha diwujudkan, masa di mana semuanya menikmati indahnya dunia dan rencana takdir. Masa depan masih jauh di depan, dan kaum muda yang masih terus berusaha menggapai mimpi mereka masing-masing.

                Masa muda tanpa kerja keras, artinya kita tidak mempergunakan masa terbaik kita semaksimal mungkin. Namun masa muda tanpa kebahagiaan, artinya kita tidak menikmati waktu yang ada sebaik mungkin. Maka, keempat gadis tersebut ingin berjalan bersama-sama untuk menggapai mimpi mereka di masa muda ini, masa di mana semua orang bersemi membuktikan kemampuan mereka.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

aiana
2019-03-16 09:05:39

wah saya deg2an sendiri, semangat ya kaka, ini kalau manga (komik jepang) adalah genre favorit saya. semoga karekter indonesianya menonjol. biar feelnya bedaaa...
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

340 283 6
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

583 448 7
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 9
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

187 150 2
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

451 351 14
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 616 8