Sello menarik nafas dalam-dalam sampai dadanya membusung.

"Baiklah," ucapnya dalam hati setelah mengeluarkan nafas yang terkumpul di rongga dada. "Mereka cuma menyalak sebentar. Yah, itu karena mereka belum terbiasa melihat kami jalan berdua. Setelah itu semua akan berjalan normal seperti biasa. Ini cuma sesaat. Cuma sesaat. Paling lama sebulan." Lalu dia mengejar langkah Lara yang mendahuluinya di lorong koridor. "Tunggu, Ra!"

Lara tidak mengindahkan teriakan Sello. Dia terus berjalan, bahkan makin mempercepat langkahnya. Sudah terlalu sering dia dibully anak-anak dan dia tidak mau menambah daftar bully-an hanya karena kebersamaannya dengan Sello.

"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Ra." Sello mengimbangi langkah Lara yang nyaris setengah berlari. "Tapi aku hanya ingin berteman denganmu untuk memperbaiki sikap burukku padamu. Jika mereka meledekmu maka mereka akan berhadapan denganku. Aku jamin."

Lara berhenti. "Memang aku mengkhawatirkan mereka setelah ini," ucapnya dengan suara gugupnya yang khas, namun tidak berani menatap Sello secara langsung. "Tapi aku lebih mengkhawatirkan dirimu. Mengapa sikapmu berubah begitu cepat?"

"Ya... itu..."

"Seharusnya aku tidak menerima tawaranmu tadi." Lara melanjutkan langkahnya.

"Ya, Tuhan," desah Sello. "Kupikir ini akan mudah. Ck!"

"Kenapa dengan lo, bro?" suara yang familiar tiba-tiba mendekatinya dari belakang.

Sello menoleh dari balik bahunya. Wajahnya mendadak masam pada kedua orang itu. "Nggak kenapa-kenapa." Tangannya yang melayang ke tulang pipi Idan masih membekas di ingatannya. Dia merasa tidak enak hati.

Jujun menyadari kecanggungan di antara kedua sahabatnya. "Jangan kayak ceweklah!"

"Sorry." Hanya itu yang terucap dari bibir Sello.

"Gue mengerti," sahut Idan. Bekas pukulan Sello membiru di pipinya. "Tapi Lo nggak kira-kira mukul gue."

"Anggap itu tanda sayang gue ke elo."

"Dodol!"

Jujun menghela nafas lega menyaksikan kedua sahabatnya mulai akur. "Hei, gue sudah nggak sabar pengin cepat-cepat ke kelas. Ada yang mau nembak cewek soalnya."

Idan tersenyum hambar. "Lupakan saja. Nanti kita ribut lagi."

"Tidak, tidak, tidak. Kita harus tetap melaksanakan apa yang sudah kita sepakati. Gue mengaku kalah, tapi bukan berarti gue bisa langsung jadian dengan Lara. Lo pikir gampang apa? Tadi gue jemput dia barengan ke sini."

"Serius?" Mata Idan melebar.

Sello mengangguk. "Dia tidak suka kalau gue dekat-dekat sama dia. Trauma barangkali."

"Wajar saja." Jujun berkata sambil membayangi perlakuan buruk Sello pada Lara. Yang paling sadis yang pernah diingatnya dan satu-satunya yang dapat membuat Lara menangis adalah ketika Sello berulang tahun dan mentraktir teman satu kelas dengan memesan ayam goreng cepat saji atas nama Lara. Tentu saja Lara kelabakan menghadapi pengantar makanan yang menuntut bayaran padanya. Bahkan pengantar makanan mengancam akan melaporkan Lara ke polisi jika Lara menolak untuk membayar. Lara ketakutan dan menangis sejadi-jadinya. Dia memohon agar pengantar makanan mengecek ulang nama pemesan yang mungkin saja keliru. Setelah puas melihat Lara memohon-mohon dengan sangat menyedihkan, barulah Sello menyudahi sandiwara tersebut dan menyuruh pengantar makanan itu pergi. Sebenarnya Sello sudah membayar semua makanan itu sekaligus memberikan tip atas keberhasilan pengantar makanan yang membuat Lara menangis.    

"Terus?" Idan bertanya.

"Entahlah," jawab Sello. "Gue pikir gue kena karmanya sekarang. Dan lo benar, Dan. Pesona Arjuna sudah memudar."

"Ya, sudahlah. Kita lupakan saja soal taruhan ini. Kalau lo masih ngotot mendekati Vanda, aku bersedia membantumu . Iya'kan, Jun?"

"Yup."

"Gimana?" Idan menggerakkan alisnya.

"Gue coba pakai cara gue dulu."

"Oh, oke," ucap Idan. "Apapun itu gue dukung."

Bel masuk berbunyi. Murid-murid sudah rapi duduk di bangkunya masing-masing, tapi masih berceloteh satu sama lain. Kelas masih hiruk-pikuk seperti pasar pagi.

Vanda menyikut lengan Lara yang sedang berkutat dengan coretan rumus kimia di buku catatannya. "Cieee, yang lagi dapet boncengan?" godanya.

Lara mengerutkan dahi, menoleh. "Kamu bilang apa?"

"Bakalan ada yang jadian, nih?" goda Lara lagi.

"Jadian? Siapa yang jadi-jadian?" Lara bingung.

Vanda menarik matanya ke atas sambil menghembuskan nafas. "Yaelah... kapan sih terkahir kali kamu pacaran? Sinyal kamu lemah banget. Sori aku nggak bermaksud meledek, tapi ya, kamu coba membuka diri sedikit. Perhatikan ke sekeliling kamu. Banyak yang perlu diperhatikan selain buku tulismu itu."

"Ini pilihanku."

"Aku mengerti, tapi cobalah untuk menikmati hidup selagi masih muda."

"Kau tahu, banyak anak muda yang terlena saat menikmati hidup sehingga mengabaikan tujuan hidup mereka."

"Ya, Tuhan," keluh Vanda. "Seperti mendengar ceramah orangtua saja."

Sementara itu di ruang guru, kepala sekolah memimpin rapat kecil dadakan. Kepala Sekolah Cahaya Nusantara bernama Deliana Sani, namun tak seorang murid pun yang tahu betul nama itu karena dia lebih dikenal dengan sebutan Bu Konde, Bu Kipas atau Bu Bulat. Dengan tanpa bermaksud menghinakan dirinya, julukan itu memang cocok disandang olehnya. Dia bertubuh gemuk dengan kulit putih terawat dan wajah bulat sebulat bulan tanggal 14 yang nyaris melenyapkan dagunya. Kacamata dengan gagang elegan tak pernah lepas dari mata bulatnya yang besar. Rambutnya hitam legam yang tertata rapi, tersambung dengan konde. Dia mencitrakan dirinya dengan percaya diri sebagai Kartini masa kini yang tetap stylish. Dia selalu memegangi kipas yang kerap berganti model tiap hari. Meski sudah memasuki usia pertengahan abad, dia tetap enerjik dan selalu tampil segar. Sudah lima tahun dia menjabat sebagai kepala sekolah dan dia menjalani kewajibannya dengan baik, dengan menerapkan kebebasan berekspresi yang tanpa mengabaikan dan melanggar nilai moralitas kehidupan kepada murid-muridnya.

Di meja yang disusun persegi, guru-guru dengan sabar menunggu instruksi Bu Konde.

"Selamat semua." Bu Konde mulai mengipasi dirinya. Padahal ruangan itu ber-AC. "Saya mendapatkan surat pengumuman lomba pementasan drama untuk siswa SMU se-DKI yang diadakan gubernur. Nah, adakah kemungkinan bagi kita untuk mengikutinya? Bu Doris?"

Bu Doris adalah guru kesenian yang suka setengah hati mengajari murid. Jika murid mau serius mempelajari salah satu bidang kesenian, dia akan mematoki pembayaran untuk pelajaran privat. Dan pengumuman lomba ini dapat merugikan dirinya karena harus meluangkan waktu ekstra untuk melatih murid-murid tanpa pembayaran. "Saya pikir sangat tidak mungkin, Bu." Dia menjawab. "Murid-murid yang piawai membawakan drama, yang merupakan generasi kedua sudah tamat sekolah. Tidak ada regenerasi lagi. Murid-murid yang menyenangi teatrikal lebih tertarik belajar di luar sekolah. Mereka belajar pada ahlinya seperti Aditya Gumay dan seniman-seniman ibukota. Itu lebih menjanjikan daripada di sekolah."

Guru lain membenarkan.

Bu Konde manggut-manggut sambil berkipas anggun. "Saya pikir itu bukan masalah. Karena ini perlombaan dan nama sekolah jadi taruhannya. Kita dapat saja memaksakan murid untuk ikut dan melatih mereka sebaik mungkin."

"Benar, Bu. Tapi... "

"Saya tidak memaksa Bu Doris untuk melatih anak-anak karena Saya yang akan turun tangan langsung."

Yang benar saja, pikir Bu Doris. Sementara Bu Konde berpikiran lain. Dia ingin memberikan penampilan terbaik khusus untuk Pak Gubernur. Dari balik kipasnya dia tersenyum sendiri.

"Terima kasih sudah meringankan pekerjaan Saya, Bu." Bu Doris menjawab basa-basi.

Bu Konde memperbaiki letak kacamatanya. "Untuk naskah, Saya lebih suka bila itu datang dari murid. Apakah Bapak-Ibu mengetahui siapa murid kita yang potensial menuliskan naskah?"

Hening.

"Tema yang diusung sangat familiar bagi murid-murid. Tentang percintaan. Saya pikir itu tidaklah sulit bagi mereka."

"Um," Bu Elly buka suara. Dia adalah Guru Bahasa Indonesia. "Saya tidak begitu yakin apakah usul Saya ini dapat diterima. Tapi Saya pernah menugasi anak-anak untuk membuat tulisan fiksi dan Saya menemukan keindahan bahasa pada murid bernama Lara. Mungkin Bapak-Ibu familiar dengan murid tersebut."

Guru-guru bergumam, berceloteh dan melemparkan ketidaksetujuan mereka yang bernada sepele.

"Lara?"

"Einstein girl?"

"Membiarkan naskah ditulis oleh murid yang isi kepalanya dipenuhi rumus kimia, dalil pytagoras, relativitas, keseimbangan, nama-nama aneh dari sejumlah bakteri dan virus itu sangat konyol Bu Elly. Itu tidak masuk akal. Bukan keromantisan yang akan kita dapat, tapi alur cerita yang mengerikan seperti pembedahan seekor katak dan burung."

"Apalagi dia penyendiri. Saya yakin dia pasti belum pernah merasakan jatuh cinta. Jatuh dari pohon mungkin iya."

"Ini bunuh diri namanya."

"Saya tak dapat membayangkan betapa malunya Saya ketika naskah yang dibuat berdasarkan hasil oksidasi dan kondensasi itu ditampilkan. Sungguh Saya tak sanggup melihatnya. Lebih baik Saya minum pil tidur sebanyak tiga butir dan terjaga di saat semua orang sudah melupakan perlombaan itu."

"Jadi maksud Bapak-Ibu penilaian Saya salah?" Bu Elly menyela, geram.

"Bukan begitu Bu Elly. Bisa saja itu hanya kebetulan semata. Bukankah banyak kita dapati contoh di mana seseorang menghasilkan suatu karya yang luar biasa untuk yang pertama kali? Ketika membuatnya ulang maka hasilnya tidak sebaik yang pertama."

"One hit maker. Saya setuju."

Bu Elly mendengus kesal.

"Kenapa bukan Bu Elly saja yang menuliskannya?" usul seorang guru. "Itu lebih baik daripada mempercayakannya pada si Frakenstein, eh, Einstein ini."

"Tidak, tidak, tidak," sela Bu Konde. "Lomba ini untuk murid bukan guru. Sepenuhnya lomba ini akan dilaksanakan oleh murid. Kita hanya perlu mengawasi saja."

"Lalu siapa yang menuliskannya?"

"Saya percaya atas penilaian Bu Elly pada karya Lara. Dan Saya percayakan penulisan naskah itu padanya."

Rapat selesai. Bu Konde bergegas pergi ke kelas XIA untuk mengumumkan hasil rapat kepada murid-murid sekaligus penunjukan penulisan naskah drama secara langsung kepada Lara.

"Bu Konde lewat!" Seorang murid berteriak dari luar kelas ketika Bu Konde di ujung kodirdor, lalu setengah berlari dia masuk ke kelas.

Murid-murid segera berhamburan, duduk di kursinya masing-masing. Kelas hening. Mereka tak mau Bu Konde mampir ke kelas ketika menyaksikan mereka tidak tertib. Namun mereka keliru karena tujuan Bu Konde memang masuk ke ruang mereka.

"Pagi anak-anak." Bu Konde menyapa sambil mengembangi kipasnya.

"Pagi, Bu!"

Mata bulat di balik kacamata itu memandangi murid-murid yang tampak tegang. Sudah menjadi kebiasaan bahwa kehadiran Bu Konde di suatu kelas, itu menandakan mereka telah melakukan kesalahan masal.

"Um..." Bu Konde diam, berpikir sejenak. Dia geli menyaksikan ketegangan murid-murid. Ada baiknya mencairkan suasana, pikirnya. "Aduh, kenapa Saya jadi lupa begini, ya?" Bicara sendiri. "Ada yang tahu info apa yang ingin Saya sampaikan? Oh, mana mungkin kalian tahu kecuali ada di antara kalian yang nguping pembicaraan para guru di ruang kepsek. Um... sebentar..." Berjalan mondar-mondir di depan kelas sambil mengipas-ngipas dirinya. "Dicaprio, Dicaprio, Dicaprio apaa gitu?"

"Leonardo Dicaprio, Bu!" sambar seorang murid.

"Nah, itu dia. Leonardio Dicaprio!" serunya semangat. "Coba kalian bantu yang berkaitan dengan Leonardo Dicaprio!"

Satu per satu murid-murid menebak.

"Aktor?"

"Semua orang juga tahu."

"Playboy?"

"Oh, tidak bisa. Dia belum layak disebut playboy kalau belum memacari saya." Bu Konde mengikik di balik kipasnya.

"Inception?"

"Bukaaan."

"Titanic?"

"Ya, sedikit lagi. Filmnya sama-sama romantis dan tragis."

"Romeo and Juliet."

"Ya, ya, itu dia! Romeo and Juliet!" Bu Konde memekik semangat.  "Kamu benar Lara. Romeo and Juliet. Kita akan mementaskan kisah Romeo and Juliet untuk perlombaan teater tingkat SMU se-DKI, memperebutkan piala Gubernur. Tapi saya maunya cerita Romeo and Juliet diperbaharui atau dibuat versi lain seperti film Up-Up-Upside apa gitu. Kamu tahu Lara?"

Lara mengangguk ragu. "Upside Down, Bu."

"Seperti apa kisahnya?" tanya Bu Konde.

"Um... kisah cinta yang terhalang oleh gravitasi."

"Ow, menarik sekali." Guru-guru salah menilai anak ini, pikirnya. "Nah, Saya mau cerita yang seperti itu. Saya ingin sesuatu yang unik dan beda. Hmm... baiklah, kamu pasti telah banyak nonton film maupun membaca kisah-kisah roman seperti itu. Jadi, Saya percayakan penulisan naskah padamu untuk memoles kisah Romeo and Juliet versi kamu." Bu Konde terus mengoceh centil tanpa memberi kesempatan pada Lara untuk protes.

"Sudah terima saja," bisik Vanda. "Nanti kubantu sebisaku."

Lara cuma menghela nafas. Bukan masalah terima atau tidak terima yang menjadi beban pikirannya. Dia belum pernah menulis naskah drama. Selain itu, mengubah karya masterpiece yang sudah berulang-ulang ditampilkan lewat drama panggung maupun layar visual bukan perkara gampang. Butuh imajinasi tingkat tinggi dan pengalaman penulisan yang mumpuni untuk menciptakan karya yang indah. Lah, sementara dia cuma cewek kutubuku yang hobi mengotak-atik rumus Kimia, Matematika dan Fisika. Cuma catatan harian berisi curhatan kesedihan dan kegalauan saja yang pernah ditulisnya. Itu saja.

Penugasan itu membuat Lara kehilangan kosentrasi belajar. Tenggat waktu selama seminggu yang diberikan Bu Konde sangat membebani.

"Mengapa harus aku, sih?" ucapnya lebih kepada dirinya sendiri sambil mencari buku panduan penulisan naskah teater di perpustakaan sekolah saat jam istirahat.

"Mungkin kamu orang yang tepat untuk mengerjakannya." Vanda ikut bantu mencari.

"Seharusnya Bu Konde tanyakan dulu kemampuanku."

Vanda tersenyum lebar. "I'm newbie tahu," ucapnya. "Kamu lebih mengenal karakter guru-guru di sini daripada aku."

"Bu Konde memang rese'."

"Hei, ambil sisi positifnya saja."

"Aku tidak melihatnya."

Vanda tersenyum sambil menggeleng. "Jalanmu terlalu lurus, say. Makanya jangan pakai kacamata kuda saat melintasi jalan. Di sana mungkin banyak hal yang kamu temui dan tidak kamu sangka-sangka. Mungkin saja setelah melewatinya hidup kamu bakal jadi menyenangkan, tidak membosankan seperti sekarang."

"Tidak selamanya yang menyenangkan itu baik." Lara mengeluarkan sebuah buku dari raknya, melihat judulnya sebentar, lalu membuka dan melihat daftar isinya.

"Aku setuju. Makanya kehati-hatian itu perlu. Kamu harus bijak memilih dan menyikapi mana kesenangan yang baik bagimu dan mana yang tidak." Vanda mengintip judul pada sampul buku di tangan Lara. "Teknik Menulis Naskah Teater'," bacanya. "Kurasa buku itu cocok dijadikan panduan."

"Menurutmu begitu?"

"Yup."

"Buku apa itu?" Lara mengintip buku di tangan Vanda.

"Oh, ini kumpulan cerpen dari penulis ecek-ecek. Tidak seorang penulis pun yang kukenal."

"Aku meragukannya." Lara menyipitkan mata saat membaca nama salah satu dari tiga penulis yang tertera di sampul buku. "Sepertinya kamu harus banyak mengenal penulis lokal." 

Mereka beranjak ke meja baca dan duduk berseberangan. Belum lima menit berlalu, Vanda menutup buku yang dibacanya.  

"Hei," sapanya, memecah keheningan.

"Hm?"

"Bagaimana Sello menurutmu?"

"Seperti yang kamu lihat."

"Kamu mengenalnya lebih dulu. Apa kamu... um, tidak ada rasa sedikitpun padanya?"

"Apa?"

"Kamu suka tidak padanya?"

Lara menggeleng tanpa melepaskan pandangannya dari buku.

"Aku tidak percaya."

"Terserah."

"Kamu tahu," kata Vanda. "Kamu ini lebih manis dan cantik dari yang terlihat. Hanya saja kamu dan orang-orang di sekitarmu tidak menyadarinya."

"Terima kasih."

"Aku serius."

Lara mengangkat pandangannya dan menatap Vanda serius. "Bisakah kamu beri aku waktu untuk melahap buku ini sejenak?"

Vanda mendesah. "Baiklah," beranjak dari kursinya. "Aku mau ke kantin. Kamu mau kubelikan apa?"

"Apa saja boleh."

Tak lama Vanda keluar dari perpustakaan, Sesil dan kedua pengawalnya masuk dan segera mencari keberadaan Lara.

"Hei, Cupu! Di sini lo rupanya!" serunya dengan nada ketus yang ditahan.

Lara cuek sambil membalik halaman buku.

"Berani sekali lo cuekin gue!" Sesil merampas buku bacaan Lara. Rena dan Keke gelisah, coba menariknya keluar, tapi ditepisnya. "Gue tahu lo punya bodyguard sekarang. Tapi bukan berarti lo bisa seenaknya saja cuekin gue."

Lara membetulkan duduknya. "Aku cuma diberi waktu seminggu."

Sesil menegakkan sebelah alisnya, lalu mengembalikan buku bacaan Lara dengan cara dilemparkan. "Gue mengalah kali ini. Lagipula kedatangan gue memang khusus buat itu. Gue minta lo lupakan ide cerita yang ada di kepala lo, karena yang harus lo serahkan sama Bu Konde adalah kisah cinta gue bersama Sello. Itu jauh lebih shakespear dibandingkan cerita manapun."

"Oh, baguslah."

"Eh," Sesil heran. "Lo tidak protes?"

Lara menggeleng. "Aku malah berterima kasih padamu."

Sesil menatap Lara curiga. "Maksud lo?"

"Aku tidak punya ide menuliskan cerita apa. Aku bukan shakespeare, toh? Kalau memang kisahmu mau kutulis, maka akan kutulis."

Ekspresi jutek Sesil menghilang disusul senyumannya yang merekah. "Gitu dong," ucapnya senang. "Tapi awas! Kalau lo sempat mengubah ceritanya, gue tidak segan-segan membuat lo menangis. Menangis darah kalau perlu. Gue tidak takut sama bodyguard lo yang sok cantik itu!" ancamnya.

"Oke," jawab Lara ringkas.

"Dua tiga hari ini gue email cerita gue."

"Aku tunggu."

Sesil dan kedua pengawalnya berbalik, pergi meninggalkan Lara. Di pintu keluar, mereka berpapasan dengan Vanda yang datang membawa bungkusan. Tidak ada kata sapa. Keduanya sama-sama cuek. Malah Sesil lebih terkesan takut pada kemunculan bodyguard Lara.

"Mau apa mereka?" Vanda menyodorkan bungkusan berisi makanan ringan. "Mereka tidak mengganggumu'kan?".

Lara menggeleng sambil mengintip isi bungkusan. "Mereka menawarkan bantuan."

"Ah, aku tak percaya."

"Kapan sih kamu bisa mempercayaiku?"

"Bukan begitu," sela Vanda. "Aku memang tidak banyak tahu mengenai sekolah ini, tapi melihat sikap mereka padamu aku tahu kalau selama ini mereka selalu menindasmu."

"Aku tidak merasa ditindas." Lara coba membela diri di atas sikapnya yang kaku. "Sebaiknya kita kembali ke kelas." Menutup buku yang dibaca.

Vanda menarik punggungnya dari sandaran kursi. "Cepat banget?" Heran. "Apa kamu sudah menemukan ide ceritanya?"

Lara mengangguk sambil tersenyum manis. "Kan sudah kubilang tadi."

"Kamu serius?"

Lara tersenyum. "Yah, anggap saja cerita mereka sebagai cadangan."

"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu." Vanda mendesah. "Mereka jahat, tapi kamu menganggapnya seolah tidak pernah terjadi apa-apa."

"Mereka menawarkan kebaikan. Buat apa aku tolak? Pamali, toh?"

"Terserah kamu deh."

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

dede_pratiwi
2018-12-22 21:20:45

nice story, kusuka bahasa yg dipakai ringan. keep writing...udah kulike dan komen storymu. mampir dan like storyku juga ya. thankyouu
Mention


yurriansan
2018-12-06 17:56:44

Mainstream si, tp jokes nya bikin ngakak...????
Mention


Page 1 of 1 (2 Comments)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

611 471 7
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

374 312 6
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

579 435 6
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

465 366 8
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

362 276 6
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

477 372 14