Adrian mulai menyadari, jika orang aneh di hadapannya memakai jaketnya di atas sebuah jubah kumal yang ada di dalamnya. Wajah pria itu terlihat aneh. Matanya cukup besar untuk wajahnya yang seperti menciut kecil dan keriput. Rambut pendeknya tidak tumbuh merata, sehingga lebih menyerupai bulu. Hidungnya pun bengkok sedikit ke samping. Sedangkan mulutnya, saat ini, sedang menyeringai menatap kedua bola mata Adrian.

Suara erangan keluar dari rahang seseorang yang berada di atas meja operasi di sebelah kiri Adrian.

"Oh lihat, dia ketakutan karena kamu datang," ujar Adrian, seakan mereka adalah teman yang sedang bercakap-cakap di suatu kondisi normal. "Sebaiknya cek dia dulu. Saya bisa menunggu,"

Adrian benar-benar terlihat yakin ketika mengucapkannya.

Bibir pria aneh tersebut mulai mengatup menutupi giginya. Menatap bocah aneh itu lamat-lamat, seakan dia boneka cantik yang menarik minatnya. Adrian bergeming, balas menatapnya dengan wajah dingin. Dia tidak ingin menyenangkan hati seorang psikopat. Kengerian di wajah korban adalah salah satu hiburan bagi mereka. Dan salah satu dari mereka yang sekarang sedang menatap Adrian, tidak akan pernah mendapatkan itu darinya. Pria aneh itu berbelok, mendekati meja operasi di sebelah Adrian.

Membuka kainnya dengan sekali hentak. Memperlihatkan sebuah pemandangan yang mau tak mau cukup membuat Adrian yang biasanya tidak berperasaan, tetap saja harus bergidik. Sebuah tubuh terikat di meja tersebut. Kulitnya dipenuhi jejak hitam memanjang, dan di beberapa tempat seperti... dikuliti. Telinga kirinya terlihat tidak seperti sebagaimana mestinya telinga, hanya sebuah lobang kecil yang dikelilingi darah menghitam. Sebagian wajah dari mata ke atas pria malang itu, ditutupi dengan kain putih yang penuh oleh bekas-bekas hitam.

"Euww," gumam Adrian. Bagaimana pun juga, dia tetap tidak senang melihat hal seperti itu terjadi di hadapannya. Dia bukan psikopat. Paling tidak dia berpikiran tidak terlalu psikopat.

"Kamu yang membunuh Om Edwin dan anaknya?" Adrian memulai percakapan normal mereka kembali.

Pria aneh itu, yang sedang mengarahkan pisau lipat Adrian ke mainannya, menoleh. Bibirnya kembali menyeringai lebar. Tidak terlihat enak dipandang.

"Oh jadi benar," gumam Adrian. "Kamu tahu Elena? Bagaimana cara kalian saling mengenal?"

Tidak ada jawaban.

"Lagi pula, kenapa kamu menculik saya? Elena yang sur.... wew..."

Pria aneh itu menarik lakban hitam dari atas sebuah meja di belakangnya.

"Calm down~ oke?" Adrian menyeringai getir.

Pria aneh itu berjalan ke arah Adrian. Adrian mengangkat dirinya sedikit berusaha menghindar. Sehingga pria itu harus lebih mendekat agar dapat meraih mulut pemuda itu. Lalu kembali ke tempat dia akan mulai bekerja tadinya. Aroma tidak enak menguar saat pria itu tadi mendekat. Berasal dari pakaian kumal yang dipakainya. Yang mungkin saja tidak di cucinya selama bertahun-tahun menyiksa orang-orang. Untungnya Adrian berhasil menarik sesuatu yang disimpan di dalam jaketnya.

Si pria aneh mulai menyentuh bagian perut bawah korbannya. Sementara Adrian dengan berhati-hati mencoba memasukkan ujung besi yang didapatnya ke dalam lubang borgol.

Tidak muat! Tentu saja, inikan paku! dengus Adrian kesal dalam hati. Shit! sebuah umpatan yang dipelajarinya dari Zinan bergema di dalam otaknya. Dia mengambil di saku yang salah. Mau tidak mau, sekarang dia hanya bisa fokus menatap psikopat di dekatnya sedang bermain-main dengan boneka lamanya.

Si korban mulai menangis dan malah sekarang mengarahkan wajahnya kehadapan Adrian. Mulutnya yang penuh kain, masih bisa mengeluarkan sedikit geraman kesakitan. Adrian mendeham berkali-kali dengan tatapan mengarah kepada si psikopat. Pria aneh itu menoleh kembali ke arah Adrian dengan kesal. Dia kesal karena kesenangannya diganggu. Adrian menggerakkan kepalanya, menyuruh si pria aneh a.k.a si psikopat tersebut mendekatinya. Dengan ekspresi mengerikan, dia menarik pisau lipat yang telah masuk sedikit ke dalam perut mainannya. Kemudian menenteng logam basah belumuran cairan merah tersebut menuju Adrian.

Dia mencabut lakban di mulut Adrian dengan sekali tarikan.

"Kamu mau uang?" tanya Adrian, bernegoisasi. "Apa yang Elena tawarkan ke kamu setelah kamu bekerja untuk dia?"

Pria aneh itu tidak menjawab.

"Bukan uang?" tanya Adrian sedikit mengernyit. "Lalu apa?"

Pria itu masih diam. Kemudian dengan layangan tangan yang cepat, mengarahkan pisaunya ke mulut Adrian. Untung saja Adrian langsung mengelak ke samping. Sehingga saat itu mereka berdua sedang berada dalam posisi sangat dekat. Malah seperti berpelukan.

"Aaaaa!" erang pria aneh itu.

Tangan Adrian berhasil menusukkan sebilah besi yang tadinya dia pikir adalah kawat, ke lengan si psikopat. Adrian mengangkat tubuhnya sedikit, kemudian menggigit kuping pria aneh itu. Pria itu kembali menjerit-jerit, tangannya yang bergerak liar menusuk punggung Adrian dengan pisau. Adrian sedikit meringis ketika merasakan logam tajam itu menyentuh dagingnya. Namun dia tak mau terhanyut dalam kesakitannya, dan berusaha sekuat tenaga menarik daging segar di mulutnya.

"AAAAA!" telinga si Psikopat tidak berada di tempatnya lagi.

Kucuran darah memenuhi wajah Adrian. Pemuda itu menyemburkan telinga busuk tersebut ke lantai. Bibirnya terlihat seperti baru saja dipoles dengan lipstik merah merona. Atau mungkin juga seperti Vampire yang baru saja makan malam.

Si pria aneh jatuh terjengkang dengan erangan yang bisa membuat orang sakit telinga. Adrian tanpa pikir panjang berdiri dengan mengangkat kursi, mencengkram pisau miliknya yang tergeletak di atas tanah. Bug! Bunyi kursi yang terhempas kembali ke atas lantai. Adrian mengangkat kakinya dan melepaskan ikatan talinya. Borgolnya tidak mungkin lepas dengan pisau. Dia segera berdiri. Kemudian, sebelum pria aneh itu bangkit, dia telah lebih dulu mengarahkan kaki kursi ke dalam mulut pria bajingan itu.

"Hagh! Hagh!" bunyi yang keluar dari mulutnya karena disesaki oleh kayu yang cukup besar menerjang tenggorokannya. Adrian tidak berhenti dan terus mendorongnya masuk. Pria psikopat itu berhenti bergerak.

"Hahh," Adrian terduduk dengan tubuh penuh darah dan keringat, matanya menatap borgol yang masih terkait ke kursi.

Dia berjalan sambil mengangkat kursi tersebut. Mendekati sebuah meja yang penuh dengan benda-benda tajam, koleksi si pria psikopat. Adrian mengambil sebuah gergaji berkarat dan dengan kesulitan mencoba memotong lengan kursinya bergantian.

Beberapa menit kemudian, pemuda itu sudah terbebas dari kursi terkutuk yang mungkin telah memakan banyak korban sebelumnya. Adrian berjalan dengan bunyi gemerincing dari besi borgol yang masih bergelayut di pergelangannya. Mengambil sebuah obor dan melanjutkan mencari pintu. Sekitar sepuluh meter dari tempat awalnya berdiri, Adrian menemukan sebuah saklar. Dia menekannya. Seluruh ruangan langsung dibanjiri oleh cahaya terang. Adrian memejamkan matanya karena silau.

Dasar gila! Apa gunanya obor? Untuk meningkatkan kesan horor? Angker? Memangnya kamu mau main filem, Adrian mengomel di dalam hatinya.

Mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, dia sudah bisa melihat dengan jelas. Matanya menangkap si pria psikopat sedang berlari dengan meat cleaver (pisau daging) di salah satu tangannya. Dia melayangkan pisau besar itu ke arah kepala Adrian. Pemuda itu mengangkat tangannya, sehingga yang terkena baja tajam tersebut hanyalah borgol nya. Adrian melempar sebuah batu besar di antara tumpukan batu di belakangnya. Si Pria Psikopat mundur. Adrian kembali mengambil sebuah batu dan melemparnya. Tidak terlalu berguna, karena batunya terlalu besar dan berat, sehingga belum sempat menyentuh tubuh pria di hadapannya itu, malah jatuh ke tanah. Si psikopat tersenyum mengejek. Dia mendekat. Berniat untuk menebas kepala. Adrian hanya berdiri diam di tempatnya. Si Psikopat mulai menerjang dengan tebasan pisaunya yang besar.

PRAKK!!!

Si Psikopat aneh terseruduk ke lantai, setelah mendapatkan tamparan dari borgol yang bergelayut di tangan Adrian.

"Wow, ada gunanya juga ya," ujar Adrian dengan tatapan kagum ke borgolnya.

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

AO1993
2019-03-10 11:25:05

@YUYU makasi sarannya y
Mention


YUYU
2019-03-07 18:53:11

Itu ... disibak aja sptnya, tanpa -kan. Diksi kamu keren banget kak.
Mention


Kang_Isa
2018-12-11 01:02:44

Wih mantep nih ceritanya. Apik. Sukses, ya. ^_^
Mention


Page 1 of 1 (3 Comments)

Recommended Stories

Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 773 14
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

550 411 6
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

346 270 4
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

4K+ 1K+ 8
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

592 435 9
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 10