Polisi datang dan langsung menarik pita kuning (police line) di sekitar ruangan tersebut. Penyelidik dan bagian forensik lalu lalang menuju ruangan piano. Salah seorang polisi mendatangi Adrian dan mulai menanyakan beberapa hal kepadanya.

"Kapan kamu terakhir kali melihat Bella?" tanyanya.

"Saya lihat dia di dekat kolam tadi pagi," jawab Adrian.

Si polisi mencatat.

"Sekitar jam berapa?"

"Lima tiga empat pagi, dia..." Adrian menatap mayat Bella dari luar ruangan tersebut. "Bersama Om Juna. Saya selalu lihat jam," Adrian menjawab keheranan di wajah polisi tersebut.

Pria itu langsung mencatat dengan bersemangat di atas buku catatannya.

"Ya, saya juga lihat Bella tadi pagi," sela Zinan, mendekat kepada mereka berdua. "Dia sepertinya ber... (Dia tampak berpikir, apakah ingin mengungkapkannya atau tidak) ya... bersama Om Juna,"

"Kalian tahu, dia sedang apa dengan Juna di dekat kolam?" tanyanya.

Adrian menggeleng.

"Saya juga nggak tahu," ujar Zinan ketika polisi itu menatap ke arahnya. "Tapi mereka itu tunangan, jadi yah, mereka sering berdua. Bella itu anak angkat Tante Elena, tidak secara hukum, tapi dia sudah lama tinggal di sini. Mungkin udah lima belas tahun. Tante Elena yang membayar kebutuhan Bella. Dia sudah seperti kakak bagi saya,"

"Juna itu siapa?" tanya polisi itu.

"Om saya, sepupu Tante Elena. Dia juga udah tinggal lama di sini,"

"Berarti mereka sudah berpacaran selama tinggal di sini?"

Adrian menatap Zinan yang tampak mengingat-ingat sesuatu hal.

"Kami nggak tahu mereka pacaran sebelumnya. Saya aja kaget dengar mereka mendadak tunangan. Dulu saya pikir mereka dekat hanya sebatas teman... saudara. Soalnya Om Juna juga nggak pernah bilang sama saya. Dia baru bilang sekitar sebulan yang lalu kalau dia melamar Bella,"

*****

Hari ini, jasad Bella dikuburkan di pemakaman milik keluarga Andani. Gadis itu telah dianggap sebagai bagian dari keluarga mereka, sehingga pantas diperlakukan sama. Elena berdiri di samping kedua orang tua Bella, yang telah datang dari sebuah kota yang jauh. Mereka berpakaian sangat sederhana. Jauh berbeda dengan perawakan yang dimiliki oleh anaknya; glamor, cerdas, mandiri dan berpendidikan tinggi, yang terlihat bisa melakukan apa saja. Dari yang Adrian dengar dari salah seorang pelayan, Elena sangat dekat dengan gadis itu. Terdapat rumor, Elena bahkan berniat untuk memberikan salah satu perusahaan miliknya pada Bella.

Adrian melihat Ferdi, si kepala pelayan, menangis.

Kamu tidak menunjukkan emosi apapun sebelumnya, bisik Adrian di dalam hati. Kenapa baru sekarang bersedih.

Adrian mengedarkan pandangan ke bagian lain, dari kumpulan orang-orang yang menatap jasad di turunkan ke dalam liang. Juna sedang bersandar di badan sebuah pohon. Dia tidak menangis. Dia terlihat... marah.

"Saya juga heran, Om Juna udah kayak gitu sejak beberapa hari belakangan ini," bisik Zinan di samping Adrian. Seakan dia bisa membaca pikiran kembarannya.

Kuburan Bella hampir tertutup sempurna.

"Saya lihat dia marah-marah sama Ferdi. Nggak dengar jelas dia bilang apa. Kebanyakan ngumpat dari pada ngomong. Om Juna memang kek gitu kalo marah," terang Zinan.

Adrian pulang diantar oleh seorang pengawal Elena. Ketika berada sendirian di dalam mobil, wajah Bella yang bersimbah darah kembali terbayang dalam ingatannya.

Setibanya di rumah, pemuda itu tidak langsung naik ke lantai tiga. Dia malah berjalan di lorong lantai dua. Berhenti di sebuah pintu, dan memalingkan wajahnya ke belakang sekilas. Dia memutar ganggang pintu berwarna emas itu. Membukanya selebar ukuran badannya dan masuk ke dalam dengan cepat. Beberapa saat yang lalu kamar Bella masih digunakan sebagai tempat penyelidikan oleh pihak kepolisian. Mereka pun sepertinya juga ragu, apakah kejadian tersebut bunuh diri atau pembunuhan. Adrian sebenarnya tidak tertarik dengan kejadian ini. Dia punya urusan lain untuk diselesaikan. Namun, ada satu hal yang selalu mengusik benaknya. Wajah gadis tersebut yang berlumuran darah.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

AO1993
2019-03-10 11:25:05

@YUYU makasi sarannya y
Mention


YUYU
2019-03-07 18:53:11

Itu ... disibak aja sptnya, tanpa -kan. Diksi kamu keren banget kak.
Mention


Kang_Isa
2018-12-11 01:02:44

Wih mantep nih ceritanya. Apik. Sukses, ya. ^_^
Mention


Page 1 of 1 (3 Comments)

Recommended Stories

Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 10
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

456 354 14
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

341 260 5
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

342 285 6
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

346 270 4
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

4K+ 1K+ 8