#4 Jarak....

 

 

Kapsul berwarna merah itu ia telan bersama segelas air yang ia teguk hingga habis. Itu adalah obat terakhir yang ia punya, akhir-akhir ini obat itu yang sedikit membantunya menyembunyikan luka, hanya saja ia sadar bahwa obat itu tak bisa selamanya ia konsumsi hanya untuk menunda dan menunda tubuh yang mulai melemah. Luka di lengannyapun sudah mulai mengering jika saja saat itu ia tidak menggaruknya karena gatal. Lebam di kakinya pun sudah mulai menghilang.

Sebuah pesan masuk ke handphonenya, sebuah pesan Line dari akun bernama Senja. Berisi sebuah sapaan.

Senja Setiawan12

Hallo Bintang, apa kabar?

Bintang Aulia34

Kabar baik, Senja apa kabar?

Senja Setiawan12

Baik, bagaimana lukanya? Sudah sembuh kah?

Bintang Aulia34

Sembuh, aku sudah sangat sehat hari ini.. J

Senja Setiawan12

Syukurlah, mm.. karena Bintang udah nemuin hape cinitnit aku, mau ga aku ajak makan..? di kampus sih, gak jauh-jauh... sebagai ucapan terima kasih aku..

Bintang Aulia34

Wahh, gak apa-apa kali... santai aja.. aku juga ga berbuat banyak, aku Cuma nemu hape itu dan kebetulan itu punya kamu.. jadi aku balikin..

Senja Setiawan12

Hari sabtu jam 7 malam di Ramen Aa di gerlong, gimana?

Bintang bingung dan senang, pasalnya Ramen Aa adalah tempat favoritnya, sangat sulit untuk menolaknya. Tempat itu adalah tempat yang biasa ia datangi ketika sangat penat dengan kuliah bersama Mega dan beberapa teman seUKM nya. Selain makanannya enak, ia menyukai fasilitasnya yang meskipun sederhana tapi membuatnya nyaman, dan pelayannya juga ia mengenalnya dengan cukup baik.

Bintang Aulia34

mmm... aduh, gimana yaa..?

Senja Setiawan12

Kenapa? Kamu lagi gaada agenda kan..? Mega bilang kamu free..

Bintang Aulia34

Ehh...? Mega?

Senja Setiawan12

Ehh...? aduh... hehee... jadi gimana nih...? gakkan ada tawaran kedua lagi lho..

Bintang Aulia34

Iya atuh, hayu boleh... J

Senja Setiawan12

Oke Bintang, mau aku jemput?

 

 

Lama pesan itu tak berbalas, ia menunggu hingga larut malam untuk jawaban itu namun tak jua ia dapatkan. Karena Bintang tak membalasnya maka dengan inisiatifnya Senja memutuskan untuk menjemput Bintang.

Senja Setiawan12

Oke, jam setengah 7 ya... aku jemput... selamat malam Bintang J

 

Pesan itu tampak dilayar handphonenya, semburat senyuman terpatri di bibir tebal Bintang, ia tak pernah menyangka bahwa ia akan bertemu lagi dengan pemilik senyum rapi dan mata sipit dibalik kacamata itu. Tak berapa lama panggilan masuk pada Bintang, dari Mega. “Iya Meg..? kok kamu tau..? ya ampun.. aduh.. iya besok mau dinner-dinneran sama Senja hehe.. iya tadi Senja bilang kamu yang kasih tau tentang aku.. iya gapapa ahahaa.. makasih ya, aku gak nyangka bakal sampai tahap ini.. baiklah, selamat tidur Megan Fox-kuuu... sayaaaang kamuuuu...” Bintang tersenyum dan menatap layar handphonenya, jam berdetik teratur dan jarum jamnya sudah menunjuk angka 11, ia tahu ia harus segera tidur karena besok akan ada kuliah pagi dengan dosen favoritnya. Sembari menyamankan diri untuk tidurnya ia menarik selimut “Baiklah Bintang, hari esok akan jadi hari yang menyenangkan..” gumamnya “Tuhan, terima kasih untuk hari ini, semoga hari esok bisa lebih baik lagi...”

*

“Kamu”

Bintang E. Aulia

Bagai segaris manis di penghujung hariku..

Itulah senyumanmu..

Sehangat pelukan mentari di ufuk timur,

Itulah pandanganmu..

Biarkan, tolong biarkan aku menikmatimu..

Menikmati senyuman dan pandanganmu untukkku sendiri..

Boleh ya?

 

Gadis itu tersenyum, ia mencorat-coret bukunya dengan banyak gambar hati, padahal dosen sedang sibuk menjelaskan di depan sana, Mega yang duduk di sampingnya hanya sesekali menggeleng-gelengkan kepala lalu kembali memperhatikan kuliahnya.

*

Suara dentingan gelas, sendok dan garpu yang beradu diatas piring beling, dan riuh orang-orang bercengkrama dengan hangatnya mengisi ruangan kecil itu, seorang chef -setidaknya ia adalah seorang lelaki yang sedang memasak- menyiapkan bermangkuk-mangkuk mie ayam dan mie baso di hadapannya, dan perempuan di sampingnya tengah menyiapkan minuman yang bermacam-macam, mulai dari es jeruk, jus strawberry, jus alpukat, dan banyak lagi. Tak terlewat beberapa pemuda yang mengantarakan makanan dan minuman yang sudah lebih dulu dipesan oleh para pelanggan, dengan ramah seorang laki-laki menyapa lelaki tinggi berkacamata yang bersama gadis dengan rambut hitam pekat diikat dengan gaya kucir kuda yang beberapa saat lalu mendudukkan diri di bangku yang masih kosong di sudut ruangan yang terpampang diatas mejanya beberapa rempah-rempah dan bumbu yang mungkin diperlukan seperti saus kecap sambal cabai, cuka, garam dan minyak bawang, tak lupa tissue dan tususk gigi yang berjajar rapi. “aa, teteh mau pesen apa?” tanyanya.

Senja yang merasa sudah hafal dengan menu makanan yang ada di tempat itu hanya tersenyum “Mie ayam sama teh manis anget ya a..”

Pemuda itu mencatat dengan cepat dan berpindah pada gadis kucir kuda di samping Senja, gadis itu hanya tersenyum dan menjawab “samain aja ya a.. hehe” pemuda itu hanya mengangguk tanda mengerti dan segera meninggalkan mereka.

“kenapa Bintang..?” Senja yang baru selesai bermain dengan gadgetnya hanya menatap gadis rambut kucir kuda itu heran, pasalnya ia hanya terdiam mematung dengan tatapan kosong yang sedikit menyeramkan.

“eh, engga... hehe” jawabnya, tersadar bahwa dirinya kini bukan ada dalam mimpi ataupun fantasi yang sering ia rasakan akhir-akhir ini tentang Senja.

“oya, Bintang anak jurusan apa? Aku jarang liat kamu padahal udah kuliah disini lebih dari dua taun...” tanya Senja, mencoba menghangatkan suasana.

“aku jurusan ILKOM semester 5, kalo Senja?” Bintang mencoba ikut menghangatkan suasana antara mereka berdua.

“PLS, semester 7 nih.. bentar lagi musti ngajuin proposal nih buat skripsi ahahaa..”

“wah, udah kepikiran proposal.. udah ada judul gitu...?”

“ada beberapa, tapi ya gitu... masih ngawang-ngawang ga jelas.. mau tau judulnya?”

“mau atuh, ahaha... apa coba judulnya..?”

”Pengaruh High Order Thinking Skill dalam Pendidikan Anak Luar Sekolah.. yaa seenggaknya yang baru kepikiran itu, yang variabelnya tentang HOTS sama anak..”

“wah... lumayan atuh, udah punya judul aja udah bagus.. hehe”

“iya nih, minggu ini harus udah mulai gerak, soalnya ini masuk bulan ketiga semester 7, udah mulai horror.. beberapa temen udah pada mulai juga, gak boleh ketinggalan..”

“hehe.. iya atuh, semangat ya....eumm..” Bintang baru saja teringat bahwa ternyata lelaki yang ada disampingnya kini adalah mahasiswa semester 7 yang berarti adalah kakak tingkatnya, dan otomatis ia harus memanggilnya dengan panggilan hormatnya “eum.. a Senja..” dengan gugup Bintang menyebut nama lelaki itu dengan kata tambahan ‘aa’ sebelumnya yang membuat dia cukup berdebar.

“ahaha.. gapapa atuh panggil nama juga, kalem aja...” Senja terkekeh renyah, satu hal lagi yang akan Bintang ingat ketika ia sedang sendiri, tawa hangat Senja.

“eh, gapapa aslina...?” Bintang ikut tersenyum, suasana hangat itu mungkin suatu saat nanti akan ia rindukan.

“iya atuh, kalem weh sama Senja mah.. hihii.. kamu tuh lucu ya.. cuplas-ceplos.. jarang ada temen Senja yang kayak kamu, semuanya pada serius.. bosen kadang mah..” (spontan)

“kenapa gitu..?” tanya Bintang dengan logat sunda yang kental.

“iya, jadi jarang ada hiburan... maennya di lomba karya tulis lah, lomba nulis lah, lomba essay lah, bikin jurnal lah... pokoknya yang gitu-gitu we lah..” jawab Senja.

“Senja punya temen deket ga...?”

“ada atuh, pasti...”

“siapa..?”

“eh, kepo deh kamu Bii.. ahahaa”

“eh, maaf ih gak maksud buat ikut campur dan mau tau kehidupan kamu..” Bintang merengut, ia merasa malu karena frontal bertanya hal pribadi pada Senja.

“eeehh... gapapa, jadi gini nih Bii.. aku mah punya temen beberapa yang suka nongkrong bareng atau sekedar ngobrol tukar pikiran, salahsatunya tuh Langit..”

“eh, Langit...?”

“iya, dia mah enak diajak ngobrol... kemana-mana bisa nyambung... bageur lagi, suka bantuin editin KTI aku...”

Begitulah percakapan dari Senja dan Bintang, berbagi cerita, berbagi senyuman, berbagi tawa, berbagi bahagia dan berbagi banyak hal yang selama ini tak pernah mereka pikirkan masing-masing. Pesanan sampai, dua mangkuk mie ayam yang masih mengepul dengan wangi khas rempah-rempat secret recipe dari leluhur chefnya, dua buah gelas ukuran besar ikut menemani sajian itu dengan setia.

“Cobain gera Bii.. enak lho...” pinta Senja.

“Senja langganan ya disini..?”

“iya, aku suka kesini sama Embun, atau sama Langit juga kadang.. di sini selain terjangkau, makanannya enak, dan kebetulan udah kenal deket yang mamang dan bibi yang jualan, jadi semakin nyaman aja...” jawabnya. “kamu sering-sering kesini geura, ajak temen makan disini, dijamin puas..” katanya riang tanpa menyurutkan senyuman di bibirnya, Bintang hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi kata-kata Senja. “kamu tau yang barusan nanyain pesenan?” tanya Senja, Bintang menggeleng “dia itu lulusan SMA, anak dari mamang sama bibi yang jualan... dia tuh pinter, kata mamang, Rio itu selalu dapet peringkat sepuluh besar di kelas...”

Kata-kata Senja mulai menggelitik perhatian Bintang, ia mulai menanggapi “loh, kenapa ga dilanjutin atuh, ke kuliah..? atau kerja gitu...?” tanyanya penasaran.

“yaa.. katanya, Rio tuh tadinya nyari beasiswa yang ke luar negeri, tapi gak dapet, dan buat sekarang kerjanya bantuin ibu-bapaknya jualan dulu, tahun ini dia mau daftar lagi...”

“wah bagus dong... mau kemana emang?”

“kemana ya...? eum...” Senja melihat langit-langit berpikir, mengingat-ingat. “ahh lupa euy, ngobrolin ini tuh udah lama...”  jawab Senja. Tak lama kemudian pesanan datang, dua mangkuk mie ayam dan dua gelas besar teh manis hangat. Yang mengantar pesanan itu kebetulan adalah bibi yang punya tempat, dengan ramah ia menghidangkan pesanan dua sejoli itu.

“ini a, bibi tambahin pangsitnya kesukaan aa...” katanya, senyuman di wajah yang mulai dipenuhi keriput itu terlihat hangat meski dengan mata yang sendu.

“wahh, nuhun bi.. ya Allah...” Senja terlihat girang dan bersemangat untuk menyantap mia ayam ayang ada di hadapannya.

“iya a, sok silahkan menikmati... oya, ini siapa a..?” tanya bibi menatap Bintang dengan tatapan asing.

“ini Bintang Bi... temennya Senja...” katanya segera, sambil menyambut tangan bibi dengan hangat.

“ahahha... hallo neng Bintang... salam kenal dari bibi ya...” sambutnya “bibi jadi nambah anak satu lagi hihii..”

“eh?” Bintang tersenyum bingung.

“iyaaa... a Senja ini udah bibi anggap anak, dan temen a Senja juga berarti anak bibi juga.. jadi sering-sering kesini yaaa.. jangan sungkan..” wajah ramah itu begitu nyaman untuk Bintang, ia tersenyum mencoba menerima orang baru yang ada di hadapannya.

“iya bii.. siap...” jawabnya “makasih mie ayamnya bi..” sembari mengaduk-aduk mie ayam miliknya.

  “iya, sok atuh, silakan dinikmati...” senyuman selalu ada di wajahnya hingga ia meninggalkan dua insan itu untuk menikmati hasil karyanya.

Bintang tersenyum sembari mengaduk-aduk mie ayamnya, Senja yang sudah mulai menyeruput mie ayamnya lebih dulu melihat gelagat Bintang yang cukup aneh “kenapa Bintang...?” tanyanya.

“aku seneng.. seneng bisa kesini, bisa dateng ke tempat ini, bisa ketemu bibi mie ayam, ketemu kamu, dan mendapatkan hal-hal yang baru dan menyenangkan...” jawabnya, kata-kata Bintang disambut tawa Senja yang kalem, dan tiba-tiba mengelus kepala Bintang dengan spontan.

Jantungnnya seketika itu serasa berhenti, ia lupa kini ia tengah bersama Bintang –teman barunya- bukan dengan Embun, adik tirinya. “eh,, maaf ya Bintang...” segera ia melepaskan tangannya dari kepala Bintang.

Bintang yang tadinya tersenyum kini hanya menatap Senja tanpa berkedip, senyumannya memudar digantikan dengan pipi yang merona merah muda. “emh... engga Senja, kalem aja..” jawabnya sesantai mungkin, padahal hatinya sangat gembira dan ingin berjingkrak-jingkrak tak karuan.

*

Dengan serius seorang gadis bermata sendu itu mengotak-atik laptopnya dan mengetik ctrl bersamaan deng huruf P, suara mesin printer itu terdengar merdu, mengeluarkan hasil cetakan-cetakan penelitian proyek kecil miliknya. Hingga seseorang memanggilnya dari dekat. “Lan, lagi apa...?” tanya gadis berkucir kuda itu.

“Bii.. aku udah beres nih... mini project tugas dari dosen PA aku...” sebuah senyuman sumringah menghias wajah sendunya, warna hitam di kantung matanya tak ia hiraukan.

“wow... asik nih... ahhahaa.. Orion bantuin sampe selesai..?”

“iya Bii.. malah semalem aku ketiduran, pas bangun-bangun Orion lagi tidur di samping aku hehee.. jadi malu” tuturnya dengan pipi sedikit memerah di wajah pucatnya.

“wah gimana ceritanya...?” Bintang duduk di samping Bulan dengan wajah penasaran, gadis itu berhenti bekutat dengan laptopnya dan berbalik menghadap Bintang.

“ceritanya nanti ya, kalo udah ada Mega.. hehe biar senengngya bareng-bareng..” Bulan terkekeh sembari mecubit pipi Bintang yang lumayan Chubby itu gemas. Bintang hanya tersenyum dan mengangguk menerima. Ia duduk di depan pintu sembari memainkan handphonenya, dan sebuah pesan masuk dari Senja.

Senja Setiawan12

Hai Bintang, apa kabar...?

 

Jantungnya berdebar, pikirannya merasa heran lho, perasaan baru kemaren kita ketemu, pagi-pagi gini nanyain kabar.. aneh.. pikirnya. Dengan tenang ia membalas pesan singkat itu meski dengan perasaan yang masih heran.

Bintang Aulia34

Baik, ahahaaa Senja apa kabar?

Senja Setiawan12

Syukurlah, kemarin aku perhatiin kamu kayak yang kepedesan, takutnya kamu sakit perut pas pulang makan.

 

Senja tersenyum melihat pesan singkat itu, seperti ada bunga yang mekar di wajahnya, tak henti ia menyunggingkan senyuman itu. Embun yang duduk dihadapannya di meja makan hanya menatapnya heran, sebuah raut kekhawatiran terlihat di wajahnya, namun ia mencoba setenang mungkin. “Kenapa sih a..?” tanya adik tirinya itu, mata Senja hanya tertuju pada gadgetnya hingga tak menghiraukan pertanyaan Embun yang mulai terlihat kesal. Lagi gadis cantik itu bertanya pada kakak tirinya, kini dengan nada yang lebih tinggi namun tetap anggun “AA... LAGI APA SIIIH...? KENAPA ARI AA SENYUM-SENYUM SENDIRIII...?” dengan begitu banyak penekanan dan ekspresi yang agak galak. Senja yang menyadari kekesalan adiknya mengalihkan pandangannya, ia tersenyum pada Embun “lagi chattingan dee..” jawabnya, ia bangkit dan berjalan menuju kamarnya di lantai dua tanpa berhenti menatap layar handphonenya. Embun hanya tertegun menatap bayang-bayang kakaknya yang mulai menghilang dari dapur, makanan yang sudah disiapkan mamapun hanya ia tatap tak bersemangat. Mama yang masuk ke dapur menatap Embun heran, masakannya sama sekali tak tersentuh dan Embun hanya terdiam dengan tatapan kosong. “dee.. makan atuh sarapannya... nanti berangkat ke kampusnya mau sama a Senja lagi...?” tanyanya sembari menghampiri gadis cantik itu dan mengelus kepalanya hangat, namun Embun hanya terdiam membisu. Mamanya menghela nafas panjang, ia paham bahwa ketika Embun seperti ini, ia tak mampu melakukan apapun, kecuali hanya diam menunggu mood anak tirinya kembali baik.

*

Senja menjatuhkan dirinya diatas kasur, ia tak melepaskan benda kecil itu dan tak berhenti menatap layarnya dengan senyuman yang tak kunjung layu. Sebuah pesan balasan masuk ke kotak masuk Senja, segera saja ia baca.

 

 

                                                                                                                            Bintang Aulia34

Enggak kok, aku emang kurang suka pedes... dan kemaren tuh kebanyakan masukin sambel cabe ke mie ayamnya heheee.. ga nyangka pedes banget..

 

Senja terkekeh membaca pesan itu sembari membayangkan kembali ekspresi Bintang yang kepedasan dengan wajah yang memerah dan bibir tebalnya yang merekah, segera ia membalas pesan itu.

Senja Setiawan12

Kamu gak suka pedes? Ya ampun tau gitu mah mie ayamnya dituker aja... aku suka pedes soalnya.. nanti kalo gitu lagi mah tukeran aja ya..

 

Bintang yang menerima pesan itu tersipu sendiri ‘nanti kalo gitu lagi’? berarti bakal ada acara makan bareng lagi ini teh?

Bintang Aulia34

Lagi?

Senja Setiawan12

Iya Bintang... hehee... sabtu nanti ada kegiatan ga..?

 

Bintang hanya tertegun melihat petanyaan yang Senja ajukan itu, apa dia mau ngajak aku lagi buat jalan? Atau apa? Aduh aku harus jawab apa? Bales jangan ya..? bales, jangan, bales, jangan...? gadis itu termenung di depan pintu sekre UKMnya, hingga teman yang ada di dalam menepuk pundaknya pelan sambil bertanya “Kenapa sih Bii..? something wrong..? something happened..?” Bintang yang tersadar dari pikiran-pikiran itu menatap Bulan sembari memberikan handphone pintar yang kini dipegangnya pada Bulan, yang diberikan hanya menerima dan membuka chat lalu membacanya satu persatu, ia terlihat berpikir-pikir hingga Mega datang dan mengambil benda itu dari tangan Bulan, dengan gesit ia membukanya dan hening sesaat Mega mengotak-atik benda itu. “mm... Bii...” gadis itu menatap Bintang, sebuah senyuman mulai tersungging di bibirnya “congrats babe...” sembari memberikan benda itu.

“selamat apa ih Meg...?” tanya Bulan masih bingung, ia belum menemukan apa yang sebenarnya harus ia tahu. Mega yang girang memeluk dua temannya itu hangat.

“kalian tuh yah... aku seneng deh...” katanya “nanti kita triple date yaa..?”

Bintang dan Bulan saling bertatapan, lalu bersamaan menatap Mega heran, yang ditatap hanya tersenyum kuda. Benda di tangan Bintang begetar, sebuah pesan masuk. Bintang mengerutkan keningnya, membaca kembali pesan itu dan pupilnya tiba-tiba membesar dengan nafas yang tersekat, kaget. “apaan nih Meeeegg...?? aduhh.. gimana ini..??” ia melepaskan pelukan temannya itu, uring-uringan.

Bintang Aulia34

Boleh, aku tunggu ya.. jemput ke kosan aku setengah tujuh.. kita jalan-jalan ke pasar malem.. aku juga bakal ngajak Mega sama Bulan, boleh kan..?

 

Senja Setiawan12

Boleh Bintang, lebih ramai lebih seru kayaknya.. oke aku jemput ya.. sampe jumpa nanti.. J

Bintang tak dapat melakukan apapun, ia hanya terduduk lesu seperti orang yang prustasi, Mega hanya tersenyum jail dan menatap Bulan, yang ditatap ikut tersenyum meski dengan seraut kebingungan “malam minggu nanti kita maen ke pasar malam ya Lan... kamu ajak Orion..”

*

Sosok di cermin itu mencoba tersenyum setelah polesan lipstick warna peach itu menempel di bibirnya, ia terlihat gugup dan berusaha memakaikan maskara pada bulumata tipisnya. Dering panggilan khusus untuk Mega mengalun keras di ruangan kecil itu, menggema, segera ia menerimanya. “Iya Megan Fox... udah.. aku tinggal nunggu Senja.. iya, sampe ketemu disana.. daah... eh Meg, makasih yah...” sebuah senyuman menghias wajah yang hampir tanpa jerawat itu.

Sebuah pesan masuk...

Senja Setiawan12

Bintang, aku udah di depan pager kosan kamu..

Bintang Aulia34

Oke Senja, aku keluar sekarang.. tungguinJ

 

Senyuman itu terpampang di wajah lelaki berkacamata yang kini ada di hadapan Bintang, ia memberikan sebuah helm bogo berwarna navy bertuliskan ‘Senja’ di bagian kaca helmnya. “yuk...” ajak lelaki itu sembari menstater motornya. Bintang segera memakai helmnya dan naik. “udah..?” tanya Senja memastikan, Bintang hanya mengangguk. “pegangan...” kata itu refleks keluar dari mulut Senja, padahal itu adalah kata-kata yang biasa ia ucapkan pada Embun, lagi dan lagi kebiasaan itu terulang pada Bintang, tak ada gunanya meminta maaf untuk kata yang telah terucap, percuma juga bedoa supaya waktu terulang kembali dan mencegah kata itu keluar. Kini Senja hanya menelan ludahnya, menahan malu karena mulut yang tak sempat meminta izin untuk mengatakan kata yang memang tak seharusnya terucap saat ini. Bintang menatap punggung tegap lelaki yang kini hanya berjarak beberapa centimeter di hadapannya itu, darahnya mulai terasa berdesir, bagai mengalir menuju semua bagian tubuh hingga rasa hangat itu menjalarinya. Nafasnya terasa sedikit sesak, namun menyisakan perasaan yang begitu nikmat.

Perasaan itu muncul begitu saja, perasaan yang dulu sempat ia rasakan, perasaan yang hampir sama dengan perasaan yang kala itu tercipta bersamaan dengan sebuah genggaman tangan seorang lelaki yang membiarkannya melayang entah sampai langit ke sekian. Wajah itu muncul kembali, wajah lelaki yang begitu ia suka, begitu ia cinta dan begitu ia inginkan saat itu. Bintang membuang nafasnya pelan mencoba setenang mungkin dan mengikuti perkataan Senja, ia meraba jaket Senja yang terbuat dari parasit itu, merasakan setiap serat yang tersentuh jemarinya, lalu meremas pelan jaket itu, mencoba ‘pegangan’.

Angin semilir menerpa kulit wajah Senja, dingin. Malam ini langit cukup ramah dengan menunjukkan beberapa bintang yang berkedip manja dan bulan sabit yang seakan memberikan senyuman manisnya, ia tersenyum. Sebuah bayangan menghampiri benaknya, bayangan seorang gadis yang sempat mengisi hatinya cukup lama, bolamatanya beputar seakan ia melihat pada gadis yang ada di belakangnya kini, dulu ia sering sekali membonceng seorang gadis dengan ‘pegangan’ yang sama seperti Bintang saat ini.

*

*

Flashback

Ranti, seorang gadis yang pernah mendampingi hari-hari Senja dengan begitu cekatannya. Senja sangat menyayanginya karena Ranti begitu baik dan selalu menemani Senja ketika ia membutuhkan teman dan dengan sukarela memberikan pundaknya untuk bersandar ketika Senja tengah kalut dengan keadaan yang selalu menekannya. Masa SMA adalah masa yang sangat penuh, penuh dengan rasa, penuh dengan warna, penuh dengan kisah klasik untuk masa depan, penuh romansa yang intim, penuh dengan kebahagiaan, namun juga penuh dengan keperihan yang mungkin hanya dialami oleh beberapa orang saja, dan untuk ini Senja termasuk kedalam beberapa orang itu. Ia adalah orang yang tertutup ketika pertama kali masuk SMA, ia menikmati waktu sendirinya sebisa mungkin karena ia menjadi korban bullying yang dilakukan beberapa kakak kelasnya. Tak ada satu haripun di sekolah Senja terbebas dari permainan menjijikan kakak kelasnya, mulai dari dikunci di wc, diwarnai rambutnya, hingga yang paling parah adalah ia disuruh untuk melakukan hal yang tidak baik pada salah satu kakak kelas perempuannya.

Kela brader, ngaran awewe nu ka hiji bijil di grup ieu nu jadi sasaranna...” (sebentar kawan, nama perempuan yang pertama kali muncul di grup ini adalah sasarannya..) kata seorang lelaki yang sebenarnya terlihat cukup baik, hanya saja memang tidak sesuai dengan apa yang terlihat, ia membuka handphonenya dan membuka grup kelasnya, dan nama itu muncul, nama pertama yang muncul dalam grup adalah ketua ekskul KIR, Ranti Soraya.

wah si Ranti euy... geulis coy...” (wah, si Ranti itu cantik lho) celetuk salahsatu teman dari kakak kelas yang sepertinya adalah ketua gengnya.

jadi, maneh kutu kupret, photo si Ranti keur ganti baju pas pelajaran olahraga isuk..” (jadi, kamu kutu kupret, photo si Ranti ketika ia ganti baju di pelajaran olahraga besok) perintahnya “hasilna kirim ka urang... hahaa.. lumayan jang koleksi..” (hasilnya kirimkan padaku.. lumayan untuk koleksi) celetuknya.

Tanpa niat untuk melakukan perintah dari kakak kelasnya itu ia pergi setelah memberikan beberapa rupiah miliknya, tanpa rasa ikhlas. Bagaimana tidak, selama hampir sebulan ini ia menjadi bulan-bulanan geng anak nakal itu, ia juga tak bisa banyak membangkang karena ia adalah junior di SMA barunya itu. Keesokan harinya ketika pelajaran olahraga kelas XI semua murid perempuan berada di kelas untuk mengganti pakaiannya, semua pintu tertutup begitupun jendela. Hanya ada beberapa celah yang membiarkan cahaya masuk. Gadis bernama Ranti itu ikut mengganti pakaiannya bersama yang lain, ia menanggalkan pakaian luarnya dan menggantinya dengan pakaian olahraga.

Senja yang tengah sarapan di kelasnya dikagetkan dengan kakak kelasnya yang mencari-carinya, memastikan apakah ia melaksanakan tugasnya dengan baik atau tidak. Melihat Senja sedang sarapan, hati kakak kelasnya itu geram, segera ia menghampiri Senja dan memintanya ikut. Di ruangan gelap itu lagi-lagi Senja dibawa, ruangan gudang yang sudah tak terpakai dan hanya ada beberapa barang yang teronggok disana, lampu temaram dan debu yang sangat tebal dimana-mana.

Naha maneh teu ngalaksanakeun tugas ti urang..?!!” (kenapa kamu tidak melakukan tugas dariku..?!!) bentaknya.

abi mah alim a..” (saya tidak mau kak..) jawab Senja dengan hati yang mulai menangis, namun airmatanya tak mungkin ia jatuhkan.

lamun teu dilaksanakeun,  maneh daek disunatan dua kali ayeuna ku urang..?” (kalau kamu gak ngelaksanain, kamu mau aku sunat dua kali..?) ancamnya, Senja hanya menggeleng. Beberapa geng itu memegang tangan Senja setelah medapat beberapa isyarat dari ketuanya. Senja mencoba memberontak, beberapa yang lain mencoba melepaskan celana Senja dan sebagian lagi menyiapkan cutter untuk dipakai oleh ketuanya. Melihat itu Senja tak mampu berpikir jernih, ia meronta dan mencoba memberontak namun tak berhasil, ketua geng itu sudah memegang celana dalam Senja siap untuk membukanya dengan pisau cutter di tangan lainnya.

ntong a.. entong... ampun a.. ampun..” (jangan kak, jangan... ampun kak ampun) pasrahnya, ia akhirnya menyetujui perintah ketua geng itu, setitik airmata itu turun tanpa izin mengiringi rasa bencinya pada kakak kelasnya yang satu itu.

huuu.. lain tatadi... belegug siah.. celenok maneh mah...” (huuu.. bukannya dari tadi dasar bodoh... dungu kamu..) makinya sembari meninggalkan ruangan temaram itu.

*

Pelajaran olahraga telah selesai beberapa orang ganti baju di WC dan sebagiannya lagi di kelas. Ranti mengganti pakaiannya di WC, ia orang terakhir yang mengganti pakaiannya karena ia adalah ketua kelas dan ia harus membereskan banyak alat-alat dan media yang dipakai ketika olahraga. Senja menelan ludahnya dalam-dalam, setelah cukup lama menunggu dan memperhatikan kakak kelasnya yang bernama Ranti itu, ia berada di balik salah satu pintu toilet di WC perempuan. Ranti masuk ke toilet untuk mengganti pakaiannya, ia melepaskan semuanya dan mengganti semua pakaian, Senja mencoba menaiki bilik yang menghalanginya untuk memotret, kakinya bergetar, sungguh ia tak ingin melakukan semua ini, tapi jika tidak ia tak tahu apakah besok ia masih memiliki ‘burung’ atau tidak. Senja mengarahkan kameranya kedalam toilet yang di dalamnya ada Ranti, ia menutup matanya ketika mengambil beberapa gambar, ia takut matanya akan terkotori oleh hal yang tak semestinya, Senja adalah anak yang taat, ia bukan orang yang mudah terpengaruh karena ia memiliki dasar yang kuat. Sembari mencaci maki dirinya dan geng kakak tingkatnya dengan sumpah serapah penuh kebencian dari hatinya, setelah ia merasa cukup ia kembali dan menunggu Ranti untuk meninggalkan WC. Tak berapa lama suara pintu ditutup dan suasana menjadi hening, Senja berniat untuk keluar, tanpa melihat hasil potretannya, ia menyimpan kamera di saku celana. Perlahan ia membuka pintu toilet dan betapa terkejutnya ia melihat gadis itu tengah tersenyum padanya sembari menengadahkan tangannya seolah-olah ia tahu apa yang Senja sembunyikan.

“Nama kamu siapa de..?” tanyanya dingin “coba kemarikan kameranya...!” pinta Ranti, dengan berat Senja memberikan kamera milik ketua geng itu. Ranti tersenyum pahit, “ini kamera Gio kan...?” selidiknya, Senja hanya mengangguk “kameranya bagus, tapi hasil jepretan kamu jelek banget.. blur..” komentarnya. Senja sedikit mengerenyitkan dahinya, apa ia tak salah dengar dengan apa yang dikatakan oleh gadis bernama Ranti, kakak kelasnya itu. “coba kamu photo lagi...” Ranti memberikan kameranya kembali, ia memastikan WC aman dengan menguncinya dari dalam. Dengan cepat Ranti membuka seragam sekolahnya dan menyuruh Senja memotretnya, dengan enggan Senja mengarahkan kameranya pada tubuh Ranti yang hanya memakai pakaian dalam, karena tidak tahan Senja menyerahkan kameranya sembari menunduk ia tak ingin melakukan ini, ia mengutuk dirinya ketika tangannya memijit tombol ‘capture’ kamera itu berulang kali. Ia merasa menjadi manusia paling hina di dunia saat itu, sambil tersedu ia menyimpan kamera itu di lantai.

atos teh, atos... abi mah alim moto deui teh... punten pisan.. hapunten abi teh..” (sudah kak sudah, saya tidak ingin memotret kakak lagi.. maafkan saya kak.. maafkan saya..) ia berlari keluar WC, ia berusaha menyeka airmatanya, airmata takut akan dosa yang telah ia perbuat di luar kehendaknya. Gadis itu hanya melihat Senja dengan rasa iba yang bercampur aduk. Laki-laki itu... siapa dia? tanyanya dalam hati.

Selama seminggu Senja tak masuk sekolah, ia trauma akan apa yang ada di sekolah, ia takut akan mendapatkan caci maki dan serangan-serangan fisik yang tak terduga dari kakak kelasnya, geng anak-anak nakal yang tak tahu malu dan tak tahu sopan santun. Ia hanya mengurung diri dan tak ingin menceritakannya pada siapapun aib yang telah ia alami, itu adalah hal yang mungkin paling ia sesali seumur hidupnya. Hingga tibab-tiba seseorang mengetuk pintu, memanggil namanya, dan memintanya keluar karena ada tamu, namun Senja membatu, beberapa hari ini memang beberapa teman dan gurunya menengok Senja, merasa khawatir, namun tak seorangpun mau ia temui. Hingga mama menyebutkan nama gadis itu, gadis yang datang menjenguknya, Senja tergerak.

aa.. ini ada teh Ranti mau masuk, boleh...?” tanya mamanya dari luar, Senja berjalan menuju pintu kamarnya terseok-seok dan penuh keraguan, tapi ia ingin meminta maaf pada Ranti yang ia perlakukan dengan tidak baik meski memang tidak ia niatkan melakukan itu. Tubuhnya mengurus karena beberapa hari ini ia tidak makan, dan wajahnya kusam masai. Perlahan pintu itu terbuka, gadis cantik berambut panjang pemilik mata bak manik-manik itu kini ada di hadapannya, menatapnya, tersenyum padanya, dan itu membuat hati Senja terasa hangat meski masih penuh dengan penyesalan dan angkara murka.

“Senja... kumaha kabarna..?” (Senja... apa kabar..?) tanya Ranti ramah, ia meraih tangan Senja dan menjabatnya hangat.

teh Ranti...” hanya kata itu yang mampu Senja ucapkan saat itu, matanya penuh penyesalan dan kepedihan.

“mama masak dulu ya teh, titip si aa..” kata mama pamit untuk memasak, Ranti tersenyum dan mengangguk menyetujuinya. Mama pun pergi meninggalkan Senja dengan Ranti.

“kamu kenapa sih..?” tanyanya, ada raut khawatir di wajah Ranti “mm.. boleh masuk?” Ranti melihat kamar Senja, pemiliknya hanya mengangguk pasrah.

teh... maafin Senja teh... Senja gak pernah mau lakuin itu teh..” lirihnya, ia merasa sangat malu. Lagi, airmata itu jatuh namun kali ini tangan halus Ranti yang menyekanya, sebuah dekapan ia berikan untuk menenangkan gundah Senja, mengelus kepalanya lembut seperti anak kucing. Senja hanya diam, entah mengapa hatinya menenang, tangis itu tak jadi badai lagi. Tangan mungil Ranti melingkari tubuh Senja, mencoba menularkan energi positiv.

“gapapa de, teteh ngerti... ini semua bukan salah kamu.. teteh tau...” katanya “teteh minta maaf karena bawa kamu ke hal-hal yang buruk terakhir kali.. teteh sadar teteh salah.. teteh gakkan ngulangin lagi.. kamu laki-laki yang baik,” Ranti melepaskan pelukannya, menatap mata yang ada dibalik toples kaca itu. “kamu mau ngajarin teteh jadi orang baik...?”

Senja menatap kakak kelasnya itu bingung, apa yang dia maksudkan sebenarnya? “maksud teteh apa...?” tanyanya pada akhirnya.

“jadi pacar Ranti yaa..?” pintanya, sebuah pernyataan cinta yang tak diduga-duga datang dari lisan seorang gadis. Senja hanya terdiam, pikrannya berada dalam alam yang tak ia paham, ia mematung dan hanya menatap gadis yang baru saja menawarkan diri menjadi kekasihnya. “kalo diem berarti iya, yaaa...” Ranti tersenyum, ia mengelus rambut Senja yang klimis “oke”

*

Selama hampir satu tahun Ranti dan Senja dekat, mereka sering jalan berdua dan hal itu sudah menjadi hal yang biasa untuk lingkungan mereka. Gio dan gengnya pun hanya sesekali menatapnya sinis dan menyebalkan jika kebetulan bertemu dan berpapasan, Senja tak lagi menghiraukan gangguan-gangguan yang ia rasakan kaena ia mearasa telah memiliki Ranti yang mampu menghilangkan risau hatinya. Ranti sudah cukup dekat dengan mama Senja, bahkan terkadang Ranti main ke rumah hanya untuk menemani mama memasak sekalian belajar bersama Senja, karena tak dapat dipungkiri nilai akademik Senja peringkat ketiga besar dari ratusan anak di SMA itu. Kini Senja kelas XI sedangkan Ranti XII yang artinya sebentar lagi Ranti akan lulus.

Beberapa teman lelaki Senja bercerita padanya bahwa Ranti sedang ada hubungan dengan Gio, ketua geng anak berandalan itu, namun Senja tidak menerima berita itu secara langsung, ia berpikir itu hanyalah kekuatan gosip yang sangat cepat menyebar tanpa konfirmasi yang jelas. Ia mencoba menikmati waktu yang ia punya bersama Ranti, bahkan Senja berniat untuk mengajaknya pada hubungan yang lebih serius, pertunangan. Waktu mulai menunjukkan taringnya, perlahan-lahan Senja menemukan kejanggalan-kejanggalan yang terjadi pada diri Ranti, entah mengapa intensitas kebersamaannya seakan berkurang dan Ranti yang selama ini selalu riang dan bisa menghapus gundah dan pelipur lara Senja semakin tiada bak tenggelam ke kedalaman lautan, hilang. Senja hanya bertanya-tanya dalam hatinya, apakah gerangan yang terjadi hingga Ranti terasa drastis berubah, bahkan Senja merasa tak lagi mengenal Ranti yang kini ada di sampingnya, perlahan ia merasa semangatnya yang kokoh mulai melemah, perasaan yang selama ini ia perjuangkan dengan segala keterbatasannya mulai meragukan diri, Senja berusaha memperbaiki apa yang salah, namun semua terasa tak berarti apa-apa. Ranti berubah.

Hingga pada satu hari di UTS semester duanya ia mendapati kabar bahwa Ranti keluar dari sekolah, hal yang tak pernah ia duga sebelumnya, Ranti tidak pernah bercerita bahwa ia punya masalah di sekolah atau di kelasnya, dan ia juga tidak memberitahukan bahwa ia akan keluar, padahal selama ini ia terlihat baik-baik saja di sekolah, tak ada masalah, ia adalah siswa yang bersih. Hingga pada satu hari setelah hari kabar bahwa Ranti mengundurkan diri, Senja pulang dari sekolah dan gadis itu berada di depan pintu gerbang seolah tengah menantinya, tanpa senyuman khasnya seperti biasa.

“Hai Senja...” sapanya, kini Ranti tidak seperti Ranti setahun lalu, tubuhnya sedikit menggempal dan berubah, pipinya bertambah chubby “ada yang ingin aku katakan...” katanya, matanya terlihat sayu, ia terlihat lelah entah kenapa. Senja menyetujui ajakan Ranti, ia mengisyaratkan gadis itu untuk naik motornya, Ranti mengikutinya, ia berpegangan pada jaket olahraganya saat itu, pegangan itu terasa berbeda dari biasanya, lebih erat dari sebelumnya. Senja yang merasakan kejanggalan itu berusaha menenangkan hatinya, meski sebenarnya ia sangat ingin tahu apa yanga akan dibicarakan oleh kekasihnya itu.

Pohon rindang itu bergoyang-goyang diterpa angin, beberapa daunnya memang sudah menguning dan gugur. Senja memberikan sebuah permen pada Ranti, permen kesukaan Ranti, mint. Beberapa helai rambut gadis itu terbang disapa angin sepoi-sepoi, seragam sekolah yang mulai kusam dan terlihat ketat masih ia gunakan. “sebenernya, ada yang pengen aku bicarain ke kamu..”

“tentang...?” tanyanya penasaran, terpikir seribu kemungkinan kata yang akan terucap dari bibir kekasihnya itu, mulai dari hal-hal positiv hingga hal-hal yang negativ.

“aku hamil..” katanya sambil tertunduk dalam, “maafin aku, Senja...” airmatanya jatuh tak tertahan.

Senja yang masih dalam keadaan kaget dan kalut namun berusaha menyeka airmata gadis yang ada di sampingnya itu, tatapannya seolah ragu dan meminta penjelasan lebih lanjut dari Ranti.

“jangan bercanda teh...” katanya, seakan berharap ini semua tak pernah benar-benar ia dengar baru saja.

“maaf....” gadis itu mulai tersedu, “kamu mau anter aku gugurin kandungan ini...?”

Gusti nu Agung,.. ulah teh ulah.. dosa..” (ya Tuhan, jangan kak, jangan..dosa) Senja mengelus kepala Ranti yang masih saja terisak. Hatinya begitu hancur mendengar gadis yang begitu ia cintai itu telah rusak, dan yang merusaknya ia tak tahu. “saha teh... ku saha...? saha nu ngalakukeun ieu ka teteh...?” (siapa kak, siapa? Siapa yang melakukan semua ini padamu..?).

teteh malu Senja, teteh malu... semua ini salah teteh... teteh udah sayang sama laki-laki yang salah..” katanya “maafin teteh Senja...”

“maksud teteh apa..?” kagetnya, ia berhenti mengelus kepala gadis itu, mencoba mencerna semua kata-kata yang keluar. “aku sayang sama teteh, dan itu gakkan pernah salah..”

“engga Senja, engga... selama beberapa bulan ke belakang ini teteh mulai sayang sama......Gio..”

Lembayung jingga itu terasa begitu suram, suasana yang tadinya ia buat nyaman menjadi berantakan, tangan yang tadinya menggenggam kini terlepas seakan tak ingin menggenggam, perlahan ia mundur. Dari sekian banyak lelaki di dunia ini, kenapa harus Gio? Kenapa harus manusia yang pernah membuatnya jatuh hingga begitu dalam? Ada apa dengan dunia ini? Petir seakan menyambar dirinya tanpa permisi, tubuhnya terkulai.

teteh sayang sama kamu Senja, tapi kamu terlalu baik buat teteh...”

Klise.

Ya.. alasan yang klasik.

Ia berdiri dan menatap gadis yang sudah sembab itu, “teteh minta tanggung jawab sama Gio, sekarang ada nyawa yang harus teteh jaga, jangan pernah gugurkan! Maafin Senja yang gak bisa jagain teteh selama ini, maafin Senja yang gak bisa bikin teteh sayang ke Senja,  maaf... jaga diri teteh baik-baik, jaga juga calon anak teteh itu.. ia adalah makhluk yang tak berdosa, jangan dibunuh...”

Ranti hanya menggeleng, penyesalan mulai menjalari benaknya, airmatanya semakin tumpah. Ia menyadari bahwa selama ini ia telah membohongi dirinya dan Senja, ia terlalu menggilai Gio hingga lupa bahwa Senja lah yang selama ini bersamanya, Senjalah yang ingin ia bahagiakan, bukan Gio.

Senja mulai melangkah menjauh, meninggalkan Ranti yang masih menangis dan memanggil namanya. Kini semua rasa yang selama ini ia tahan dan pendam, terkuak. Ia mengusap airmata yang juga jatuh bersama kenangan-kenangan yang selama ini mereka rajut bersama, ternyata semua tak ada artinya untuk gadis itu. Jadi selama ini kita apa? Kita ngapain? Cacian dan makian bergemuruh dalam hatinya, namun tak mampu ia keluarkan. Kenyataan yang berat itu kini harus ia pikul sendiri, dan dengan hati yang hancur ia meninggalkan semua kenangan itu.

Ranti bangkit dan mengejar Senja, ia memintanya untuk bersama-sama menjaga janin yang ada di dalam rahimnya. Namun Senja hanya terdiam, ia bukan manusia yang mudah memaafkan begitu saja kesalahan yang fatal seperti ini, ia merasa sangat bodoh dengan semua yang pernah ia alami bersama Ranti.

nuhun teh... selama ini udah jadi tempat Senja bersandar.. tapi maaf, bakal calon manusia yang ada di dalam diri teteh bukan berasal dari Senja, dia bukan milik Senja.. Senja gak bisa jagain dia bareng teteh.. sekali lagi maaf..” Senja kembali melangkah, ia memutuskan untuk pulang ke rumah meski dengan hati yang hancur. Kini ia bertugas untuk menyembuhkan luka yang tercipta itu cepat atau lambat, karena ia sadar kehidupannya bukan hanya berhenti hingga hatinya hancur, hidupnya masih sangat panjang, masih banyak buku yang belum ia tulisi, masih banyak memori yang belum ia isi, dan masih banyak kisah yang menunggu kehadirannya. Ini semua belum berakhir.

*

*

Desiran hangat itu menjelma rasa yang indah, entah mengapa rasa yang Bintang rasakan saat ini berbeda dengan rasa sebelumnya, kini senyuman itu lebih awet dari biasanya, sepajang perjalanan tak ada sepatah katapun, mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, Senja dengan kepahitan masalalunya dan Bintang dengan rasa baru yang tak tahu harus ia apakan. Sebuah getaran di saku celana Bintang membuyarkan kesenyapan dan keheningan diantara mereka, dia menerima panggilan yang ternyata dari Bulan. “iya Lan...?”

Area parkiran itu cukup penuh, hingga Bintang terpaksa harus turun cukup jauh dari jalan yang seharusnya, ia menunggu Senja yang mulai berjalan kearahnya dari kejauhan, Senja terlihat sedang menelpon. Timbul perasaan tak enak di hatinya, namun segera ia tepis. “Bulan sama Mega udah di dalem, yuk...” ajak Bintang.

“mm... maaf ya Bintang, sepertinya aku harus segera pulang, Embun di rumah pingsan dan Cuma ada mama aja.. aku harus kesana..” sesalnya, sebuah raut bersalah terlihat di wajahnya sebelum ia benar-benar kembali ke parkiran dan pergi.

Langkah demi langkah terasa berat, bagai membawa beban yang tak mampu ia pikul. Semangatnya hilang digantikan kekecewaan, malam minggu yang biasanya terasa biasa dan sering kali ia lewatkan kini terasa berbeda, bagai dilayangkan ke langit ke tujuh, lalu dijatuhkan seketika tanpa persiapan, benar saja perasaan dan firasatnya itu. Harusnya ia tahu akan ada sesuatu yang mendadak seperti saat ini yang seharusnya ia siapkan cara lain untuk meminmalisirnya. Dari kejauhan, matanya telah menemukan Mega dan Bulan yang tengah berbincang bersama lelaki mereka masing-masing, ia menggigit bibirnya pahit, apa yang harus dia lakukan ketika teman yang lain tengah berdua sedang ia hanya sendiri, haruskah ia pulang?

“Bii...” panggil Mega, sekejap ia paham apa yang tengah terjadi pada temannya itu, wajah Bintang tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya, tak ada ekspresi bahagia di wajahnya. “yuk maen Bii.. kita naik kora-kora yaa..?” ajak Mega, ia tersenyum pada teman-temannya yang lain seakan berkata kalian harus setuju!  Dan Langit menyetujuinya, ia tersenyum dan ikut pada permainan Mega. Sedang Bulan dan Orion hanya saling bertatap, mencoba memahami alur selanjutya yang harus mereka lalui.

“Jajan yuk Bii..” ajak Mega, “mau beli apa? Udah makan? Kalo beli lumpiah basah mau ga..? aku traktir deh, tadi aku dapet uang dari nagih hutang ahahaa..”

“iya Meg, boleh...” Bintang menyetujuinya, berusaha sebiasa mungkin. “hayu Lan, ikut?”

“he.em ikut dong...” jawabnya, ia menoleh pada Orion dan mencoba tersenyum seakan mengajaknya untuk ikut alur yang baru saja ia sadari. Orion mengangguk, tersenyum.

Malam minggu kali ini cukup menyenangkan bagi Bintang, Mega dan Bulan membuatnya sementara melupakan rasa kecewa pada Senja beberapa saat lalu. Langit dan Orion hanya mengikuti arah langkah gadis-gadis itu, mereka hanya berusaha untuk saling mengerti bahwa saat ini teman orang yang mereka suka tengah memerlukan mereka.

Sementara Senja pulang dan menemukan Embun masih pingsan dan ibu khawatir, “Embun pingsan lagi a, tadi dia sempet siuman, tapi pingsan lagi, manggil-manggil kamu a...” jelas mama “mama tadi panggil dokternya Embun, tapi katannya lagi di Hongkong studi banding kedokteran.. jadi mama nelpon aa.. tolong jagain Embun ya a..” pintanya, Senja mengiyakan permintaan mamanya itu, ia segera menuju kamar Embun dan menungguinya hingga tengah malam, dan Senja ketiduran di kursi belajar.

aa... a Senja..” panggilnya, gadis itu tersadar dan mencoba bangun. Senja mengucek matanya dan menyadari bahwa adiknya sudah bangun.

“ade, mau minum...?” tanya Senja spontan, ia segera mengambil segelas air minum dari dapur dan memberikannya pada Embun. “obat yang kemaren udah dimakan...?”

Embun hanya menggeleng sambil merengut, ia merasa kesal pada Senja sedari tadi pagi karena ia diacuhkan. Alhasil ia tak makan, ia hanya bernyanyi seharian tanpa ingat apapun hingga akhirnnya ia drop dan tak mampu menahan dirinya lagi.

“adee... kan dokter bilang ade harus abisin obatnya dulu, itu vitamin supaya ade  bisa cepet sehat... makanya dimakan yaa.. ini, aa bukain ya buat ade...” rayunya, gadis itu mengangguk.

aa kenapa sih? Akhir-akhir ini suka banget mantengin hape...? ada apa sih...?” tanyanya penasaran “aa punya gebetan ya..?” tebaknya.

Senja menelan ludahnya, ia merasa ada nada kesal di pertanyaan adiknya itu. Dan  ketika adiknya kesal, yang ia lakukan hanya menghiburnya dan menyenangkan hatinya.

“a.. jawab...!”

“mm.. aa ada tugas sama temen, jadi harus sering kontekan de..” jawabnya, tentu saja berbohong. Gadis itu mengulurkan tangannya, mengisyaratkan bahwa ia ingin handphone nya. “hape aa lowbat de, mati... nanti aja yaa.. sekarang mah ade makan dulu vitaminnya, terus tidur.. besok ade mau apa..? mau kemana...?” tanya Senja mencoba mengalihkan perhatian adiknya dari handphone yang ia takutkan akan menjadi masalah besar antara mereka.

“a, besok ade mau berenang boleh...?” pinta Embun.

“iya.. boleh...” Senja mengelus rambut adiknya itu, saat ini hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menenangkan adiknya. “sekarang tidur yaa...biar besok kita berangkat.. aa mau ajak mama juga.. minta mama masak yang enak buat kita..” ucap Senja, adiknya itu hanya mengangguk dan kembali tidur setelah menenggak vitaminnya.

*

Bintang merebahkan tubuhnya di kasur, jam menunjukkan pukul sembilan malam dan matanya sudah mengantuk. Hingga sebuah pesan masuk, ia membukanya dengan malas.

SenjaSetiawan12

Maaf untuk malam ini Bintang, akan kuganti dengan malam yang lain.. aku berjanji..

 

Mata yang tadinya sudah sangat mengantuk, tiba-tiba dengan teliti membaca setiap kata dari pesan singkat itu. Sebuah senyuman segera menghiasi wajahnya, ia membalas pesan itu segera tanpa pikir panjang, iya mengetik sebuah kata yang menentukan masa depan hubungannya dengan Senja, “Iya”. Segera setelah itu ia merasa tidurnya akan nyenyak dengan senyuman yang tak kunjung hilang. “ya Tuhan... Terima kasih untuk hari ini, aku memiliki teman yang begitu mengerti dan seseorang yang mulai memberikan perhatian padaku.. aku suka padanya Tuhan.. bolehkah aku bersamanya..?”. begitulah Bintang, malam ini ia menutup harinya dengan sebuah doa yang ia harap bisa sampai ke langit menuju tempat Tuhannya berada.

*

Pepohonan rindang berdiri tegak menjulang, ada pohon oak dan pohon pinus yang berbuah lebat, dan udara yang dingin hingga ketika bernapaspun keluar uap dan bibir terasa membeku diikuti penurunan suhu badan. Gadis berambut panjang itu menggigil sambil tersenyum, tas ransel itu menempel di punggung dan syal melingkari lehernya, ia melambai pada beberapa orang yang berjalan ke arahnya dari jauh. “Cepet hey...!!” yang dipanggil hanya melambai.

“ini makanannya, dan ini tikar lipatnya..” seorang gadis menyerahkannya pada gadis dengan senyuman ramahnya “berat tau Meg...” gumamnya sambil cemberut.

“ahh.. iya maafkan aku Bintaaang... sini aku bantuin..” balasnya. Namun lelaki yang berada di belakang Bintang langsung mengambil barang itu “sini biar aku aja..” sahut Langit. Bintang dan Mega saling bertatapan, lalu tersenyum bersama.”makasih Lang...” Mega tersenyum senang.

“udah lama aku gak ke tempat kayak gini..” ungkap gadis bermata sayu itu “aku dulu seringnya main ke daerah Lembang sama.... eum..” ia menoleh pada lelaki di sampingnya yang juga tengah melihatnya, gadis itu menghentikan kalimatnya digantikan dengan senyuman menahan rasa bersalah, seharusnya tak ku sebut namanya lagi di depan Orion, ahh bodoh! . semua hening, hanya terdengar langkah kaki mereka saja. Untungnya lelaki itu hanya tersenyum, meskipun senyumannya tak ada yang tahu maksudnya.

“ahahaa... hayu ah kita berenang...” Mega berusaha memecah keheningan dan mengajak Bintang dan Bulan untuk mengganti pakaiannya setelah menggelar tikar dan memebereskan barang-barang mereka.

“kita mah langsung terjun aja dah...” Langit tersenyum menatap Orion, mereka berdua langsung melepas jaket dan celana panjang mereka, menyisakan baju lengan pendek dan celana boxer. Mereka berlari menuju kolam dan menceburkan diri dengan riang.

Ketiga gadis itu tertawa kecil, lalu pergi ke kamar ganti. Bintang keluar paling terakhir dari kamar ganti karena pakaiannya terjatuh dan harus dibilas dulu. Sebuah tangan menyentuh pundak Bintang yang membuat ia menoleh, kaget.

Teh Bintang yaa...?” tanya seorang gadis cantik pemilik bibir tipis itu.

“eh, iyaa... maaf, siapa..?” tanya Bintang, ia memiliki kekurangan sulit untuk mengingat nama orang yang tak begitu ia dekat.

“ini Embun teh...” jawabnya.

Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, Embun adiknya Senja ya...? apa Senja juga ada di sini..? pertanyaan-pertanyaan mulai bergumul dalam benaknya, ia sangat penasaran apakah Senja ada di sini ataukah tidak. “teh...?” suara lembut itu menyadarkan angan-angan Bintang, “kenapa..? ada yang salah..?” tanyanya.

“eeehh... engga kok... hehe” Bintang hanya bisa terkekeh menyembunyikan penasarannya “duluan ya Bun...” ia pamit dan segera menyusul dua teman gadisnya.

*

Tangan dan kaki itu cukup terampil membuat tubuhnya melaju di dalam air, suhu alam yang dingin dan air yang panas membuat gadis itu ta ingin keluar dari kolam. Perlahan ia mendekati lelaki yang tengah merendamkan tubuhnya di dekat pancuran air panas di sudut kolam. “a.. lagi apa...?” tanyanya hampir berbisik. Lelaki itu terperanjat dan menoleh pada gadis itu.

“ini dee.. enak banget pancurannya..” jawab Senja, tubuhnya mulai terlihat memerah karena panasnya air. Gadis itu hanya menatap Senja tanpa berkedip dan senyuman yang tak kunjung luntur dari bibirnya. “kenapa dee...? sana berenang lagi...!” Senja mulai resah dengan tatapan adiknya itu. Tak berapa lama Embun melompat dan memeluk Senja sambil berteriak manja.

“iiiihhh... aa.. ada yang gerak di kaki adee.. ade nginjek sesuatu..” teriaknya, Senja yang kaget dengan apa yang dilakukan adiknya itu berusaha untuk tetap tenang dan mencoba melepaskan pelukan Embun yang begitu erat itu.

“ga ada dee.. ga ada..” jawabnya, ia merasakan benar bahwa adik tirinya itu tengah berbohong dan sedang memanfaatkan situasi saat ini. “lepas Embun...” bisiknya.

“Bii..” seseorang berteriak dari kejauhan, Senja menoleh ke arahnya dan menemukan Bintang tengah berlari menjauh. Senja hanya terdiam.

*

Wajah itu ditekuk cukup lama, diam mematung di sudut kolam dangkal sembari memeluk lutut. Pikirannya mulai kemana-mana dan tak karuan, kekesalannya mulai memenuhi sanubarinya tanpa terasa, ia cemburu.

“ehh Bintang.. jangan gitu dong...” Mega memanggilnya dari atas kolam “hayu maen air lagi...” ajaknya, Bulan dan Orion mengangguk menyetujuinya.

“aku sedang ingin disini Megan Fox.... aku ingin berendam...”

“baiklah Bii... kita makan duluan atuh yah, udah laper tingkat dewa nih...”

“Bii.. ayoo makan bareng-bareng..” ajak Bulan.

“duluan aja Lan...” jawab Bintang tak semangat, moodnya hilang dan kini ia hanya ingin merendam diri hingga ia puas.

*

Air mengaliri sela-sela rambut klimis dan melewati tubuhnya yang cukup bidang itu, air mancur itu membilas sisa sabun dan shampoo yang masih menempel di badan Senja, ia memutuskan untuk menyudahi aktivitasnya di kolam setelah ia menyadari Bintang menyaksikannya bersama Embun, ia segera keluar dari kolam dan meninggalkan adik tirinya tanpa sepatah kata meski Embun beberapa kali memanggilnya.

kang, punten mandinya udah...? anak saya mau mandi..” tanya seorang bapak yang membawa anak laki-laki seumur TK yang sedari tadi memperhatikan Senja yang hanya diam mematung di bawah shower umum itu. Senja yang tersadar segera saja menyudahi mandinya.

Pikiran Senja dipenuhi banyak prasangka dan ketakutan akan apa yang dipikirkan dan dirasakan Bintang, ia takut Bintang akan marah dan tak ingin lagi bertemu dengannya gara-gara memergokinya tengah bersama Embun di dalam kolam, padahal itu hanya salah paham saja. Pikiran itu terus menganggunya hingga ia sampai ke rumah dan istirahat di kamarnya. Segera setelah ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur ia menghubungi Bintang, sekedar menanyakan kabar, namun Bintang tak kunjung membalas, rusak sudah rencananya untuk Bintang ke depannya.

*

 Semangkuk es krim di sodorkan pada gadis yang tengah melamun itu, dua orang gadis menatapnya khawatir. “kenapa sih Biii...?” gregetnya, sudah beberapa hari ini Bintang terlihat tak bersemangat dan Mega merasa harus mengambil tindakan. “makan dulu niiih es krimnya ihhh... udah aku beliin juga..” rajuknya. Bintang menatapnya.

“Bintang Eka Aulia...?” panggil Bulan, ia menyodorkan ramen lengkap yang masih mengepul “ini khusus buat kamu lhoo...” katanya, mereka berdua memang sedang merayu Bintang supaya ia bisa kembali tersenyum.

“gaess.. makasih...” Bintang tersenyum, ia menyendok es krim dari Mega.

“nahhh... gitu dong Bii...” Mega tersenyum lega “kamu kenapa sih...?” selidik Mega.

“mm.. kamu kenal sama perempuan yang namanya Embun ga..?” tanya Bintang.

“eh..? Embun Citra...?” Bulan seperti teringat “Embun yang jago nyanyi itu...?”

“ga tau sih Lan... Embun adiknya Senja pokonya mah...” Bintang kembali menyendok es krimnya, sesekali ia memberikannya pada Mega.  

“hmmm... iya tau Bii..” Bulan seakan menemukan sesuatu yang ia cari “aku sempet deket sama Embun... dia cantik, dia juga jago nyanyi... eh, kenapa gitu?”

“Senja deket banget ya sama Embun...? keliatannya beda aja deketnya tuh...” ungkap Bintang pada akhirnya “aku ngerasa deket mereka tuh aneh kemaen pas di kolam...”

“ehhh... iya, kemaren aku juga ketemu sama Embun...” Bulan mengingat-ingat “Embun itu kan adik tirinya a Senja.. mereka baru adik-kakakan tiga tahunan lah...” ungkapnya, Bintang dan Mega langsung saja menyimak ungkapan Bulan dengan seksama. “beberapa bulan lalu kita sempet deket, Embun emang suka sama a Senja, suka yang beda kalo ke aa gitu... dia sering bikin suasana yang membuat a Senja khawatir... aku dulunya seneng temenan sama dia, tapi lama-lama dia nyebelin.. yang di fokusin a Senja lagiii a Senja lagi.. aku jadi kadang ngerasa kalo dia Cuma manfaatin aku buat bisa deket sama a Senja..”

Bintang dan Mega saling bertatapan, Bintang mulai merasakan sedikit pencerahan dari penjelasan Bulan, moodnya kembali. “atuh gimana kan ga bisa bareng-bareng atau jadian kalo adik-kakakan mah..?” celetuknya.

“yaa.. gak tau matakan Biii.. da soalnya si Embunnya suka ngahajakeun, aku mah kadang gak ngerti sama jalan pikiran dia tuh...” Bulan menyendok es krim milik Bintang. “kela.. kela.. laki-laki yang lagi deket sama kamu itu a Senja...?” Bulan baru tersadar. Bintang hanya mengangguk, ia menatap Bulan yang terlihat kaget dengan pengakuannya. “ya ampun Bintang... kenapa gak bilang dari awal...?”

“kamunya aja yang baru sadar Lan.. dari awal juga Bintang udah cerita...” Mega menggeleng-gelengkan kepalanya.

“kalo kata aku mah Bii.. kamu harus hati-hati sama Embun.. kamu kudu tebel muka sama kuat-kuatin hati kamu kalo kamu beneran suka sama a Senja, soalnya saingan terberat kamu kayaknya ya itu si Embun...” Bulan menunjuk-nunjuk ke arah Bintang yang menatapnya serius. “jadi selama beberapa hari ini kamu kayak gak semangat itu gara-gara liat a Senja sama Embun...?” tanyanya, Bintang mengangguk “itu mah udah biasa Bii.. you have to be strong starting now... Embun emang gitu orangnya.. harus mulai bisa menerima.. lagian a Senja juga keliatannya sayang ke si Embun sebagai adik... dia pernah cerita ke aku Bii..” Bulan meyakinkan, Bintang yang mulai terpengaruh bermaksud menghubungi Senja, sekedar membalas pesannya yang terakhir menanyakan kabar. Di meja itu ia menyimpan benda keramat itu namun tak ada, ia mencari-carinya namun tak ia temukan.

“nih Bii..” Mega memberikannya sambil tersenyum usil, Bintang merasa ada yang tidak beres dengan ini, segera saja ia membuka handphonenya, dan benar saja.

“Megan Foooox...!!” teriak Bintang gemas, Mega memang Miss Julid bagi Bintang, ia selalu mengurusi urusan Bintang sesuka hatinya. “atuh Meg jangan gituuu...” Bintang merengut, ia menemukan chatting nya bersama Senja sudah cukup jauh jika dibanding terakhir kali. Senja mengajaknya bertemu dan itu diiyakan oleh Mega. “nahaaa sih Meg..? argh!” (kenapa sih Meg..? argh!)

“mm.. yaa.. lebih cepat lebih baik kan Bii...” Mega tersenyum kuda, ia merasa cukup puas dengan ekspresi Bintang yang serba salah. Bulanpun hanya ikut tersenyum.

“aku dukung kamu Bintang....” sahut Bulan, ia tersenyum menampakkan giginya yang berjajar rapi, cantik. “Fighting...!!!

Di tengah kesal dan gemasnya pada Mega ia mencoba tersenyum, sebenarnya ia berterima kasih pada Mega, mungkin jika dia selama ini tak pernah julid dan ikut campur urusannya, ia takkan bisa sedekat ini dengan Senja. Kini ia kembali ceria, memulai kembali kehidupannya yang sempat stagnan di satu titik, mulai melangkah dan mengambil tindakan. Yooooshhhh...!! semangat Bintang..! mungkin Tuhan memberikan orang-orang aneh seperti Mega dan Bulan untuk mengisi bejana rasa dan mewarnai sketsa-sketsa kehidupanku. Membantuku bangkit ketika aku terjatuh, dan meneriakiku ketika aku tengah tersesat hingga aku menemukan jalan keluar.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Page 1 of 0 (0 Comment)

Recommended Stories

Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

584 452 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 877 15
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

711 537 8
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 833 8
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

456 351 4
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11