#2 Takdir...

 

Senja menatap adiknya yang terbaring di ruangan itu, beberapa orang mulai pergi meninggalkan ruangan dan membiarkan Senja.

Aa..” Embun membuka matanya perlahan, ia menatap sekeliling dan menemukan Senja duduk di samping tempat pembaringannya.

“de..? kamu kenapa..?” tanya Senja khawatir.

Embun hanya tersenyum, sebuah senyuman lega karena bisa melihat sosok kakaknya.

“temen-temen kamu mana..?” tanya Senja.

“mereka pulang duluan a..” jawabnya “ayu pulang..” ajaknya, ia bangkit dengan sisa tenaganya. Senja membantu adiknya itu berdiri dan meninggalkan ruangan itu.

Di parkiran mereka bertemu dengan Bintang dan Mega, Embun memberikan senyumannya. Bintang menghampiri mereka dan menyapa.

“gimana keadaannya sekarang..?” tanyanya ramah.

“baikan.. makasih ya teh..” Embun menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya yang tipis itu.

“oke..” Bintang membalas senyumannya, pandangannya beralih pada sosok yang ada di sampingnya.

Jadi gadis ini pacarnya..? pikirnya, sebuah rasa menyesakkan hatinya, senyumannya pudar perlahan-lahan

“Siapa Bun..?” tanya Senja.

Iii panggilannya aja udah Bun.. pasti ‘Bunda’ deh.. Bintang menggigit bibirnya pelan, sebuah rasa yang baru saja membuncah kini kandas.

“ini a.. teteh ini yang tadi nolongin Embun..” katanya

“ooh.. yang tadi aku tabrak ya...? aduh maaf.. aku tadi panik..” katanya “tapi makasih udah nolong adik aku yaa..” sambungnya

Jadi hanya adik-kakak? Benarkah? Benarkah? Bintang kembali tersenyum, ia mengangguk-angguk “iyaa sama-sama..”

“ooh namanya Embun yaa..?” Mega ikut nimbrung, dia menyodorkan tangannya “aku Mega..”

Embun menyambut tangannya dan menyebutkan namanya.

“ini Bintang..” kata Mega, dia menyikut lengan Bintang yang spontan menyodorkan tangannya dan Embun menyambutnya dengan ramah.

“oiya.. ini aa aku.. a Senja..” katanya memperkenalkan kakaknya itu.

“Senja..” ia menyodorkan tangannya dan menyalami dua gadis yang ada didepannya dengan ramah.

            “udah mau pulang nih..?” tanya Mega.

“iya..” jawab Senja dengan sebuah senyuman.

“yaudah.. kita duluan ya..” pamit Mega

Embun memberikan senyumannya dan mengangguk lalu melambaikan tangannya. Mereka berpisah disana.

*

*

Beberapa bulan berlalu, Bintang membereskan buku-buku yang ingin ia pinjam untuk tugas kuliahnya. Dari kejauhan Bintang melihat sosok yang pernah ia temui di Ciwidey beberapa waktu lalu, seseorang yang penah membuat dia berdebar untuk sesaat.

Aku lupa namanya, gumam hatinya.

Sosok berkacamata itu memasuki ruang perpustakaan dan segera membuka laptopnya setelah beberapa saat duduk, ia memasang headset sebelum ia mulai asyik mengetik di laptopnya. Ia duduk tak berapa jauh dari Bintang yang kini hanya melihatnya, memperhatikannya.

Tenyata dia sama-sama anak UPI? Wow.. bukankah ini takdir..? Bintang hanya tersenyum-senyum sendiri hingga seorang menyadarkannya dan mengajaknya untuk menemani ke toko buku saat itu juga.

“Meg, aku ketemu lagi sama dia..” gumam Bintang yang masih memasang senyumannya sedari tadi.

“dia siapa Bii..?”

“yang waktu itu ketemu di Ciwidey Meg, laki-laki yang adiknya pingsan itu..” jawab Bintang.

“ooh.. terus..?” Mega memutar matanya “jangan-jangan kamu suka ya sama dia..?” tanyanya.

“hah..?” Bintang tersadar “iya gitu..? tapi aku lupa namanya Meg.. siapa ya namanya..?”

“aku juga lupa Bii..” jawabnya “kok kamu sejak kapan suka sama dia..?” herannya, pasalnya Mega belum pernah melihat dia bertingkah aneh seperti saat ini, ia juga belum pernah melihat teman tomboynya ini menyukai seorang laki-laki lagi setelah cerita saat di rooftop itu.

“gak tau Meg, kok berasa adem gitu liat matanya..” jawab Bintang spontan.

“serius kamu Bii...? aduh....” Mega menyentuh kening sahabatnya itu khawatir.

“apaan sih aku gak apa-apa Meg..” Bintang menangkis tangan Mega, “udah ah, mau beli apa cepetan...” mood nya tiba-tiba buruk. Mega yang sudah menemukan buku yang ia cari segera saja ke kasir dan mereka keluar dari toko buku dengan saling diam.

*

Sebuah panggilan masuk bertuliskan “Megan Fox” kedalam handphone Bintang yang sedang terlelap tidur di meja belajarnya. Mata itu terbuka perlahan sembari mengerjap-ngerjap pelan, tangannya menyentuh “terima” di layarnya.

“Bii... kamu marah..?” tanyanya dari seberang.

“enggak Meg ahhh.. kenapa? Mau apa telpon?” tanya Bintang datar dengan mata yang masih setengah terbuka itu.

“aku udah dapet info tentang cowok yang kacamata itu Bii...” katanya.

Mata yang tadinya sulit terbuka itu mendadak terbuka dan sigap mendengar hal tersebut dari seberang “aslina Meg...?” sumringahnya, namun beberapa detik kemudian ia kembali biasa dan heran kok aku seneng banget ya?

“iya Bintang Eka Auliaaaa... aku ke kosan kamu boleh?” tanyanya, Bintang hanya mengangguk dalam keheningan. “Bii...? aku bawa makanan nih tadi dikasih dari Langit..”

“eh.. iya sok mangga aja Mega-kuuuu sayang.. pintu kosanku selalu terbuka untuk dirimuu.. hehee..”

*

Rooftop malam itu menawarkan langit yang berbulan purnama, cerah. Beberapa cemilan sudah tersedia dihadapan dua gadis itu, Mega sudah duluan memakan nyenyerean pedas.

“Jadi Bii... tadi aku ketemu sama temen aku yang sejurusan sama Langit, kita ngobrolin banyak hal dan salah satunya tentang Senja...”

“Senja? Mmm.. ahh iya! Namanya Senja!”  Bintang seakan menemukan harta karunnya yang selama ini ia cari-cari.

“iyaa.. jadi dia itu anak PLS yang dapet penghargaan karya tulis ilmiah terbaik bulan kemaren, dia lagi ngajuin karya tulis barunya buat bulan ini dan kemungkinan dia bakal ke luar negeri buat ngepresentasiin karya tulis dia yang bulan lalu tembus nasional..”

“masa Meg..?” sebuah tatapan kagum tak percaya Bintang lemparkan pada gadis yang tengah menggilas makanan selanjutnya. Mega hanya mengangguk. “gilaaa...”

“hmm... iya makanya aku juga kaget Bii.. dia keren banget yaa.. Langit aja kalah ahaahaa..” tawanya miris.

Sesaat Bintang termenung sembari ikut menggilas makanan dari Langit. Namanya Senja, dan dia terlihat sangat keren ketika itu, dia juga terdengar sangat hebat barusan, pasti banyak yang suka sama dia, pasti dia udah punya cewek, mungkin aku tak punya kesempatan buat lebih deket sama dia, lagian kan aku cuma mahasiswa biasa yang kuliahpun kadang males-malesan, bikin KTI aja cuma sekali gara-gara diwajibin buat maba pas ospek, bener-bener gak ada celah kayaknya buat aku. Bintang hanya merengut merasa kehilangan harapan.

Mega yang heran menyadarkan temannya itu. “kenapa Bii..?” yang ditanya hanya tersenyum pahit sambil meneruskan cemilan bagiannya.

*

Dentuman suara musik yang keras itu membuat jantung Bintang berdegup tak seperti biasanya, ia duduk di sudut lapangan acara musik festival itu. Tadinya ia bersama Mega namun ternyata Langitpun datang ke acara itu dan mereka kini tengah membeli cemilan sebelum acara dimulai. Matanya menyapu lapangan yang gemerlap dan penuh sesak manusia itu, hanya manusia-manusia haus hiburan, manusia-manusia yang tengah dimabuk cinta dan manusia-manusia dengan kepentingan lainnya.

“Boleh ikut duduk..?” seseorang duduk disamping Bintang yang tengah melongo “mm.. hey.. Bintang, boleh ikut duduk..?” sekali lagi suara itu menyapa Bintang yang kini tersadar.

“eh iya boleh, mangga kang... silakan..” jawabnya tanpa menoleh sedikitpun karena tengah sibuk dengan handphone nya, bermain game ular-ularan sembari menunggu Mega dan Langit kembali.

“eh iya Bun.. aa udah di lokasi, kamu hati-hati di jalan.. nanti kalo udah sampe kasih tau aa yaa...” suara itu kembali mengusik Bintang, dan kini ia menoleh melihat siapa gerangan yang ada disampingnya.

Game Over tulisan itu muncul di layar permainannya, tatapannya kini bukan pada ular yang harus makan sebanyak-banyaknya untuk naik level, tapi pada sosok yang kini juga menatapnya dengan sebuah senyuman yang beberapa saat lalu berubah heran karena gadis yang ada disampingnya hanya menatapnya dengan ekor mata tanpa berkedip dan wajah yang kaget.

“Hai Bintang...” sapa lelaki itu, mencairkan kebekuan, membuyarkan suasana yang terasa aneh beberapa saat lalu.

“Senja..” kata yang keluar pertama kalinya dari bibir Bintang yang kelu beberapa saat lalu.

“sedang apa?” tanyanya ramah, malam ini ia terlihat calm dengan jaket levis dan kaos polos berwarna biru yang dipadukan dengan celana levis berwarna gelap. Mata yang bersemayam dibalik kacamatanya menerawang pada gadis yang ada di sampingnya, pada Bintang.

Jantung Bintang berdegup kencang, masih merasa apaah ia kini berada diantara dunia nyata atau dunia khayalnya. Ya Tuhan aku hanya berkhayal atau memang Senja ada disampingku? apa yang harus aku lakukan? Tenang Bintang, tenanglah... bersikaplah sebiasa mungkin.

“lagi nunggu nih, hehe..” jawabnya sebiasa mungkin, tapi tetap saja ujung-ujungnnya nadanya tidak enak didengar.

“hmmm.. iya, nunggu pacarnya ya..?” tanya Senja “eh, maaf.. hehe..”

“eh.. hehe.. enggak, nunggu Mega sama Langit beli makanan dulu..” jawabnya. Lagian aku gak punya pacar, Senjaaaa pekiknya dalam hati.

“eh, Langit..? Langit Dirgantara..?” tanyanya.

“eh iya, Langit Dirgantara, kok Senja tau..?” tanya Bintang kaget.

“oohh... yaa tau aja, Langit kan anak BEM jadi ya aku tau, aku sering ke BEM kalo ada perlu mah... dan sering ketemu sama Langit..” jawabnya santai.

“hmm... ahahaaa.. iya, dia emang anak BEM” Bintang mencoba tersenyum. “eh iya, Senja suka musik juga..?”

“ahahaaa.. iya suka atuh.. tapi bukan musik yang kayak gini sih, aku lebih suka musik pop etnik dan lagu-lagu band indi Bandung.. kebetulan aja si Embun mau konser disini ahahaa..”

“Embun..?” Bintang menatap Senja.

“iya Embun, adik aku...” jawabnya “yang kemaren pingsan di Ciwidey tea ning ah.. dia adik aku, hahaa.. dia mah emang gitu anaknya, suka bikin khawatir, ditinggal bentar aja udah bikin masalah.. manja.. makanya dia mah gak bisa ditinggal gitu aja.. apalagi mama udah sayang banget sama Embun..”

Ahh.. iya Embun adiknya Senja, Bintang baru saja teringat. Ia hanya mengangguk-angguk seperti orang baru mengerti. Eh.. Senja ternyata ramah ya.. jadi nyaman... sebuah senyuman mengembang di bibir tebal Bintang.

Tak berapa lama obrolan Bintang dengan Senja, pasangan dua sejoli itu muncul dengan sebungkus makanan.

“Bii.. ini pesenanmu nih...” Mega memberikan sebungkus cimin super pedas pada sahabatnya itu.

“eh tapi Meg..” katanya, Bintang mencoba mengembalikannya, tapi Mega hanya mengerling dan memberikannya pada Bintang. “makasih Meg...” senyumannya mengembang.

Acara festival musik sudah dimulai, pembawa acara sudah sangat cerewet diatas panggung, dan beberapa panitia wara-wiri di sekitaran panggung. Para penonton yang tadinya bertebaran di sekitaran lapangan kini berjalan menuju depan panggung untuk lebih menikmati acara musik yang sudah dimulai itu. Sosok gadis pemalu menghampiri kumpulan Bintang dan Mega, gadis itu tersenyum menyapa dan mengajak mereka untuk merapat mendekati panggung.

“Eh, acaranya udah mulai tuh... yuk kesana..” ajak Bulan, ia memakai dress yang cantik dan jaket yang casual

Langit, Mega, dan Bulan bergegas merapat. Bintang yang tadinya sudah berdiri bersiap megikuti mereka untuk merapat menoleh dan melihat Senja yang tengah menatapnya.

“mm... Hayu Senja.. kita merapat...” ajak Bintang dengan sebuah senyuman. Lelaki itu hanya menggeleng “sok aja kamu duluan Bintang...” dia seperti tengah gelisah dan beberapa kali menatap layar handphone nya yang padam. “kenapa..? kamu keliatan gelisah..?” tanya Bintang, namun tak mendapatkan jawaban sedikitpun dari Senja. Bintang ikut khawatir. Layar itu menyala, sebuah nama muncul, segera saja Senja menerimanya.

Astaghfirullah, itu dimana...? iya saya kesana sekarang kang, makasih..” sembari berdiri dia bergegas.

“eh.. Senja..?” kaget Bintang “ada apa..?”

“Embun jatoh di jalan... dia pingsan..” jawabnya, ia pergi pamit dan meninggalkan Bintang dengan rasa khawatirnya.

Innalillahi...” Bintang hanya terdiam menatap Senja yang pelahan pergi dan lenyap dari penglihatannya. Bener aja kata Senja ditinggalin bentar udah kecelakaan aja tuh si Embun pikir Bintang.

Dalam kegelapan sesuatu menyala redup, Bintang melihat benda itu dan melihatnya dengan seksama, ia berjongkok dan mendapati handphone yang ia pikir milik Senja. Benda itu terjatuh dan tertinggal di tangan Bintang. Dilihatnya panggilan dari Embun, namun ia tak berani menerima panggilan itu, ia lebih memilih menatap layarnya hingga kembali redup.

Seseorang memanggil Bintang dari kejauhan sembari melambai, ia menoleh dan membalas lambaian yang ternyata Mega. Ia berjalan menuju keramaian dan ikut menikmati acara musik festival itu bersama-sama.

*

Benda itu kini redup, baterainya sudah habis, dan Bintang tidak memiliki charger untuk handphone model itu. Ia membolak-balik benda itu, handphone Nokia cinitnit . mungkin saking kagetnya Senja sampai tak memperhatikan benda ini, yaa walaupun hanya hape yang bisa nelpon sama sms doang, tapi kan tetep aja we penting. Gimana aku balikinnya ya..? aduh aku gak tau euy.. apa minta tolong Langit aja ya lewat Mega..? atau aku balikin aja langsung ke Senja? Tapi aku gatau Senja dimana...ahh lieurrr kumaha enjing we lah..  Pikir Bintang. Handphone itu menginap di genggaman Bintang semalaman.

 

“Bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada bintang yang bersinar jauh diatasku, sedangkan aku hanya makhluk biasa yang bahkan tak memiliki cahaya..? pantaskah aku bersanding dengannya? Dengan bintang yang bersinar itu..”

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 1 0 0 0 0
 
Save story

Page 1 of 0 (0 Comment)

Recommended Stories

Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 884 15
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

713 526 9
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

586 453 8
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

278 223 3
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Anne

Anne's Tansy

By murphy

855 543 9