9

 

 

Rico melangkahkan kakinya mundur, namun Langkah Kaki Kagura makin mendekatinya. Posisi Rico sudah di terpojok di belakang tembok.

“ Ja..jangan Kagura.. Gue enggak mau..” Kata Rico memelas sambil mengatupkan kedua tangannya, pasrah memohon pada Kagura.

Kagura menatap Rico dingin, telapak tangan kirinya menapak keras ke tembok di belakang Rico, tepat di sebelah kepala Rico.

Rico kaget, mata tajam perempuan di depannya, perlahan makin mendekat. Jarak diantara mereka semakin dekat. Kagura berbisik tepat di telinga Rico, 

“Cuma sebentar saja kok.”

Rico menutup matanya, mukanya memerah, tangannya menyilang di depan dadanya. “Gue..gue enggak bisa.. Apalagi disekolah. Terlalu berbahaya.”

“Enggak bahaya kok. Gue bisa jamin. Lo Cuma perlu…" Tangan kanan Kagura terangkat, memegang sesuatu dan menunjukkannya pada Rico, "..pakai wig ini doank.” Kata Kagura, memberikan Wig cewek berambut panjang yang sudah lama dipegannya karena Rico terus menolak untuk memakainya.

“Enggak Enggak. Gue enggak mungkin pakai itu kalau di sekolah.” Rico masih terus menolak, masih dengan tangannya yang menyilang di depan dadanya.

Kagura mulai kesal. Sekarang Telapak tangan kanannya menapak diatas tempok belakang Rico, mengunci badan Rico agar tidak bisa kabur kemana-mana.

“Pakai wig nya, sekarang juga!!” nada suara Kagura mulai meninggi tidak sabar, menekan Rico yang masih kekeh tidak mau memakai wig nya.

Mata Rico berbinar-binar memohon pada Kagura, “ Kagura… Gue ini seorang laki-laki sejati, enggak mungkin..”

“ Lo terlihat manis kalau pakai wig ini.” Nada suara Kagura melembut, mulai membujuk Rico dengan cara yang lebih lembut. 

Kagura tahu Rico akan luluh kalau Kagura tiba-tiba lembut padanya, walaupun sebenarnya dia tidak suka bersikap manis dan lemah di depan teman-teman yang sudah mengenal kuatnya dirinya. Rico mengambil wig dari tangan Kagura. “Oo..ke, gue pakai.” Kata Rico pasrah. 

Yuri sudah lama duduk di bangkunya, memperhatikan mereka berdua dan untungnya aksi mereka hanya diperlihatkan pada Yuri, karena hanya mereka bertiga didalam kelas.

“ Oooy kalian lagi main drama apa? Rico enggak usah sok manis jadi cewek terpojok sama Kagura yang terlihat manly maksa lo sampai mojokin lo begitu!” Yuri menggelengkan kepalanya, pusing melihat tingkah kedua orang ini.

Rico melangkah menuju keluar kelas sambil memegang wig di tangannya, di depan pintu keluar, Rico Melirik ke arah Yuri, “Kata Kagura gue emang manis kok!” Rico tidak mau kalah.  Laki-laki manis itu berjalan pergi keluar kelas menyiapkan dirinya di toilet.

Yuri tidak tahu harus berkata apa lagi mendengar pembelaan Rico barusan. Kagura menghampiri Yuri duduk di tempat duduk nya, dibelakang Yuri.

“ Setelah Rico pakai wig, kita bisa jalan bareng, kayak cewek-cewek biasanya hang out di mall. Dia emang suka pakai cosplay, tapi teman-teman otakku nya selalu maksa dia cosplay karakter cewek terus deh. Sampai ada cowok yang jatuh cinta sama dia, Rico merinding kalau inget itu…”

“ Lo tahu dari mana dia suka sama Rico?” Yuri menyela memotong cerita Kagura.

“ Oooh cowok itu yang deketin Rico terus sih, pas Rico pakai cosplay cewek, dan terus akhirnya ditembak deh. Gue saksi cinta terlarang mereka. ”

“ Yaah itu lebih baik, dari pada ada orang yang cerita sama cowok yang disukain temannya sendiri, tanpa ijin temannya.” sindir Yuri, Badannya  berbalik menatap Kagura tajam.

Kagura diam memandang  balik Yuri, tatapan tajam Yuri memberikan isyarat padanya untuk mengerti seseorang yang disinggung Yuri, yaitu Kagura.

“ Orang itu gue, maksud lo?”

“ Iya. Lo kasih tahu Yabe kalau gue suka sama dia kan?” tanya Yuri dengan nada suara sedikit meninggi, menahan emosinya.

“ Iya benar.” Jawab Kagura tanpa ragu, “ Lo cerita sama gue, dan lo bilang minta bantuan gue. Gue bantuin lo dengan kasih tahu ke Yabe langsung, jadi gimana lo sama Yabe?” Tanya Kagura dengan polos nya tidak mengerti kekesalan Yuri.

“ Kenapa..Kenapa sih lo bisa sebodoh itu?! Lo tuh benar-benar aneh ya!” suara Yuri makin meninggi, meluapkan kekesalannya yang sudah tidak tertahankan lagi.

Kagura kaget, tidak menjawab dan Dia masih binggung apa kesalahannya sampai Yuri bisa sekesal itu padanya.

Melihat Kagura masih diam, tidak menjawab, Yuri makin terbawa emosi nya, terus ingin mengungkapkan kekesalannya dan menyalahkannya pada Kagura,

“ Apa lo enggak bisa mikir maksud gue cerita tentang perasaan sama Yabe, bukan berarti lo bisa seenaknya kasih tahu Yabe juga? Lo enggak ngerti banget ya kalau cewek-cewek curhat…”

“Iya gue enggak ngerti!” suara Kagura ikut meninggi lebih kencang dari Yuri.” Gue enggak pernah dekat banget sama cewek-cewek sampai curhat bareng, gossip dan lainnya. Kayak lo bilang gue ini memang bodoh.”

Yuri terdiam, dirinya tidak tahu harus berkata apa. Dia merasa tidak enak hati, baru menyadari kata-katanya barusan sepertinya keterlaluan Kagura.

“ Gue tahu sebenarnya lo masih belum tulus mau berteman baik sama gue dan lainnya. Walaupun gue suka bisa berteman dengan sama lo. Tapi sepertinya gue salah. Lagi-lagi gue ditolak. Maaf kalau gue maksa lo dan maaf atas kebodohan gue.” Kagura bangkir berdiri dari bangku nya, mengambil tas ranselnya, berjalan keluar kelas meninggalkan Yuri sendiri di dalam kelas.

Yuri tetap duduk di bangkunya, tidak menahan kepergiaan Kagura, mulutnya tertutup rapat, tidak mengucapkan sesuatu atau menyangkal perkataan Kagura. Karena tidak ada yang perlu disangkal, Kagura benar, Yuri merasa dia belum tulus ingin berteman dengan Kagura dan gank nya.

***

“ Waah lihat deh. Itu kakak kelas yang popular itu, cantik banget ya.” Bisik-bisik kedua orang cewek berdiri di pojok jendela depan perpustakaan. Mereka memperhatikan Kagura dari kejauhan yang sedang berjalan lurus, hendak melewati perpusatakaan.

“Iya. Tapi kalau dilihat lihat dia keren juga ya, kalau didandanin kayak  cowok gtu.” balas temannya berbisik pelan.

Langkah Kagura yang sudah hampir melewati mereka, berhenti, melirik kearah kedua cewek tersebut. Mereka berdua terpelakak, kaget. Tidak lama, kemudian Kagura pergi berjalan lurus kedepan berjalan terus sampai menemukan tangga , berbelok menaikki tangga tersebut.

Kedua cewek tersebut mengehembuskan nafas lega. 

“Waah gila. Gue kira dia mau ngapain.”

“ Lo sih kalau ngomong keras banget suaranya jadi..”

“Ehmmm.. bisa kasih jalan?” suara lain tibat-tiba mengagetkan mereka lagi dari belakang. Yuri berdiri di ambang pintu terbuka, menunggu dua cewek yang sejak tadi menghalangi jalannya. 

Kedua cewek ini kaget, badan mereka langsung mundur menyamping, memberi jalan bagi Yuri. Yuri berjalan melewati mereka, dan terus berjalan ke arah yang sama dengan Kagura, yang membawanya sampai di depan kelas-nya. Yuri membuka pintu kelas, penghuni kelas masih belum banyak yang datang masuk ke kelas, karena jam istirahat. Mata Yuri langsung menangkap kearah bangku belakang di pojok sebelah kiri. Kagura duduk sendirian memakai earphone di kupingnya, menutup matanya bersender santai di bangkunya. Angin lembut dari jendela yang terbuka, mengibaskan rambut panjangnya yang tergerai.

Yuri teringat pertama kali dia berdiri di depan kelas, berjalan menuju tempat duduknya yang berada di depan tempat duduk Kagura. Hembusan angis mengibas rambut panjang Kagura yang tergerai, membuatnya begitu terpana. Cewek itu punya aura kecantikan yang membuat dirinya sebagai seorang cewek juga ikut terpesona.

Namun semua nya berubah Ketika dia mengenal Kagura lepas dari sosok cewek anggun dan cantik di kagumi banyak orang. Dia seperti rubah cantik yang bisa menipu banyak orang dengan penampilannya dan jalan pikirnya yang susah ditebak. Satu hal yang membuat Yuri terkagum adalah Kagura memiliki fisik yang kekuatan luar biasa di tambah jago bela diri.

Yuri duduk di bangku nya, mengambil buku pelajaran dan diletakkan di atas mejanya. Mengalihkan pikirannya dengan meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia pikirkan dan ia putuskan saat ini adalah benar. Dia tidak bisa berteman dengan Genk mereka. Ini bukan tujuan awal ia ingin memulai semuanya. Yuri tahu ada yang salah dari mereka, sikap mereka yang berbeda saat di sekolah dengan di luar sekolah, menunjukkan mereka semua bermuka dua. Yuri meyakinkan dirinya tidak akan menyesali keputusannya tidak ingin berteman dengan mereka lagi. Sekali lagi, Dirinya meyakinkan dirinya pasti bisa mendapatkan teman yang lebih baik dan sempurna serta cocok dengannya.

***

Yuri datang pagi-pagi ke sekolah, 7.30 pagi, masih ada 30 menit sebelum jam pertama dimulai. Mengerjakan jadwal tugas piket pagi menjadi alasan utamanya datang lebih awal. Sampai dikelas hanya dirinya saja yang baru datang. Yuri meletakkan tasnya dan bersiap merapikan meja. Tiba-tiba suara pintu kelas terbuka, Yabe datang memasuki kelas. Mereka saling bertatapan beberapa detik, Kemudian Yuri mengacuhkannya.

Yuri sibuk merapikan meja, dan Yabe merapikan meja juga disisi sebaliknya, barisan kanan. Mereka melaksanakan tugas piket mereka, tanpa mengucapkan sepatah katapun., tapi mereka tahu tempat mana yang belum dibersihkan dan yang sudah. Setelah selesai melaksanakan tugas piket, Yuri duduk di bangku nya istirahat, menjatuhkan kepalnya di atas mejanya, ingin tidur sampai bel jam pelajaran pertama dimulai.

Mata Yuri ingin sekali tertutup rapat dan tertidur dengan pulas, tapi tidak bisa. Kehadiran Yabe dengan membuatnya tidak bisa tenang. Apalagi penyebab pertengkaran dirinya dan Kagura adalah dimulai dari Yabe. Sosok Pangeran kecil bertopeng, Cinta pertamanya, tidak akan pernah dilupakannya. Dirinya sangat bersyukur bisa bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Sosok Pangeran yang baik hati, yang ia pikir ketulusan hatinya hanya untuk dirinya seorang, tapi kenyataan Yuri bukan satu-satu-nya cewek yang menerima kata-kata manis dan perlakuan istimewa. Mungkin hanya dirinya saja yang masih mengingat pertemuan pertama mereka, dan kalung pemberian dari Yabe. Jadi percuma saja bertanya pada Yabe, gadis kecil cengeng bergaun putih itu pasti tidak punya kenangan khusus di pikirannya.   

Semenjak penolakan Yabe terhadapnya, sampai Dia bertengkar dengan Kagura, Yuri memutuskan tidak ingin berhubungan dengan Kagura beserta teman-teman satu gank nya, Yabe, Rico tapi tidak dengan Arven. Yuri masih terikat sebagai partner dalam tugas musiknya. Yuri kehilangan cinta pertamanya, dan teman-temannya. Teman?! Sebenarnya Yuri juga bertanya dalam hatinya, sosok teman seperti apa yang ia inginkan.

Tok..Tok…

Yuri terbangun mendengar bunyi ketokan mejanya. Yabe duduk menghadapkan kursinya di meja samping Yuri, selalu dengan ciri khasnya tersenyum lebar ramah. Yuri menatap Yabe penuh keheranan. Kenapa tiba-tiba Yabe?

“ Temenin gue makan pagi bareng yuk. Nih roti buat lo.” Yabe memberikan roti coklat pada Yuri, dan dirinya memegang satu roti keju, kesukaannya, langsung dimakannya dengan lahap.

Yuri tidak menjawab, tapi dia tetap mengambil rotinya dan ikut makan bersama Yabe.

Yabe dengan cepat sudah menghabiskan rotinya, sementara Yuri masih memakan seperempat rotinya.

“Yuri..”

Yuri mengadangkan kepalanya kesamping menatap Yabe. “Iya?”

“ Gue enggak bisa jadi pacar ideal lo, tapi Gimana caranya gue bisa jadi temen ideal menurut penilaian lo?” Tanya Yabe, memandang dalam kedua mata Yuri.

Yuri meletakkan rotinya, menunduk sambil berpikir, Dia sendiri juga masih tidak tahu “Teman ideal menurut penilaiannya”. Yuri menutup kedua matanya, merenung mengingat kembali masa lalu nya. Dia teringat satu hal dari pengalamannya.

“ Enggak perlu orang yang punya pengaruh besar, terkenal atau kaya. Yang penting teman yang bisa diajak suka duka bersama dan bisa terima apa adanya. Juga bisa sama-sama membimbing bersama ke arah yang positif.” Jelas Yuri sedetailnya.

“Waah… rumit ya dan terlalu kaku deh.” Yabe menggelengkan kepalnya, sambil melipatkan kedua tangannya.

“ Kaku gimana sih?” ketus Yuri kesal.

“ Gini aja gue persingkat, Jadi lo enggak suka orang popular, kaya, tapi suka sama orang asik enggak kaku, bisa punya pengaruh positif, dan… terima tiap apa adanya?” Yabe melambatkan dan menekan suaranya pada kalimat terakhir.

Yuri mengangguk menyutujui penjelasan Yabe.

“ Kalau orang yang muka dua, lo enggak suka?”

Yuri mengerti arti lain dari pertanyaan Yabe. Dia sepertinya sudah mengerti kenapa Yuri tidak bisa berteman dengan mereka lagi. “Iya, enggak suka.”

Yabe tersenyum lebar, mengagukkan kepalanya, menatap kebawah, dan tidak lama kemudian, menatap Yuri tajam. “ Kita semua punya masa lalu yang sama-sama berat. Mungkin kita terlihat seperti orang-orang bermuka dua, tapi gue enggak pernah merasa Ketika diluar sekolah, kita bermuka dua, dalam konteks negatif. Kita hanya menjaga masa lalu kita, tidak menjadikan penghalang untuk kita bisa berteman dan dekat.”  Jelas Yabe, dan untuk pertama kalinya Ia melihat Yabe berbicara serius, tidak ada senyum cengar- cengir santai.  

Cinta dan Persabatannya bukanlah hal yang main-main bagi Yabe. Kedua hal itu adalah masa lalu dan masa depan Yabe yang bisa membuatnya bisa seserius ini menjaganya. 

Yuri tahu Yabe saat ini jelas-jelas sedang membela dirinya dan teman-temannya, entah dia sedang memberi penjelasan atau memarahinya.

“ Gue tahu lo pasti kesel sama tingkah gue ini kan. Tapi Gue juga punya masalah sama kayak kalian.” Yuri membela diri, tidak mau kalah.

“Iya gue tahu.” Jawab Yabe tegas dan cepat, “ Gue sekarang sedang bantu jalan pikiran lo lebih positif dalam menilai orang, masuk criteria lo kan?” Senyuman ramah Yabe mulai bersinar kembali.

Senyuman ramah Yabe, meluluhkan perasaan Yuri. Sikap Yabe membuatnya tidak bisa untuk membencinya, begitu pula dengan yang lainnya.

Gue enggak pernah membenci Yabe, Rico, Arven dan... Kagura. Tapi kenapa gue begini?

“ Lo bisa terima gue yang begini, gue udah nilai kalian..” Yuri memandang Yabe dalam.

“ Kita bisa terima lo apa adanya.” Yabe sudah memotong omongan Yuri, tahu keluh kesah yang akan apa yang akan disampaikan Yuri.

Mata Yuri berkaca-kaca, tidak tahu apa yang harus ia katakana lagi. Bukan sebuah pembelaan atau beradu argument, tapi Yuri sendirilah yang membuatnya kalah dan malu mengakui tingkah bodohnya. Sebutir air mata mulai jatuh dari pipi kanannya, lalu pipi kirinya juga ikut basah karena air matanya terus berjatuhan. “Ke..kenapa harus gue? Kalian bisa cari yang lebih baik dari gue.” Tanya Yuri lirih.

“ Karena lo mirip sama seperti kita. Kita enggak nyari yang lebih baik atau sempurna. Nobody is perfect.” Yabe mengusap air mata Yuri yang mengalir di kedua pipinya, dengan kedua tangannya. “ Kagura milih lo bisa gabung sama kita karena dia tahu lo juga butuh bantuan dan Kita juga butuh bantuan lo.”  Setelah menghapus air mata Yuri, Yabe malah mencubit gemas pipi kanan Yuri.

“ Aaah.. lepasin YABE!” Suara nada tinggi Yuri menarik perhatian Office Boy sekolah, yang kebetulan baru melewati di depan pintu kelas mereka.  

Office boy yang masih berpura-pura bersih bersih di depan kelas, tidak melepas pandangannya, berpura-pura mengintip di balik jendela. Yabe yang menyadari gerak gerik aneh office boy tersebut, melepas cubitannya karena takut dipikir melakukan hal aneh-aneh di dalam kelas berdua saja. 

“Jadi gimana? Lo dan Kagura bisa baikkan lagi kan?” Tanya Yabe, duduk bersandar santai, sengaja menjaga jarak tidak terlalu dekat dengan Yuri.

“Hmm.. iya. Tapi itu kalau Kagura mau. Gue masih bisa dimaafkan kan gak?” mulut Yuri manyun.

“Itu tergantung usaha lo.”

“Waaah kalian berdua ngapain berduaan aja?!” teriak suara nyaring seorang cewek yang tidak asing, Siska, si tukang gossip.

Yabe dan Yuri kaget, menengok bersamaan kearah pintu kelas.

“Kalian berduaan aja ngapain nih? Hayooo..” goda Mita yang berdiri disamping Siska.

Yabe dan Yuri sudah tahu benar kebiasaan jelek kedua orang ini, mencari sensasi dan menyebar rumor atau gossip adalah kesenangan mereka. Apalagi jika gossip tersebut berhubungan dengan Yabe, cowok yang disukai mereka berdua tapi tidak pernah dipedulikan Yabe.

“Yuri, biar gue yang urus mereka. Lo fokus pikirin baikan sama Kagura aja.” Bisik Yabe ketelinga Yuri.

Siska dan Mita yang masih berdiri di depan pintu, cemberut tidak menyukai melihat kedekatan Yabe dan Yuri. Yabe bangkit dari tempat duduk, berjalan kearah kedua cewek tersebut. Berdiri di tengah. Ini adalah saatnya Yabe mengeluarkan jurus penggodanya pada kedua fansnya. Walaupun sebenarnya apapun yang dilakukan Yabe selalu membuat Siska dan Mita selalu terpana. 

“ Habis pulang sekolah kalian mau ngedate sama gue gak?” Tanya Yabe tersenyum menggoda Siska dan Mita.

Siska dan Mita kaget tidak percaya telah diajak Yabe berkencan, diajak oleh cowok yang selama ini mereka sukai bersama, tapi tidak pernah dipedulikan, dan hanya bisa menatap Yabe dari jauh. Kesempatan ngedate dengan Yabe memang menggiurkan, tapi mereka juga tidak bodoh, tahu maksud terselubung pengalihan semata.

“ Gue tahu, Lo ngajak nge-date buat nutupin mulut kita buat sebarin rumor kalian berdua kan?!” Siska memberanikan diri menolak tidak tertipu rayuan Yabe.  

“ Rumor tentang gue sama cewek-cewek udah banyak, satu cewek nambah enggak berarti apa-apa. Tapi Kalau kalian enggak mau…” Yabe melirik menggoda berganti kearah Mita.

“ Gu..gue mau! Mau!” balas Mita terpancing godaan Yabe.

“Mita!!” bentak Siska.

Mita berbalik menatap tajam Siska, “Kalau lo enggak mau, biar gue sama Yabe aja.”

Melihat kedua cewek ini mulai tidak kompak dengan argument mereka, Yabe tersenyum puas. “ Mita, temenin gue cari minum ke kantin yuk” ajak Yabe sambil merangkul punggung Mita.

“Iya Iya!” Mita mengaggukkan kepalanya, nurut mengikuti Yabe.

Tiba-tiba langkah Yabe berhenti, Siska menarik kemeja Yabe, “ Ajakan ngedate nya kan untuk dua orang kan?” Tanya Siska malu-malu.

Siska akhirnya ikut terpancing rayuan Yabe.  Yabe langsung merangkul bahu Siska juga, mengajak mereka berdua keluar kelas.

   ***

“Hei manis..” seseorangenepuk bahu Rico.

Rico terkejut, menengok kebelakang, ternyata Yuri yang menepuk bahunya. Rico menarik nafas lega. “Haaah… ternyata lo. Gue kira ada orang aneh nungguin gue keluar dari toilet.”

“ Nungguin lo keluar dari toilet? Ngapain?” Yuri kebinggungan.

Ekspresi Rico berubah jadi kesal menatap Yuri, teringat semuanya berasal dan bermula dari Yuri dan Kagura. “Ini semua gara-gara lo sama Kagura.”

“Hah?! Kok jadi gara-gara gue sama Kagura?” Yuri panik,makin binggung.

“ Waktu gue disuruh pakai wig jadi cewek, di toilet cowok, ada cowok yang ngeliat gue yang udah jadi cewek didalam toilet cowok. Jadi…” Rico menarik nafas panjang, malu untuk mengatakannya tapi dia harus. “ ada rumor cewek manis yang suka pakai toilet cowok sore-sore, atau ada yang bilang lagi, ada cewek mesum penunggu toilet cowok.”

Yuri menggit bibirnya, berusaha menahan tawanya, “Pft..Lo.. lo  tau semua itu dari mana?”

“Dari gossip cowok-cowok di dalam toilet. Makanya gue agak parno kalau ada orang yang manggil gue tiba-tiba di depan toilet.” Curhat Rico merasa terbebani dengan semua rumor ini.

Yuri tidak bisa lagi menahan tawanya. Tertawa lepas. Siapa sangka Rico yang menyamar jadi cewek ternyata bisa jadi begitu popular dan disukai banyak cowok-cowok yang begitu penasaran, sampai jadi bahan gossip di dalam toilet cowok.

Sebagai Rico, Dia suka diejek para cowok-cowok, berbanding terbalik jika ia jadi cewek, pasti cewek manis ini akan popular, mungkin bisa menyayangi Kagura. Fisik luar Rico memang mendukung, bermodal badan ramping, kulit muka yang mulus, lalu kacamata tebal yang menutupi bulu matanya yang lentik dan panjangnya.

“ Eh.. tunggu." Rico baru teringat sesuatu, "Bukannya lo udah enggak mau dekat-dekat sama kita lagi? Apalagi sama Kagura kan?” Pertanyaan tanpa basa-basi Rico menusuk perasaan terdalam Yuri.

Yuri berhenti tertawa, Kali ini dia mulai serius, kembali ke tujuan utamanya menemui Rico“ Iya gue minta maaf udah bersikap enggak jelas, terutama sama Kagura. Gue mau baikan dan semoga bisa dekat lagi sama dia dan kalian juga. Kalau masih bisa sih..” Yuri tertunduk malu, tidak percaya diri.

“ Gue sih enggak masalah. Karena gue tahu, lo bakal balik lagi sama kita. Feeling aja." Rico menyambut hangat permintaan maaf Yuri. "Tapi lo beneran sungguh-sungguh mau berteman dengan Kagura dan kita semua? Kita yang seperti ini?!” Rico dengan tegas menanyakan balik keseriusan Yuri atas penyesalannya.

“ Iya gue serius.” Jawab Yuri tegas.

Rico berpikir untuk beberapa saat, memikirkan bagaimana cara membantu Yuri dan Kagura. Akhirnya dia menemukan caranya. “ Sepulang sekolah, tungguin gue sekitar 30 menit di perpustakaan. Gue bantuin lo.”

Masih belum paham rencana Rico, tapi Yuri tetap mengikuti rencana Rico, Dia percaya pada Rico.

**

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

dede_pratiwi
2018-12-22 21:01:52

prince story never die hehe, penulisannya oke punya dan deskripsinya mantap... udah kulike dan komen storymu. mampir dan like storyku juga ya. thankyouu
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

459 352 4
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

713 526 9
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Anne

Anne's Tansy

By murphy

855 543 9
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

692 514 8
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

586 453 8