7

 

Yuri menarik nafas pasrah menundukkan kepalanya kebawah. Diambilnya pulpen di meja dan mencoret-coret di buku halaman kosong. Mencoret asal, bentuk abstrak lingkaran-lingkaran, yang ia sendiri tidak tahu gambar apa yang ia buat. Berusaha terus menerus menahan emosi nya karena kesiallannya nya hari ini. Duduk di dalam ruang musik, sambil memandang keyboard di didepannya, tiba-tiba suara pintu ruangan musik terbuka.

“ Yuri!” Sapa Kagura sambil masuk ke dalam ruang musik, diiringi kedua orang laki-laki di belakangnya, Rico dan Yabe.

Senyum Yuri bermekar lebar melihat ketiga orang ini.

“Hai!!” Yuri berdiri dari tempat duduknya menghampiri mereka, “Kalian juga latihan disini?”

“Enggak kok. Kita Cuma mau jenguk lo doank.” Jawab Kagura sambil menggarukkan tengkuk belakang kepalanya.

“Hmm.. Gue harus sekelompok bertiga sama mereka, buat tugas kelas musik dan nyatanya mereka sama sekali belum punya ide apa-apa buat tampilin apa. ” keluh Rico sambil melihat kedua orang disampingya, Kagura dan Yabe yang tampak masih santai. Dahi Rico mengerut melihat senyum lebar Yabe. “Yabe, enggak usah senyum-senyum! Awas kalau banyak bolos latihan gara-gara cewek ya!” peringatan Rico yang masih disenyumin Yabe dengan muka santai nya.

“Aah. Tenang aja, Rico. Gini-gini kan dulu waktu kecil, gue pemain piano handal.” Jawab Yabe membanggakan dirinya.

Jantung Yuri mulai berdebar ketika Yabe mengatakan dirinya pemain piano saat kecil. Sosok Pangeran bertopeng yang selama ini di cari-cari ada di depannya. Dia masih baik, ramah dan memiliki senyuman yang manis, walalupun sekarang terlalu baik perlakuannya pada setiap cewek-cewek, ramah, tapi terlalu ramah pada setiap cewek dan senyuman nya masih manis, bahkan tambah menggoda apalagi untuk menarik perhatiaan para cewek-cewek.

Tiba-tiba Yabe sudah merangkul bahu Yuri dengan akrabnya, “ Yuri, lo enggak perlu takut dan canggung, walaupun Arven sombong, jutek, belagu...” sebelum Yabe menyelesaikan perkataanya, rangkulan tangan Yabe diangkat oleh Arven yang sudah berdiri dibelakangnya.

“ Yabe, Lo justru bikin Dia tambah canggung.” Ucap Arven melepaskan paksa rangkulan Yabe di bahu Yuri.

Yabe langsung bergantiaan merangkul Arven, “ Ven.. Lo jangan sinis-sinis banget sama Yuri. Kita kan sekarang satu sekutu.” Kata Yabe sambil mengelus pelan bahu Arven.  

Pandangan Arven beralih menatap tajam Yuri, Yuri mengedipkan mata berkali-kali mengalihkan pandangannya dari Arven. Jujur saja Yuri belum bisa merasa nyaman berada di dekat Arven, beda hal nya dengan Kagura,Yabe dan Rico.. Arven di mata Yuri tetap sangat terasa dingin dan sulit untuk dipahami. Entah ini memang sudah nasib nya atau takdir nya untuk harus bisa mengakrabkan diri dengan Arven, dengan cara satu tim untuk tugas musik yang harus ditampilkan bersama.

“ Kalian bertiga urus tugas kalian, tinggalin kita berdua.” perintah Arven. 

Kagura,Rico dan Yabe langsung menurut dan pergi meninggalkan Yuri dan Arven berdua saja di ruang musik. Ketika pintu ruang musik sudah tertutup, mereka berdua saling berhadapan, tanpa bicara dan terasa dead air diantara mereka berdua.

Arven berjalan, duduk di depan keyboard, dan Yuri secara spontan mengikutinya dan duduk di depannya.

“Hmm.. Jadi kita mau tampilin apa buat bulan depan?” tanya Arven langsung pada inti pokok permasalahan.

“ Lo mau main musik ya?” tanya Yuri, matanya menatap Arven tengah bersiap mengotak-atik keyboard. Sudah jelas sekali cowok ini tidak akan lepas dari alat musik kesukaannya ini.

“ Iya. Gue main keyboard ini. Lo sendiri?’ jawab Arven cepat sambil mengelus lembut keyboardnya.

“Gue...bisa main pianika...” jawab Yuri masih dalam keraguan.

“Gue main keyboard dan lo mau main pianika? Yang bener aja?! Ganti!!” tolak Arven keras.

Yuri berpikir ulang memikirkan alat musik yang masih bisa ia gunakan, “Ah! Main suling aja deh.” Usul Yuri lagi. dan lagi-lagi Arven beranggapan sama seperti sebelumnya.

“ Suara suling lo kalah banget sama keyboard gue. Kecuali kalau lo bisa main saxophone selain suling.” Tolakan dan sindiran Arven makin membuat Yuri kesal.

“ Ya udah sekalian aja gue main gitar.” Jawab asal Yuri dengan nada mulai sedikir kesal.

“ Ide bagus. Tapi buat ngajarin lo main gitar kayaknya butuh waktu lebih dari 1 bulan, buang-buang waktu. Cari yang lain.” Desak Arven makin membuat Yuri makin gemas kesal. Namun tiba-tiba Arven teringat sesuatu yang mungkin bisa digunakan Yuri untuk tampil, “ Lo nyanyi aja deh. Gue...”

“ENGGAK!!” Tolak keras Yuri memotong perkataan Arven.

Arven terkejut, raut muka cewek di depannya ini tidak pernah ia lihat sebelumnya, ketakutan dan amarah.

“ Gue enggak bisa nyanyi.. enggak bisa.. enggak bisa sama sekali!” Yuri menudukkan kepalanya tidak berani menatap Arven. Lalu tiba-tiba, Dia bangkit dari tempat duduk nya dan berlari keluar ruangan musik, meninggalkan Arven yang masih terdiam di tempatnya.

***

“ Gue suka sama Yabe.” Kata Yuri tiba-tiba, memecahkan keheningan Kagura yang sedang asik main handphone nya dan Rico yang baru saja ingin meneguk minunnya kaget sampai mengeluarkan es tehnya perlahan masuk ke dalam gelasnya lagi.

Mereka duduk bertiga di sebuah cafe, setelah pulang sekolah dari kerja kelompok tugas musik mereka. Yabe tidak bisa ikut bersama mereka, karena dia punya kesibukannya lainnya.  dan Arven menolak juga dengan alasan malas. Walaupun sebenarnya karena perasaannya tidak enak hati, karena setelah kejadian Yuri kesal padanya dengan muka masam nya tidak ingin memandangnya sama sekali, Sadar diri mungkin Yuri butuh waktu untuk menenangkan diri.

Ketenangan Yuri bisa di rasa ketika bersama Kagura dan Rico. Begitu tenangnya tanpa ragu memberitahu Mereka tentang orang yang ia sukai, Yabe.

“Gue benar-benar suka sama Yabe. Mungkin perasaan ini gue rasakan sejak dia tolongin gue dari gank si cewek pirang, dan perlahan terus dan terus sikap Yabe terus bikin gue tambah baperan banget dan enggak tau kenapa gue rasa ini benar-benar perasaan yang lebih dari sekedar teman.” Jelas Yuri panjang lebar, mengungkapkan tentang isi hati nya, walaupun sebenarnya belum semuanya di ungkapkan, termasuk karena dia tahun Yabe adalah Pangeran bertopengnya, perasaannya menjadi semakin kuat.

Rico meletakkan gelas nya keras di atas meja. “Lo harus lupain Yabe!” Rico dengan keras menyuruh Yuri melupakan Yabe.

Bibir Yuri manyun, tidak terima.“ Kenapa? Lo kan teman dia udah lama. Lo juga tahu Yabe itu orang yang baik, dan dia itu setia kawan ke kalian. Kalau teman aja dia bisa setia, apalagi pacarnya nanti. Misalnya...gue gitu..” Yuri menyentuh kedua pipinya bersikap imut malu-malu.

Rico benar-benar tambah geli dibuat dengan tingkah Yuri, “ Yabe itu playboy, belum bisa jadi cowok baik, makanya dia enggak pernah pacaran sama teman-teman ceweknya." Rico menghembuskan nafas,".. Tapi gue akuin dia teman yang baik, setia kawan orangnya. Jadi kalau lo mau bisa setia dan awet sama Yabe, jadi TEMANNYA AJA!” nada Suara Rico naik menegaskan kata teman ke Yuri.

“Enggak bisa. Gue harus sama Yabe, Cuma dia yang bisa bantu... ba..bahagia-in gue” balas Yuri tergagapan. Hampir saja ia mengucapkan hal yang tidak seharusnya ia katakan. 

Kagura yang sejak tadi diam tidak ikut komentar, tapi setelah mendengar Yuri bilang dia bisa bahagia karena Yabe. “ Gue dukung lo.” Ungkap Kagura mengagetkan Rico yang tidak menyukai dukungan Kagura, sedangkan wajah bersemi bahagia Yuri mendapat dukungan dari Kagura.

Yuri menggenggam tangan Kagura erat, “ Makasih yaa. Lo emang teman yang baik dan mau bantuin gue bisa jadian sama Yabe.” Mata penuh harapan Yuri pada Kagura bisa membantunya. .

“Ehmm bantuin gimana ya?” tanya Kagura polos.

Namun belum sempat menjawabnya, Rico sudah memotong pembicaraan mereka, “ Kagura, lo kan yang paling tau sendiri gimana playboy Yabe. Masa lo tega Yuri dimainin sama Yabe.”

“ Karena gue yang paling tau Yabe. Gue tau dia pernah begitu gila setia sama satu cewek. Dia bisa serius jalanin hubungan kok.” Penjelasan Kagura membuat Rico terdiam tidak berkomentar lagi.

Sebaliknya sekarang Yuri yang ingin berkomentar dan penasaran siapa cewek yang pernah begitu disukai Yabe. Tapi Yuri juga ikut diam tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin lebih baik begini. Yuri menyukai Yabe sebagai Pangeran bertopeng, bukan masa lalu Yabe yang lain, yang pernah setia menyukai cewek lain.

***

 Tring..

Notifikasi Chat dari Hp Yuri berdering, Yuri yang sedang sibuk merapikan meja nya, mengecek Hp sebentar. Pesan masuk dari Arven.

[Arven]  Jangan pulang dulu. Gue tunggu di ruang musik. Ada yang perlu kita omongin.

Yuri tidak membalasnya langsung. Pikirannya masih teringat kejadian kemarin saat dia membentak Arven tiba-tiba, padahal itu bukan salah dia. Hanya saja, Yuri belum siap untuk menyanyi di depan orang banyak lagi. Tapi Lagi-lagi sepertinya Arven akan memaksanya menyanyi.

[Yuri] Ok

Balas Yuri singkat. Walaupun masih ragu. Tapi dia tidak bisa berlama-lama menghindar dari Arven yang seolah membawa nya untuk mengingat masa lalunya dan ketakutannya.

Yuri menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan. Dibukanya pintu ruang musik, hanya ada sosok Arven yang seorang diri duduk di depan keyboard. Laki-laki tersebut tidak pernah jauh-jauh dari keyboard tersebut. Arven tidak memalingkan wajahnya atau melirik sedikit pun, ketika Yuri datang.

Yuri mendatangi Arven dan duduk di kursi berhadapan langsung dengan Arven. Arven masih tidak menunjukkan responnya. Yuri jadi binggung sendiri. Kemarin dia bersikap jutek pada Arven, tapi kenapa sekarang Arven yang bersikap jutek? Balas dendam?

“Erghhmm..” suara batuk disengaja Yuri, “Ehm.. Jadi lo mau ngomong apa? Soal kemarin...”

“Ssstt... diam bentar. Gue mau nyanyi.” Suara Arven akhirnya terdengar. Ternyata di sedang sibuk mengatur persiapan dirinya akan menyanyi di depan Yuri. “Dengerin..”

Yuri mengangguk tanpa sadar menurut.

Suara alunan musik dari keyboardnya dimulai. Alunan musik ini terasa tidak asing, lagu yang popular. Tidak lama kemudian Arven membuka mulutnya, bernyanyi.

What would I do without your smart mouth
Drawing me in, and you kicking me out
Got my head spinning, no kidding, I can’t pin you down
What’s going on in that beautiful mind
I’m on your magical mystery ride
And I’m so dizzy, don’t know what hit me, but I’ll be alright

Lagu John Legend berjudul All of me, dinyanyikan Arven dengan pelafalan inggris yang begitu lancar dan suaranya sangat bagus, mirip dengan penyanyi asli nya. Benar-benar mirip dengan suara John Legend.

Yuri benar-benar tidak menyangka cowok ini bisa bertingkah konyol, lipsing menyanyikan lagu John Legend, lalu dengan percaya dirinya dia begitu percaya diri cuma mengerakkan bibirnya meniru John Legend. 

Suara Penyanyi asli lagu All of Me tu berasal dari speaker Bluetooth yang diletakkan di meja belakang Arven, bersampingan dengan Handphone Arven sumber suara music tersebut.

Arven terus melanjutkan akting lipsing-nya  memainkan jari jemarinya di keyboard yang ternyata kabel penyambung listriknya sudah dicopot Arven.

Yuri tidak bisa menahan mulut nya tertawa lepas melihat tingkah konyol lipsing Arven di depannya. Image cowok perfectsionis, ternyata tidak sesempurna itu jalan hidupnya.

Arven tetap melanjutkan lipsingnya dengan acting yang penuh penghayatan. Tiba-tiba ada bagian lirik yang ia lupa dan salah pengucapnnya, tidak selaras mulutnya dengan suara asli John legend. Ini ekspresi pertama kalinya dia melihat Arven terlihat bodoh dan sangat lucu.

Melihat Yuri tertawa begitu lepas. Arven tersenyum puas melihat cewek ini akhirnya bisa tersenyum lagi. Tidak sia-sia usahanya bersusah payah bertingkah konyol untuk mengembalikan mood Yuri. Arven terus kepikiran tentang kejadian kemarin. Apa mungkin ini memang salah dia, terlalu jutek atau terlalu dingin, sampai dia tidak sadar kata-katanya menyinggung perasaan Yuri?

Sumber informasi, Rico, menasihati Arven, tahu letak dimana kesalahan Arvcen. Karena Yuri adalah calon kandidat kuat untuk bisa masuk geng mereka, Rico harus tau informasi tentang cewek ini. Informasi penting tentang Yuri yang ia kumpulkan adalah dia pernah mengikuti tranning menjadi Idol korea, tapi tidak lulus. Setelah itu, dia berhenti bernyanyi dan tidak pernah menunjukkan bakat menyanyi lagi di depan banyak orang.

Mengetahui masalah Yuri, Arven teringat akan dirinya sendiri. Dia pernah putus asa sampai tidak pernah lagi menyentuh piano alat musik kesayangannya ini. Tapi itu bukan jawaban atas masalahnya, Arven merasa dia hanya melarikan diri dari masalah satu ke masalah lainnya. Setelah melewati masa sulit itu, Arven akhirnya bisa kembali berdamai dengan dirinya sendiri, dan tidak menyalahkan musik atas semuanya.

“Yuri.. mau coba lipsing juga?” Tanya Arven seteleah mematikan speaker nya, dan menyerahkan handphonenya pada Yuri untuk memilih lagunya.

Yuri mengambil handphone Arven, menggigit bibirnya, ragu apa dia harus melakukannya atau tidak.

Arven melihat keraguaan dari muka Yuri, “Ini Cuma lipsing, santai aja, kayak gue tadi.” Hibur Arven mencoba menenangkan Yuri.

“Hmm.. iya gue coba.” Yuri menganggukan kepalanya tersenyum tipis, dan mencari lagu pilihannya. “ Kita lipsing duet yuk?” ajak Yuri cukup mengagetkan Arven, tapi cowok itu tetap menyetujui permintaan Yuri.

Mereka berdua menyanyikan lagu dari John legend dan Megan tranor, judul Like I’m gonna lose you. Mereka berdua lipsing bersamaan dengan pengucapan mulut yang benar namun, ekspresi acting mereka tidak bisa sempurna dengan baik, senyuman geli sendiri melihat diri masing-masing. 

Setelah mereka selesai lipsing lagu, Arven mulai berkata, “ Gue tau sebenarnya lo punya suara yang bagus, tapi kenapa harus lo sembunyikan?” Tanya Arven menatap lurus Yuri.

Yuri tidak menyangka seorang Arven bisa khwatir, ia kira cowok ini adalah cowok super jutek dan dingin pada orang lain. Perasaan Yuri melemah karena ternyata dirinya juga merasa bersalah pada Arven dan dirinya sendiri. “Gue.. Cuma enggak ingin nyanyi lagi..” jawab Yuri, menundukkan kepalanya tidak berani menatap Arven.

“ Tidak begini cara lo selesaikan masalah. Ada banyak orang ingin bisa melakukan sesuatu, tapi karena keterbatasan mereka, mereka melepaskannya. Sedangkan lo disini, enggak ingin melakukannya, tapi lo tahu bisa, punya bakat itu.” Arven masih menatap lurus ke arah Yuri, yang tidak mau memperhatikannya.

Perkataan Arven membuka pikiran Yuri, mengingatkannya pada cewek yang dulu dianggapnya lemah dan tidak berbakat seperti dirinya. Cewek itu tahu dia tidak memiliki bakat seperti Yuri, tapi ia bekerja keras, pantang menyerah, dan hasilnya dia sukses dan berhasil. Yuri merasa tertampar, merasa iri dan kecewa karena kesuksesan seseorang. Yuri sebenarnya tahu cewek itu berusaha keras dan menderita karena ejekan orang lain, termasuk dirinya sendiri yang pernah mengejeknya.Tidak seperti cewek tersebut, Yuri justru lebih lemah dan takut menerima ejekan dan hinaan orang lain.

“Arven… Gue suka nyanyi.. gue punya bakat nyanyi, tapi gue takut penilaian orang dan judge orang.” Yuri mulai berani menatap mata Arven.

“ Kita enggak bisa menyenangkan dan memuaskan semua orang. Kayak gue ini. Gue tahu banyak orang yang enggak suka sama gue, tapi gue enggak mungkin memaksa mereka buat suka sama gue. Itu melelahkan dan tidak ada gunannya.” Jelas Arven dengan sabar memberi nasehat pada Yuri.

Yuri menundukkan kepalanya lagi, merenung nasihat Arven. Yuri bangkit berdiri dan berjalan, berdiri disamping Arven. Diambilnya handphone Arven yang diletakkan di meja disamping Arven.  Tangan Yuri terus menyentuh layar sentuh handphone Arven.

Arven tetap diam sambil memperhatikan gerak gerik Yuri. Dibalik ekspresi kalem dan diam Arven, sebenarnya pikiran cowok ini melayang jauh kemana-mana, takut caranya tidak berhasil menghibur Yuri. Dipikirannya mungkin dia sedang block nomor dirinya di handphonenya atau akan melemparkan handphonenya, mengejek Arven dan nasihan sok bijaknya.

“ Kali ini enggak perlu lipsing, kita cari lagu buat gue nyanyiin dan lo ngiringin pake ini keybord.” Yuri sudah kembali, tersenyum ceria bersemangat kembali ingin melanjutkan tugasnya bersama Arven.

Yuri tidak menyadari beberapa detik lalu, raut muka Arven begitu terkesima baru menyadari, wajah cewek ini terlihat sangat manis saat tersenyum begitu cerianya.

***

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

dede_pratiwi
2018-12-22 21:01:52

prince story never die hehe, penulisannya oke punya dan deskripsinya mantap... udah kulike dan komen storymu. mampir dan like storyku juga ya. thankyouu
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

584 452 8
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 758 13
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

711 537 8
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

577 450 14
Anne

Anne's Tansy

By murphy

850 539 9
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

433 321 6