6

 

Yuri memandang foto dari layar hp touchscreen handphone-nya, sebuah foto yang diambil saat mereka berkumpul bersama di cafe minggu lalu. Dizoom nya foto tersebut, terfokus pada satu pria tampan kesukaannya, Yabe. Yuri tersenyum begitu senangnya bisa foto bareng dengan Yabe. Lalu tangannya bergerak bergeser menyentuh layar handphone touch sreen-nya, menuju group chat bernama “Secret”, Group chat berisi Kagura, Yabe, Arven, Rico dan Yuri sendiri sebagi member baru. 

Dirinya masih tidak menyangka dirinya bisa bergabung ke dalam kelompok ini. Ekspetasi nya sebagai Anak baru yang hanya berharap bisa bertemu dan berteman dengan murid-murid biasa di sekolah barunya, tapi Realita nya dia berteman dengan orang-orang yang bisa dibilang popular. Kagura dengan julukannya sebagai Ice Queen, Yabe, si playboy, Arven, anggota komite yang strick suka memberi poin negatif pada setiap murid, dan Rico yang bisa dibilang orang yang paling beruntung bisa ikut bersama mereka ini, walaupun dia tahu masih sering menerima cibiran dari banyak orang. 

[Yabe] Hai siang Yuri

Notif chat masuk muncul, tepat saat Yuri sedang bermain handphone-nya.

Mata Yuri rasanya ingin meloncat begitu mendapat chat dari Yabe. Yuri duduk tegap dari posisi terlentang santai dari tempat tidur. Berusaha menarik nafas dalam-dalam, tetap rileks.

[Yuri] Iya siang Yabe ^^

[Yabe] Sibuk gk? Mau nonton bareng gak? Jam 3 sore

Lagi lagi balasan chat Yabe membuat cewek ini tidak bisa bersikap santai menahan rasa senangnya. Yuri menjerit dalam hatinya, tersenyum lebar melihat chat Yabe yang sudah dibacanya, tapi belum dibalasnya. Yuri mengatur nafasnya lagi perlahan, dan mulai membalasnya lagi.

[Yuri] Enggak terlalu sibuk kok. Nonton apa?

[Yabe] Nonton film Superhero. Suka enggak?

[Yuri] Suka kok. Oke. Ketemu dimana?

[Yabe] Di Mall XXX, gue tunggu di dalam bioskop ya. Jam 3 sore ya.

Yuri melihat jam di handphone-nya jam 14.00. Yuri langsung meloncat dari tempat tidurnya. Membuka lebar lemari pakaiannya, memilih satu persatu pakaiannya. Setelah selasai mendapat baju yang cocok. Yuri berlari membuka lemari make up nya, dan cermin besar, saat nya make up.

***

Yabe duduk di sofa di dalam bioskop, sambil melihat jam tangan digitalnya, waktu menunjukkan pukul 14.50.

“Yabe..”

Yabe menengok mendengar suara cewek yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Yabe menepuk sofanya dan menyuruh Yuri duduk di sampingnya. Yuri pun duduk canggung, menjaga jarak duduk nya tidak terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh.

Yuri menyisir rambutnya dengan tangannya, merapikannya, memastikan tidak berantak lagi. Waktu untuk dandan dan perjalanan menuju bioskop menguras tenaga dan pikirannya. Mulai dari pakaian sampai make up-nya, memastikan semua nya terlihat sempurna dan tidak berlebihan.

Rencana awal ingin memakai dress, tapi di pikir ulang lagi, mungkin nanti Yabe akan berpikir aneh karena pakaiannya terlalu berlebihan. Benar-benar Cuma ajakan jalan bareng dengan teman kan? Yuri sendiri tidak ingin dilemma dengan perasaannya saat ini, lebih baik memastikan langsung dari mulut cowok ini. Akhirnya ia menjatuhkan pilihannya pada jeans putih dan blouse denim-biru dongker. 

“Ehmm.. Lo enggak ngajak Kagura, Arven atau Rico?”

“ Tiket nonton nya buat dua orang. Gue enggak mungkin ngajak cowok, Arven atau Rico. Zaman sekarang pikiran orang udah aneh-aneh kalau liat dua cowok nonton berdua.”

Yuri tertawa kecil mengerti maksud Yabe. “Haha. Iya juga sih. Terus kalau Kagura?”

“Kalau Kagura lebih parah lagi.” Yabe mengehela nafas panjang, jika teringat pengalamannya waktu nonton berdua dengan Kagura.

 

“ Ini cewek lama banget sih. Film nya udah mulai nih!” gerutu Yabe berdiri sendirian.

“Eeeh liat deh. Itu cowok ganteng ya.” Suara lembut seorang perempuan di belakang bersama kedua teman nya yang mengiyakan perkataan tentang cowok ganteng di depan mereka.

Yabe sudah sadar betul dirinya memang sering mendengar kata-kata “ganteng”, jadi pujian dan tatapan banyak orang makin membuat rasa percaya dirinya makin meninggi.

“Jacket biru cerahnya bikin tambah keren ya.” saut salah satu dari ketiga perempuan itu, menatap cowok didepannya berbunga-bunga.

Yabe melihat lagi jaket yang ia kenakan, bukan berwarna biru, tapi hitam. Kalau begitu bukan dia satu-satu nya cowok ganteng yang di sebut-sebut cewek- cewek tersebut.

“ Oii.. sorry lama.” Panggil Kagura sambil menepuk bahu Yabe. Perempuan ganteng ini mengenakan jaket biru cerah dengan penampilan versi gaya versi cowoknya, dan sudah pasti benar dialah pelaku yang dipuja-puja oleh cewek-cewek tersebut.

“Lo ngapain sih penampilan kayak gini?!” Yabe geram berusaha menahan emosinya.

“ Lagi pengen aja. Enggak suka?” Tanya Kagura santai.

Emosi Yabe tidak bisa ditahannya, “Iya GUE ENGGAK SUKA!! GANTI SEKARANG JUGA!!” bentak Yabe pelan, yang masih bisa mengontrol volume suaranya, walaupun sedikit agak kencang terdengar.

Kagura tersenyum, nyengir sendiri, melihat emosional Yabe yang dianggapnya sangat lucu. Kagura mendekat, dan menaruh kedua jarinya di depan mulut Yabe.

“Kamu enggak usah grogi gitu donk.” Goda Kagura dengan aksi nya yang membuat terkejut orang disekitarnya, termasuk ketiga cewek yang dibelakangnya.

 Yabe makin canggung melihat aksi iseng Kagura. Daripada makin emosian menanggapi Kagura, lebih baik langsung masuk kedalam bioskop. Tingkah usil Kagura bisa-bisa makin menjadi jadi sampai membuat jadi perhatikan banyak orang. Dan aksi usil Kagura tidak berhenti sampai disitu saja.

Didalam Ruang nonton Bioskop, sudah 2 jam berlalu dan film yang mereka tonton sudah mencapai ending, dan lampu di dalam bioskop sudah menyala semua. Yabe tetap duduk di bangku nya bersama Kagura yang masih menunggu deretan panjang orang-orang menuruni tangga.

“Yabe, tolongin gue.” Kagura menarik lengan Yabe, cowok tersebut menengok melihat Kagura terus memegangi rambutnya.

“Kenapa?”

“ Wig gue bermasalah nih. Bantuin gue betulin wig nya” pinta Kagura.

Yabe memeriksa wig Kagura dan dia menemukan  rambut asli Kagura keluar dari Wig nya. Tangan Yabe meraih dan membetulkan rambut Kagura. Ketika tangannya sibuk membetulkan wig Kagura, Kagura tersenyum aneh menatap Yabe dan ia tahu ini bukan pertanda baik.

“Posisi kita saat ini terlihat cukup mesra.” Bisik Kagura pelan.

“Posisi apaan?” Yabe binggung, tapi akhirnya dia menyadari badannya dekat saling berhadapan dengan Kagura, dan kepalanya miring menghadap muka Kagura, yang saat ini masih menyamar menjadi cowok jadi-jadian.

Yabe menahan nafasnya dan melirik sebentar kebelakang, berharap tidak ada yang memperhatikan mereka, berharap..berharap.. Jangan jadi PERHATIAAN. 

Deretan panjang  para penonton yang seharusnya sudah berjalan menuruni tangga, menghentikan langkah mereka sebentar dan berjalan lambat, karena mereka menemukan tontonan tambahan yang lebih menarik. Cerita kedua lelaki tampan dan aksi berani mereka tampil di public menunjukkan kedekatan mereka. 

 

“Semenjak saat itu, gue enggak enggak mau lagi ajak itu cewek gila.” kata Yabe yang baru menyelesaikan cerita pada Yuri yang masih setia duduk mendengarkan.

“Hahaha... Kagura emang enggak pernah bisa ditebak ya.” Yuri tertawa geli mendengar cerita Yabe.

Yabe memperhatikan Yuri yang masih asik tertawa. “Manis juga ya, kalau ketawa.” goda Yobe. 

Yuri kaget dan berhenti tertawa, muka nya mulai memanas tidak bisa menahan malu dan senangnya dipuji Yabe. Dan aksi Yabe selanjutnya yang bikin Yuri makin tambah panas suhu tubuh nya dari muka sampai kepalanya adalah Yabe tiba-tiba memegang tangannya.

“Yuuk.. udah jam tiga, kita nonton.” Ajak Yabe sambil menarik tangan Yuri menuntunnya berjalan menuju theater tempat mereka nonton.

Yuri menurut mengikuti arahan tangan Yabe yang masih memegangnya, tidak bisa dikelak begitu senangnya bisa menggandeng tangan hangat besar Laki-laki tersebut.

***

 Selesai film, mereka pergi ke tempat makan fast food, burger jadi pilihan Yabe untuk makan bersama Yuri. Yabe berdiri di barisan antrian tempat memesan makanan dan Yuri duduk manis menunggu Yabe. Gadis itu menatap punggung Yabe dari jarak kursi kayunya yang tidak terlalu jauh dari posisi Yabe yang berdiri sendirian di antria kedua. Yuri menoleh kembali menatap kosong meja nya didepannya. Mood cewek ini berubah saat mereka selesai nonton. Bukan karena ending film nya yang tidak memuaskan, tapi pernyataan Yabe yang menjatuhkan perasaan berbunga-bunga Yuri.

“Yuri, sebenarnya, tiket nonton kita bedua ini, awalnya buat nonton berdua sama teman kencan gue. Tapi tiba-tiba dia enggak bisa datang karena urusan keluarga. Dari pada sayang di buang, mending ajak teman nonton bareng kan?!”

Benar-benar menusuk kepala dan hati lemah Yuri.  Cara bicara Yabe yang santai dan apa adanya jujur, tidak bisa membuat Yuri marah dengannya. Mungkin kesalahannya ada pada diri Yuri sendiri. Memikirkan terlalu jauh makna ajakan jalan berdua, nonton sampai makan bersama,  padahal mereka baru saja berteman beberapa bulan.

Yuri yang masih asik dalam lamunannya, kaget tiba-tiba di mejanya sudah ada tumpukan 2  buger dan kentang goreng beserta minuman soda.

“Aaah gue laper” Yabe langsung mengambil burger nya, melahap satu gigitan besar burger nya kedalam mulutnya.

Melihat Yabe begitu lahap nya menyatap makanannya, Yuri mengambil kentang goreng ikut makan, walau sebenarnya dia sedang tidak nafsu makan. Lalu tiba-tiba Hp Yabe berbunyi, panggilan masuk dari seseorang bernama Lala. Yabe menaruh burger nya dan mengangkat telephone dari cewek bernama Lala.

Ya hallo?

Hmm.. iya enggak apa-apa. Gue jalan sama teman cewek gue. .... ya ada pokoknya teman cewek, lo juga teman cewek gue kan? .... Iya have fun,bye.

Percakapan kedua orang tersebut selesai.

“ penasaran ya,Yuri?” Tanya Yabe tiba-tiba mengejutkan Yuri.

Iya gue kepo banget!!

“Aahhm... penasaran apaan ya?” kelak Yuri tidak berani menatap Yabe yang terus mentapanya menggodanya.

“ Iya, dia cewek yang batalin nonton sama gue.” Jelas Yabe tanpa diminta, seperti tahu cewek di depannya ini berbohong.

“ Dia.. cemburu gue jalan sama lo?” Tanya Yuri akhirnya terpancing.

“ Kayak nya sih gtu.. tapi bodo amat. Gue udah jelasin dari dulu, just friend, jangan berharap lebih.” Yabe mengambil burgernya lagi, dan memakannya.

Yuri menatap Yabe yang masih terlihat tampan walaupun sedang makan dengan mulut terbuka dengan ukuran burgernya yang besar. Dan ia yakin bukan hanya dirinnya yang berpikir begitu, karena dua cewek di sebelah mereka juga tersenyum malu-malu, melirik kearah Yabe terus. Memang dia tampan, tapi sayang dia juga playboy.

Yuri makin tidak nafsu makan, dia hanya minum, dan burger nya belum disentuhnya sama sekali.

“ Yabe.. lo tau kalau lo itu playboy kan?” tanya Yuri sambil meletakkan minumannya dan menatap tajam Yabe.

“Iya gue tau kok.” Jawab Yabe santai, dia sudah menghabiskan burgernya dan minum minumannya.

“ Lo kenapa...” Yuri ingin menanyakan lebih dalam alasan Yabe bisa jadi playboy, tapi dia ragu, karena takut menyinggung Yabe, tapi Yabe mengerti maksud cewek ini.

“ Karena gue milih untuk begini. Dan cewek-cewek yang gue kencani, enggak masalah. Mereka senang, gue juga senang.” Jelas Yabe tanpa beban atau embel-embel muka melankonis merasa terisinggung. 

Yuri belum bisa terima dengan jawaban Yabe, pasti ada sesautu, “Apa lo enggak pernah suka benar-beanr suka sama satu cewek dengan tulus?” tanya Yuri serius.

Untuk beberapa detik Yabe terdiam memikirkan sesuatu, “Ahh.. Benar ini lagu nya!” reaksi dan jawaban Yabe mengacuhkan pertanyaaan Yuri, “Denger deh Yur. Ini instrument musik piano pernah gue mainin waktu masih kecil.”

“Urgh.. tadi kan gue tanya...oh!! ini?!” Yuri tersadar dan teringat sesuatu waktu ikut mendengar alunan musik instrument piano yang dinyalakan di dalam restoran tempat nya makan. Yuri juga mengenal musik ini. Ini musik yang pernah dimainkan Pangeran bertopengnya.

“Waah jadi inget masa lalu, waktu kecil sering main lagu ini buat persiapan lomba.” Kata Yabe sambil memejamkan matanya sambil mengingat masa lalu dan alunan musiknya.

“Lo pernah ikut lomba main piano waktu kecil?”

“Hmm iyaa.. Nama lomba nya kalo enggak salah ada judul acaranya Show your own music. waktu umur 10 tahun.”

Enggak mungkin kan? Yabe benar-benar pangeran bertopeng nya nih?!! Lagu ini Cuma dimainkan Pangeran bertopeng!!

Yuri belum bisa yakin seratus persen Yabe adalah Pangeran bertopengnya. Satu hal yang harus dia yakini lagi adalah kalung yang Cuma diberikan Pangeran bertopeng padanya. Dia harus memastikannya.

“ Ehmm.. tapi waktu lomba gue...”

“Temenin gue cari aksesoris cewek yuk!” sela Yuri langsung berdiri dari bangku nya, mengajak Yabe.

Yabe menurut mengikuti Yuri keluar dari restoran. Mata Yabe sayu-sayu, tidak sanggup meninggalkan restoran ini karena harus meninggalkan burger Yuri yang belum dimakannya sama sekali.

Sampailah mereka ke toko dengan nuansa pink dan dipenuhi aksesori cewek. Yabe malu-malu melihat sekeliling nya hanya ada cewek-cewek. Selama dia berkencan dengan banyak cewek, dia tidak pernah mau ikut masuk kedalam toko seperti ini. Tapi kali ini dia masuk ke dalam toko ini, karena paksaan Yuri.

Yabe sebenarnya bisa menolak ajakan Yuri seperti ajakan cewek-cewek kencan nya, tapi kali ini tidak. Entah kenapa? Apa karena Yuri orang nya ceria, penuh semangat dan manis? Atau karena sesuatu yang Yabe sendiri tidak bisa mengerti. Tapi dia merasa nyaman dekat dengan cewek ini. Mungkin memang ada alasan kenapa Kagura begitu kekeh memasukkan Yuri ikut bergabung ke dalam geng mereka.

“Yabe lihat kalung yang ini deh.” Yuri menunjukkan kalung bergambar note balok. Satu-satunya hal yang diberikan Pangeran bertopeng padanya adalah kalung bergambar note balok berwarna hitam, dan masih disimpan Yuri. Jika benar Yabe menyadari bentuk kalung yang sama, walaupun bukan kalung yang sama persis, seharusnya dia masih ingat, harusnya. Yuri sangat berharap, menunggu reaksi cowok tersebut yang masih diam melihat kalung yang ditunjuk Yuri

“Kalungnya bagus, note baloknya...” Yabe berhenti, berusaha mengingat sesuatu, dan Yuri menatap Yabe dengan penuh harapan, jika dia benar-benar pemilik kalung. “Ahh!! Iya. Gue dulu punya kalung yang ada gambar note balok kayak gini juga.” Wajah Yabe berseri seri memegang kalung tersebut, “Tapi kemana ya itu kalung? Kalau enggak salah gue kasih sama cewek enggak dikenal gara-gara si...”

Tiba-tiba Yuri berlari kecil meninggalkan Yabe. Yabe kaget kebingungan dengan tingkah aneh Yuri. “Ehh?! Yuri!!” panggil Yabe yang tak juga dihiraukan Yuri.

Yuri terus berlari meninggalkan Yabe. Ia harus menenangkan dirinya terlebuh dahulu. Yuri duduk di bangku kosong yang terletak di tengah mall. Yuri berusaha menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Setelah sudah stabil, tapi Dia tidak bisa menghentikan raut mukanya yang sudah memerah.

 Yabe adalah Pangeran bertopeng gue?!! Enggak salah lagi!! Gue enggak nyangka bisa ketemu benar-benar bisa ketemu lagi

Yuri memegang jantungnya yang masih berdegub dengan kencang, dan perlahan mulai tenang kembali, tapi..

“Yuri...”

Suara itu makin membuat jantungnya makin berdegub dengan kencang. Yuri menongokan kepalanya keatas, Yabe sudah berdiri di depannya.

“Lo enggak apa-apa kan?” tanya Yabe khawatir.

“I..iya enggak apa-apa kok. Gue tadi... mau kentut jadi ngehindarin lo. hehe” Jawab Yuri asal, tidak peduli ucapan asalnya. 

Yabe duduk disebelah Yuri, nafasnya masih terengah-engah karena mengejar Yuri. 

Matanya tidak bisa melepas pandangannya dari Yabe. “Lo masih tetap baik ya.”

Kedua Alis Yabe naik, binggung dengan kata “masih tetap baik”. “Maksud nya?”

Yuri tersenyum lebar , tertawa kecil, “Hahaha.. enggak apa-apa. Lupain aja.”

***

Yuri membuka kotak kecil berisi beberapa aksesoris. Satu-satunya aksesoris yang dibungkus rapi olehnya adalah kalung pemberiaan dari Pangerang bertopeng. Kalung lama ini terus disimpannya, tapi tidak dipakai Yuri untuk waktu yang lama.

Mengingat kembali tiap kata-kata penjelasan Yabe yang sangat mirip dengan gambaran Pangeran bertopeng. Mulai dari lomba musik , piano dan kalung.Yabe pernah bermain piano dan memainkan musik yang sama di mainkan Pangeran bertopeng. Lalu Dia pernah mengikuti Lomba yang sama dengan Yuri. Dan yang paling membenarkan adalah Kalung milik Yabe yang hilang ternyata dimiliki Yuri saat ini, dan kalung itu  adalah pemberiaan Pangeran bertopeng.

Sebenarnya Yuri tidak terlalu berharap lebih akan bertemu dengan Pangeran bertopeng. Cowok tersebut memang sangat misterius, dengan topeng dimukanya, sulit untuk mengenalinya bahkan setelah beberap tahun lewat. Cowok tersebut pasti sudah melupakan Yuri, tapi Yuri tidak. Dia adalah satu-satu nya orang yang memberi semangat dan membantunya membangkitkan kepercayaan dirinya.

Kepercayaan diri Yuri yang makin dibentuk makin kuat, membawanya pada kesombongan.

Semenjak SMP, Yuri dengan percaya diri bernyanyi dengan suara indah nya, banyak pujian dari teman-teamnnya serta guru-gurunya, dan julukan penyanyi terbaik satu sekolah melekat pada dirinya.

Sampai akhirnya Yuri terpilih mengikuti pelatihan untuk menjadi idols di Korea. Pelatihan pada tahap pertama berlangsung selama 3 bulan, mengharuskan para anggota pelatihan menunjukkan sisi terbaik dalam menyanyi, menari dan bisa mengikuti aturan dengan baik, maka nantinya jika terpilih akan bisa melanjutkan pelatuhan tahap kedua pelatihan di Korea. Namun Seleksi tahap pertama tidaklah mudah, karena pesaing nya ada puluhan orang dan yang akan terpilih hanya beberapa orang, tidak semua diterima.  

Kemampuan suara Yuri tidak diragukan lagi, di tempat pelatihan dia juga dipuji, disekolah pun juga. Di tempat pelatihan ada seorang peserta perempuan yang tidak disukai Yuri. Dia bisa masuk ke dalam pelatihan karena ada koneksi dari orang dalam dalam, dan nyatanya dia sama sekali tidak punya bakat. Nyanyi dan menari adalah factor utama yang penting harus dikuasi setiap peserta tapi perempuan ini tidak bisa mengusai nya dengan baik.

Perempuan ini tidak memiliki begitu banyak teman akrab dan bahkan selalu latihan sendirian, di saat yang lain berlatih bersama. Yuri yang selalu dikelilingi banyak orang, begitu bangga akan dirinya sendiri yang hebat sampai meremehkan perempuan ini. Sampai akhirnya penilaian diumumkan. Yuri takjub melihat penampilan persempuan tersebut yang sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Kemampuan menyanyi dan menari nya dilakukannya dengan sangat baik.

Yuri kalah dan perempuan tersebut lolos dikirimkan ke korea pelatihan disana. Semenjak saat itu, Yuri mulai mengintrospeksi diri, dengan apa yang salah pada dirinya. Kesombongan, mulut serta pikirannya berpikir negative dan meremehkan orang lain lebih buruk darinya. Hal tersebut membuat Yuri tersadar akan dirinya sendiri dan ingin merubah dirinya.

Namun semenjak kekalahannya pada pelatihan Korea tersebut, Yuri tidak pernah menunjukkan bakat suara bagusnya di depan semua orang lagi. Semua itu menjadiakan trauma baginya karena kegagalannya di masa lalu.

Dalam ketepurukannya, tiba-tiba ia teringat dengan Pangeran bertopengnya. Belakang ini Yuri sering bermimpi kejadiaan saat dia bertemu dengan Pangeran bertopeng. Suara lembut nya dan senyum manisnya yang ia ingat. Bertahun-tahun berlalu, pasti suara lembut pasti sudah berubah, yang pasti Yuri tidak bisa memastikan rupa Pangeran bertopeng yang sebenarnya.  

Sepertinya Kemunculan Cowok tersebut menjadi jawaban atas  masalah pada dirinya. Jika Pangeran bertopeng bisa membantunya, maka Yuri ingin bertemu bercerita banyak dengannya dan yang ia tidak yakin bisa menahan perasaannya pada cinta pertamanya itu.

Ternyata doa nya dijawab, Pangeran bertopeng selama ini sudah ada di dekatnya. Walaupun karakter Pangeran bertopeng sangat jauh berbeda di masa lalu, tapi satu kesaamaan antara Pangeran bertopeng dan Yabe. Mereka berdua sama-sama ramah dan punya senyum yang hangat.

***

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

dede_pratiwi
2018-12-22 21:01:52

prince story never die hehe, penulisannya oke punya dan deskripsinya mantap... udah kulike dan komen storymu. mampir dan like storyku juga ya. thankyouu
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 835 8
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

577 450 14
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 759 13
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

433 321 6
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

469 379 6