3

Bruuk..

Yuri meringis memegangi pundaknya yang didorang keras di depan jejeran pintu-pintu toilet dalam. Kagura dan Yuri sudah terpojok dikelilingi geng si pirang, 5 lawan 2 orang. Sang ketua Geng yang ternyata si pirang berdiri berhadapan langsung di depan Yuri. Yuri menatap tajam si pirang, tatapannya tidak menunjukkan rasa takut.

“Jadi mau kalian apa?” Tanya Yuri tanpa basa-basi memutar kepalanya menatap satu persatu personil gang si pirang.

“Balas dendam lah. Lo udah mempermalukan gue di depan banyak orang, sekarang lo harus ngerasain hal yang lebih memalukan.” Jawab si pirang, menyilangkan kedua tangannya, berdiri dengan angkuhnya.

Tiba-tiba salah satu temannya mengeluarkan gunting dari tasnya dan memberikkan pada Ketuanya, “Kita buat penampilan lo jadi sangat memalukan sampai lo sendiri juga malu liat diri lo sendiri!” Si pirang memainkan guntingnya di depan muka Yuri.

Yuri masih tidak bergeming menunjukkan ekspresi ketakutan.“Sebelum lo mau make over gue, ada satu hal yang perlu gue kasih tau sama lo, pirang.”

Si pirang mengerutkan dahinya, penasaran ”Apaan?”

“Sini, Cuma lo doank yang perlu tau.” Digerakannya Jari telunjuknya, menginsinyair si pirang harus berjalan mendekatinya.

Si pirang menurutinya, mendekati Yuri.

Yuri dengan cepatnya langsung menyemprotkan sebuah cairan dari botol kecil ke mata si Pirang.

“Aarrghhhh, mata gue!!” teriak si cewek pirang memegang matanya yang kini terasa begitu pedih, sampai tidak bisa membuka matanya.

Teman-temannya yang juga kaget melihat Ketuanya menjerit kesakitan, mendekatinya berusaha membantunya. Disaat anak buahnya masih sibuk membantu si pirang,Yuri meraih tangan Kagura, mengajaknya kabur dari tempat ini.

“Arrgh!!” Yuri menjerit memegangi rambut nya yang ditarik kencang oleh seseorang, yang ternyata adalah anak buah si pirang, si cewek topi putih yang ditemuinya juga di toko aksesoris.

 “Mau kemana lo?!” Si cewek bertopi putih makin kencang menjambak rambut Yuri.

Kagura kaget melihat Yuri berteriak meringis kesakitan. Kagura tidak tinggal diam, berusaha melepaskan jambakan rambut Yuri dari cewek bertopi putih tersebut. Sementara si cewek pirang masih meringis kesakitan karena matanya, anggota gang lainnya masih berusaha membantu sang ketua dengan segala macam cara, sampai mereka sendiri juga binggung dan panik sendiri.

Yuri mengambil benda lain di laci kecil tas ranselnya. Sebuah benda kecil berwarna putih, ditengahnya ada tombol lingkaran bulat. Yuri menekannya pas ditelinga si cewek bertopi putih.

Beppppp...bepppp...beppp...

Benda kecil mengeluarkan Suara keras dan sangat nyaring berisiknya. Si cewek bertopi putih kaget sampai terjatuh ke lantai menutup telinganya. Cewek-cewek gang si pirang juga menutup telinga mereka, meminta untuk mematikan suara nyaring dari benda yang dikeluarkan Yuri. Melihat para cewek-cewek itu tidak ada kekuatan untuk menahan dirinya lagi, Yuri mengajak Kagura kabur lagi. Dan akhirnya kali ini mereka benar-benar lolos, keluar dari toilet.

Setelah sudah terasa aman, Yuri mematikan loceng penggera keselamatannya. Mereka pun terus berlari, sampai menemukan kerumunan orang banyak. Tempat yang  lebih ramai, lebih aman. Yuri dan Kagura terengah-engah masih mengatur nafas mereka.

“Benar-benar Gila!! Yuri kamu bawa apa aja di tas kamu?!” Tanya Kagura masih terkejut tidak percaya cewek ini bisa begitu beraninnya menghadapi satu gang tersebut.

“Hahaha.. Aku belajar dari pengalaman, jadi harus selalu siap sedia alat-alat canggih. Hehehe” kata Yuri dengan bangganya menunjukkan alat semprotan air merica dan loceng penggera keselamatannya.

Kagura tampak terkejut dengan ucapan gadis tersebut, “pengalaman?!”

“Iya.. belum lama ini, aku pernah diserang segerombolan preman. Aku hampir aja dilukai atau bahkan bisa..." Yuri menundukkan kepalanya, masih terngiang ingatannya kejadian di pasar malam. 

“Yuri..” Kagura mengelus pundak Yuri, memanggil Yuri yang masih menundukkan kepalanya.

Yuri menongokkan kepalanya keatas menatap cewek tinggi didepannya yang ingin mengucapkan sesuatu padanya.

“Aku ini cewek yang kuat, dan kamu juga. Aku suka orang yang pemberani. Mulai hari ini kita berteman ya?” Tanya Kagura tersenyum tulus.

“Iya” jawab Yuri tersenyum lebar, begitu bahagianya karena dirinya sempat khawatir dengan lingkungan baru. Tapi ternyata bisa berhasil mendapatkan teman baru di hari pertama sekolah, Walaupun baru mengenal Kagura, tapi Dia yakin Kagura tidak seburuk seperti kedua cewek si tukang gosip.

“Mereka enggak nyerah juga.” Mata Yuri menangkap sosok yang tidak asing, tepat di belakang Kagura.

Kagura pun  membalikan badannya, baru mengerti maksud perkataan Yuri. “Nambah personil juga ya.”  

Gerombolan teman-teman si cewek pirang datang menghampiri Yuri dan Kagura, dan ditambah personil baru membernya, seorang pria jangkung, berkulit coklat sawo matang, berdiri bersebelahan di samping si pirang, yang sekarang mengenakan kacamata hitam.

“Ini ceweknya, Beb. Yang buat mata aku kayak gini.” Rengek manja si cewek pirang kepada pacarnya, sambil menunjukkan matanya yang merah.

Pacar si pirang menggeram kesal melihat Yuri dari atas sampai bawah, kedua tangannya dikepalnya erat. “Siapa yang berani nyakitin cewek gue, baik cowok ataupun cewek. Gue bakal hajar habis-habisan!!” Ancam Pacar si pirang.

Jika harus berhadapan dengan cewek, Yuri masih berani siap siaga, tapi kalau dengan cowok, Dia tidak bisa menutupi rasa takutnya. Apalagi perawakan cowok ini mirip seperti preman-preman yang menyerangnya. Walaupun masih ada rasa sedikit takut, tapi dia tidak akan membiarkan dirinya kalah lagi. Diambilnya lagi botol semprotan mericanya. Saat ingin menyemprotkannya ke mata cowok tersebut, gerak tangan Yuri dihentikan satu tangan oleh cowok tersebut.

Pacar si Pirang dengan cepat menangkap tangan Yuri dulu, sebelum cewek tersebut menyemprotkan cairan merica botolnya. Genggaman satu tangan cowok tersebut sangat kuat, sampai botol kecil ditangan Yuri jatuh ke lantai. Inilah yang Ia takuti, tenaga cowok yang lebih besar, mereka lebih kasar, dan yang pasti cowok di depannya ini tidak akan ragu memukul perempuan.

“Aaaww..” Yuri meringis kesakitan, tangannya seperti ingin diremuk kencang oleh tangan kiri besar pacar si pirang.

“Mau nyemprot air merica ke mata gue juga?! Trik basi!! Ini balesan buat cewek gue!!” Pacar si pirang melayangkan tangan kanannya ingin memkul ke arah muka Yuri, sementara tangan kirinya masih kuat menahan Yuri, yang tidak bergeming.  

Yuri yang tidak berdaya tidak bisa melapaskan diri dari Pacar si pirang, hanya bisa pasrah, menutup matanya.

Anehnya dia tidak merasakan pukulan cowok tersebut, dengan mata yang masih tertutup rapat. Untuk memastikannya, Dibuka matanya perlahan. Pukulan keras itu ditahan satu tangan juga oleh Si Playboy, Yaben?!!

Yuri mengedipkan matanya berkali-kali, memastikan dirinya tidak salah lihat melihat Yaben telah menolongnya. Si Playboy tersenyum manis menyapa Yuri, “Hai, salam kenal Yuri.”

Oh my GOD!! Dia tahu nama gue. Gue mimpi apa semalem bisa ditolong Yaben?! Kalau diliat dari deket, emang keren banget ini cowok, dan kayak kuat juga.

Pikirannya yang masih berbunga-bunga,diiringi jantungnya yang berdegupan dengan kencang karena Yaben.

Yaben  mengangkat tangan kiri Pacar si Pirang, melepaskannya dengan mudahnya. Yuri memegang tangannya yang sudah lepas, masih terasa sakit, memerah. Kedua Tangan Yaben kini yang menggengam kedua tangan pacar si pirang. Yaben memutar badan Pacar si pirang dan mengunci kedua tangannya di punggung belakangnya. Pacar Si Pirang terus berusaha ingin melepaskan genggaman Yaben, tapi kedua tangannya tidak bisa digerakan.

“Le..lepasin tangan gue,breengg..” kata pacar si pirang berusaha menahan rasa sakit ditangannya, tapi, Yaben makin menjadi menekan tangan cowok tersebut, “Aarrghh... ampun!!” teriaknya Menjerit kesakitan.

Yaben mendekatkan kepalanya ke telinga Pria tersebut, “Sekarang juga lo dan gank lo pergi dari sini, sebelum mata lo gue lebih ancur dari cewek lo!” bisik Yaben pelan, mencekam menusuk telinga Pacar si Pirang.

“I..iya” jawab Pacar si pirang cepat, tidak ingin merasakan kesakitan lebih parah lagi.

Yaben pun langsung melepaskannya. Pria tersebut menyuruh ceweknya dan teman-temannya cepat pergi, berteriak memaksa mereka, juga menarik si cewek pirang meninggalkan mereka. Yaben memastikan brandalan tersebut sudah tidak terlihat dan pergi menjauh.

“Kamu ngapain kesini,Yabe?” kata Kagura menatap Yabe dengan juteknya.

Yabe tetap tersenyum manis menanggapi Kagura, “Tadi habis main, terus Kebetulan lewat lihat si anak baru, Yuri mau dihajar anak alay-alay tadi.”

“Kebetulan yang disengaja kan?!” Tanya Kagura lagi, ekpresi mukanya jelas terlihat tidak menyukai kehadiran Yabe.

Yabe tersenyum simpul, malas membalas Kagura, tapi matanya justru focus melihat kaki kiri Kagura yang diangkatnya bergelantung, cewek ini berdiri tegap dengan kaki kanannya saja, “Kaki kirinya enggak capek diangkat begitu?”

Yuri terkejut baru menyadari kaki kiri panjang Kagura yang dari tadi terangkat. Mungkin saja cara dirinya yang unik. Kagura segera menurunkan kaki kirinya, berdiri tegap seperti biasa.

“Kamu enggak apa-apa kan,Yuri?” Tanya Yabe dengan jarak yang cukup dekat berdiri di depan Yuri.

Degup jantung Yuri lagi-lagi tidak bisa tenang. “Iya enggak apa-apa,Yaben” Kata Yuri malu-malu.

Yabe tersenyum hangat, lalu tangan kanannya diletakkan diatas kepala Yuri, dielusnya pelan kepala gadis tersebut. “Panggil Yabe aja. Kepala kamu enggak kena pukul kan?”

“Eeenggak kok.” Yuri makin gugup dan malu, mukanya terasa sangat panas. Ditutup muka cepat, sebelum Yabe menyadari raut muka anehnya saat ini.

“Baguslah. Semoga Otak kamu enggak gesrek kayak...”

Paak..

“Aaaw..” Yabe meringis kesakitan memegang kepalanya yang ditampar Kagura dari belakang.

“Jangan godain dia terus,Yabe!!”

Raut Muka Yabe berubah, tersenyum makin menggoda dengan target barunya,Kagura. “Ouuh..Lo cemburu ya?” Kata Yabe tersenyum menggoda sambil mengelus kepala Kagura.

Bukannya senang dapat bisa mendapat sentuhan manis dari Cowok tampan ini, Kagura malah makin tambah kesal. Kaki Yabe diinjak Kagura sengaja, “ Jangan sentuh kepala gue seenaaknya!” balas Kagura, berhasil menyingkirkan tangan Yabe dari kepalanya.  

Mereka berdua ngobrol dan bercanda, terlihat sekali kedua orang ini begitu akrab, sampai melupakan Yuri yang masih berdiri di dekat mereka. Yuri melangkah mundur, menjaga jarak. Yuri melihat kedua orang ini terlihat begitu serasi, apa yang ia pikirkan bisa kegeeran berpikir Yaben datang menolongnya, kenyataannya dia datang untuk Kagura.

“Pasangan yang serasi” kata Yuri pelan.

“Mereka enggak pacaran.” Saut seseorang dari belakang Yuri.

Yuri terkejut mendapati kehadiran cowok berkacamata dengan bawaan tas kotaknya, Rico berdiri di belakangnya, yang entah sejak kapan dia ada disini.

“Ehm.. Rico ya? Sejak kapan disini?” Tanya Yuri basa-basi.

“Gue datang kesini bareng sama Yabe, sudah cukup lama diabaikan juga, karena Lo terlalu focus lihat Yabe.” Jelas Rico datar.

Emang keliatan banget ya gue terpesona berlebihan liatin Yaben? 

“Hahaha..” Yuri tertawa canggung.    

  ***

Yuri melihat jam tangannya, waktu menunjukkan pukul “07.40”, Mengela nafas panjang, pasrah menatap jalan satu arah dan sebuah papan besar bertuliskan nama Sekolah baru nya, “SMA Citra Nusantara”

Sebenarnya Pertama kali mengetahui nama sekolah ini, dirinya selalu bertanya apa makna arti nama sekolah ini? Pertanyaan yang dijawab oleh penghuni lama sekolah, Rico, cowok yang selalu membawa notebooknya. Dengan santainya dia menjawab,  “Artinya adalah Sekolah ini bisa memiliki citra yang baik sampai dikenal satu nusantara.”         

 Sampailah Yuri di depan gerbang sekolah berwarna hitam dan tinggi. Ketika Kakinya mulai menapak masuk ke lingkungan dalam sekolah, tiba-tiba terdengar suara tidak asing, “Telat 10 menit, Ikut hukuman bersama yang lain.” Suara yang tak asing, mengingatkannya pada seseorang di ruang musik. Si pemain piano.

“Hah?! Ngapain lo disini?” Tanya Yuri sinis.

“Gue ini anggota dari Komite Kedisiplinan dan Ketertiban SMA Citra Nusantara. Bertugas sebagai penegak kedisiplinan!” Jelasnya dengan penuh kebanggaan.

Yuri tidak terkesan sama sekali, Si Pemain piano ini malah terlihat makin asik menyombongkan dirinya.

“Karena lo anak baru dan pasti penasaran banget tentang gue, gue jelasin..”

Gue enggak peduli!! 

“Nama gue Marven, panggilannya Arven. Dan kedua orang yang berdiri paling depan yang sedang mengawasi anak-anak yang telat juga anggota Komite Kedisiplinan dan Ketertiban SMA Citra Nusantara. Kami terdiri hanya 3 orang, masing-masing mewakili tiap angkatan...” Marven menunjuk 2 orang yang gaya kerapiannya tidak jauh beda dengannya.

Kapan dia bakal berhenti ngomong?!

“..Gue sendiri sejak kelas 1, sudah menjadi Anggota komite ini, dan menjabat lagi kelas dua. Bukannya mau sombong, tapi memang kenyataannya, Gue cukup dikenal semua murid dan tentunya para guru...”

SOMBONGG, enggak usah sok innocent deh!

“.. Sebagai anggota komite, salah satu tugasnya kita adalah ngurus murid-murid yang telat, kayak lo. Sekarang baris disana ikutin teman senansip lo.” Jelas Arven, sambil menunjuk barisan para siswa telat yang masih mengenakan ransel nya, sedang diabsen satu persatu oleh 2 orang anggota komite.

Yuri berdiri di satu barisan bersamaan siswa yang senasip dengannya. Setelah selesai absen keterlambatan, mereka dihukum keliling lapangan 1x sambil menyerukan dengan keras “KAMI TIDAK AKAN TELAT LAGI” dan harus terdengar oleh ketiga anggota komite yang berdiri di pinggir lapangan jauh dari paparan sinar matahari.

Lalu setelah mereka menyelesaikan hukumannya, Yuri dengan nafas terngah-engah masih kecapean, mengambil tasnya, berjalan menaiki tangga menuju kelasnya bersama murid-murid lainnya. Satu lantai sudah dilewati, jumlah orang-orang sudah berkurang, lalu ke lantai kedua, lantai untuk murid kelas 2. Hanya Yuri dan Arven yang berjalan bersampingan menuju kelas mereka yang satu arah.

Mereka berdua berjalan tanpa ada omongan dan basa basi sepatah kata pun. Arven hanya focus menatap kedepan dan Yuri yang juga focus menatap kedepan, karena malas melirik atau ngobrol dengan cowok sombong disebelahnya. Akhirnya Yuri sampai di depan pintu kelasnya. Saat ingin membuka pintu kelas, Arven memanggilnya.

“Yuri.. benar kan?” Tanya Arven memastikan nama gadis di depannya.

Yuri membalikan badannya, berdiri di depan pintu kelas yang tidak jadi dibukanya “Iya gue Yuri. Kenapa? Ah.. Udah  deh, gue masuk kelas dulu.” Jawab Yuri malas melanjutkan percakapan dengan Arven yang mungkin akan menguras tenaganya, yang sudah terkuras dengan keringat yang masih membasahi keningnya. 

“Lo enggak apa-apa kan?” tanya Arven dengan wajah serius.

Yuri mengedipkan mata nya beberapa kali. Ia jadi terbawa suasana karena kini Arven terlihat khawatir untuk memastikan keadaannya. “Ehmm.. Cuma lari keliling lapangan enggak masalah kok” kata Yuri tidak berani menatap mata Arven. Ia sendiri juga binggung kenapa ia tidak berani menatapnnya. Yang pasti sebelumnya, Yuri merasakan sedikit debaran di jantungnya karena perhatiaan Arven yang tiba-tiba.

“Bukan waktu lari, tapi sebelumnya...”

Dahi Yuri mengekerut, berusaha mengingat kegiatan yang ia lakukan sebelum lari pagi. Reaksi Yuri yang lama masih berusaha mengingat dan mencerna omongan Arven, membuat Arven jengah sendiri.

“Ah udah lah lupain aja. Karena tadi lo bisa lari keliling lapangan, Gue anggap lo sehat walafiat.”

Yuri menggarukan kepalanya jadi makin binggung dan penasaran karena belum juga menemukan hal dan kejadian buruk apa yang terjadi padanya, sampai membuat cowok sombong ini mengkhawatirkan keadaannya.

“Gue ke kelas duluan.” Kata Arven langsung berjalan melewatinya..

“Oh iya,Lo..” ucapan Yuri terhenti melihat Arven melewatiinya, membuka pintu kelasnnya.

Gue enggak salah lihat kan dia masuk kelas gue? Beneran kan?!

Yuri berjalan ikut masuk kedalam kelas,  melihat Arven sudah berdiri di dalam kelasnya juga.

“Kita sekelas, anak baru.” Kata Arven seperti sudah bisa membaca raut muka Yuri mempertanyakan apa yang dilakukannya dikelasnya.

Yuri membeku ditempat, masih dalam kondisi syok, karena telat menyadari Arven teman sekelasnya.

Yang benar aja!! Gue ternyata sekelas sama Arven dan...

Mata Yuri melotot tercenga baru menyadari lagi teman sekelasnya, Yaben dan Rico?! Sekelas juga?!!  

***

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

dede_pratiwi
2018-12-22 21:01:52

prince story never die hehe, penulisannya oke punya dan deskripsinya mantap... udah kulike dan komen storymu. mampir dan like storyku juga ya. thankyouu
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

433 321 6
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 835 8
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 759 13
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Anne

Anne's Tansy

By murphy

852 540 9
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9