Tiga puluh menit sebelum jadwal sampainya pengantaran paket menuju Furai.

   Bias kemerahan matahari mulai menyinggung cakrawala. Burung burung kenari tampak berterbangan, mulai bertengger di beberapa dahan tipis nan kokoh di berbagai pohon. Kicauan mereka tampak mewarnai atmosfer jalanan, meramaikan suasana yang hening dengan dinginnya embun masih menyelimuti.

   Satu kereta dengan enam pencuri berseragam penjaga tampak berbaris. Mereka berjalan rapi, menyamar sebaik mungkin untuk tidak terdeteksi. Di dalam kereta, ada tiga orang yang membawa paket yang dimaksud. Paket itu berisi dokumen-dokumen berkaitan dengan kucuran dana uang yang digelapkan oleh kerajaan. Marie, yang sedari tadi membaca tiap dokumen membelalakan mata ketika melihat nominal dana yang digelapkan.

   “Kita akan hidup dalam gelimpangan harta jika kita punya semua nominal ini!” pekik Marie tertahan. Dua orang temannya hanya saling pandang saja, tak mengerti setiap tulisan yang tertera di gulungan-gulungan, di buku catatan, ataupun nominal di akun buku bendahara yang mereka curi—mereka tak pernah belajar membaca.

   Begitu pula dengan enam orang yang lain. Mereka tak pernah belajar untuk membaca dan menulis. Tiap hari, mereka belajar untuk hidup di gorong-gorong kehidupan, mengais uang di tengah-tengah kota dengan mencuri. Baik pria atau wanita.

   Para pria biasanya sudah dilatih dari kecil untuk mencuri dan menggunakan senjata, pisau misalnya untuk mengancam korban mereka. Atau dilatih untuk merampingkan tangan ke saku-saku orang guna mengambil dompet. Ataupun menjadi orang yang kuat dan menjadi penguasa sebuah daerah, menjadi bos dari preman-preman pemalak.

   Sementara itu, wanita biasanya terlatih untuk merayu. Biasanya wanita tidak memiliki fisik yang kuat jika dibandingkan dengan pria. Maka, cara termudah dan tercepat untuk memenuhi isi perut mereka adalah dengan memenuhi terlebih dahulu nafsu klien mereka. Yap, dengan menjual tubuh mereka, mereka mendapat uang dengan cara mudah, instan, dan tentunya menyenangkan, bukan?

   Sayangnya, Marie tidak memilih jalan itu. Marie lebih memilih menjadi pencuri. Ia adalah orang yang cerdas. Maka dari itu, sebagai wanita yang cerdas, ia memilih untuk menjadi pencuri dibandingkan dengan pelacur. Tahun ini, ia genap 17 tahun. Ia sudah meminta kepada kakaknya agar dinikahkan pada usia 18. Meskipun waktu satu tahun semakin dekat menuju perkawinannya, ia masih belum menemukan calon yang cocok untuknya.

   Huft, Marie menghela nafas, menyingkirkan pikirannya tentang menikah. Ironis, padahal kakaknya sendiripun belum menikah. Niels yang sekarang berusia 21 tahun itu belum pernah dekat dengan wanita yang lain—kecuali Marie sendiri. Pria muda itu bertekad untuk menyukseskan komplotan pencuri, lalu menurunkan tahta kepemimpinan ke sesorang yang ia percaya, dan akhirnya menikah.

   Sekarang, jalan itu masih jauh. Yang sekarang harus Marie pikirkan adalah mengantarkan paket dokumen bukti ini dengan aman.

                                                                                                                        ***

Empat puluh lima menit sebelum jadwal sampainya kelompok Marie di Furai.

   Adruin sudah bersiap dan kini ia mengambil kuda. Setelah melakukan konsodilasi dengan satu pleton ksatria mereka akhirnya berangkat ke luar kota Furai. Sebelumnya, Adruin telah mendapat informasi dari Gils bahwa target mereka adalah kereta imitasi yang digunakan untuk menyelinap masuk ke Kota Furai. Kabarnya, kereta kuda itu digunakan untuk menyelundupkan suatu senjata. Adruin diberi titah untuk melenyapkan ‘pengantar pesan’ ini secepat mungkin.

   Lima menit setelahnya, mereka berangkat. Adruin telah mempersiapkan semuanya selengkap mungkin. Hari ini, ia harus melaksanakan tugasnya dengan membunuh, satu dari beberapa pekerjaan yang ia benci sebenarnya. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia dituntut untuk tegas dalam menegakkan keadilan.

   Adruin mengarahkan pasukannya ke bukit. Di sana mereka menunggu. “Para pemanah, siapkan panah kalian. Sementara para ksatria, kita akan turun menerjang mereka dari sini.” Semua ksatria mengangguk. Beberapa dari mereka turun dari kuda, mengambil panah yang tersampir di punggung mereka dan bersiap dengan bersembunyi, sementara sisanya mengeluarkan pedang, bersiap di belakang dan mengambil ancang-ancang.

   Sepuluh menit menunggu, masih belum ada tanda-tanda di jalanan bawah mereka. Hanya petani dan peternak yang lewat lalu lalang saja. Semua dari mereka tidak menyadari pengintai di bukit atas mereka.

   Baru setelah lima menit kemudian, terlihat sebuah kereta kuda yang dijaga dengan enam penjaga berseragam ksatria kerajaan. Tombak-tombak yang mereka bawa terlihat mengilap, sorot mata mereka tampak terjaga, tipikal ksatria pada umumnya.

   “Ada apa?” tanya Adruin kepada kapten pasukan itu.

   “Tidak, hanya kereta kuda kerajaan saja. Tidak ada yang mencurigakan.”

   Adruin memicingkan mata, dilihatnya kereta kuda dengan enam penjaga yang mengawalnya. Matanya meneliti, menelaah tiap detil kereta kuda tersebut. Mulai dari bentuk, struktur, hingga warna cat yang digunakan. Akhirnya, ia berdeham pelan. “Kapitan, mereka adalah Pembawa Pesan yang dimaksud Tuan Gils. Kereta kuda yang mereka gunakan hanyalah imitasi belaka.”

   Kapten penjaga itu sedikit kebingungan, lalu kembali bertanya. “Anak muda, bagaimana kau menuduh seperti itu? Itu adalah kereta kerajaan yang terhormat! Bagaimana kau dapat menuduhnya seperti itu?!” tegasnya tertahan.

   “Anda boleh saja tak percaya sebelum kita membuktikannya, Kapitan. Bagaimana kalau kita melakukan pemeriksaan?” usul Adruin.

   Kapten itu terlihat berpikir, akhirnya mengangguk setuju. “Kau benar anak muda, kita punya kewenangan untuk melakukan pemeriksaan.” Dengan begitu, kelompok itu dibagi menjadi dua bagian, satu turun dan melakukan pemeriksaan sementara yang lain tetap berjaga di bukit.

   “Kapitan, hati-hati,” ucap Adruin sambil menepuk bahu kapten tua itu.

   Kapten tua itu tersenyum sembari menangguk, dengan sepuluh orang yang lain, ia turun dari bukit menuju kereta kuda itu.

   Dari atas, Adruin mengamati dengan perasaan was-was. Jika keberadaan senjata yang mereka di dalam kereta itu bukan gertakan belaka, maka ancaman yang ada di kereta kuda itu bukan hal yang sepele. Mata Adruin melihat tanpa berkedip sedikitpun, was-was dengan kemungkinan terburuk.

   Setelah cukup dekat, sang kapten turun dari kudanya. Ia berteriak menyuruh kereta kuda untuk dihentikan. Dengan itu, sang kusir mengehntikan laju kudanya. Seketika ia bertanya, “ada perihal apa kapitan yang baik hati memberhentikan kami? Maaf, kami tidak punya waktu untuk berbicara dengan anda, Nona Ren tidak suka menungu.”

   Sang kapten terperanjat. “Nona Ren? Oh, apakah beliau baik-baik saja? Omong-omong ke mana saja beliau selama ini?”

   “Haha, lebih baik dari anda. Maaf, aku senang bicara dengan anda, tapi Nona Ren sudah kelelahan dari perjalanan panjang dari Akademi Florence di Kerajaan Orkney, ia butuh istirahat cukup.”

   Sang kusir sudah memacu kembali kudanya hingga sang kapten menarik pedang dari sarungnya. Wush, seketika dua kuda penarik kereta meringkik dan tak terkendali, sang kusir berusaha mengendalikan kuda untuk berhenti.

   “Apa yang anda laku—” buk, belum selesai kalimat sang kusir, ia sudah jatuh tersungkur akibat hantaman telak sekepal tangan di wajahnya. Itu hantaman sang kapten. Dalam sepersekian detik tadi, sang kapten bergerak cepat dan tangkas—meskipun ia sudah tua— melompat menuju tempat sang kusir, menghantam telak wajah sebelum ia selesai bicara, lalu melompat turun, menarik kerah sang kusir.

   Jrek! Enam tombak teracung ke kapten. Ia tidak takut sedikitpun, karena satu pleton penuh sudah mencabut pedang dari sarung pedang yang tersampir rapi di pinggang mereka. Satu lusin lebih lawan enam orang, mereka jelas kalah jumlah.

   “Maaf, tapi anda harus menunggu lebih lama lagi di sini. Aku ingin melihat apa yang ada di kereta ini!” tegasnya dengan nada mengancam. Jemari sang kapten kini tengah mencekik leher sang kusir, sorot matanya juga mengintimidasi penuh, meminta mangsanya untuk buka mulut.

   Mulut sang kusir tampak ompong, beberapa gigi sudah tanggal setelah menerima pukulan tadi. Hidungnya penyok, remuk. Ia berusaha berbicara. Dengan isyarat tangannya, ia meminta untuk melepas cengkraman di lehernya. Sang kapten menarik cengkramannya, membiarkan sang kusir menarik napas sambil terbatuk-batuk.

   “Baiklah-baiklah. Jangan salahkan aku bila kau mendapat amarah dari Nona Ren! Beliau sangat menakutkan bila sedang marah! Kaum pria manapun akan tunduk dengan sorot matanya yang mengan—” buk. Satu hantaman sudah menghantam telak ke mulut sang kusir. Dengan mata yang mulai memutih, sang kusir kehilangan kesadarannya, terkulai lemas.

   Sang kapten berdiri dari sana, meludah ke wajah sang kusir, lalu melenggang pergi dengan melangkahinya. Enam pengawal bertombak tetap mengacungkan ujung tombaknya ke sang kapten. Namun, tidak ada satupun dari mereka berani untuk maju. Beberapa dari mereka saling pandang, bertanya-tanya tentang hal yang harus mereka lakukan saat ini.

   “Kalian palsu!” bentak sang kapten. “Aku bisa lihat dari aura kalia bahwa sebenarnya semua dari kalian ini tidak ada yang berjiwa ksatria!” tambahnya lagi. Bergetar, semua tangan pengawal itu bergetar. “Lihat, kalian sudah terbukti bahwa kalianlah yang palsu, tangkap mereka!”

   Meskipun tombak teracung, mereka terbeku. Beberapa ksatria serempak maju. Keenam tombak mulai berayun, berusaha menghalau gerakan dari ksatria. Namun, semua ksatria tampak tenang dan lihat menghindari tiap ayunan ujung tombak.

   Buk, buk, buk! Satu persatu pengawal berguguran. Perut-perut mereka dihantam oleh gagang pedang. Mereka ambruk dengan mudahnya, satu persatu. Setelah mereka jatuh, mereka dilucuti, lalu di seret dan diikat dengan tali.

   Seorang ksatria ingin menghantam mereka, namun sang kapten mencegahnya. “Tidak, kita perlu informasi yang lebih dari mereka. Lagipula, kau akan mengotori kehormatan seorang ksatria!”

   Semua ksatria beringsut, mereka memasukkan pedang mereka, menatap remeh musuh mereka, dan tak lupa meludah. Enam pengawal palsu itu hanya terdiam. Mereka menatap tajam semua ksatria di sana.

   “Sekarang, kita harus membuka paksa pintu kereta ini!” tegas sang kapten. Dengan pedang yang siaga, sang kapten maju perlahan, menapaki tangga menuju pintu kereta. Tirai di jendela tampak tertutup rapat, melempar pikiran semua orang untuk curiga.

   “Jangan! Jika kalian semua masih sayang dengan nyawa kalian, jangan buka—” buk. Salah satu pengawal yang bicara langsung saja dihantam telak. Wajahnya berdarah-darah, ia mulai terkulai lemas.

   “Hmmph. Dasar bajingan pemalsu! Kalian diam saja!” bentak sang kapten.

   Sementara di sisi lain, Adruin yang sedari tadi mengamati dari atas bukit tampak lega. Ia menghela napas lega. Ia tak menyangka bahwa ‘pembawa pesan’ yang dimaksud ini tidak berbahaya sama sekali, malahan mereka dapat melaksanakan misi ini dengan mudah. Tapi, ada sesuatu yang janggal.

   Memang, ini normal-normal saja. Coba kalian pikirkan, apa yang di butuhkan oleh seorang pengirim pesan? Mereka hanya butuh samaran saja. Mereka hanya sekedar pengantar pesan. Agar penyamaran mereka mulus, mereka menggunakan enam pengawal yang berjalan beriringan. Tidak ada yang spesial, pengirim pesan tetaplah pengirim pesan, pekerja rendahan.

   Yang sebenarnya mengganggu pikiran Adruin bukanlah fakta tersebut, melainkan fakta tentang rencana yang berjalan terlalu mulus. Misi ini, merupakan bagian dari misi besar di mana ada sangkut pautnya dengan konspirasi besar yang mempertaruhkan nyawa seorang raja. Penangkapan seperti ini, jauh dari ekspetasi Adruin.

   Prinsip utama dalam hidup, jika hal yang kaurencanakan terlalu mulus, maka bencana akan datang…

   Adruin kontan saja berdiri, berlari menuju kuda, “ksatria ikut aku! Pemanah tetap bersiaga! Tembak setelah aku beri tanda!” semua orang di sana saling bertanya-tanya perihal Adruin yang berkelakuan seperti itu. Namun, mereka tak punya waktu untuk bertanya, Adruin sudah melejit dengan kudanya, melaju cepat menuju kereta kuda tersebut.

   Di sisi lain, sang kapten mulai kehilangan kesabaran. Memang ini kereta kerajaan imitasi, tapi kerasnya pintu serta kuatnya pondasi kereta tak bisa dianggap remeh. Untuk apapun yang terjadi, pintu tidak bisa di buka dengan paksa kecuali jika memang dibombardir dengan meriam. Keamanan tingkat tinggi, tak bisa diremehkan.

   “Bajingan!” pekik sang kapten keras. Sang kapten sudah kehilangan kesabarannya. Ia memiliki jiwa seorang ksatria, namun ia juga harus menyelesaikan kewajibannya untuk memberantas mush, jadi sekarang yang ia lakukan adalah menyeret salah satu pengawal palsu, lalu membentak keras ke arah kereta. “Hei bajingan! Jika kau tetap meringkuk tidak keluar dari kereta, akan kutebas temanmu satu persatu!”

   Adruin yang menatap dari kejauhan sambil memacu kudanya sudah yakin, bahwa semua ini adalah jebakan…

   Suara berderak gembok terbuka mulai terdengar dari dalam kereta. Sang kapten melepaskan cengkraman tangannya di pengawal itu, mendorongnya hingga jatuh tersungkur. Dengan segera, sang kapten berjalan menuju pintu. Tangan kirinya menarik gagang, sementara tangan kananya sudah terlampir bersama pedang.

   Ini pasti jebakan! “Kapitan! Jangan buka pintu itu!” teriak Adruin sekencang mungkin. Semilir angin berdering, suara mulai bergetar, sebuah daya kejut terdeteksi.

   BUSH! Sebuah kabut putih langsung merangsek keluar dari dalam pintu, seolah memakan siapapun di sana. Sang kapten bersama semua pasukannya seperti dimakan, mereka sempat berteriak kaget dan jeri, namun kabut tersebut sudah terlanjur memakan mereka.

   Adruin mengambil busur dan satu anak panah. Matanya memicing, mengira-ngira keberadaan target di balik kepulan kabut putih itu. Dalam sepersekian detik selanjutnya, dua panah melesat bebarengan, berusaha merangsek menembus kepulan asap. Suara erangan terdengar saling menyahut. Adruin mengenali salah satu suara erangan, yaitu milik sang kapten.

   Adruin memacu kudanya semakin cepat. Namun, tepat saat akan masuk, kuda yang ia tunggangi mendadak jatuh. Ia dengan kudanya jatuh terguling. Ringkikan kuda terdengar kencang.

   Mata Adruin berkunang-kunang, ia berusaha membangun kembali kesadarannya. Kepalanya tidak terantuk keras, namun rasa pusing masih ada di kepalanya. Rencana penangkapan, berujung pada sebuah bencana.

   Nak, seharusnya kau tahu, di dunia yang keras ini, tidak ada yang benar-benar lancar… sebuah suara terngiang di kepalanya. Itu adalah dari ayahnya melalui ucapan Paman Nism.

   Dengan tekad yang kuat, Adruin mengangkat kepalanya. Area di sekitarnya terasa panas. Akhirnya ia menyadari bahwa sebenarnya kabut putih ini bukanlah kabut, melainkan uap panas. Hmm, cerdik… batin Adruin. Ksatria dengan zirah besi bukanlah musuh yang mudah. Mereka punya baju pelindung yang melingkupi semua bagian tubuh mereka dan sedikit celah kecil yang digunakan untuk memudahkan gerakan atau sirkulasi udara. Nah, menembaki mereka dengan panah ataupun peluru tidaklah mempan, mereka kebal dengan —hampir— segala macam panah ataupun peluru.

   Sekelompok pencuri tentunya tidak memiliki jenis peluru dan anak panah sekuat itu. Lagipula, penyebaran dua barang itu sudah dibatasi dan diawasi langsung oleh kerajaan. Para ksatria merasa di atas angin, peluang kemenangan mereka meningkat drastis bila mereka menggunakan zirah besi.

   Sayangnya, otak para pencuri ini lebih lihai. Jika mereka tidak bisa menembus zirah dengan benda padat, mereka dapat menembusnya dengan ‘uap’ plus mereka diuntungkan dengan sifat besi yang menahan panas. Jadi, mereka tidak melukai para ksartia, hanya membuatnya ‘merasa panas’ untuk sejenak saja.

   Beruntungnya, Adruin tidak mengenakan logam sekeping pun. Ia memang tidak cocok dengan baju baja. Gerakannya yang lincah akan berkurang drastis bila ia mengenakan baju baja.

   Sekarang, ia berhasil berdiri. Dengan cepat, ia menyiapkan Innocencia di kedua telapak tangannya. Ia bersiap untuk bertempur.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

rujakteplak
2018-12-21 20:31:09

Wow... Menarik
Mention


AgusMaria
2018-12-21 20:00:46

Cerita yang bagus dan menarik. Adegan aksi dalam beberapa bab menonjol dan ditulis apik
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-20 22:55:42

@dede_pratiwi Makasih Kak,
Mention


dede_pratiwi
2018-12-20 21:39:49

Wow aku suka pendeskripsian sangat tajam setajam silet. Pembaca dibawa mengarungi malam gelap yg dinginnnn
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-12 18:18:46

@YUYU Oh, gitu, makasih Kak Yuyu

Mention


YUYU
2018-12-12 18:15:04

@KurniaRamdan39 wkkwkwk... maksudnya aku pas baca serasa pindah tempat ke dalam tulisanmu pak.
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-12 18:05:26

@YUYU Makasih kak, meskipun ane kurang paham apa yang dimaksud Time Travel yang Kakak sebut
Mention


YUYU
2018-12-12 12:28:08

Time travelnya dapet banget!!! Keren!
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-11 17:19:46

@yurriansan Hmm, terimakasih

Mention


yurriansan
2018-12-11 17:10:25

baru baca sampai chapter ke 3. sejauh ini suka. berasa lagi nonton anime.
antara naruto, black butler daaan yang lainyya.

Mention


Page 1 of 1 (10 Comments)

Recommended Stories

KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

278 223 3
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

469 379 6
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 761 13
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

580 452 14
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 838 8