Enam jam yang lalu, Kastil Asvir, Kota Furai.

   Adruin sedang menunggu atasannya untuk datang kepada dirinya di ruangan rapat ini. Di sini, dengan sepasang belati tersampir di pinggangnya serta seperangkat armor pelindung dari kulit kuda yang membungkus tubuhnya, ia menunggu dengan berdiri tegap di sanding daun pintu.

   Dua orang yang lain sudah duduk menunggu orang yang sama. Satu wanita dan satu pria sedang duduk berseberangan. Keduanya hanya terdiam, tidak berbicara satu kata pun. Meskipun mereka di dalam tim khusus yang sama, namun keduanya jarang berinteraksi sama sekali. Apalagi Adruin.

   Dua orang yang tengah duduk melingkari meja bundar tempat diskusi itu tentunya sudah saling mengenal. Mungkin, karena beberapa alasan pribadi, keduanya tak mau bicara. Adruin mengetahui nama dan julukan serta pangkat masing-masing dari mereka.

   Untuk pertama-tama, Adruin ingin menceritakan sedikit hal tentang siapa dirinya, apa perannya dalam cerita kolosal ini, dan alasan utama mengapa dirinya ada di ruangan ini.

   Sebenarnya, Adruin hanyalah orang biasa. Kalian mungkin akan melihat Adruin sebagai remaja laki-laki yang biasa saja, tanpa keunikan sepeserpun darinya. Jika kita telaah lagi, ia hanyalah remaja berambut coklat pendek, bertubuh tegap tinggi, dan berkontur wajah tegas.

   Tapi ia memiliki kemampuan yang unik dan tidak dimiliki oleh orang-orang biasa. Kemampuan itu disebut Users, yaitu kemampuan untuk bersesuian dengan benda-benda magis bernama Artifact.

   Artifact, adalah sebuah alat berupa senjata unik peninggalan zaman kuno. Teknologi yang dimiliki oleh Artifact sangat unik, tidak dapat didefinisikan dengan nalar zaman sekarang. Pada saat ini, keberadaan sihir sudah hampir punah, hampir tidak ada penyihir yang aktif pada saat ini. Hal ini terjadi karena kebijakan Raja Herman, kakek buyut dari Raja Hermno mengeluarkan sebuah dekrit, sebuah titah untuk memberantas ilmu sihir hingga ke akar-akarnya.

   Keberadaan sihir ditentang keras oleh Raja Herman, hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa sihir dapat melakukan hal apapun, termasuk membunuh orang tanpa meninggalkan jejak sama sekali. “Aku hanya ingin negeri ini bersih dari kejahatan serupa. Aku tak ingin dunia ini dipenuhi oleh keburukan, kejahatan, ataupun ilmu yang disalahgunakan. Jika ilmu seperti sihir dapat disalahgunakan, maka ilmu seperti itu sebaiknya dilenyapkan saja!” ucapnya dalam salah satu orasi di depan semua rakyatnya, seratus tahun yang lalu.

   Semua orang yang mendengar merasa tergerak. Dengan sendirinya, masyarakat mulai membangun organisasi yang menghimbau penggunaan sihir pada jalan yang benar. Raja yang terkenal arif dan adil itu merasa tenang, negeri yang dipimpinnya aman dari bahaya. Beberapa tahun setelah ia benar-benar yakin bahwa sihir lenyap dari negerinya dan semua perjanjian kedamaian dengan kerajaan lain terjamin, ia akhirnya menutup mata dan menghembuskan nafas terakhir.

   Itu adalah salah satu alasan mengapa Raja Herman menghapus sihir. Ada beberapa alasan lainnya yang menyebabkan kenapa sihir dihapus, salah satunya adalah insiden Yggdrasil. Insiden yang menewaskan setidaknya ribuan orang itu kini dianggap legenda belaka dan sekarang sudah menjadi kisah lama yang telah usang, namun hingga saat ini masih ada beberapa orang yang masih memercayainya.

   Kaum pemercaya itu tentunya memiliki bukti. Nah, bukti yang mereka miliki adalah keberadaan Artifact itu sendiri. Sayangnya Artifact tidak dapat digunakan untuk sembarang orang. Seolah-olah Artifact sendirilah yang memilih pemiliknya sendiri. Kesimpulannya, alasan Adruin berada di sini, di tim khusus dari divisi pertahanan Kerajaan ini, adalah karena ia dipilih sendiri oleh salah satu Artifact bernama Innocencia. Sekarang, Artifact itu tersampir di pinggangnya dalam bentuk sepasang belati berwarna hitam sepanjang satu hasta lengannya.

   Tim khusus yang diciptakan enam bulan ini menyeleksi orang-orang khusus yang memiliki kecocokan dengan Artifact. Begitu juga dengan dua partnernya yang sedang duduk itu. Dua partnernya itu adalah orang handal yang memiliki predikat terbaik di bidang yang mereka geluti. Si Pria dengan mata tajam yang indah dan si wanita dengan kilatan tangan yang anggun.

   Deritan pintu terdengar. Muncul sosok berambut emas yang ditunggu-tunggu itu. Dengan iris keemasan mengilap, jubah pendeta putih yang elegan, serta raut tegas di terukir di wajahnya. Ia berjalan dengan tongkat kayu sihir yang tampak kokoh meskipun telah termakan usia. Nama orang itu adalah Gils Neuer. Semua orang kerajaan pasti mengenalnya, ia adalah keponakan dari Raja Hermno. Mata serta rambut keemasannya merupakan tanda bahwa dia adalah keturunan asli dari Keluarga Neuer.

   Dua sosok penjaga terlihat beriringan mengawalnya. Sepasang penjaga itu bertubuh tegap dan besar juga menggunakan baju baja yang tampak mengilap. Adruin berdiri, lalu memberi hormat kepada Gils dan kedua pengawal setianya. Gils mengangguk takzim, menjawab salam hormat Adruin. Kedua orang tadi yang duduk sudah berdiri,  juga ikut memberi salam hormat.

   “Adruin, Maxiel, dan Helena. Terima kasih telah datang ke sini. Maaf aku memanggil kalian secara mendadak.” Gils memilih duduk di salah satu kursi terdekat. Ia menyisir tiga anggota yang telah datang memenuhi panggilannya. “Kemana Athen dan Auria? Apa mereka tidak memberikan kabar sama sekali?”

   “Athen tidak bisa datang, ia harus mengajari anak didiknya di Gunung Thein. Sementara Auria, kau tahu sendiri bukan anak itu selalu saja menghilang…” balas sang wanita berambut ungu, Helena. “Lagipula, hei, semua dari kami orang yang bebas, Gils. Tidak ada dari kita yang bertempat tinggal tetap di Kota Furai. Jadi, mohon maklum saja jika kita tidak lengkap satu sama lain.”

   “Bilang saja kau sedang bermalas-malasan di villamu, Len,” jawab si pria. “Lagipula, jika aku jadi kau, tentunya aku akan bermalas-malasan sepertimu. Di villa yang indah, asri, serta damai,” lanjut si pria.

   “Max, tolong jangan mulai lagi…” sergah Gils. “Kita bertemu di sini tidak untuk berdebat satu sama lain. Lagipula, aku punya misi khusus untuk kalian. Jujur, sebenarnya aku butuh dua orang lagi, tapi yah sudahlah. Akan aku gunakan semua tenaga yang ada di sini.” Gils memperbaiki posisi duduknya. Jarinya bergerak, mengintruksikan agar anggotanya untuk duduk di tempat masing-masing.

   Adruin duduk di seberang Gils. Berjarak tiap satu kursi darinya, terdapat Maxiel dan Helena duduk. Maxiel duduk di sebelah kanan Adruin dan Helena duduk berseberangan dengannya. Sementara itu, dua kursi di biarkan kosong tak diisi, meninggalkan dua pengawal pribadi Gils yang tetap berdiri di sisi pintu.

   “Langsung pada intinya, aku punya misi khusus untuk kalian.” Gils mengubah kontur wajahnya menjadi lebih serius.

   “Memangnya apa alasanmu hingga menggerakan tim khusus seperti kami Gils? Apa kerajaan lain melakukan gerakan yang mencurigakan dan kau ingin menghabisi mereka? Atau, justru kau yang ingin memata-matai kerajaan yang lain?” tebak Helena.

   Gils menggeleng. “Tidak, kita di sini tidak akan mengurusi urusan kerajaan lain, tidak, kita tidak akan melakukan hal seperti itu. Justru, aku ingin kalian bergerak agar melakukan ‘pembersihan’ di kerajaan ini.” Gils kembali terdiam sejenak, membiarkan denting jam bermekanis rumit mengisi ruangan.

   “Memangnya apa yang kau inginkan, Gils? Tidak seperti dirimu saja kau terburu-buru seperti ini.”

   Gils menyisir kembali anggotanya, lalu dengan menunduk serta nada pelan, ia berkata, “kita akan memberantas Democratio Alliance…”

   Sontak saja, semua orang di sana terkejut dengan pernyataan Gils. Semua orang tahu tentang sejarah dari berdirinya Democratio Alliance. Dimulai dari perjuangan penuh pengorbanan dari ribuan petani, pedagang, hingga pekerja kebun kelas rendahan, yang kebanyakan dari mereka mati dengan sia-sia saja, sampai usaha mereka membuat sebuah koalisi politik yang berpusat dan membangun kekuatan diplomasi yang patut dilawan karena dukungan dari ribuan rakyat.

   Memang, mereka berencana untuk mengubah sistem monarki menjadi demokrasi dan tentunya patut dilawan oleh kaum monarki. Namun, melawan diplomasi yang mendapat dukungan banyak seperti itu dengan kekuatan militan tentunya menimbulkan kecaman dari rakyat bukan? Begitulah tanya tiap kepala di sana.

   “Mereka punya dukungan, Gils. Kita tidak bisa membuat mereka lenyap begitu saja!” sergah Maxiel. “Itu hal yang gila, Gils. Bahkan bila Sang Baginda Raja sendiri yang memberi perintah, ini masih saja hal yang gila!”

   “Aku punya alasan mengapa hal ini perlu dilakukan.” Gils mengeluarkan beberapa dokumen. Dari berkas-berkas dokumen itu, ia memberikan sebuah penjelasan lagi. “Aku terima dari Si Tikus bahwa Democratio Alliance akan menggunakan cara yang kasar dalam permainan politik ini.”

   Semuanya hening. Helena mengambil selembaran dari berkas itu, mengamatinya dengan teliti, lalu menghela nafas. “Gils, dokumen ini akurat? Dari mana kau dapat dokumen semacam ini? Apa sumbermu memang terpercaya untuk hal seperti ini?”

   Gils menatap Helena, “aku jamin itu. Si Tikus selalu mengirimkan informasi secara akurat. Ini sudah kesekian kalinya ia mengirim data akurat seperti ini. Mulai dari nama-nama, lokasi, hingga rencana kolosal ini. Rencana untuk meruntuhkan sistem monarki kita! Membunuh Sang Raja merupakan rencana mereka! Apa kita tinggal diam saja mendapat informasi seperti ini lepas?”

   Adruin iku mengambil selembar kertas, mengamati tulisan-tulisan di dokumen tersebut. Rentetan kata di sana di jelaskan secara terperinci. Adruin mengambil beberapa lembar yang lain, di sana ia mendapati berbagai rincian. Mulai dari strategi brutal yang digunakan Democratio Alliance untuk menggerakan massa, menghimbau mereka untuk membuang nyawa mereka demi janji demokrasi, strategi politik untuk membangun koalisi oposisi monarki yang kontroversif, cara untuk membumbui demokrasi sehingga mudah untuk ‘dijual’ ke semua kalangan rakyat, hingga rencana kolosal meruntuhkan monarki dengan membunuh raja dan memenggal kepalanya lalu diarak ke jalanan kota.

   Keji, itulah yang hal yang pertama kali keluar dari kepala Adruin. Sejarah mencatat bahwa perjuangan Democratio Alliance yang dimulai dari titik nol, hingga sekarang mendapat sebagian besar suara sah di kursi parlementer yang rencananya akan dibuat di masa mendatang. Banyak orang mendukung Democratio Alliance karena iming-iming kebebasan serta kesejahteraan, namun banyak juga pihak yang ingin menyingkirkannya, terutama pihak kerajaan sendiri.

   “Tuan Gils, apa perintah anda untuk saat ini?” tanya Adruin. “Melakukan penangkapan langsung pemimpin Democratio Alliance tentunya akan menuai kontroversi dan meskipun bukti yang kita punya hampir akurat. Mereka masih bisa menyangkal fakta ini, Tuan Gils. Selama masyarakat masih berpihak di sisi mereka, kita tidak bisa betindak gegabah. Malahan, mereka bisa menjatuhkan kita dengan tuduhan bahwa pihak kerajaan yang menghabisi Democratio Alliance. Membuat kita menjadi kambing hitam.”

   Gils melipat tangannya, berpikir sejenak. Setelah hening beberapa saat, akhirnya ia menjulurkan sebuah kertas gulungan. Ketika dibuka, gulungan kertas itu masih kosong. Pertama-tama, Gils menggambar lingkaran besar dan menuliskan ‘Democratio Alliance’ di dalamnya. Garis-garis mulai ia hubungkan ke beberapa titik di lingkaran, lalu ia menggambar lingkaran lain yang kecil, menghubungkannya ke lingkaran besar.

   “Jika mereka menggunakan cara bawah tanah, maka kita juga. Mereka membangun aliansi dengan beberapa organisasi yang lain. Rencananya, kita akan meruntuhkan satu persatu pondasi mereka, melemahkan tiap hubungan yang ada. Lalu dengan bukti yang lebih kuat lagi dari keruntuhan pondasi mereka, kita dapat membawa kasus ini ke meja pengadilan.”

   Semua orang di sana mengangguk takzim. Ada empat bulatan kecil di sana. Masing-masing dituliskan berdasar keanggotaan organisasi pondasi tersebut. “Bangsawan pendukung, kaum pencuri, klan bandit, dan penyihir ya. Hmm, mereka memiliki pasukan yang memiliki spesialisasi. Tapi itu tidak apa-apa, itu hal yang mudah, bukan?”

   Gils mengangguk. “Sayangnya, kita tidak mengetahui dengan pasti kaum pencuri, klan bandit, serta kelompok rahasia sihir yang mendukung mereka. Tapi, aku punya daftar nama bangsawan yang mendukung mereka secara tersembunyi dan diam-diam. Sekarang, aku akan membagi tim ini. Kalian,” Gils menunjuk Maxiel dan Helena, “kalian akan bergabung dengan Athen untuk memata-matai fraksi bangsawan pengucur dana. Aku beri berkas daftar nama-namanya habis ini. Sementara kau Adruin, kau akan ikut denganku bersama dengan Auria.”

   Tiga orang mengangguk mantap, mengerti perintah Gils. “Baiklah, kita bubar setelah ini dan mulai pekerjaan kita masing-masing.” Serempak, Maxiel dan Helena berdiri, berjalan keluar. Keduanya juga tak lupa meminta berkas yang dimaksud Gils. Sesudahnya, punggung mereka hilang di balik pintu.

   Sekarang, tinggal Adruin, Gils, dan dua pengawalnya saja yang berada di ruangan itu. “Nah Adruin, aku punya tugas khusus untukmu. Persiapkan persenjataanmu, kalau perlu bawa satu atau dua kompi penuh untuk menangkap target kita, yaitu seorang ‘pengirim pesan’ dari komplotan pencuri bernama Dieb.”

   Adruin langsung berdiri tegak, siap mendengarkan titah dari Gils.

   “Pengantar pesan yang kumaksud adalah sebuah kereta imitasi buatan komplotan pencuri itu. Kereta kuda itu amat sulit untuk dibedakan. Tapi, dengan keahlianmu, kau pasti bisa membedakan mana yang imitasi dengan yang asli bukan?”

   Adruin menangguk, mengerti. “Lalu, ke mana tujuan kereta kuda tersebut?”

   “Ke Furai. Bergegaslah, mungkin kereta yang dimaksud akan datang. Dan jika ia berhasil masuk ke Kota Furai, maka mereka akan jauh lebih unggul daripada kita. Kau paham bukan?”

   Adruin hanya balas mengangguk kecil. Setelah memberi hormat kepada Gils, Adruin bergegas pergi dari ruangan itu, meninggalkan Gils dengan dua pengawalnya.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
1 0 0 0 0 0
 
Save story

rujakteplak
2018-12-21 20:31:09

Wow... Menarik
Mention


AgusMaria
2018-12-21 20:00:46

Cerita yang bagus dan menarik. Adegan aksi dalam beberapa bab menonjol dan ditulis apik
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-20 22:55:42

@dede_pratiwi Makasih Kak,
Mention


dede_pratiwi
2018-12-20 21:39:49

Wow aku suka pendeskripsian sangat tajam setajam silet. Pembaca dibawa mengarungi malam gelap yg dinginnnn
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-12 18:18:46

@YUYU Oh, gitu, makasih Kak Yuyu

Mention


YUYU
2018-12-12 18:15:04

@KurniaRamdan39 wkkwkwk... maksudnya aku pas baca serasa pindah tempat ke dalam tulisanmu pak.
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-12 18:05:26

@YUYU Makasih kak, meskipun ane kurang paham apa yang dimaksud Time Travel yang Kakak sebut
Mention


YUYU
2018-12-12 12:28:08

Time travelnya dapet banget!!! Keren!
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-11 17:19:46

@yurriansan Hmm, terimakasih

Mention


yurriansan
2018-12-11 17:10:25

baru baca sampai chapter ke 3. sejauh ini suka. berasa lagi nonton anime.
antara naruto, black butler daaan yang lainyya.

Mention


Page 1 of 1 (10 Comments)

Recommended Stories

THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

577 450 14
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

688 510 8
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 759 13
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

277 222 3
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

433 321 6
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

712 526 9