“Apa sudah ada pesan dari Marie dan yang lain?” tanya Niels kepada sekretaris serta ahli strategi yang merangkap pula peran bendahara markas pencuri ini, Liex. Orang itu memiliki postur tubuh gempal dengan rambut sepunggung meskipun ia pria. Kacamata bulat yang bertengger di wajahnya menampakkan bahwa ia sosok yang cerdas.

   “Belum, Ketua. Kelompok Marie sama sekali belum memberikan kabar.” Liex memberikan beberapa berkas laporan flukstuasi pasar. Memang, pencuri tingkat rendah tidak akan mengamati fluktuasi dari pasar. Namun tidak dengan milik Niels.

   Alasan utama mengapa nominal yang dimiliki Niels begitu besar jika di total dari puluhan akun bank samaran selain misi pencurian adalah pencucian uang. Uang jika hanya mendekam di tabungan tidak akan banyak berguna. Maka dari itu, Niels mengakomodasikan sebagian besar asetnya menjadi kedai, pertokoan, dan komoditas pabrikan seperti kain, rempah-rempah, dan sebagainya.

   Permainan ekonomi pasar, begitulah Niels menjulukinya. Berkutat dengan angka-angka, nominal harga, kemungkinan, prediksi pasar memang bukan keahlian Niels. Tetapi, ia punya tangan kanan yang bertugas khusus untuk itu, Di situlah peran Liex sebagai ahli strategi, sekretaris, serta bendahara komunitas pencuri ini.

   Niels melihati grafik garis peningkatan komoditas kopi dan cengkeh yang akan dikirimkan ke kerajaan lain. “Itu bagus, Liex. Kita bisa menjual kopi dan cengkeh yang ada di gudang-gudang kita, atau hanya tinggal mencurinya saja dari gudang lain. Suruh yang lain untuk urusan ini.”

   “Baiklah, Ketua. Lalu untuk klien kita, Democratio Alliance, mengirimkan surat melalui jaringan udara. Untuk suratnya sudah kutaruh di ruang kerja anda.”

   Niels penasaran. Ia lalu menyuruh dua orangnya untuk melakukan cek ke guild dan menghubungi Lauren. Sementara ia, menikmati ruangan kerjanya. Ruang kerjanya ini hanya berukuran lima kali lima meter. Meja kerjanya terletak tepat berhadapan langsung dengan daun pintu. Almari buku dengan tiga tingkat terletak berhadangan di sisi kanan dan kiri. Beberapa lukisan indah dan mahal —hasil investasi besar-besaran— tampak bertengger rapi di dinding batuan.

   Niels duduk tenang di kursi balik meja kerjanya. Temaram lampu minyak menerangi kamarnya ini dengan remang. Sepucuk surat, dengan sebuah segel merah berlogo khusus. Itu logo Democratio Alliance. Bertandakan telapak kaki hewan beruang dan cakar hitamnya. Dengan cepat, Niels membuka segel itu, menarik jelujur kertas di dalamnya. Perlahan, mata abu-abu Niels meniti tiap kata di surat itu.

Furai, 12 Octo, 200 tahun setelah Raja Adrian

Kepada teman kami, Saudara Niels

Aku sudah mendengarmu dari Lauren dan semua jaringanku yang terpercaya. Kau, Niels Jay adalah orang yang terpandang di mata kami. Aku sendiri tentunya tidak meragukan kinerjamu, Kawan.

Tapi ketahuilah, hingga saat ini, mungkin hingga surat ini kau baca, aku ingin memberitahukan sesuatu. Kita terkena perangkap!

Deg! Niels merasa bahwa surat ini amat penting. Ia melanjutkan membaca.

Pagi lalu—tidak, lebih tepatnya sudah enam bulan yang lalu, kerajaan menciptakan sebuah pasukan khusus. Mereka adalah orang-orang terpilih yang memiliki talenta menakutkan untuk menumpas manusia. Tujuan utama mereka adalah untuk memberantas penuh demokrasi hingga ke akar-akarnya.

Sekarang, aku punya penawaran yang bagus untukmu. Tentunya, penawaran ini wajib kau pertimbangkan dengan akal pikirmu itu, Niels… Tapi sebelumnya, baca baik-baik surat ini.

   Niels mengerutkan dahi, memiliki firasat yang tidak enak.

Berkat tindakan kami untuk mengekspos kejahatan korupsi, pasukan khusus itu sudah bergerak. Bahkan pasukan itu bergerak sebelum aku benar-benar menyadarinya pagi lalu. Mereka memasang perangkap, Niels. Rumor itu, rumor tentang pemerintahan yang korup itu adalah jebakannya!

Sialnya, kita tergiring ke jebakan itu, Niels. Sumberku mengatakan bahwa ada pasukan khusus yang telah bergerak ke Aniereta. Mereka bergerak untuk menghajar Lauren, tangan kananku yang paling hebat dalam mengumpulkan informasi.

Awalnya, aku kira pergerakan ini hanya sebuah gertakan saja, Niels. Lagipula, sumber yang kuterima bukan dari Lauren sendiri. Namun, setelah keberangkatan mereka dari Furai, aku meyakini bahwa informasi yang kudapat ini benar adanya.

Jadi, apa kau sudah mengerti keadaan kita? Kita sekarang terperangkap, dengan pasukan khusus yang memburu kita berdua Niels.

Sekarang, aku menawarkan suatu hal padamu. Bagaimana kita membentuk aliansi?

   Surat itu terdiri dari dua lembar, lembar pertama sudah habis. Sekarang Niels membalik lembaran kedua. Di sana terdapat logo kaki beruang berukuran cukup besar, lalu terdapat sepotong kertas kecil yang berisikan sebuah lokasi. Niels melihat ujung atas lembaran tersebut, lalu menemui hanya ada dua kalimat di sana.

Aku punya alasan mengapa kau harus setuju dengan aliansi ini, Niels. Alasannya adalah, terdapat kemungkinan bahwa pasukan khusus tersebut bertemu dengan rombongan pengantar milikmu, lalu dengan cepat menghabisi atau membawanya sebagai tawanan…

   Brak! Tanpa Niels sadari, tangan kirinya sudah menggebrak meja kerjanya dengan keras. Tangan kanannya seolah ingin meremas surat itu langsung, namun hanya dengan meremasnya tidak akan menyelesaikan masalah ini.

   Surat itu hanya tidak berisi perihal siapa pengirim surat tersebut. Namun Niels tahu, bahwa pengirim surat tersebut pastilah Thoir. Thoir mengerti bahwa keadaannya juga terdesak plus terperangkap. Niels mengatur napasnya, berusaha tenang dan berpikir rasional.

   Marie belum mengirim kabar apapun… sementara target utama mereka adalah Lauren. Jika kita berasumsi bahwa penyamaran yang dilakukan komplotan Marie sempurna, maka tingkat kecurigaan pada komplotan itu hampir tidak ada… batin Niels. Sementara itu, keberadaan Lauren di kota ini menjadi sebuah kunci utama. Jika aku bertindak cepat dan menyingkirkan Lauren dari sini, maka semuanya aman…

   Niels tak ingin melakukan risiko yang lebih besar. Kehilangan kawanannya itu lebih buruk daripada kehilangan barang curian, permata paling mahal, ataupun upeti gelap. Semua harta dapat di dapat kembali, namun tidak dengan nyawa seorang kawan.

   Namun bagaimana? Ini sudah terlanjur jauh. Marie dan kawanannya sudah separuh jalan ke Furai. Niels tetap berpikir positif dengan keberadaan mereka. Hanya ada satu cara untuk membuat resiko semakin kecil, yaitu menyingkirkan Lauren.

   Niels berdiri, memanggil satu hingga dua anggotanya, lalu menyuruh mereka untuk menghajar Lauren—hanya membuatnya pingsan— lalu membuangnya ke kota lain, atau paling tidak ke gorong-gorong di sudut kota. Lumayan untuk balas dendam, batin Niels.

   Dua orang langsung datang ketika Niels memanggil. Keduanya memberi hormat, lalu siap mendengar perintah dari Niels.

   “Lenyapkan Lauren dari kota ini. Ingat, jangan sampai ia terbunuh. Bisa lama urusannya jika ia ditemukan dalam keadaan terbujur kaku.” Setelah itu, kedua pemuda tersebut balik kanan, meninggalkan ruang kerja Niels.

   Niels kembali duduk. Di pikirannya sekarang adalah Marie, adik kandungnya itu. Ia berharap, tidak ada masalah apapun pada Marie.

                                                                                                           ***

Lauren masih tetap menunggu kabar dari Thoir. Ia tetap memilih duduk di salah satu kursi Guild. Sekarang, sudah terhitung sepuluh jam semenjak keberangkatan komplotan pencuri Marie ke Furai. Ini misi yang menegangkan. Dengan barang bukti sekuat itu, Lauren percaya bahwa Democratio Alliance makin mendapat suara dari berbagai kalangan lain.

   Contohnya saja, kaum borjuis yang menanam banyak modal pada Kerajaan Fianna. Bayangkan saja jika mereka mengetahui bahwa modal yang selama ini mereka tanamkan, ternyata hanya masuk ke perut kaum ningrat, mereka akan ikut melawan kerajaan, meskipun visi dan misi kedua sisi berlainan.

   Dan hitung juga kemungkinan bahwa beberapa pendeta gereja, pendeta kuil, serta pemimpin kepercayaan lain yang akan berpihak. Semua ini sudah terencana di kepala Lauren. Tiap detail rencana sudah ada, tinggal melakukannya saja.

   Sayangnya, Lauren tidak menuliskan di kepalanya bahwa masih ada ‘kemungkinan terburuk’.

   Sang Surya sudah menanjak naik, ingin menduduki tahta tertingginya sembari melihati manusia yang tampak sebagai semut dari atas sana.

   Lauren menunggu sembari meminum segelas kopi hitam tanpa gula untuk mengusir kantuk selama pekerjaannya ini belum selesai. Saat genangan hitam itu hampir habis, terdengar keriuhan di luar sana. Lauren menoleh sesaat, mengintip dari balik jendela di sebelahnya.

   Sebuah kereta berwarna putih keperakan terlihat dikerumuni. Beberapa ksatria kerajaan tampak menyergah beberapa orang untuk pergi dari hadapan kereta. Lauren hanya mengamati sekilas, tak tertarik dengan pemandangan serupa. Malahan, ia muak ketika ia melihat kereta semacam itu, ia teringat akan masa lalunya.

   Sementara itu, di luar sana kereta itu berhenti tepat di depan Guild. Semua orang menggerumbul di sana, memandangi kereta mewah itu. Sepasang ksatria dengan satu set baju baja lengkap berdiri di sanding pintu kereta kuda tersebut, membukakan pintu.

   Dari pintu tersebut, keluarlah seorang pria. Ia mengenakan pakaian serupa pendeta. Rambut emasnya terkulai rapi, tampak melambai-lambai ketika diterpa angin sesaat. Warna iris matanya yang senada dengan warna rambutnya tampak memicing, berusaha mengintimidasi siapaun yang menatapnya.

   Dari dalam, Lauren dapat merasakan aura karismatik dari sosok tersebut. Sosok itu turun dari keretanya, lalu berjalan menuju Guild. Sepasang ksatria tadi membuat jalan dengan mendorong beberapa orang dengan kasar.

   Saat ketiga orang itu masuk ke lobi Guild, semua mata tertuju pada mereka, tak terkecuali Lauren. Lauren tidak mengenal siapa pria itu, namun itu bukan menjadi urusannya sekarang. Sekarang, ia lebih mengkhawatirkan tentang Marie.

   Ketiga sosok itu berjalan ke panggung kecil Guild yang digunakan untuk pementasan kecil pemusik rendahan sebagai hiburan. Semua mata masih tertuju pada mereka. Pria berambut emas itu mengangkat tangannya, menyuruh semua pembicaraan berhenti sejenak. Dengan karisma tinggi seperti itu, ia dapat melenyapkan suara, bahkan derakan lantai rusak sekalipun.

   “Atas titah Raja Hermno, aku ke sini untuk menumpas Democratio Alliance!” tegas pria itu sambil menyisir seisi ruangan. “Jika kalian memiliki informasi penting, silakan angkat tangan kalian!”

   Seisi ruangan hening. Di kepala mereka, Democratio Alliance adalah organisasi pembela demokrasi yang bahkan sudah memiliki koalisi tersendiri dalam politik untuk memperebutkan kursi kekuasaan. Jika boleh jujur, mungkin semua orang di sana —yang tentunya berasal dari orang rendahan— mendukung Democratio Alliance. Sayangnya, semua dari mereka masih sayang pada nyawa, mereka tak ingin berurusan lebih jika pihak kerajaan sudah melakukan tindakan seperti ini.

   “Dan satu lagi, kami juga mencari seseorang bernama Niels Jay!” lanjut pria itu.

   Kontan saja, semua orang mulai riuh. Banyak dari mereka langsung mengeluarkan keluh kesah mereka. Mulai dari keamanan yang tak terjamin hingga barang berharga yang kerap kali hilang.

   “Itu bagus, kita setuju bahwa Anda sekalian juga ikut menumpas komplotan pencuri yang dipimpin Niels itu!” sorak salah satu partisipan.

   Di sisi lain, ketika semua orang riuh memaki-maki Niels, Lauren melakukan sebuah kesalahan. Tanpa ia sadari, ia menunduk. Tentunya, karena ia memilih duduk di lokasi paling pojok, ia akan sulit diketahui. Sayangnya, iris emas pria itu selalu mengamati, seolah mata emas itu dapat ‘melihat’ isi hati semua orang.

   Dengan seulas senyum kecil, pria itu membatin, kita telah mendapatkan petunjuk untuk mengahabisi mereka…

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
1 0 0 0 0 0
 
Save story

rujakteplak
2018-12-21 20:31:09

Wow... Menarik
Mention


AgusMaria
2018-12-21 20:00:46

Cerita yang bagus dan menarik. Adegan aksi dalam beberapa bab menonjol dan ditulis apik
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-20 22:55:42

@dede_pratiwi Makasih Kak,
Mention


dede_pratiwi
2018-12-20 21:39:49

Wow aku suka pendeskripsian sangat tajam setajam silet. Pembaca dibawa mengarungi malam gelap yg dinginnnn
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-12 18:18:46

@YUYU Oh, gitu, makasih Kak Yuyu

Mention


YUYU
2018-12-12 18:15:04

@KurniaRamdan39 wkkwkwk... maksudnya aku pas baca serasa pindah tempat ke dalam tulisanmu pak.
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-12 18:05:26

@YUYU Makasih kak, meskipun ane kurang paham apa yang dimaksud Time Travel yang Kakak sebut
Mention


YUYU
2018-12-12 12:28:08

Time travelnya dapet banget!!! Keren!
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-11 17:19:46

@yurriansan Hmm, terimakasih

Mention


yurriansan
2018-12-11 17:10:25

baru baca sampai chapter ke 3. sejauh ini suka. berasa lagi nonton anime.
antara naruto, black butler daaan yang lainyya.

Mention


Page 1 of 1 (10 Comments)

Recommended Stories

Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 835 8
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

469 379 6
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

712 526 9
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

577 450 14
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

459 352 4
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

712 537 8