Embun pagi masih membasahi jendela serta dedaunan di luar. Marie mengerjapkan matanya, mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi beberapa jam yang lalu. Malam kemarin, ia betul ingat bahwa ia mempunyai tugas di mana ia harus tetap menjaga Maxiel agar sibuk. Sayangnya, tugas itu gagal dengan kejadian yang tak ia duga.

   Seharusnya, sesuai dengan prediksi Niels, hanya Maxiel sajalah yang mendapatkan tugas mengintai, tapi mereka keliru. Mereka terlalu meremehkan faktor lain dalam keanggotaan The Eagle’s, yaitu Adruin. Remaja itu benar-benar tak dapat diduga. Awalnya, rencana berjalan sesuai, Maxiel disibukkan dengan Beeg. Tentunya Maxiel tidak melawan secara serius, ia hanya menghindari hantaman tangan Beeg.

   Sementara itu, Marie berdiri mengamati di atas. Rencana yang ia dan Niels lakukan adalah dengan menghabisi Maxiel secara tak langsung. Dengan membuatnya sibuk, ia akan lengah. Di saat itulah, Marie akan menembaknya dengan senapan khusus yang Niels simpan di salah selama ini. Niels memang seperti itu, menciptakan berbagai mekanisme serta persenjataan unik dan menyimpannya secara tersembunyi hampir di semua kota, termasuk Furai ini.

   Senjata itu tersimpan rapi di gudang milik Dieb. Di sana, Marie menemui orang kepercayaan Niels dan meminta orang itu untuk mengambil senapan yang tersimpan rapi di sana. Sekarang, ia sudah menyiapkan senapan itu, dan mengarahkan moncongnya ke kepala Maxiel. Rencana ini sudah mereka pikir secara matang-matang. Meskipun mereka telah memberikan informasi yang dapat memancing The Eagle’s untuk percaya pada mereka. Dengan meningkatnya kepercayaan The Eagle’s, mereka dapat mengeduk lebih dalam lagi informasi-informasi yang mereka inginkan.

   Sayangnya, itu tak terjadi. The Eagle’s tetap memilih untuk tidak mempercayai Niels sepenuhnya. Maka dari itu, Niels mengambil inisiatif dengan menghancurkan saja The Eagle’s dari dalam. Lagipula, tujuan mereka masuk ke dalam Democratio Alliance hanyalah untuk mengetahui siapa yang berani berkhianat dari mereka.

   Niels sudah memiliki daftar nama-nama tentang siapa saja yang mungkin mengkhianatinya. Sayangnya semua orang itu adalah orang-orang kepercayaannya, yang bahkan Niels sendiri tak membayangkan nama-nama itu mengkhianatinya.

   “Paling lambat lusa, Marie. Aku sudah mempersempit daftar nama itu menjadi tiga orang. Nanti, setelah bertemu dengan Democratio Alliance, aku akan kembali ke Anirieta untuk mengecek satu hal lagi dan semuanya akan jelas siapa yang berkhianat.”

   Jadi, mereka membagi kerja. Niels pergi untuk mengonfirmasi siapa yang berkhianat, sementara Marie di sini menyibukkan Maxiel dan bertugas untuk mengakhirinya. Keduanya sudah berjanji akan bertemu di Kota Atumbra, yang berjarak lima jam berjalan kaki ke Selatan.

   Moncong senapan sudah terarah tepat dan mengunci kepala Maxiel. Marie mengatur napasnya teratur dan menahannya sejenak, fokus penuh dengan moncong senapan itu. Dan di saat terakhir di mana ia akan menarik pelatuknya, Marie terkejut bukan main ketika sebuah aura haus darah mengincarnya.

   Deb! Tikaman itu hampir saja mengenai punggungnya. Marie hampir saja mati dari tikaman maut itu. Belum selesai Marie mengetahui siapa yang menyerangnya secara tiba-tiba itu, sebuah belati melayang menembus udara. Marie terkejut, ia tidak sempat menghalau belati itu. Buk! Lontaran belati itu terbenam di perutnya.

   Serangan itu amatlah cepat. Marie meringis kesakitan. Perlahan, kesadarannya mulai pudar. Ia menyentuh belati itu, dan ia menyeringai ironi melihat rupa belati itu. Perlahan, ia berusaha mencabunya, tapi itu sia-sia, ia tahu kemampuan unik belati itu.

   Sialan, andai saja kau masih milik kami, Innocencia… batinnya perlahan. Lambat laut, ia mulai kehilangan kesadarannya.

   Dan sekarang, ia terbangun di sebuah kamar tidur. Seseorang telah membawanya kesini dan tentunya telah membebat lukanya sebaik mungkin. Di sebelahnya, Marie mendapati sosok orang yang ia kenal baru-baru ini duduk di sebelahnya, seolah menunggu dirinya bangun.

   “Tak kusangka, kau bertindak semacam ini. Sungguh, aku bertanya-tanya kepada siapa kau berpihak, Adruin?” tanya Marie yang mendapati Adrui duduk itu. “Kau punya kesempatan saat itu, kawan. Dan pertanyaannya, kenapa kau membawaku ke tempat ini, bukan sebuah sel penjara?”

   “Marie Jay, harus kuluruskan, bahwa sebenarnya niatanku dari awal tidaklah bergabung dengan The Eagle’s… dan hal itu baru saja kusadari beberapa hari ini. Sebuah suara mengatakan bahwa aku harus berhenti dari The Eagle’s. Hal ini membuatku bimbang, Marie. Nah sekarang tujuanku adalah bertanya padamu. Tenang Marie, sekarang aku tidak memihak siapapun di sini.”

   “Benarkah? Aku ingat betul kemarin kau berniat menikamu. Hei, dan lihat, kau juga melempar Innocencia tanpa ragu!”

   “Tunggu dulu, kau tahu Innocencia? Aku tidak ingat Tuan Gils pernah bilang tentang kemampuan kita kepada kalian… dan untuk tambahan, suara itu juga berasal dari Innocencia… suara itu…”

   “Suara yang haus untuk membunuh namun juga suara untuk berhenti, mana yang lebih sering kau dengar?” tanya Marie dengan yakin. Ia tahu dari nalurinya, Adruin tidak ada niatan bertarung. Jujur saja, Marie masih kurang paham tentang apa yang terjadi, ia mencoba untuk memahaminya dengan memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud lawan bicaranya ini.

   “Baiklah, akan kujelaskan sesingkat mungkin…” selanjutnya, Adruin menjelaskan dari awal kehidupannya, yang dimulai dari masa kecilnya yang tidak mengetahui ayah atau ibunya sama sekali. Ia sedari kecil hidup dengan pamannya yang bernama Nism. Ia tumbuh dengan baik, juga rasa penasarannya terhadap ayahnya, dan bertanya-tanya mengapa pria itu meninggalkannya. Jadi, ia mencoba merantau dan mencari pekerjaan. Suatu hari, ia tak sengaja mengikuti sebuah sayembara dan terpilih menjadi anggota The Eagle’s. Semua orang menatapnya rendah, karena ia memang bukan siapa-siapa, namun justru dialah yang terpilih. “Tuan Gils menerimaku dengan baik. Jadi aku memilih setia padanya, meskipun aku tahu, bahwa sebenarnya aku tidak berharga bila dibandingkan dengan anggota lainnya.”

   “Ah, mari kupotong sejenak kawan. Jadi, kesimpulannya kau bimbang dengan pilihan yang ada. Kau ingin membalas Gils dengan kesetiaan, namun kau tidak ubahnya seekor parasit pengganggu bukan? Sementara di sisi lain, kau masih ingin mencari ayahmu?”

   Adruin mengangguk mantap. “Aku ingin tahu mengapa Beliau meninggalkan aku dan ibu. Kata pamanku, beliau adalah orang terhormat dan dihormati. Jadi, aku mempertanyakan kepergiannya itu. Aku rela dihina dan dikucilkan karena mengundurkan diri dari divisi khusus seperti The Eagle’s karena satu langkah untuk menemui ayahku.”

   Marie tertegun, tidak mempercayai apa yang barusan saja ia dengar dari Adruin. Pertama kalia ia bertemu Adruin, ia berpikir bahwa Adruin adalah tipikal serdadu biasa, yang hanya menuruti perintah dari atasannya saja. Itu benar, tapi Marie tak menyangka sisi yang dimiliki Adruin. Remaja itu tampak rapuh, amat rapuh. Namun dengan kekuatan kecilnya, ia menutupi kelemahannya, berakting kuat.

   Marie mengangkat tangannya, mengelus rambut coklat Adruin yang halus itu. Itu hal yang sama seperti yang dilakukan mendiang Kasn kepadanya ketika kecil. Sentuhan telapak tangan itu membuat Adruin terkejut dan tertunduk.

   “Sekarang kutanya, memangnya kau tahu kemana orang itu pergi?”

   Adruin menggeleng, “aku memang tidak mengerti, tapi aku akan tetap mencarinya kemanapun.”

   “Aku rasa kau tidak perlu mencarinya, Adruin. Karena ia sudah meninggal beberapa tahun silam.”

   Adruin tercekat mendengarnya, kontan saja ia menepis tangan Marie. “Itu bohong!”

   “Tidak, Kasn ibn Ahmd telah meninggal sepuluh tahun lalu. Kau harus terima kenyataan seperti itu, Adruin.”

   “Kau berkata seolah kau memang mengenal—”

   “Iya, aku mengenalnya!” potong Marie cepat. “Ia sudah kuanggap ayahku sendiri! Tapi ia harus mati di tangan orang yang sekarang ini kau puja dan puji dengan kesetiaanmu! Gils Neuer-lah yang membunuh ayahmu, Adruin!”

   “Tidak! Itu bohong!” Adruin bangun menyentak Marie dan membuat kursinya jatuh menghantam lantai. “Bagaimana bisa? Bagaimana bisa sosok Gils Neuer membunuh Ayah? Itu tidak mungkin!”

   “Kau tidak percaya? Baiklah, akan kuceritakan sedikit potongan masa lalu agar kau percaya dan tidak sembarangan menuduhku seorang pembohong. Akan kujelaskan hubungan semuanya ini dengan takdir yang menjalinnya. Aku sarankan kau untuk tetap tenang, Adruin dan kembalilah duduk.”

   Adruin menurut. Ia kembali duduk di kursinya, memilih menenangkan diri dan bersiap mendengar cerita yang akan Marie ucapkan setelah ini.

                                                                                                                  ***

Sepuluh tahun lalu, insiden Ratte der Küche, Anirieta.

   “Selamat jalan Marie, semoga kau bisa hidup bahagia. Maaf kakak dan Lauren tak bisa menemanimu karena beberapa alasan dan beberapa pekerjaan.” Niels menatap Thoir dan berkata santun, “tuan, mohon maaf saya menolak tawaran anda. Namun aku tetap berterima kasih karena kebaikan hati Anda.”

   Dengan ucapan itu, Niels dan Lauren balik kanan, meninggalkan Marie dan Thoir di sana. Marie kecil ingin saja menggapai punggung kakaknya itu, merajuk dan menangis serta menarik baju yang ia kenakan. Namun ia tidak bisa. Ia takut, ia takut menerima fakta bahwa Niels akan menolaknya dan berubah. Ia takut karena ia lemah.

   Maka semenjak itulah, ia mulai mengutuki dirinya yang lemah itu. Setelah diadopsi, ia dipindahkan ke sebuah pedesaan terpencil karena urusan administrasi kerajaan yang rumit. Di desa itu, Democratio Alliance membangun kekuatannya. Ia diasuh oleh seorang penyihir wanita yang nantinya akan ia panggil Master Alinae.

   Selama bertahun-tahun, Marie belajar dan menguasai teknik sihir tingkat tinggi yang selalu dijajarkan oleh Alinae, sebaliknya Alinae merasa bangga dengan kemampuan belajar Marie yang amat cepat. Ia secara terus menerus menghantam otak Marie dengan kumpulan buku-buku sihir dan bahkan menyuruhnya untuk membuat mantra unik miliknya sendiri. Setelah beberapa tahun belajar di sana, Marie menjadi penyihir cilik yang cerdik serta berakal cepat.

   Pada saat ia menginjak usia empat belas tahun, ia mendengar kabar bahwa Lauren ikut bergabung dengan Democratio Alliance. Marie ingin bertemu dengannya dengan maksud untuk menanyakan perihal nasib kakaknya. Mereka berdua bertemu di sebuah pelataran kuil yang terletak di Kota Panims secara kebetulan semata. Pada saat itu, Marie disuruh untuk menemui teman lama Master Alinae dan memesan beberapa perkamen kuno untuk bahan ajarnya, sedangkan Lauren datang untuk meminta peramal guna melihat jalan yang tepat untuk solusi dari permasalahannya.

   “Memangnya, apa masalah yang sedang kau hadapi, Kak Lauren?” tanya Marie ketika keduanya sedang duduk di salah satu bangku kuil sembari memakan camilan untuk megisi perut yang keroncongan. Marie membeli semangkuk kecil roti panggang yang berbentuk bola-bola seukuran genggaman tangan bayi. Dengan harga yang murah, ia mendapat porsi yang lumayan mengenyangkan.

   Lauren tampak lesu dan kehilangan harapan, Marie tahu sekilas dari sorot matanya yang sayup dan mati itu. “Ini tentang Niels. Ia sudah kehilangan kendali atas akal sehatnya…”

   Marie tersedak mendengar berita itu. Ia bergegas meneguk air minum, lalu menanykan kembali tentang apa yang ia dengar barusan.

   “Innocencia, belati hitam itu memakan jiwa dan akal pikirnya. Aku tak bisa menghentikannya! Aku membiarkan amarah dan dendam membakar jiwanya yang malang itu!” Lauren menelungkupkan wajahnya di telapak tangan dan mulai menangis.

   Marie tidak memahami maksud perkataan Lauren, maka dari itu ia menanyakannya sekali lagi. Lauren sudah kembali tenang. Ia mulai bercerita tentang kepergiannya bersama Niels selama enam tahun belakangan ini.

   Cerita dimulai ketika mereka mulai memburu semua orang yang bersangkutan dengan insiden. Satu persatu mereka mulai mendapatkan nama dan lokasi. Semua orang itu tersebar secara acak, dan mereka juga dengan sabaran pindah dari kota satu ke kota lain karena memang mereka adalah buronan tingkat tinggi. Bukan hanya pasukan kerajaan yang mereka hadapi, namun juga pemburu hadiah yang juga mengincar kepala mereka dengan harga yang amat menggiurkan. Mereka dicari di manapun, tapi tidak ada yang tahu bagaimana rupa wajah mereka atau siapa mereka.

   Suatu saat, mereka dikepung oleh puluhan ksatria lengkap dan puluhan pemburu hadiah. Semua dari mereka bersenjata lengkap dan terlatih. Lauren pikir bahwa mereka akan berakhir di sana, tapi Niels tertawa keras. Tawa itu menggelegar, memecah keheningan, mengirim teror yang tak terbayang oleh manusia.

   Dan di saat itulah, untuk pertama kalinya, Lauren melihat kekuatan Niels yang sebenarnya.

   Niels mencabut satu belati Innocencia dan memegangnya erat di tangan kanan, sementara tangan kirinya memegang pistola yang terisi sempurna. Dalam gerakan cepat, tubuh kecil Niels merangsek maju.

   Beberapa pemburu hadiah mengarahkan moncong senapan ke Niels dan menarik pelatuknya secepat mungkin, mengirim peluru berkecepatan tinggi ke arah Niels. Tapi Niels menghindarinya dengan mudah, seolah ia dapat membaca arah gerakan peluru itu.

   Niels melompat maju ke depan. Itu gerakan cepat dan amat liar. Dengan memanfaatkan momentum tubuhnya itu, ia menyabetkan belatinya cepat, menggorok leher seorang pemburu hadiah dengan cepat. Belum selesai sampai itu, ketika ia masih melayang di udara, ia menembakkan peluru yang mendarat tepat di kening seorang ksatria.

   Setelah Niels menjejakan kakinya, ia lalu melempar belati itu ke paha seorang pemburu di dekatnya. Pemburu itu mengerang kesakitan, namun erangan itu terhenti ketika Niels menyabet kepalanya dengan cepat. Itu gerakan yang lebih cepat lagi. Mata Lauren bahkan tidak jelas melihat gerakan itu. Dalam sepersekian detik setelah Innocencia tertancap, Niels sudah ada di sana dan siap mencabut belati dan menggorok leher pemburu hadiah itu.

   Seorang ksatria datang menejang dari belakang. Niels menghindar ke kanan, lalu menendang pria itu hingga tersungkur. Belum sempat pria itu mengaduh, suaranya langsung putus bersama lehernya.

   Semua orang kontan saja menjaga jarak dari Niels, menimang-nimang kembali pikiran mereka untuk menyerang Niels. Air muka mereka menampakkan ketakutan dan teror yang mencekam di sana. Sementara Niels sebaliknya. Lauren tidak tahu ia tersenyum atau tidak, yang terpenting kilatan mata merah Niels yang ada di balik topeng itu menunjukkan bahwa Niels amatlah haus darah.

   Wush! Niels melempar belati ke arah seorang ksatria. Ksatria itu tidak berhasil menghindar, namun beruntung baju zirahnya melindungi pundaknya dari terjangan belati. Namun, di saat ia berbalik, ia langsung saja merasakan teror yang mencekam. Beberapa saat lalu, Niels masih berada lima meter dari ksatria itu, namun sekarang ia sudah berada di belakang punggung ksatria itu dan bersiap menebas. Brus! Tebasan Niels itu menyayat tengkuk ksatria malang itu.

   Orang-orang itu mulai bermunduran. Beberapa pemburu hadiah bahkan sudah pergi dari area pertarungan, ketakutan setengah mati melihat betapa ganasnya Grau Kapuze. Lauren yang melihat kejadian itu hanya terdiam, ia tak mempercayai bahwa Niels sudah berubah menjadi amat ganas dan haus akan darah.

   Malam itu, mereka beristirahat di persembunyian mereka. Niels terlihat amat kelahan, namun ia masih menyempatkan dirinya untuk berbicara dengan Lauren.

  “Ren, apakah kau takut denganku?” tanya Niels dengan nada dingin. Lauren menatap wajah Niels dengan jeli. Sorot mata itu sudah tidak sama. Kontur wajahnya pun juga berubah. Niels yang saat itu Lauren kenal berubah menjadi monster yang haus akan darah dan dendam.

   Lauren memeluk Niels dengan erat, seerat mungkin karena ia ketakutan akan kehilangan Niels lebih dari ini. “Niels, tolong berhentilah. Kau sudah di luar batas dan sekarang harus berhenti. Aku mohon Niels…”

   “Kau tidak menjawab pertanyaanku, Ren… apakah kau takut denganku atau tidak?”

   “Aku takut Niels. Aku takut kau akan rusak… aku takut kau akan hancur… aku takut kau akan remuk seperti mesin yang bekerja terus menerus. Kau adalah manusia Niels! Jangan ubah dirimu lebih jauh lagi untuk membalaskan dendammu!”

   Jemari Niels membalas pelukan Lauren dengan membelai rambut hitam Lauren yang tergerai panjang dan anggun itu. Malam itu, Lauren menumpahkan perasaannya melalui sebuah kalimat yang hingga saat ini ia kenang, “Niels, aku mencintaimu… tolong kembalilah kepada dirimu sendiri.”

   Sayangnya, Niels menolak perasaan Lauren saat itu. Sorot matanya yang dingin itu seperti mengusir Lauren, membuat Lauren menangis lemah. Untuk malam itu, keduanya berpisah. Lauren pergi dari tempat persembunyian dan berakhir bergabung dengan Democratio Alliance.

   Mendengar cerita itu, Marie tesentak kaget dan tak percaya. Selama ini, ia selalu mendengar rumor tentang Grau Kapuze, grup kecil pembunuh hebat yang amat ditakuti, namun ia tak menyangka bahwa anggota Grau Kapuze adalah dua orang dekatnya.

   Maka dari itu, ia mencoba dirinya untuk menghentikan Niels dengan mengajaknya berbicara langsung dan membujuknya. Lauren meragukan dan menentang rencana itu dengan alasan yang sederhana: tidak perlu ada korban lain lagi. “Lagipula, Niels sudah tidak waras. Hatinya sudah—”

   Plak! Marie menampar keras Lauren. Lauren terkejut dengan tindakan itu, tapi ia memang pantas mendapatkannya. Ia sadar betul bahwa yang ia lakukan hanyalah lari dari kenyataan bahwa Niels sudah berubah dan ia dengan sifatnya yang kanak-kanak yaitu tak menerima apa yang telah terjadi. Sebaliknya, gadis di depannya itu dengan berani dan bodohnya menerima serta melawan takdir yang terjadi.

   Melihat itu, hati Lauren tergerak. Matanya bersinar memancarka harapan sekali lagi. Harapan itu ada, meskipun kesempatan meraihnya tidak sampai satu persen, tapi harapan itu tetap ada. Kesempatan yang kecil bukan berarti tidak ada.

   Lauren hendak kembali ke sana, membujuk Niels sekali lagi untuk berhenti dan memulai hidup kembali atau bahkan mungkin menikahinya. Sayangnya, ia kedahuluan Marie yang sudah tidak sabar untuk bertemu Niels dan membujuknya. Semenjak itu, Lauren tak pernah mendengar kabar dari Marie ataupun Grau Kapuze, tidak pernah lagi. Ia bertanya-tanya tentang kemana mereka berdua menghilang. Sayangnya, tidak ada satupun orang di negeri ini mengetahuinya, bahkan seorang peramal jitu yang berbakat untuk melihat keberadaan orang atau penyebar rumorpun tidak mengetahui siapa nama yang dimaksud Lauren.

   Lambat laun, nama Grau Kapuze menyusut dan tidak terdengar lagi. Sekarang, nama Grau Kapuze hanyalah dianggap legenda urban dari rumor-rumor yang pernah diceritakan oleh pemburu hadiah yang beruntung atau seorang ksatria yang masih hidup dan pernah berhadapan langsung dengan keganasan Grau Kapuze—tidak, berhadapan dengan bengisnya kekuatan Innocencia

   Bertahun-tahun sudah terlalui. Di tahun-tahun itulah, Democratio Alliance membangun koalisi oposisi semenjak gerakan massanya ditentang total oleh pihak kerajaan. Lauren bertindak sebagai pencari dan pengumpul informasi berkat kemampuannya dalam bertukar informasi serta membangun banyak relasi. Karena suatu kebetulan belaka, ia bertemu dengan Niels di sebuah kedai minum di Anirieta, ketika ia harusnya mencuri berkas-berkas penting sebagai bukti bahwa kerajaan sudah bersifat korup. Saat itu, Lauren amatlah bahagia mendapati Niels sudah kembali, meskipun tidak sepenuhnya kembali seperti sedia kala. Ia mensyukuri keajaiban itu dan berdoa bahwa akan seterusnya seperti ini….

                                                                                                               ***

“Untuk kebaikanmu sendiri, jangan kau gunakan Innocencia lebih dari ini, Adruin. Kau tahu sendiri bahwa Innocencia memang memberi kekuatan. Tapi kuperingatkan, setiap ada kekuatan, pasti ada yang harus dibayarkan, Adruin. Lebih baik simpan tenaga serta kewarasanmu untuk hidup seperti apa yang diharapkan Kasn untukmu, walaupun Kasn hingga akhir hayatnya tak mengetahui bahwa ia anak yang dilahirkan istrinya masih hidup sampai saat ini.” Marie mencoba bangun dari ranjang tempatnya tadi tidur. Rasa sengat luka masih menggerogoti tubuhnya, tapi ia tetap memaksa bangun.

   “Lebih baik kau turun dari kapal sekarang juga, karena nanti badai akan menghantam negara ini cepat atau lambat, Adruin. Lagipula, kau bilang sendiri bukan, bahwaa kau rela dipanggil ‘pengkhianat’ asalkan kau dapat menemui ayahmu, bukan? Baiklah, aku berjanji akan mengajakmu untuk menyambangi nisannya.” Marie mencoba berdiri, tapi tidak bisa dan hampir jatuh tersungkur sebab sengatan rasa sakit.

   Adruin lekas cepat membantunya bangun, “lebih baik kau istirahat dahulu. Tenang saja, tidak ada yang mengetahui keberadaanmu di sini, Marie.”

   Lengan hangat itu tampak mirip seperti milik Kasn. Halus serta penuh kasih. Sejenak, Marie merasa terbawa ke masa lalu, melihati dirinya yang masih kecil di dalam rangkulan Kasn, sementara Niels di luar sana sedang menimba air untuk keperluan panti asuhan. Sekarang, hal yang sama sedang terjadi, namun sedikit berbeda. Orang yang ada di sebelahnya adalah Adruin, bukan Kasn, sementara Niels sedang berusaha keras untuk semua orang yang ada di Fiana ini untuk merealisasikan Demokrasi.

   Tubuhnya menghangat, ia merasa degup jantungnya bertambah cepat dan wajahnya yang panas memerah. Harus ia akui, ia jatuh hati kepada Adruin. Ia menutup matanya, mempercayakan diri sepenuhnya kepada Adruin. Ia lemah, namun masih tetap ada orang yang menolongnya. Marie memilih untuk tidur kembali dan berdoa dalam mimpi untuk keselamatan semua orang.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
1 0 0 0 0 0
 
Save story

rujakteplak
2018-12-21 20:31:09

Wow... Menarik
Mention


AgusMaria
2018-12-21 20:00:46

Cerita yang bagus dan menarik. Adegan aksi dalam beberapa bab menonjol dan ditulis apik
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-20 22:55:42

@dede_pratiwi Makasih Kak,
Mention


dede_pratiwi
2018-12-20 21:39:49

Wow aku suka pendeskripsian sangat tajam setajam silet. Pembaca dibawa mengarungi malam gelap yg dinginnnn
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-12 18:18:46

@YUYU Oh, gitu, makasih Kak Yuyu

Mention


YUYU
2018-12-12 18:15:04

@KurniaRamdan39 wkkwkwk... maksudnya aku pas baca serasa pindah tempat ke dalam tulisanmu pak.
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-12 18:05:26

@YUYU Makasih kak, meskipun ane kurang paham apa yang dimaksud Time Travel yang Kakak sebut
Mention


YUYU
2018-12-12 12:28:08

Time travelnya dapet banget!!! Keren!
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-11 17:19:46

@yurriansan Hmm, terimakasih

Mention


yurriansan
2018-12-11 17:10:25

baru baca sampai chapter ke 3. sejauh ini suka. berasa lagi nonton anime.
antara naruto, black butler daaan yang lainyya.

Mention


Page 1 of 1 (10 Comments)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

712 537 8
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

712 526 9
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

277 222 3
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

433 321 6
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

586 453 8
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 759 13