Ratte der Küche? Insiden panti asuhan yang menggemparkan itu? Yang membuat seisi panti asuhan itu meninggal dengan tragis?! Dan kalian adalah seorang dari mereka?” tanya Alinae penasaran.

   Lauren dan Niels mengangguk. “Iya itu benar, Senori Alinae.”

   “Lanjutakan ceritamu, Niels,” tukas Thoir. “Tidak kusangka aku akan mendengar cerita dari anak didik Kasn.”

   “Baiklah, lebih baik kusingkat saja. Kalian masih ingat tim ekspedisi yang dibuat Kerajaan untuk mencari barang berharga bernama Artifact?”

   Semua orang di sana saling pandang satu sama lain. Alinae akhirnya memilih duduk di sebelah mereka, “Artifact kah, jadi rumor itu benar ya? Rumor di mana The Eagle’s juga merekrut para Users juga benar ya?”

   “Iya, dan fakta yang kubenci dari semua ini, pemimpin tim ekspedisi dan The Eagle’s adalah orang yang sama.”

   “Gils Neuer? Pria itu? Aku tidak pernah dengar kabarnya setelah ia mengalami masa hukumannya. Jika kita melawan Gils, maka kita melawan seorang Master sihir.” Thoir tampak termenung sesaat, “kita perlu kekuatan lebih…”

   “Tidak hanya itu, anggota The Eagle’s juga diisi oleh orang berbakat lainnya. Auria Cissatra, Helena Ananth, Willem Maxiel, kalian tentu tak asing dengan nama-nama semacam itu bukan?”

   Semua orang di sana diam dan berpikir. Sebelumnya, mereka sudah berpikir bahwa musuh yang mereka hadapi memanglah orang-orang yang hebat, tapi mereka tak menyangka akan bertempur dengan ahli yang ada di setiap bidang. Meskipun mereka menang jumlah, tapi mereka tak menang kualitas. Mengalahkan mereka merupakan tantangan yang sulit.

   “Jadi, kau menawarkan kita informasi, Niels?”

   Niels mengangguk, “untuk selanjutnya ini, kalian harus percaya terlebih dahulu. Ada pertanyaan?”

   Brig berdiri dari tempat duduknya dan memilih duduk di sebelah Thoir sembari meninggalkan botol minumnya, “Niels, aku ingin tanya suatu hal lagi, apa motivasimu untuk melakukan semua ini? Dari ceritamu tadi, kau masih ambigu dan tidak jelas! Kau hanya menceritakan masa—”

   Kalimat Brig terhenti dengan gerakan tangan Thoir yang mengintruksikannya untuk diam. Brig menatap air muka Thoir yang penuh keyakinan terhadap Niels itu. Lalu ia menghadap Niels dan berkata kepada semua orang, “aku percaya kepada Niels, seperti aku percaya pada kawan lamaku itu, Kasn. Kalian mungkin belum pernah mengenal dirinya, karena memang ia meninggal sebelum kalian bergabung dengan Democratio Alliance. Tapi peganglah kalimatku ini, Kasn adalah sosok yang dapat dipercaya dan disegani di Democratio Alliance. Berkat statusnya itu, ia menjadi orang terpercaya untuk menjaga sebuah Artifact.”

   Niels mengangguk, “jadi, apa kalian sudah benar-benar percaya padaku dan tetap mendukungku walupun langkahku berikutnya ini tidak bisa ditebak?”

   Thoir mengangguk, “Democratio Alliance kembali mendukungmu, Niels. Sebaliknya, kau juga harus mendukung kami sebagai gantinya. Jadi, apa rencanamu, Niels?”

   Niels meneguk kembali sisa anggurnya hingga habis. Setelahnya ia berdiri meninggalkan semua orang di sana, “langkahku berikutnya adalah mencari si pengkhianat yang kumaksudkan, lalu memaksanya untuk memuntahkan semua yang telah ia bocorkan. Aku jamin itu, Ser Thoir.” Setelah itu, Niels membuka daun pintu kedai dan keluar dari kedai yang hangat itu. Ia turun kembali ke jalanan. Tadi, saat ia masuk ke kedai, setidaknya ada puluhan lampu teplok yang menyala dan tergantung di tiap dinding rumah. Sekarang, semua lampu teplok itu sudah padam, meninggalkan dinding yang gelap dan menyisakan sinar rembulan sebagai lentera utama di malam ini.

   Beberapa serdadu tampak lalu-lalang, mereka dalam tugas untuk berjaga dan berpatroli di desa ini. Mereka menghampiri Niels dan menghimbaunya untuk menginap di salah satu penginapan dari pada kembali ke melanjutkan perjalanannya. Niels menggeleng lemah, sembari menjawab, “anda salah paham tuan-tuan. Saya tidak hendak melanjutkan perjalanan, namun hanya sekedar keluar untuk mencari udara segar saja.”

   Sepasang penjaga itu mengangguk mengiyakan, membiarkan Niels dan memilih pergi. Sebenarnya Niels ingin langsung pergi, tapi itu percuma. Kembali ke Furai adalah hal yang mustahil karena gerbang di tiap penjuru sudah tertutup. Diam di desa ini juga bukanlah pilihan yang bagus, meskipun Lauren bersikeras meminta Niels untuk kembali minum di kedai, “tenang Niels, aku benar-benar mentraktrimu kali ini.”

   “Bukan maksud menolak keramahanmu, Ren. Tapi, ada satu hal yang perlu kukonfirmasi dan itu mendesak. Ini juga berkaitan dengan pengkhianat yang sedang kucari, Ren.”

   “Memangnya, apa yang akan kau lakukan? Bagaimana kau mengetahuinya? Kita bahkan tidak tahu siapa dan bagaimana rupa pengkhianat yang kita cari, Niels!”

   Niels mengangguk setuju, “kau memang benar, Ren. Tapi itu beda cerita jika si pengkhianat sendirilah yang datang pada kita sendiri.” Bush! Sebuah peluru melesak cepat. Lauren tak mengira serangan itu dan tak dapat menghalaunya dengan tepat, tapi Niels berhasil menghalau panah itu tepat sebelum menusuk Lauren. Keduanya berjaga. Tembakan sebelumnya itu tidak ditandai dengan suara letupan pistola. Niels bergegas mundur ke belakang, sementara Niels berjaga di depannya, seperti kebiasan lama mereka ketika bertarung di bawah naungan jubah abu-abu; Grau Kapuze.

   Lauren sudah fokus pada medan pertempuran. Ia mengeluarkan sepasang belati, sementara Niels mengeluarkan sepasang pistola yang terisi penuh dengan peluru dan bubuk mesiu. Keduanya siap bertempur.

   Hening, hanya suara angin saja yang berani memecah keheningan. Derak angin itu menggugurkan beberapa dedaunan yang rapuh dan kering. Keadaan hening. Bush! Sama seperti tadi, tembakan tanpa suara itu kembali menlontarkan peluru. Lauren kali ini reflek menghalau peluru, menebasnya dengan belati dan membelahnya menjadi dua bagian sama besar. Sementara mata Niels mencari dan menyisir lingkungan sekitar, matanya bergerak cepat guna mencari asal tembakan itu.

   Dalam sepersekian detik selanjutnya, Niels melepas tembakan ke arah pohon ceri di ujung jalanan. Peluru melesat cepat menembus udara malam, dan buk! Peluru itu tepat mendarat di sosok itu. Terlihat sebuah sosok jatuh dari cabang pohon itu.

   Tentunya, tembakan Niels itu menarik perhatian semua orang di sana. Beberapa serdadu langsung menghampiri sumber suara. Anggota Democratio Alliance yang lain juga ikut keluar. Brig mengeluarkan pedang dari sarung yang tersampir di pinggangnya, bersiap akan tembakan yang terdengar.

   “Ada apa?” tanya Thoir ketika ia keluar dari kedai. Beberapa penjaga datang setelahnya. Setelah melihat bukti konkrit berupa kepulan asap yang keluar dari moncong pistola Niels, mereka langsung mengacungkan tombak mereka ke arah Niels dan Lauren.

   “Anda ditahan karena menggunakan senjata tanpa alasan dan berada dalam teritori damai di Furai! Mari ikut—” buk, semua dari penjaga itu langsung rubuh. Semua orang di sana menoleh ke belakang, mendapati mata Alinae bersinar jingga. Setelah beberapa detik, matanya kembali ke warna hitam normal.

   Semua orang masih menatap Alinae, sayangya wanita itu merasa terganggu dan bukan merasa terpuji. “kalian menatapku karena kagum atau menghina? Ah! Lebih baik lupakan, kita harus membawa dua orang ini maasuk sebelum penjaga yang lain datang!”

   Kelima dari mereka menyeret empat penjaga yang terkapar itu dan menaruh mereka di sandaran kursi kedai. Setelah menyeret masuk, Niels pergi ke pohon tempat pengintai tadi mengawasi. Tapi ia terlambat, sosok itu sudah lenyap di kegelapan malam, menyisakan sebuah belati tergeletak di sana.

   Niels mengambil belati itu, ia bergumam, “ada kemungkinan. Pertama, belati ini tertinggal ketika sosok itu terjatuh,” Niels meraba belati itu, di sana ia mendapati kejanggalan yang tak asing baginya, “atau, memang belati ini sengaja ditinggalkan…”

   Niels menarik gagang belati itu, mendapati sebuah selop khusus tempat di mana sebuah kertas kecil terselip di sana. Itu adalah mekanisme yang sama seperti yang ia ciptakan di pisau lempar khusus miliknya.

   Di sana, ia mendapati sebuah pesan singkat. Ia kenal tulisan yang tersurat di sana. Niels mengerutkan dahinya, meragukan ingatannya tentang bentuk tulisan serupa itu. Surat itu berisi tiga kata singkat, yang merangkai menjadi satu kalimat saja. Metode yang digunakan si pengintai ini sama dengan metode yang Niels gunakan untuk mengundang Democratio Alliance.

   Setelahnya, ia kembali lagi ke kedai dan menyembunyikan belati itu di salah satu kantongnya. Di sana, semua orang sudah duduk dan kembali berdisuksi. Saat Niels masuk, semua mata menatap kepadanya, menyiratkan pertanyaan yang sama di kepala semua orang.

   “Kau tahu siapa pengkhianat tadi itu, Niels?”

   Niels mengangguk, “ah, aku kenal orangnya. Tenang saja, besok atau paling lambat lusa aku akan menghubungi kalian lagi. Omong-omong, apa rencana Democratio Alliance selanjutnya untuk melawan The Eagle’s?”

   “Mengumpulkan semua kekuatan. Bagaimana caranya, itu mudah Niels. Nanti kau lihat sendiri saja.”

   “Baiklah, kalu begitu, kita akan bertemu lagi. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dalamwaktu dekat ini.” Dengan itu, Niels keluar dari kedai meninggalkan anggota Democratio Alliance yang masih berdiskusi tentang rencana selanjutnya dalam mengumpulkan semua anggota dan simpatisan mereka.

   Sebenarnya, sudah ada ide yang muncul di tiap kepala mereka. Ide itu tergolong ide yang nekat, karena jika salah langkah atau tidak cekatan dalam menyadari celah, maka rencana mereka ini akan berakhir dengan mereka dikubur tanpa batu nisan—alias mati dengan tidak terhormat. Sebaliknya, jika rencana ini berhasil, maka nama mereka—dan bahkan nama kedai ini pasti akan terukir di dalam sejarah sebagai anggota revolusionis untuk mengubah sistem monarki menjadi demokrasi, mengirim pembaharuan pada Fiana ini.

   Ide yang muncul itu adalah dengan mengatasnamakan Lauren Neuer sebagai penguasa baru pengganti Raja Hermno yang sah. Dengan metode semacam itu, Democratio Alliance akan mendapat banyak dukungan lagi. Risikonya, jika sampai rumor ini tidak terarah dengan baik, dapat menimbulkan krisis kepercayaan yang berdampak pada bertambahnya musuh Democratio Alliance. Cemerlang, namun tetap mematikan.

   “Apa tidak ada ide lain yang keluar dari kepala kalian selain ini?” tanya Thoir sembari menyisir tiap anggota intinya itu. Jawabannya adalah gelengan kepala saja. Mereka tidak punya ide yang lebih bagus daripada mengumpulkan massa, lalu melakukan gerakan massa lagi untuk menuntut demokrasi dan pembicaraan. Nah, rencana semacam itu akan amat mudah dilakukan bila orang seperti Lauren menjadi kunci utama di dalamnya.

   “Baiklah jika itu yang kalian pikirkan.” Thoir berdiri dari duduknya, mengambil segelas anggur dan mengangkatnya tingi-tinggi. Semua orang di sana mengikutinya, mengangkat minuman mereka masing-masing. Suasana kebersamaan terbangun, semua di sana merasa bahwa mereka ingin menyatukan kembali tujuan serta pandangan mereka. Pemilik kedai yang sedari tadi mengamati aktivitas mereka juga mulai tertarik dan ikut mengangkat minumannya, bergabung di sekitar mereka.

   Thoir sekali lagi menatap semua orang yang ada di sana. Ia menyesali bahwa Fox tidak dapat bergabung karena luka setelah pertempuran di Shateu Dif, tapi itu tak apa, ia dapat menyusul nantinya. Lagipila, ia belum sepenuhnya cukup umur untuk meminum anggur.

   “Kawan serta saudaraku di sini, malam ini kita berkumpul dalam kebersamaan. Jujur saja, aku tak menyangka teman kita Niels adalah orang yang setia. Dia cerdas dan orang yang berani. Oleh karena itu, marilah kita bersulang untuk nasib yang menunggunya serta masa depan yang nanti kita ukir di negeri tercinta ini. Prost!

   “Prost!” jawab semua orang di sana sembari mendentingkan cangkir mereka.

   Sisa malam itu mereka nikmati demgam minum bersama serta bercerita ataupun berkeluh kesah. Dari semua orang di sana, Brig adalah orang pertama yang tenggelam dalam pengaruh alkohol, disusul Thoir yang memang karena usianya sudah tak kuasa menahan pengaruh alkohol lebih lama lagi, sementara pemilik kedai memilih beristirahat di kursi goyangnya yang terletak di teras belakang, menyisakan Alinae dan Lauren di sana.

   “Niels Jay ya… sudah lama aku tak melihat anak itu… saat aku pertama kali melihatnya, ia hanyalah seorang anak yang naif dan bodoh. Tak kusangka, saat pertama kali aku bergabung dengan Democratio Alliance, aku sempat mendengar bahwa salah satu anggota lain memiliki nama panggilan Niels. Awalnya aku berpikir memang anak itu yang bergabung, tapi itu tidak mungkin, batinku dulu. Dulu, aku berpikir bahwa ia mati sia-sia di tanah yang tak dikenal. Saking tak dikenalnya, sosok bernama seolah-olah Niels lenyap dari dunia ini.” gumam Alinae dengan setengah mabuk. Wajahnya mulai merona kemerahan, tanda bahwa alkohol mulai menguasainya.

   “Anda pernah bertemu dengannya sebelum ini?”

   “Ah, iya. Ah bajingan! Bagaimana Dewa dan Dewi menciptakan dunia yang sempit seperti ini? Mereka adalah penulis naskah yang buruk!” umpatnya, “lihatlah, kebetulan macam apa yang menuntun semua pertemuan ini. Mulai dari adik Thoir, yaitu Sarah, orang yang menjadi guruku. Lalu suaminya, Kasn. Diteruskan hingga anak didiknya sendiri yaitu Niels, Marie, serta kau. Jika kubayangkan, semua ini memang takdir. Coba pikirkan saja, bagaimana ada kebetulan yang aneh semacam—”

   “Baiklah-baiklah, Senori Alinae. Anda rupanya sudah mabuk berat. Silakan beristirahat saja dengan duduk dan berhenti minum.” Dengan itu, Lauren menuntunya agar duduk di kursi dan tidur di sana. Wajah Alinae sudah merah padam, tanda ia benar-benar mabuk.

   Sekarang, tinggal Lauren yang masih terjaga. Ia dengan segelas anggurnya memilih keluar ke teras, menikmati angin malam yang berhembus pelan menyusuri wajahnya. Angin itu menyegarkan, namun lama kelamaan mendinginkan. Berkat kemampuan alkohol dalam menghangatkan tubuh, ia akhirnya tetap berdiri di sana sambil menghabiskan sisa anggur dan menikmati gemilau bintang di atap dunia.

   Itu malam yang sama. Jika Lauren terka lagi dengan masa lalunya, di mana mengajaknya pergi ke masa kelam hidupnya. Saat di mana ia harus melepas kepergian sosok Niels yang periang itu pergi selamanya, melihat punggung sosok itu lenyap di antara puing serta kobaran api Ratte der Küche.

   Hari itu mengubah segalanya.Niels seperti dimakan kegelapan jurang dendam yang tak berujung. Tidak ada jalan keluar dari sana, kecuali Dewa dan Dewi menghendakinya. Karena tidak ada jalan keluar dari sana, maka Niels mengarungi jurang itu dengan berani. Akibatnya, ia menjadi terlatih. Matanya yang terbiasa dengan gelapnya hidup mulai memunculkan kilatan merah. Air mukanya yang tenang mulai mewujudkan dendam yang tak berujung, sesuai dengan isi hatinya.

   Peristiwa itu dimulai ketika Kerajaan Fiana menciptakan sebuah tim ekspedisi khusus yang mencari dan mengoleksi semua Artifact yang tersebar di tanah Fiana. Awalnya, metode yang mereka gunakan amatlah damai dan bersahabat, namaun lama-kelamaan pemimpin mereka mulai kehilangan kesabaran dan menggunakan cara yang agresif. Contohnya saja, tim ekspedisi itu memaksa Users, pemilik sah dari Artifact untuk menyerahkannya secara paksa. Akibatnya, hal ini menimbulkan perlawanan dari berbagai pihak, termasuk Democratio Alliance sendiri, yang beberapa anggotanya adalah seorang Users.

   Kasn pribadi tak ambil pusing dengan konflik yang terjadi dalam istana, karena memang kepalanya sudah disibukkan dengan Ratte der Küche dan bisnis luarnya dengan Alexies sebagai penyelundup gelap persenjataan dan suplai senjata kepada Democrati Alliance, hingga sepuluh pleton penuh datang dengan persenjataan lengkap. Saat itu, ia mendapat kabar dari seorang tetanggnnya yang berlarian demi memberi tahu Kasn yang masih berada di salah satu gudang milik Alexies.

   Kontan saja ia berlari dengan sepenuh tenaga kembali. Saat ia sampai, Ratte der Küche sudah separuh hancur. Banyak genangan darah di sana. Rupanya, para ksatria itu menghalalkan berbagai cara apapun untuk mendapatkan barang yang mereka cari, meskipun melukai orang-orang tak bersalah dan bahkan jiwa-jiwa bocah polos.

   “Keparat!” teriak Kasn. Ia langsung saja merangsek maju. Memukul satu-dua ksatria berhelm besi dengan tangan kosongnya. Keduanya langsung rubuh. Sebelum rubuh, Kasn menarik tombak dari tangan mereka. Satu ia lempar dan menembus telak seorang ksatria, sementara yang lain ia angkat tinggi-tinggi dan memasang kuda-kuda siaga.

   Ksatria yang lain menyadari bahwa ada serangan dari arah depan. Maka beberapa dari mereka mengepung Kasn dengan tombak serta pedang teracung. Kasn bersiaga, menunggu salah seorang dari mereka maju dan mencapai jangkauan tombaknya.

   Salah seorang dari mereka maju. Ksatria itu hendak menyerang punggung Kasn. Namun Kasn mengetahuinya lalu menghindarinya dengan gerakan kecil. Dalam momentum waktu yang sempit itu, ia dengan cepat mengayunkan tombaknya, menebas tepat ke leher ksatria malang itu. Sayangnya ia tak dapat menarik tombaknya lagi, ujung tombak itu benar-benar terbenam rapat di sana.

   Wush! Kasn memilih melepas tombaknya itu demi menghindari tebasan pedang. Dengan cepat, Kasn mundur dua langkah, mengambil ancang-ancang untuk bertarung.

   “Apa perlu kalian kesini?!” tanyanya dengan nada kasar dan tatapn tajam.

   “Kami kesini atas perintah Tuan Gils Neuer untuk mengambil harta berupa Artifact. Menurut informasi yang kami dapat, Artifact yang dimaksud berada di sini.”

   Kasn menyeringai, ia tertunduk. “Jadi hanya karena itu? Jadi hanya karena itu kalian menghabisi nyawa tak berdosa?!” Tubuhnya gemetaran, bukan karena ketakutan, namun karena amarah yang telah sampai ke ubun-ubun kepalanya. Aura gelap mulai menguar dari tubuhnya. Kilatan marah dan dendam terlihat jelas di sorot matanya. Ia mulai kehilangan kendali atas akal sehatnya.

   “Innocencia…” secara ajaib, muncullah dua bilah belati berwarna hitam dari lengan bajunya. Bus! Dalam gerakan cepat ia menerjang ke depan, menghabisi tiap ksatria tanpa ampun. Belati hitam itu tampak menembus zirah-zirah  besi dengan mudah, menggorok dan menyayat tanpa hambatan yang berarti.

   Lima menit setelahnya, semua ksatria sudah tewas di tangan Kasn sendirian. Itu pemandangan yang mencekam serta menakutkan. Setelah lima menit yang mencekam itu, Kasn mendapat kesadarannya kembali. Dilihatnya keadaan panti asuhan miliknya itu amatlah mengenaskan. Mayat teronggok di sana sini. Darah menggenang dan mulai berbau amis.

   “Mia! Neki! Fani! Amadi! Joni! Di mana kalian?!” ia memanggil anak-anak yang ada di sana, namun tidak mendapat balasan. Ia berjalan lagi ke ruangan dalam dengan tubuh bergetar, “Leia! Alast! Danniel! Kunimbra! Hei kalian jawab aku!” Kasn mulai panik, ia mulai mencari di timbunan tubuh dan mendapatkan satu persatu anak didiknya terkapar tak berdaya di sana dengan keadaan yang mengenaskan.

   Kasn membisu, ia bahkan tak sanggup berteriak meskipun hatinya meronta-ronta untuk berteriak. Perlahan, ia menangis tanpa suara. Ia tergugu. Ia mengelus tiap mayat mungil itu, sembari bersumpah bahwa ia kelan akan membalasnya hingga ke akhirat nanti.

   Tapi ada tiga anak yang masih diberkati untuk hidup hingga saat ini. Tiga anak itu adalah Niels, Marie, dan Lauren. Mereka selamat, walaupun Niels hampir sekarat karena tebasan yang ia terima. Lauren segara merawat luka Niels dan menutupnya dengan kain seadanya.

   Beruntung bagi mereka, jika saja Kasn tidak datang tepat waktu, maka nasib mereka sekarang tak ubahnya seonggok daging busuk.

   Tapi keberuntungan itu tak berpihak lama pada mereka. Selang beberapa menit setelahnya, para serdadu kembali. Kali ini mereka membawa pula penyihir. Sekejap, penyihir itu menyalakan bola-bola api yang panas. Dan tanpa mereka sadari, panti asuhan malang itu sudah terbakar.

   Kasn menyuruh ketiganya untuk pergi dari sana secepatnya. Namun ketiganya menolak, dan bersikeras tetap di sana, meskipun nyawa mereka adalah bayarannya.

   Plak! Kasn menampar Niels dengan keras, “ini perintah Niels! Dan perintah dari seorang pemimpin harus ditaati oleh bawahannya!”

   Ketiganya terdiam. Melihat itu, Kasn berjongkok. Ia baru sadar bahwa ketiganya menangis sedang menangis. Perlahan tangan Kasn yang halus itu mengusap air mata ketiganya. “Dengarkan Ayah. Ayah tidak ingin kalian jadi anak yang cengeng. Terutama kau Niels… kau adalah pria. Buktikan pada dunia bahwa kau adalah pria yang tangguh Niels. Sekarang, kalian pergilah. Nanti Ayah akan menyusul.”

   Ketiganya pergi melalui pintu belakang. Semuanya menahan tangis, tidak ada yang berani menoleh kebelakang. Setelah jauh, mereka akhirnya berhenti, menatap nanar pemandangan yang akan terpatri betul di ingatan mereka. Si kecil Marie meronta, tidak terima bahwa Kasn teritnggal dan mati di sana.

   Tapi Niels tetap mendekapnya, menahannya sekuat mungkin agar Marie kecil tidak berlari menyongsong api yang sedang membara itu, tidak, ia sudah cukup melihat semua kawannya mati.

   Pada malam itu, langit cerah. Tidak ada awan apapun yang menutupi konstelasi bintang manapun. Semua orang seharusnya bisa menikmati bintang dengan segelas kopi untuk satu malam. Sayangnya, hal itu dinodai oleh kabut tebal dari sebuah panti asuhan bernama Ratte der Küche.

   Ketiganya memilih untuk bersembunyi. Niels mengajak ketiganya ke rumahnya terdahulu, yaitu bangunan terlantar di mana ia dan Marie sempat hidup. Bangunan itu kotor dan kumuh, namun cukup baik untuk bermalam. Malam itu, Niels tidak tidur barang sekedipun. Ia merenungi apa yang terjadi seharian ini.

   Keesokan paginya, gerimis turun di Anireta. Niels pergi di kala itu, meninggalkan Lauren dan Marie yang masih terlelap. Ia pergi ke tempat di mana abu dari Ratte der Küche tersisa, tempat di mana ia dulu menghabiskan bertahun-tahun hidupnya pada sebuah tempat yang pantas ia panggil ‘rumah’.

   Tidak ada yang tersisa, selain abu dan asap. Niels mengangkat wajahnya, membiarkan gerimis menyembunyikan air matanya Ia teduduk melihat pemandangan itu dan menangis tanpa suara di sana.

   Di sisi lain, Lauren akhirnya menyadari kepergian Niels. Dengan cepat, ia segera menyusul bersama Marie ke sisa pembakaran itu. Dan di sanalah, mereka mendapati punggung sosok Niels yang telah berubah. Niels mencabut dua bilah belati dari tubuh seorang ksatria. Ia tahu, bahwa belati itu adalah milik Kasn. Tanpa ragu, menyiletkan belati itu ke lengannya, sembari mengangkat dua bilah belati itu.

   “Atas sumpah dengan namaku, aku akan membalaskan dendam tiap nyawa yang ada disni!”

   Niels menyadari bahwa ada dua orang yang mengamatinya sedari tadi. Seketika, ia berbalik, mendapati Lauren dan Marie berdiri tanpa ekspresi. Ia berjalan menuju keduanya, lalu mengajak mereka untuk pulang kembali.

   Beberapa hari berikutnya, seseorang sedang mencari kebenaran tentang insiden Ratte der Küche. Nama orang itu adalah Thoir ibn Mahmd. Menndengar bahwa panti asuhan milik saudara iparnya itu hangus, ia langsung bergegas ke Anirieta, dan mendapati bahwa kabar tersebut memang benar. Setelahnya, ia mencari-cari keberadaan tiga anak yang selamat dari insiden semacam itu.

   Akhirnya, ia berhasil menemukan ketiga anak itu di sebuah gudang terbengkalai. Keadaan ketiganya menyedihkan. Thoir yang tak sampai hati itu ingin mengadopsi ketiganya, sayang Niels menolak. Ia berkata dengan penuh keyakinan tinggi dan emosu yang memuncak, “dengarkan aku pak tua, jika kau ingin mengadopsi salah satu dari kami, maka adopsi saja Maris. Dia perlu kasih sayag, tidak seperti aku dan satu temanku ini.”

   Thoir memaksa, tapi Niels tetap bersikeras. Saat itu, Niels dan Thoir tidak saling mengenal, dan mungkin saja mereka sudah lupa tentang kejadian itu, tapi Lauren tetap mengingatnya. Karena tepat setelah mereka berpisah dengan Marie, keduanya memulai profesi mereka sebagai seorang pembunuh yang nantinya dijuluki Grau Kapuze.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

rujakteplak
2018-12-21 20:31:09

Wow... Menarik
Mention


AgusMaria
2018-12-21 20:00:46

Cerita yang bagus dan menarik. Adegan aksi dalam beberapa bab menonjol dan ditulis apik
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-20 22:55:42

@dede_pratiwi Makasih Kak,
Mention


dede_pratiwi
2018-12-20 21:39:49

Wow aku suka pendeskripsian sangat tajam setajam silet. Pembaca dibawa mengarungi malam gelap yg dinginnnn
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-12 18:18:46

@YUYU Oh, gitu, makasih Kak Yuyu

Mention


YUYU
2018-12-12 18:15:04

@KurniaRamdan39 wkkwkwk... maksudnya aku pas baca serasa pindah tempat ke dalam tulisanmu pak.
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-12 18:05:26

@YUYU Makasih kak, meskipun ane kurang paham apa yang dimaksud Time Travel yang Kakak sebut
Mention


YUYU
2018-12-12 12:28:08

Time travelnya dapet banget!!! Keren!
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-11 17:19:46

@yurriansan Hmm, terimakasih

Mention


yurriansan
2018-12-11 17:10:25

baru baca sampai chapter ke 3. sejauh ini suka. berasa lagi nonton anime.
antara naruto, black butler daaan yang lainyya.

Mention


Page 1 of 1 (10 Comments)

Recommended Stories

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

458 352 4
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

577 450 14
Anne

Anne's Tansy

By murphy

850 539 9
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

468 378 6
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

687 509 8