Di dunia ini, meski darah seorang Raja mengalir dalam nadimu, tapi bila kau dilahirkan dari seorang pelacur, maka keberuntungan tidak berpihak padamu, kawan. Begitulah sebuah kata yang terlontar dari mulut seorang mualim lama kenalan Lauren. Nama mualim itu adalah Niels Jay. Seperti yang kita tahu, keduanya adalah dua dari tiga orang yang masih hidup setelah insiden Rat der Kuche, di mana saat itu, sebuah panti asuhan dibakar, menyisakan abu, arang, serta mayat yang terpanggang. Api melahap apapun, perabotan, pangan, konstruksi bangunan, dan semua nyawa tak bersalah di panti asuhan itu.

   Jika Lauren boleh berpendapat tentang siapa yang disalahkan, maka nominasi pertama adalah dirinya sendiri, lalu yang kedua adalah pengurus panti asuhan, seorang pria di usia empat puluh bernama Kasn ibn Ahmd, dan yang terakhir adalah orang ambisius yang bermimpi untuk menguasai semua ilmu sihir di dunia ini, yaitu Gils Neuer.

   Apa hubungannya? Apa jalinan takdir yang menuntun semua kejadian hingga saat ini? Baiklah, mari kita melihat masa lalu untuk tahu tentang apa yang sedang terjadi.

   Sekitar dua puluh tahun yang lalu, ketika Raja Hermno datang ke sebuah kota terpencil bernama Herte dengan pasukannya atas dalih pembangunan sebuah laboratorium sihir guna meneliti sumber sihir yang melimpah ruah di Herte, ia datang tanpa membawa sang permaisuri atau selirnya yang lain. Malahan, ia jatuh hati kepada seorang pelayan di salah satu toko barang sihir di kota itu. Akibatnya, Sang Raja sering datang dan menghabiskan waktu pribadinya di toko sihir itu. Nama wanita itu adalah Laura.

   Hingga suatu malam, Sang Raja memilih untuk tidur di ranjang penginapan daripada di ranjang tempatnya tidur, dengan ditemani Laura. Keduanya memadu kasih, menikmati malam itu, karena esok hari, Sang Raja harus kembali duduk di singgahsananya.

   Laura juga jatuh hati kepada Sang Raja, namun apa dayanya. Ia hanyalah seorang pelayan toko di salah satu kota yang terpencil namun kaya dengan sihir ini. Oleh karena itu, keduanya memendam rasa cinta di hati mereka, membiarkan kenangan malam itu lalu. Sebenarnya, Raja Hermno ingin saja mengajak Laura untuk ke istana, tinggal sebagai selir kesekian dari Sang Raja. Namun tawaran itu ditolak dengan sebuah gelengan kepala, “tidak Raja, hamba tidak sepatutnya berada di sana. Hamba hanyalah seorang pelayan toko, tidak lebih. Jika anda bersikeras untuk mengajak hamba, itu hanya merusak reputasi Anda sebagai Raja.”

   Raja Hermno mengangguk menerima dan menghormati keputusan itu. Sebelum keduanya berpisah, Raja Hermno berkata, “jika kau butuh bantuanku, kau bisa memintanya kapanpun. Akan kupastikan apapun permintaanmu, pasti kukabuli, Laura.”

   Dengan itu, keduanya berpisah, Sang Raja kembali ke Furai dan Laura tetap tinggal di Herte.

   Selang tujuh tahun, di saat Raja Hermno telah menginjak usia enam puluh dan mulai memilih pengganti dari salah seorang pangeran kerajaan, sebuah takdir yang tak terduga menyapa Sang Raja. Dengan sepucuk surat, satu istana gempar. Sebenarnya tidak ada yang spesial dari surat itu hingga surat itu dikirim beberapa kali oleh seorang gadis pengantar cilik, yang membuat sekretaris kerajaan geram dan ingin saja membakar surat-surat itu. Isi dari surat itu adalah kekaguman dari seorang gadis kecil kepada rajanya. Hanya itu saja.

   Sang Raja yang baik hati itu akhirnya memilih membaca surat itu. Karena memang ia memiliki waktu luang di hari tuanya ini. Walaupun, hingga lima belas tahun lagi, ia masih memegang nasib Kerajaan Fianna ini. Sang Raja senang. Entah mengapa, di dalam hatinya ia merasa tenang dan senang. Ia senang karena ada orang yang kagum dengan kepemimpinannya. Masih ada orang di dunia ini yang memujinya meskipun ia sudah berambut putih, keriput, serta telah berjalan dengan kaki ketiganya—tongkat kayu bermahkotakan zamrud  yang selalu menopangnya berjalan. Ia sering tersenyum, membaca surat tak bernama itu. Tapi ia tahu, dari bahasa yang penulis gunakan, ia tahu bahwa penulis adalah seorang bocah cilik.

   “Ia cerdas,” gumamnya suatu saat ketika isi surat itu membahas sebuah teknik sihir dari tanah yang tak terjamah. Ulasan yang dilakukan penulis cilik itu tidaklah sempit, melainkan luas, menyiratkan bahwa penulis cilik memiliki tingkat wawasan yang tinggi. Maka dari itu, Sang Raja tertarik untuk bertemu dengannya secara langsung. Ia memerintahkan pasukan penjaga untuk mengajak anak itu masuk ke kawasan istana dan langsung menghadap Sang Raja daripada mengirim suratnya.

   Awalnya, gadis cilik penulis surat itu menolak ketika ditemui langsung oleh sepasang penjaga, namun setelah penjaga itu membujuknya, ia akhirnya setuju dan mau datang. Dengan pengawalan, ia diantar ke gazebo di tengah pekarangan istana. Sang Raja duduk dengan tegap meskipn tubuhnya telah menua. Ia dikawal dengan beberapa serdadu berseragam lengkap serta dengan beberapa pelayan muda yang meladeninya dengan menyiapkan kudapan serta dua cangkir teh untuk mereka berdua. Dengan sabar, Sang Raja menunggu si gadis datang.

   Saat sosok si gadis telah terlihat, Raja merekahkan senyumnya yang lebar. Si gadis hanya mengangguk sopan serta juga menjawabnya dengan senyuman. Sebelum duduk, gadis itu membungkukan badan, memberikan salam hormat kepada Raja hingga sang Raja menyuruhnya bangkit dan duduk di hadapannya.

   Gadis itu tampak sedikit lusuh. Jika dilihat dari pakaiannya yang compang-camping, ia bukan dari kalangan berada—atau bahkan dari kalangan jalanan. Rambut hitamnya tergerai liar, warnanya juga bercampur aduk dengan tanah. Kuku dan jemari tangannya yang hitam kotor itu terlihat kontras jika dibandingkan dengan meja marmer di hadapannya, membuat siapapun yang melihat gadis cilik itu jijik. Seorang pelayan senior sempat mendatangi gadis polos itu, menyuruhnya pergi, dengan dalih bahwa keberadaannya hanyalah pengganggu bagi Sang Raja.

   Namun Sang Raja mengangkat tangannya, menyuruh pelayan itu untuk mundur. “Lebih baik kalian hilang dari pandanganku selama beberapa saat,” ungkapnya dengan nada berat. Akibatnya, semua penjaga dan pelayan yang sedari tadi setia bersama Raja, memilih menarik diri, membuat waktu pribadi Sang Raja dengan si gadis cilik itu.

   “Jangan sungkan-sungkan, gadis muda. Kudapan di meja ini memang diperuntukkan oleh tamu.” Sang Raja mengambil dua kue, satu untuknya dan satu lagi untuk tamu kecilnya itu, “makanlah.”

   Si gadis menatap bingung Sang Raja. Lalu dengan gerakan tangan yang kikuk dan kepala yang tertunduk, ia mengambil kue tersebut dan mulai menyantapnya. Sang Raja mengamati gadis itu lamat-lamat, lalu mulai bertanya kepadanya. “Siapa namamu, anak muda?”

   Wajah gadis itu memang lusuh, namun pancaran di sorot matanya tidak redup. Dengan senyuman khas anak kecil, ia menjawab, “Lauren. Namaku Lauren.”

   “Kau hidup di mana?” tanya Sang Raja lagi.

   “Tidak menentu...” jawab lemah gadis itu dengan kepala tertunduk.

   “Kau tidak hidup dengan orangtuamu?”

   Gadis itu menggeleng lemah. “Aku hidup dengan merantau di Kota ini, Raja. Kata ibuku, Ayahku hidup di Kota Furai. Sayangnya aku tak tahu siapa beliau, apa pekerjaannya, ataupun rupanya sekalipun. Yang kuketahui adalah beliau hidup di Kota Furai...”

   Kasihan, itulah pikiran pertama yang terbesit di kepala Sang Raja. Kepalanya berpikir tentang yang selama ini ia perbuat. Kesejahteraan rakyat, iya itulah yang pertama kali ia pikirkan. Dalam kepemimpinannya selama ini, ia melakukan tindakan yang ia anggap benar. Jika penasehat memberikan pikiran A serta dengan alasan logis, maka ia memilih A, jika B, maka B. Tapi Sang Raja punya keputusannya sendiri dan itu bersifat mutlak. Jika tidak, ia tak bisa dipanggil raja, bukan?

   Jika ia pikir kembali, ia bukanlah seorang raja yang ideal, namun penuh idealisme. Karena jati dirinya sebagai manusia, ia tak dapat merealisasikan semuanya. Jika ia raja yang ideal, maka tidak ada gadis semacam ini di depan matanya sekarang. Tidak ada gadis lusuh yang memberikan surat semacam itu, yang jika Raja pikir kembali adalah sebuah sindiran terhadap kepemimpinannya.

   Cerdas dan berani, sayangnya melarat. Potensi dan bakatnya bisa saja tidak terkuak, sayang sekali, batinnya lagi.

   “Oh iya Raja, mendiang ibuku menitipkan salam kepada Baginda. Beliau sering menceritakan Anda. Jika kulihat, tampaknya Beliau pernah bertemu dengan Anda. Mungkin anda mengingatnya?”

   Raja tertawa senang, “oh iya, memangnya siapa nama ibumu itu?”

   “Laura,” jawab Lauren dengan singkat. “Namaku itu diambil dari nama—” Lauren terhenti. Sang Raja berdiri lalu mendekapnya erat. Sang Raja tak peduli lagi dengan baju dan jubah mewahnya terkotori akibat mendekap Lauren. Lauren menahan dekapan, dengan mata polosnya ia bertanya, “hei Raja, apakah Anda mengasihani hamba karena kesialan yang menimpa hamba?”

   Sang Raja masih terdiam dan merenung. Ia tidak menjawab pertanyaan Lauren. Sebaliknya, Lauren tetap berusaha melepas dekapan dari tangan tua itu, “hei Raja, apakah anda tidak khawatir dengan hamba mengotori baju anda?”

   Sang Raja akhirnya membuka matanya kembali, menatap wajah polos gadis Lauren yang mendongak penuh tanya. Jika mata Sang Raja melihat lamat-lamat Lauren, ia memang mirip dengan Laura. Tiga hal yang membuat Sang Raja yakin adalah sorot mata dan rambut hitam panjang yang tergerai itu, serta tak lupa sifat berani yang diturunkan darinya, membuatnya semakin erat mendekap Lauren.

   Sang Raja memejamkan matanya. Di dunia di mana takdir adalah misteri ilahi, ia berhasil menemui karunia dari Dewa dan Dewi, di saat tak terduga, dan di saat usianya menginjak senja. Tak banyak yang dapat ia lakukan, namun bukan berarti ia tak bisa melakukan apapun. Perlahan ia menangis.

   Jadi ini permintaanmu ya, Laura? tanyanya dalam hati. Di saat-saat itu, ia meninggalkan dunia yang berada di sekitarnya, lalu fokus dan berdoa kepada Dewa dan Dewi agar memberikan tempat peristirahatan yang tenang untuk Laura. Tapi ia tak bisa terus dalam keheningan. Lauren menghentikan Raja dari ketermenungannya, membuat Raja tersentak kecil dan kembali sadar.

   Merasa dekapan melonggar, Lauren mulai bergerak menghindar, lalu menarik tubuhnya kembali ke luar gazebo secara cepat. Lalu, setelah menyadari bahwa perbuatannya itu tidaklah berbudi, ia kontan saja membungkuk penuh hormat. Peristiwa itu disadari oleh kapten pengawal Raja dan membuatnya bergegas datang ke sana dengan tergopoh-gopoh, yang nantinya diikuti oleh beberapa bawahannya.

   Saat sampai di sana, tombak-tombak teracung ganas ke tubuh gadis itu. Dengan nyalakan yang memekakan telinga, kapten penjaga itu datang lalu menyeret Lauren. Tubuh kecil gadis itu terbawa beberapa langkah. Lauren meronta, mencoba lepas dari cengkraman kuat pria itu. Tapi, semakin kuat ia meronta, semakin pula cengkraman itu bercokol di lengannya.

   Hingga suatu saat, Raja Hermno mengangkat tangannya sekali lagi, menyuruh semua kegaduhan untuk lenyap dari sana. Semua mata memandang tangan Sang Raja, yang seolah-olah menghipnotis semua orang untuk bungkam sesaat. Dengan tarikan napas yang teratur, Sang Raja akhirnya mengeluarkan sebuah perintah, “lepaskan anak itu!” tegasnya.

   Awalnya, kapten penjaga tidak mendengarkan perintah dari Rajanya, namun ketika mata Sang Raja menyorotkan tatapan tajam, ia tanpa sadar melepas cengkraman di tangannya. Lauren menatap penjaga di sekitarnya dengan tatapan serupa Sang Raja. Tampak dari kontur wajahnya, ia tak takut, tak gentar, bahkan ia seperti menantang tiap serdadu yang ada di sana. Namun, ia dihentikan dengan rasa sungkannya kepada Sang Raja. Dengan gerakan cepat, ia kembali membungkuk penuh hormat, diikuti oleh sisa penjaga di sana.

   Lauren yang masih cilik itu tidak paham betul tentang apa yang terjadi di sana. Ia hanya mengangguk mengiyakan saja. Tahu-tahu, dia sudah diangkat anak menjadi Raja Hemno sendiri. Kontan saja, keputusan Raja semacam itu membuat gempar seisi istana, juga tentnunya seisi kerajaan.

   Singkat cerita, Lauren berubah nama menjadi Lauren Neuer yang diangkat langsung oleh Raja Hermno. Ia diasuh dengan baik. Tubuhnya menunjukkan perubahan yang baik berkat asuhan pelayan kerajaan, hal itu ditandai dengan rambut kusutnya yang kini berubah menjadi mengilap dan hitam legam, serta tak lupa dekil di tiap jengkal tubuhnya juga sirna, memapangkan sosok yang jelita. Tiap kali Raja Hermno melihatnya, ia terlihat sosok Laura. Ia persis dengan ibunya.

   Sang Raja amat terkenang dengan sosok Laura. Gadis cilik itu mewarisi mata ibunya yang menyorotkan kecerdasan di balik kesederhanaan serta keanggunan, dan tak lupa gadis itu mewarisi rambut hitam milik ibunya. Karena hal semacam itu, Lauren mendapat posisi yang spesial di hati Sang Raja, yang tidak bisa digantikan oleh putranya yang lain.

   Melihat keadaan seperti ini, permaisuri dan selir raja yang lain merasa tersisihkan. Mereka secara tak langsung menuntut perlakuan yang sama kepada putra mereka masing-masing. Awalnya, tuntutan mereka itu tidak disampaikan secara langsung. Namun, seiring dengan waktu, mereka mulai bermain kasar dengan mulut dan kadang tak ragu dengan fisik guna mengintimidasi Lauren.

   Sayangnya, perlakuan semacam itu tidak menggoyahkan Lauren sama sekali. Malahan, saudara kakaknya yang lai mendukung keberadaan Lauren. Menurut mereka, tindakan ibu mereka masing-masing adalah hal yang sia-sia, karena pada dasarnya, nanti yang duduk di kursi tahta pastilah seorang dari mereka. Mereka sekarang sedang menunggu Sang Raja memutuskan siapa yang berhak untuk duduk di Tahta Kerajaan Fiana ini.

   Namun, takdir berkata sebaliknya. Dalam ekspedisi kerajaan untuk mencari Kerajaan Agartha yang tersembunyi itu harus diakhiri dengan gugurnya semua tim ekspedisi, termasuk semua putra mahkota yang juga ikut ekspedisi. Berita ini amatlah menggemparkan, bahkan sangat disayangkan serta tak terduga. Tim ekspedisi yang terdiri dari ratusan ksatria ahli itu tak ditemui kabarnya sama sekali selama enam bulan. Hal yang tersisa hanyalah seekor elang pembawa pesan yang datang dengan tubuh penuh luka serta sayatan, yang membawakan sebuah pesan singkat yang berisi, “selamatkalah kami!

   Seluruh Kerajaan Fiana berduka mendengar kabar itu, tak terkecuali Lauren. Ia mendoakan semua nyawa yang berani berjuang untuk mencari kebenaran itu, meskipun ia sedikit mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan, tapi tetap saja ia sedarah dengan mereka.

   Sang Raja tetap menua, tapi semua putra mahkota mati di tanah yang bahkan kita tidak tahu itu di mana. Maka dari itu, sesuai dengan hokum dan budaya yang berlaku di tata Kerajaan, di mana pewaris sah tahta kerajaan adalah keturunan langsung dari Raja, maka Laurenlah yang menjadi pewaris tunggal tahta kerajaan. Berita ini tersebar amat cepat, bahkan lebih cepat daripada berita kematian tim ekspedisi. Berita yang tersebar berupa, lahirnya pemimpin yang berasal dari rakyat jelata, atau semacam itulah.

   Rumor yang lain juga mulai bermunculan. Seperti kabar bahwa Lauren kelak nantinya menjadi pemimpin yang arif dan bijaksana. Salah satu pendukung utama dari Lauren adalah sebuah organisasi revolusionis yang kelak dipanggil Democratio Alliance.

   Sebenarnya, jaminan tahta sudah ada di tangan Lauren, bahkan semenjak ia berusia sembilan tahun, tapi Sang Raja tidak serta merta memberikan tahtanya ketika di usia semuda itu, Maka dari itu, mau tidak mau Raja Hemno harus tetap duduk di singgasana hingga waktu yang menentukan. Tapi, Lauren memilih untuk melepas semua itu, karena ia sudah muak dengan perlakuan yang ia terima.

   Sebenarnya, ia punya kesabaran yang kuat, bahkan terlampau hebat untuk gadis seukurannya. Ia dapat menerima cacian yang dijatuhkan kepadanya dari mulut para selir raja dan bahkan permaisuri. Tapi, ada satu kalimat yang sampai saat ini berbekas di kepala Lauren, yang menyebabkan ia merubah haluan hidupnya hingga saat ini.

   “Kau tidak lebih dari anak seorang pelacur!”

   Dus, Lauren yang biasanya sabar menerima makian itu langsung kalap dan marah. Ia dengan beringas mengambil batang lilin yang dapat dijangkau tangannya, lalu ia merangsek maju, mencengkeram kerah gaun selir itu dengan keras dan membanting tubuhnya, lalu memukul wajah wanita itu tampa ampun. Semua orang terlihat jeri dengan kelakuan Lauren. Ada sebuah kilatan marah yang tergambar jelas di sorot mata Lauren. Semua orang berteriak, sebagian memanggil penjaga untuk menghentikan Lauren.

   Setelah kejadian itu, Lauren dihukum. Hukuman yang cocok untuknya bukanlah kurungan atau pancung atau seperti hokum pidana lainnya, melainkan hukuman untuk merefleksikan diri akibat kesalahannya dengan mengenyam pendidikan di Akademi Florence di Kerajaan Orkney. Serta Raja juga menegur selir yang terkait agar tetap menjaga mulutnya, karena memang, manusia punya batas kesabaran.

   Seminggu kemudian, Lauren berangkat menuju Akademi Florence untuk mengenyam ilmu politik serta ketatanegaraan guna kepemimpinannya kelak. Sayangnya, Lauren menolak kesempatan itu dan memilih kabur. Di saat perjalanan, rombongan itu berhenti sejenak di Kota Anirieta,. Lauren cilik menemukan celah untuk kabur, maka dari itu, dengan meninggalkan pesan singkat kepada Ayahnya, ia kabur setelah melumpuhkan dua pelayan yang mengasuhnya. Ia menghulang di Anirieta.

                                                                                             ***

“Tunggu dulu! Tunggu dulu, Niels Jay! Kau bilang apa? Lauren yang ada di depanku ini adalah orang yang sama dengan Lauren si pewaris tahta?! Tampar aku jika semua ini bohong!” Alinae sudah gemas sedari tadi mendengar cerita Niels. Ia terkejut mendengar cerita semacam itu. Tidak hanya dia, Brig yang sudah setengah mabuk itu juga kembali mengangkat kepalanya, memaksanya untuk sadarkan diri kembali.

   Alinae mengharapkan bahwa semua yang ia dengar ini adalah gurauan semata, tapi itu terlampau serius jika dianggap sebuah gurauan. Raut wajah Niels dan Lauren menunjukkan bahwa keduanya memang serius dengan cerita yang mereka paparkan itu.

   “Tunggu dulu, Senori Alinae, cerita ini bahkan masih belum berakhir,” timpal Lauren. “Baiklah mari kita lanjutkan cerita ini…”

                                                                                            ***

Ratte der Küche, itulah nama sebuah panti asuhan tempat Niels dan Marie hidup bertahun-tahun. Sebelumnya, Niels perlu membanting tulang atau bahkan bila terpaksa ia mengais makanan sisa hanya untuk memenuhi perutnya, bukan memenuhi nutrisi atau gizinya. Tapi sekarang tidak, Niels dan Marie punya tempat untuk tumbuh dan berkembang, serta tempat yang cukup pantas dijuluki ‘rumah’.

   Panti asuhan itu dihuni oleh 18 orang termasuk Niels dan Marie serta satu pengelola panti asuhan yang bernama Kasn ibn Ahmd. Pria itu memiliki fitur tubuh yang atletis meskipun ia hampir separuh abad lamanya hidup. Lengannya yang kekar itu sanggup mengangkat beberapa gelendong kayu bakar, sementara lengan yang lain masih cukup kuat untuk mengangkat sebaskom yang penuh air atau kapak kayu.

   Dia pria yang baik hati. Dia selalu perhatian kepada semua anak panti asuhan. Ia dengan ulet dan sabar mendidik semua anak panti asuhan tanpa terkecuali. Ia juga memberi perhatian lebih pada anak yang masih berusia belia. Salah satu anak yang ia kasihi adalah Marie Jay. Berkat, perhatiannya itu, Marie dapat tumbuh menjadi gadis normal semestinya. Ia tidak idiot, bodoh, ataupun cacat meskipun sedari kecil ia tidak sepenuhnya memium susu ibu.

   Niels bersyukur dengan itu, akibatnya ia berdedikasi penuh di Ratte der Küche. Ia dengan setia melakukan tiap pekerjaan di sana. Ia juga membantu finansial panti asuhan itu dengan bekerja sebagai kuli di pasar di pagi hingga siang hari, sisanya ia membuat beragam anyaman rotan sebagai kerajinan tangan, yang di tiap akhir minggunya akan ia jual di sebuah toko kelontong.

   Kesehariannya ia isi dengan aktivitas semacam itu. Karena perjuangan kerasnya itu, Niels dihormati oleh anak panti asuhan yang lain, serta ia juga dipercaya betul oleh Kasn. Kepercayaan itu dituangkan pada tugas-tugas rumit seperti pencatatan transaksi uang keluar dan masuk, pengarsipan, serta surat-surat berharga lainnya, semua itu dipercayakan di tangan Niels. Karena rumitnya pekerjaan yang ia terima, anak-anak yang lain merasa makin segan kepadanya, dan rela menggantikan tugas keseharian Niels sebagai kuli juga sebagai pengrajin.

   Suatu sore, ketika Niels membeli perlengkapan alat tulis, di saat itulah takdir memilih Niels untuk hadir dalam panggung drama ini. Saat itu, ia berjalan melintasi gang sempit. Lalu, tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang gadis seumurannya. Gadis itu hanya mengenakan sehelai kain yang menutupi tubuhnya. Gadis itu pucat dan menggigil kedinginan. Melihat itu, Niels melepas jubahnya, lalu membekap gadis itu dan mengajaknya ke Ratte der Küche.

   Itulah pertemuan pertamanya dengan Lauren. Saat ditanyai mengapa ia di sana, Lauren hanya menjawab dengan gelengan dan anggukan saja. Mulutnya tidak dapat berbicara dengan benar karena kelaparan dan lemas. Niels bergegas membuatkannya coklat panas dan sup hangat sisa kemarin malam. “Maaf, hanya ini yang kami punya. Kami tidak punya makanan selebihnya ini.”

   Itu makanan yang sederhana jika dibandingkan dengan makanan sehari-hari Lauren di Kastil Asvir. Tapi ia bersyukur, ia dapat mengisi perutnya dengan makanan sederhana, seperti kesehariannya dulu.

   “Omong-omong, siapa namamu?” tanya Niels.

   “Lauren,” jawabnya singkat.

   “Oh, baiklah Lauren. Kau bisa tinggal di sini. Aku rasa, Ayah akan menerimamu dengan baik di sini.” Dengan itu, Lauren tidur di sana. Ia tidak berani bilang apapun tentang identitasnya terlebih dahulu, karena ia masih takut dengan kabar pencariannya.

   Keesokan paginya, ia disambut hangat dengan anggota Ratte der Küche yang lain. Ia disapa dan diterima baik di sana. Pada saat sarapan pagi, ia mendapat porsi yang sama dengan teman sebayanya. Lauren tersenyum, dalam hati kecilnya, ia bahagia dan ia merasa amat diterima di sini terlepas dari latar belakangnya yang tidak jelas.

   Jika dibandingkan dengan kehidupannya di istana yang dipenuhi kemuraman dan cacian, ia merasakan hal yang amat berbeda di sini. Di sini, ia diterima dengan baik. Di sini, tidak ada sosok manapun yang menyembunyikan senyum liciknya dalam bedak tebal serta wewangian parfum yang menusuk. Ia bersyukur, ia dapat hidup sederhana dengan tempat yang dapat ia panggil ‘rumah’.

   Ia hidup dengan bahagia. Lauren berbaur dengan semua anak-anak di sana. Ratte der Küche menjadi lebih hidup. Niels juga ikut menghidupkannya. Ia sering mengadakan drama kecil-kecilan yang ditulis oleh mereka sendiri. Lauren selalu menjadi tokoh baik dan terkadang menjadi peran yang jahat, sementara Niels lebih suka menjadi naratot atau penulis naskah.

   Suatu hari, Niels sedang duduk-duduk menjejali kepalanya dengan berbagai urusan administrasi. Ia menjejali kepalanya dari pagi hingga malam. Lauren khawatir dengan Niels, maka dari itu ia mendatangi ruang kerjanya, dan membawakan dua gelas kopi hangat dan dua lapis roti gandum. Niels mendesah halus, ia setuju bahwa ia masih membutuhkan istirahat, meskipun sejenak.

   “Hei Niels, kau tahu, kau itu spesial…” ucap Lauren saat itu, “tapi kau masih anak-anak, Niels. Terlalu banyak beban yang kau tanggung untuk remaja berusia dua belas tahun sepertimu.”

   “Dan kau juga sudah terlalu sabar menahan semua makian itu, Putri Lauren…”

   Lauren tercekat, “dari mana kau tahu itu?”

   “Aku tahu dari Ayah. Ayah adalah salah satu anggota Democratio Alliance, salah satu faksi yang mendukung posisimu, Putri Lauren.”

   “Jangan panggil aku seperti itu! Aku muak dipanggil seperti itu!”

   Niels mengangguk mengiyakan, “baiklah-baiklah. Aku paham perasaanmu itu, Lauren. Omong-omong, kopinya masih pahit, Ren. Dan rotinya tidak terpanggang sempurna. Kau masih harus belajar lagi, Ren.”

   Lauren memukul bahu Niels dengan keras, lalu tertawa mengejek Niels. Niels mengaduh kesakitan, namun tak membalas. Keduanya tertawa, menikmati tiap detik kehidupan mereka di Ratte der Küche.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

rujakteplak
2018-12-21 20:31:09

Wow... Menarik
Mention


AgusMaria
2018-12-21 20:00:46

Cerita yang bagus dan menarik. Adegan aksi dalam beberapa bab menonjol dan ditulis apik
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-20 22:55:42

@dede_pratiwi Makasih Kak,
Mention


dede_pratiwi
2018-12-20 21:39:49

Wow aku suka pendeskripsian sangat tajam setajam silet. Pembaca dibawa mengarungi malam gelap yg dinginnnn
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-12 18:18:46

@YUYU Oh, gitu, makasih Kak Yuyu

Mention


YUYU
2018-12-12 18:15:04

@KurniaRamdan39 wkkwkwk... maksudnya aku pas baca serasa pindah tempat ke dalam tulisanmu pak.
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-12 18:05:26

@YUYU Makasih kak, meskipun ane kurang paham apa yang dimaksud Time Travel yang Kakak sebut
Mention


YUYU
2018-12-12 12:28:08

Time travelnya dapet banget!!! Keren!
Mention


KurniaRamdan39
2018-12-11 17:19:46

@yurriansan Hmm, terimakasih

Mention


yurriansan
2018-12-11 17:10:25

baru baca sampai chapter ke 3. sejauh ini suka. berasa lagi nonton anime.
antara naruto, black butler daaan yang lainyya.

Mention


Page 1 of 1 (10 Comments)

Recommended Stories

KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

276 221 3
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 833 8
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

584 452 8
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

468 378 6
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

577 450 14
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 757 13