3. KEMBALI MENGINGAT

Hari itu, semesta begitu baik mendatangkan seseorang yang kini menjadi teman untuk berbagi. Kedatangannya membuatku percaya bahwa kesendirian bukanlah hal yang menakutkan, melainkan pijakan untuk menguatkan

 

Hari yang cukup melelahkan bagi Tiara setelah disibukkan dengan setumpuk tugas yang diberikan oleh dosennya. Sore itu, Aldi berjanji akan menjemputnya sepulang dari kampus. Tiara memasukkan beberapa diktat miliknya ke dalam tas dan beranjak menuju taman yang berada tidak jauh dari kelasnya. Bangku-bangku taman yang biasa dijadikan tempat untuk bersantai, berbincang, atau sekadar membaca buku, menjadi tempat yang sering Tiara datangi ketika ingin menyendiri. Tiara memilih duduk di bangku taman yang menghadap langsung ke arah jalan. Barangkali, dari situ dia akan mudah melihat Aldi yang datang menjemputnya. Laki-laki itu memang tidak pernah absen menjemput Tiara kalau Rani masih disibukkan dengan kegiatan lain di kampus.

Pandangan Tiara menyapu bersih keadaan sekitarnya. Beberapa orang terlihat sedang sibuk membaca, dan sebagian yang lain sedang asik bersantai dengan teman-temannya. Rumput hijau yang sebagiannya terlihat basah, bunga-bunga yang memekar, dan beberapa lampu taman yang berdiri tegak cukup menyejukkan mata.

Tiara merogoh ponselnya dari dalam saku, melihat nama Aldi tertera di layar, membuat Tiara kembali beranjak dari tempat duduknya. Aldi sudah menunggunya di tempat parkir samping gedung. Laki-laki itu sedang melepas helm nya saat Tiara tiba, dan mata Tiara menatap sebuah paper bag yang ada di setang kemudi motor.

“Dari penggemarmu lagi, ya?” Tiara tersenyum tipis. Laki-laki itu memang tidak jarang mendapat hadiah-hadiah kecil dari pengagum rahasianya yang lebih banyak perempuan. Kalau sudah begitu, Tiara yang akan disuruh Aldi untuk membuka hadiah itu satu persatu. Banyak barang-barang yang justru malah Aldi berikan padanya. Cokelat, bunga,  ataupun boneka. Justru terkadang dirinya heran, mengapa hadiah-hadiah yang diberikan pengagum rahasia Aldi justru lebih banyak bunga dan boneka?

Aldi mengangkat kedua alisnya menatap paper bag yang disangkutkan di setang kemudi, “Sepertinya begitu.”

Tiara meletakkan ujung telunjuknya di dagu, seakan berpikir barang apa yang diberikan pengagum rahasia Aldi kali ini.

“Penasaran, ya?” Aldi tertawa meledek, “Ayo, naik!” Perintahnya, sambil menunjuk jok belakang dengan dagunya.

Tiara hanya mendengus pelan, lalu mengikuti perintah Aldi yang sudah memasang kembali helmnya. Sore itu, matahari cukup memberi udara yang menghangatkan. Tiara menikmatinya di sepanjang jalan menuju gedung kosong yang sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak empat tahun lalu.

Dulu, ketika ibunya meninggal dunia di usianya yang menginjak 16 tahun, dunia Tiara seakan runtuh begitu saja. Dirinya merasa hancur dan kehilangan semangat untuk hidup. Semua hal yang dimiliki Tiara seperti tak ada artinya lagi. Dia merasa kehilangan seseorang yang begitu berharga dalam hidupnya. Seseorang yang sudah menjadi bagian dalam dirinya.

Gedung itu yang menjadi saksi awal kehidupan Tiara yang begitu memilukan. Ya, di atap gedung itu Tiara pernah memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Memutuskan untuk melepas semua duka dan sendu yang cukup membuatnya menderita. Tak ada lagi sosok ibu yang akan memegang tangannya ketika seisi dunia menjauh. Sosok yang menjadi semangat hidupnya, yang menjadi alasannya untuk tetap berjuang menggapai mimpi-mimpinya, sudah tak lagi ada.

Tiara akui, memang pikirannya terlalu pendek pada saat itu. Dirinya tak ingin berpisah, dan hanya ingin kembali bertemu dengan ibunya, bagaimanapun caranya. Dia harus bisa kembali melihat senyum ibunya, kembali memeluknya, menggenggam erat tangannya.

Aldi memberhentikan motor ninja sport nya di depan pintu masuk gedung yang sudah lama tak dihuni. Kabarnya, gedung itu dulu adalah pusat perbelanjaan. Tiara juga baru mengetahuinya beberapa bulan kemudian setelah insiden bodohnya itu. Beberapa tembok gedung terlihat kotor dan banyak bekas semprotan cat pylox yang mulai memudar. Langkah kaki Tiara mengekori Aldi yang lebih dulu jalan di depannya, menaiki tiap anak tangga sampai tiba di atap gedung.

“Waah..” Tiara mendekat ke tepi atap, merentangkan kedua tangannya, dan memejamkan mata. Rambutnya yang terurai dibiarkannya tersentuh angin. Sementara Aldi melangkah pelan mendekati Tiara dan berdiri di sampingnya. Dia menatap perempuan itu dan tersenyum melihatnya. Ingatannya kembali pada insiden empat tahun lalu yang begitu mengejutkan, karena untuk pertama kali dirinya yang baru berumur 17 tahun, dihadapkan dengan situasi menegangkan seperti itu.

Aldi membawa gitarnya sore itu menuju atap gedung yang sudah lama tak dihuni. Dia ingin membuat sebuah lagu untuk dinyanyikan di hari ulangtahun ayahnya, dan di tempat itulah dirinya biasa menyendiri mencari inspirasi untuk tiap-tiap not nya. Namun, dirinya begitu terkejut ketika melihat seorang anak perempuan berdiri di ujung tepi gedung, memajukan kedua kakinya secara bergantian, dan melihat ke arah bawah. Sontak, Aldi langsung menjatuhkan gitarnya dan berlari mendekat, memegang tangan anak itu kuat-kuat.

“Lo ngapain di situ?! Lo gila ya!?” Teriak Aldi pada anak perempuan itu, dan berharap suaranya bisa terdengar dan tidak terbenam oleh angin yang sedang berhembus kencang.

Perempuan itu berhenti memajukan kakinya. Pandangannya masih tetap menatap ke arah bawah. Sementara Aldi masih mencengkeram pergelangan tangannya, melihat wajah anak itu yang benar-benar terlihat sendu. Anak itu menangis. Pikirannya terlihat kosong. Dari pakaiannya yang masih mengenakan seragam, tampaknya dia baru habis pulang sekolah.

“Ayo turun!” Perintah Aldi pada anak perempuan itu. Sejujurnya, kakinya gemetar melihat apa yang terjadi di hadapannya. Seorang anak yang sedang berusaha mengakhiri hidupnya. Entah apa alasannya, Aldi sama sekali tidak tahu. “Gue mohon, lo turun sekarang.” Ulangnya.

Dengan hati-hati, Aldi menarik tangan anak itu untuk turun dan menjauhi ujung tepi gedung. Aldi memegang kedua bahu anak perempuan itu agar berdiri menghadapnya. “Lo nggak bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang kayak gini. Ini terlalu bodoh. Kalau lo merasa beban hidup lo terlalu berat, gue di sini, gue siap dengerin cerita lo.”

Aldi berusaha mengatur pola napasnya yang tersengal. Jantungnya benar-benar berdegup kencang. Dia berusaha tenang melihat anak itu yang terlihat menunduk dan tidak berani menatap wajahnya. 15 menit yang paling menegangkan seumur hidupnya, membuat Aldi lupa dengan tujuannya datang ke tempat itu untuk membuat lagu. Aldi memegang lengan anak perempuan itu, dan mengajaknya untuk duduk, sama-sama menyandarkan tubuh di balik tembok yang kokoh.

Anak itu masih menangis, kali ini dia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Aldi merogoh sakunya, mengambil sapu tangan miliknya. “Nih, hapus airmatanya.” Ujar Aldi, membuat anak itu perlahan membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya, dan akhirnya balas menatap Aldi.

“Kenapa kamu nggak ngebiarin aku jatuh aja?”

Dari matanya, Aldi bisa melihat ada kesedihan yang mendalam. Seperti ada luka, yang membuat anak itu tak lagi bisa menutupinya, sekalipun itu hanya dari sebuah tatapan. Aldi tak menjawab. Pun tak menanyakan sebab. Dia membiarkan anak perempuan yang tidak dia ketahui namanya itu, berbicara sepuas hatinya. Kalau memang dengan cara itu bisa membuat hatinya menjadi lebih tenang, Aldi akan lakukan.

Aldi memegang telapak tangan anak itu, meletakkan sapu tangan miliknya di atasnya. Dan pada saat yang bersamaan, sekilas Aldi melihat sebuah nama pada gelang yang dikenakan di pergelangan tangan kiri anak perempuan itu.

“Tiara,” Panggil Aldi, membuat Tiara tak lagi memejamkan matanya.

Ya, benar. Anak perempuan yang ditemuinya di atap gedung  empat tahun lalu adalah Tiara yang kini sedang berada di sampingnya. Semenjak hari yang menakutkan itu berlalu, Aldi menjadi satu-satunya orang yang tak pernah mau membiarkan Tiara menyendiri. Dia tak pernah mau membiarkan Tiara bersedih dan memendam lukanya seorang diri. Aldi selalu berusaha untuk masuk ke dalam hidup Tiara, merasakan apa yang selama ini perempuan itu rasakan. Dan sejak itu juga, Aldi berusaha untuk selalu menjaga Tiara, dan tak mau meninggalkannya.

“Hm?” Tiara menoleh, menunggu apa yang akan dikatakan oleh laki-laki yang berdiri di sampingnya itu.

“Aku mau lihat kamu bahagia terus seperti ini, ya?” Aldi tersenyum tipis, lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, mengurangi rasa dingin yang hampir menjalar.

Di bawah sinar senja yang semakin memperlihatkan kejinggaannya, langit tampak malu melihat apa yang dikatakan Aldi barusan. Tiara bahkan hampir lupa, sejak kapan laki-laki di sampingnya itu mulai memanggilnya dengan sebutan “aku-kamu”.

Tiara membalas dengan senyum, menatap kedua mata Aldi yang tajam. “Baiklah, kalau itu maumu.”

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Page 1 of 0 (0 Comment)

Recommended Stories

Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

467 377 6
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

687 509 8
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

576 450 14
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 877 15
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

276 221 3