2. MEMBUKA HATI

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada hidup yang terlalu dibiarkan mengalir. Pun aku yang tak mengerti maksud kedatanganmu yang                                                        begitu saja dan membuat hati bertanya; sudah saatnyakah aku membuka hati?

 

Seharian ini, Tiara cukup disibukkan dengan tugas praktikum yang diberikan dosennya dua hari lalu. Beberapa kali dia melirik jam tangan yang dikenakannya, lalu melepas jas lab dan menggantungkannya di sudut ruangan. Rani sudah menunggunya di kantin. Tiara tahu, saat itu dia harus mulai memasang telinga mendengar seperti apa kejutan yang Kemal berikan pada sahabatnya itu di hari jadi 6 tahunnya. Lorong kantin tak begitu ramai sore itu. Mungkin, sebagian besar mahasiswa disibukkan dengan kegiatan lain di luar kampus. Di lorong kantin yang terlihat tak begitu ramai, Tiara bisa melihat Rani sedang duduk santai menikmati es kelapa mudanya. Tiga buah diktat ditumpuk rapi di hadapannya. Perempuan itu memang satu fakultas dengan Tiara. Hanya saja, jurusan kedokteran yang mereka ambil memang berbeda.

Tiara tahu, sejak kecil sahabatnya itu memang sangat menyukai hewan. Bahkan, perempuan itu bisa menangis berminggu-minggu melihat hewan peliharaannya sakit dan tak bisa diselamatkan. Mungkin itu sebabnya Rani memilih jurusan yang paling disukanya, menjadi mahasiswi kedokteran hewan.

“DOR!” Tiara mengagetkan Rani dari belakang, membuat perempuan itu hampir tersedak saat menikmati es kelapa mudanya.

“TIARA!” Seru Rani kencang, menyadari dirinya selama ini selalu saja dibuat kaget. Untung jantungnya baik-baik saja. Coba kalau tiba-tiba jantungnya berhenti bekerja? Siapa nanti yang akan membayar es kelapa mudanya?

Tiara selalu tertawa melihat dirinya yang selalu berhasil mengagetkan orang. Mungkin tidak ada yang tahu, rasanya benar-benar seperti memiliki kemampuan yang hebat sekali.

“Sudah lama menunggu?” Tiara menarik kursi yang ada di depan Rani, lalu memesan es kelapa muda dan semangkuk bakso. Perutnya sudah mulai mengganas karena dari pagi dirinya belum memakan apapun. Semenjak kuliah, pola makan Tiara memang diakuinya menjadi kurang teratur. Jangan salahkan Ayahnya, Rani, atau Aldi yang sama sekali tak mengingatkannya soal makan. Mereka sudah sering mengingatkan Tiara bahkan memarahinya karena selalu saja terlambat makan.

“Bakso lagi? Rani menyipitkan kedua matanya pada Tiara. Dia tak habis pikir dengan perempuan keras kepala yang ada di hadapannya itu. Selalu lupa mengisi perutnya dengan asupan nasi, dan lebih memilih makan makanan yang pedas.

Tiara hanya menyengir. Dia tahu, memperdebatkan hal ini memang tidak akan pernah selesai. Jurus itu yang paling ampuh mengakhiri percakapan soal pola makannya yang tak pernah teratur.

“Jadi, how’s your date? Gimana kencan lo semalem, Ran?” Tiara mengaduk es kelapa mudanya yang baru saja datang, hingga gulanya tak terlihat lagi di dasar gelas.

Rani menopang dagunya dengan sebelah tangan, seraya mengingat-ingat apa yang dialaminya semalam, lalu memperlihatkan senyum penuh arti yang hanya dirinya yang mengerti.

“Kemal ngasih kejutan kecil buat gue, Ra.” Rani masih tak bisa menahan senyumnya. “Dia bawa gue ke kafe yang baguus banget!”

Tiara menjauhkan gelas es kelapa mudanya, lalu mengaduk baksonya. Dia menambahkan kecap dan sambal ke dalamnya, seraya memperhatikan Rani yang masih bercerita.

“Gue belum pernah ke kafe itu sebelumnya. Desainnya unik banget.” Sambungnya.

“Oya? Terus kemal ngasih kejutan apalagi?” Tiara mulai penasaran.

“Dia ngasih gue cincin. Nih cincinnya.” Rani menunjukkan cincin berbentuk vintage berwarna silver yang dipasangnya di jari manis.

“Bagus banget, Ran!” Tiara melepas cincin itu dari jari Rani dan memasangkan di jarinya, lalu memperhatikan bentuknya yang terlihat unik. “Kayaknya ini lebih cocok di gue deh.”

“Mau kan lo? Makanya dong cepetan punya pacar!” Ledek Rani tertawa lepas.

Pacar? Satu kata yang terlontar barusan langsung menyelusup ke dalam hati. Melihat sahabatnya memiliki seseorang yang selalu membuatnya bahagia, hati Tiara seakan muncul sebuah rasa yang berbeda. Sampai saat ini, hidupnya memang terbilang sepi. Walaupun sebetulnya Tiara tak pernah mempermasalahkan kesepiannya. Banyak hal yang bisa dilakukannya seorang diri. Kesibukan kuliah, menikmati suasana sore di kafe dengan secangkir kopi, membaca buku yang disukainya, mendengarkan musik, atau kemanapun langkahnya ingin membawanya pergi.

Selama ini, Tiara selalu menutup hatinya pada siapapun itu. Lebih tepatnya, Tiara tak ingin ada orang lain yang membuat hatinya sakit. Dia tak ingin merasakan kehilangan. Percayalah, kehilangan sesuatu yang sangat disayangi benar-benar menyakitkan. Siapapun tentu tahu, kehilangan tak pernah menjaga jaraknya dengan rindu. Keduanya akan membuat siapapun yang merasakan kehilangan, tak akan lagi menjadi dirinya sendiri.

Namun Tiara tahu, dirinya harus mulai membuka hati, dan mungkin saat ini adalah waktunya. Dia ingin bertemu dengan seseorang yang bisa menjadi teman berbincang, berbagi banyak hal yang selama ini ingin sekali Tiara ceritakan. Tentu saja seseorang yang juga selalu menjaganya dan bisa membuatnya bahagia.

“Ya ampun, Ra!” Rani memasang wajah terkejutnya, membuat lamunan Tiara menjadi buyar. “Scarf kesayangan lo yang gue pinjem kemarin ketinggalan di kafe itu..” Lanjutnya, dengan suara yang begitu pelan. Rani baru ingat, semalam scarf itu tidak ada di dalam tasnya. Dan ketika diingat-ingat lagi, Rani baru sadar kalau scarf itu tertinggal di wastafel toilet. Ah. Dia benar-benar menyesali kebodohannya.

“Nggak apa-apa Ran, kapan-kapan aja diambilnya.” Tiara melepas cincin milik Rani dari jarinya, dan meletakkannya di hadapan Rani. “Nih, gue balikin cincin nikah lo.” Ledeknya.

Wajah Rani memelas. Dia benar-benar merasa tidak enak hati karena meminjam barang dan tidak menjaganya dengan baik. Walaupun Tiara mengatakan tidak masalah dengan hal itu, tetap saja Rani merasa tidak enak. Scarf itu barang kesayangan Tiara yang pernah diberikan oleh ibunya.

Rani menggeleng. “Kita harus ke sana. Scarf lo harus kita ambil sekarang.” tegasnya, lalu beranjak dari kursi, membayar dua es kelapa muda dan semangkuk bakso yang menjadi pesanan mereka tadi.

Jantung Tiara berdegup kencang. Scarf itu.. hadiah yang diberikan ibunya sewaktu ulangtahunnya yang ke-15. Barang terakhir yang ibunya beri di ulangtahun Tiara, karena di usianya yang ke 16, Ibunya sudah tak lagi ikut merayakan ulangtahunnya. Dan semenjak kepergian ibunya, scarf itu yang menjadi obat kerinduan Tiara yang terkadang tak bisa dibendung.

Kegelisahan Tiara masih menyelimuti hatinya sampai tiba di kafe itu. Rani berjalan lebih dulu di depannya, membuka pintu masuk dan mencari seorang pelayan yang bisa dia tanyai. Sementara Tiara masih terpaku di ambang pintu, memperhatikan tiap sudut ruang kafe yang di dominasi oleh warna cokelat dan hitam. Rak buku, kursi-kursi tinggi, minibar, sofa, hingga bingkai-bingkai foto yang dipajang di dinding cukup membuat kafe itu lebih hidup dengan ukurannya yang terbilang luas. Pandangan Tiara terhenti pada sebuah bingkai foto yang terpajang di atas meja kecil di samping pintu masuk. Dahinya mengerut. Dia seperti mengenal seseorang yang menjadi objek di foto itu. Langkahnya mendekat, mengambil bingkai foto itu dan memperhatikannya lebih jeli. Bola mata Tiara membesar ketika menyadari bahwa yang di foto itu adalah..

Dirinya?

“Ra?” Rani menyadari Tiara tak ada di belakangnya. Dan ternyata, perempuan itu masih berdiri di dekat pintu masuk. “Tiara!” Panggil Rani yang baru ditinggal oleh seorang pelayan yang sedang memanggil atasannya. Pelayan itu tidak tahu dengan scarf yang Rani maksud, dan terpaksa Rani meminta pelayan itu memanggil atasannya.

Tiara menoleh, dan kembali meletakkan bingkai foto itu di atas meja. Mengapa ada foto dirinya di situ? Siapa yang memotretnya tanpa izin? Apa orang itu tidak tahu etika dalam mengambil foto? Tiara mendengus pelan. Dia berbalik arah dan menghampiri Rani yang sedang duduk menunggunya di sofa dekat minibar. Tak lama kemudian, seseorang datang mendekat bersama seorang pelayan kafe di sampingnya. Pelayan itu menunjuk sopan ke arah Tiara dan Rani lalu beranjak pergi.

“Maaf, ada yang bisa kami bantu?” Orang itu tersenyum menyapa dengan ramah. Namun, raut wajahnya seketika berubah ketika melihat Tiara. “Loh? kamu?”

Sontak Tiara pun terkejut. Di hadapannya kini berdiri seseorang yang menolongnya dari lemparan bola di taman tempo hari. Randi? Dia tidak pernah menyangka akan bertemu laki-laki itu di sini. Dan ternyata, Randi adalah atasan di kafe ini? Tiara bergidik ngeri.

“Kita pernah bertemu sebelumnya, kan?” Randi duduk di hadapan Tiara yang masih terpaku dalam lamunannya. “Kamu belum memperkenalkan diri waktu itu. Siapa namamu? Dan ini, temanmu?” Sambung Randi, tersenyum pada Rani yang masih terlihat bingung dengan apa yang terjadi, lalu ia memperkenalkan diri.

“Rani.” Sapanya, sambil mengulurkan tangan dan tersenyum. “Ini teman saya, Tiara. Kebetulan, kemarin ada barang yang tertinggal di sini. Scarf biru muda.. tertinggal di wastafel toilet. Mungkin Mas Randi tahu barang itu disimpan di mana?”

Randi mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. “Scarf ini?” Tanyanya, lalu memberikannya pada Rani.

Tidak ada yang tahu kalau Tiara benar-benar menghela napas lega saat tahu scarf miliknya masih ada di tempat ini. Kalau saja barang itu benar-benar hilang, mungkin Tiara akan berhari-hari mengurung diri di kamar.

“Scarf yang cantik.” Puji Randi, lalu tersenyum ramah.

“Itu milikku.” Tiara berseru, mengambil scarf itu dari genggaman Rani dan mengenakannya. “Pemberian dari ibuku.”

“Terlihat semakin cantik kalau kamu yang pakai.” Randi kembali memuji.

“Oya, ngomong-ngomong, ini cafemu?” Rani yang sedari tadi masih memperhatikan tiap sudut kafe akhirnya mengungkapkan rasa penasarannya.

“Punya orangtuaku. Aku dipercaya mereka, mengurus semuanya.”

“Mas Randi masih kuliah?” Rani kembali bertanya.

Randi tertawa, lalu menggeleng. “Nggak. Sudah lulus setahun yang lalu.”

“Wah, hebat ya, sudah punya usaha sendiri, berkharisma pula.” Puji Rani, membuat Tiara sedikit menyikut lengan Rani karena tahu maksud dari pujiannya.

Tiara mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan saat itu, dia sedikit berdeham. “Kayaknya udah malam, Ran. Kita harus pulang.”

Randi melirik jam tangan hitam yang dikenakannya, lalu menawarkan diri. “Biar kuantar pulang, ya?”

Awalnya, Tiara menolak tawaran tersebut, namun Rani dengan cepat menepis jawabannya dengan menerima tawaran Randi. Memang seperti dugaannya, Rani sedang berusaha menarik pehatian Tiara dengan terus memuji laki-laki yang baru ditemuinya itu. Dia akui, memang Randi memiliki kharismanya sendiri. Dengan setelan kemeja yang digulung di bagian lengannya, memberi kesan yang elegan di mata Tiara. Saat tahu laki-laki itu memujinya ketika mengenakan scarfnya, jantung Tiara benar-benar terasa berdebar. Selama ini, dirinya belum pernah mengalami hal seperti itu. Tapi, itu bukan berarti tanda jatuh cinta, bukan? Tiara merasa kalau jatuh cinta bukanlah hal yang main-main. Rasa yang ada, lebih dari sekadar itu.

Selama perjalanan pulang, Tiara tak banyak berbincang. Justru Rani yang lebih mendominasi suasana. Melihat suasana kota Jakarta dari balik kaca mobil lebih menarik perhatiannya dibanding ikut bergurau dengan mereka. Entahlah. Sejak kemarin memang hati Tiara sedang tidak baik-baik saja. Begitu banyak hal yang sedang dipikirkan. Rasanya betul-betul menyesakkan hati dan pikirannya saat itu juga. Tiara yang sedang tidak ingin pulang ke rumah, memilih untuk diturunkan di rumah Rani. Dia sedang ingin ditemani. Kalaupun pulang ke rumah, pasti hanya ada Bik Minah, karena ayahnya sedang ada di luar kota.

“Dia orangnya asik loh, Ra!” Seru Rani pada Tiara yang langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Tiara tak menjawab, ia langsung memejamkan matanya, namun tidak tidur. Lebih tepatnya, sedang menyuruh pikirannya untuk kembali tenang.

“Ra..” Rani mendekati sahabatnya itu, dan duduk di tepi tempat tidur. “Nggak ada salahnya membuka hati. Untuk apa terus-menerus menutup diri? Mungkin awalnya lo merasa nggak nyaman, tapi nanti akan terbiasa.”

Tiara menarik cepat selimut sampai menutupi wajah. Dia tidak bisa membiarkan Rani melihat pipinya yang mulai memerah. Beberapa orang memang tak pandai menyadari hadirnya kesempatan, dan mungkin Tiara adalah salah satunya. Lalu, apakah ini semua bisa disebut kesempatan yang tak boleh dilewatkan?

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Page 1 of 0 (0 Comment)

Recommended Stories

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

440 341 4
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

419 311 6
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

452 369 6
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

561 440 14
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 865 15