14. BERTEMU

Seseorang pernah berkata, obat dari kehilangan adalah menerima. Lantas apa jawaban untuk kau yang tiba-tiba pergi menjauh? Apakah aku juga harus menerima?

 

Tiara menumpu kedua tangannya di atas meja, memerhatikan lamat-lamat bingkai foto dirinya dengan Aldi yang diambil beberapa bulan lalu. Berkali-kali dirinya menghela napas, bingung dengan perubahan sikap Aldi padanya beberapa bulan terakhir ini. Dan perempuan yang turun ke lapangan saat insiden cidera Aldi kemarin.. Siapa dia? Kenapa Tiara sama sekali tidak mengenalnya?

Selama ini, Tiara selalu tahu siapa saja teman-teman Aldi. Dia tahu, Aldi bukanlah laki-laki yang memiliki banyak teman perempuan. Berbeda dengan Randi. Laki-laki itu memiliki lingkar pertemanan yang begitu luas. Teman-teman perempuannya pun banyak. Tiara sudah tidak heran lagi dengan itu.

Lantas, kalau memang perempuan yang kemarin turun ke pinggir lapangan dengan wajah khawatirnya itu adalah teman Aldi, Kenapa Tiara merasa tidak seyakin itu? Apakah benar mereka hanya berteman? Mengapa Tiara sama sekali tidak pernah melihat dia sebelumnya?

Entahlah. Dia tidak tahu sejak kapan Aldi berubah sikap padanya seperti ini padanya. Mungkin, sejak laki-laki itu tahu kalau dirinya sudah menjalani hubungan dengan Randi. Aldi tidak pernah lagi membalas pesan-pesannya, tidak pernah lagi mengangkat panggilan ponselnya. Sudah tidak terhitung dia menelepon Aldi, tapi tidak pernah ada jawaban. Pernah suatu ketika dirinya menghubungi rumah Aldi, dan mamanya yang mengangkat. Tapi, selalu saja ada alasan kalau laki-laki itu sedang tidak ada di rumah.

Tiara mengambil ponselnya. Mengetikkan lagi pesan yang ingin dikirimnya. Entah, ini sudah menjadi pesan keberapa yang dia kirim. Dia perlu bertemu dengan Aldi. Hatinya merasa tidak tenang melihat laki-laki itu berubah sikap dengannya. Seperti ada yang hilang. Entah apa, dia tidak mengerti.

Bisa bertemu denganku sore ini? Ada yang mau aku bicarakan. Aku tahu kamu pasti membaca pesan ini. Kamu mau datang atau tidak, aku akan tetap menunggu kamu di sana.

Jemarinya menekan tombol kirim. Dia langsung beranjak dari duduknya, berganti pakaian, mengambil tas selempangnya, dan memasukkan buku juga ipod ke dalamnya. Dua barang itu sengaja dibawa untuk menemaninya di sana. Tiara tahu, laki-laki itu tidak akan begitu saja datang, dan Tiara tidak mungkin hanya berdiam diri di sana tanpa melakukan apa-apa.

Sengaja pesan itu dikirimnya, karena panggilan telepon tidak akan pernah diangkat oleh Aldi. Saat kemarin melihat laki-laki itu bertanding, sekilas Tiara bisa melihat Aldi menatapnya dan tersenyum. Entah benar tersenyum atau hanya kesalahan penglihatannya saja karena benar-benar khawatir dengan cidera yang dialami Aldi kemarin, dia sama sekali tidak tahu.

Kebetulan, hari itu Randi sedang ada project yang harus dikerjakannya. Sehingga Tiara bisa mengatur waktu untuk bertemu Aldi. Tanpa pikir panjang Tiara langsung menuju kafe yang biasa dikunjunginya itu. Masih jam empat sore, pikirnya. Kafe belum terlalu ramai pengunjung. Biasanya, akan ramai di malam hari dengan anak-anak kuliahan yang sibuk mencari koneksi internet untuk menugas, atau sekadar berkumpul dengan teman-temannya.

Tempat duduk di pojok ruangan dekat dinding kaca jendela, yang menghadap langsung ke arah jalan, menjadi pilihan Tiara untuk menunggu Aldi di sana. Dia memanggil pelayan kafe, dan memesan latte macchiato. Tiara kembali merogoh ponselnya, memeriksa apakah ada balasan pesan dari Aldi atau tidak. Dan ternyata, sama sekali tidak ada.

Tidak apa-apa. Mungkin dia belum lihat ponselnya.

Tiara membaca buku yang dibawanya tadi, dan memasang ipodnya. Sementara pesanannya sudah datang, Tiara sesekali mengalihkan pandangannya ke arah jalan. Orang-orang terlihat berlalu-lalang di trotoar. Beberapa ada yang sedang menunggu di pinggirnya. Entah yang ditunggunya adalah pertemuan, atau ketidakjelasan. Sama seperti dirinya.

Suasana kafe semakin ramai tiga jam kemudian. Anak-anak muda sudah mulai banyak yang berdatangan, sesuai dugaan Tiara sebelumnya. Musik di kafe ini mulai dinyalakan. Sebentar lagi, penyanyi kafe akan mulai memainkan lagunya.

Dan selama itu Tiara menunggu, Aldi belum juga datang. Tiara kembali melihat ponselnya, dan sama sekali tidak ada jawaban dari pesan yang dikirimnya. Laki-laki itu tidak membalas pesannya. Tiara mulai resah. Latte macchiato yang dipesan tadi sudah habis diminumnya. Playlist di ipodnya sudah dua kali memutar lagu yang sama. Bukunya sudah hampir selesai dia baca. Namun, mengapa Aldi belum datang juga?

Kemana dia?

***

Aldi memetik kembali gitarnya. Dia sudah memainkan gitar itu sejak satu jam lalu. Pandangannya menatap ponsel yang diletakkannya di meja samping tempat tidur, lalu beralih pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Hatinya gelisah. Tiara memintanya untuk bertemu di kafe yang biasa mereka datangi berdua. Untuk apa perempuan itu masih mencari keberadaannya? Bukankah sudah ada Randi yang menggantikan posisinya?

Terkadang, memilih untuk menjauh, tidak selamanya membawa seseorang pada zona yang lebih nyaman. Seseorang yang memilih untuk menjauh—agar tidak lagi merasakan luka, akan dihadapkan dengan situasi yang semakin rumit dan membuatnya menjadi serba salah. Akan ada hal yang membuat keputusannya menjadi goyah. Sebuah pertemuan adalah salah satunya.

Berkali-kali Aldi membaca ulang isi pesan itu. Hatinya bukan lagi bimbang. Dia tidak tahu harus berbuat apa bila perempuan itu benar-benar menunggu kedatangannya. Hanya satu cara yang bisa dilakukannya, agar tahu Tiara benar-benar menunggunya atau tidak.

Rani.

Aldi meraih ponselnya. Mengetikkan pesan untuk meminta Rani membawakan bingkisan kecil ke rumah Tiara, dan menanyakan keberadaan perempuan itu pada Bik Minah yang pasti sedang ada di rumah. Dia menyebutkan bingkisan yang ingin diberikannya pada Tiara. Tidak butuh waktu terlalu lama untuk mendapat kabar dari Rani, perempuan itu langsung membalas pesannya satu jam kemudian.

Tiara nggak ada di rumah dari jam empat sore. Bingkisannya udah gue kasih ke Bik Minah. Lebih baik lo samperin dia ke kafe itu sekarang juga, Al. Kasihan dia pasti nungguin lo.  

Aldi menghela napas. Dia langsung beranjak mengambil jaket dan kunci motornya. Tidak ada pilihan lain untuk menuruti kemauan Tiara saat ini. Aldi tidak bisa mempertahankan keinginannya untuk tetap mengabaikan perempuan itu. Dia memang sangat lemah dengan persoalan ini. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sudah enam jam perempuan itu menunggunya. Sungguh. Benar-benar perempuan yang keras kepala.

Aldi menambah kecepatan motornya, tidak membiarkan kendaraan lain menyalip begitu saja. Menunggu tidak pernah menjadi hal yang menyenangkan. Semua perempuan tentu tahu itu. Bodoh rasanya bila Tiara menghabiskan waktu hanya untuk menunggu kedatangannya, yang jelas-jelas belum tahu akan datang atau tidak. Aldi berpikir, perempuan itu tidak akan serius dengan ucapannya. Dia berpikir, Tiara tidak mungkin menunggunya. Itu sebabnya dia mengabaikan pesan itu, agar Tiara tidak benar-benar pergi hanya untuk bertemu dengannya.

Tidak jauh dari kafe, Aldi melipirkan motornya di samping trotoar. Dia melirik jam tangan yang dikenakannya. Sudah jam setengah sebelas malam. Dari dinding kaca kafe, Aldi bisa melihat Tiara sedang melamun menatap ke arah luar. Melihat jalan yang terbilang sepi dan sudah tidak banyak orang berlalu-lalang. Tidak lama, dari tempatnya melipirkan motornya, Aldi melihat ada seorang pelayan menghampiri Tiara, berbicara dengan sopan, dan menempelkan kedua telapak tangannya sebagai tanda permintaan maaf.

Kafe itu sebentar lagi akan tutup.

Aldi segera melepas helm, lalu turun dari motornya. Dia berlari menuju pintu masuk kafe yang sudah mulai sepi. Berpapasan dengan Tiara yang baru akan membuka pintu dengan raut wajah yang layu. Tatapan perempuan itu terkejut dengan kedatangan Aldi di hadapannya. Menghadirkan sedikit kecanggungan di antara mereka berdua.

“Maaf..” Aldi menatap wajah Tiara dengan sungguh-sungguh. “Maaf sudah buat kamu menunggu lama..”

Tiara tersenyum tipis. “Aku kira kamu nggak akan datang.”

Aldi terdiam sejenak, berjalan beriringan dengan Tiara menjauhi pintu masuk kafe yang akan segera ditutup. Udara semakin dingin. Keduanya sama-sama merapatkan jaket yang dikenakannya. Langkah kaki mereka terus berjalan, menuju tempat Aldi melipirkan motornya.

“Gimana kabarmu?” Tanya Tiara, menoleh sebentar, lalu kembali menatap ke arah depan. “Aku merasa ada yang berubah.”

“Nggak ada yang berubah.” Aldi memberhentikan langkahnya, berdiri menghadap Tiara, membuat perempuan itu juga ikut berhenti berjalan. “Aku cuma melakukan apa yang harusnya aku lakukan.”

Tiara mengernyitkan dahi, tidak mengerti.

“Gimana kabar Randi? Hubungan kalian baik-baik aja?” Tanya Aldi, kembali berjalan.

Tiara mengangguk, “Hubungan kami baik-baik aja.”

Jawaban yang cukup membuat Aldi tidak lagi ingin melanjutkan pembicaraan. Seperti dugaannya, Tiara akan baik-baik saja walaupun dirinya menjauh sekalipun. Perempuan itu akan baik-baik saja tanpa ada dirinya. Tidak membawa pengaruh apa-apa. Sebatas rasa kehilangan adalah hal yang wajar. Lama-lama akan menjadi terbiasa.

“Lutut kirimu sudah sembuh?”

Aldi yang masih terdiam, menjawab dengan dingin. “Sudah.”

“Siapa perempuan itu?”

“Perempuan yang mana?”

“Yang turun ke lapangan sewaktu kamu cidera.”

“Temanku. Namanya Salma.”

Kali ini, Tiara yang terdiam. Dia tidak lagi bertanya apa-apa. Perempuan itu tidak menanyakan pertanyaan yang Aldi harap akan ditanyakan. Dia tidak bertanya, Siapa Salma? Ada hubungan apa antara Salma dengan dirinya? Mengapa bisa saling kenal? Perempuan yang berjalan di sampingnya tidak menanyakan itu. Membuat Aldi menghela napas samar.

Malam itu, menjadi hari yang tidak pernah Aldi harapkan untuk ada di hidupnya. Mendengar hubungan Tiara baik-baik saja dengan Randi, membuat hatinya kembali terasa luka. Dia berusaha mengendalikan diri, untuk tidak memperlihatkan itu pada Tiara. Menyadari tidak ada rasa penasaran dari perempuan itu terhadap Salma, membuat Aldi semakin membulatkan keputusannya untuk benar-benar menjauh. Bukan untuk kepentingannya, justru kebaikan untuk perempuan yang sangat disayanginya. Dengan hati yang terbilang berat, Aldi harus memilih jalan yang menurutnya adalah pilihan yang terbaik.

***

Tiara menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Dirinya merasa letih berjam-jam duduk menunggu kedatangan Aldi. Rasanya benar-benar sedih. Ingin marah, tapi tidak bisa. Aldi sudah benar-benar berubah. Tidak seperti yang dulu dikenalnya. Aldi bukan lagi seseorang yang sangat memperlakukannya dengan baik.

Di perjalanan sepulang dari kafe tadi, Aldi hanya diam saja. Tidak bicara apa-apa. Selama enam jam dirinya menunggu laki-laki itu datang, dan pada akhirnya hanya didiamkan.

Tiara beranjak dari tempat tidurnya. Dia butuh sesuatu yang bisa membuat perasaannya kembali membaik, walaupun hanya sementara. Langkahnya pergi menuju dapur, mencari sesuatu yang bisa dimakannya, perutnya benar-benar lapar. Tiara mendapati Bik Minah sedang mencuci piring dan mengeringkannya dengan kain bersih.

“Itu apa, Bik?” Tiara menunjuk sebuah bingkisan yang membuat dahinya mengerut.

“Oh, itu.” Bik Minah menoleh sebentar, lalu melanjutkan mencuci piringnya yang masih kotor. “Tadi nak Rani datang ke sini, bawa bingkisan itu.”

Tiara membuka bingkisan box kardus kecil itu. Di balik tutupnya tertulis “ice cream sundae in a box.”

“Ah. Ice cream!” Tiara tersenyum kegirangan. Dia benar-benar menyukai es krim. Dan Rani memberinya bingkisan, dengan bahan-bahan yang lengkap untuk membuat es krimnya sendiri. “a cute little box!

Di dalam box kardus itu, terdapat beberapa topping es krim yang sudah dikemas dengan plastik. Ada sprinkles, gummy bears, marshmellow, waffle cone, permen-permen cokelat, beberapa sendok kecil, dan scoop eskrim.

Tiara tersenyum lebar. Rani sangat tahu apa yang disukainya. Bahagia yang bukan lagi sederhana.

Previous <<
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Page 1 of 0 (0 Comment)

Recommended Stories

Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 877 15
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 756 13
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

276 221 3
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

584 452 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

845 534 9