Perpustakaan sedang sepi karena bel pulang akan berbunyi setengah jam lagi.
“Bohong!!” Ginov menatap nyalang ke arah Sekhan setelah mendengar informasi darinya. Informasi itu akan membuatnya menang jika bocor ke Eriz.
Namun, sebagian dirinya menolak untuk menggunakan itu sebagai jalan memenangkan pemilihan.
Sekhan mengusap-usap dadanya, menenangkan diri dari efek teriakan Ginov. “Gue dengar langsung dari Yerin. Dan gue jamin cewek itu nggak bohong. Yerin nggak kayak mantan lu. Si Jean.”
Ginov terdiam. Baru kali ini ia tidak terpancing oleh ucapan Sekhan yang mengungkit mantannya. Yang ada di kepalanya cuma satu. Eriz.
Sekhan memijit dahinya. “Rifan pindah ke Makassar seminggu setelah pemilihan. Otomatis, yang jadi Ketos adalah wakilnya, Wisnu. Hm, itu jika mereka yang menang dalam pemungutan suara. Beda hal jika yang menang adalah Ginov, si siswa cerdas SMA ini.”
Seolah berada di dimensi lain, Ginov tidak bereaksi. Pujian Sekhan tidak berefek.
Sekhan meliriknya lalu melanjutkan. “Untuk menghalangi Rifan menang, lu harus ngasih tahu Eriz kalau cowok itu adalah adik dari istri kedua ayahnya.”
Ginov menoleh dan menatap Sekhan tanpa berkedip.
Sekhan mengangkat sebelah alisnya. “Ini juga demi Eriz. Dia harus tahu siapa Rifan sekarang. Sebelum semuanya telanjur jauh, dia makin jatuh cinta sama cowok itu dan… susah lepas darinya.”
“Gue nggak bisa,” ucap Ginov lalu menunduk. “Mungkin sebaiknya kita biarin informasi ini tertutup rapat. Biarin Eriz bahagia untuk sementara. Lagipula Rifan akan pindah sekolah.”
“Meski Rifan pindah, kemungkinan Eriz tahu kebenarannya masih ada. Jadi, mending dia tahu sekarang. Selagi Rifan ada di sekolah ini dan bisa ngasih penjelasan ke Eriz.”
Ginov mendesah putus asa. Ia tahu sedikit cerita perceraian kedua orang tua Eriz. Tidak disangka, penyebabnya dalah kakak dari Rifan.
“Gue nggak mau ikut campur.” Ginov berdiri dan berbalik. Langkahnya tertahan begitu melihat Eriz mematung di dekat pintu.
Sekhan yang hendak mengikuti Ginov, membelalak ke arah Eriz. Ia memang berharap cewek itu tahu kebenaran tentang Rifan, tapi ini terlalu cepat. Ia tidak siap menghadapi reaksi Eriz.
“Eriz, sebenarnya ….”
Ginov mencoba menyelamatkan keadaannya. “Sebenarnya yang tadi itu cuma rencana gue dan Sekhan. Bukan kenyataan kok. Serius.”
Eriz menarik napas dalam-dalam lalu meletakkan buku yang dibawanya ke meja terdekat. Kemudian ia pergi dengan berlari.
Ginov memutar kepala ke belakang dan menatap Sekhan.
Sekhan mengedikkan bahu. “Dia pasti menemui Rifan.”
“Apa?!” Ginov terkejut. Perkiraan Sekhan membuatnya panik luar biasa.
Maka dari itu, Ginov buru-buru mengejar Eriz. Cewek itu pasti shock. Cowok yang sangat dekat dengannya menyimpan rahasia yang buruk.
***
Rifan tersenyum lebar di lapangan melihat Eriz berjalan ke arahnya. Ia sedang berlatih memasukkan bola ke gawang seorang diri.
Saat Eriz semakin dekat, Rifan menyadari ada yang aneh dengan ekspresi cewek itu. Wajahnya seperti menyimpan amarah yang besar.
“Gue mau nampar lu,” ucap Eriz tersengal-sengal.
Dalam kebingungannya, Rifan hanya mengerjap.
PLAKK
Rifan memegang pipi kanannya yang jadi landasan telapak tangan Eriz. Tidak tahu apa yang sedang terjadi, dan kenapa ia ditampar.
Ginov berlari dari belakang dan meraih tangan Eriz. Ia mencoba menarik cewek itu, tapi terlambat.
“Lu anak dari cewek simpanan itu?” tanya Eriz sambil menatap Rifan penuh kebencian.
Ginov mengepalkan tangan, berjalan mundur. Tidak ada gunanya menghentikan Eriz sekarang.
Sementara itu, Rifan merasa saluran pernapasannya terhambat. Ia menurunkan tangannya yang di pipi lalu menatap Eriz. Bagaimana rahasia itu sampai ke telinga Eriz?
Rifan mengalihkan pandangan ke Ginov. Melihat cowok itu tertunduk, ia langsung tahu pelakunya.
Eriz terisak, tapi berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia terbiasa seperti ini. Harusnya mudah dilakukan.
“Gue kira …” Eriz mulai kesulitan bicara. Dadanya naik turun dengan cepat. “Gue kira lu adalah obat dari masalah hidup gue. Ternyata ini semua adalah tipuan.”
Eriz mengusap matanya dengan telapak tangan. “Pasti menyenangkan berakting jadi teman gue. Pasti lu tertawa melihat gue nggak tahu apa-apa. Kenapa Rifan?”
Rifan mendekat, tapi Eriz mundur.
“Gue mau nebus kesalahan kakak gue,” ucap Rifan.
Eriz menggeleng. “Lu benar-benar jago akting.”
Seolah Rifan kehilangan sebagian besar tenaganya. Bahkan tangannya tak bisa lagi mengepal saat ia hendak meninju sesuatu untuk meluapkan kekesalan. “Lu nggak akan mau berteman sama gue kalau gue cerita siapa gue. Makanya,−”
“Bukankah itu lebih baik? Orang bodoh mana yang mau berteman dengan adik dari selingkuhan ayahnya?!” teriak Eriz. Ternyata masalah yang dikiranya sudah berlalu, berlanjut dan berlanjut. Kepalanya seperti mau meledak sekarang. Ia benci takdir ini.
“Eriz, sudah cukup.” Azka datang dan memegang tangan Eriz dengan erat. “Ayo kita pulang.”
Mendengar suara lembut Azka, air mata Eriz tumpah. Ia membiarkan dirinya ditarik, menjauh dari Rifan.
***
Dua hari setelah kejadian itu, Eriz dan Rifan tidak lagi berkomunikasi. Bahkan ketika bertemu, mereka bersikap seperti orang asing.
Eriz diantar-jemput oleh Azka karena Bu Riza sering kerja lembur.
Sore itu, Eriz sedang membaca ulang novel-novel lamanya. Bu Riza masuk sambil membawa Pakaian Eriz yang sudah dilipat.
Eriz mengalihkan matanya dari buku sejenak. “Mama nggak usah ambil jemuran Eriz.”
“Kalau nunggu kamu yang ambil, keburu diambil tetangga,” ucap Bu Riza mencoba bercanda dengan putrinya.
“Garing. Mama nggak cocok jadi pelawak.” Eriz tersenyum ketika mengatakan itu. 
“Papamu ingin ketemu.”
Senyum Eriz langsung luntur. Kayak noda pakaian yang dikasih sebungkus deterjen.
Eriz tidak menyahut. Dan malah membaca buku lagi. Cerita di bukunya mungkin lebih menarik dari berita mengejutkan yang disampaikan mamanya. Atau ia telah lupa masih punya seorang ayah di dunia ini.
“Dia mau ke sini, lima belas menit lagi sampai.”
Eriz menghadap mamanya. “Bareng istri barunya? Haha. Eriz capek lihat mama kayak sekarang. Berpura-pura tegar saat orang seperti papa terus saja berbuat jahat. Sudah Eriz bilang berkali-kali, nggak akan ada kesempatan untuk kami bertemu kecuali si tukang selingkuh itu sekarat.”
Sudut bibir Bu Riza tertarik ke atas. Eriz mengernyit, menyadari ada yang disembunyikan sang mama.
“Bagaimana kalau kamu ikut mama pindah ke Samarinda?”
Eriz mengerjap, menatap mamanya lebih dalam lalu melongo. Ini pergantian topik yang luar biasa.
Tanpa menghiraukan ekspresi kaget anaknya, Bu Riza berjalan ke dekat jendela.Ia menyingkap gorden dan tersenyum kecut. “Papamu sudah tiba. Wah, lebih cepat dari prediksi mama. Temui dia dan ucapkan selamat tinggal.”
Kemudian ia menoleh pada Eriz yang menatapnya tidak mengerti. “Atau kamu punya kalimat perpisahan lain? Katakan sekarang padanya agar kita bisa meninggalkan kota ini tanpa beban. Mama yakin kamu betah di Samarinda.”
Eriz tersenyum lalu mengangguk. Bersamaan dengan itu, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
“Mama mau mandi. Jangan teriak-teriak kalau ngomong sama papamu,” ucap Bu Riza lalu keluar kamar.
“Siappp,” seru Eriz lalu mengambil ponselnya di atas ranjang. Saat membaca pesan, raut wajahnya berubah murung.
Sore ini, gue berangkat ke Makassar.
Oh iya, gue mau ngaku. Gue bohong pas bilang punya cewek.
Pohon Patah Hati nitip salam nih. Dia ikut ke Makassar juga, loh.
Maaf karena nggak bisa mewujudkan keinginan lu. Gue bukan Tuhan, seperti yang lu bilang dulu. Haha.
***
Normalnya, Sekhan butuh sepuluh menit untuk mengembalikan kesadarannya secara utuh sehabis tidur siang. Akan tetapi, salah satu postingan di facebook, yang dilihatnya pertama kali, mampu mengubah kebiasaan itu. Bahkan sekarang, ia sudah melotot ke layar. Nyaris membuat bola matanya lepas.
Sekhan terduduk sementara matanya terpaku ke layar. Panitia pemilihan Ketos dan Waketos diposting ke facebook dua menit yang lalu.
Dua pasangan calon Ketos dan Waketos mengundurkan diri. Pemungutan suara ditunda bulan depan sampai ada pasangan calon baru.
Sekhan menepuk jidat. Pasti dua pasangan calon yang dimaksud adalah Ginov dan Rifan. Rifan wajar mengundurkan diri karena akan pindah sekolah. Tapi Ginov?
“Pasti karena Eriz,” gumamnya.
Sebagai teman sekaligus tim sukses, Sekhan sudah sewajarnya mengatasi situasi ini. 
Tak ingin berlama-lama larut dalam keterkejutannya, Sekhan segera menghubungi Sadya. Cewek itu harus secepatnya tahu apa yang baru saja terjadi.
Tidak tersambung. Nomor di luas jangkauan.
“Oh, sial.” Sekhan memutar otak lebih keras. Jarang sekali ia melakukan itu. Tidak heran peringkatnya juga enggan beranjak dari angka dua lima. Sekitar tiga menit ia berpikir, akhirnya ia mendesah. Tidak ada satu pun cara untuk masalah ini.
Ponselnya berdering. Sekhan melirik malas. Sudah menduga siapa yang menelepon dan apa yang akan dibahasnya.
Masih dengan wajah tidak bertenaga, Sekhan menempelkan ponselnya ke telinga tanpa berkata sepatah kata pun.
“Tolong beritahu Sadya dan teman-teman lain. Gue mengundurkan diri dari pencalonan.”
Di luar prediksi Sekhan, Ginov berbicara dengan nada tenang cenderung putus asa. 
“Oi… Lu dengar, nggak?” tanya Ginov setelah menunggu tanggapan dari Sekhan, tapi cowok itu hanya diam.
“Ehm, ya. Gue dengar,” jawab Sekhan.
Terdengar helaan napas Ginov yang berat sebelum bertanya, “Kalau gitu gue bilang apa tadi?”
Sekhan melirik ke atas sejenak lalu menjawab, “Lu ngundurin diri dari pemilihan Ketos dan gue disuruh ngasih tahu Sadya dan yang lain.”
“Benar. Gue tutup, ya,—“
“Tunggu. Semudah ini lu ngundurin diri?!” teriak Sekhan tiba-tiba. Baru ngeh dengan apa yang disampaikan sahabatnya. Tadi, saking kagetnya dengan nada suara cowok itu, kata-katanya terabaikan. “Dengar yaaa. Gue nggak setuju. Titik.”
Ginov terdiam sedangkan Sekhan mengatur napas menunggu kalimat mengejutkan apa lagi yang akan terdengar.
“Ginov …” Sekhan kembali bicara. “Dengan lu keluar, belum tentu Eriz mau balikan sama lu. Jadi, karena kita telanjur masuk, sebaiknya dilanjut sampai akhir. Rifan mau pindah, kalau bukan lu yang jadi Ketos, siapa lagi coba?”
Tidak ada jawaban.
“Ginovvv,” panggil Sekhan. Meski ia yakin sahabatnya itu pantang nangis, tapi ia tetap khawatir.
“Gue maunya juga seperti itu, Sekhannn. Hanya saja… gue nggak berminat lagi.” Ginov berkata dengan nada lelah. Jabatan Ketos bukan satu-satunya cara untuk menepati janji pada almarhum ayahnya. Jika sekarang, ia belum bisa jadi pemimpin organisasi manapun, saat kuliah nanti, Ginov akan mewujudkannya.

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 771 14
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

427 336 7
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

187 150 2
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

345 269 4
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 616 8
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

4K+ 1K+ 8