Ginov menyetel musik keras-keras di lantai teras. Mungkin untuk meramaikan rumah. Orang tuanya ke luar kota selama dua hari menghadiri pesta pernikahan.
Melihat kakaknya cukup serius menatap ponsel, Gina bergabung. Ia duduk dengan gaya putus asa di dekat Ginov.
“Kenapa lu?” tanya Ginov tanpa beralih dari layar. Ia sedang mencari game baru di playstore.
Gina mendesah. Pokoknya ia harus sedih maksimal. “Kak Eriz masih sama. Nggak ada celah buat gue, Kak. Terpaksa deh, gue masukin formulir ke Club Renang.”
“Kenapa nggak dari kemarin saja lu daftar di Club itu?” Ginov dengan sikap tidak pedulinya malah terkekeh-kekeh. Salah satu game perang menarik minatnya. Ia langsung mendownload game berkapasitas dua puluh megabyte lalu menoleh.
Melihat adiknya memberenggut, Ginov buru-buru mengubah pertanyaan. “Waktu bel pulang, lu di mana?”
Gina mengerutkan dahi, tapi kemudian menjawab, “Di kelas. Gina ada ulangan harian, jadi telat pulang.” Ia heran kenapa kakaknya menyerempet ke arah sana. Memang apa kaitannya waktu pulang dan permasalahannya dengan Eriz?
“Pantes lu nggak tahu.” Ginov membuka permainan yang selesai didownload, mencoba memainkannya.
“Nggak tahu apa, Kak?”
“Kejadian memalukan di parkiran sekolah.”
“Parkiran?” Gina menerawang lalu ber-oh sambil terbahak. “Gue tahu, kok. Memangnya siapa sih cowok yang minta maaf ke kak Eriz di hadapan banyak orang? Gina sebenarnya penasaran juga.”
Ginov tersenyum miring. “Gue orangnya, Dek.”
“HAAAH?” Gina tidak tanggung-tanggung melebarkan mulutnya ketika mendengar pengakuan tadi. “Kok bisa?”
Ginov menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan tampang lelah. “Gue sendiri bingung kenapa bisa sejauh itu?” ucapnya lalu kembali bermain game.
***
Jika seorang hamba bisa memaksa Tuhannya agar mengabulkan satu doa. Ginov akan minta Eriz terserang amnesia pagi ini dan melupakan semua kenangan buruk mereka. Dengan begitu, mungkin Eriz tidak lagi menatapnya setajam sekarang. Seakan yang dilihatnya adalah makhluk langka paling menjijikkan atau buronan pembunuhan berantai.
Lagi?
Eriz bertanya dalam hati dengan alis kiri terangkat. Ia melewati Ginov dengan muka ditekuk.
Ginov, seperti kemarin, mencoba memakai topeng naifnya. Berjalan di samping Eriz dengan wajah tak berdosa. Bahkan ia sampai bergumam-gumam ria.
Eriz berhenti, menoleh dan bertanya, “Apa sih mau lu?”
Ginov berdehem. “Gue pengin menyambung tali yang putus, Riz.”
“Tali?”
“Tali yang menghubungkan hati kita.” Ginov menjawab pelan.
Mendengar itu, Eriz menggeram hebat. Tapi ia berusaha menahan luapan kekesalannya. “Caranya? Diikat?”
Ginov mengangguk semangat.
Eriz berdecak. “Dengan diikat, talinya memang tersambung, tapi tetap nggak kembali seperti sebelumnya. Dan tali itu sewaktu-waktu bisa terputus lagi.”
Senyuman Ginov menghilang. Dulu, Eriz mudah sekali ditaklukkan kalau adu mulut begini. Tapi sekarang, cewek itu sulit sekali dilawan. Ia punya stok kata-kata yang banyak dan menusuk.
“Daripada disambung, bukannya lebih baik dibuang?” Eriz kemudian bertanya sambil tersenyum puas. “Banyak toko yang jual tali dengan kualitas bagus.”
“Tapi….” Tentunya Ginov tidak akan setuju meski yang dikatakan Eriz ada benarnya.
“Tapi apa?” Eriz memotong. “Kalau sudah nggak berguna, ngapain disimpan terus?”
Ginov cepat-cepat mengubah wajahnya kembali ceria. Biarlah hatinya yang kacau, wajahnya harus kelihatan baik-baik saja.
“Mungkin suatu saat lu butuh tali itu lagi. Tali nggak ambil banyak tempat kok kalau disimpan di rumah,” ucapnya pelan sambil tersenyum.
Eriz memutar matanya lalu berkata, “Mata gue sakit lihat barang nggak berguna tiap hari.”
Perang kata-kata hari ini sepertinya cukup berat untuk Ginov hadapi. Setelah mendengar kalimat tadi, yang dilakukannya hanya tersenyum kecut ke tanah. Ginov bukan tidak bisa membalas ucapan Eriz, tapi ia merasa apapun yang keluar dari mulutnya akan sia-sia.
Ginov menghela napas lalu mendongak. Eriz sudah jauh darinya. Tiba-tiba pertanyaan basi itu kembali mendesak dalam kepalanya. Apa perbuatannya dulu sangat keterlaluan?
Ginov belum pernah diputuskan, jadi ia tidak paham betul apa yang dirasakan Eriz saat itu. Sedalam apa lukanya?
Ia hanya satu Eriz sakit hati. Hanya itu.
Ginov menatap Eriz yang bersiap memakai helm saat pikiran lain tiba-tiba datang. Ia harus tahu sebesar apa dampak yang telah diperbuatnya dulu. Ginov menetapkan tekad lalu berlari ke arah Eriz.
“Boleh gue tanya satu hal?” tanya Ginov setelah menarik bahu Eriz hingga cewek itu menghadapnya.
Eriz mendudukkan helmnya ke atas motor lalu tersenyum sinis. Ia menggeleng.
Ginov menarik napas dan mengembuskannya dengan wajah lelah. “Gue tahu gue salah.” Ia tidak peduli dengan izin Eriz. Pembahasan ini sudah lama menyiksa pikirannya.
“Bagus.” Eriz hendak memakai helm, tapi dicegah. Ginov mencekal lengan kanannya.
“Apa lu nggak bisa ngasih gue kesempatan sekali lagi? Lihat, Riz. Gue sudah berubah. Selama ini, gue berusaha keras minta maaf ke lu, gue mengaku salah dan lu harusnya…”
“Harusnya maafin lu?” potong Eriz. Tersenyum miris ke samping. “Pernah lihat ada gelas pecah bisa utuh kembali hanya dengan minta maaf padanya?”
Ginov melepas cekalannya. “Enggak…” jawabnya lirih. Ia terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan, “Hanya karena gue mutusin lu waktu itu, lu sebenci ini sama gue?”
“Tentu saja enggak sesederhana itu.” Eriz tidak tahu kenapa ia bisa terpengaruh untuk membahasnya. Padahal, tadi ia berniat mengabaikan Ginov. “Lu mutusin gue saat gue butuh lu. Lu mutusin gue saat keluarga gue berantakan. Terakhir, lu mutusin gue karena cewek lain.”
“Gue nggak tahu kalau keluarga lu…”
“Lu memang nggak perlu tahu. Gue nggak minta lu untuk tahu, tapi… asal lu tahu, itu hanya sebagian kecil dari semua alasan gue benci sama lu. Setelah ini, gue harap lu mau mengerti dan nggak ganggu hidup gue lagi ke depannya.” Eriz meraih helm, memasangnya lalu naik ke atas motor. 
Ginov memperhatikan gerak-gerik Eriz sampai cewek itu melaju dengan motornya.
***
Sekhan selalu percaya bahwa bercanda adalah cara tepat menghibur seseorang. Terkecuali cowok yang melamun di sampingnya. Demi memperbaiki suasana hati dan raut wajah Ginov yang kusut sejak tiba di sekolah, candaan Sekhan melebar ke mana-mana. Ia bahkan membahas penyanyi dangdut yang dikabarkan seorang transgender dengan antusias.
Betapa besar kepedulian Sekhan terhadap Ginov. Tapi sayang, yang dipedulikan itu sama sekali tidak merespon.
Habis bahan melawak, Sekhan kemudian mendesah sekeras-kerasnya. “Tahu apa pencapaian tertinggi dalam mencintai seseorang?” tanyanya dengan penghayatan penuh.
Ajaibnya, Ginov langsung menoleh mendengar pertanyaan Sekhan. Bukan penasaran atau ingin menjawab, melainkan takjub. Seorang siswa kampret seperti Sekhan ternyata bisa berkata-kata dengan nada yang membuat merinding.
“Lu tahu, nggak?” Sekhan bertanya lagi.
“Berhasil menikahinya?” jawab Ginov tapi diiringi nada keraguan.
Sekhan membuang napas lewat mulut lalu berdecak-decak. Seolah jawaban Ginov adalah jawaban paling mengerikan di telinganya.
“Kalau bukan, jadi apa jawabannya?” tuntut Ginov.
“Pencapaian tertinggi itu adalah saat lu bisa tersenyum melihat dia bahagia bersama orang lain.” Sekhan tersenyum samar mendalami kalimatnya.
Ginov menatap malas. Tidak akan dibiarkannya Sekhan merasa bangga lama-lama dengan ucapannya. “Walau ‘orang lain’ itu adalah penipu?” tanyanya.
Sekhan mengerjap, berusaha mencerna cepat, tapi akhinya bengong.
Ginov tertawa masam ke arah depan.“Gue nggak peduli dengan pencapain tertinggi yang lu maksud, ya. Sebab, Rifan nggak mungkin bisa buat dia bahagia. Dia hanya penipu yang memanfaatkan Eriz untuk kemenangan dalam pemilihan Ketua OSIS nanti.”
“Lalu apa bedanya sama lu?” Sekhan mengetuk-ngetukkan jari-jarinya ke meja. “Baik Rifan atau lu, sama-sama mendekati Eriz karena butuh suara.”
“Gue cinta sama Eriz,” ucap Ginov sangat pelan.
“Sama,” tegas Sekhan. “Rifan sepertinya juga cinta sama Eriz. Jadi kalian sama saja. Pe-ni-pu. Menjadikan ‘cinta’ sebagai pembenaran.”
“Rifan adalah sahabat Kak Azka. Setahu gue, cowok sialan itu nggak hobi berkhianat.” Ginov berGinovri dengan sisa informasi dalam memorinya. Azka adalah mantan Eriz dan Rifan adalah sahabat Azka. Dua fakta itu cukup memberinya kesimpulan.
Rifan mustahil merebut Eriz.
“Cinta bisa disembunyikan.” Sekhan tersenyum miring. Kemenangan berpihak padanya kali ini. “Satu lagi, kita belum tahu pasti bagaimana perasaan Kak Azka pada Eriz sekarang ini. Jika sudah enggak ada perasaan apapun, maka Rifan adalah kandidat terbaik untuk Eriz.”
Penjelasan panjang Sekhan mendiamkan mulut Ginov.
“Ahhhhh. Kenapa kita bahas Eriz dan calon-calon pacarnya, ya?” tanya Sekhan, bingung sendiri.
“SEMUA SISWA KE LAPANGAN UPACARA. AKAN DILAKUKAN SELEKSI CALON KETUA OSIS TAHAP PERTAMA.”
Pengumuman yang disampikan dari toa masjid, membuat kelas hening. Ginov melirik Sekhan dengan tatapan tajam.
Sekhan menunduk, menutup rapat mulutnya.
Ginov berdesis panjang lalu bertanya, “Kenapa lu nggak ngasih tahu gue?”
“Gue mencoba jadi pengurus OSIS yang adil,” jawab Sekhan kalem.
***
Seleksi tahap pertama benar-benar unik. Pemungutan suara dilakukan dengan cara menghitung jumlah siswa yang berdiri di area setiap calon. Selain cepat selesai, hasilnya juga langsung ketahuan.
Paling depan tersedia nama calon Ketos dan Waketos. Kemudian siswa disuruh berbaris di depan nama calon yang dipilihnya. Dalam satu baris, terdiri dari dua puluh siswa.
Ginov tak bisa melepaskan pandangan dari barisan yang terbentuk di depan nama Rifan. Rivalnya itu sangat mengejutkan panitia. Ia berhasil memimpin. Beda jumlah suaranya dengan Ginov sebanyak lima belas.
Dan tentu saja, Ginov tak lupa mencari keberadaan Eriz dalam barisan. Cewek itu berdiri di tengah-tengah siswa yang memilih Rifan.
Panitia Pemilihan alias Sekhan berdiri di depan seluruh siswa sambil memegang mic.
“Berdasarkan peraturan baru di SMA Karya mengenai pemilihan Ketos dan Waketos, yang boleh maju ke tahap selanjutnya hanya dua pasangan calon. Rifan yang berpasangan dengan Wisnu, dan Ginov yang berpasangan dengan Talia. Pemungutan suara yang menentukan Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS tahun ini akan diadakan seminggu lagi. Persiapkan pilihan kalian karena satu suara sangat berharga.”
Sekhan berbalik, hendak turun tapi batal. Ia lalu melanjutkan pidatonya dengan wajah jail. “Dan jangan lupa, siapkan juga pulpen kalian karena saat pemungutan suara nanti, panitia tidak menyiapkan pulpen. Oke? Barisan dibubarkan. Bubar! Bubar!”
“Dasar kereee!” seru peserta upacara-eh siswa yang berkumpul di lapangan upacara.
Di sisi lapangan, Ginov membiarkan hatinya dikoyak-koyak oleh kecemburuan dengan terus menatap Eriz dan Rifan yang ketawa-ketiwi. Ia tidak bisa begini, Eriz tidak boleh jatuh ke tangan Rifan. Dengan cara apapun, Ginov harus mengembalikan Eriz ke sampingnya.
“Hei.” Sekhan merangkul Ginov. “Gue punya kabar baik buat lu.”
Ginov melepas tangan Sekhan dan berbalik. Ia masih kecewa karena sahabat yang dipercayainya tidak dapat membantu dirinya hari ini. 
Sekhan nyengir sambil mengejar Ginov. “Gue jamin marah lu ke gue langsung hilang setelah mendengarnya.”
Ginov berhenti dan memutar badan. “Apa kabar baiknya? Gue nggak punya kesempatan lagi buat jadi Ketos? Itu yang lu maksud?”
Sekhan berdecak. Mungkin tidak ada lagi rasa optimis dalam diri Ginov, pikirnya.
“Sebaliknya. Kabar ini akan bikin lu menang dengan mulus.”
“Lu tahu apa yang bisa gue perbuat kalau lu bohong?” ancam Ginov.
Sekhan mengangguk. “Dipecat jadi sahabat. Oke, gue paham.”
Ginov menggeleng lemah lalu berkata lambat-lambat, “Lu gue sunat duakali.”

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 701 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 816 14
Anne

Anne's Tansy

By murphy

655 408 9
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

492 385 14
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

219 176 3
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

598 448 7