Semangat menurun, hilang nafsu makan, lebih banyak diam dan sering mendesah. Sekhan menduga Ginov sedang sakit ketika cowok itu kembali dari kantin dengan ciri-ciri tadi. Sebagai bentuk kepedulian, Sekhan menyuruhnya ke UKS daripada ikut mata pelajaran terkhir hari ini.
Agak lebai memang, tapi Sekhan hanya ingin Ginov sembuh dari sakitnya.
Sayang, kebaikan itu berbuah negatif. Ginov malah kesal karena Sekhan terus-menerus memaksanya ke UKS.
“Gue khawatir kesehatan lu, Ginov. Mending lu ke UKS sebelum sakit lu tambah parah,” ucap Sekhan sambil menatap simpati.
Ginov membuang napas sekaligus dari hidung. “Lu peduli sama kesehatan gue? Terus apa kabar nilai ulangan gue?”
“Ulangan apa?” Sekhan keheranan.
“Ulangan harian Fisika di jam terakhir. Kalau gue nggak ke UKS, lu mau tanggung jawab dengan nilai gue? Lu mau gantiin gue ujian susulan?” tanya Ginov dengan muka sebal.
“Hehe, sori/. Gue lupa ada ulangan,” ucap Sekhan lalu menatap Ginov semakin intens.
Menyadari tingkah ganjil sahabatnya, Ginov berdecak lalu balas menatap dongkol ke Sekhan. “Kenapa lagi?”
“Lu bukan Ginov yang gue kenal selama ini. Lu tiruan, ya?!” desak Sekhan dengan tampang serius. Lebai sekali.
“Sekhan, yang gue butuhkan saat ini adalah ketenangan hidup, bukan lelucon garing lu. Tolong. Berhenti bicara ngawur.”
Sekhan menarik napas dan mengeluarkannya dengan perasaan damai. “Lu kenapa murung gitu? Pemungutan suara belum dilakukan. Masih ada kesempatan kampanye. Jangan pesimis dulu dong.”
Sakit kepala Ginov mendengar kalimat Sekhan. Ia menyentuh kepalanya. “Ini nggak ada kaitannya dengan pemilihan. Aduhhh, lu sebaiknya diam dulu. Gue serius, butuh ketenangan.”
Sekhan manggut-manggut dengan gerakan lambat. Tapi belum semenit, ia bicara lagi, “Gimana Eriz? Ada kemajuan?”
Ginov berdesis kesal sebelum menjawab, “Yang ada, kemunduran. Ternyata Kak Azka pernah pacaran sama Eriz. Kayaknya itu setelah kami putus. Perkiraan gue selama ini salah, gue kira gue satu-satunya mantan Eriz, gue kira hanya gue yang pernah dicintainya. Gue kaget banget pas Rifan cerita hubungan mereka. Nggak masuk akal banget. Mereka jadiannya kapan? Kenapa gue bisa nggak tahu?”
“Lah. Sama. Lu juga jadian sama Eriz kapan? Kenapa nggak ada yang tahu?” Sekhan membalikkan kata-kata Ginov dengan mulus.
“Kami sepakat backstreet waktu itu.”
“Nahhhh. Lu tahu jawabannya sekarang.”
Ginov menoleh ke Sekhan dengan alis menantang alias naik sebelah. 
Sekhan mendecakkan lidah dengan ketidakpahaman Ginov. “Katanya juara satu umum,” gumamnya. “Tadi lu bilang nggak masuk akal Kak Azka pernah pacaran sama Eriz. Mereka jadiannya kapan? Kenapa lu bisa nggak tahu? Nah, jawabannya, yang lu bilang tadi. Backstreet.”
“Itu gue tahu,” aku Ginov.
“Terus?”
“Yaaa gue ngerasa nggak masuk akal aja. Mustahil banget seorang Eriz pacaran dengan Kak Azka yang…” Ginov mendesah lalu menyambung kalimatnya tanpa tenaga, “Gue nggak perlu jelasin, lu pasti tahu.”
Sekhan tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kondisi Ginov saat ini. Sesuah itukah menerima kenyataan kalau ada orang lain di hati sang mantan?
“Argh,” geram Ginov singkat. Ia akhirnya paham ucapan Godar dulu. Kenapa Eriz dianggap istimewa dalam Club Sesat, telah terjawab.
“Belum tentu Eriz lebih milih Kak Azka. Gue yakin dia bukan cewek yang lebih mengutamakan materi dan kepopuleran.”
“Iyaaa, tapi tetap saja gue nggak bisa tenang…” Ginov menghentikan mulutnya berbicara lebih banyak dan segera menoleh dengan wajah terkejut.
Sekhan berdehem, menahan tawa. “Pembicaraan kita nggak berkaitan dengan pemilihan Ketua OSIS, kan?” gumamnya sambil memutar bola mata.
“Lu salah paham.” Ginov tampak panik. “Maksud gue ituuuu, gue nggak tenang karena… karena…”
Sekhan menggeleng mantap dua kali. “Lu cemburu.”
Ginov tersenyum pahit. “Enggak.”
“Berhenti meninggikan gengsi. Kecemburuan lu tergambar jelas di muka lu,” ucap Sekhan sambil memutar telunjuknya di depan wajah Ginov.
Ginov menarik napas dalam-dalam lalu mendesah putus asa. Tidak ada jalan mengelak tuduhan Sekhan sekalipun ia ingin.
***
Eriz berhenti berjalan, memandang cewek kurus berkulit pucat yang seragam sekolahnya agak ketat, keluar dari kelas. Cewek itu menoleh pada Eriz dan selama lima detik mereka saling tatap.
Eriz menarik napas lalu mengambil langkah pelan ke depan. Tidak ada alasan berlama-lama di sekitar Jean.
“Ginov mutusin gue.” Jean tiba-tiba bersuara. Saat Eriz memutar kepala ke arahnya, ia tersenyum. “Dia mutusin gue setelah tahu tujuan gue mendekatinya.”
“Kenapa lu bahas ini ke gue?” tanya Eriz. Memutar badan agar berhadapan dengan Jean. Ginov masih jadi pacarnya atau tidak lagi, Eriz sudah tidak mau peduli.
Jean dengan senyum palsunya, mendekat lalu bersedekap dengan gaya angkuh. “Karena kita sama-sama cewek dan sama-sama diputusin, gue mau lu tahu satu hal penting tentang Ginov dan perubahan sikapnya ke lu akhir-akhir ini.”
Sesaat, Eriz mengernyit diam. Jean pasti sengaja membeberkan kelakuan buruk Ginov agar ia semakin benci. Namun, sebagian dirinya penasaran apa yang akan dikatakan cewek itu. Eriz dilemma antara tetap tinggal atau pergi secepat mungkin.
“Nggak mungkin seorang mantan yang kemarin cuek sama lu, tiba-tiba perhatian banget hari ini. Nggak mungkin terjadi kalau nggak ada sebabnya.” Senyum Jean kini seperti ekspresi kasihan.
Muak dilihat dengan cara itu, Eriz berdecak kasar. “Nggak usah bertele-tele. Lu sebenarnya mau bilang apa ke gue?”
“Nggak sabaran.” Jean memutar bola matanya. Lalu mendekat, lebih dekat dan ia berbisik di telinga Eriz. “Ginov butuh lu hanya untuk meningkatkan jumlah suaranya dalam pemungutan suara nanti.”
Eriz memutar kepalanya ke wajah Jean yang hanya sejengkal dari wajahnya. Untuk kesekiankalinya, Eriz harus akui kalau senyum Jean sangat ampuh merusak mood-nya.
“Jadi jangan kepedean,” lanjut Jean, kembali memantapkan senyumnya. “Lu Cuma dimanfaatin sama dia.”
Eriz menatap Jean dengan reaksi biasa. Tenang. Teramat tenang. “Kalau lu sudah selesai ngomong, gue pamit,” ucapnya lalu melangkah pergi.
Jean melongo di tempat. Tak bisa berkata-kata dengan sikap angkuh Eriz.
***
Ginov, dengan tekad bulat, mengekori Eriz hingga ke parkiran. Di sanalah, ia akhirnya punya kesempatan lebih lama untuk bicara bedua dengan Eriz.
“Eriz,” panggil Ginov saat Eriz memasang helm.
“Pak Wawan, tolong dong, motor itu dipindahin,” teriak Eriz pada Satpam sekolah yang sibuk mengatur deretan motor yang tersisa.
“Sabar, neng,” jawab Pak Wawan sambil berlari ke arah motor yang dimaksud Eriz.
Ginov pindah ke sisi kiri karena Eriz menoleh ke sana. “Eriz, dengerin gue dulu.”
Eriz berdecak pelan lalu melirik ke depan. Motor yang menghalangi jalannya sementara dipindahkan oleh satpam.
“Riz, lima menit doang,” paksa Ginov, setengah heran dengan perubahan sikap Eriz. Sewaktu di kantin, cewek itu masih lumayan baik, mau mendengar Ginov. Tapi lihat sekarang, ia bahkan enggan menoleh pada Ginov.
Saat jalannya tidak terhalangi oleh apapun. Eriz menghidupkan mesin. Ginov berdecak. Kalau bukan sekarang, ia tidak akan dapat kesempatan lagi. Karenanya, Ginov mematikan mesin motor Eriz dan mengambil kuncinya.
Eriz tidak tinggal diam. Ia langsung turun dari motor dan melepas helmnya. 
Spontan, Ginov mundur melihat tatapan tajam Eriz. Suara di sekeliling mereka terhenti. Tanpa melihat langsung, Ginov yakin orang-orang sedang menonton.
Tak mau mengulur waktu lebih banyak dan membuat dirinya tambah disorot, Ginov maju selangkah dengan pelan. “Riz… gue mohon, gue ke sini bukan untuk bertengkar, tapi…”
Eriz menghentikan kalimat Ginov dengan melemparkan helmnya ke perut cowok itu.
“Aww.” Yang meringis malah siswa yang berkerumun di parkiran.
Ginov tetap berdiri tegak sambil memegangi perutnya. Kemudian, ia berjongkok di dekat helm Eriz.
Namun, belum sempat Ginov menyentuh helm itu, Eriz bersuara.
“Jangan sentuh helm gue.”
Ginov bergeming di tempatnya. Menjadikan helm Eriz sebagai satu-satunya benda yang bisa ia lihat. Ginov menelan ludah. Ia tidak boleh mundur. Apapun yang terjadi selanjutnya, ia tidak peduli. Tujuannya hanya satu…
Ginov menyambar helm Eriz lalu berdiri, menghadap Eriz dengan percaya diri. Belum semenit, ia kemudian mengutuk diri dalam hati. Lagi, sepasang mata itu memperlihatkan kebencian.
“Maaf!” tandas Ginov cepat lalu menunduk.
Semua orang yang menyaksikan, tanpa sadar menahan napas. Jantan sekali, pikir mereka.
Berbeda dengan reaksi mereka, Eriz hanya menatap Ginov tanpa ekspresi.
Apa yang baru saja keluar dari mulut Ginov adalah omong kosong besar yang tidak akan pernah ia percaya. Maaf? Konyol sekali. Kenapa satu kata itu harus keluar di saat ia tidak ingin mendengarnya?
Eriz meradang. “Untuk apa minta maaf?” tanyanya.
Ginov menarik napas dan mengembusakannya cepat-cepat lalu berkata, “Karena gue sadar, gue telah ngelakuin banyak kesalahan sama lu.”
“Tunggu!” Eriz menangkap ada yang keliru dalam kalimat tadi. “Lu sadar telah ngelakuin banyak kesalahan. Kesalahan yang mana? Gue agak lemah mengingat hal-hal yang tidak penting.”
Tidak penting, tapi bikin lu sebenci ini sama gue.
Ginov tahu Eriz berbohong. “Gue merusak kepercayaan lu.” Dan lebih memilih Jean.
“Oh…” Terdengar seperti keraguan. Eriz bersikap tidak acuh.
“Lu mau maafin gue?” tanya Ginov.
“Ya.”
Mata Ginov melebar dan perlahan bibirnya tertarik ke samping. Ini adalah pencapaian tertingginya selama hidup. Eriz memaafkannya.
“Kalau lu bisa kembali ke masa itu dan membuatnya tidak pernah terjadi,” lanjut Eriz.
Prank.
Ginov terdiam dengan hati mencelos.
“Jelas?” tanya Eriz.
Kesadaran Ginov yang sedetik lalu diterbangkan, kembali. Ia menghela napas lalu berkata, “Riz. Sumpah, gue menyesal atas semua yang gue perbuat.”
“Apa untungnya buat gue kalau lu menyesal?!” Suara Eriz meninggi. “Nggak ada, kan?”
Ginov tidak menyahut.
“Dan satu lagi. Lu butuh waktu delapan bulan untuk minta maaf doang? Maaf, ya Ginov. Itu sudah basi.” Eriz memungut helmnya dan merampas kunci motornya dari tangan Ginov dengan mudah.
Sampai Eriz menghilang dari parkiran, kumpulan penonton yang membludak di parkiran menatap iba pada Ginov. Cowok itu masih berdiri kaku, menatap hampa ke depan. Ia lupa bahwa yang dilakukannya barusan telah menciderai kepopulerannya sebagai siswa teladan.
***
 “Gue salah apa?”
“Lu nggak salah, Riz. Hanya…”
“Hanya bego. Bego karena percaya sama omongan dan janji sampah lu”
Percakapan itu terjadi beberapa menit setelah Ginov memutuskan Eriz. Efek kejadian di parkiran, Ginov kembali mengingatnya. 
“Arg, sial, sial, sial!” teriak Ginov sambil memukul meja belajarnya dua kali. Bukunya terjatuh beserta pulpen yang terselip di lembar halaman yang ia baca.
Harusnya dengan membaca, ia bisa melupakan permasalahannya dengan Eriz. Karena itu, ia rela memohon pada Gina meminjamkannya buku fiksi bergenre detective.
Ginov bertopang dagu sambil mengembuskan napas. Membaca buku hanya akan mengulik kenangan lamanya dengan Eriz. Ginov ingat dengan baik, Eriz kadang sengaja membawa buku ketika bertemu dengannya. Eriz akan bercerita tanpa diminta mengenai isi buku yang dibacanya. Saat itu terjadi, Ginov pasti tutup kuping karena ia lebih suka mengerjakan soal matematika daripada mendengar cerita fiksi.
Wajah cemberut Eriz terbayang di benak Ginov. Sekarang, ia baru menyesal tidak jadi pacar yang baik untuk cewek itu. Jika diberi kesempatan sekali lagi berada di sisinya, Ginov rela mendengar Eriz mendongengkannya buku jenis apapun, selama yang dia mau.
***
Eriz tak bisa menahan mulutnya untuk tersenyum lebar. Tidak sia-sia waktu luangnya terpakai untuk mengajari Rifan belajar naik sepeda. Cowok itu sudah bisa berkeliling lapangan dengan sepeda sekarang.
“Selamattt,” teriak Eriz riang sambil bertepuk tangan dengan ritme cepat.
Rifan menarik rem ban belakang sepeda dengan tangan kiri, menurunkan kedua kaki lalu menoleh dengan wajah angkuh. Tak lupa jempol tangan kanannya diangkat ke atas.
“Wahhh.” Eriz menggeleng takjub. “Ternyata gue memang berbakat ngajar orang naik sepeda. Hebatnya gue.”
Rifan mencibir. “Hooo. Bukan lu yang berbakat, tapi gue yang cepat belajar.”
Eriz terbahak. “Iyaaaa. Terserah lu aja deh.”
“Eh, habis dari sini, kita makan, ya.”
“Makan?” Eriz menimbang ajakan Rifan sembari menggembungkan pipinya. 
Rifan berdecak. “Iya makan. Masa’ lu nggak tahu. Itu loh, masukin makanan ke dalam mulut, terus dikunyah sampai halus, dan ditela,−”
“Gue nggak nanyaaaa.” Eriz berubah kesal. Rifan selalu saja merusak kebahagiaannya. Mirip sekali dengan seseorang yang dibenci Eriz.
Ginov.
Eriz seketika murung. Sebenarnya ia tidak berniat marah-marah dan melempari cowok itu dengan helm. Itu semua gara-gara Jean. Eriz terpengaruh oleh informasi darinya. Dan kebetulan ia bertemu Ginov di parkiran, jadilah ia melampiaskan kekesalannya saat itu juga.
“Malah bengong,” tegur Rifan.
Eriz tarik napas dan mengeluarkannya dengan lunglai. “Makan apa?”
Rifan melirik cepat. Bak mendapat firasat buruk, Eriz buru-buru menambahkan. “Gue tahu kita mau makan makanan, tapi makanannya itu apa?”
Pertanyaan Eriz diabaikan Rifan. Ia kemudian membuat pertanyaan lain yang tidak ada kaitannya dengan makanan. “Apa lu belum juga sadar dengan tujuan utama gue ada di sekitar lu selama ini?”
Hening.
Eriz bungkan sambil menatap Rifan dengan ekspresi yang sulit dipahami. Datar dan seolah tidak ada emosi sedikit di sana
“Sebenarnya gue ….”
“Karena lu mau menang pemilihan Ketua OSIS. Gue juga tahu kenapa lu ngotot ingin jadi Ketua OSIS. Pasti karena Ginov, rival lu sejak dulu.”
Harusnya, Rifan menggeleng. Tapi terjadi pemberontakan dalam dirinya. Ada keinginan untuk bersama lebih lama dengan Eriz. Jika ia jujur sekarang, mungkin cewek itu tidak mau lagi menemuinya.
Rifan mengeratkan pegangan tangannya di setir kiri sepeda. “Syukurlah, lu tahu.”
“Gue pasti dukung lu.”
“Serius?” Rifan kembali menoleh.
Eriz mengangguk. “Ginov nggak boleh jadi Ketua OSIS.”
Rifan menepuk jidat sambil tertawa pelan. “Gue lupa, lu juga punya tujuan khusus.”
“Makanya … jangan berpikir lu sedang memanfaatkan gue karena kita sama-sama punya tujuan.” Eriz berbicara dengan nada datar. Rifan menatapnya lama, merenungkan apa kalimat cewek itu adalah bentuk kejujuran atau alibi untuk menutupi sesuatu.
Perasaan aneh menerkam ketenangan Rifan. Ia terdiam, menikmati wajah Eriz selama mungkin. Kesempatan seperti ini belum tentu ada di masa depan. Rifan sadar posisinya. Azka bisa menghabisinya jika berkhianat, tapi ia tidak mau munafik terus-menerus.
Eriz melirik, membuat Rifan membelalak lalu cepat-cepat buang muka. Ia gugup sekali dan tanpa sadar kakinya sudah mengayuh sepeda.
Di belakang, Eriz menganga sebentar sebelum berteriak, “Rifan, bisa-bisanya lu ninggalin tutor lu!”
Rifan terus mengayuh dan baru berhenti ketika perasaan aneh di dadanya menghilang.
Mereka kemudian adu mulut selama dua menit sebelum memutuskan bahwa tidak ada yang membonceng dan dibonceng. Sepedanya di tarik Rifan dan mereka jalan kaki menuju warung makan terdekat.

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Remember this story?

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

386 305 7
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

159 133 1
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

316 241 4
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

310 243 4
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

541 419 5
Anne

Anne's Tansy

By murphy

499 300 6