Eriz turun dari motor Azka dengan perasaan tidak keruan. Di hadapannya, tampak lapangan sepak bola yang sangat luas. Pertunjukkan kembang api sedang berlangsung di tengah lapangan.
Setelah memarkir motor dan memastikan motor itu aman, Azka menarik tangan Eriz ke sisi kanan lapangan, bergabung dengan kumpulan pemuda di sana. Azka mengenalkan Eriz pada mereka, saling menanyakan kabar beberapa menit lalu mencari tempat mengobrol berdua dengan Eriz.
Azka dan Eriz duduk di pinggir lapangan, tidak jauh dari kumpulan pemuda tadi. Eriz kelihatan senang. Kembang api terbang tinggi, mekar dilangit dan memperindah malam dengan warnanya adalah tontonan langka bagi Eriz yang jarang keluar rumah di malam hari. Jika Azka tidak bersuara, Eriz tidak akan ingat kalau cowok itu duduk di sampingnya.
“Keren, nggak?” tanya Azka, menatap Eriz, bukan kembang api yang dibahasnya sekarang.
Eriz mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Keren banget,” jawabnya lalu melebarkan mata dengan bahagia ketika satu kembang api meledak di langit dengan perpaduan warna yang indah. Ia bertepuk tangan menikmati pemandangan itu lalu menoleh. “Seru, ya Kak?”
Azka diam.
Senyum Eriz menjadi canggung. Aneh sekali cara Azka menatapnya. “Kenapa?” tanyanya karena tidak mau dibuat bingung lama-lama.
“Gue suka lihat senyum lu,” ucap Azka, tidak sadar bahwa kalimatnya telah merusak suasana.
Eriz berhenti tersenyum lalu memutar kepala ke depan dan menatap hampa. Bukan ia tidak senang dengan ucapan Azka, tapi ia tahu percuma mendengarnya dari mulut cowok itu.
“Dan gue nggak suka dengar itu dari mulut lu, Kak.”
“Kenapa?” Azka bersuara rendah, nyaris tidak terdengar.
Eriz mendengus. Malas memperpanjang topik yang dianggapnya memperburuk suasana. “Udah ah bahas itu,” pintanya.
“Kenapa? Kasih alasan dong, Riz.”
Melihat Azka keukeh melanjutkan percakapan itu, Eriz memberinya senyum mengerikan yang amat jelas kalau itu palsu. “Karena gue masih nggak terima keputusan lu ninggalin gue. Padahal yang maksa-maksa gue buat jadian itu elu.”
Azka berdecak. “Gue nggak sejahat itu. Gue nggak ninggalin elu, kok. Buktinya kita masih sama-sama sekarang. Yaaa, meski sebagai… kakak.”
“Terus saja mencari-cari pembelaan,” ucap Eriz sinis. “Sok mau jadi kakak gue. Jaga hati gue saja lu gagal.”
“Oh. Lu nyalahin gue sekarang?!” teriak Azka, terbawa emosi.
“Ya. Siapa lagi?!” Eriz berteriak lebih keras.
Salamat tinggal kembang api. Perdebatan mereka memanas, membuat pertunjukan yang berlangsung di depan mereka terabaikan.
BUWWAAR
Itu ledakan kembang api yang paling besar. Eriz dan Azka saling tatap dengan napas naik turun cepat.
“Kita nggak saling cinta, jadi buat apa bersama?” ucap Azka. Entah keceplosan atau sengaja. Sesudah mengatakan itu, ia segera berdesis panjang. Menyesal.
Cinta.
Eriz kemudian tertawa pelan, mengalihkan pandangan sambil bergumam, “Benar. Nggak ada perasaan seperti itu di antara kita.”
Tapi sekarang…
“Azka!” Bara memanggil dengan keras, keluar dari kumpulannya sambil melambai tinggi. “Ajak pacar lu ke sini untuk makan. Dean bawa makanan neraka.”
Bara lalu berlari pergi karena seorang cewek menghampirinya dengan muka marah. Cewek itu pasti yang bernama Dean.
“Mereka sahabatan sejak kecil, makanya berkelakuan kayak gitu.” Azka menjelaskan hubungan Bara dan Dean meski tidak diminta siapapun. Kemudian ia tertawa sendiri.
Pencahayaan mungkin kurang, tapi tanpa melihat wajah Azka dengan jelas, Eriz tahu cowok itu hanya memaksakan diri untuk tertawa.
 Eriz terdiam. Di pikirannya muncul beragam tanya. Kenapa Azka bersikap abai dengan anggapan Bara? Atau Azka memang sengaja membiarkan orang-orang beranggapan salah tentang mereka?
Setelah memikirkan kemungkinan itu, Eriz memandang Azka yang tetap meneruskan tawa palsunya. Interaksi kekanak-kanakan Bara dan Dean masih berlanjut walau keduanya sudah berhenti saling kejar.
“Lu mau ke sana?” tanya Azka, sedikit pun tidak menoleh. Takut apa yang disembunyikannya terbaca.
Eriz menahan napas sebentar lalu mendesah. “Gue sudah makan di rumah. Lu?”
Pertanyaan basa-basi yang cukup menolong. Azka menjawab riang, “Sama.” Tapi singkat.
“Sepertinya Bara telah salah paham tentang kita.”
Kalimat itu keluar dari mulut Eriz setelah dipikir matang-matang.
Azka menghentikan sandiwaranya dan kembali berwajah datar. Ekspresi seperti itu lebih sesuai dengan perasaannya.
“Kenapa kita nggak bikin salah paham itu jadi kebenaran?” Azka bertanya lalu menoleh pelan-pelan ke arah Eriz. Ia tidak main-main dengan pertanyaan itu. “Gimana menurut lu?
Eriz tidak bereaksi selain bungkam sambil menatap Azka lurus-lurus.
“Gimana?” ulang Azka.
“Apa lu sedang mengaku jatuh cinta sama gue?” tanya Eriz, tersenyum miring. Hei, pertanyaan apa itu?
Batinnya mengamuk.
Azka memutar matanya sambil berdehem berkali-kali. Lama ia mengulur waktu sebelum akhirnya berkata, “Tepatnya, gue butuh lu.”
Kita nggak saling cinta. Kenapa lu selalu lupa kalimat itu, Eriz? rutuk Eriz dalam hati.
“Ow, maaf. Gue lagi nggak minat jadi pahlawan kesiangan buat lu,” ucap Eriz kemudian.
“Sudah gue duga. Lu pasti lagi jatuh cinta sama seseorang.” Azka berdiri, sebelum melangkah, ia mengambil napas panjang dan mengembuskannya sekali hembusan. “Yuk, pulang.”
Eriz bangkit, mengikuti Azka dari belakang sambil meyakinkan dirinya bahwa ia tidak harus menyesal karena alasan yang dikemukakan cowok itu sangat berbeda dengan alasannya.
“Jujur, sebelumnya gue berpikir seperti tadi!” teriak Eriz. Azka berhenti dan menoleh.
“Kenapa kita nggak pacaran saja?” Eriz lalu mengambil jeda dan melanjutkan, “Sekarang gue tahu jawabannya. Karena kita punya alasan yang berbeda.”
Azka mengerutkan dahi. Masih diam di tempatnya.
“Lu mau kita balikan hanya karena lu butuh gue. Dengan kata lain, saat lu nggak butuh lagi, gue diputusin. Seperti dulu. ” Eriz menarik napas lalu menambahkan. “Alasan gue nggak sesederhana itu lagi, Kak. Gue nggak mau mengulangi kesalahan yang sama. Yang pada akhirnya akan berbalik menyakiti gue.”
Mata Azka membulat dalam sekejap. “Riz, gue…”
Eriz mengangkat tangan, tidak mau mendengar kalimat Azka lagi. “Diam....” pintanya dengan suara lemah. “Jangan menjelaskan apapun lagi. Gue capek berdebat.”
***
Eriz tidak berbicara dengan Azka sampai tiba di rumah. Bahkan saat cowok itu hendak pamit, ia langsung masuk. Bu Riza tertidur di depan teve menunggu Eriz pulang.
Melihat wajah mamanya yang tertidur pulas, Eriz berjongkok di dekatnya. Ia ingin membangunkan beliau tapi air matanya mendadak jatuh.
“Ma…”
“Ma….”
Bu Riza membuka mata, melihat Eriz dengan setengah kesadaran. “Kamu sudah pulang?” tanyanya lalu menutup mulutnya yang menguap lebar.
Eriz mengangguk-angguk. Air matanya mengalir deras di pipi.
Bu Riza terhenyak memandangi putrinya. “Loh, kenapa menangis?” tanyanya sambil berupaya duduk.
“Eriz…” Eriz sulit menyelesaikan kalimatnya karena terisak-isak. Matanya banjir air mata. Hidungnya memerah. Ia sangat kacau. “Eriz… Eriz kangen kakak.”
Napas Bu Risa tertahan sejenak. Tidak peduli apa yang dialami Eriz saat pergi dengan Azka, ia tahu putrinya melewati kehidupan yang berat.
Bu Riza membenamkan kepala Riza di dadanya sambil tangan yang satu menepuk halus punggungnya. Kata-kata tidak akan berefek pada Eriz, makanya ia hanya diam.
“Eriz kangen sama Kak Eroz, Ma.” Eriz berucap lalu mengubur tangisnya di dada sang mama. Hanya itu yang ia inginkan saat ini. Hanya itu yang bisa meringankan sesak di dadanya.
“Kak Eroz pasti kangen juga kan, Man?”
Bu Riza mengeratkan pelukan. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia berusaha sekuat mungkin untuk kelihatan tegar. “Ya.”
***
 “Sepenting apa masalah lu sampai gue dipaksa ke sini?”
Sekhan berdiri di dekat Ginov yang selonjoran di karpet bermain ponsel.“Demi sahabat kayak lu doang, gue rela ninggalin pertunjukan kembang api yang indah itu. Egh, gue sebal banget.”
Ginov terkekeh-kekeh sendiri memandangi gambar seseorang di ponselnya.
“Ginov!” teriak Sekhan karena tidak dihiraukan.
Dengan wajah dongkol, Ginov menoleh lalu menepuk tempat di sampingnya. Sekhan kemudian duduk setelah menghela napas.
“Sebenarnya gue bahas Eriz yang,—“
“Gue jauh-jauh ke sini cuma buat dengar curhatan lu tentang Eriz?!” potong Sekhan lalu berdiri. “Gue pamit, bye.”
“Sekhan.” Ginov cepat-cepat menarik ujung kemeja Sekhan sehingga mau tidak mau cowok itu menghentikan jalannya.
“Gue mau pulang. Bosan gue dengar cerita lu yang itu-itu terus.”
Ginov menurunkan tangannya. “Bibi, pisang gorengnya mana?!” panggilnya lantang.
“Oke, gue nggak jadi pulang.” Mata Sekhan melebar ke arah Ginov lalu buru-buru duduk kembali. Ia tidak akan menolak jika disogok dengan pisang goreng.
Kurang dari satu menit, Bibi Hana datang dengan mangkok besar berisi pisang goreng. Ginov segera mengambil alih mangkok itu sebelum Sekhan menghabisinya.
“Minumnya?” tanya Bibi Hana.
“Air comberan, satu ember,” jawab Ginov. Kepalanya langsung di toyor.
“Enak aja, adduhhh!” Sekhan meringis karena kepalanya ditoyor balik. Sambil mengusap bagian yang sakit, ia berkata, “Jus jeruk, Bi. Kalau ada.”
Bibi Hana tersenyum tipis lalu memberi usul, “Air putih saja, yaaa.”
Sekhan mendesah kecewa, tapi kemudian mengangguk pelan. “Yang penting airnya bersih.”
Selepas Bibi Hana pergi, Ginov meletakkan mangkok yang disembunyikannya ke depan Sekhan. Seperti dugaan, Sekhan sigap memakan pisang goreng itu.
“Ehm, jadi kenapa dengan Eriz?” tanya Sekhan di sela makannya.
“Gue nggak suka kalau dia berteman dengan Rifan. Benar-benar nggak suka sampai rasanya gue pengin nonjok Rifan.”
Sekhan mengangguk. “Lu nggak waras. Atas dasar apa lu nggak suka mereka berteman?” ucapnya lalu mengambil pisang lain dari mangkok.
“Karena Eriz itu mantan gue dan gue masih…”
Sekhan menyelesaikan kunyahannya lalu melanjutkan kalimat Ginov, “Lu masih butuh dia sebagai alat mendapat suara dalam pemilihan Ketua OSIS. Gue benar?”
Ginov memberi ancang-ancang memukul hingga Sekhan menjatuhkan pisangnya. “Bukan itu, kampret.”
Sekhan meringis, memungut lagi pisang yang jatuh tadi.
“Buang aja, sudah kotor.” Ginov mendorong mangkok agar lebih dekat ke Sekhan. “Masih banyak nih.”
Sekhan menggeleng. “Masih bisa dibersihkan. Lagian Cuma karpet,” ucapnya lalu mengusap-usap pisang goreng tadi lalu memakannya.
Bibi Hana masuk membawa nampan berisi dua gelas kosong dan teko the panas.
“Terima kasih, ya Bi,” ucap Ginov lalu menuangkan the ke gelas.
Sekhan mengamati Ginov. “Andai gue tahu lu bakalan berubah seperti ini, gue nggak akan ngasih lu saran untuk deketin Eriz.”
Ginov memandangi karpet di depan kakinya. “Ini bukan karena saran lu, Sekhann. Ini murni karena gue baru sadar… ternyata Eriz itu penting banget buat gue.”
“Bodoh kalau gue mau percaya ucapan lu.” Sekhan menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap ke arah lain.
Ginov tertawa keras. “Eriz penting karena dia bisa bikin gue menang di pemilihan nanti. Bukan karena yang lain-lain.”
“Nah. Kalau itu gue baru percaya. Emang dasar jahat lu ya. Baik sama orang pas ada maunya saja,” ucap Sekhan lalu menggaruk kepalanya. “Sebentar, Ginov. Lu beneran pernah pacaran sama diaaa?” tanyanya lalu memasang pertahanan dengan mengangkat tangan ke depan karena Ginov langsung mendelik tajam. “Sori nih. Walaupun lu bilang berkali-kali, gue masih sulit percaya kalian pernah pacaran sebab nggak ada buktinya.”
“Itu benar, Kak Sekhan.” Gina muncul di dekat pintu. 
Ginov langsung menyunggingkan senyum manis ke adiknya. “Nanti gue beliin permen,” janjinya.
“Basi. Janji permen dua tahun lalu belum diwujudkan,” ucap Gina sambil masuk ke dalam kamar dan berhenti di depan lemari.
“Eh, mau apa?” tanya Ginov.
Giliran Gina yang tersenyum manis. “Pinjam sweater baru Kakak.” Kemudian ia membuka lemari. “Hadiah karena ucapan gue pasti dipercaya Kak Sekhan. Iya kan, Kak Sekhan?”
“Hm, iya sih. Kalau Dek Gina, gue percaya,” jawab Sekhan meski dipelototi oleh Ginov.
“Wah. Memang bagus.” Gina langsung mencoba setelah menemukan sweater yang dicarinya. “Cocok,” gumamnya sambil manggut-manggut.
“Kebesaran, Dek,” ucap Ginov.
“Gue suka yang kebesaran kok.” Gina melangkah keluar kamar sementara Ginov hanya bisa meratap.
Sekhan berdecak-decak sambil meremas pisang di tangannya. “Apa ya kira-kira reaksi Eriz kalau gue kasih tahu tujuan lu ke dia?”
Seketika Ginov mendelik tajam. “Yang harus lu cari tahu itu, gue akan ngelakuin apa kalau lu sampai berani bocorin hal itu.”
Sekhan cengengesan. “Gue nggak mungkin mengkhianati elu. Lu tahu sendiri gue ini bagaimana,” akunya lalu membuat ekspresi imut yang menjijikkan di mata Ginov.
Ginov cuma menggeleng-geleng dengan sedikit tawa di bibir. Ia percaya dengan kesetiakawanan Sekhan.
“Hm, gue tadi lihat Eriz di lapangan bareng Kak Azka. Kayaknya dia suka banget dengan kembang api. Muka berseri-seri gitu saat nonton.” Sekhan menatap pisang yang ia remas-remas sejak tadi.
“Kak Azka? Bukan Rifan? Lu yakin nggak salah lihat?” cecar Ginov.
“Gue nggak pernah salah lihat. Pas ulangan saja, soal yang jawabannya gue contek sam lu, benar semua. Berarti mata gue memang bagus. Tapi yang gue heran, mereka kelihatan akrab banget. Duduknya saja dekat-dekat, kayak gini…” Sekhan pindah ke samping Ginov, meniru gaya duduk Eriz.”
Ginov bergeser, otaknya berpikir keras mencari penjelasan atas infomasi Eriz dan Azka yang pergi berdua. Sialnya, ia malah mendapat prasangka yang buruk.
“Jangan-jangan mereka…” Sekhan membelalak ke arah Ginov yang balas membelalak.
“Sepupuan?” lanjutnya dengan berbisik.
Ginov memejamkan mata sambil mengatur napas lalu menatap Sekhan dengan tatapan malas. “Sepupu pantat lu?” semburnya.

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Remember this story?

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

500 374 5
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

541 419 5
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

296 250 4
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

316 241 4
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

386 305 7
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 545 8