“Kita perjelas hubungan lu dengan Ginov.”
Eriz diam, tapi alis kirinya terangkat. Pulang dari kantin, ia menuju perpustakaan menemui Yerin. Namun, di depan perpustakaan, Azka mencegatnya dan meminta waktu beberapa menit untuk bicara.
“Gue nggak bisa anggap dia transparan saat elu juga masih peduli padanya.”
“Kapan gue peduli?” Eriz tidak terima tuduhan Azka yang menurutnya tidak punya bukti akurat. Mereka mengobrol di depan perpustakaan yang kebetulan lagi sepi. Namun, bukan berarti tidak ada orang. Seorang cewek diam-diam berdiri di dekat pintu, menguping pembicaraan mereka.
“Ngasih dia izin duduk bareng elu di kantin, itu apa namanya? Lu peduli. Lu nggak bisa ngusir dia karena lu peduli. Lu… peduli.” Azka mengulang-ulang ucapannya.
Eriz mengernyit bingung. “Terus… bagaimana dengan sikap lu terhadap Gina? Gue tahu lu sedang cari dukungan ke anggota Club Sesat yang lain demi cewek itu. Oh, atau lu ada rasa sama dia?”
Azka menoleh ke samping sambil mendengus. Kemudian ia menatap Eriz sambil bertanya, “Lu sakit?”
Pertanyaan tidak nyambung dari Azka membuat Eriz terdiam dengan ekspresi bingung.
Tiba-tiba Azka maju dan mendaratkan punggung tangannya ke jidat Eriz selama dua detik sebelum berkata, “Hm, sepertinya memang agak demam. Kita lanjutin pembicaraan ini entar malam. Gue ke rumah lu setengah tujuh.”
“Seenaknya buat janji,” gumam Eriz, menatap ke sembarang arah. “Memangnya lu siapa?”
“Saat gue ikut campur dalam urusan lu, gue selalu ingat siapa gue,” tegas Azka. “Dan siapa kita.” Azka langsung pergi usai mengatakan itu.
Eriz tersenyum hambar, menoleh ke samping dan terbelalak. Yerin muncul dari dalam perpustakaan. Cewek itu memandanginya dengan senyum yang tak kalah hambar.
Sambil memaksakan senyum yang tulus, Eriz menghampiri Yerin.
“Gimana dengan pendaftaran anggota baru di Club Renang?” tanyanya, berpura-pura tidak ada yang terjadi.
Yerin adalah wakil ketua di Club Renang. Peminat Club itu hanya sedikit tiap tahun.
“Oh. Itu. banyak yang daftar. Termasuk…”
Eriz mengangkat sebelah alisnya. “Hem?”
“Adik mantan lu.”
Ekspresi Eriz berubah kesal. “Dia harus ditolak.”
“Jangan egois, Riz. Gue nggak ada masalah sama dia, ngapain harus ditolak?”
Eriz mengedikkan bahu. “Gue cuma ngasih saran.” 
***
Puk
Ginov memegangi kepalanya sambil meringis. Pukulan dari mistar Pak Wanro berhasil mengalihkan perhatiannya dari Eriz. Berkah yang menyakitkan.
“Coba kamu kerjakan soal nomor dua di depan.” Pak Wanro memberi pYerintah dengan tenang.
Siswa lain bersungut-sungut melihat perlakuan wali kelas berumur empat puluhan itu. Coba salah satu dari mereka yang melamun selama proses belajar-mengajar, Pak Wanro tidak hanya memukulkan mistar kesayangannya tapi juga memberi siraman rohani yang menghabiskan separuh waktu mengajarnya.
Ginov itu siswa teladan.
Ginov itu kesayangan guru-guru.
Ginov itu punya masa depan cerah.
Seluruh siswa SMA Jaya menilainya serupa. Memikirkannya lama-lama berpotensi mendatangkan rasa iri. Belum lagi dengan kondisi keluGinovnya yang bisa dibilang sangat sejahterah. Ginov punya segalanya yang dia butuhkan.
Ginov membuang napas lalu mendorong kursi ke belakang. Siswa teladan selalu siap disuruh mengerjakan tugas di papan tulis. Kapan pun, bahkan walau suasana hatinya memburuk. Tidak perlu waktu lama hingga ia selesai mengerjakan soal yang dipYerintahkan.
Pak Wanro mengangguk puas. Siswa lain berdecak kagum mengikuti Ginov berjalan ke bangkunya. Ginov menyelesaikan soal tadi dengan dua cara dan hasilnya tetap sama. Pak Wanro sedikit bangga pada dirinya. Merasa upayanya mengajar Ginov semester ini tidak sia-sia.
Bel pulang mengudara. Pak Wanro menyuruh Sadya, ketua kelas mengumpulkan tugas temannya. Kemudian ia mendikte halaman dalam buku paket sebagai tugas rumah.
Ginov membereskan buku-bukunya ke dalam tas ransel biru yang sebentar lagi menyerupai warna abu-abu. Setahun dipakai tanpa jeda, wajar jika warna aslinya memudar. Jika bukan karena itu hadiah ulang tahun dari Eriz, mana mau ia memakai tas tua seperti itu.
Eriz, Eriz, Eriz.
Cewek itu hanya salah satu dari sekian mantan yang pernah ia putuskan. Yang berbeda mungkin hanya cara Ginov memperlakukannya dulu.
Dulu, Eriz yang mengerang kesal karena tidak kunjung diakui di depan umum. Keadaan berbalik, Ginov yang kini berkoar ke mana-mana agar yang lain tahu kalau mereka pernah bersama.
“Lu pulang sama siapa?”
Sadya berseru keras, menghentikan Ginov keluar kelas. Cowok itu menoleh dan tersenyum. “Sendiri. Kenapa?”
“Gu-gue boleh nebeng, nggak?” Sadya berupaya keras agar tetap ketus tapi gagal. Ketika Ginov tak kunjung menjawab, ia buru-buru menambahkan, “Hari ini saja. Sopir gue lagi sakit. Gue nggak biasa naik angkot.”
Senyum Ginov semakin lebar. “Boleh. Kecuali rumah lu dah pindah, gue angkat tangan,” ucapnya dengan nada bercanda.
Sadya terkekeh pelan. Rumah mereka satu arah. Keberuntungan yang harus Sadya syukuri karena hanya dengan acara nebeng, ia bisa dekat dengan Ginov.
***
Sadya menatap punggung Ginov yang berhenti mendadak sebelum mencapai parkiran. Helaan napasnya keluar perlahan saat menyadari bahwa penyebab Ginov berhenti adalah Eriz yang baru saja pergi dengan motor.
Kenapa harus Eriz? Gue di belakang lu, dekat dari lu, tapi kenapa selalu Eriz yang lu sediain tempat di hati lu?
Sadya benci kenyataan ini. Ia lebih dulu mengenal Ginov, lebih sering bertemu Ginov. Dan lebih cantik dari seorang Erizia.
Sampai detik ini, Sadya belum paham apa yang membuat Ginov begitu terobsesi memiliki Eriz sampai mengakuinya sebagai mantan segala.
“Sadya,” panggil Ginov. Sadya terperanjak. Lamunannya buyar.
“Jangan bengong di jalan. Nanti ditabrak setan,” lanjut Ginov lalu memaksakan senyum untuk Sadya.
“Bisa aja, lu. Mana ada setan siang-siang begini,” balas Sadya. Jika Ginov bisa menyembunyikan kesedihannya dengan senyuman, maka Sadya juga bisa berpura-pura tidak tahu.
“Nggak ada yang mustahil selama Tuhan berkehendak….”
Mata Sadya melebar mendengar ucapan lirih Ginov. Itu candaan atau bukan?
Namun, detik berikutnya ia sadar, Ginov serius ketika mengatakan kalimat tadi. Sebab, ada hal lain yang Ginov singgung dalam kalimat itu. Eriz.
Ia percaya nggak ada yang mustahil, termasuk mendapatkan Eriz. Sadya berpikir demikian. Mendadak ia merasa sesak. Eriz tidak lagi di sekitarnya, tapi cewek itu tetap bisa membuatnya iri.
“Ya.” Akhirnya Sadya mengiyakan ucapan Ginov. Bukankah hal itu juga berlaku untuknya?
Sebesar apapun cinta Ginov untuk Eriz, tidak mustahil baginya mendapatkan Ginov. Hati berubah seiring waktu. Sadya yakin Ginov akan menyadari siapa cinta sejatinya. Dan itu bukan Eriz, tapi dirinya.
Ginov kembali melangkah. “Pak Doram sakit apa?”
Pak Doram adalah sopir pribadi Sadya. Semasa SD, Ginov sYering nebeng ke sekolah di mobil Sadya, jadi ia kenal baik dengan bapak setengah abad itu.
“Demam,” jawab Sadya lalu menggigit bibirnya. Pak Doram tidak sakit, tapi Sadya sengaja memintanya tidak dijemput.
“Hm. Pasti parah karena sampai nggak bisa jemput lu,” tebak Ginov.
“Begitulah.” Sadya tersenyum masam. Maafin saya, Pak Doram.
***
“Kak.”
Ginov membenamkan wajahnya ke seprei dan menutup telinganya dengan bantal. Sepulang sekolah, ia berencana tidur siang agak lama, tapi adik kesayangannya merusak itu dengan rengekan menyebalkan.
“Kak Ginov!” Gina menarik bantal yang menempeli telinga Ginov.
Ketika bantal itu berhasil direbut, Ginov terduduk dan mengacak frustrasi rambutnya. Gina ikut duduk di dekatnya sambil memangku bantal tadi.
“Apa gunanya punya kakak kalau nggak bisa bantu adik sendiri?”
“Gue nggak berharap jadi kakak lu, Ginaaa.” Ginov berdiri, membuka pintu dan keluar menyalakan teve. “Gue sudah coba bicara sama Eriz, sampai gue lupa yang namanya malu. Gue bahkan nahan amarah saat dia nyiram gue dengan kuah bakso. Itu semua demi elu, adik gue yang tersayang. Tapi dianya memang keras kepala. Lu nyerah aja masuk Club Sesat. Gue juga punya urusan lain yang harus diselesaikan, jadi berhenti merengek kayak anak ingusan.”
Gina datang mencabut colokan teve saat Ginov berbalik. Cowok itu melempar bantal dan menyisakan satu untuk menemaninya duduk di sofa. Ia siap menonton acara kesukaannya, kartun yang diputar ulang tiap tahun. Meski berulang, Ginov tak pernah bosan menontonnya.
Ginov  melirik kiri-kanan, remote teve hilang lagi. Ia beranjak ke meja yang dipenuhi tumpukan buku.
“Ya udah, Gina pindah sekolah saja. Ikut Papa ke Kendari,” cetus Gina, menghentikan kegiatan Ginov memisahkan buku satu dan buku lain dari atas meja. Remote teve yang ia cari terselip di buku pedoman bahasa inggrisnya.
“Kenapa nggak cari klub lain sih?” tanya Ginov lalu mengambil remote dan mengarahkannya ke teve. Loh, kok hitam? Ginov bingung.
Menyadari kebingungan Ginov yang terus-terusan memencet remote, Gina merebut remote itu. “Gina sudah matiin tevenya, Kak.”
“Oh, pantesan,” gumam Ginov lalu berjalan ke arah teve. Ia melongok ke belakang dan menyambung colokan teve lagi. Kemudian, ia kembali ke sofa, duduk tenang di sana sambil menunggu iklan berakhir.
“Kak,” Gina mendekat. Ginov bergeser sedikit.
“Coba deh, lu temuin kepala sekolah, minta supaya negur Eriz.” Ginov memberi solusi lain.
“Sudah, Kak. Gina bahkan sampai berakting segala di depannya, tapi tetap saja, jawabannya mengecewakan.”
“Akting lu payah kali,” canda Ginov.
“Kakak ihhh. Gina serius nih.” Gina cemberut. 
Ginov yang mau tak mau melihat itu, mendesah pelan lalu mengacak rambutnya hingga jabrik. “Gue lebih ridho disuruh jadi badut di sekolah daripada ngerayu Eriz supaya mau nerima elu jadi anggota karatenya.”
“Kak Ginov,” panggil Gina lirih. Kontras sekali dengan ekspresinya yang memilukan. 
Sayang, upayanya tidak berhasil menarik simpati Ginov. Cowok itu bangkit dan masuk kembali ke dalam kamar. 
“KAKKK,” teriak Gina.
Ginov tidak menyahut dan malah membanting pintu. Ia butuh tidur siang sekarang.
***
“TIDAKKK”
Ginov sontak berdiri sambil meraba dadanya. Teriakan Ginov bukan main kerasnya. Ia mengambil jarak dari ranjang karena takut dugaannya benar, Ginov kerasukan setan sore.
Ginov bernapas cepat, dadanya naik turun tanpa henti. Setelah satu tahun lebih tidak mengalaminya, Ginov kembali bermimpi buruk. Pasti ini gara-gara Gina yang terus membahas Eriz, jadi terbawa ke mimpi.
“Lu baik-baik aja?” tanya Azka. Ia dalam keadaan siap kabur kapan saja. Posisinya memunggungi pintu. Kalau Ginov berteriak lagi, ia bisa langsung tancap gas keluar.
Ginov bangun dan duduk di tepi ranjang. “Ngapain lu di kamar gue?” Ia mengalihkan pembicaraan.
“Lupa lagi?” Sekhan menggeleng iba. Mungkin sahabatnya yang terhormat itu perlu diperiksakan ke dokter. Masih muda, tapi sudah pikun. “Kita kan mau latihan sepak bola. Jangan bilang kalau gue nggak pernah ngasih tahu elu!”
Ginov menggaruk kepalanya. “Memangnya kapan lu ngasih tahu gue?”
Fix. Ginov memang pikun. Sekhan berwajah dongkol. “Jadi, waktu gue ngomong di kantin, telinga lu nggak berfungsi?”
“Oh iya. Sori, lupa.” Ginov berdiri, menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.
“Oh iya. Sori, lupa.” Sekhan menirukan gaya bicara Ginov dengan ekspresi menjijikkan. “Sok cool banget sih, lu!” teriaknya kemudian.
Setelah ganti baju dengan pakaian kebanggaan klub sepak bola SMA Jaya, Ginov dibonceng Sekhan menuju lapangan. Pemain lain sudah menunggu di sana. Ginov diam-diam kagum dengan semangat mereka. Walau tidak pernah menang, mereka tetap rajin latihan.
Permainan berlangsung dua jam, dilanjut istirahat setengah jam. Ginov yang selonjoran di dekat Sekhan, tiba-tiba melotot ke salah satu pemain cadangan yang bersenda gurau dengan teman-temannya. Namanya Godar.
Kebetulan banget, pikirnya.
“Fin.” Ginov menyengggol Sekhan sambil matanya terus mengarah pada Godar.
“Hm, kenapa?” Sekhan sibuk mengusap keringat di pelipisnya sambil tangan yang satu mengecek pesan masuk di ponsel.
“Gokar itu anggota klub karate, kan?”
“Gokar?” Sekhan terbahak lalu mengoreksi. “Godar maksud lu?”
“Iya, Godar. Dia anggota Club Sesat kayak Eriz, kan?
Pertanyaan itu membuat Sekhan menoleh dengan kening keriting. Ia tidak menjawab, dan hanya diam menatap Ginov.
Ginov menoleh dan refleks mundur setelah melihat ekspresi Sekhan terhadapnya. “Ke-kenapa lu?”
Sekhan menggeleng lalu menatap ke depan. “Lu segitu sukanya sama Eriz?”
Ginov bengong sesaat lalu bertanya, “lu ngomong apa sih, Fin? Gue nggak ngerti. Siapa juga yang suka sama Eriz.”
“Maaf kalau perkiraan gue salah.”
Ginov Cuma menggeleng dengan kata-kata Sekhan yang menurutnya aneh. “Gue ke sana dulu, ya Fin,” ucapnya saat berdiri. 
“Sukses, ya Ginov.” Sekhan memberi selamat karena mengira Ginov hendak pendekatan dengan Eriz lewat Godar.
Ginov menganggap ucapan Sekhan angin lalu, ia terfokus pada tujuannya. Sampai di depan Godar, ia langsung ke inti percakapan, “Dar, lu satu klub dengan Eriz, kan?”
Alhasil, pemain di sekitarnya menoleh. Godar sendiri menatap heran ke arah Ginov yang berdiri dengan gestur percaya diri di depannya.
“I-iya,” jawab Godar dengan nada ragu-ragu.
“Gue boleh minta tolong, nggak Dar?” Ginov bertanya sambil cengengesan.
Pemain lain semakin tertarik menyimak.
“Tolong apa dulu nih?” Godar tidak tahu pasti apa di pikiran Ginov, tapi mendengar cowok itu bertanya tentang Eriz, pastilah sesuatu yang ia inginkan sulit dilakukan.
“Adik gue mau masuk Club Sesat, tapi Eriz ngelarang terus. Lu bisa nggak, bujuk Eriz supaya nerima adik gue?”
Pemain lain langsung mengembuskan napas. Kesal karena prasangka mereka terbukti salah. Sementara itu, Godar tersenyum hambar sembari menatap rumput lapangan.
“Bukannya lu teman SMPnya? Mending lu yang ngomong langsung ke dia,” saran Godar.
Ginov menanggapinya dengan senyum kecut. “Kalau gue bisa ngomong langsung ke dia dan ditanggapi dengan baik, gue nggak mungkin minta bantuan lu.”
“Gue bukannya nggak mau, tapi…” Godar mendongak dan memperlihatkan wajah putus asanya pada Ginov. “Eriz sering ngancam berhenti dari Club Sesat kalau keputusannya nggak disetujui. Soal adik lu, sebenarnya Kak Azka sudah minta Eriz menerimanya, tapi tetap ditolak.”
“Masa’ sih?” Ginov tampak terkejut. Jika Eriz semudah itu mengancam mau mundur, ia terlihat tidak peduli kehilangan jabatannya dari Club Sesat. “Terus, kenapa kalian nggak biarin dia mundur?”
Godar langsung terbahak-bahak. Perkataan Ginov seperti lelucon. “Ya nggak mungkin dibiarin gitu aja. Eriz itu…” Godar mulai menerawang sambil senyam-senyum. “Apa ya? Emmm, pokoknya istimewa.”
“Istimewa bagaimana maksud lu?” Ginov jadi dongkol dengan kalimat Godar.
“Dia…” Godar membentuk tanda hati dengan kedua tangannya. “Sama seseorang yang juga istimewa.”
“Dari tadi lu cuma bahas istimewa. Sumpah, nggak ngerti gue.” Ginov bangkit sebelum menempeleng Godar karena memberinya penjelasan setengah-setengah.

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 11
Anne

Anne's Tansy

By murphy

655 408 9
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

5K+ 1K+ 9
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 701 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 816 14
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

373 282 6