“Ngapain sih lu daftar jadi pengurus OSIS? Rapatnya sering ngambil jam pelajaran. Lu mau ketinggalan materi?”

“Ini namanya belajar sejak dini, Riz. Nanti, gue mau nyalonin diri jadi Ketos, jadi kudu tahu semua hal yang dilakukan pengurus OSIS. Gue mau buktiin ke papa kalau gue juga bisa jadi pemimpin kayak dia. Itu satu-satunya janji yang pernah gue buat ke papa dan enggak terwujud saat SMP. Sekarang, papa memang udah nggak ada, tapi gue tetap mau mewujudkan itu.”

“Walau pun gue nggak terlalu berminat sama organisasi sekolah, gue bakalan jadi pendukung nomor satu lu nantinya.”

Begitu lamunannya berakhir, Eriz mengembuskan napas. Ia menunduk dan membaca pesan yang masuk sepuluh menit lalu.

Ginov :

Gue minta maaf. Lu tahu gue bukan cowok yang mudah mengalah. Tapi Elu… berhasil bikin gue kayak gini. Hanya karena masa lalu, lu mau ngancurin mimpi gue jadi Ketos?

Eriz terpaku cukup lama. Pesan itu masuk Black List dan Eriz merasa ada dorongan yang menyuruhnya untuk membuka gudang hitam itu. Alhasil, ia menemukan sebaris kalimat Ginov yang tidak mengherankan lagi akan muncul hari ini.

Seperti pesan-pesan sebelumnya dari Ginov, Eriz menghapusnya setelah dibaca. Namun, kata-kata yang tertulis dalam pesan itu cukup mempengaruhinya.

“Hanya?” Eriz terbahak sedetik. Masa lalu yang dianggap Ginov sepele adalah persoalan besar buat Eriz. Yang dialaminya bukan satu kejadian saja, tapi dua kejadian di waktu yang hampir bersamaan. Perceraian dan pengkhianatan. Ayahnya berselingkuh dan pacarnya mengaku jatuh hati pada cewek lain.

Emosi Eriz membuncah seiring dengan lamanya ia memikirkan kata hanya tadi. Dibukanya kembali nomor yang masuk dalam Black List ponselnya. Kebetulan, pesan Ginov yang lain baru saja masuk.

Ginov :

Gue benar-benar minta maaf.

Pesan Ginov ditanggapi Eriz dengan helaan napas. Lu nggak berhak nyuruh gue berhenti, batinnya. Ia kemudian mengetik pesan balasan setelah menimbang-nimbang.

Eriz :

Basi.

Begitu pesannya terkirim, Eriz segera menonaktifkan ponselnya.

***

Paginya, Eriz dikejutkan oleh kedatangan Ginov. Cowok itu pantang menyerah rupanya. 

Dengan kening berkerut, Eriz menatap dua kaki di depannya. Kaki yang kanan memakai sandal jepit sedangkan kaki kiri terbungkus sepatu sekolah seperti yang sedang dipakainya sekarang. Eriz pikir cowok dengan senyum menyebalkan itu tidak berani lagi ke rumahnya setelah kejadian kemarin.

Dengan terburu-buru, Eriz mengikat tali sepatunya lalu berdiri, menghadap cowok yang kini menatapnya dengan cengiran lebar.

“Ngapain lu di sini?” tanya Eriz. Dari raut wajahnya yang datar, bisa dipastikan bahwa cewek itu tidak senang dengan kedatangan Ginov pagi ini.

Sebenarnya bukan cuma pagi ini, tapi setiap kali Ginov muncul di sekitarnya, Eriz seperti kehilangan semangat. Seolah hari cerahnya mendadak mendung dan suasana hatinya memburuk. Ginov alias ReGinov bisa dibilang sederajat dengan kuman di mata Eriz. Prestasinya, kharismanya, atau ketampanannya, tidak ada apa-apanya bagi Eriz. Ginov hanya kuman. Kuman!!

Ginov menunjuk kaki kanannya yang memakai sandal jepit. “Ketusuk paku,” ucapnya lalu mendesah.

Eriz tidak beraksi. Hanya diam memandangi Ginov tanpa minat. Bisakah cowok itu ditelan bumi detik ini juga? batinnya.

Ginov menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan tenang. Kemudian ia melepas sendalnya dan mengangkat kaki, berniat memperlihatkan sesuatu. Susah payah ia mencari posisi yang tepat agar Eriz bisa melihat telapak kakinya. Berkali-kali juga ia goyah dan hampir jatuh.

Eriz membuang muka sambil berdesis sinis. “Turunin!” ucapnya tegas.

Lagipula bukan itu masalahnya. Ginov tertusuk paku atau berpura-pura tertusuk, Eriz sama sekali tidak peduli. Hal lain yang menyertai itulah yang ia khawatirkan.

“Gue nebeng ke sekolah ya, Riz?”

Mendengar permohonan itu, Eriz kembali menatap Ginov. Cowok itu mencoba memanfaatkan keadaannya lagi. Seperti minggu lalu, dua minggu lalu dan minggu-minggu setelah otaknya bermasalah. Ya, Eriz yakin otak Ginov bermasalah karena sebelumnya ia tidak bersikap semenyebalkan ini.

Dulu, setelah mereka bubar, bahkan melirik Eriz, Ginov tidak sudi.

Dulu, ketika Eriz belum seperti sekarang, Ginov menganggapnya transparan. Mantan yang tidak lagi dibutuhkan karena sudah ada cewek lain, yaitu Jean.

“Lu jauh-jauh ke sini cuma pengin nebeng ke sekolah?” Eriz meraih tasnya di tangga teras rumah. Lalu ia berjalan melewati Ginov karena tahu cowok itu pasti mengikutinya.

“Sekalian gue mau nyapa bunga-bunga di halaman rumah lu. Nggak kerasa, sudah lama gue nggak lihat mereka semenjak ….”

Kalimat Ginov terhenti lantaran Eriz berbalik dan menyerangnya dengan tatapan membunuh. Ginov cengengesan lalu berkata lirih, “Maaf.”

Eriz tidak ingin siapapun mengungkit kejadian itu. Baginya, yang berlalu biarlah tetap di belakang. Sedikit pun, ia tidak pernah punya niat mengenang masa lalu. Terutama masa lalu yang berkaitan dengan Ginov.

Eriz berbalik, menambah cepat jalannya. Ketika sampai di dekat motor maticnya, ia menyambar salah satu helm yang tergantung di kaca spion kiri. Helm itu bukan miliknya. Eriz menoleh pada Ginov dan melemparkan helm tadi.

“Jahat banget sih lu, Riz.” Ginov berhasil menangkap helmnya, tapi perutnya sempat jadi area pendaratan lemparan tadi. Ia mengelus perut sambil cemberut. “Nggak baik loh lempar-lempar barang.”

Eriz mengabaikan Ginov dan segera naik ke atas motor. Memakai helm dan melajukan motor dengan kecepatan sedang.

Sebelum mencapai belokan, Eriz melirik spion. Ginov masih berdiri di tepi jalan memegang helm dan melihatnya dengan wajah sedih. Hal itu membuat Eriz meradang. Ia kembali fokus ke jalan raya dan memutar setir ke kiri setelah menyalakan lampu sein.

Tidak ada kesempatan kedua untuk orang yang telah menyia-nyiakannya. Eriz sudah bahagia tanpa Ginov.

***

“Pasti karena Eriz,” 

Sekhan menggeleng tak percaya melihat Ginov, siswa teladan yang harusnya jadi panutan siswa lain, malah muncul dengan tampilan aneh.

“Pagi, Sekhan.”

Ginov menjatuhkan dirinya di samping Sekhan dan mulai mengecek ponsel sambil meletakkan tas ke atas meja. Rutinitas itu tak pernah ia lewatkan karena perkembangan informasi di dunia maya bergerak sangat cepat. Salah satunya informasi mengenai Erizia Sagita, cewek yang akhir-akhir ini diisukan dekat dengan Ginov.

Ginov tampak menikmati pencariannya. Stalking satu persatu postingan Eriz dan siapa saja yang memberi komentar. Jika cewek, Ginov akan langsung melewatkannya, tapi jika cowok, ia pasti menelusuri akun orang itu hingga ke akar-akarnya. Sampai ia yakin bahwa cowok itu tidak punya hubungan lebih dengan Erizia.

“Sekhan, Sekhan,” panggil Ginov sementara matanya tak lepas dari layar. Satu komentar menarik seluruh perhatiannya.

“Dooo,” ulang Ginov tidak sabaran.

Sekhan berdehem seadanya. Malas menanggapi Ginov jika cowok itu sudah sibuk dengan penyelidikan ilegalnya terhadap Eriz.

Lama menunggu, Ginov menoleh dan tanpa izin langsung merangkulnya. “Lu kenal siapa orang ini?”

Sekhan mengerjap-ngerjap dengan tampang bosan lalu mencoba memperhatikan foto yang diperbesar Ginov.

“Namanya Feri. Senior dari kelas IPS.”

Ginov melepas rangkulannya dan berdecak. “Berani banget dia ngelike setiap status yang dibuat Eriz.”

Sekhan yang tadinya ingin terus mengabaikan kesibukan Ginov, terpaksa melibatkan diri. Dipandanginya Ginov dengan ekspresi horor.

Sadar ditatap sedemikian rupa, Ginov akhirnya menoleh. “Apa?”

“Ginov Razkan. Eriz itu bukan milik pribadi lu. Siapa pun berhak ngasih like ke statusnya. Heran gue kenapa lu segitu terganggunya dengan hal itu.”

“Eriz memang bukan milik pribadi gue, tapi dia mantan gue. Makanya gue nggak rela kalau ada yang nyari muka sama dia.”

“Terus kenapa kalau dia mantan lu? Lu jadi penting buat dia gitu?” ucap Sekhan setengah jengkel.

Ginov menarik napas cepat-cepat. Belum sempat ia bicara, Sekhan melanjutkan, “Lu nggak berhak ikut campur dengan kehidupan dunia mayanya.”

Mata Ginov menyipit. “Jangan-jangan lu juga naksir sama Eriz, ya?” tuduhnya.

Sekhan langsung melongo. Otak sahabatnya sudah tercemar. Obsesinya memiliki Eriz melewati batas kewajaran. Dengan ketabahan teruji, Sekhan memegang pundak Ginov sambil memasang wajah iba. “Istigfar, Van. Nggak baik maksain kehendak. Lu itu cakep, banyak yang naksir. Jangan isi kepala lu dengan Eriz doang.”

Ginov menepis tangan Sekhan lalu membuang tubuhnya ke sandaran kursi. Eriz adalah berlian yang dulu dikiranya pecahan kaca.

Ginov bertekad mendapatkan berlian itu kembali sebelum orang lain menyadari kilaunya. Kilau yang harusnya mengantarkan dia jadi Ketua OSIS.

“Gue harus dapat Eriz,” gumam Ginov. Dialah pemegang suara terbanyak itu. Ginov butuh suara-suara itu.

***

Sekhan mendesah keras melihat Ginov jelalatan setiba di kantin. Sampai akhirnya ia lelah diabaikan, kotak tisu ia pukulkan ke kepala cowok itu.

“Nah, bidadari gue sudah datang,” gumam Ginov, mengabaikan sakit di kepalanya. Ia berdiri merapikan baju lalu beranjak dari sana.

“Harusnya gue pakai gelas mukul kepalanya tadi,” sesal Sekhan. Sahabatnya lagi-lagi terpengaruh dengan kehadiran Eriz. Tapi lihat saja, Ginov hanya akan berakhir sama dengan kemarin. Diketusin oleh Eriz.

Sembari menunggu sahabatnya kembali, Sekhan pergi memesan makanan. Ia lagi malas berteriak seperti biasanya karena di antara puluhan siswa, suaranya bak detak jantung. Tak mungkin kedengaran oleh pemilik kantin.

Di sisi kiri kantin, Eriz buru-buru menghabiskan baksonya setelah melihat Ginov sedang mendekat. Saat cowok itu semakin dekat, Eriz lantas berdiri membawa mangkoknya, melupakan ritual terakhir saat makan.

“Minum dulu, Riz. Entar keselek loh. Jarak rumah sakit dari sekolah lumayan jauh.” Ginov sengaja menempatkan dirinya tepat di depan Eriz dan jalan keluar cewek itu langsung terhalangi total.

Eriz memutar badan. Masih ada jalan keluar, yaitu di ujung kursi yang satunya. Ginov segera mendorong meja dan kursi panjang yang ditempati Eriz tadi hingga membentur dinding. Jalan keluar kedua sukses ditutup.

Belum menyerah, Eriz berbalik dan menabrakkan mangkoknya ke badan Ginov. Kuah bakso-yang untungnya tinggal sedikit, tumpah seluruhnya.

Shock, Ginov membelalak ke seragamnya sementara kedua tangan telah terangkat entah mau apa.

Eriz meletakkan mangkok ke meja dan meraih tisu. Ginov yang siap menerima tisu itu rupanya harus menelan kecewa. Eriz mengambil tisu untuk membersihkan tangannya yang kena cipratan kuah.

Ginov menurunkan tangan ke sisi tubuh. Sabar. Tidak ada yang lebih mulia dari orang yang sabar dan bersyukur. Ginov bersyukur dikasih kesempatan oleh Tuhan memperbaiki hubungannya dengan Eriz, jadi ia sepatutnya bersabar dengan apapun yang diperbuat Eriz.

Ginov menarik napas dalam-dalam. Ingat, Ginov. Ini demi impian lu jadi Ketua OSIS.

“Gue nggak marah,” ucapnya.

Eriz menatap Ginov dengan tatapan horor. Memangnya gue peduli?

“Iya, gue nggak mungkin marah karena gue tahu lu nggak sengaja. Ya, kan?” Ginov tersenyum.

Eriz memaksakan senyum di bibirnya. “Makasih karena nggak marah.”

“Makasih juga karena mau tersenyum ke gue, Riz.” Ginov menatap fokus ke mata Eriz. “Gue rindu senyum lu.”

Mendengar itu, secara alami senyum Eriz memudar. “Kebanyakan orang memang sering rindu pada sesuatu yang telah dirusaknya.”

Ekspresi Ginov berubah dalam sedetik. Kini, ia menatap nanar ke mangkok di atas meja. Yang ingin dilakukannya sekarang setelah mendengar kalimat itu adalah menghilang. Tiba-tiba saja ia ingin sendiri, merenung lebih lama, mencari seberapa banyak ia melukai perasaan Eriz.

Namun, sebelum berpikir lebih jauh, ia kembali disadarkan dengan tujuan utamanya. Yang dilakukannya sekarang hanya untuk menang pemilihan. Buat apa mencaritahu kesalahannya pada cewek itu, jika ini adalah akting semata.

Eriz duduk. “Lu mau ngomong apa?”

Pertanyaan itu menyadarkan Ginov. Ia mengerjap tapi tak berkata apa-apa.

“Lu mau ngomong apa?” ulang Eriz. “Atau lu nyamperin gue cuma karena iseng?”

“Gue nggak pernah iseng kalau menyangkut elu.” Ginov langsung duduk.

“Oh ya?” Dengan malas, Eriz menopang dagu. Sengaja ia menunduk untuk menghindari tatapan Ginov. Tatapan itu pernah menipunya, membuatnya percaya lebih dulu sebelum dicampakkan. Eriz mengingat lukanya dengan baik.

Semakin sering ia melihat wajah Ginov, lukanya seolah disiram cuka.

“Adik gue mau gabung ke club sepeda. Katanya lu nolak dia tanpa alasan yang jelas.” Ginov berkata sehalus mungkin. “Gini, Riz. Persoalan pribadi harusnya nggak dicampur ke urusan club.”

“Memang enggak.”

“Yaaa kalau gitu bisa dong adik gue diterima.”

“Lu ngomong ini ke gue bisa dianggap nepotisme, Van. Sebagai ketua club sepeda, gue nggak setuju cara lu. Gina ditolak karena nggak memenuhi kriteria yang dibutuhkan. Jadi nggak ada yang namanya campur-campur urusan pribadi dan club.”

Ginov menelan ludah. “Kriteria apa sih yang nggak dia penuhi? Perasaan adik gue itu sudah termasuk atlet sepeda yang patut dilirik.”

Bukan asal bicara, piala Gina dalam lomba sepeda ketika SMP yang berjejer di rumah adalah buktinya.

Eriz tersenyum miring. “Latar belakang yang buruk.”

Alis kanan Ginov menukik cepat. “Setahuku Gina siswi yang baik di sekolah.”

“Latar belakang keluarga, Van. Dia adik dari cowok yang nyakitin gue.” Eriz berdiri, naik ke atas kursi, berpindah ke atas meja lalu melompat turun. Jalan keluar ketiga terdeteksi. Kantin tambah heboh dengan aksi itu.

Ginov mengepal kuat sambil menahan geraman. Rasa bersalah yang berulangkali ia tepis, membuat ia ingin marah saat ini. Kenapa? Kenapa dulu ia tidak berpikir dengan matang sebelum mengambil keputusan memutuskan Eriz?

Kenapa, Ginov???

“Ginov!”

Ginov berdecak sebelum memutar kepala ke orang yang memanggilnya. “Apaaa?!” jawabnya lebih keras. Sendok siswi yang duduk di depan mejanya jatuh karena kaget.

Ginov menoleh ke siswi itu dengan wajah datar. Siswi tadi menunduk dalam-dalam. Ginov mendesah lalu kembali mengalihkan pandangan ke Sekhan. “Apa?” tanyanya lagi tapi dengan pelan.

“Susu cokelat!” seru Sekhan. Kebetulan Ginov lebih dekat dari minuman kesukaannya itu. “Tolong ambilin dong.”

Orang lagi kesal malah disuruh-suruh. Ginov memutar kepala ke arah Sekhan dengan muka garang. “Ambil sendiri!”

Sambil berdecak Sekhan memandangi Ginov dengan ekspresi kasihan. “Ginov, cepat ambil susunya dan balik ke sini. Sebelum gue bilang yang sebenarnya ke bidadari lu yang pergi itu.”

“Ergh!” Ginov bangkit  lalu berjalan ke arah kulkas, mengambil susu cokelat kotak dan botol minuman rasa jeruk. Setelah itu, ia menghampiri Sekhan. “Minum susu lu sampai habis biar nggak kayak anak kecil yang beraninya ngancam doang.”

Sekhan tertawa sejenak lalu berkata, “Oh lu mau gue ngasih bukti?” Ia berdiri dan menunjuk jalan keluar. “Gue kejar Eriz nih.”

“Sekhan.” Ginov bersuara rendah. Mungkin ia salah menilai Sekhan sebagai sahabat padahal musuh. “Kalau lu nggak mau berhenti bikin kepala gue sakit, gue keluar dari Club Sepak Bola.”

Sekhan nyengir, duduk dengan tenang kemudian menepuk lengan Ginov. “Heeei. Siapa lah gue tanpa lu. Club sepak bola akan ditutup kalau lu keluar.”

“Gue juga belum tentu bikin kalian menang di pertandingan nanti.” Ginov merasa tidak dibutuhkan karena kemampuannya memainkan bola kaki biasa-biasa saja. Ada atau tidak dirinya dalam Club Sekhan, hasilnya sama. Kalah.

Sekhan menggeleng mantap. “Ini bukan tentang hasil. Kalah atau menang nggak jadi masalah. Lu adalah tameng. Kepala Sekolah nggak mungkin memberhentikan Club yang dimasuki oleh siswa kesayangannya.”

Ginov berdesis ke arah Sekhan. Ternyata itu rencana aslinya? Sulit dipercaya.

“Anak-anak mau latihan entar sore. Lu jangan banyak alasan supaya nggak datang kayak minggu lalu,” ucap Sekhan sambil mengambil kotak susu cokelat yang disodorkan Ginov dan mengecek tanggal kadaluarsanya.

Ginov mengangguk seadanya. Perhatiannya tertuju pada Rifan yang duduk di kursi yang Eriz tempati sebelumnya.

Sekhan memisahkan sedotan dari kotak susu cokelatnya lalu menusukkan ke tempat yang sudah diberi tanda. Sebelum meminumnya, ia kembali menatap Ginov yang terus mengocok botol minumannya.

Tindakan Ginov sudah sesuai aturan yang tercantum di bungkusan botol itu, hanya saja, ia melakukannya terlalu lama. 

“Ginov,” panggil Sekhan.

Ginov meletakkan botol minumannya ke atas meja dan menatap nanar ke depan.

Melihat itu, Sekhan berdecak. Ia sudah sering mendapati Sekhan mendadak tuli kalau memikirkan mantan terindahnya. Ginov sulit disadarkan dengan cara biasa.

Tak.

“Aw!”

Ginov segera menyentuh dahinya yang dijitak barusan. “Apaan sih, lu. Ganggu aja. Nggak bisa apa lu lihat gue senang dikit?”

Dilihat berkali-kalipun, Sekhan tidak percaya kalau tadi itu, sahabatnya sedang senang. “Gue lihatnya lu kayak orang putus asa.”

Ginov tidak menanggapi, malah mengembuskan napas jengkel.

“Ngapain ingat-ingat masa lalu. Udah lewaaat juga.” Sekhan terkekeh lalu melambai pada temannya di meja lain. “Gabung sini, woe!” teriaknya.

Ginov terdiam lama. Lalu terasa tenggorokannya kering. Ia pun mengambil kotak susu cokelat di atas meja dan meminumnya.

“Ginov!”

Teriakan Sekhan sedikit menyita perhatian. Cowok itu segera menoleh dengan sedotan masih di mulutnya.

“Itu susu cok,−” Sekhan tidak menyelesaikan kalimatnya. Sedotan di mulut Ginov terjatuh.

Selanjutnya, Sekhan hanya bisa menutup mata karena ia sudah disembur dengan sisa susu di mulut Ginov yang belum sempat tertelan.

“Uhhhh.” Sekhan belum membuka mata, ia berusaha mengatur napasnya setenang mungkin. Terdengar bunyi-bunyi aneh. Mungkin Ginov sedang berusaha menyelamatkan diri sekarang dengan berlari secepat yang ia bisa ke UKS.

Tiba-tiba Sekhan merasakan ada tangan menekan tisu di wajahnya. Pemilik tangan itu terkekeh pelan.

“Biar gue yang gantiin Ginov. Gue ikhlas kok.”

Suara itu terdengar feminim, sangat familier dan … berbahaya. Sekhan membuka mata dan langsung membelalak. Rikno duduk di hadapannya sambil membersihkan wajahnya dengan hati-hati, seolah wajah Sekhan adalah guci rapuh yang harus dijaga baik-baik. Tak lupa, cewek itu senyam-senyum menatap Sekhan. Tatapannya penuh cinta, seperti biasanya.

Rikno adalah siswi normal dari kelas XI IPA 3 yang kemudian berubah aneh setelah jadi pengurus OSIS dan mengenal Sekhan. Kebaikan Sekhan padanya, dianggapnya hal luar biasa. Ia bahkan memvonis dirinya tak bisa hidup jika Sekhan jadian dengan cewek lain.

“Lu!” Sekhan bangkit. “Kenapa ada di sini?” Ia menoleh kiri-kanan. “Terus Ginov kampret itu, ke mana?”

“Di mana pun elu berada, gue selalu bisa menemukan lu.” Rikno bersemu merah oleh kata-katanya sendiri. Ia menutup mulut saat senyumnya bertambah lebar.

Sekhan melihat itu dengan perasaan takut. Setelah mengenal Rikno, ia jadi tahu kalau dikejar fans sama sekali tidak menyenangkan. Fans semacam Rikno sama halnya dengan terror.

“Awas lu, ya. Jangan bergerak!” Sekhan bergeser ke kiri, mencoba mengambil jarak. Saat Rikno hendak berdiri juga, ia menunjuk tegas. “Stop! Tetap di tempat lu. Gue mau cari Ginov.”

“Aduh, kamu lucu banget sih.” Rikno bertopang dagu di atas meja sambil menatap Sekhan penuh kekaguman. “Gimana kalau aku traktir bakso? Mau, ya?”

Sekhan mengerjap lambat. “Kamu? Aku? Hah.” Mendengar Rikno memakai kata kamu dan aku saat bicara padanya adalah hal yang paling lucu. Mereka tidak sedekat itu sampai boleh menggunakan dua kata tadi.

Tidak tahan melihat binar kagum di mata Rikno, Sekhan pergi ke kasir membayar minumannya yang dihabiskan Ginov lalu buru-buru keluar dari kantin. Kemunculan Rikno selalu tidak terduga. Karenanya, Sekhan selalu menoleh ke belakang hingga tiba di depan kelasnya. Jangan sampai cewek itu mengikutinya.

Ketika tepukan hangat mendarat di bahunya, ia terlonjak kaget. 

“Kenapa lu?” Ginov mengernyit.

Sekhan mengelus dadanya sambil mendesah. “Gue kira si Rikno. Tuh cewek asli bikin gue parno,” ucapnya dengan ekspresi kesal. “Lu dari mana sih?”

“Dari toilet. Untunglah gue nggak mati setelah minum susu sialan itu. Pulang dari sekolah, gue mau sujud syukur di rumah.”

Sekhan menanggapi kelebaian Ginov dengan menjitaknya. “Sujud syukur itu pas lulus ujian nasional. Lagian, laki kok takut minum susu cokelat. Waktu kecil dikasi minum apa sama emak lu?”

“Air zam-zam.” Ginov masuk ke dalam kelas. Waktu istirahat baru berjalan lima menit, meski belum beli makanan apapun, ia enggan kembali ke kantin. Takut pingsan ketika melihat susu kotak berjejer di sana dan kejadian tadi terulang dalam kepalanya.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

345 269 4
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 771 14
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

591 434 9
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

583 448 7
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

427 336 7
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

451 351 14