“Lu kenal Jean?”
“Kenal. Dia kan anggota chers.”
“Gue suka sama dia.”
Botol mineral remuk di tangan Eriz. Percakapan itu… mustahil hilang dari ingatannya.
Eriz menatap benci ke depan entah pada siapa. Yerin berhenti makan bakso dan meletakkan sendok dengan hati-hati. Duduk di samping Eriz yang bersikap aneh membuat nafsu makannya menurun. Padahal ia tidak sempat sarapan, tapi perut keroncongannya seolah sadar situasi.
Eriz mendesah frustasi.
Yerin duduk serong. “Ada masalah apa?” Sebaiknya ia bertanya agar bisa memberi solusi sebelum Eriz semakin aneh.
“Ginov ….” ucap Eriz lirih.
“Ow.” Yerin tersenyum tipis. Tuh, keanehan Eriz mendekati kadar waspada. Mana ada cewek di sekolah ini yang terganggu dengan kehadiran Ginov selain dirinya?
Ginov punya banyak fans yang bahkan disuruh teriak kayak tarzan di lapangan mereka sanggup.
Ginov adalah bentuk nyata ketenaran. Dan ketenaran itu bukan datang dari wajah tampannya, melainkan prestasinya di sekolah. 
Eriz pasti punya kelainan sampai Ginov dianggapnya lebih berbahaya dibanding virus TBC, HIV atau penyakit lain yang tak kalah berbahaya. Yerin yakin seyakin-yakinnya.
“Menurut gue dia baik. Lu aja yang telanjur nggak suka sama dia.” Yerin menyendok kuah baksonya. “Tapi lu harusnya bisa ngubah rasa nggak suka itu dengan ngasih dia kesempatan untuk dekat sama lu. Bukan malah masang benteng kokoh untuk menghalaunya.”
“Nah, karena gue tahu dia berbahaya, makanya gue buat pelindung. Ngasih dia kesempatan hanya bikin gue berada dalam bahaya,” ucap Eriz dengan tampang datar.
Yerin terdiam melihat raut wajah cewek itu. Entah apa yang pernah diperbuat Ginov terhadapnya. Yerin yakin Eriz tidak hanya terluka, tapi trauma.
Eriz menarik napas dan mengembuskannya dengan mantap. “Ngapain bahas sampah?” ucapnya lalu memukulkam sendok ke ujung mangkok. “Mending lanjutin makan lu. Jam istirahat hampir selesai.”
Dengan tampang kikuk, Yerin mengangguk dan makan buru-buru. Eriz bilang apa tadi? Sampah?
Haha. Kasihan banget si Ginov, dianggap sampah.
***
Langkah Eriz terhenti di ambang pintu. Yerin yang semula di belakangnya, bergerak ke depan dan melongok ke dalam kelas. Yang benar saja, baru juga dibicarakan, orangnya sudah ada dalam kelas.
Yerin mundur lalu berbisik, “Sebai…”
Kalimat Yerin tidak selesai karena Eriz langsung menghampiri Ginov yang melambai antusias. Otomatis, Yerin buru-buru mengikut. Jangan sampai sahabatnya kalap dan melontarkan kalimat-kalimat pedasnya. Banyak pasang mata yang menonton, Yerin tidak ingin jadi saksi lagi di ruang BK kalau ketahuan guru.
Selama ini, jika Eriz buat keributan di kelas entah dengan siapa, yang langganan saksi adalah dirinya seorang. Maklum saja, di kelasnya cuma ia yang tidak pandai bersandiwara tidak tahu apa-apa.
Eriz berhenti tepat satu jengkal di depan mejanya, satu-satunya pembatas yang memisahkan dirinya dan cowok yang tidak ingin dilihatnya. ReGinov. Sang mantan terkutuk
Alangkah manisnya senyum cowok itu saat ini, Yerin diam-diam berdecak kagum. Baru kali ini ia melihat ada cowok yang bisa tersenyum semanis itu pada cewek yang judesnya level raja alias Erizia.
“Dari kantin, ya Riz?” Ginov bertanya dengan senyum lebar.
“Lu nggak begitu penting sampai gue harus jawab pertanyaan lu.”
Awww.
Sebagian siswa yang terus memantau interaksi mereka meringis sambil menekan dadanya. Mungkin ini yang dinamakan sakit tapi tidak berdarah. Ginov nyaris melongo jika saja tidak segera menguasai diri dan mengatupkan mulutnya kembali.
“Gue mau duduk. Tolong pindah,” ucap Eriz tenang.
Ginov berdiri, bergeser cukup jauh agar Eriz bisa lewat. Dan ketika cewek itu sudah duduk di kursinya, Ginov mendekat kembali. Ia berdiri di depan meja Eriz. Tanpa sadar, ia memperlihatkan kesedihannya saat menatap cewek itu dengan serius.
“Ginov….”
Yerin menatap prihatin ke Ginov. Sedetik kemudian, Eriz menoleh dengan delik tajam. Ia tidak suka Yerin memihak pada cowok itu.
Tidak peduli kekesalan sahabatnya, Yerin mengulangi panggilannya. “Ginov.”
Tampak jelas, Ginov berat hati memindahkan pandangannya ke Yerin. “Ya?”
Yerin tersenyum kasihan. “Ekspresi lu….” 
“Ohhhh. Muka gue memang kadang susah dikontrol, Rin. Hehe.” Ginov seketika heboh. Dalam sekejap wajah sedihnya berganti senyum cerah. Namun, karena dipaksakan, ia jadi terlihat aneh.
Yerin cuma nyengir canggung. Sedangkan Eriz tersenyum sinis ke arah kukunya. Tidak sedikit pun rasa iba ia sisakan untuk Ginov. Pembalasan ini tidak seberapa, dibanding sakit yang diterima Eriz dulu.
“Lu duduk dong. Tuh kosong.” Yerin menunjuk kursi di sampingnya.
Ginov mengambil kursi itu, memindahkannya ke depan meja Eriz. Muka temboknya lagi aktif. Sekalipun Eriz berwajah jutek, ia tidak peduli.
“Lama nggak ngobrol sama lu, sibuk apa sekarang?” tanya Ginov, basa-basi seenaknya. Yerin tersenyum canggung menonton aksinya.
Eriz memutar bola matanya. “Sibuk berdoa sama Tuhan, minta supaya cowok kayak lu menjauh dari hidup gue.”
Ginov menganggap kalimat super serius Eriz tadi adalah candaan. “Ngaco amat sih doa lu. Memang gue kenapa sampai harus dijauhi, Riz?”
Eriz hanya diam.
Dulu… saat cintanya sedang memuncak, Ginov menghujamkan ribuan panah api dari atas. Satu kalimat yang tidak pernah berhasil dihapus Eriz dari kepalanya adalah kejujurannya mengakui perasaan terhadap cewek lain.
Gue suka sama dia. Gue suka sama Jean, Riz.
Gampang sekali Ginov mengatakan itu padanya dulu. Kejujuran yang menyakitkan. Eriz akhirnya paham kenapa banyak orang lebih memilih untuk tidak tahu apa-apa.
Eriz mengembuskan napas lalu sengaja tersenyum tipis. Membuat Ginov bingung dan menerka-nerka isi kepalanya saat ini. Mungkinkah senyuman itu punya maksud lain?
“Lu lebih tahu jawabannya dibanding siapapun, termasuk gue,” jawabnya kemudian.
Ginov menarik napas dalam-dalam. Butuh oksigen yang banyak untuk menghadapi kalimat Eriz.
***
Bu Vera meneguk airnya lalu berdiri, berniat membereskan piring kotor di atas meja. Gina yang biasanya membantu, tidak rumah. Namun, baru saja ia menyentuh satu piring, tiba-tiba sebuah suara menginterupsi kegiatannya.
Anak sulungnya yang selesai makan lima menit lalu dan telah lama meninggalkan meja makan, datang sambil tersenyum kecil.
“Biar Ginov saja, Ma,” ucap Ginov. Ia menyusun piring kotor di atas meja dan membawanya ke bak cuci piring. Kemudian ia kembali lagi membersihkan meja sembari senyam-senyum ke mamanya.
Melihat anaknya mendadak rajin membantunya, Bu Vera bukannya bertanya, beliau malah pura-pura tidak paham. “Jangan lupa lampunya dimatikan, Van,” ucapnya lalu meninggalkan Ginov sendiri.
Sadar bahwa tindakannya tidak menarik rasa ingin tahu sang mama, Ginov berdesis. Ia buru-buru menyelesaikan pekerjaannya merapikan meja dan mematikan lampu ruang makan. Tiba di ruang tengah, mamanya tidak terlihat lagi.
Ginov menuju kamar mamanya. Mengetuk dua kali lalu masuk karena tidak dikunci. Dalam kamar, Bu Vera tampak sibuk mengatur skin care-nya di meja rias.
Ginov menimbang, haruskah ia mengambil alih skin care itu juga?
“Mama tidak perlu bantuan kamu untuk merapikan ini, Ginov.” Bu Vera berkata sambil menoleh.
Ginov terbahak.
“Kamu mau minta dibelikan apa? Smartphone baru?”
Ginov menuntaskan tawanya lalu menggeleng. “Nggak sejauh itu kok, Ma,” ucapnya lalu berdehem sebelum memelankan suara, “Mama mau nggak bantu Ginov baikan sama Eriz?”
“Eriz?” Bu Vera mengernyit sambil berjalan mundur dan terduduk di tepi ranjangnya. “Kamu ada masalah apa sama dia?”
“Rumit, Ma. Susah buat dijelasin.”
Bu Vera bersedekap dengan wajah cuek. “Mama tidak mau bantu kamu kalau tidak mau cerita.”
“Mamaaa.” Ginov mendekat, mengambil tempat di samping Bu Vera.
“Pokok permasalahan kalian apa sampai mama harus turun tangan? Kamu ngeledek dia? nyontek tugasnya?”
“Mana bisa nyontek, Ma. Kami beda kelas.”
Bantahan itu rupanya memancing rasa curiga Bu Vera. Beliau langsung memicingkan mata. “Jadi kalau satu kelas, kamu berniat menyontek tugas Eriz?”
Ginov terkesiap. “Enggak!”
Telunjuk Bu Vera terangkat dan tertuju ke Ginov. “Mama tidak mau punya anak yang suka menyontek supaya dapat nilai tinggi. Ingat, ya Van. Menyontek sama dengan mencuri. Di keluGinov kita, tidak ada riwayat mencuri.”
Ginov mengusap wajah dengan kedua tangan. Lelah dengan tuduhan mamanya. Ia menghela napas lalu mengangguk. “Ginov nggak hobi nyontek, Maaa. Ini Ginov datang ke mama buat minta tolong, kenapa bahas nyontek sih?”
“Memangnya masalah kalian apa?” tanya Bu Vera.
Ginov mengembuskan napas dengan keras. Lagi-lagi pertanyaan itu yang mesti dijawabnya. Berat hati, Ginov kemudian berkata, “Ginov mutusin Eriz.”
Di luar dugaan, Bu Vera malah melotot galak. “Kamu berani pacaran sama anak teman mama?!”
***
“Ohhhh.” Bu Riza mengangguk setelah mendengar penuturan panjang Bu Vera lewat telepon.
“Anak saya sepertinya sudah menyesali perbuatannya. Dia benar-benar ingin memperbaiki hubungan silaturahminya dengan Eriz.”
Bu Riza tersenyum. Eriz telah bercerita banyak padanya mengenai Ginov sejak dulu. Anak perempuannya itu selalu terbuka dengan apapun yang dia alami. Entah itu menyenangkan atau sesuatu yang sangat menyakitkan. Dan untuk masalah yang ditimbulkan Ginov terhadap anaknya, Bu Riza sejujurnya ikut kecewa.
Namun, Bu Riza menahan diri untuk tidak menunjukkan keberpihakannya pada Eriz. Biarlah ia jadi pengamat saja, biar Eriz yang menentukan jalannya. Jika semuanya tidak berjalan baik, ia hanya perlu memberi masukan.
“Mungkin kesempatan… ada. Tapi maaf, Bu Vera. Kami melewati banyak cobaan akhir-akhir ini. Kalau benar Ginov ingin berbaikan dengan Eriz, saya harap dia bisa berjanji tidak menyakitinya lagi seperti dulu,” ucap Bu Riza.
“Saya sendiri yang akan menghukumnya jika itu terjadi, Bu.” Bu Vera berkata tegas.
“Baiklah. Saya akan coba bicara baik-baik dengan Eriz untuk permintaan Bu Vera.”
Sambungan telepon terputus. Pintu kamar Eriz terbuka saat itu. Bu Riza menyunggingkan senyum tenang. Ekspresi itu yang biasanya ia perlihatkan pada Eriz untuk meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja.
“Mama tahu, kan… gimana perasaan Eriz waktu itu?” tanya Eriz. Belum beranjak dari dekat pintu. “Eriz nggak mungkin bisa maafin Ginov.”
Dari dalam kamar, ia diam-diam mendengar percakapan mamanya dan mama Ginov dari awal.
Bu Riza memandangi putrinya dengan senyum yang berubah masam. “Mama cuma mau bilang, dendam bikin kita nggak bahagia, Erizia.” 
“Eriz juga nggak mau berbohong, Ma. Sama diri Eriz atau ke Ginov. Eriz nggak mau berteman kayak dulu sama dia sementara yang di sini…” Ia menepuk dadanya. “Masih sakit.”
***
“Gimana, Ma?” Ginov menatap penuh harap mamanya. Jika cara ini berhasil, ada kemungkinan hubungannya dengan Eriz membaik. Ginov tidak yakin punya cara lain yang seampuh ini.
Bu Riza mendesah berat lalu menggeleng.
“Percaya sama Mama, kamu cacat bukan cuma di mata Eriz, tapi mamanya juga.”
“Memangnya tante Riza bilang kalau dia benci sama Ginov?” tanya Ginov, mulai diserang kegelisahan.
“Bu Riza tidak bilang terang-terangan. Tapi mama bisa tahu dari caranya menanggapi usulan mama. Bu Riza mengatakan semuanya terserah Eriz.”
Ginov menunduk lesu. Harapannya untuk berbaikan dengan Eriz tinggal rencana. Lalu pencalonannya benar-benar berakhir sebelum maju ke pemungutan suara.
“Jangan murung ahh.” Bu Vera merangkul anaknya sambil ketawa. Persoalan remaja yang dianggapnya hal biasa, harusnya tidak sampai membuat sang anak sedih. “Mama punya ide sebagai gantinya.”
“Ide apa, Ma? Dipelet?” gumam Ginov. Sudah malas berharap.
Pikiran negatif Ginov berbuah tepukan keras di pahanya. Ia mengusap bekas pukulan mamanya sambil cengengesan. Yah, memang mustahil mamanya memberi ide konyol seperti yang ia tebak tadi.
“Mau dengar tidak?” tanya Bu Vera sebab Ginov terlihat tidak serius menanggapi usahanya memberi masukan.
Ginov menegakkan tubuh, wajahnya pun dibuat serius. “Ginov harus ngapain, Ma?”
Bu Vera menarik kepala anak pertamanya itu lalu berbisik, “Menyerah.”
Ginov menatap mamanya tanpa berkedip. “Mama…”
Telunjuk Bu Vera terangkat. “Menyerah adalah keputusan yang bijak. Mama Eriz dikhianati oleh mantan suaminya. Eriz cukup berpengalaman dengan sakit hati. Lupakan dia dan fokus saja dengan pelajaranmu di sekolah.”

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

341 260 5
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

591 434 9
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

583 448 7
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

900 641 12
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

340 283 6
Anne

Anne's Tansy

By murphy

570 344 8