Ginov bersemangat dan percaya diri mendatangi rumah Eriz. Tapi, senyumnya meredup ketika mengetuk pintu dan yang membukanya adalah Bu Riza. Dengan ekspresi yang amat tidak ramah, Ginov dipersilakan masuk dan ditinggal begitu saja di ruang tamu.
Andai teras rumahnya agak luas dan tidak sedang dihuni oleh kardus-kardus, Bu Riza memastikan Ginov tidak menyebarang ke dalam rumah.
Dua menit berselang setelah Bu Riza menghilang, Ginov mendengar kegaduhan. Firasatnya memburuk tiba-tiba. Apalagi saat terdengar sepintas suara Eriz yang marah-marah. Mungkin mereka lagi bertengkar, mungkin Eriz menolak menemuinya atau mungkin Bu Riza yang marah karena kehadirannya.
Pikiran Ginov tak bisa berhenti memikirkan prasangka-prasangka negative hingga akhirnya Eriz datang dengan muka yang lebih tidak bersahabat dari milik mamanya.
“Kok cemberut, habis tidur siang, ya?” Ginov berbasa-basi begitu Eriz duduk.
“Mau apa sih lu?” tanya Eriz, mengabaikan pertanyaan Ginov yang menurutnya buang waktu jika harus dijawab.
“Yeee, pakai nanya. Gue mau ketemu elu lah.”
Eriz menarik napas dan membuangnya dengan keras. “Sekarang udah ketemu, kan? Nah, lu pulang deh. Gue banyak kerjaan.”
“Dengerin sampai habis, dong. Gue mau ketemu elu terus ngajak elu keluar. Jauh-jauh ke sini, mana mungkin tujuan gue sesederhana tatap muka doang.”
“Gue banyak kerjaan, lu budek, ya?” Nada bicara Eriz memang santai tapi kata-kata yang dipilihnya begitu menusuk.
Ginov mendesah. Anehnya, sekejam apapun Eriz berkata-kata, ia tidak merasa tersinggung ataupun marah. Mungkin ini efek rasa bersalahnya. Ia merasa pantas menerima perlakuan itu.
“Kerjaan apa? Tugas sekolah? Nyuci baju? Beresin kamar? Gue bantuin sampai selesai. Asal lu mau pergi bareng gue hari ini,” ucapnya kali ini tanpa senyum. Meski menggelikan, Ginov sejujurnya serius ketika mengucapkan itu. Dan yang terpenting, dulu ia pernah melakukannya.
“Oh. Oke.”
Ginov membelalak. Perkiraannya, tidak seperti ini jawaban Eriz. ia sungguh tidak menyangka cewek itu membolehkannya membantu. Ah, firasat buruk itu kembali menghampiri. “Jadi gue mesti bantu apa?” tanyanya.
Eriz berdiri dan masuk ke dalam. Tak lama setelahnya, ia kembali dengan kardus yang isinya mencuat. Ginov menajamkan penglihatan dan langsung terbelalak kaget. Ia pun sontak berdiri.
Eriz meletakkan kardus di lantai, tepat di hadapan Ginov. “Bawa barang terkutuk ini ke halaman belakang.”
Ginov bergeming, menatap Eriz dan kardus bergantian. Kardus itu berisi boneka beruang yang dipaksa terlipat, novel-novel dari penulis best seller, dan album foto kebersamaan mereka yang Ginov hadiahkan dulu padanya.
“Kena…”
“Mau dibakar,” potong Eriz, seolah membaca isi kepala Ginov.
“Itu belinya pakai uang loh, Riz!” Ginov tanpa sadar mengeraskan suaranya. Barang-barang yang hendak dilenyapkan Eriz adalah bukti kebersamaan mereka. Sudah sepantasnya Ginov menyelamatkan barang itu.
Eriz berdecak. “Terus kenapa kalau pakai uang? Bukan uang gue juga. Mau bantu atau tidak, nih?” desaknya. “Katanya mau ngajak gue pergi. Buruan dibawa ke belakang.”
Ginov mengangkat kardus itu dengan muka masam. “Lain kali aja perginya, Kardus ini gue bawa pulang.”
“Heeei.” Eriz refleks menahan lengan Ginov saat cowok itu berbalik. “Pemilik barang itu gue. Jangan seenaknya diambil.”
Ginov melirik malas. Suasana hatinya benar-benar buruk. “Tapi gue yang ngasih, Riz. Kalau lu sudah nggak mau sama barang-barang ini, lebih baik dibalikin ke gue daripada dibakar. Di luar sana, banyak yang butuh.”
Eriz menurunkan tangannya. Sulit membantah karena ucapan Ginov yang terakhir memang benar.
***
“Kak!” Gina berlari di belakang Ginov saat kakaknya itu berlalu ke kamar membawa kardus.
Gina ikut masuk ke kamar Ginov. “Apaan nih?” tanyanya.
“Nggak usah banyak nanya.”
Ginov terduduk di tepi ranjang, mencoba mengatur napas yang tidak stabil akibat memendam kekesalan pada Eriz. Andai ia bisa marah-marah pada cewek itu semaunya seperti dulu, pasti melegakan. Sayang sekali, meski ia benar kali ini, tetap saja berat melampiaskan amarahnya.
Gina berjongkok, mengintip isi kardus lebih dekat. Ia mengarik boneka beruang ke luar dari sana. Senyumnya melebar ketika membaca yang disulam di lengan kanan boneka itu.
Erizia
“Kalau seorang cewek sudah balikin pemberian mantannya, itu artinya tak ada celah lagi untuk sang mantan di hatinya.” Gina berdiri, menghadap Ginov sambil memeluk boneka. “Kak Eriz sudah mantap untuk melupakan Kakak. Gina yakin.”
Kesal dengan kalimat tadi, Ginov merampas boneka di tangan Gina. “Lu masih bocah, belum tahu apa-apa soal hati.”
“Bukannya Kak Ginov yang belum tahu soal hati?” Gina mendengus, menendang kardus dengan kaki kanannya. “Kalau Gina jadi Kakak, Gina akan berhenti ngejar Kak Eriz.”
“Lu bodoh, makanya berpikiran begitu,” balas Ginov, emosi. Enak saja ia disuruh berhenti berjuang. Janur kuning belum melengkung, Eriz juga masih jomblo. Tapi bukan itu intinya.Ia sedang berusaha membuat Eriz berdiri di sampingnya dalam pemilihan Ketua OSIS nanti. Cinta? Itu hanya kedok.
Gina menggeleng-gelengkan kepala sambil melihat Ginov dengan tatapan lelah. “Bukan bodoh, tapi peka. Masa’ Kak Ginov nggak bisa lihat Kak Eriz sukanya sama siapa?”
Ginov menunduk, menatap tangannya yang menggenggam erat tangan boneka beruang. Mulutnya tidak dapat berkomentar lagi. Satu sosok mendadak muncul dalam kepalanya. Sosok itu adalah jawaban kenapa Ginov tidak ingin berhenti mengejar Eriz.
Rifan. Selamanya tidak akan pantas buat Eriz. Ginov bersikeras dalam hatinya.
Gina membuang napas lalu berkata, “Pelik. Untung gue nggak punya mantan.” Ia kemudian keluar, membiarkan Ginov sendiri dengan berbagai permasalahan hatinya yang tak kunjung selesai.

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

983 694 13
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 11
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

482 376 8
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

618 475 7
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 701 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

655 408 9