“Gue laporin ke mama,” ancam Gina melihat Ginov menatap pot kaktus yang berjejer di teras. Hanya dengan melihat mata kakaknya, ia yakin kakaknya itu punya niat jahat pada si kaktus.
Ginov maju dan mengangkat satu pot paling kecil. Dielusnya sisi pot itu dengan sayang. “Ini untuk Eriz. Siapa tahu hatinya luluh lihat bunga ini.”
“Ohhhh.” Gina berseru lalu bertolak pinggang. “Bukannya kak Eriz nggak suka bunga, ya?
Ginov seketika menoleh dengan tampang kaget. “Serius, lu?”
“Yang mantan kak Eriz itu kakak atau bukan sih? Informasi sepele kayak gini saja nggak tahu,” ucap Gina lalu berdecak-decak dengan ketidaktahuan Ginov.
Sambil meletakkan pot kaktus ke tempatnya semula, Ginov berkata, “Dia nggak pernah cerita. Jadi wajar kalau gue nggak tahu.”
“Ada orang nggak mau cerita kalau nggak ditanya. Kak Ginov pernah nggak nanya ke Kak Eriz dia suka apa dan nggak suka apa?” tanya Gina. Tidak ada ampun untuk kakaknya. Cowok kayak dia itu memang harus disadarkan biar tidak cuek lagi ke pacar-pacar selanjutnya.
Dengan terpaksa Ginov menggeleng. Ia jarang bertanya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Eriz, karena berpikir bahwa itu tidak penting untuk diketahui.
“Kakak ini benar-benar bukan cowok idaman. Nggak ngerti perasaan cewek.”
Ini yang membuat Ginov malas mengobrol lama dengan adiknya. Gina lebih sering menyalahkan orang daripada memberi solusi.
“Lu harusnya bantuin gue, bukannya nambah pusing gue.”
Gina tertawa pelan meski ia bisa lihat kalau kakaknya sedang kesal sekali. “Memangnya Kak Ginov punya salah apa saja ke kak Eriz?”
Untuk memperbaiki suatu hubungan, yang pertama dilakukan adalah mencaritahu penyebab kandasnya hubungan itu. Kan tidak lucu kalau mau minta maaf tapi tidak tahu kesalahan apa yang telah kita perbuat.
“Sebenarnya… gue nggak merasa salah. Dalam sebuah hubungan berpacaran , wajar jika salah satunya minta putus. Waktu itu, gue hanya minta putus.”
“Kakak minta putus karena apa? Bosan?”
Ginov menggeleng. “Gue lagi naksir Jean waktu itu. Sebagai cowok baik-baik, mending gue putusin daripada selingkuh.”
Mendengar penuturan kakaknya yang mengalir tanpa hambatan, Gina menepuk jidat lalu geleng-geleng kepala. Ginov mungkin salah satu tipe manusia yang paling egois. Setelah ketemu cewek lain dan berhasil menarik perhatiannya, ia dengan mudah meninggalkan pacarnya.
Gina segera membatin, semoga gue nggak terjebak dengan cowok kayak gitu.
“Gimana? Gue nggak salah, kan?” tanya Ginov.
“Salah!” tekan Gina langsung. “Andai gue yang di posisi kak Eriz, gue nggak cuma benci sama kakak, tapi ngutuk kakak jadi mandul.”
“Ya ampun nih anak… “ Ginov merinding mendengar kalimat tadi. 
“Besok, pendaftaran calon ketua OSIS sudah buka kayaknya. Kakak jadi daftar?”
“Jadi dong.”
“Pasangan sama siapa, Kak?”
Ginov nyengir lebih dulu sebelum menajawab pelan, “Belum tahu.”
Gina menatap dongkol. Membuat Ginov cepat-cepat menambahkan. “Tim sukses gue yang nentuin. Sadya pasti punya calon yang bagus. Gue percaya sama dia.”
“Tim sukses apaan tuh?” Gina mencibir.
“Eh eh, jangan salah. Tim sukses gue itu diatur langsung sama Sadya, cewek paling ambisius di era ini. Golongan darahnya saja A. Sekali dia menargetkan sesuatu, nggak akan nyerah sampai dapat.”
“Hm, hati-hati kalau gitu.”
“Hati-hati?” Ginov mengernyit.
“Dia kan sudah lama naksir sama Kakak,” ucap Gina. Tapi detik berikutnya menutup mulut.
Ginov mengerjap kaget. Sadya dikenalnya sejak SD. Bukan sahabat tapi mereka cukup dekat. Membayangkan cewek itu menyukainya, sama anehnya dengan memakai kaos pink cerah ke pemakaman.
“Anggap saja Kakak nggak pernah dengar ini dari Gina.” Gina segera meralat.
Ginov menatapnya lama. Ia juga mau seperti itu, melupakan fakta tadi, tapi sebagian dirinya bertahan untuk terus memikirkannya. Apalagi perlakuan Sadya terhadapnya agak merujuk ke arah situ. Cewek itu sangat perhatian beberapa bulan ini dan Ginov baru sadar.
“Lu tahu darimana?” tanyanya.
Gina menghela napas lalu membalas tatapan Ginov. “Sena.”
***
Ginov uring-uringan di kelas. Pelajaran kedua baru saja berakhir. Ia menoleh ke arah Sadya yang menjelaskan kelebihan calon pasangannya dalam pemilihan Ketua OSIS nanti. Sesaat ia berpikir, haruskah ia memastikan kebenaran kalimat Gina dengan bertanya langsung padanya?
“Edo yang lebih berpotensi jadi pasangan lu.” Sadya bicara sambil tangannya bergerak-gerak. “Nilai akademiknya memang nggak membanggakan, tapi dia aktif di banyak club. Pandai bicara dan…”
“Lu punya pacar?”
Sadya menutup mulutnya yang sedetik lalu membuka lalu mengembuskan napas dan melanjutkan, “Kita butuh orang yang bisa menarik banyak pendukung dengan kemahirannya berbicara. Nah, Edo ini ternyata sejak SMP sering ikut lomba pidato. Ya walau gue tahu info ini nggak ada kaitannya dengan jabatan wakil ketua OSIS, tapi dia patut dipertimbang…”
“Sad, jawab dulu dong. Punya pacar atau enggak?” Ginov kembali bertanya dan kepalanya agak maju beberapa senti.
Sadya jadi tidak bisa lagi mengabaikannya kalau begini. Sekarang pun, ia sudah mangap selama tiga detik sambil menatap Ginov.
“Sad, lu punya pacar atau enggak?” ulang Ginov dengan suara lebih keras. Sekhan datang memukul punggungnya.
“Woee, sakit,” geram Ginov sambil mengangkat kepalan tangannya. Tapi Sekhan menunjuk ke arah pintu. Ginov menolehkan kepalanya ke sana dan langsung terbelalak.
“Dasar plaboy,” ucap Eriz lalu masuk dan menyerahkan kunci ke Sekhan. Ia melirik Sadya sebentar sambil tersenyum sinis sebelum beranjak dari sana.
“Bodohnya gue. Bodoh, bodoh, bodoh.” Ginov memukul-mukul meja. Kemudian tubuhnya dibanting ke belakang. “Argh. Bodohhhh.”
“Lagian buat apa lu nanya Sadya punya pacar atau jomblo menahun?” tanya Sekhan. Sadya langsung meliriknya tajam.
“Gue jomblo ada alasannya. Nggak kayak lu, jomblo karena nggak laku.” Sadya berkata kejam.
Sekhan berdecih lalu kembali menatap Ginov sebal. “Hei, jawab!” bentaknya.
“Pengin tahu saja.” Ginov mengusap wajahnya. 
Sekhan melirik Sadya di samping Ginov. Cewek itu hanya diam sambil memalingkan muka. Andai Sekhan bisa menolongnya, sudah dari dulu ia melakukan itu. Sadya pantas mendapat kesempatan. Tanpa sadar, lirikan Sekhan berubah jadi tatapan kasihan.
Saat Sadya menoleh, matanya langsung bertubrukan dengan mata Sekhan. “Kenapa muka lu?” tanya Sadya.
“Ah?” Sekhan gelagapan dan buru-buru berdehem. “Um, enggak. Nggak sengaja liat hantu.”
Justru dengan menjawab seperti itu, Sadya kemudian marah. Ia memukul lengan Sekhan dua kali lalu berteriak, “Lu ngatain gue hantu?!”
Terperangah, Sekhan mengerjap-ngerjap sebelum menutup kupingnya rapat-rapat. Kadang, ia menyesal ikut campur urusan hati orang lain kalau akhirnya jadi begini.
***
Ginov berdiam di kursinya setelah bel pulang berbunyi lima menit lalu. Termasuk dirinya, tersisa empat siswa dalam kelas.
Lu salah paham, Riz.
Ginov mengernyit sejenak , ragu mengirim pesan itu. Kesannya kayak orang keGRan, padahal Eriz belum tentu peduli. Namun di sisi lain, jika ia tidak mengklarifikasi kejadian tadi, bisa-bisa Eriz tambah benci padanya. Dilemanya Ginov hanya karena ia ingin tahu sedikit persoalan asmara Sadya.
Ginov menarik napas dalam-dalam dan mulai mengetik kalimat baru.
Maaf. Sebenarnya tadi itu …
“Tadi itu gue lagi wawancara doang sama Sadya.” Sekhan yang tahu-tahu muncul di sampingnya, meneruskan isi pesan Ginov. “Jangan marah, dong. Yaaaaa?”
Sekhan bahkan membuat ekspresi imut lalu terkekeh. Merasa lucu sendiri dengan tingkahnya meledek Ginov.
“Rese’ lu.” Ginov mendorong Sekhan. Ponselnya dimasukkan ke dalam tas lalu ikut berdiri.
Sekhan segera menyejajarkan langkah keluar kelas. “Menurut gue lu nggak perlu capek-cepek minta maaf. Eriz bukan siapa-siapa lu juga.”
Ginov berhenti mendadak dan melirik tajam. “Gue tahu … Nggak usah lu ingatkan. Egh. Mood gue langsung jelek dengar lu ngomong.”
Sekhan tertawa. “Tahu beda sama ingat. Lu tahu, belum tentu ingat.”
“Iya, beda. Tahu bisa dimakan, sedangkan ingat enggak,” balas Ginov sebal. Ia mempercepat jalannya sampai Sekhan harus berlari. Ketika mereka satu garis lurus ke samping lagi, Ginov mengalihkan topik secepat mungkin. “Sadya ke mana?”
Namun, pertanyaan ini memancing tawa Sekhan lagi. “Cieee, sekarang lu nyariin Sadya? Tumben. Biasanya lu cuma fokus ke kehadiran Eriz di sekolah ini.”
Ginov memutar bola matanya. Menyesal menanyakan Sadya. Ia menggeram untuk kedua kalinya samba berharap emosinya berubah jadi uap panas  yang ampuh menghentikan candaan Sekhan.
“Kita mau rapat untuk pencalonan gue jadi Ketua OSIS, jadi mau nggak mau gue mesti nyari dia. Kecuali lu berniat gantiin dia jadi pimpinan tim sukses gue, kita nggak usah nyari dia,” jelas Ginov lalu berjalan cepat dengan hentakan keras.
Namun, di langkah ke tiga, ia berhenti dan berbalik. Ditatapnya Sekhan dengan ekspresi curiga. “Lu…”
“Hem?” Sekhan mengangkat alis. Belum paham arti tatapan Ginov padanya.
Ginov bersedekap. Dugaannya kali ini pasti benar. Sekhan tidak biasanya mengungkit Sadya terus-menerus tanpa alasan. Mereka sudah satu kelas dan berteman baik sejak kelas satu. Jika harus mengaitkan dirinya dan Sadya, kenapa tidak dari dulu?
“Lu pengin nyomblangin gue dan Sadya, ya?” tuduhnya.
Sekhan melirik ke samping dengan kening berkerut. Pelan-pelan, cengiran jailnya terkembang. “Itu ide bagus, bukan?”
“Gue nggak ada perasaan apapun ke Sadya,” bisik Ginov.
Sekhan menghampiri Ginov. “Gini, ya. Gue sebagai sahabat yang pengertian, mau lu dapat yang terbaik. Mari lupakan Eriz dan semua obsesi aneh lu dengannya. Coba deh kasih Sadya kesempatan.”
“Kalau segampang itu, dari dulu gue lakuin,” ucap Ginov lalu berjalan ke arah mereka datang sebelumnya.
“Eh, lu mau ke ke mana?” Sekhan menahan lengannya lalu tangan yang satu menunjuk ke depan. “Yang benar itu ke sana.”
Ginov tersenyum paksa. “Gue mau ketemu Eriz. Lu yang ngasih gue saran supaya deketin Eriz, jadi kalau gue suka sama dia, itu gara-gara elu,” jawabnya sambil menurunkan tangan Sekhan di lengannya.
***
Ginov memotong jalan Eriz ketika cewek itu berjalan di koridor sendirian. Bagus. Tidak ada Rifan. Kapan lagi ia bebas mendekati Eriz tanpa gangguan rivalnya itu.
Eriz menatap Ginov dan tak mengatakan apa-apa. Semua yang ingin ia sampaikan pada cowok itu sudah tertelan oleh waktu.
Ginov maju, mengambil tangan kanan Eriz tapi ditepis secepat mungkin. Keduanya saling tatap sampai akhirnya Eriz mencoba lewat. Ginov spontan meraih lengan atas cewek itu dan menariknya kembali ke tempat semula.
Eriz mengembuskan napas lalu menepis lagi tangan Ginov. Kemudian ia menatap ke samping sambil bersedekap. “Lu mau ngomong apa?”
“Pencalonan gue jadi Ketos bukan main-main, Riz. Lu pasti ingat alasannya. Gue rela melakukan apapun demi mencapainya, dan gue yakin lu juga tahu itu. Ini mimpi yang harus gue wujudkan.”
Eriz menoleh lalu menarik ujung bibirnya ke samping. “Terus apa hubungannya mimpi lu sama gue?”
 “Lu bersekongkol dengan Rifan, memberinya dukungan agar menang di pemilihan nanti. Karena lu benci sama gue, lu nggak suka kalau gue yang jadi Ketos.”
“Ngigau atau ngayal?” tanya Eriz lalu berdecak. Seenaknya saja ia dituduh-tuduh. “Punya bukti, nggak?”
Ginov mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. “Gue punya dua. Satu, Rifan gabung di Club Sesat yang lu pimpin. Kedua, kalian nggak seakrab ini sebelumnya. Tapi setelah Rifan daftar jadi calon Ketos, kalian tiba-tiba sering bersama. Artinya, lu dan dia memang membuat sekutu melawan gue.”
“Wah. Imajinasi lu hebat banget.” Eriz bertepuk tangan dua kali. “Club Sesat bukan partai. Siapapun bisa bergabung ke sana. Jadi Rifan ada di Club Sesat bukan karena urusan pemilihan Ketos. Terus… soal kedekatan gue dengannya.” Eriz berhenti sejenak untuk mengambil napas. “Sebenarnya ini urusan pribadi gue, tapi kayaknya lu wajib tahu biar nggak berpikiran buruk lagi.”
Tiba-tiba saja Ginov khawatir dengan apa yang akan disampaikan Eriz berikutnya.
“Gue dan Rifan sudah berteman sejak lama. Lu aja yang nggak tahu karena sibuk pacaran sama Jean.” Eriz sekalian menyindir.
“Lu masih benci sama gue?” tanya Ginov setelah mendengar nama Jean dari bibir Eriz.
“Enggak,” jawab Eriz cepat.
Ginov menatap Eriz dengan bibir terkatup rapat, tapi cewek itu segera memalingkan wajahnya. Ginov menarik napas kuat-kuat dan dengan cepat mengembuskannya. Tak masalah jika Eriz berbohong. Ginov akan mengambil kesempatan dalam kebohongannya.
“Oke. Lu nggak benci sama gue, artinya… gue bebas dekat-dekat sama lu, ngobrol sama lu, dan lu berhenti jutek sama gue. Benar?”
“Enggak!” Eriz menolak keras.
Ginov tersenyum miring. “Berarti lu memang benci sama gue, Riz,” gumamnya.
“Enggakkk. Gue nggak benci sama lu,” keukeh Eriz. Terserah deh kalau dengan berbohong, Ginov bisa minggat dari sekitarnya.
“Fix!” seru Ginov. Melipat tangan sambil tersenyum menang. “Gue ke rumah lu entar sore untuk mempererat pertemanan kita dan… menghilangkan rumor kalau lu benci sama gue.”
Ginov berbalik pergi dengan wajah semringah sedangkan Eriz bengong menatap punggungnya yang menjauh.
“Sudah berdamai rupanya,” gumam Rifan, berdiri tidak jauh di belakang Eriz. Ia menangkap percakapan Eriz dan Ginov sejak tadi. sengaja ia tidak mengganggu karena ingin tahu apa reaksi Eriz terhadap mantannya.
Harapannya meleset. Ia mengira Eriz akan bersikap tidak acuh seperti sebelumnya pada Ginov. Mungkin cewek itu lelah atau perasaannya sudah luluh lagi. Rifan terus menerka. Banyak kemungkinan di antara dua orang yang pernah pacaran. Bisa saja, setelah putus, musuhan lalu balikan. Siklus itu selalu terjadi pada pasangan lain.
“Oh. Hei.” Eriz kelihatan gugup.
“Pulang sama siapa?” Rifan mengalihkan pembicaraan.
“Sendiri. Naik angkot,” jawab Eriz lalu cengengesan. Sangat berbeda dengan Eriz yang dikenal Rifan. Eriz yang cool.
“Hati-hati kalau gitu. Gue duluan.” Rifan mendahului Eriz.
Di belakangnya, Eriz bengong. Serius ia ditinggal begitu saja?
“Rifan, tunggu!” teriak Eriz sambil berlari mengejar.
Rifan pura-pura tidak dengar. Ia masih kesal entah karena apa. Pokoknya pemandangan tadi di saat Ginov mengobrol dengan Eriz, membuat darahnya mendidih.
“Aww!”
Teriakan itu membuat Rifan berhenti dan menoleh. Eriz berusaha berdiri setelah jatuh. Tampak lututnya lecet.
 “Ngapain sih lari-lari kayak anak TK? Rumah lu nggak akan hilang kalau lu telat pulang beberapa menit, Riz.” Rifan mengomel sambil melihat kaki Eriz masih ada yang terluka atau tidak.
“Kaki gue, tenaga gue, ya terserah gue dong mau lari-lari.”
Rifan berdecak. “Untung gue baik, coba enggak…”
Sengaja, Rifan menggantung kata-katanya. Lumayan, membuat Eriz memutar otak agar bisa menemukan lanjutannya. Dan jika cewek itu tidak berhasil, maka…
“Coba enggak, lu mau ngapain?” Eriz pasti bertanya.
“Nggak mau ngapa-ngapain. Gue capek, habis ngerjain banyak soal tadi di kelas.”
“Ugh, nyebelin banget.” Eriz memukulkan tasnya ke lengan Rifan. Detik itu juga, ponselnya berdering.
“Nah, ini yang lebih nyebelin,” gumam Eriz melihat nomor siapa yang muncul di layar lalu menonaktifkan ponsel sebelum dimasukkan lagi ke tas.
Melihat ekspresi Rifan yang tampak penasaran, Eriz kemudian berkata pelan, “Ginov mau datang ke rumah gue entar sore.”
“Terus lu biarin?”
“Iya, soalnya percuma dilarang, Ginov kan orangnya nggak tahu diri.”
“Lu mabuk, Riz?” Rifan mendatarkan punggung tangannya ke jidat Eriz. Dulu, area itu sulit dijangkaunya karena tertutup poni dan seseorang selalu menjadi penghalang. Jahat, pikiran Rifan, tapi apa adanya. Ia harus jujur kalau retaknya hubungan Eriz dan Ginov adalah keberuntungan baginya.
Eriz memundurkan kepalanya agar tangan Rifan berhenti membuat kontak kulit. Meski itu bentuk perhatian, Eriz tidak nyaman.
“Lu kali yang mabuk. Nempelin punggung tangan ke dahi itu untuk tahu seseorang demam atau enggak.”
Rifan melipat tangan di dada. “Terserah gue dong. Gue kan memang mau tahu suhu tubuh lu normat atau enggak. Cuma… sekalian aja gue tanya lu mabuk atau enggak.” Matanya melirik ke samping sambil menahan senyum. Pembahasan Ginov terlupakan.
“Emang nggak mau dikalah lu, ya. Saat salah pun, masih ngotot jadi benar,” gerutu Eriz. Pada Rifan, keras kepalanya tersamarkan. Cowok itu sulit ditebak jalan pikirannya.
Rifan menarik ujung bibirnya sedikit lalu memegang kepala Eriz dengan kedua tangan. Sesaat mereka bertukar pandang. Eriz otomatis berwajah datar, tidak ingin Rifan membuatnya bingung. Sebab kekalahan yang sebenarnya adalah ketika kamu jatuh cinta sementara yang membuatmu jatuh cinta tidak demikian.
“Benar dugaan gue. Lu jenong,” ucap Rifan santai. Imbasnya, Eriz mendadak membenturkan kepalanya ke depan.
“Jenong itu dianggap cantik loh di korea selatan.” Eriz berkata dengan percaya diri.
Rifan yang masih mengelus dahinya, mencibir.
“Ini beneran, Rifannn. Cek aja di google,” tambah Eriz.
“Iya, gue percaya. Masalahnya, ini bukan di korea selatan, Riz.”
Penuturan Rifan membuat Eriz cemberut. Padahal ia cuma ingin cowok itu setuju kalau dirinya cantik.
Eriz kemudian tersentak. Kenapa ia perlu pengakuan Rifan?
“Cantik nggak jamin kebahagiaan. Nggak usah sedih. Lagian gue lebih suka sama cewek penurut daripada yang bagus di muka aja.”
Usai mengatakan itu, Rifan tersenyum tipis sambil membalik badan Eriz lalu melingkarkan tangan ke pundaknya. Mereka berjalan bersisian. “Lu harus nurut biar gue…”
Delik Eriz menghentikan kalimat Rifan. Dengan terpaksa cowok itu mengatupkan mulutnya.
“Gue nggak mau digombal sama lu. Bikin sakit perut. Tahu, nggak?” ucap Eriz.
“Salah makan kali, lu. Makanya sakit perut,” balas Rifan, melepas rangkulan lalu mendahului Eriz berjalan.
Eriz meringis seketika. Selama berteman dengan Rifan, kesabarannya selalu diuji. Ia kemudian menghela napas. “Rifan!”
“Hm?” Rifan berhenti, tapi tidak menoleh.
Eriz mendekat. Ketika cukup dekat dengan Rifan, Eriz berhenti sebentar. Keisengannya datang tiba-tiba. Ia menarik rambut Rifan yang di bagian belakang lalu berlari kencang.
Rifan mengembuskan napas lalu bergumam, “Gue sudah bilang jangan lari-lari.”

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Remember this story?

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

541 419 5
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

551 404 8
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

846 606 10
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 545 8
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 980 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

995 727 11