“Lu pernah pacaran sama Eriz dan nggak bilang ke gue?” Sekhan mewawancarai Ginov mumpung guru di jam terakhir tidak hadir.
Kejadian di kantin tersebar di media sosial. Seseorang dengan sigap mengabadikan kelakuan Ginov saat menyebut Eriz sebagai mantan. Beragam komentar membanjiri postingan itu. Delapan puluh persen menganggap Ginov sedang bercanda karena beberapa alasan.
Dua di antaranya adalah…
Ginov dan Eriz tak pernah terlihat bersama sebelumnya. Tidak ada satu pun bukti kalau mereka pernah pacaran.
Dari dulu Eriz disebut-sebut hanya dekat dengan Azka. Kalaupun Eriz harus menyandang status mantan, akan lebih tepat kalau Azka yang memanggilnya seperti itu. Tapi, belakangan ini Azka lebih sering memposisikan diri sebagai seorang kakak untuknya.
“Kalau gue bilang iya, lu mau percaya?” Ginov bertanya balik.
Sekhan langsung menggeleng.
“Jangan bertanya lagi,” ucap Ginov jengkel.
Sekhan tertawa sambil meraih pundak Ginov, tapi cowok itu menghentaknya.
Tawa Sekhan tambah keras. “Gini, ya Van. Orang gila mana yang mau percaya hal itu sementara lihat kalian bareng aja nggak pernah.” Ia lalu tertawa lagi dengan volume sedang. Habis itu, ia menambahkan, “Lu punya bukti apa?”
Ginov tidak mampu bersuara. Bukti? Bukannya dari dulu ia tidak ingin ada petunjuk apapun yang bisa membongkar hubungannya dengan Eriz?
“Nggak ada.” Sekhan menjawab sendiri pertanyaannya lalu menghela napas. “Sebenarnya gue bisa percaya omongan lu, tapi buat apa? Toh nggak ada efeknya.”
Ginov menatap sahabatnya dengan senyum misterius.
“Lu benar, tapi setidaknya bisa bikin seseorang kepanasan karena kaget dan marah dengan fakta itu.”
“Owhhh.” Sekhan sepertinya mulai paham. “Jadi gue boleh bilang ini karena Rifan? Lu ngotot ngakuin Eriz sebagai mantan karena Rifan? Lu mau manfaatin Eriz sebagai alat balas dendam?!”
Ginov mengerjap, memandangi Sekhan dengan ekspresi terkejut. Analisa Sekhan sulit disanggah.
“Memang kenapa?”
“Kenapa?!” Sekhan lagi-lagi berteriak. “Itu keterlaluan. Eriz nggak salah apa-apa sama lu. Dia nggak pantas dimanfaatin.”
“Lu jangan lebai,” tegur Ginov. Capek telinganya menampung teriakan Sekhan yang tidak perlu.
 Sekhan menyambar tasnya. Namun, niatnya untuk segera meninggalkan Ginov, tersendat ketika mengingat satu kalimat yang harus ia katakan. “Kalau niat lu jadi Ketua OSIS untuk ngalahin Rifan doang, sebaiknya mengundurkan diri saja.”
“Heei!” protes Ginov dengan suara lantang. “Jangan salah paham.”
Sekhan berbalik pergi. “Sampai jumpa besok.”
“Sekhannnnnn.”
***
“Jadi Eriz mesti naik apa, Maaa?” Eriz mendesah berat. Malas pulang ke rumah dengan naik angkot. Lagipula, mamanya tadi janji mau menjemput. Sampai Eriz membatalkan tawaran Yerin yang mengajaknya pulang bersama.
“Erizia, kamu sudah besar, jangan manja. Hati-hati, Mama banyak pasien.”
“Mamaaaa.”
“Riz, pulang bareng gue aja.”
Eriz menoleh ke belakang. Kaget melihat Ginov bersandar di dinding. Cowok itu mungkin mendengar percakapannya dengan sang mama di telepon. Eriz menyelipkan ponsel ke saku lalu berlari kecil keluar kelas. Berani sekali Ginov mengajaknya pulang bersama setelah apa yang diperbuatnya dulu.
“Eriz, tunggu!”
Eriz berbalik dan melihat Rifan menghampirinya dengan langkah lebar. “Gue kira lu sudah pulang,” ucap Rifan lalu melirik sinis ke samping. 
Ginov yang ikut keluar, berhenti di dekat pintu sejenak. Kemudian ia berdehem sambil berjalan ke arah Eriz tanpa peduli lirikan Rifan. Ia kemudian mendesah seperti orang kelelahan. Sudah duakali Rifan mengacaukan pertemuannya dengan Eriz. Cowok itu benar-benar menempel kayak perangko pada Eriz. Padahal kesempatan Ginov untuk bicara pada mantannya itu hanya sedikit. Jika Rifan terus muncul tiba-tiba, bisa-bisa Ginov kehilangan kesempatan selamanya.
“Ngapain lu di gedung IPS?”
“Hem?” Ginov menoleh cepat. Benar saja, memang dirinya yang ditanya. “Ehmmm, ketemu mantan pacar. Lu ngapain di sini?”
Segera Rifan tersenyum sinis. Ginov bego atau apa, pertanyaannya sungguh tidak bermutu. “Gue anak IPS, Van. Informasi kayak gitu lu juga nggak tahu?”
Ginov tanpa sadar menarik napas dan menahannya selama tiga detik. Tapi meski ketahuan mempertanyakan hal yang sudah jelas jawabannya, ia masih berusaha terlihat cool. “Lupa,” jawabnya kemudian melenggang pergi sambil merutuki diri dalam hati.
“Pulang, yuk!” ajak Rifan, menggandeng tangan Eriz ke arah yang berlawanan dengan Ginov.
“Tapi kita salah jalan.” Eriz menunjuk jalan yang dilewati Ginov. “Parkirannya di sana.”
“Gue lupa sesuatu di kelas. Balik ke sana dulu baru pulang.”
“Oh, oke.” Eriz mengiyakan meski sedikit bingung.
Sulit dipercaya, ternyata Rifan lupa mengambil tasnya di kelas. Eriz terbengong-bengong menatapnya karena itu sungguh keterlaluan.
“Kok bisa?” Eriz memandangi Rifan yang baru keluar dari kelasnya sambil memasang tas ranselnya yang tampak tidak ada isinya.
“Kalau Tuhan berkehendak, apapun bisa terjadi, Riz. Banyak di luar sana yang ngalamin kejadian ini.” Rifan mendekat ke hadapan Eriz lalu mengacak rambutnya.
Eriz tersenyum samar lalu membalas perbuatan Rifan. Aneh sekali. Tangannya tanpa dikomando dan langsung mengacak rambut cowok itu. Tapi tidak lama, ia menarik cepat-cepat tangannya.
“Kenapa?” Rifan tampak terkejut. Ia menyentuh rambutnya. “Gue sudah keramas tadi pagi. Nggak latihan yang bikin keringat. Rambut gue bersih loh.”
Eriz mencibir. “Seharian ini cuaca panas. Pasti lu habis keringetan,” tuduhnya.
Pura-pura kesal, Rifan lalu mengambil tangan Eriz dan menggosok-gosokkan ke kepalanya. “Ambil nih keringat gue.”
Eriz menarik tangannya dan langsung berlari pergi. Rifan tersenyum sejenak lalu mengejar cewek itu dengan kecepatan penuh. Ia berhenti saat berbelok dan Eriz sudah lenyap.
Rifan terdiam lama sambil menatap sekeliling. Tidak mungkin Eriz berlari secepat itu. Rifan berjalan pelan, dan di langkah ke tiga, Eriz menerjang dari samping.
Keduanya adu kelincahan tangan. Eriz tahu Rifan benci telinganya dipegang. Karena itu, ia mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa menarik telinga cowok itu.
Rifan tidak banyak bertindak. Melihat Eriz tertawa lepas sudah membuatnya jadi pemenang dari seseorang yang ternyata diam-diam mengikuti mereka.
Ginov.
Saat Eriz hampir melihat kehadiran cowok itu, Rifan langsung merangkulnya dan membawanya ke arah lain. Ia tidak akan merusak kesenangan Eriz dengan memperlihatkan cowok yang dibencinya.
“Heran gue. Tenaga lu nggak berkurang padahal ini udah sore. Jangan-jangan kerjaan lu Cuma tidur di kelas, ya?” Rifan menoleh ke sampingnya. Eriz berjalan dengan napas memburu.
Eriz mendelik. “Lu kali yang tidur.”
“Iya, gue tidur.” Rifan mengiyakan, membuat Eriz terbahak. “Tidur dan mimpiin lu,” lanjutnya. Berharap Eriz sedikit terpengaruh dengan godaannya.
“Wah wah, sepenting itu gue sampai dimimpiin sama Rifan.” Eriz terkekeh-kekeh. Mana bisa ia tersipu saat hatinya sudah dicabik-cabik oleh cowok lain. Cukup sudah pengalaman Eriz tentang mulut manis cowok yang dialaminya dulu.
“Pentinglah. Lu kan pasangan gue,” ucap Rifan santai.
“Pasangan apa?”
“Pasangan latihan, kan?” Rifan tersenyum jail.
Eriz berdecak, sedikit kesal. Kenapa Rifan selalu memotong kalimatnya sendiri? Maknanya langsung berubah dan ia tidak nyaman mendengar itu.
“Lu bilang kayak tadi, kayak nganggap gue ini pacar lu, Ga. Kalau ngomong itu yang jelas dong. Untung nggak ada yang dengar, bisa jadi bahan gosip kita,” ucap Eriz sambil melirik ke samping.
Rifan menurunkan tangannya dari pundak Eriz. “Penghematan tenaga,” akunya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
“Mesin kali,” ucap Eriz lalu kembali tertawa.
“Udah deh ketawanya. Lama-lama lu dikira pasien alih-alih dikira ada hubungan khusus sama gue.”
Eriz memukul lengan Rifan sekali tapi keras. “Tuh… kalimat lu dipotong-potong lagi. Pasien apa?”
Rifan menggeleng-geleng lalu berbisik, “Sakit jiwa.”
Pukulan kedua mendarat keras di lengan Rifan.
***
Gina mondar-mandir di ruang tengah dengan seragam sekolah. Ia lupa rutinitas pertamanya begitu sampai di rumah, yaitu melepas sepatu dan menaruhnya ke rak yang tersedia.
Bibi Ija yang mendengar suara sepatu, berlari dari arah dapur sambil memegang spatula. Sejenak ia heran melihat Ginan seperti setrika rusak, karena biasanya yang bertingkah seperti itu adalah sang kakak alias Ginov. Atau jangan-jangan Ginan ditulari oleh kakaknya?
Pandangan Bibi Ija jatuh ke sepatu Gina. Ia segera menghela napas. Pekerjaannya bertambah lagi. Padahal tadi ia sudah mengepel lantai.
“Non,” panggil Bibi Ija. Gina menoleh.
“Sepatu, Non.”
Gina mengerutkan dahi. “Oh. Ini hadiah dari Mama saat Gina ultah,” ucapnya cepat lalu menghampiri sofa. Ia duduk sambil menghentakkan kakinya. Tanah yang menempel di sepatunya langsung mengotori lantai yang semula bisa dipakai bercermin saking bersihnya.
Bibi Ija mengatupkan bibir lalu tersenyum pahit. “Non, sepatunya tolong di buka. Kasihan Bibi harus mengepel lagi.”
Kembali Gina menoleh. “Aduh, Bi. Jangan ganggu sa,−” Ia menunduk, menatap dua kakinya yang masih terbungkus sepatu.
“Bibi banyak kerjaan, Non. Pasti tidak sempat lagi mengepel ulang ….” ucap Bibi Ija lirih.
Gina mengangkat kepala sambil nyengir. “Maaf, Bi. Nanti Gina yang bersihin.” Ia melepas sepatu dan berjalan ke rak penyimpanan. Bibi Ija kembali ke dapur.
Suara motor menghentak Gina. 
“Kak Ginovooo,” teriaknya sambil berlari menuju teras. Suara motor kakaknya lebih mudah ia kenali daripada suara motornya sendiri.
Ginov mengusap kuping. Begitu Ginan muncul di balik pintu, telunjuknya terulur untuk mendorong cewek itu menjauh. “Apa?” tanyanya malas.
Gina pantang menyerah. Habis ditoyor, semangatnya tidak luntur. Ia berjalan di belakang Ginov dengan langkah lebar. “Gawat, Kak. Gawaaaaat.”
“Biasa aja kalau ngomong, Rika.” Ginov berhenti di dapur, meletakkan tas di kursi lalu beranjak ke lemari. Deretan mie dengan banyak rasa tersedia di sana.
Gina mengekor ke mana Ginov melangkah. Kadang ia nyaris ditabrak. Ginov jadi jengkel karenanya. Ruang geraknya terganggu.
“Bisa minggir dulu, nggak?” Ginov berdecak, menghalau adiknya ke samping. Ia menyalakan kompor dan memasak air.
Gina mendesah, tapi menurut. Ia duduk di dekat tas Ginov sambil bersandar dengan tampang tidak sabar. Matanya melirik tas Ginov tanpa sengaja dan tawanya langsung pecah.
Ginov menoleh ke belakang. “Kenapa lu?”
Gina menunjuk tas Ginov. “Gue yakin kak Eriz nggak akan tersentuh hatinya meskipun Kak Ginov pakai tas itu tiap hari ke sekolah. Malah mungkin ia nganggap Kak Ginov dah bangkrut. Beli tas baru aja nggak mampu.”
“Sok tahu, lu.” Ginov mematikan kompor. Lalu ia menuang air panas ke dalam mangkok yang berisi mie rasa soto.
Ginov pindah ke meja makan di mana Ginan masih senyam-senyum mengejek tasnya.
“Tadi lu bilang gawat. Apa yang gawat?” tanya Ginov.
Wajah Gina kelihatan murung. Ia menarik napas dengan lesu lalu bercerita, “Gue nggak diterima di Club Sesat. Padahal semua persyaratannya udah gue penuhi.” 
Ginov menatap sinis. “Itu yang lu maksud gawat?”
Kemudian ia menggeleng tak percaya. Adiknya teramat lebai membicarakan sesuatu. Ia sempat mengira ada kejadian luar biasa yang menimpa dirinya. Ternayata cuma persoalan club.
Gina mengangguk. “Kak Eriz nggak mau nerima gue jadi anggota baru karena gue ini adik lu!” tandasnya sambil menunjuk-nunjuk wajah Ginov.
“Eriz?!” Ginov membelalak mendengar nama yang bagaikan cahaya kehidupan untuknya dijadikan tersangka utama.
“Eriz nolak lu masuk clubnya?!” ulangnya sulit menerima kenyataan. Berarti kebencian Eriz padanya sudah tahap kronis karena Gina juga kena imbas.
“Biasa saja kalau ngomong, Kak,” ucap Gina. Meniru kalimat kakaknya.
Ginov berdesis jengkel lalu menyingkirkan mienya ke samping. Perut laparnya bisa menunggu. “Dia bilang apa aja ke lu? Ngungkit gue, nggak?”
“Enggak. Malah gue lihat, dia alergi banget sama Kak Ginov. Karena permasalahan gue ini disebabkan oleh Kakak, jadi gue minta Kakak yang menyelesaikannya. Terserah dengan cara apa. Yang terpenting, Ginan harus masuk Club Sesat secepatnya.”
“Gue aja belum bisa baikan sama dia, gimana mau bantu elu.” Ginov angkat tangan sambil menggeleng pasrah. Andai ia bisa membantu, maka dirinyalah yang lebih dulu ia bantu.
“Ahhhh, Ginan nggak mau tahu. Ini tuh gara-gara Kak Ginov, jadi mesti tanggung jawab.”
“Itu karena takdir lu memang jelek, Dek,” balas Ginov santai.
“Enak aja.” Ginan jelas tidak terima.
Ginov menarik mangkoknya mendekat. Melihat mienya terlalu mengembang, ia menghela napas. Sembari mengaduk mie itu terus, ia berkata, “Pindah club aja. Nanti gue cariin.”
Gina berdiri dengan wajah kusut. “Ogah.”

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Anne

Anne's Tansy

By murphy

570 344 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 772 14
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

341 260 5
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 9
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

583 448 7
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

4K+ 1K+ 8