Terlihat jelas dari arah gerbang depan Sekolah, di antara puluhan siswa yang berlarian, seorang cewek mengusap rambutnya ke belakang karena menghalangi pandangan. Dia satu-satunya siswa yang berjalan santai meski bel masuk telah berbunyi.
“Gue potong lu kalau nggak nurut,” gumam Eriz setelah beberapa helai rambut panjangnya kembali ke depan karena tertiup angin dari belakang. Salah sendiri, kenapa malah digerai?
Angin berhembus lebih keras. Eriz berhenti, mengembuskan napas dengan keras lalu menoleh pada pemilik tangan yang menepuk pundaknya.
Ginov tersenyum lebar sambil mengulurkan ikat rambut berwarna pink. “Sengaja gue bawa dari rumah.”
Eriz menatapnya tanpa berkedip.
“Khusus buat lu doang. Ambil,” tambah Ginov.
Sekilas Eriz menurunkan pandangan ke ikat rambut itu. Ia membutuhkannya, tapi karena Ginov yang memberi, ia lebih rela kerepotan mengatur rambut. Masih dengan mulut bungkam, ia memutar kepala lalu lanjut jalan.
Ginov mengejar dan menyamakan langkah. “Gue kira lu nggak suka manjangin rambut. Waktu bikin semuanya berubah, ya Riz.”
Eriz berhenti. Saat ia membuka mulut untuk membalas perkataan Ginov, angin membuat rambutnya berantakan lagi.
“Gue bilang apa. Nih, pakai.” Ginov kembali mengulurkan ikat rambut tadi.
Keras kepala Eriz rupanya masuk tahap kronis. Daripada menerima bantuan Ginov, Eriz merogoh tasnya dan mengeluarkan pulpen. Pulpen itu dijadikan pengganti sumpit yang sering digunakan orang cina menggulung rambutnya.
“Kreatif,” komentar Ginov sambil manggut-manggut.
Eriz mengerang kesal. “Gue ngerasa pagi ini kelabu karena ada lu di sekitar gue.”
“Hem?” Ginov menaikkan alis kanannya. “Gue malah berniat bikin pagi lu berwarna-warni, Erizia.”
“Warna-warni bikin sakit mata,” balas Eriz ketus lalu cepat-cepat memacu jalan.
Ginov mengimbanginya dengan melangkah lebar-lebar lalu merentangkan tangan ke depan cewek itu.
Hilang kesabaran, Eriz menepis tangan Ginov. Ia memperlihatkan jam tangannya. “Gue terlambat lima menit ke kelas karena lu.”
Ginov dengan tenang beralasan, “Guru di sini nggak tepat waktu kalau masuk kelas, Riz. Santai dikit kenap…”
“Headset.” Eriz mengulurkan tangan.
“Oh iya. Lupa.” Ginov merogoh tas dan menyerahkan headset Eriz.
Kemarin, ia sudah disidang oleh Bu Arze. Beruntung tidak ada riwayat pelanggaran, Ginov berhasil menghindari hukuman dengan alasan seadanya. Ginov mengaku ingin berteman dengan Eriz, jadi dia iseng merebut headsetnya.
Usai mendengar penjelasan Ginov, Bu Arze hanya menyuruhnya untuk mengembalikan sendiri headset Eriz. Dan memang itu yang Ginov mau.
Eriz menyimpan headsetnya ke dalam tas dan tidak berkata-kata lagi. Padahal Ginov berharap cewek itu menanyainya persoalan kemarin. Karena tidak kunjung ditanya, Ginov memutuskan untuk membahasnya lebih dulu.
“Kemarin, gue sebal sama sikap lu yang terus-terusan nggak acuh ke gue. Gue berharap dengan ngambil headset itu, lu sedikit terpengaruh. Dan ternyata memang berpengar…”
“Kak Ginovoo!”
Teriakan seorang cewek menginterupsi kalimat Ginov. Ginan berlari seperti dikejar sesuatu yang menakutkan. Eriz mengambil kesempatan itu untuk lepas darinya.
Ginov menghela napas lalu berbalik. “Apa?” tanyanya dongkol. Padahal ia masih ingin mengobrol lama dengan Eriz.
Gina langsung menyambar ikat rambut di tangan Ginov. “Gue capek-capek nyari di kamar, ternyata Kak Ginov yang ambil. Nggak modal banget sih jadi cowok.”
“Irit.” Ginov beralasan. “Lagian lu punya ikat rambut banyak tapi yang dipakai ituuu terus.”
“Ngikut sama Kakak. Yang punya banyak tas, tapi yang dipakai tas abu-abu jelek.”
“Eits.” Telunjuk tangan kanan Ginov teracung ke Gina. “Tas gue nggak sebanding sama ikat rambut lu. Tas ini spesial, susah didapat.”
Gina mencibir. Kalimat kakaknya sungguh berlebihan untuk sebuah tas tua yang harganya cukup murah. Ia bisa tahu karena saat tas itu dibeli, ia ada di sana.
“Sama kayak yang ngasih ya, Kak. Juga susah didapat. Sekalinya didapat, malah disia-siain,” gumam Gina lalu berbelok ke jalan menuju kelasnya.
Ginov tersenyum kecut. Dadanya seperti ditinju-tinju saat mendengar kalimat Gina yang memang benar. Ia telah menyia-nyiakan Eriz, cewek yang paling berpengaruh dalam pemilihan Ketua OSIS. Egh, andai bukan dia yang jadi Ketua Club Sesat, tidak sudi Ginov bermohon seperti tadi.
***
“Akhirnya…”
Bel istirahat adalah musik paling merdu di telinga Sekhan. Selama pelajaran berlangsung, kerjanya tiduran di bangku paling belakang. Tapi begitu guru keluar dari kelas, matanya langsung cerah.
Manusia yang satu ini memang terkenal malas di kalangan siswa jurusan IPA. Sudah berulangkali mendapat teguran dari guru agar tidak tidur di kelas, sampai guru-guru lelah sendiri.
Sekhan memasukkan bukunya ke dalam laci yang sudah sesak dengan baju olah raga dan barang tidak penting lainnya.
Tempat kecil itu sudah disulapnya menjadi lemari super yang menampung semua peralatan yang katanya dia butuhkan di sekolah.
Sekhan berdiri dan menarik ujung bawah seragamnya yang keluar agar rapi sedikit kemudian menoleh ke samping. “Ginov ke mana?”
Hasbar yang duduk di belakangnya menjawab, “Makanya jangan tidur di kelas. Ginov dipanggil ke ruang guru.”
Sekhan terkejut bukan main. “Ginov buat masalah?!”
Hasbar berdecak lalu berkata, “Dia bukan lu yang nginjak ruang guru pas buat masalah doang. Dengar-dengar dia mau ditawari ikut lomba gitu. Nggak tahu lomba apa.”
“Ohhhh.” Sekhan kembali tenang. Percuma mengkhawatirkan Ginov, yang masa depannya begitu cerah karena punya kinerja otak yang bagus.
Ia kemudian berjinjit ke arah seseorang yang berdiri di dekat pintu. Sadya.
“Liat apa, Sad?” Sekhan seenaknya merangkul cewek itu dengan santainya.
“Sekhan!”
Teriakan Sadya mengalahkan seluruh suara yang ada. Teman yang tersisa di kelas cuma mengembuskan napas. Sekhan dan Sadya. Penyebab utama kenapa kelas itu selalu ramai pada jam istirahat.
Ginov yang hendak lewat, spontan berhenti. Ditatapnya Sadya dan Sekhan sambil berdecak. Ginov tahu pasti, yang memulai selalu Sekhan. Tapi walau Sekhan adalah pencetus, semuanya akan baik-baik saja andai Sadya mampu mengendalikan emosinya.
Jadi, mereka sama-sama salah menurut kesimpulan akhir Ginov.
“Tahu nggak, seperti apa takdir yang cocok untuk kalian berdua?” tanyanya.
Sekhan dan Sadya menggeleng polos.
Ginov kembali berdecak lalu menjawab dengan pelan. “Jadian.”
Sontak kedua orang yang tadinya bertikai, saling pandang sebelum akhirnya salah satu dari mereka melotot ke arah Ginov.
Sadya tidak mungkin diam saja dipasang-pasangkan dengan seorang Sekhan, siswa malas di kelasnya.
“Enggak sudi gue jadian sama cowok siluman ini,” protes Sadya sambil menunjuk-nunjuk Sekhan. “Na-jis jis jis!”
Agak berbeda dengan reaksi sang cewek, Sekhan cukup santai. Kerlingan matanya pada Sadya jadi bukti kalau ia setuju-setuju saja dengan pendapat Ginov.
“Aaamiin,” ucap Sekhan dengan senang hati.
Sadya langsung mendelik ke arahnya mendengar satu kata itu.
***
“Woi mau ke mana lu?” Sekhan nencengkeram lengan Ginov. Mereka harusnya berkumpul dengan Hasbar dan makan nasi goreng dengan lahap. Lihat, Hasbar melambai terus karena tidak dihiaraukan oleh Ginov.
“Tuuh.” Dagu Ginov ke arah Eriz.
Sekhan menepuk jidat. “Istirahat dulu ngejar Eriz. Hasbar susah payah milih kursi buat makan, hargai dong usahanya.”
“Lu aja. Gue mau duduk dekat Eriz.” Ginov berlalu menuju tempat Eriz duduk seorang diri.
“Boleh gabung?” tanya Ginov. Ia bahkan memesan makanan. Melihat Eriz ada di kantin, perut keroncongannya mendadak penuh pengertian.
“Enggak. Lu bikin nafsu makan hilang.” Eriz menjawab cepat.
Ginov tidak beranjak atau pergi. Tapi dengan urat malu yang putus, ia duduk pada kursi yang berhadapan dengan Eriz.
“Apa salahnya sih makan bareng sama mantan? Begini-begini kita pernah saling cinta loh, Riz.”
Eriz melongo seketika.
“Ma-mantan?” bisik seseorang pada temannya. Ia tidak sengaja mendengar percakapan Eriz dan Ginov.
Emosi Eriz mencapai puncaknya. Wajahnya memerah akibat menahan amarah.
“Teman-teman!” Ginov tiba-tiba berseru ke seluruh siswa dalam kantin. “Eriz nggak mau makan bareng sama gue karena gue ini mantannya.”
Di antara siswa yang melongo dan kaget dengan kalimat Ginov, Sekhan mengusap wajahnya. Ia jadi berdosa karena membiarkan Ginov berulah. Ia melirik Hasbar dan cowok itu hanya terdiam sambil menganga.
Seorang ReGinov memanggil Eriz dengan sebutan mantan. Skandal aneh yang membuat kepala meledak jika dipikir terus-menerus. Mereka tidak pernah melihat atau mendengar keduanya pacaran, lalu darimana Ginov dapat bisikan kalau Eriz itu mantannya?
Ginov mengabaikan tatapan siswa lain dan tersenyum menang ke Eriz. Kelihatannya cewek itu sudah hilang nafsu makan. Baksonya didiamkan padahal belum separuh dimakan. Ginov jadi sedikit merasa bersalah. Sedikit!
“Mubazir kalau nggak dihabisin.” Ginov mencoba menasihati.
Eriz meneguk minumannya. Mengabaikan ucapan Ginov.
Yerin baru kembali dari toilet. Sejenak ia bengong melihat Ginov.
“Hai,” sapa Ginov.
“Ha-hai,” balas Yerin canggung. Duduk di samping Eriz.
“Maaf, ya Rin. Sebenarnya gue nggak mau ganggu kalian, tapi Eriz susah banget ditemu…”
“Lu sadar udah ganggu kami, tapi kenapa nggak pergi sekarang juga?” potong Eriz kejam.
Ginov melongo di tempat.
Yerin menelan ludah. Ini ada apa sih? tanyanya dalam hati sambil mengaduk tehnya Ia melirik sekitar dan menghela napas. Siswa di kantin itu kini memandangi Eriz dengan kening berkerut.
“Riz, jangan galak-galak gitu dong,” ucap Ginov pelan. Walau di awal ia yang buat heboh dengan sapaannya, tapi sekarang ia malah risih ditatap oleh pengunjung kantin.
Eriz berdiri. “Terserah gue,” tandasnya lalu meninggalkan kantin dan… Yerin.
Ginov menghela napas. Wajar jika Eriz membencinya, mengingat tindakannya terakhir kali. Harusnya ia lebih bersabar dan menunggu waktu yang tepat.
Tapi kapan?!
Ginov menjerit dalam hati. Bahkan ia belum mengutarakan tujuan kedatangannya, dan Eriz sudah pergi.
“Em, Van…” panggil Yerin.
“Ya, kenapa?” Ginov agak tersentak dari lamunannya.
“Sebaiknya lu nggak nyeret Eriz dalam masalah. Cukup keluarganya yang hancur, jangan buat kehidupan sekolahnya juga kayak gitu.”
Mata Ginov melebar. Tidak tahu apapun mengenai kondisi keluarga Eriz. “Gue nggak ada maksud kayak gitu, Rin.”
Yerin mengangguk sambil tersenyum samar. “Orang tuanya belum lama cerai dan kakak laki-lakinya meninggal dunia dua bulan yang lalu. Eriz masih berduka, Van. Semoga lu ngerti yang gue bilang. Bye.”
Yerin menghabiskan minumannya sekali teguk lalu bangkit dan berlari keluar kantin.
Di kursinya, Ginov mendadak lemas. Ia berharap Yerin mengada-ada saat memberinya informasi tadi.
Kak Eros meninggal?
***
Gina menggebrak meja di Eriz, mantan calon kakak iparnya. Mengingat itu, Gina tiba-tiba pada Ginov. Coba saja kakak satu-satunya itu tidak memutuskan Eriz, ia tidak akan sesulit masuk Club Sesat.
Eriz bertingkah tidak acuh. Ia mengambil buku paket matematika dari laci, membuka halamannya dengan malas.
“Kak Eriz yang cantik dan berhati malaikat, tolonglah junior lu ini.” Ginan memulai pidato hariannya. Setiap jam istirahat, ia memotong jatah waktu makannya di kantin agar bisa menemui Eriz. Ia bertekad menghancurkan yang menyebut keras kepala Eriz setingkat dengan batu.
Eriz menyandar, meneruskan bacaannya yang penuh rumus-rumus sulit. Gina tahu seniornya itu hanya akting, mana ada orang bersikap santai ketika membaca buku matematika. Yang ada, mereka bertingkah kayak monyet, garuk sana, garuk sini saking tidak mengertinya.
“Kak Erizzz. Gue janji, nggak akan macam-macam, nggak akan bolos latihan, nggak akan ngegosip kakak. Gue akan jadi anggota teladan untuk Club Sesat. Ayolah, Kak. Biarin gue masuk.” Ginan memohon sambil menangkup tangannya ke depan.
“Silakan,” ucap Eriz, masih dengan wajah terhalang buku.
Gina tersenyum lebar. Ia lalu berjinjit, berusaha melihat wajah cewek itu. “Beneran, Kak? Boleh masuk?”
“Silakan masuk club lain.”
Semangat Ginan diterbangkan angin. Ia hampir melompat girang ketika mendengar Eriz berkata Silakan, tapi ternyata itu tipuan.
Eriz terlalu tangguh untuk dirayu. Tak apa. Ginan tidak berekspektasi tinggi dengan usahanya sekarang. Masih ada cara lain yang belum dicobanya.
“Kak Eriz kok jahat banget sih sama gue. Salah gue apa, Kak?” Ginan kembali protes. 
Siswa yang menyaksikan dari awal, ada yang memandang iba, ada yang berdecak kagum, dan ada juga yang berkomentar miring.
“Sudahlah, Dek. Nggak usah diajak bicara. Dia itu patung, nggak punya hati. Wajah memelas lu nggak mampan.”
Yang berkata barusan adalah Yerin. Sambil melangkah ke kursinya, ia terkekeh karena Eriz melotot padanya.
“Gue nggak akan nyerah sampai Kak Eriz ngasih kesempatan.” Ginan menegaskan.
Eriz menurunkan bukunya ke meja. Bersamaan dengan itu, bel masuk berbunyi. Senyum manisnya menyeruak. “Waktu lu habis.”
Gina menghentakkan kakinya ke lantai lalu pergi dengan kekalahan. Mungkin ia memang harus memaksa seseorang untuk ikut campur dalam masalah ini. Seseorang itu juga punya tanggung jawab karena dialah dalang di balik sikap Eriz padanya.
Setelah Ginan hilang dibalik dinding kelas, Yerin menoleh pada Eriz. “Kenapa sih, Riz? Tuh anak nggak salah apa-apa.”
“Gue tahu.” Eriz merespon singkat. Buku matematikanya disimpan lagi ke laci.
“Terus?”
“Dulu, gue juga nggak salah apa-apa, tapi tetap diputu…” Ginan menghentikan kalimatnya dan mendesah. “Sudahlah. Lu nggak ngerti.”
Yerin menggeleng. “Gue ngerti kok. Yang lu lakuin sekarang sama dengan yang dia lakuin ke lu. Terus, apa bedanya lu dan dia?”
“Beda. Dia memang berniat ngancurin masa SMP gue, sedangkan gue nggak berniat jahat ke adiknya. Gue hanya ingin adiknya menjauh dari hal-hal yang gue suka.”
Yerin tersenyum masam. “Menurut gue itu sama saja dengan menjahati dia, Riz. Lu bikin dia kehilangan akses sama mimpinya, bukannya itu jahat?”
Kening Eriz mengerut sambil menahan senyum geli. “Club Sesat bukan satu-satunya club sepeda di kota ini. Kalau dia memang serius di bidang itu, dia bisa cari klub lain. Tapi mungkin dia orang yang nggak mau repot-repot, makanya ngotot ke Club Sesat.”
“Membujuk lu tiap hari lebih merepotkan daripada mengurus headset yang talinya saling lilit. Jadi, gue nggak setuju kalau lu bilang dia orang yang nggak mau repot.”
Eriz menghela napas sambil kedua tangannya terangkat. Bagaimana mungkin ia membantah analisa cewek yang dari dulu bermimpi jadi detektif itu.

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Remember this story?

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 545 8
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

4K+ 1K+ 7
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

541 419 5
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

500 374 5
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

551 404 8
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

386 305 7